Nyonya Besar adalah nyonya penggemar tas merek tertentu yang harganya selangit, ia kesal sekali melihat begitu banyak wanita yang ikutan menentengnya, padahal tas mereka palsu.
Nyonya Besar adalah istri seorang direktur yang gemar musik klasik dan berdansa ballroom, sementara suaminya penikmat musik dangdut. Setengah mati sang Nyonya Besar ingin mengubah selera musik suaminya, namun tak berhasil.
Nyonya Besar adalah seorang nyonya baik hati yang tidak hanya membiayai sekolah anak-anak sopirnya, bahkan juga mengirim si sopir dan istrinya ke Mekah untuk naik haji.
Nyonya Besar adalah seorang ibu yang dengan indra keenamnya mampu melihat anak gadisnya menjadi ”simpanan” pejabat dan dengan tegas membawa kembali putrinya pulang.
Jangan-jangan salah satu Nyonya Besar dalam buku ini punya kisah yang sama dengan Anda atau orang yang Anda kenal....
Nyonya Besar, bisa jadi bergelar besar karena ukurannya, karena kedudukannya, atau karena tingkah lakunya. Ada Nyonya Besar yang besar hatinya, Nyonya Besar yang besar hitung-hitungannya, Nyonya Besar yang besar harga dirinya, Nyonya Besar yang besar gengsinya, dan masih banyak lagi jenis Nyonya Besar pada buku ini. Satu persamaan dari mereka semua: para Nyonya Besar adalah para wanita yang menjadi besar tidak dengan mudah, semua dimulai dengan perjuangan, entah perjuangan sendiri ataupun perjuangan bersama pasangannya, dan mereka tetap besar dengan berbagai upaya mereka. Ada beberapa bagian tentang para Nyonya Besar yang agak menggantung, terutama si Nyonya Besar yang dengan anggun membongkar permainan suaminya yang ketahuan selingkuh dengan karibnya sendiri, namun di akhir cerita beberapa pembaca mungkin masih abu-abu tentang apa yang kemudian terjadi dengan si Nyonya Besar, suaminya, dan karibnya yang jadi selingkuhan suaminya. Namun, secara keseluruhan, buku ini sangat menarik, terutama bagi saya yang memang bercita-cita untuk menjadi Nyonya Besar, ada beberapa hal yang bisa menjadi pelajaran penting. Untuk para calon Nyonya Besar, buku ini recommended!
jujur saya memiliki ekspektasi yang besar terhadap Threes Emir. entah kenapa saya berharap beliau lebih mengeksplor karakter nyonya-nyonya besar yang ada didalam Kumpulan Cerita ini. Jujur, saya terbuai oleh ringkasan cerita dan judul yang menarik serta embel-embel 'based on true stories', akan tetapi ketika membacanya, beberapa nyonya dalam cerita ini kurang tereksplorasi dengan baik, padahal seandainya karakter mereka dibuat lebih kuat maka pembaca akan merasakan dibawa kedalam dunia para nyonya.
Threes Emir juga terlihat bingung ketika memberikan role antagonis terhadap salah satu nyonya-nya. peran antagonis itu kemudian menjadi tempelan semata karena cerita tersebut kehilangan esensi dan nilai moralnya di pertengahan cerita.
for me, this book wasn't so bad bisa dibaca ketika senggang dan sedang ga ada kerjaan. tapi kalau anda berharap bisa membaca 'inside' dari kaum jetset Indonesia...yah paling tidak buku ini bercerita 1/10 nya
Beli buku ini tak disengaja, mampir lihat Elex Media Comic Center sebelum mengantri lg untuk foto e-KTP. Keasyikan lihat-lihat buku...eeeh malah nomor antrinya sudah dipanggil...nunggu lagi deh, sambil baca buku ini.
Setelah banyak buku-buku dengan thema hampir mirip tentang kisah-kisah dibalik gaya hidup orang-orang berduit, gaya belanja, kehidupan selebritis, aku akhirnya tertarik dengan buku ini karena penulisnya Thress Emir yg kalo engga salah redaktur majalah Femina.
Tentu saja buku ini mengantarkan cerita para Nyonya Besar dalam artian berpunya alias Kaum The Haves. Cukup membaca dan biasa-biasa saja.
