Buku ini berisi kumpulan cerita tentang kaum sosialita dan memfokuskan perhatian pada si Nyonya Besar. Dan yang paling kusuka, ini katanya berdasarkan kisah nyata. Sayang banget sih sebenernya karena judul babnya Nyonya Besar 1, Nyonya Besar 2 dst. Jadi aku agak kesulitan mengingat isi cerita dari suatu bab.
Mmm, gaya bercerita Threes Emir ini sederhanaaaaa banget. To the point. Nggak ada bahasa indah, ambigu atau kiasan sama sekali semacam gayanya Andrea Hirata. Jadi bahasanya kayak lagi ngomong sehari-hari aja. Dan ada beberapa penggunaan kata atau seruan dsb yang udah terbilang jadul. Tapi hal ini nggak mengurangi keasyikanku baca buku ini, sih. Yang penting kan inti cerita, pesan moral dan potret kehidupannya dapet banget.
Kisah favoritku (yang lumayan masih ingat ceritanya) adalah nyonya besar bernama Ranti, Ully, Kirana dan Valencia. Mereka unik dan keren banget kisahnya dan bikin ketawa juga.
Ranti yang awalnya pegawai baru, dengan keteguhan dan juga ketekunannya berhasil menjadi petinggi di perusahaannya. Dia bela-belain sarapan teh manis, makan siang gratis sebanyak-banyaknya di kantor dan cuman minum segelas susu untuk makan malam demi bisa ikut kursus bahasa Inggris.
Ully yang gemar berdagang sedari muda karena mengikuti jejak ibunya, juga berhasil meniti karir hingga jadi manajer di kantornya. Karena nggak bisa ninggalin hobi lamanya yakni jualan, dia suka masih nerima pelanggan di kantornya dan ini bikin atasannya sebel. Tapi ternyata, si atasan bilang semua bisa diatur asal dia dikasih tas Prada. Haduuuh, minta disogok juga ujung-ujungnya, ya? Nggak sopan!
Lalu kisah si Nyonya Besar yang namanya Kirana adalah yang paling unik. Soalnya dia orangnya peliiiiit banget. Dia suka pake barang KW padahal gajinya 70 juta sebulan. Nggak ketulungan kan pelitnya?! Masa penampilan dan cara berpikirnya kalah sama sekretarisnya, sih. Bahkan waktu makan semangkuk berdua dan dua gelas air putih sama sekretarisnya pun dia mintanya bayar berdua! Hiiiii, norak! Pokoknya kisah Kirana ini yang paling bikin aku geleng-geleng kepala kesel!
Kalo Valencia adalah Nyonya Besar yang paling murah hati. Aku terharuuuu banget baca kisahnya karena aku semakin diyakinkan bahwa orang kaya yang baik hati banget kayak dia memang ada di dunia ini. Aku jadi keingetan sama Ibu Deni, orang kaya di daerahku dulu, yang juga baik banget. Dia wanita keturunan Belanda yang kurang lebih sifatnya mirip sama Valencia.
Ada satu lagi kisah yang lucu dari Nyonya Besar Ulfah. Tapi yang bikin ngakak dan kesel itu kelakuan dua tetangganya. Mereka sukaaaaa banget nebeng sama Ulfah biar dibayarin makanan atau hiburan lainnya. Dan yang paling parah, mereka suka manfaatin relasi Ulfah buat dimintain sumbangan dsb padalah mereka baru aja kenal! Nggak tahu malu banget, kan? Bahkan mereka suka banget ngebanggain hal-hal muluk yang nggak ada hubungannya langsung sama mereka semisal "Istrinya Menteri Perindustrian yang sekarang itu teman pengajian tante saya." Aku pun pernah kenal seseorang semodel dua tetangga Ulfah ini dan tingkahnya dia emang asli nyebelin dan ngerugiin banget banget banget.