Jump to ratings and reviews
Rate this book

Parasit Lajang #2

Cerita Cinta Enrico

Rate this book
Cerita Cinta Enrico adalah kisah nyata seorang anak yang lahir bersamaan dengan Pemberontakaan PRRI. Ia menjadi bayi gerilya sejak usia satu hari. Kerabatnya tak lepas dari peristiwa '65. Ia menjadi aktivis di ITB pada era Orde Baru, sebelum gerakan mahasiswa dipatahkan. Merasa dikebiri rezim, ia merindukan tumbangnya Soeharto. Akhirnya ia melihat peristiwa itu bersamaan dengan ia melihat perempuan yang menghadirkan kembali sosok yang ia cintai sekaligus hindari: ibunya.

Cerita Cinta Enrico adalah kisah cinta dalam bentangan sejarah Indonesia sejak era pemberontakan daerah hingga Reformasi.

244 pages, Paperback

First published February 1, 2012

51 people are currently reading
587 people want to read

About the author

Ayu Utami

37 books777 followers
Justina Ayu Utami atau hanya Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.

Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
224 (17%)
4 stars
446 (35%)
3 stars
465 (36%)
2 stars
106 (8%)
1 star
22 (1%)
Displaying 1 - 30 of 182 reviews
Profile Image for Primadonna.
Author 50 books374 followers
March 26, 2012
Aku tidak sreg dengan kovernya. Tapi karena yang menulis adalah Ayu Utami, kubeli juga. Kemudian, aku tidak sreg dengan editannya. Masih ada penggunaan kata "nafas", "di mana --- menggantikan where", "apapun". Sungguh mengganggu kenikmatan membaca.

Kemudian, gaya menulis Ayu yang tarik ulur dalam buku ini jujur, membuatku lelah. Misal kisah A sudah diceritakan sampai tahun sekian, di bab berikut diceritakan ulang padahal bagian yang sudah dipaparkan pada pembaca menurutku tak usahlah diulang-ulang lagi. Padahal sebenarnya ceritanya menarik. Karena inilah kuberikan bintang dua, aku susah benar-benar terhanyut ke dalamnya.

Satu detail yang menurutku agak mengganggu: diceritakan Enrico membeli kondom di apotek di Padang pada sekitar tahun 1973. Apakah memang pada saat itu sudah dijual bebas? Dan kalau memang demikian, apa bebas diperjualbelikan pada anak usia 15 tahun? Oh, satu hal lagi. Sampai tamat aku masih tidak jelas mengapa A mengontak Enrico untuk minta difotokan dalam keadaan telanjang. Sekadar koleksi pribadi saja?
Profile Image for Sulin.
332 reviews56 followers
April 6, 2017
Hmm.
Saya nulis review ini 2x lho, yang pertama di kos, lalu laptop mendadak meninggal dunia untuk selama-lamanya sebelum sempat memijat "save" dengan lembut. Sekarang, saya coba menulis lagi di kantor setelah jam kerja :') #anakkantor. Tolong bantu saya memijat tombol "like" di layar Anda dengan lembut *eh.

Oke. Biarlah aku kalah di mata orang banyak. Aku memilih menang di mataku sendiri. Itulah ujian terberatku: memilih kalah di mata dunia tapi setia pada prinsip yang tak kelihatan orang.

-Rico, hlm. 55-

Oh iya, sebelumnya saya kira banyak yang perlu mengetahui bahwa buku ini sejatinya adalah sekuel dari Si Parasit Lajang. Benar, serial ini merupakan trilogi dan sampul buku kedua memang tidak nyambung. Saya kira teman-teman librarian Goodreads mungkin perlu membenahinya dalam daftar buku...

Buku ini adalah memoar dari kehidupan anak laki-laki non publik figur yang tidak terkenal, berasal dari keluarga tidak biasa dengan latar belakang orde baru hingga era milenium. Sejak beberapa tahun yang lalu membaca memoar pertama Woman At Point Zero, saya jadi jatuh cinta pada memoar.

Memoar selalu bisa memikat hati, menyenangkan memahami idealisme masing-masing manusia. Sungguh tidak pernah membuat saya bosan. Rasanya seperti meminjam cara pandang dan isi kepala orang lain sejenak seraya tenggelam dalam cuplikan kisah hidupnya. Lalu setelah halaman terakhir ditutup! Boom! Saya jadi orang lain, ya tetap saya juga sih. Hanya saja, bisa disimpulkan bahwa saya sebelum dan sesudah membaca buku, bukanlah manusia dengan kapasitas yang sama. :D

Hal yang paling membuat saya iri adalah orang yang bisa mengungkapkan idealismenya dalam tulisan. Alternatif lain, paling tidak mengenal orang yang bisa membantu menuliskannya. Misalnya ya Erik Prasetya ini, suami Ayu Utami :)

Yang saya sukaaaaa dari buku ini hyeyeyeyeeye <3
1. Sudut pandang orang pertama, laki-laki unik dengan panggilan Rico. Penulisnya boleh wanita, tapi tulisannya beraura pria! Demi dewa!
2. Masih soal sudut pandang, saya kagum bagaimana penulis mengembangkan tata bahasanya. Mulai dari anak-anak hingga dewasa. Saat tokoh utama masih anak-anak, gaya bahasa masih polos dengan pola pikir sederhana dan penuturan yang singkat-singkat. Saat remaja meluap-luap. Saat dewasa menjelang tua makin terasa idealisme, kesedihan mendalam, tekanan hidup. Keren!
3. Ceritanya hampir mirip-mirip sama keluargaku neh, cuma dibalik Mamaku yang Madura, Papaku yang Jawa priyayi dan misterius. Bedanya, ortuku akhirnya memutuskan seagama. Hahahaha dan sejauh ini tidak ada kisah Sanda kecuali adikku memang pengidap asthma.
4. Buku ini membuat saya makin yakin kalau manusia itu sebenarnya punya kebebasan mutlak dengan apa yang akan ia lakukan terhadap diri sendiri. Tanpa siapapun membebani...
Manusia lahir dan mati tanpa belenggu..... yoi ga? wkwkwk

Lho kok < /3?
1. Alurnya maju mundur oke yak, tidak apa-apa sih.
2. Repetisi banyak banget. Ingatan masa kecil masalah sikil sama pantovel doang.

Kutipan satu lagi yaaa bagus banget nih bukunya! Kutipan favorit bisa jadi semua halaman neh! Wakacau!

"Setelah dewasa beranjak tua aku sadar bahwa kita lahir pun bukan karena keputusan kita. Artinya, ada banyak hal dalam diri kita yang bukan tanggung jawab kita. Kita tidak bisa memilih lahir sebagai anak kaya atau miskin, dari orang tua yang harmonis atau berkelahi melulu. Kita tidak bisa memilih talenta kita. Kita lahir tidak sempurna, melainkan membawa cacat dan kelemahan genetik orang tua kita. Kita bukan selembar kertas kosong."
-Rico, hlm. 133-


*mm btw, Saksi Yehova gemay juga ye wkwkwkwk
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
March 21, 2012
#2012-04

”Kami, para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain.” (h.135)

Hai, Enrico, kamu tahu? Kisahmu ini sangat unik. Kamu beruntung sekali punya Ayu yang bisa menuliskan cerita hidupmu. Tidak semua orang beruntung bertemu Ayu dan dituliskan perjalanan hidupnya, lho.

Aku suka ibumu, perempuan kuat yang rela masuk hutan untuk mendampingi ayahmu. Perempuan bersepatu pantovel dengan betis mengkal, siap menanggung beban keluarga dan anak-anaknya. Membesarkan dirimu di tengah bayangan kehilangan kakakmu. Aku tahu, kehilangan terbesar bagi ibu adalah kehilangan anaknya. Saat itu seperti separuh jiwanya hilang. Saat yang ditimang-timang, dicinta, dirawat dengan perhatian yang lebih besar dari pada kepada kekasih. Lalu tiba-tiba hilang, kosong, tak tahu lagi bagaimana menyalurkan energinya. Jadi ketika si Khasiar sang Pengkhabar hadir untuk memberikan jalan pencerahan untuk bertemu kembali dengan kakakmu, ditempuhnya jalan itu.

Seperti juga Enrico yang katanya tidak ingat lagi kematian kakaknya. Kehilangan saudara kandung ketika kecil itu berat. Tiba-tiba belahan jiwa, teman ketika bangun dan sebelum tidur. Dulu aku juga menangisi adikku selama dua minggu, katanya. Dan seperti Enrico, menghilangkan kesedihan adalah dengan perlahan melupakan, mengalihkan pada hal-hal lain.

“Cuma yang sungguh setiakawan adalah dia yang berkorban untuk sesuatu yang tanpa harapan sekalipun!” (h.145)

Tadinya, aku merasa bahwa cerita ini sangat mirip dengan gaya bercerita Salman Rushdie di Midnight Children. Cerita tentang seorang anak dengan waktu kelahiran yang unik, dan kisah hidup yang dihubung-hubungkan dengan sejarah yang terjadi pada masa itu. Aku maklum. Ayu pernah membahas buku ini di Galeri Salihara tempat aku mendengarnya bercakap. Pasti ia suka sekali juga dengan buku ini. Namun, aku berontak dari pikiranku sendiri! Cerita, haruslah dinikmati sendiri, jangan dipikir dengan susah, dikira mirip ini mirip itu, yang membuat kita tidak bisa menikmati ceritanya. Kosongkan pikiran kalau perlu sebelum membaca! Karena yang membuat sebuah cerita itu bagus atau tidak adalah penceritaannya sendiri. Jangan asal membandingkan, karena siapa tahu pembandingnya tidak tepat. Nikmati saja. Baca. Karena Cerita Cinta Enrico ini begitu mengalir, mudah dipahami, seperti mendengar Ayu berkisah bercerita di depan panggung.

”Jika angin itu sedang menerpa lawan mainmu, biarkan dia di atas angin. Sama seperti dengan perempuan, kau harus tahu kapan kau di aatas dan kapan di bawah. Jangan kau paksa dia membuka kartunya. Tinggal pandai-pandai kau membaca angin itu. Aku tak pernah kalah telak, sebab aku tahu kapan berhenti.” (h.140)

Kehidupan masa muda sesudah masa kanak juga dilalui dengan keras. Perjalanan cintamu sendiri rupanya tidak mulus, ya. Tidak tahu, apakah kamu memanfaatkan perempuan untuk kesenanganmu, atau perempuan memanfaatkan untuk kesenangan mereka. Eh, apakah perempuan sama dengan cinta? Mungkin bagi sebagian laki-laki, tidak ya?

Tapi tidak disangkal, laki-laki memang butuh perempuan. Ketika tidak ada, terasa ada yang hilang. Mungkin ini akibat kehilangan tulang rusuk di masa penciptaan. Enrico, ternyata takut juga kamu ditinggal Ayu.