Buku ini adalah kumpulan kisah-kisah pendek. Ada 25 cerita di dalamnya dengan karakter-karakter yang berbeda di setiap cerita. Jadi bisa saya katakan, penulis membuat 25 tokoh dengan karakter yang semuanya berbeda. Sehingga kita tidak bosan membacanya dan selalu ada hal / permasalahan baru yang tidak mudah ditebak. Bahasa tulisan yang dipakai dalam buku ini sangat sederhana dan ringan, sehingga kita akan sangat mudah memahami ceritanya dan juga cepat memaknai atau memetik pesan moral dari setiap kisahnya. Karena kesederhaan tulisannya pula, saya seorang yang belum menikah mampu memaknai bagaimana kisah-kisah orang berumah tangga dengan sangat simpel. Tidak ada penggunaan kata-kata hiperbola atau berlebihan sehingga setiap cerita bisa kita relasikan dengan kehidupan sehari-hari disekitar kita.
Kumpulan kisah-kisah kaum sosialita yang memberi definisi berbeda dari "Nyonya Besar". Sebelum membaca buku ini, saya punya penilaian bahwa nyonya besar selalu berarti seseorang yang banyak uang dan paling dihormati. Namun, buku ini mengisahkan "Nyonya Besar" untuk bermacam-macam definisi. Dan ini sangat menarik. Nyonya Besar yang di artikan benar-benar tubuhnya yang besar, harta yang melimpah, tinggi prestisenya sampai yang memang besar kebaikannya. Hampir semua kisah menceritakan wanita-wanita dewasa dari berbagai macam pekerjaan dan kalangan. Buku ini menarik karena membuka wawasan saya bahwa menjadi nyonya besar itu bukan berarti kita yang harus memiliki banyak uang dan jabatan tinggi atau kelas sosial yang terhormat. Namun, ketika kita bisa melakukan kebaikan pun, kita bisa saja disebut sebagai Nyonya Besar. Kesabaran, kerja keras, keramahan dan tentu saja keikhlasan pun bisa menjadikan seorang wanita menjadi Nyonya Besar.
Saya sejujurnya kurang paham maksud dari buku ini. Fiksikah? Non-fiksikah? Novelkah? Kumpulan cerpenkah?
Jika memang terinspirasi dari kisah nyata dan masuk ke ranah fiksi, buku ini nggak punya kriteria untuk disebut sebagai cerita yang utuh. Saya nggak mempermasalahkan apakah ini fiksi atau bukan, tapi keputusan Gramedia untuk memasukkan buku ini ke dalam genre Metropop. Apakah karena isinya tentang Nyonya Besar (yang ternyata nggak semuanya soal wanita berduit banyak) dan berbau metropolitan, makanya dimasukkan ke dalam Metropop? Soalnya, sebagai pembaca, saya merasa buku ini jauh lebih pantas disebut sebagai reportase, toh namanya pun disamarkan kan?
Setiap bagian cerita pun ampir tidak ada plot atau alurnya. Penulis seperti ingin melaporkan saja bahwa nyonya ini seperti ini dan nyonya itu seperti itu. Saya jujur heran kenapa tulisan yang nggak jelas seperti ini bisa masuk Gramedia. Apakah karena posisi penulis yang merupakan editor dari sebuah majalah mode, ataukah ada alasan lain?
Yang bisa saya dapatkan dari buku ini adalah nggak semua wanita dari kalangan atas cuma peduli soal penampilan. Ada beberapa cerita yang bikin saya cukup terharu dan kagum, tapi tetep nggak memengaruhi penilaian saya bahwa buku ini membingungkan untuk dikategorikan sebagai Metropop.
Yang ini lebih mengena dan cukup dalam. Bikin gue 'ogah' berpaling kecuali panggilan meeting atau emang harus ketemu sama keluarga, seharian bercengkrama.
Banyak hal yang gue pelajari dari buku ini sebenarnya. Kerja keras, tatakrama, cara mengendalikan amarah, dan lain sebagainya. Jadi cukup untuk membuat gue semakin bersemangat membaca sampai lembar terakhir, sembari mengingat dan mencatat poin-poin 'pembelajaran' di pikiran gue.
Cara penyampaiannya ringan karena seperti bahasa sehari-hari. Hanya saja seperti kumpulan cerpen jadi untuk ending berasa agak gantung karena peran dari tiap Nyonya Besar kurang dieksplor. Bagi saya cover dan sinopsisnya cukup menarik perhatian, namun tidak sesuai ekspetasi.