”Betapa menakutkan hidup jika kau tidur dengan mimpi buruk dan terjaga dalam kekosongan. Setiap kali kekosongan itu begitu mencekat, aku menginginkan hadirnya kekasih.” (h.168)
Profile Image for Septian Hung.
Author 1 book9 followers
September 10, 2016
Pada mulanya saya mengira bahwa Cerita Cinta Enrico hanyalah sejenis novel percintaan biasa namun diangkat serealis mungkin karena diadopsi dari kisah nyata seseorang. Dan saya justru hampir memutuskan untuk berhenti membaca bahkan sebelum bagian pertama dari novel ini berakhir karena di awal-awal ceritanya agak membosankan dan seperti tak menjanjikan klimaks. Memang sudah ada banyak keunikan atau semacam prevalensi yang disematkan sang penulis dalam tokoh-tokohnya. Termasuk pula penggunaan latar belakang pemberontakan PRRI yang membuat novel ini sedikit berbeda dari novel-novel cinta lain. Tapi tetap saja, saya merasa masih ada yang kurang menggigit dari Cerita Cinta Enrico.

Berhubung saya adalah orang yang selalu merasa sayang dengan novel yang sudah dibeli namun tak tuntas dibaca, saya pun akhirnya memaksakan diri untuk lanjut membaca, sambil berharap-harap bahwa di bagian-bagian berikutnya saya akan memperoleh pelajaran baru maupun kejutan berarti dalam novel ini. Dan tanpa saya duga, apa yang saya harapkan sedari awal pun perlahan-lahan terwujud begitu saya menginjak bagian kedua.

Di bagian kedua saya mulai memahami mengapa sang penulis begitu menaruh atensi yang memerinci pada keunikan atau prevalensi yang telah susah-payah ia bangun di bagian pertama. Dan keunikan atau prevalensi tersebut ternyata terus dibawa bahkan sampai ke akhir cerita. Malah keunikan atau prevalensi inilah yang kemudian menjadi salah satu determinan yang membuat saya menyadari bahwa novel ini sesungguhnya adalah novel yang patut diberi apresiasi.

Selain keunikan atau prevalensi yang dimiliki setiap tokoh dalam cerita, novel ini juga menyuarakan kritik-kritik sosial bernada humanisme serta spiritualisme. Sang penulis sendiri memang sudah tersohor dalam literasi sastra Indonesia oleh pemikiran spiritualisme kritisnya. Banyak sekali kalimat-kalimat filosofis maupun ajaran-ajaran tentang seks, pernikahan, dan kebebasan, yang bertaburan di tengah menuju akhir bagian kedua maupun bagian ketiganya. Dan kelebihan ini pulalah yang pada akhirnya memampukan saya untuk menarik simpulan bahwa novel ini adalah novel cinta yang bergizi dan bermutu, dan bukan novel cinta yang banal.

Berikut saya sertakan sebagian nukilan yang menurut saya penting dan membuat saya merenung sejenak setelah membacanya.

“Pada akhirnya adalah tiga hal ini: iman, pengharapan, dan kasih; dan yang paling besar diantaranya adalah kasih. Berbuat kasih itu lebih besar daripada iman sekalipun. Kok bisa menyiar jadi segala-galanya!”

“Apa tidak cukup menjadi orang baik? Mengapa orang harus jadi pengkabar juga, memaksakan iman kita pada waktu dan telinga orang lain?”

“Para tentara itu telah menjadi seperti ibuku: hendak mencetak anak-anak muda yang patuh, tidak menginginkan kebebasan, tidak punya kenakalan, melainkan hanya mengangguk-angguk seperti ayam broiler; hingga Kiamat memotong leher mereka.”

Dan masih banyak kalimat filosofis serta ajaran lain, yang tak mungkin saya jabarkan satu demi satu disini. Jadi, bagi saya, empat bintang adalah apresiasi yang sepadan untuk novel cinta yang sungguh tidak banal ini.
Profile Image for Annisa Anggiana.
283 reviews53 followers
January 31, 2013

“Selanjutnya hidup bagaikan judi…”

Lebih dari 10 tahun lalu saya mencoba membaca buku Saman karya Ayu Utami. Saya waktu itu baru akan memasuki umur 20 tahunan langsung menyimpulkan bahwa Saman is not my cup of tea. Ketika itu saya versi “remaja-dewasa” merasa sudah tau pasti siapa diri saya, apa yang saya mau dalam hidup, mau kemana langkah kaki saya arahkan.

Lalu kehidupan yang sebenarnya datang. Dan semakin bertambah umur, semakin saya tahu bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini. Hidup selalu mendorong manusia untuk selalu berubah. Di suatu titik saya sempat bingung dengan perubahan diri sendiri dan merasa tidak mengenal orang yang saya lihat dalam kaca. Namun pada akhirnya saya mengerti bahwa memang kita tidak akan pernah tahu. Tidak ada satu hal pun yang pasti dalam hidup.

Saya belajar untuk menenggang. Saya belajar untuk menempatkan diri di banyak sisi sebelum mengambil kesimpulan.

Ini berlaku juga dalam pilihan buku yang ingin saya baca. Saya memutuskan untuk mencoba kembali membaca buku2 yang dulu saya labeli “bukan untuk saya” untuk belajar menemukan keindahan perubahan cara pandang yang dibawa oleh waktu.

Dan kehidupan menjawab maksud saya. Ayu Utami mengeluarkan karya barunya Cerita Cinta Enrico. Saya yang tadinya berfikir untuk memulai dari Saman tiba-tiba merubah pikiran untuk berjalan mundur dari masa kini ke masa lalu. Saya akan memulai dari Cerita Cinta Enrico dan merunut ke karya2 Ayu Utami sebelumnya.

Walaupun orang-orang bilang ini adalah buku yang termasuk ringan untuk karya Ayu Utami, buat saya buku ini adalah kejutan yang menyenangkan. Kenapa?

Pertama karena gaya berceritanya yang unik. Enrico si tokoh utama bercerita tentang bab-bab kehidupannya dengan menggunakan peristiwa2 bersejarah Indonesia sebagai acuan waktu. Gaya ini pernah saya lihat dalam salah satu buku Salman Rushdie dan merupakan sesuatu menyenangkan untuk melihat versi lain gaya ini di Cerita Cinta Enrico.

Kedua karena buku Cerita Cinta Enrico ini merupakan penyeimbang. Penyeimbang dari kisah perjalanan anak Indonesia lainnya yang telah banyak beredar. Kebanyakan kisah perjalan tersebut mengajarkan kemuliaan dalam meraih mimpi, pengorbanan, kecintaan pada keluarga, determinasi, dan sifat2 baik lainnya sehingga sang tokoh berhasil meraih mimpi yang dicita-citakan.

Enrico berkelana ke Bandung dari Sumatra karena ingin bebas. Bebas dari suasana tertekan yang diradiasikan Ibunya. Bebas untuk memilih siapa dirinya. Buat saya keberanian untuk jujur menginginkan kebebasan itulah yang menyeimbangkan. Tidak semua dari kita diberkahi dengan jenis cinta keluarga yang membentuk kita menjadi manusia dengan sifat2 terbaik. Sebagian besar dari kita ingin terbebas dari kungkungan, terlepas dari kenyataan kita mencintai keluarga kita. Itu adalah kenyataan.

Ketiga, kisah Enrico meng-amin-ni, cerita pengalaman saya di awal2 paragraf bahwa manusia akan selalu berubah. Dan jika pada saat ini kita merasa masih belum menemukan diri kita, itu adalah sesuatu yang wajar karena fitrah manusia untuk selalu merubah dirinya. Kalo diibaratkan puzzle, seumur hidup kita akan selalu mengisi kepingan puzzle yang kosong itu, dan keping terakhir akan kita lengkapi di saat hembusan nafas terakhir. Jadi percayalah bahwa tidak ada pilihan yang salah dan jangan pernah merasa terlambat untuk sesuatu. Jalan hidup kita masih bisa berubah selama kita masih bernyawa.

Empat dari lima bintang dari saya untuk buku ini. Selebihnya tentang sinopsis cerita bisa teman2 lihat di Cerita Cinta Enrico karena apa yang saya tulis di atas lebih banyak muatan curhatnya daripada reviewnya. Hehehe.

Oh iya. Ini posting pertama para Blogger Buku Indonesia untuk tahun 2013. Untuk bulan Januari para anggota BBI memposting review buku hadiah dari event Secret Santa di bulan Desember 2012. Di postingan ini setiap orang harus mencantumkan tebakan siapa Secret Santanya.

Dan Secret Santa saya (hampir 100% yakin) adalah tak lain dan tak bukan Mia Prasetya sang dokter gigi cantik dari bali. Hehehe. Darimana saya tahu? 1. Resinya mencantumkan kode agen pengiriman denpasar; 2. Riddlenya pernah saya baca di buku The Hobbit and BBI’ers bali yang mereview buku itu not so long ago adalah Mia. Hihihihi. Iya kan Mia? ;p
“Orang yang tidak pernah merasa tertekan tak kan bisa menginginkan kebebasan.”

“Aku selalu merasa bahwa perempuan sering jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Dan mereka memikirkan kehidupan, bukan kegagahan. Kami, para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain.”

“Aku kini mahasiswa. Tapi perguruan tinggi telah menjadi peternakan yang membesarkan ayam-ayam leghorn dan broiler saja. Yaitu ayam-ayam palsu, yang tak punya kemauan, tak punya kenakalan, tak punya rasa ingin mencari yang sebenarnya. Ayam-ayam yang diproduksi untuk daging dan telurnya saja. Ayam-ayam yang tak punya karakter, tak punya keunikan individu. Ayam-ayam yang hanya mengangguk-angguk, mematuk2 apapun yang diberikan kepada mereka, sampai kelak Kiamat memotong leher mereka.”
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
October 16, 2015
"Cerita Cinta Enrico" bercerita tentang Joakhim Prasetya "Enrico" Riksa, seorang anak laki-laki yang lahir sebagai bagian dari pasukan gerilyawan di daerah Padang. Tumbuh besar dalam lingkungan yang bercampur aduk antara cinta, kehilangan, dan kenakalan, Enrico tumbuh menjadi seorang pemuda yang merindukan kebebasan.

"Cerita Cinta Enrico" adalah catatan perjalanan hidup Enrico. Dimulai dengan sebuah revolusi di Sumatra Barat, dan terus berlanjut hingga hari-hari dewasanya di Jawa yang penuh lika-liku.

Buku ini memiliki suatu pendekatan yang menarik. Sebagai sebuah novel, "Cerita Cinta Enrico" ini mendasarkan kisahnya pada fakta, lalu membalurinya dengan fiksi. Kisah perjalanan Enrico di novel ini didasarkan pada kehidupan seorang Enrico di dunia nyata, tapi dengan beberapa detail yang tidak begitu akurat. Penulisnya mengambil kebebasan kreatif dan memang mengakui hal ini dalam catatan akhirnya.

Awalnya saya mengharapkan kisah tentang seorang anak yang hidup dalam lingkungan yang keras, mungkin juga militeristik. Dari blurb-nya, saya menduga sebuah kisah tentang perlawanan politik dan ketidakpuasan akan ketidakadilan. Sayangnya, saya salah besar.