Yang terpikir pertama kali ketika mendengar nama Nyonya Besar pastilah ibu-ibu usia paruh baya yang tinggal di rumah gedongan dengan dandanan lengkap, rambut sanggulan heboh dan perhiasan mentereng macam Nyonya super kaya di sinetron. Begitu juga definisi Nyonya Besar yang dikupas dalam buku ini. Threes Emir mengantarkan 25 kisah Nyonya Besar kaum sosialita, baik Nyonya yang benar-benar berbadan besar, berhati besar, sampai berkepala besar. Pokoknya yang bisa dimasukkan dalam kategori besar deh.
Ada Nyonya Besar yang sudah kaya raya tapi masih mau berbagi kepada tetangganya yang kekurangan. Bahkan kalaupun menyumbang suka berlebih-lebih. Kalau membantu tidak tanggung-tanggung. Bahkan sampai Supirnya mau diberangkatkan naik haji saking baiknya.
Di cerita lain ada kisah Nyonya Besar bernama Isti yang sepeninggal suaminya membagi-bagikan nasi bungkus setiap tanggal dua dan lima belas kepada gelandangan hingga namanya santer dan bahkan ditawari untuk masuk partai oleh seorang politikus karena berjiwa sosial tinggi dan melakukannya tanpa pamrih.
Tidak semua Nyonya Besar disini adalah Ibu-ibu bersuami kaya. Beberapa memang menjadi Nyonya Besar atas usahanya sendiri. Dan tidak melulu kisahnya tentang Nyonya Besar yang suka berbagi, tapi banyak juga kisah tentang Nyonya Besar yang pelit dan haus publisitas.
Ambil contoh Ranti. Nyonya Besar asal Klaten ini menapak karir dari bawah walau tak tamat sarjana hingga akhirnya bisa naik mobil BMW, tinggal di rumah mewah, berlibur ke Singapura dan mencapai jabatan karir tinggi di perusahaannya ini tidak hanya berpenghasilan besar, tapi juga berbadan besar.
Ada juga Nyonya Besar yang haus publikasi. Hanya mau menyumbang apabila namanya diumumkan. Ia merasa sudah selayaknya orang menghormati dirinya. Malah dia tidak rela jika tidak mendapat imbalan apa-apa. Menurutnya imbalan penyebutan nama itu sudah sangat minimal menurutnya.
Lalu cerita paling keren adalah seorang Nyonya Besar yang berakal banyak. Ketika mengetahui penyelewengan suaminya, ia mengatasi hal tersebut dengan anggun dan sangat bermartabat, yaitu mencoba untuk menghardik simpanan suaminya dengan halus namun tanpa sepengetahuan sang suami:
"Saya tahu kok, Tante, Shila baru saja pergi. Dia itu pergi sama suami saya, Tante, namanya Sutomo. Tante belum kenal dia, kan? Memang sejak kami menikah, saya nggak pernah ketemu Tante lagi. Begini, Tante... tolong ya Tante beri tahu Shila agar jangan ganggu suami saya." ~p.184
Salutnya buku ini minim typo. Atau malah tidak ada typo sama sekali ya? Yang jelas saya nggak menyadari adanya typo. Cuma kenapa ya Covernya menjerumus begitu, biar dilirik kah? Covernya ini sebenernya bikin saya ngeri mau beli karena takut isinya benar-benar menjerumus, tapi toh ternyata isinya sarat nilai moral. Kasihan yang beli kan, jadi kecele.
Yang lebih aneh lagi adalah buku ini masuk kategori Metropop lho. Memang masih sesuai dengan definisi genre Metropop itu sendiri, yaitu wanita-wanita 'muda' dengan problematikanya selama tinggal di metropolitan. Tapi seingat saya ini seharusnya jadi kisah non-fiksi walau diramu jadi fiksi. Apalagi jauh dari kata 'muda' hehe.
Walau dari segi cerita saya berani acungkan lima jempol namun dari gaya bercerita bisa dibilang bukan gaya favorit saya. Terlalu mencerminkan bahasa sehari-hari yang menurut saya bagai dua sisi mata uang: cerita bisa mengalir luwes sekali atau... kebalikannya lah. Karena saya sangat menyukai pola baku yang rapi jadi terlalu banyak koma dan kata tidak baku dalam buku ini bikin kurang nyaman. Yah~ masalah selera aja sebenernya.
Buku ini berisi kumpulan cerita tentang kaum sosialita dan memfokuskan perhatian pada si Nyonya Besar. Dan yang paling kusuka, ini katanya berdasarkan kisah nyata. Sayang banget sih sebenernya karena judul babnya Nyonya Besar 1, Nyonya Besar 2 dst. Jadi aku agak kesulitan mengingat isi cerita dari suatu bab. Mmm, gaya bercerita Threes Emir ini sederhanaaaaa banget. To the point. Nggak ada bahasa indah, ambigu atau kiasan sama sekali semacam gayanya Andrea Hirata. Jadi bahasanya kayak lagi ngomong sehari-hari aja. Dan ada beberapa penggunaan kata atau seruan dsb yang udah terbilang jadul. Tapi hal ini nggak mengurangi keasyikanku baca buku ini, sih. Yang penting kan inti cerita, pesan moral dan potret kehidupannya dapet banget. Kisah favoritku (yang lumayan masih ingat ceritanya) adalah nyonya besar bernama Ranti, Ully, Kirana dan Valencia. Mereka unik dan keren banget kisahnya dan bikin ketawa juga. Ranti yang awalnya pegawai baru, dengan keteguhan dan juga ketekunannya berhasil menjadi petinggi di perusahaannya. Dia bela-belain sarapan teh manis, makan siang gratis sebanyak-banyaknya di kantor dan cuman minum segelas susu untuk makan malam demi bisa ikut kursus bahasa Inggris. Ully yang gemar berdagang sedari muda karena mengikuti jejak ibunya, juga berhasil meniti karir hingga jadi manajer di kantornya. Karena nggak bisa ninggalin hobi lamanya yakni jualan, dia suka masih nerima pelanggan di kantornya dan ini bikin atasannya sebel. Tapi ternyata, si atasan bilang semua bisa diatur asal dia dikasih tas Prada. Haduuuh, minta disogok juga ujung-ujungnya, ya? Nggak sopan! Lalu kisah si Nyonya Besar yang namanya Kirana adalah yang paling unik. Soalnya dia orangnya peliiiiit banget. Dia suka pake barang KW padahal gajinya 70 juta sebulan. Nggak ketulungan kan pelitnya?! Masa penampilan dan cara berpikirnya kalah sama sekretarisnya, sih. Bahkan waktu makan semangkuk berdua dan dua gelas air putih sama sekretarisnya pun dia mintanya bayar berdua! Hiiiii, norak! Pokoknya kisah Kirana ini yang paling bikin aku geleng-geleng kepala kesel! Kalo Valencia adalah Nyonya Besar yang paling murah hati. Aku terharuuuu banget baca kisahnya karena aku semakin diyakinkan bahwa orang kaya yang baik hati banget kayak dia memang ada di dunia ini. Aku jadi keingetan sama Ibu Deni, orang kaya di daerahku dulu, yang juga baik banget. Dia wanita keturunan Belanda yang kurang lebih sifatnya mirip sama Valencia. Ada satu lagi kisah yang lucu dari Nyonya Besar Ulfah. Tapi yang bikin ngakak dan kesel itu kelakuan dua tetangganya. Mereka sukaaaaa banget nebeng sama Ulfah biar dibayarin makanan atau hiburan lainnya. Dan yang paling parah, mereka suka manfaatin relasi Ulfah buat dimintain sumbangan dsb padalah mereka baru aja kenal! Nggak tahu malu banget, kan? Bahkan mereka suka banget ngebanggain hal-hal muluk yang nggak ada hubungannya langsung sama mereka semisal "Istrinya Menteri Perindustrian yang sekarang itu teman pengajian tante saya." Aku pun pernah kenal seseorang semodel dua tetangga Ulfah ini dan tingkahnya dia emang asli nyebelin dan ngerugiin banget banget banget.