Enrico ini justru tumbuh besar dalam lingkungan yang bisa dibilang lebih tenang dari dugaan awal saya. Apakah hidupnya berhubungan dengan militer? Rasanya tidak terlalu atau tidak ditunjukkan di sini. Cerita yang kukira akan berhubungan erat dengan politik juga melenceng. Enrico rasanya hanya berdiri di tepi pantai sambil mengamati ombak, pusaran air, serta berbagai pasang-surut lautan politik.

Ada lompatan waktu yang cukup besar di tengah novel. Enrico yang berada pada awal 20-an langsung melompat ke usia 40-an. Saya jujur agak merasa setengah hati dengan lompatan ini. Saya paham bahwa mungkin tidak ada hal menarik yang perlu disampaikan dalam rentang waktu yang hilang, tapi di sisi lain, hal ini juga membuat saya sedikit kaget karena perubahan karakter tokoh dan juga nuansa cerita. Walau begitu, saya rasa perubahan-perubahan yang Enrico alami itu masuk akal. Sebab-akibat antara kehidupan masa kecil dan dia di masa dewasa bisa terlihat jelas.

Gaya bercerita penulisnya cenderung repetitif di sini. Ada banyak bagian yang diulang-ulang dalam cerita tanpa terasa manfaatnya. Lalu ada kata tidak baku 'nafas' dan 'di mana' (sebagai pengganti kata sambung 'where') yang dipakai di sepanjang cerita. Apakah pemakaiannya memiliki makna tersendiri? Saya tidak tahu.

Secara keseluruhan, saya cukup menikmati novel ini. Mungkin tidak sesuai dugaan awal, tapi tidak buruk juga. Sayangnya, saya juga tidak merasa terpukau dengan cerita ataupun narasinya.

Saya menyarankan novel ini untuk yang mencari bacaan tentang hubungan cinta-benci antara orang tua dan anak, serta yang ingin membaca novel dengan lumuran filosofi agama dan feminisme.

Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
Profile Image for Mark.
1,284 reviews
February 20, 2012
Ini bukan novel, karena sebagian (besar?) isinya adalah berdasarkan kisah nyata - atau dalam bahasa kerennya, reenactment - dari kehidupan seorang pria bernama Prasetya Riksa, atau yang lebih sering dipanggil Enrico, yang kemudian hari menjadi suami sang penulis, Ayu Utami. Tapi sebagian isinya juga adalah fiksi, karena cerita apapun yang dibangkitkan kembali, tidak akan pernah murni 100% fakta.

Ada beberapa bagian dari semi-novel ini yang berhasil memikat perhatianku, mulai dari yang bisa memancing tawa terbahak hingga yang membuat tenggorokan tercekat dan mata berkaca-kaca. Yang lain, membuat merinding dan terhenyak karena kebenaran nilai yang dikandungnya. Seperti yang kukutip di bawah ini.

Panser itu berhenti.

Aku siap mati. Tapi aku tidak membayangkan bahwa para mahasiswi siap mati tak hanya untuk cita-cita luhur, tetapi juga untuk melindungi kami, teman-temannya. Aku selalu merasa bahwa perempuan sering jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Dan mereka memikirkan kehidupan, bukan kegagahan. Kami, para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain. Tiba-tiba aku teringat Sanda, kakakku, yang menyelamatkan aku dari serangan ayam hitam pemakan anak kecil.


Tentu saja, bagi para penggemar karya Ayu Utami, semi-novel ini wajib dibaca. Bagi mereka yang bukan penggemar, yah, perlu dibaca. Penting, malah.
Profile Image for Aqmarina Andira.
Author 3 books10 followers
November 4, 2012
"Enrico's Love Story"

Well, it took a foolish to write one entire book about his/her lover (or tweet it crazily and even put a special hashtag on it). But 'fool' is clearly not the right word to describe this book. Not even close.

Although love is the main topic in this book, but don't expect passionate devoted love story as in Nicholas Spark's or sweet impossible love story as in Cecilia Ahern's. The word 'love' in this book has a broader meaning than just romantic emotion between man and woman.

Enrico's love for his mother.
Enrico's love for his freedom.
Enrico's love for his woman.

Three different kind love that overthrow each other. Three different kind of love that shape Enrico's life.

Being written by your love one (especially when your love one is one hell of a writer, like Ayu Utami), is like the greatest thing ever. It's either because your life is so bewitching for her, or simply just because you made her so in love. Either way, you're a lucky guy, Enrico!
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
February 24, 2012
Kisah seorang laki-laki bernama Enrico, dengan segala lika-liku kehidupan yang tidak biasa ( mungkin). Diawal-awal gaya penulisannya tidak seperti tulisan Ayu Utami yang pernah aku baca. Mengingatkan ku pada salah seorg penulis yg aku kagumi.Tapi diakhir cerita, Ayu Utami punya gaya kembali...
Profile Image for Diana.
60 reviews13 followers
April 6, 2017
membaca novel ini seperti membaca kumpulan cerpen, karena tiap akhir bab-nya selalu memberi kejutan (yang kebanyakan tidak menyenangkan).
saya sungguh menikmati penuturan Ayu tentang masa kecil Enrico. Ayu bisa menggambarkan dengan begitu detail, perasaan Enrico kecil: tentang ayam pemangsa anak kecil, tentang perasaan gagah saat membawakan keranjang belanja ibunya, dan tentang ingatan yang terlupakan saat kematian Sanda.
Profile Image for Rahman Rasyidi.
102 reviews26 followers
July 7, 2023
Cerita yang sangat manusiawi tentang pengembaraan mencari identitas, maskulinitas, hubungan dengan agama dan Tuhan, dan makna kebebasan
Profile Image for Septri Lediana.
35 reviews6 followers
May 8, 2012
Cerita Cinta Enrico : Ayu Utami Yang Lebih Sederhana

Judul : Cerita Cinta Enrico
Pengarang : Ayu Utami
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan : Pertama, Februari 2012
Tebal : 244 halaman

Ayu Utami muncul dengan novel baru yang berbeda dari novel-novelnya sebelumnya. Novelis yang terkenal dengan karya-karya dengan bahasa yang cukup vulgar dan cenderung berat dibaca ini menyuguhkan novel yang relatif lebih ringan. Dari tampilan kover saja sudah terlihat perbedaannya. Kover ’Cerita Cinta Enrico’ terkesan bak kover novel remaja, berwarna hijau cerah dan bergambar kartun. Sangat berbeda dengan novel-novel sebelumnya yang memiliki kover dengan kesan artistik, abstrak yang memberikan kesan gelap dan membingungkan.

Maka jangan bayangkan novel ’Cerita Cinta Enrico’ ini akan sevulgar, seberat dan sekompleks cerita pada novel Ayu sebelumnya : Saman, Larung atau Bilangan Fu. Cerita Cinta Enrico bukan hanya lebih ringan, lebih sederhana dan lebih sopan saja, tapi juga lebih tampil dalam bahasa dan kisah yang lebih keseharian. Mungkin dikarenakan novel ini diangkat dari kisah nyata hidup seseorang. Untuk diketahui novel ini memang diangkat dari kisah hidup nyata Enrico (Prasetya Riska) suami Ayu Utami. Ceritanya pun tampil apa adanya, tanpa terlalu disajikan ribet.

Namun, walaupun lebih ringan dan lebih sederhana, bukan berarti pembaca akan kehilangan ciri khas pemikiran Ayu Utami dalan novel ini. Pemikirannya tentang feminisme, tentang kesetaraan perempuan dan lelaki masih cukup kental dalam novel ini. Walau disuratkan dengan cara yang lebih sederhana.

Ayu awalnya terkesan ingin menyuguhkan novel ini menjadi lebih berisi dengan menghubungkannya dengan sejarah-sejarah penting Indonesia. Namun, lama kelamaan pembaca akan menyedari sejarah-sejarah penting itu terasa jelas hanya sebagai ’pemanis’ saja.

Diceritakan, Prasetya Riska atau bisa dipanggil akrab Enrico adalah anak seorang tentara berdarah Jawa yang bertugas di Padang. Pada masa pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berpusat di Sumatera Barat, ayahnya memilih berpihak pada PRRI dan dianggap sebagai pemberontak oleh pemerintah RI. Enrico lahir pada masa pergolakan PRRI itu. Saat umurnya baru beberapa hari ia dibawa hidup secara maraton dan bersembunyi di hutan untuk menghindari dari penangkapan oleh pemerintah RI. Hanya saja cerita tentang tentang masa pergolakan PRRI hanya sebatas itu saja. Tak ada detail yang lebih mendalam. Bahkan untuk sekedar data awal pun tak cukup.

Pun pada bagian cerita Enrico sebagai mahasiswa yang menoba melawan rezim otoriter masa pemerintahan Soeharto, cerita hanya sekilas saja. Tak ada cerita lebih dalam atau lebih detail tentang demonstrasi dan kebijakan Normalisasi Kegiatan Kampus, Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK BKK) yang melumpuhkan pergerakan mahasiswa pada masa itu.

Cerita sejarah memang terkesan disuguhkan hanya sebagai bumbu, bukan hidangan utama. Hidangan utama novel ini sebenarnya lebih banyak bercerita tentang cinta. Tentang konsep cinta bagi Enrico Cinta Enrico pada ibunya yang modern, pada ayahnya yang demoktratis, pada pilihan hidup bebasnya dan cintanya yang kemudian berlabuh pada Ayu Utami.

Dalam novel ini kita melihat bagaimana orang seperti Enrico yang menyukai kemodernan dan kebebasan mencintai perempuan yang modern dan tidak membebaninya dengan pola pikir dan gaya hidup konvensional. Cinta seperti itu ia dapatkan dari Ibunya dan Ayu Utami.

Sedang Ayu Utami pada bab-bab akhir novel mengemukakan pendapatnya tentang pernikahan. Tentang mengapa seorang Ayu Utami yang feminis dan awalnya menolak pernikahan memilih menikah pada usia 40-an dengan Enrico yang berumur hampir 50 yang sebelumnya juga anti pernikahan. Kedua pemikiran inilah (cinta dan pernikahan) yang sebenarnya yang disampaikan dalam ’Cerita Cinta Enrico’.

Dengan cerita yang seperti itu, bagi pembaca yang sudah terbiasa membaca novel Ayu yang penuh konsep dan pemikiran yang lebih kompleks membaca ‘Cerita Cinta Enrico’ mungkin akan terasa membosankan. Namun sedikit banyak novel ini menghibur untuk pembaca yang menyukai novel sederhana.
Profile Image for drg Rifqie Al Haris.
74 reviews5 followers
April 4, 2012
REVIEW

Buku ini menceritakan tentang kisah nyata tokoh bernama Enrico yang lahir bertepatan dengan Pemberontakan PRRI. Jalan hidupnya menuju dewasa diceritakan dalam 3 bab: "Cinta Pertama", "Patah Hati" dan "Cinta Terakhir?"