Sebelumnya saya belum pernah membaca karya-karya dari threes emir. Buku Nyonya Besar yang saya baca terbitan ketiga dengan cover jenjang kaki ber-stocking jaring-jaring sampai paha tergambar horizontal di bagian bawah cover yang berlatarkan warna hitam membuat saya berfikir "buku apa ini?" Sempet berfikir kalau buku ini bernada "menjurus" tapi setelah selesai saya baca, sepertinya otak saya yang selalu "menjurus" -____- Nice book btw! Aku suka bagaimana threes emir mengangkat sebuah kisah sederhana, sangat sederhana malah, menjadi sebuah kisah yang bisa diambil maknanya. karena kadang kita, manusia, terlalu sibuk mencari nilai "besar" dan melupakan hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Satu hal yang membuat saya tercengang, ketidaktahuan saya tentang threes emir dan gaya bahasa beliau yang ke"muda-muda"an membuat saya kaget ketika tahu beliau adalah nenek dari empat orang cucu. Salute grandma! Buku ini berisi 25 cerita tentang nyonya besar. Semuanya menceritakan tentang kisah wanita, seorang istri yang hidup dalam ranah sosialita. Kalau kamu berfikir cerita yang ada dalam buku ini tentang istri yang suka menguras harta, yang pergi kesana kemari dengan camry, menjenjeng tas ratusan juta dengan kepala mendongak dan berlagak ratu yang sombongnya minta ampun, simpan dulu penilaianmu. Sebagian besar buku ini malah menceritakan tentang bagaimana seorang 'nyonya' berlaku dermawan, berhati besar, pandai ma-manage keuangan rumah tangga, pandai merawat diri, rajin menolon dan rendah hati! Walau ada beberapa cerita yang sefrekuensi dengan pandanganmu. Betapa banyak nilai yang bisa kamu ambil dari cerita cerita sederhana ini. Penuturan threes emir dalam buku ini, membuat cerita sesederhana betapa bersyukurnya ibu norma yg tidak jadi operasi muka di singapura, atau sesederhana kesadaran ibu mirna yang membandingkan pendapatan tukang ojeg dengan harga tasnya, menjadi cerita dengan alur ringan yang tidak bosan dibaca. konflik jarang sekali terjadi di buku ini, sehingga jika kamu mengharapkan cerita penuh drama dan prahara, mungkin buku dengan label "based of true story" ini kurang cocok denganmu. Ga sabar membaca buku threes emir lainnya, apalagi "Tuan Besar"nya :)
"Sebab ada tertulis dalam Alkitab bahwa bila tangan kanan memberi hendaknya tangan kiri tidak perlu mengetahui." pg97
Terdapat 25 kisah Nyonya Besar aka Sosialita dalam buku yang ditulis Threes Amir ini. Karena buku ini based on true stories maka ke-25 kisah tersebut ditulis berdasarkan realita yang terjadi dilapangan dan memiliki konflik dan problema yang berbeda satu sama lain.
Ada wanita yang mendapatkan predikat sebagai 'Nyonya Besar' setelah ia menikah dengan orang kaya, ada juga wanita yang memang lahir sebagai seorang pekerja keras dan akhirnya menjadi 'Nyonya Besar' karena keaktifannya dalam beramal dan bersedekah ketika ia sudah lebih dari mapan untuk menghidupi dirinya sendiri. Ada pula wanita yang sejak lahir tidak pernah mengecap yang namanya susah sehingga tidak heran bahwa dia langsung menjadi seorang 'Nyonya Besar'.
Beragam macam tipe Nyonya Besar dapat kita telusuri dalam buku ini. Bagaimana kehidupan sebelum dan sesudah menjadi Nyonya Besar, kehidupan mereka bersama para Nyonya Besar lainnya, bahkan kehidupan rumah tangga mereka juga tak lupa diceritakan. Sayangnya tidak semua Nyonya Besar memiliki kehidupan rumah tangga yang 'besar' pula. Ada yang harus meringis karena belum juga mendapatkan pendamping yang pas, ada pula yang harus menangis karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain, belum lagi ada nyonya besar yang memiliki segalanya tapi belum juga dikarunia seorang anak.
“Kalau bekerja, bekerjalah dengan hati, tidak hanya pikiran, maka segalanya akan dimudahkan Allah Yang Mahakuasa.”