Dalam bab pertama, Enrico kecil diceritakan sebagai anak yang sangat mencintai ibunya. Di mata Enrico, ibunya adalah sosok perempuan yang berbeda dengan perempuan lain yang ada di lingkungannya. Ibunya lebih terpelajar, lebih cantik, modis dan modern. Inilah alasan Enrico untuk menjadikan ibunya sebagai cinta pertama. Enrico kecil rela melakukan apa saja hanya karena dia begitu cinta dan begitu mengagungkan sang ibu.

Namun seiring dengan tumbuhnya sosok Enrico dan ditambah lagi beberapa kejadian yang mereka alami, cinta itu akhirnya mulai pudar. Bahkan dia membeci ibunya atas dasar kebebasan. Dalam bab kedua (Patah Hati),Enrico banyak bercerita mengenai cintanya ibunya yang dirasa mulai pudar. Ibunya mulai membenci Enrico yang semakin besar malah semakin berulah. Dari sudut pandang Enrico sendiri, ibunya sudah jarang sekali memujinya. Bahkan ibunya sudah memiliki dunia baru bersamaan dengan hadirnya ajaran religi yang dirasa tepat dan dibutuhkannya. Enrico merasa ibunya sudah tidak menganggap dirinya spesial lagi. Di sisi lain, ibunya juga telah merenggut kebebasannya dengan memaksanya mengikuti ajaran agama seperti yang didapatkan ibunya itu. Di titik inilah Enrico mulai mencintai ayahnya.

Kebebasannya akhirnya menemukan jalan juga ketika Enrico diterima kuliah di ITB. Kisah ini akan tersusun di bab ke-3: "Cinta Terakhir?". Enrico menjelma menjadi sosok yang sangat merdeka, bebas dan bersemangat. Termasuk dalam kisah petualangan cinta yang begitu lepas bebas tanpa ikatan. Namun di balik itu semua, Enrico justru merindukan sosok ibunya. Maka dia mulai mencari satu cinta itu.


OPINI

Lagi-lagi Ayu Utami mampu menempatkan diri pada sudut padang tokoh utamanya yang seorang laki-laki. Ini menarik bagi saya ketika dia berhasil menyajikan pola pikir dan sudut pandang yang begitu maskulin dan jujur. Gaya bahasa penuturan dalam novel ini masih saja dengan ciri khas Ayu Utami: vulgar, berani dan jujur. Sangat realis, kadang sadis dan juga miris.

Jika membaca bab terakhirnya, sepintas penyajian plot yang kental akan filsafat kehidupannya agak mirip dengan gaya tulis Dee (Dewi Lestari). Namun Ayu Utami nampaknya masih berada di jalur khasnya yang senang menyajikan sejarah-sejarah masa lalu bangsa Indonesia.

Buku ini dibagi menjadi tiga bab. Ini sangat pintar. Terlebih novel ini ditulis bukan berdasarkan kronologis waktu tapi dikelompokkan berdasarkan kesesuaian dengan bab yang sudah dibagi itu. Sehingga kita kadang membaca satu kejadian di bab yang satu, kemudian kita disajikan lagi kejadian yang sama di bab yang lain yang tentu saja kejadian itu disajikan lebih lengkap dan menjadi jawaban atas cerita di bab sebelumnya. Sehiningga wajarlah kalau alurnya melompat-lompat maju mundur.

Novel ini bagian non fiksinya jauh lebih banyak daripada bagian yang fiksi. Jadi ketika membaca buku ini, kita merasa sedang membaca buku harian atau biografi dari tokoh yang bernama Enrico. Dan kita diajak memahami kisah hidpunya dari lahir sampai berusia 50-an.

Novel ini secara kesulurahan menarik jika anda tidak terganggu dengan gaya bahasa yang sangat eksplisit Ayu Utami. Mungkin juga perlu pikiran yang terbuka untuk mencerna prinsip-prinsip yang dirasa sangat rentan akan perlawanan dan mungkin dirasa sangat kontroversial terlebih novel ini memasukkan unsur nonfiksi yang dominan.


DID YOU KNOW?

Novel Ayu Utami memiliki ciri khas yaitu: selalu memasukkan tokoh tentara dan tokoh utamanya adalah seorang laki-laki.

Disain sampul dibuat oleh Ayu Utami sendiri setelah sebelumnya seseorang telah membuatkan disainnya namun dirasa terlalu kelam. Maka Ayu Utami membuatnya sendiri dengan nuansa lebih ceria.
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
December 21, 2012
Seperti biasa Ayu Utami menyajikan narasi yang menarik dalam novel biografis suaminya. Dikaitkan dengan peristiwa PRRI/Permesta. Dalam novel ini terungkap tentang operasi bayi gerilya yang dipimpin A.H Nasution yang merupakan operasi kemanusiaan yang bertujuan menyelamatkan bayi2 para gerilyawan PRRI/Permesta yang ikut bergerilya di hutan. Saya tidak tahu apakah kenyataannya memang ada?

Selain soal PRRI/Permesta ada pula tentang sekte Saksi Yehova yang dianut oleh ibu enrico, Ayu menggambarkannya dengan menarik bagaimana sekte ini begitu militan dalam mengabarkan injilnya dan menyatakan bahwa akan ada kiamat di tahun 70-an

Banyak yang berpendapat novel ini merupakan novel yang paling mudah dibaca diantara novel2 Ayu lainnya. Saya sepakat karena ini memang novel yang mudah dicerna walau dikemas dalam narasi sastrawi yang memikat. Di awal hingga pertengahan Ayu menghadirkan kisah yang memikat tentang Enrico, namun di bab-bab akhir ketika ia berkenalan dengan kekasihnya, porsi narasi yang dominan di bab-bab awal beralih ke dialog2 panjang soal feminisme, seks, perkawinan, dll antara Enrico dengan kekasihnya (Ayu Utami). Di sini Ayu berbicara dengan jujur dan blak-blakan tentang pandangan-pendangannya. Di satu sisi memang menarik, namun di sisi lain seolah melemahkan kekuatan narasi yang dibangun di bab-bab awal tentang kehidupan Enrico.
Profile Image for Robin Hartanto.
39 reviews4 followers
August 26, 2012
Saya pikir tantangan utama buku ini adalah ketika A harus memilih kapan harus berimajinasi dan kapan harus mempertahankan realita kehidupan sang tokoh. Dalam hal ini, A seperti memilih jalan aman yang kedua, dan tidak mau terlalu bergeser jauh dari kisah nyata. Tak heran, ceritanya pun jadi cenderung datar. Saya tidak menemukan klimaks yang benar-benar menyentuh saya di satu titik waktu dalam cerita. Tanpa itu, menurut saya, orang hanya akan bisa sejauh menyukai buku ini, tetapi tidak sampai merasa jadi bagian dari cerita. Buku ini jadi terasa berjarak dengan pembacanya.

Latar sejarah kontemporer sangat dominan namun rasanya kurang penting, dan selalu diulang. Masalahnya, bagi beberapa orang (ini masalah saya sih), membaca sejarah bisa sangat melelahkan.

Satu hal yang saya tidak suka: cover bukunya terlalu centil. Saya kaget ketika membaca lembar pertama cerita, yang ternyata ditulis dengan “berat”. Di luar dugaan saya ketika melihat cover nya.
Profile Image for Famega Putri.
Author 1 book12 followers
August 2, 2012
Cukup menikmati bagian pertama waktu narasi Enrico kecil. Lalu pas Enrico dewasa, serasa baca penutupnya Parasit Lajang (dan memang benar-benar ada kalimat yang aku pernah baca dari salah satu buku Ayu Utami (kemungkinan sih parasit lajang) diulang di situ). Iman, kasih dan pengharapan, mana yang lebih besar?
5 reviews
March 21, 2013
Kisah yang mencinta sejarah. Cinta tidak hanya sekedar ungkapan. Cinta menjadikan itu cerita. Cerita yang dikenang sepanjang masa. Seperti 'Cerita Cinta Enrico' ini. Selamat untuk Enrico yang akhirnya menikah di usianya yang setengah abad.
Profile Image for Helvry Sinaga.
103 reviews31 followers
December 17, 2012


Novel tiga bab ini sangat menarik untuk dibaca sebagai bahan permenungan maupun sebagai bahan referensi sejarah. Ayu Utami mengemas peristiwa PRRI?Permesta yang dilancarkan oleh...di Sumatra Barat, Saksi Yehuwa, serta turunnya Soeharto dalam kisah yang dibawakan oleh Enrico. Enrico adalah tokoh utama novel ini. Ia menceritakan hidupnya dari mulai masa kecil hingga ia berusia lima puluhan.

Enrico membuka kisahnya dengan menceritakan kisah ibunya terlebih dahulu. Ibunya bernama Syrnie Masmirah dan ayahnya bernama Muhamad Irsad. Syrnie menginginkan anaknya diberi nama Enrico. Namun perihal nama itu dinilai ayahnya adalah nama yang kebarat-baratan. Akhirnya, Enrico diasimilasi menjadi Prasetya Riksa.Ibunya Enrico adalah perempuan yang berasal dari keluarga mampu dan berpendidikan tinggi. Hal itu digambarkan dalam kalimat seperti ini: Ibuku bisa membaca bahasa Jerman dan Inggris, bisa menunggang kuda, bermain polo, tenis, mengetik, mencatat dengan steno, bermain akordeon, membaca koran dan buku-buku tebal (h.5). Namun, akibat menikah dengan suaminya yang tentara, ibunya Enrico meninggalkan semuanya itu. Bersama dengan suaminya, ibu Enrico memasuki medan yang sama sekali tidak nyaman, dan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, ibu Enrico bersedia mengubah kemapanannya dengan menjual telur ayam.

Cerita selanjutnya adalah bagaimana Enrico besar, sekolah, kuliah, dan menjadi seorang suami. Secara umum simpel. Tetapi Ayu Utami dengan lihai menempatkan potongan-potongan cerita pada tahapan perkembangan usia Enrico. Porsi yang paling banyak dalam masa hidup Enrico, tentu saja ketika ia dewasa. Dan sepertinya Ayu Utami juga memasukkan ide-ide bahwa kebebasan memilih, agama, seks, adalah hak mendasar tiap manusia.

Menurut saya, tema yang paling fundamen yang diusung oleh Ayu Utami adalah kebebasan memilih. Ada berbagai pilihan dalam hidup, baik yang sudah dipersepsikan maupun yang belum. Ayu Utami tampaknya ingin mengulas betapa pentingnya memilih untuk berubah memiliki konsekwensi yang cukup berat. Lewat kehidupan Enrico, kita seolah memahami kembali apa definisi sukses, apakah masih sukses masih relevan seperti seperti: apakah lulus dari perguruan tinggi? apakah segera menikah punya anak dan hidup bahagia selamanya? apakah punya rumah dan hidup dengan berkecukupan? apakah berhasil dalam karir dan percintaan?

Dari antara pilihan-pilihan sukses diatas, tampaknya Enrico memilih untuk tidak memilih, baginya hidup bebas adalah sebuah pilihan bahagia. Lepas dari tuntutan dan terkesan tidak mau ikut dalam komitmen dan tanggung jawab. Hal ini terlihat dari pernyataannya bahwa ia memilih menjadi seorang freelancer sekaligus memilih untuk tidak menggadaikan kebebasan hidupnya demi status sosial semacam perkawinan dan tanda-tanda kemapanan lainnya (h.158) Dan ini juga yang dilakukan ayah Enrico, ia memilih untuk bahagia bahagia melihat istrinya bahagia, dengan menyediakan dirinya untuk dibaptis Saksi Yehuwa.


 Dua puluh tahun silam aku pernah menjanjikan kisah sukses tentang putra daerah yang merantau untuk belajar di perguruan tinggi terbaik negeri ini. Kini ceritaku bukan sukses-sukses amat. Aku tidak menjadi insinyur, melainkan fotografer. Aku tidak menjadi bos, melainkan freelancer (h.158)



Dalam kutipan-kutipannya yang 'disuarahatikan' oleh Enrico, ia mengenalkan identitas keperempuanan yang tangguh, jujur dan setia:


(Enrico): Aku siap mati. Tapi aku tidak membayangkan bahwa para mahasiswi siap mati tak hanya untuk cita-cita luhur, tetapi juga untuk melindungi kami, teman-temannya. Aku selalu merasa bahwa perempuan sering jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Dan mereka memikirkan kehidupan, bukan kegagahan. Kami para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbiat untuk orang lain. Tiba-tiba aku teringat Sanda, kakakku yang menyelamatkan aku dari serangngan ayam hitam pemakan anak kecil. (h.135)



Sebagai pedagang telur, ibuku tak pernah menahan telur untuk menjelang Lebaran, dimana harga akan jadi tinggi dan aku akan untung banyak. Ia marah besar ketika tahu aku menumpuk ribuan telur di kamar menjelang Lebaran. Ia melarangku berbut begitu lagi. Itu tidak benar, katanya. Dan soal kesetiakawanan, jangan tanya lagi. Ibuku tidak datang ketika dijemput pasukan Yani dalam Operasi Bayi Gerilya. Ia memilih kehilangan seperempat puting susunya demi kesetiaanya pada Ayah. (h.145)


Berkaitan dengan pemilihan agama, ini sering kali menjadi persoalan. Persoalan karena pada umumnya orang-orang (di Indonesia) lebih mencari perbedaan dibandingkan persamaannya. Akibatnya muncul suatu perselisihan dimana tercipta kelompok "mereka" dan "kita". Padahal, bila menelisik esensinya, maka semua ajaran agama akan mengajarkan untuk mengasihi dan menghormati sesama manusia.

Berkaitan dengan seks, Ayu Utami berani mengutarakan ide-idenya. Pemahaman yang mendasar bahwa seks adalah cara untuk meneruskan keturunan oleh makhluk yang menyusui. Dalam sebuah diskusi, antara Enrico dan A, mereka membahas bagaimana memandang seks, apakah sebuah dosa atau tidak. Adanya dua pandangan pemikir, Freud dan Agustinus turut memperkaya wawasan kita akan cara pandang terhadap seks dan dosa. Hal itu dapat menjadi debat tak berkesudahan bagi yang berpihak pada satu sudut pandang. Namun, bila dikembalikan pada Hukum Sebab-Akibat, seharusnya tiap manusia menyadari sepenuhnya bahwa setiap perbuatan memiliki konsekwensi logis. Hal itu kembali lagi pada pilihan masing-masing dan menimbang-nimbang risikonya.


Freud dan psikoanalisa adalah kritik atas rasionalisme. Kritik terhadap kepercayaan bahwa manusia selalu bisa mengambil keputusan jernih dan sadar. Psikoanalisa menunjukkan adanya sisi gelap bawah sadar manusia yang sangat mempengaruhi tindakan manusia. Begitu juga, Agustinus dan dosa asal adalah adalah kritik terhadap kepercayaan bahwa manusia bisa mencapai keselamatan hanya dengan keputusan sadarnya dan usahanya sendiri. Manusia membutuhkan belaskasih Tuhan dan juru selamat (h.208)

Berkaitan dengan pesan feminis, Ayu Utami sepertinya tetap menyuarakan bahwa perempuan bukanlah makhluk lemah, yang selama ini (mungkin) mendapat tekanan dari keluarga dan masyarakat untuk menikah. Dan jika memang tujuan dari menikah adalah saling membahagiakan dan membangun, Ayu mempertanyakan mengapa negara merasa ikut berkepentingan akan siapa kepala rumah tangga rakyatnya. Pun jika kepala keluarga memanglah laki-laki, mengapa seperti ada pembiaran akan pengabaian hak-hak perempuan? Harus ada pembebasan dari itu. Ia tidak setuju bahwa suami adalah pemimpin istri. Hukum perkawinan Indoneisa menjadikan suami kepala keluarga, dan ia tak mau hal itu. Itu bukan urusan negara. (h.198)

Ada beberapa peristiwa sejarah yang ikut mewarnai novel ini. Diantaranya adalah peristiwa PRRI di Sumatra Barat Tahun 1958, Normalisasi Kehidupan Kampus di akhir tahun 1970-an, peristiwa kiamat tahun 1975 oleh saksi Yehuwa, maupun asal muasal nama Enrico. Saya mencoba menelusuri Saksi Yehuwa dan Enrico Caruso.


Saksi Yehuwa
Saksi Yehuwa adalah sebuah gerakan yang didirikan oleh Charles Taze Russell (16 February 1852 – 31 Oktober  1916), kelahiran Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika. Pada tahun 1881, ia mendirikan Komunitas Menara Pengawal (Watch Tower Society), dengan William Henry Conley sebagai presiden dan Russell sebagai sekretaris-bendahara, yang bertujuan menyebarkan traktat , makalah, risalah doktrin dan Alkitab. Peristilahan Saksi Yehuwa baru dipopulerkan oleh Joseph Franklin Rutherford-presiden kedua Saksi Yehuwa. Ia yang mempelopori penyebutan Saksi Yehuwa.

Ajaran bahwa pengikut Saksi Yehuwa tidak boleh menerima transfusi darah adalah ajaran dari Nathan Homer Knorr-Presiden ketiga Saksi Yehuwa

Dari situs resminya, mereka menuliskan seperti ini: Kami semua secara rutin membantu orang-orang untuk belajar Alkitab dan Kerajaan Allah. Karena kami bersaksi, atau berbicara, mengenai Allah Yehuwa dan Kerajaan-Nya, kami dikenal sebagai Saksi-Saksi Yehuwa.








Enrico dan Giachetti



Siapa Enrico Caruso?
Enrico Caruso adalah seorang penyanyi tenor asal Italia. Musikalitas Caruso didorong oleh ibunya, yang meninggal pada 1888. Untuk mengumpulkan uang untuk keluarganya, ia bekerja sebagai penyanyi jalanan di Napoli. Pada usia18 tahun, ia menggunakan penghasilan untuk membeli sepasang sepatu pertama baru. Sebelum pecah perang dunia, Enrico dekat dengan Ada Giachetti, seorang penyanyi Sopran asal Italia. Giacheti memberikan Enrico empat orang anak. Dua anak mereka meninggal saat bayi, yang selamat adalah Rodolfo Caruso (1898) dan Enrico Caruso, Jr. (1904). Disamping sebagai kekasihnya, Giacheti adalah pelatih vokal Enrico. Namun setelah hidup bersama selama 11 tahun, mereka berpisah, dan ia menikah dengan Dorothy Caruso. Prestasinya luar biasa. Ia tampil lebih 860 kali di New York dan lebih 290 rekaman dalam dua puluh tahun. FW Gaisberg (1944) menulis bahwa Caruso memiliki suara bariton yang kaya serta interpretasi seni yang bagus. Sir Compton Mackenzie (1924) menuliskan, bahwa kesalahan Enrico adalah: kelebihan energi, kelebihan emosi, dan kelebihan vitalitas. Dan Enrico menerima banyak penghargaan sehubungan dengan lagu klasik yang dibawakannya. Pada tahun 2012, sebuah majalah yang berisikan tulisan-tulisan musik klasik, Gramophone magazine, memasukkan  Enrico Caruso dalam Hall of Fame Gramophone 2012 dari kategori penyanyi. Ia meninggal dalam usia 48 tahun karena sakit.

Bukunya cukup ringan dibaca. Bila Anda pembaca buku-buku Ayu Utami seperti serial Bilangan Fu, maka buku ini jauh lebih mudah dicerna. Kalimat-kalimatnya mengalir enak, walau terkesan banyak kalimat yang diulang seperti (skip). Dan saya suka kutipan puitisnya, tentang sebuah senja, yang ditulis apik:

Gelap mengatupkan jubahnya menutupi langit kota,
menyingkapkan sedikit warna api di kakinya,
seperti sayup neraka.

 Namun, sepertinya kalimat ini masih menyisakan tanda tanda bagi saya, apa konteks dan maksudnya:


pada akhirnya adalah tiga hal ini: iman, harapan, dan kasih. Dan yang paling besar diantaranya adalah kasih


Biarlah, semoga suatu saat ketika mendapat jawabannya, akan saya update di sini :)

Jkt, 11 November 2012



http://blogbukuhelvry.blogspot.com/20...
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
September 8, 2012
ENRICO, SEBUAH PERJALANAN PERSONAL AYU

JUDUL BUKU : CERITA CINTA ENRICO
PENULIS : AYU UTAMI
PENERBIT : KPG (KEPUSTAKAAN POPULER GRAMEDIA)
EDISI : CETAKAN I, FEBRUARI 2012
TEBAL : 244 + iv halaman
ISBN : 9789799104137
PERESENSI : STEBBY JULIONATAN *)

Bertahun-tahun menjadi orang percaya, kita senantiasa hanya memposisikan diri sebagai “Domba yang Hilang”, domba yang tersesat dari kawanannya. Sebagai domba yang selalu minta dicari dan diperhatikan oleh Tuannya. Tapi, pernahkan kita mencoba untuk memposisikan diri sebagai kawanan domba yang ditinggal Tuannya karena ia, Sang Pemilik kawanan domba itu, terlampau sibuk untuk mencari domba yang hilang itu? Dan tak lagi menyadari keberadaan “Sang Domba yang Baik nan Penurut” itu?

Saya rasa tidak. Kita tidak pernah (baca: jarang) berpikir seperti itu. Tapi rupanya kecerdasan dan kreativitas Ayu (Ayu Utami, pen.) telah melampaui hal tersebut. Hal yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Ayu telah lebih dulu menyentuh ranah itu.

Seharian “Sang Domba Penurut” menunggu di padang yang terbuka. Kehausan, kelaparan dan bahkan mungkin penuh ancaman dari hewan buas yang siap memangsanya. Ia harus bertahan sendirian di padang itu. Dan jauh di dalam hatinya, ia bingung, kapan Tuannya itu akan datang.
Itulah kisah Enrico. Pria bernama asli Prasetya Riksa, mantan kekasih (karena saat ini telah menjadi suami Ayu Utami) ini, lahir bersamaan dengan Pemberontakan PPRI. Ia sudah menjadi bayi gerilya sejak usia satu hari.