Nyonya Besar adalah novel dengan 25 kumpulan kisah para kaum sosialita di Ibu Kota dan based on true stroies. Sejujurnya saat aku mengetahui novel ini yang ada di pikiran aku satu : novel ini pasti menceritakan tentang betapa glamournya hidup para kaum sosialita yang menghambur-hamburkan uang. Tapi saat aku membaca cerita yang pertama aku kaget, karna tidak seperti yang aku pikirkan. Semakin lama aku membaca novel ini aku sadar ternyata novel ini tidak hanya menonjolkan sisi kehidupan glamour para Nyonya Besar tapi juga kearifan dan kebijaksanaan mereka. Saya sadar ternyata tidak semua Nyonya Besar itu orang yang hidupnya di penuhi dengan barang-barang bermerk dan memiliki sifat yang angkuh, sombong dan kikir. Di sini begitu banyak cerita tentang kehidupan Nyonya Besar yang mengikuti banyak kegiatan amal, saling membantu untuk orang-orang yang membutuhkan, serta mengalami cobaan dalam rumah tangga mereka dan menghadapinya dengan lapang dada serta kesabaran yang luar biasa. 25 cerita yang berbeda, tapi sarat akan makna. Setelah membaca novel ini pandangan saya terhadap para kaum sosialita berubah. Tidak semua kaum sosialita hidupnya hanya untuk diri sendiri, tapi mereka juga berbagi kepada yang membutuhkan. Sangat, sangat berkesan! Jadi kepengen baca Tuan Besar, apakah ceritanya juga akan sebagus ini? :p
wah, ga nyangka buku ini bisa memberikan gambaran, ternyata banyak ya nyonya-nyonya besar yang sungguh besar dlm impact, drpd sebagian nyonya-nyonya besar yang berlagak sok nyonya besar minta dipuja-puja. hahaha...
nyonya besar itu apa sih? menurut cerita buku ini, nyonya besar itu adalah nyonya/istri yang kebetulan memiliki suami dgn jabatan dan fasilitas luar biasa, atau nyonya yang fokus dlm bidang karir dan meraih kesuksesannya sendiri baik dgn cara halal atau haram, instant atau bertahun-tahun. dan mampu melakukan sesuatu untuk dirinya dan orang lain diatas kemampuan rata-rata.
berdasarkan kesimpulan dlm buku ini aku pribadi blm pernah berkomunikasi langsung dengan seorang nyonya besar, melihat dari jauh mungkin, menonton di televisi lebih sering lg... buku ini juga mengatakan kpd kaum wanita sebagai nyonya-nyonya besar mau di level apapun hidupmu, high class, middle class atau bahkan hanya low class. tetap dedikasi, kerja keras, ketulusan dan empati itulah yg akan memberikan warna paling mencolok dalam hidupmu.
bagi kamu yang ingin menjadi NYONYA BESAR, yang bukan hanya senang membeli tas dan sepatu bermerk, namun juga mempunyai hati bijaksana dan rendah hati adalah profesi yang sangat jarang. sangat patut membaca buku ini. kisah-kisah yang akan memberi kamu motivasi untuk menjadi seorang perempuan yang hebat dan tangguh. mungkin saya adalah salah satu dari ribuan bahkan jutaan wanita yang mempunyai mimpi menjadi Nyonya Besar. liburan ke luar negeri, pergi belanja setiap hari, membeli apapun yang diinginkan tanpa harus takut akan kekurangan dana. namun menjadi nyonya besar yang sesungguhnya tidaklah bisa jika hanya diukur dengan materi, ketulusan, kerendah hatian, keikhlasan harus menjadi tolok ukur kenapa seorang wanita bisa disebut sebagai nyonya besar. bukan hanya mereka istri pejabat, menteri dan pengusaha kaya. aku, kamu dan kita pun bisa menjadi nyonya besar bagi suami dan anak-anak kita. karena makna nyonya besar yang sebenarnya hanyalah kita yang tahu. kita mempunyai hak untuk mendefinisikan apa itu arti nyonya, dan apa itu besar. selamat membaca!
Selama ini yang kita tahu (dan kita lihat melalui media) adalah kaum sosialita yang borjuis, yang hanya tahu untuk bersenang-senang, pesta setiap malam dan menghambur-hamburkan uang. Ternyata di balik itu semua, mereka tetap manusia biasa seperti kita yang juga memiliki masalah dalam hidupnya. Malah, mungkin karena kelimpahan materi yang mereka punya, masalah hidupnya juga semakin besar. Bedanya terletak pada cara mereka mengatasi masalah hidup tersebut. Mereka lebih suka menyimpan sendiri masalah yang dihadapi dan menyelesaikannya dengan cara diam-diam dan ‘anggun’.
Ternyata, sebutan NYONYA BESAR tidak hanya berlaku bagi kaum sosialita saja, tapi lebih kepada bagaimana para wanita itu menjalani hidup, pada perbuatan dan kemampuan para wanita itu dalam menghadapi persoalan hidup. Jadi.. sudahkah kamu layak disebut sebagai NYONYA BESAR?