Kerabatnya tak lepas dari Peristiwa ’65. Enrico menjadi aktivis di ITB pada era Orde Baru sebelum gerakan mahasiswa dipatahkan. Enrico adalah pria yang merasa dikebiri oleh rezim Soeharto dan merindukan tumbangnya Soeharto. Akhirnya ia melihat peristiwa itu bersamaan dengan ia melihat perempuan (baca: Ayu) yang menghadirkan kembali sosok yang ia cintai sekaligus ia hindari: Ibunya. Tuannya

Ayu mengakui, Cerita Cinta Enrico adalah kisah cinta dalam bentangan sejarah Indonesia sejak era pemberontakan daerah hingga Reformasi. Dan, sebagai penggemar karya-karya Ayu, saya sepakat kalau Cerita Cinta Enrico tidaklah sefenomenal Saman, tidak secerdas Bilangan Fu, dan mungkin juga tak seeksotis Manjali dan Cakrabirawa. Tapi terus terang, Cerita Cinta Enrico adalah kisah yang begitu personal. Kisah yang jujur.

Meski sudah sedikit luntur, Cerita Cinta Enrico masih menampilkan sisi-sisi feminisme yang kerap diusung Ayu:

Aku siap mati. Tapi aku tidak membayangkan bahwa para mahasiswi siap mati tak hanya untuk cita-cita luhur, tetapi juga untuk melindungi kami, teman-temannya. Aku selalu merasa bahwa perempuan sering jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Dan mereka memikirkan kehidupan, bukan kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain. Tiba-tiba aku teringat Sanda, kakakku, yang menyelamatkan aku dari serangan ayam hidam pemakan anak kecil. (hal. 135)

Atau pada:

Ia juga satu-satunya pacar yang secara tegas. Mengatakan bahwa ia tidak mau menikah dan tidak ingin punya anak. Kenapa ia tidak mau menikah? Katanya karena selama ini perempuan terlalu ditekan oleh nilai, keluarga dan masyarakat untuk menikah. Harus ada pembebasan dari itu. Lagi pula, tambahnya, ia tidak setuju bahwa suami adalah dengan sendirinya memimpin istri. Hukum perkawinan Indonesia menjadikan suami kepala keluarga, dan ia tidak mau itu. Itu bukan urusan negara, katanya. Soal siapa yang memimpin, atau apakah perlu ada pemimpin dan pengikut, itu urusan pasangan yang kawin. Kenapa tak ingin punya anak? Katanya, kalau ia warga Australia, Norwegia, atau Eskimo, atau negeri yang liberal dan penduduknya sedikit, barangkali ia masih mau punya anak. Tapi Indonesia sudah banyak anak. Konon hampir sepuluh ribu bayi lahir tiap harinya di Indonesia. (hal. 198)

Apa coba ungkapan tidak ingin menikah karena tidak ingin dijajah (baca: ditindas oleh lelaki) itu kalau bukan sikap yang feminis?!  Dan... bagaimana juga pemberontakan Ayu terhadap dogma, terhadap agama, khususnya hubungan seks antar manusia. Kopulasi:

Ketika “tokoh” A dan Enrico kembali bersetubuh untuk kesekian kalinya, Enrico bertannya kepada A, apakah A tidak merasa berdosa? Di titik ini A kembali mencecar keyakinan dan ketahanan orang-orang “beriman” melalui Enrico.

“Kalau kita baca keseluruhan Alkitab, kita tahu bahwa praktik seksual selalu berubah dari zaman ke zaman. Dan umat Tuhan hidup di dalam praktik zamannya. Contoh paling gampang, di Perjanjian Lama poligami adalah praktik wajar. Di Perjanjian Baru itu tidak diterima lagi. Tapi, ada yang lebih radikal daripada itu. Kamu pikir Abraham tidak menyerahkan Sarai istrinya tidur dengan Firaun agar nyawanya selamat?” (hal. 202)

“Kesimpulanku: kita tidak bisa melihat seks secara hitam putih dan berdasarkan rumusan hukum saja. Paling tidak, dalam Alkitab ada dua jalur: hukum dan kisah. Hukumnya boleh hitam putih. Tapi kisahnya tak pernah begitu. Pengalaman manusia jauh lebih rumit daripada hukum.” (hal. 204)

“Sejujurnya, menurutku seks itu tidak pernah sakral. Hanya pastor zaman ini yang bilang begitu. Sebab, mereka tidak punya kemewahan untuk berkata jujur dan mereka harus menjaga perasaan umat...” (hal. 209)
Dan sepertinya masih banyak lagi keyakinan (atau mungkin bisa disebut pembelaan) Ayu yang lainnya dalam dalam sub bab Too Good to be True. Tapi, rupanya ini tidak berarti bahwa Ayu membenci agama, atau orang yang tak beragama.

Meskipun ia tidak mengagung-agungkan seks... tidak menganggapnya sakral, tidak juga menganggapnya satu-satunya kenikmatan di muka bumi ini... tak punya rasa bersalah... Tapi, ternyata aku mulai mengetahui perbedaan kami.

Suatu hari kami melayat saudaraku yang meninggal dunia... kulihat ia (Ayu) memejamkan mata dan berdoa. Orang biasa mengheningkan cipta di depan jenazah, paling tidak untuk basa-basi. Jadi, semula kupikir ia juga begitu. Tapi aku tahu juga dia, seperti ibuku, sulit berbasa-basi. Apalagi yang meninggal bukan orang yang ia kenal. Dia bisa berdiri di belakang saja kalau mau. (hal. 198-199)

Sebab Ayu lebih senang pada konsep agama yang humanis ketimbang yang dogmatis.

“...Buat saya, kegunaan agama adalah memahami adanya dosa dan struktur dosa. Sehingga, kita lebih rendah hati mengakui bahwa kita tidak pernah bersih dari cela dan kekurangan. Agar kita sadar diri bahwa ita tidak akan pernah sempurna. Bukan agar kita terobsesi untuk bersih dari dosa...” (hal. 208)

Saya sepakat. Barangsiapa yang tidak memiliki dosa, silahkan menjadi pelempar pertama batu perajam. Justru karena kita semua berdosa, seharusnya kita tidak lagi terobsesi pada dosa dan tidak dosa, dan lebih menggunakan energi untuk berbuat baik bagi orang lain.
Dalam Cerita Cinta Enrico, prinsip-prinsip Ayu, untuk senantiasa melajang juga diuji. Tapi bukan Ayu namanya kalau tidak bisa mencecar dan mempertahankan prinsipnya. Bersama Enrico, rupanya Ayu menemukan jalan keluar yang baik untuk permasalahan ini, pernikahan. Win - Win Solution.

...”Semua yang kukritik mengenai perkawinan bersumber dari satu hal. Yaitu tidak setaranya relasi antara perempuan dan lelaki. Di luar perkawinan, perempuan mendapat tekanan sangat besar untuk menikah. Tapi, di dalam perkawinan, ia ditempatkan dalam posisi subordinat. Lelaki menjadi pemimpin... Nah, kalau relasi seperti itu diubah, maka sesungguhnya aku tak punya keberatan lagi pada perkawinan... (lagian) aku ternyata baru tahu bahwa dalam hukum perkawinan Katolik tidak ada itu ayat yang menyatakan sumai menjadi kepala keluarga atau pemimpin keluarga. Aku baru beli Kitab Kanonik-nya.” (hal. 231)

Bagi saya, secara pribadi, mungkin senang sekali pasti rasanya menjadi Enrico, mantan kekasih Ayu Utami ini. Lelaki yang begitu berarti dalam kehidupan Ayu, sehingga Ayu tergerak untuk memfiksikannya. Bisa dekat dengan orang se-keren Ayu saja rasanya dah untung, apalagi sampai ditulis dan dibuatkan biografi perjalanan hidupnya. Mendadak saya jadi iri pada sosok Enrico.

Tentunya di balik setiap pujian dan kekaguman saya terhadap sosok Ayu, saya harus bisa bersikap objektif. Cerita Cinta Enrico pun tak lepas dari kekurangan. Ia mendogma (baca: bertutur) kita berulang, hingga terkadang kita merasa bosan dengan penuturan Ayu. Apa yang sudah ia kisahkan di awal, bisa ia ulangi lagi di pertengahan atau di akhir bab. Padalah kita sudah tahu atau mengingatnya dengan sangat baik. Cerita Cinta Enrico juga tak luput dari kesalahan detail yang menurut saya agak mengganggu. Diceritakan Enrico membeli kondom di apotek di Padang pada sekitar tahun 1973. Apakah memang pada saat itu kondom sudah dijual bebas? Dan kalau memang demikian, apakah bebas diperjualbelikan pada anak usia 15 tahun?

Tentunya hanya Enrico dan Tuhan yang tahu. 


Probolinggo, 1 Juli 2012.
*) Peresensi adalah Penulis Muda Berbakat 2007 yang juga menulis novel LAN dan kumpulan kisah Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali.
Profile Image for Rossa Imaniar.
221 reviews5 followers
October 9, 2020
“Aku selalu merasa bahwa perempuan sering jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Dan mereka memikirkan kehidupan, bukan kegagahan. Kami, para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain.”

“Jangan rakus dan jangan ingin memiliki. Ini permainan! Hidup adalah permainan. Tapi hidupmu juga tak boleh dikuasai permainan.”

“Biarlah aku kalah di mata orang banyak. Aku memilih menang di mataku sendiri. Itulah ujian terberatku: memilih kalah di mata dunia tapi setia pada prinsip yang tak kelihatan orang. Sekali lagi kubuktikan bahwa yang kuinginkan adalah menjadi merdeka.”


Finally, bisa bikin review—suka-suka—juga. Butuh waktu yang lumayan—panjang—untuk baca buku ini. Aku mulai membaca buku ini bulan September kemarin, dan selesai di hari kedua bulan Oktober.

Seperti ketika membaca buku ‘Saman’, di mana aku bisa merasakan jiwa penulis dalam karyanya. Di buku kali ini pun aku kembali merasakannya. Sosok Ayu Utami begitu terasa sekali di buku ini.

Jadi, ‘Cerita Cinta Enrico’ ini adalah buku kedua dari seri ‘Parasit Lajang’. Berhubung aku belum punya buku pertamanya, aku langsung baca buku keduanya. Dan perlu kalian tahu, kisah dalam buku ini berdasarkan kisah nyata.

Kisah nyata siapakah gerangan? Kalian baca aja sendiri. Kalian pasti bisa menebaknya saat membaca buku ini nanti.

Yang jelas buku ini menceritakan tentang kehidupan si Enrico dari waktu kelahirannya hingga ia dewasa dan bertemu dengan perempuan berinisial A. Enrico yang lahir dengan penuh rasa kasih dan cinta, namun sekaligus terabaikan.

Oh ya, jangan salah sangka dengan judulnya: ‘Cerita Cinta Enrico’. Bukan berarti kisah dalam buku ini melulu tentang cinta. Siapa-siapa saja yang dicintai dan yang mencintai Enrico. Tidak.. tidak seperti itu. Lebih dari sekedar kisah cinta. Ada hal menarik lainnya yang perlu kalian tahu di buku ini.

Bukan Ayu Utami kalau tidak menampilkan sesuatu yang berbeda dan menggebrak. Memang, di awal-awal cerita agak membosankan—ini menurutku lho ya. Tapi, semakin masuk dalam cerita, aku merasa menemukan jiwa dari buku ini.

Keren pokoknya. Aku suka dengan keberanian Ayu Utami. Dia berani menelanjangi dirinya di depan umum. Dia tidak takut dipandang ‘Buruk’ oleh manusia lain.

Yang pada akhirnya, kenapa Ayu Utami dianggap begitu vulgar.. Menurutku, bukan karena dia berani mengemukakan tentang seks dengan gamblang. Namun, karena dia berani dan begitu jujur menyampaikan pemikiran dan pandangan-pandangan dalam hidupnya.

Ini luar biasa menurutku. Dia berani tampil berbeda. Dia benar-benar menjadi diri sendiri tanpa mau terikat dan ditekan oleh apa pun. Baginya, aku ya aku, ini hidupku, mau seperti apa aku menjalankan hidup, ya terserah aku. Mau kalian suka atau tidak bukan urusanku. Gitu sich menurutku.

Ada beberapa pemikiran Ayu yang aku setujui. Walau mungkin, aku tak seberani dia untuk menunjukkan diri. Tapi aku mengiyakan pemikirannya.

Overall, aku cukup menikmati kisah dalam buku ini. Jujur, aku masih merasa takjub dengan Ayu Utami. Dia berbeda dan berani.
Buat kalian yang belum baca karya Ayu Utami ini. Buruan baca dech...!!

Selamat membaca.. dan selamat menikmati kisah dalam buku ini.. 😉
Profile Image for Rani Rachman.
93 reviews4 followers
June 10, 2021
Ini adalah kisah Enrico a.k.a Joakhim Prasetya Riksa, lebih tepatnya perjalanan kisah cinta si Enrico sungguh selaras sekali bukan dengan judul novel ini, setelah membacanya kalian juga akan setuju dengan ku. Dimulai dengan perasaan jatuh cinta pertama Enrico ketika kecil, yang di lanjut dengan perasaan patah hati yang tentu saja pasti akan di alami oleh siapapun yang berani untuk jatuh cinta.

Cerita Cinta Enrico adalah kisah cinta dalam bentang sejarah Indonesia sejak era pemberontakan daerah hingga Reformasi.
Kisah perjalanan cinta yang dibalut dengan latar belakang sejarah yang begitu kuat. Dari masa pemberontakan PPRI, peristiwa '65, sampai dengan cerita Enrico dewasa ketika menjadi aktivis di ITB pada era Orde Baru yang menyuguhkan masa-masa pemberontakan mahasiswa dimana juga masa ketika mahasiswa dikebiri oleh rezim.

Akhirnya setelah lama di buat penasaran siapa nama perempuan terakhir di hidup Enrico ketahuan juga, perempuan yang selalu di sebutnya A itu bernama Justina A. Perempuan yang dianggap Enrico sebagai penganti Ibunya, Ibu yang menjadi cinta pertamanya. Selain tema sejarah, novel ini juga mengangkat cerita tentang bagaimana perasaan jujur seorang anak pada orang tuanya.

Buku pertama karya Ayu Utami yang kubaca, novel yang di tulis oleh penulis perempuan tapi dengan tokoh utama seorang lelaki dimana penulis menguak kelelakian sampai ke akarnya. Begitu detail dan buka-bukaan .
Novel yang ditulis dengan minim sekali percakapan. Lebih banyak narasi tapi entah kenapa tidak membuatku bosan untuk membacanya.

Di akhir cerita aku menemukan sebuah foto anak kecil yang menyatakan bahwa itu foto Enrico dan kakaknya. Dan ternyata ini kisah nyata. Buku yang sangat bagus selain tema terkait sejarah, cerita antara Enrico dan Orang tuanya sungguh sangat relate. Kepercayaan dan Agama dari sudut pandang Enrico dan keluarganya juga menjadi hal yang menarik dalam buku ini.
Profile Image for Wina S. Albert.
164 reviews2 followers
September 30, 2024
Di tengah latar belakang pemberontakan, cinta Enrico tampak seperti lelucon yang terpaksa dipertahankan. Sang ibu, yang berjuang melawan ketidakadilan dan kelaparan, mempersembahkan cinta yang lebih mirip dengan insting bertahan hidup daripada romansa yang manis. Dengan segala kesulitan yang dihadapi, cinta seolah menjadi lelucon tragis: mengapa mencintai ketika kelangsungan hidup saja sudah menjadi taruhan?

Enrico, yang lahir bersamaan dengan revolusi, adalah simbol dari generasi yang terperangkap antara harapan dan kenyataan. Ia dihadapkan pada identitas yang ditentukan oleh sejarah dan perang, seolah-olah ia adalah lelucon yang dituliskan oleh para sejarawan yang tidak memahami kesedihan di balik angka dan tahun. Dalam hal ini, novel ini mengajak saya untuk tertawa pahit—siapa yang sebenarnya memiliki kendali atas identitas kita? Apakah kita adalah produk dari sejarah, atau sebaliknya?

Ayu Utami dengan cerdik menggambarkan peran gender yang konyol dalam masyarakat. Ibu Enrico, dengan segala pendidikan dan kemampuannya, terpaksa beradaptasi menjadi "perempuan kampung" demi bertahan hidup. Ini adalah kritik tajam terhadap norma sosial yang mengharuskan perempuan untuk mengorbankan diri demi keluarga, sambil tetap mempertahankan citra yang diinginkan oleh masyarakat. Seolah-olah, cinta sejati itu harus dibayar dengan pengorbanan dan penyesuaian yang konyol.

Cerita Cinta Enrico menampilkan kisah yang menyentuh dan menyajikan kritik sosial yang menyindir. Dengan memadukan elemen tragedi dan humor, novel ini mengajak saya untuk merenungkan makna cinta, identitas, dan peran gender dalam konteks sejarah yang sering kali absurd. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian ini, mungkin hal yang paling lucu adalah bagaimana kita terus mencoba dan berjuang, meski cinta itu sering kali tampak seperti lelucon yang tidak berujung.
Profile Image for Anna Valerie.
186 reviews4 followers
July 7, 2019
Dengan kovernya yang sederhana dan nama Ayu Utami yang tertulis jelas, mata saya tertarik untuk mengambilnya dari rak buku dan memutuskan untuk membacanya di waktu luang. Layaknya "Saman", novel Ayu Utami ini juga menyajikan kisah yang lebih dari ekspetasi saya. Apa yang tertulis di sinopsis memang cukup menggugah, namun apa yang terdapat di setiap lembaran bukunya, lebih dari sekadar cerita.

Novel ini sangat ringan dibaca tapi mengandung pandangan yang dalam. Bahasa yang digunakan sama sekali tidak sulit namun bervariasi. Selain menceritakan kesulitan keluarga Enrico--si tokoh utama yang lahir ketika PRRI meletus--novel ini turut menghadirkan kisah Saksi Yehovah (salah satu aliran dalam agama Kristen yang menyimpang), kejadian di ITB, petualangan menemukan rumah (bukan dalam artian sesungguhnya), dan cara seseorang bertahan hidup.

Saya belajar banyak sekali dari novel ini, terutama soal hubungan dengan lawan jenis. Melihat tokoh A dan Enrico dalam berhubungan, saya menjadi tahu perspektif seorang laki-laki yang sudah menemukan rumahnya. Dikisahkan bahwa Enrico adalah anak yang begitu sayang dan taat pada sang ibu. Semua itu berubah ketika pesiar Saksi Yehovah datang dan mengubah pandangan ibunya. Ibu Enrico berubah, Enrico pun demikian. Ia menjadi mendambakan kebebasan, petualangan, dan gemar bermain perempuan. Setelah bertemu A, ia berubah. Ia hanya ingin berlama-lama bersama A dan dimanja olehnya. Rupanya, perkataan ayah saya tentang pria tangguh akan berubah menjadi sosok manja ketika sudah menemukan tempat beristirahat yang tepat ada benarnya.

Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Saya jamin, kalian tidak akan menyesal dan bahkan bersedia untuk membacanya kembali.

N. B. Apakah saya sanggup menjadi wanita sehebat A?
Profile Image for mid.
143 reviews15 followers
September 8, 2020
aku suka! dan nggak menyangka akan suka. sebuah cerita yg ditulis oleh perempuan tetapi mengambil sudut pandang laki-laki dan masih terasa seperti pola pikir laki-laki. meski di beberapa termpat ada ciri khas repetisinya beliau, soal taman firdaus dan ayam broiler.

aku kan duluan baca buku seri ketiganya' jadi kemarin aku memang baca sekilasnya dari belakang, dari cerita pertemuan rik dengan a. makanya aku berkata soal point yang ada di bab-bab akhir masih terkait sama buku selanjutnya itu.

tapi pas baca dari awal, dimana cerita ini strukturnya masa kanak, remaja, dewasa, aku jadi berada di dunia yg sangat berbeda. seperti judul saja sih sebenernya ini cerita tentang cinta dimulai dari cinta pertamanya yang berwujud sampai pada cinta kepada sosok yang tidak memiliki wujud.
sedih sih aku bingung menggambarkan karena memakai "definisi" aja tuh ngga cukup untuk menggambarkan yang terjadi. ini tuh lebih dari sekedar definisi cinta dalam keluarga.

awalnya aku suka di sini lebih nggak berat kaya buku sebelumnya. lebih ngalir aja gitu ceritanya dan narasi-narasi sampai kaya here we go di chapter akhir selalu berat di kepalaku. mungkin karena aku cuma ga bisa memikirkan skema usia, membayangkan pemikiran seseorang di usia lima puluh tahun itu seperti apa. tapi ini kisah yang menarik sih
Profile Image for Kurnia Dwi Aprilia.
216 reviews4 followers
June 19, 2018
Ceritanya menarik, sangat menarik. Dan ternyata, cerita ini diambil dari kisah yg nyata tentang kehidupan seorang bernama Enrico. Meski tidak semuanya dibuat senyata mungkin, termasuk dialog dan sejarahnya, tapi kisah ini sungguhan pernah dialami oleh seorang anak manusia. Penyatuan sejarahnya saya suka. Alur ceritanya juga saya suka. Cuma, ada beberapa cerita berulang yg agak mengganggu menurut saya. Yg saya kurang suka adalah pada bagian kisah percintaan Enrico dengan para perempuan. Ternyata dia orang yg bebas dan Ayu Utami agaknya suka menuliskan kebebasan (gaya hidup bebas) dalam cerita pada tulisan-tulisannya. Selain itu, pandangannya tentang agamanya agaknya sangat berbeda dengan saya selaku pembaca. Hal ini saya maklumi sebab agama yg dianutnya pun tidak sama dengan agama yg saya anut. Jadi bagi para pembaca, ambilah pengalaman sejarah dari cerita ini yg baiknya saja. Sementara dogma dan pendapat agama serta teori kebebasan yg penulis sajikan, hendaklah tidak diterima bulat-bulat dan harus dikaji kembali sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Ohya, agaknya lebih menarik jika penulisa menyajikan sedikit kilas tentang biografi (singkat saja) orang yg menjadi Enrico tersebut pada kata pengantar novel.
Profile Image for Ariani15d.
81 reviews
January 2, 2022
Enrico Caruso, nama penyanyi tenor Italia yang telah menginspirasi sang ibu untuk menamai anak laki-lakinya. Penyanyi yang sangat mencintai ibunya, itulah harapan sang ibu untuk sang anak. Namun, akhirnya nama itu hanya dijadikan sebagai nama panggilan.