Apa yang ada dalam benak anda ketika mendengar Nyonya Besar atau kaum Sosialita? Nyonya besar dari para kaum sosialita mungkin sudah identik dengan branded bag yang harganya berpuluh-puluh juta. Mungkin juga identik dengan gaya hidupnya yang hedon. Atau mereka yang identik dengan gila hormat alias selalu merasa ingin dihormati dan diperlakukan selayaknya sang ratu? Namun siapa sangkan di antara banyaknya nyonya besar itu masih terdapat nyonya besar yang tidak saja besar hartanya, besar badannya, tetapi juga besar hatinya, besar rasa empatinya.Dalam buku ini, Threes Emir memaparkan 25 kisah dari para nyonya besar tersebut.
Buku ini sangat cocok dijadikan teman bacaan saat makan siang mungkin. Atau saat anda ingin mengisi waktu luang dengan bacaan yang ringan.
Buku inilah yang membuat saya sadar mengapa tulisan Threes Emir sangat menarik bagi saya. Dengan latar belakang sebagai biografer, penulis mempunyai cara untuk mengangkat kisah-kisah sederhana menjadi bacaan yang enak untuk dicecap lama-lama. Bukan hanya kisahnya yang menarik, tapi dari kegamblangan penulisan, bahasa yang kadang puitis kadang kering kadang mendayu kadang datar, jiwa-jiwa yang terlibat dalam kisah tersebut menjadi hidup.
Seperti saat menulis biografi saja. Harus menuliskannya seakan ia adalah semata fakta untuk dibagi, tapi juga memilih sudut cerita yang pas untuk menjadikannya menarik. Mungkin karena topik dalam buku ini adalah perempuan karenanya saya dapat mempunyai ikatan emosional dengan isi buku ini.
Buku ini mengisahkan beberapa cerita tentang si "Nyonya Besar". Kata 'besar' itu sendiri bisa diartikan dari banyak sekali sudut pandang. Kisah-kisah inspiratif tentang bagaimana seorang "Nyonya Besar" menjalani hidupnya dengan menyandang status sosial yang diyakini oleh masyarakat (ataupun kita sebagai pembaca) adalah high class. Namun, sebelum menghakimi statusnya itu, terlebih dahulu kita diajak memahami latar belakang kisahnya. Apa yang menyebabkan ia berbuat demikian? Pantaskah ia menyandang status sebagai "Nyonya Besar" ? dan yang paling penting, siapakah yang layak disebut sebagai "Nyonya Besar"...
My biggest regret is buying this book impulsively (along with the other 2), expecting juicy stories, deepest secrets about Indonesian socialites. But what did I get? Nothing. The main characters are typical Mary Sues with giddy-goody kindness a la ibu peri. I was totally disappointed. Every chapter ends with moral of the story. Well, considering this book is not for children, I think I have a right to be pissed.
I learned my lesson well: don't judge a book by its cover, synopsis, and the tagline. They might fool you.
Bagus banget ni buku. Isi nya tentang kumpulan cerita nyata para wanita yang pantas menyandang gelar Nyonya Besar (entah karna dompet tebal, status tinggi, badan besar, atau nekad abis). Kebanyakan memang tinggal di Jakarta tapi ceritanya masih relevan dengan kehidupan di tempat lain. Ditulis dengan gaya ringan tapi mengandung pelajaran yang bagus. Recommended book indeed…
Weekend kmrn saya sempatkan utk menyelesaikan Nyonya Besar ini. Berupa kumpulan cerita dari berbagai kalangan Nyonya Besar, ada beberapa kisah yg menarik menurut saya, tapi selebihnya biasa saja. Mungkin karena sy "belum" menyandang gelar Nyonya Besar kali yah. Hehhehe..
But still, kisah2 didalamnya memberi pembelajaran :)
Kayaknya lamaaa ya ngga baca tulisan ibu Threes lumayan buat melepas kangen.. tapi kenapa terus ada judul judul lain yg dirilis berurutan yaaa *korek korek dompet
Gue banget! Haha.. lucu abiiiis! Gue beli Nyonya Besar setelah suka dengan Menantu dan Mertua Metropolitan.. Gue borong semua buku Threes Emir yang ada di shelf gramed, haha.. lucu2 semuaaa..