Kisah ini bercerita tentang sejarah kehidupan seorang laki-laki yang bersinggungan dengan momen penting sejarah negeri ini. Terbagi menjadi tiga bagian; Cinta Pertama, Patah Hati, dan Cinta terakhir?

Melalui ketiga bagian dalam novel ini, pengarang membawa pembaca mengenali 'dunia laki-laki' yang (mungkin) tidak ditemukan dalam karya lain.

Pepatah "Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya" ternyata berlaku pula pada anak laki-laki, menjadi "Ibu adalah cinta pertama anak laki-lakinya". Enrico tumbuh menjadi anak yang tanpa ia sadari sangat mencintai ibunya, seperti yang dulu diharapkan sang ibu. Meskipun salah satu tujuan awalnya hijrah ke pulau Jawa (dari Sumatera) adalah untuk merdeka dari sang ibu. Nyatanya, ia  jatuh cinta pada perempuan yang mirip dengan ibunya yang dulu.

Membaca novel ini pembaca dibawa menelusuri yang terjadi pada kehidupan negeri ini dari sudut pandang berbeda. Karena, sosok Enrico benar-benar ada di dunia nyata (terlihat dari lampiran foto pada halaman akhir novel).
Profile Image for Angelina Puspita.
51 reviews4 followers
February 3, 2018
"Sekali lagi kubuktikan bahwa yang kuinginkan adalah menjadi merdeka."

Mungkin saya yang memang penyuka bacaan bertemakan sejarah revolusi atau reformasi, sehingga saya begitu menyukai buku ini dan berani memberikan bintang lima. Sebuah nilai yang sempurna.

Mengapa?
Saya mendapatkan pelajaran dan fakta tambahan tentang kisah pergantian Sukarno menjadi Soeharto.
Saya mendapatkan kesenangan tentang kisah keluarga Enrico.
Saya mendapatkan kehangatan tentang romansa Enrico dengan para wanitanya, yang kebetulan sejalan dengan pola pikir saya hingga saat ini.
Saya terkejut dengan Kejutan yang diberikan! Sungguh di luar asumsi saya.

Semua itu dikemas dalam 236 halaman yang diramu apik dengan tatanan bahasa yang tepat, kadang humoris dengan tidak mengurangi makna atau fakta yang ada dibaliknya.
Ini semua lepas dari beberapa penulisan salah ketik yang sebetulnya agak mengganggu.
Apalagi cover-nya, sungguh, kalau bukan karena nama Ayu Utami saya tidak akan ambil buku ini di rak pada 30 April 2013 lalu.

Sebuah karya luar biasa yang membuat saya ingin membaca judul lainnya.

Terima kasih, Sesama A!
Profile Image for Indah Threez Lestari.
13.5k reviews270 followers
May 27, 2014
535 - 2014

Salah satu tema Posbar BBI bulan ini adalah Khatulistiwa Literary Award.

Ada sih, buku-buku KLA yang sudah pernah kubaca tapi belum sempat (baca: malas) kubuat reviewnya. Tapi setelah bongkar-bongkar tumpukan buku yang belum terbaca di sudut kamar kosku, ternyata ada juga beberapa judul buku KLA yang nyempil, baik yang juara maupun yang nominee. Nah, kesempatan nih, lumayan buat mengurangi jumlah tumpukan buku tak terbaca yang makin merajalela. Setelah cap-cip-cup kembang kuncup antara Cerita Cinta Enrico, 65, dan Pasung Jiwa, akhirnya aku memilih buku pertama untuk kubaca duluan untuk Posbar BBI 2014.

Setelah selesai membaca dan membuat draft review-nya... baru deh mengecek ke blog event BBI dan mengetahui bahwa yang seharusnya kubaca adalah KLA 2013, bukan sekadar KLA tahun berapa saja! Kuduna yang kubawa pulang untuk dibaca pas liburan buku Pasung Jiwa nih! T.T

Ya sudahlah. Keburu bikin draft reviewnya, tetap kuposting saja deh...

Buku ini ditulis dengan POV orang pertama, dari tokoh utama yang namanya terpampang di cover buku. Ah, oke, itu bukan nama yang sebenarnya, melainkan nama yang ingin disematkan ibunya di akte kelahiran tapi setelah kegagalan negosiasi dengan sang ayah, akhirnya hanya berakhir menjadi nama panggilan saja.

Mengapa harus dipanggil Enrico? Sang ibu menyiapkan nama itu berdasarkan nama penyanyi tenor Italia yang sudah mati pada tahun 1921, karena konon Enrico adalah anak yang begitu mencintai ibunya, sampai-sampai setiap kali ia  menyanyi yang terbayang adalah wajah ibunya. Dan... ya... benang merah buku ini memang kisah cinta Enrico pada ibunya... serta pada sang pengganti ibunya.

Mari kita review buku ini a'la suka-suka.

Cover
Tidak ada gambar sama sekali. Cuma judul dengan latar hijau stabilo dengan huruf-huruf yang setelah dilihat-lihat rupanya terdiri dari gambar tentara baret merah yang sedang berdiri sikap sempurna, atau sedang memanggul bazoka, sedang menembak, serta... pose-pose absurd macam sedang melompat melenting atau sedang nungging di atas bangku kayu. Tentu saja ada pose menari tango dengan wanita bergaun merah (tetap dalam sikap sempurna). Selain itu juga ada gambar sepatu pantovel untuk mengisi huruf N dan sasaran tembak untuk huruf O.

Sebelum membaca bukunya, tentu kita bertanya-tanya apa maksud dari si penata letak sampul. Tapi setelah membaca bukunya, yah... mungkin ada relevansinya sih. Enrico bukan tentara baret merah, tapi memang anak kolong. Sepatu pantovel dengan hak kokoh ada histori sendiri dengan sang ibu. Sementara wanita bergaun merah... anggap saja itu melambangkan pilihan Enrico untuk hidup bebas tanpa ikatan dengan wanita manapun.

Cerita
Aku membaca buku ini tanpa referensi apa-apa sebelumnya, dan toh sinopsisnya tidak mengungkapkan apa-apa selain bahwa ini kisah nyata seorang anak yang lahir bersamaan dengan pemberontakan PRRI, dan isinya tentang kisah cinta dalam bentangan sejarah Indonesia sejak era pemberontakan daerah hingga Reformasi.

Kuncinya adalah kisah nyata. Baru di bab-bab terakhir aku baru ngeh kalau si Enrico ini ternyata... suami si penulis buku, yang juga ikut tampil sebagai sosok wanita yang belakangan menjadi obsesi Rico dan akhirnya membuatnya rela melepas kebujangannya.

Iya, ternyata ini buku novel biografis, yang disusun penulis berdasarkan cerita suaminya, sejauh jangkauan ingatannya, dikait-kaitkan dengan sejarah Indonesia selama 50 tahun hidupnya. Tahun-tahun utama yang menjadi tonggak sejarah buku ini adalah 1958, 1968, 1978, 1988, 1998, dan 2008. Iya, sepuluh tahun sekali yang berakhir dengan angka 8. Singkatnya begini :
1958: tokoh utama lahir bersamaan dengan pemberontakan PRRI
1968: si penulis lahir bersamaan dengan dimulainya masa Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto
1978: tokoh utama merasakan hilangnya kebebasan dengan pembungkaman politik bagi mahasiswa
1988: tokoh utama sah jadi pemanjat tebing dan fotografer
1998: apa perlu kutulis di sini apa yang terjadi pada sejarah Indonesia di tahun 1998?
2008: tokoh utama mencoba bertanya pada si penulis, bagaimana bila suatu hari mereka menikah. Wow, itu memang tonggak sejarah, karena masing-masing berprinsip tidak menentang institusi pernikahan namun memilih untuk tidak menikah! Iya... tonggak sejarah sesungguhnya memang tanggal 17 Agustus 2011, waktu mereka akhirnya benar-benar menikah :)

Buku ini memang berkisah tentang Enrico dari waktu lahir (tentunya berdasarkan cerita orang tuanya), masa kanak-kanak sebagai anak kolong dan anak yang memuja ibunya, masa remaja yang mulai merasa terkekang oleh obsesi ibunya pada agama sehingga malah membuatnya menjurus atheis di kemudian hari, masa mahasiswa di mana kebebasan yang diperolehnya setelah lepas dari sang ibu malah direnggut oleh pemerintah yang otoriter. Lalu... apakah dicabutnya kebebasan berpendapat kemudian dikompensasikan pada kebebasan bermaksiat? Di sini penulis secara blak-blakan mengisahkan kehidupan Enrico yang serba freelance: tidak mau punya bos, tidak mau punya istri, tidak mau punya anak. Tidak mau berprokreasi tapi tetap melakukan kegiatan prokreasi dengan wanita manapun, atas dasar suka sama suka, tanpa ikatan. Meskipun pada akhirnya... cerita berakhir lain di penghujung novel. Semua... karena cinta... (ini kenapa jadi malah nyanyi...)

Akhir kata
Aku membaca buku ini sebagai novel, jadi tidak pengaruh apakah apa yang diceritakan dalam buku ini memang benar atau cuma sebagian saja yang benar. Lagipula, ingatan tentang masa kanak-kanak memang sulit diandalkan, begitu pula cerita orang lain tentang masa kanak-kanak kita.

Aku hanya ingin berkomentar sedikit tentang beberapa bagian yang sering diberi penekanan sehingga diceritakan berulang-ulang. Iya, sih, sebagai pemilik golongan darah A yang gemar mengulang-ngulang sesuatu kalau kita menganggap suatu hal itu penting (meskipun menurut orang lain tidak), aku juga sering melakukan dosa yang sama. Tapi kalau di setiap beberapa halaman terdapat pengulangan tentang seperempat puting susu yang tertelan...
Profile Image for Geral.
59 reviews1 follower
January 13, 2026
Sejujurnya sampai pertengahan baca buku ini masih menikmati, apalagi sama cara penulis menghubungkan ceritanya sama banyak kejadian sejarah yang beneran terjadi. Dapet insight baru tentang kekerasan aparat terhadap mahasiswa itu memang udah dari zaman Orde Baru, kasusnya Rene Conrad—mahasiswa ITB yang mati karena dikeroyok taruna—menambah pengetahuan lagi buat saya. Selain itu juga akhirnya jadi tau siapa orang di balik kanal YouTube Jakartanicus—akun YouTube yang sering saya tonton karena kontennya yang unik dan gk biasa—itu ternyata Lexy Rambadeta.

Setelah setengah bagian, cerita yang ditulis itu rasanya berulang dan alurnya seolah 'acak' maju-mundurnya, buat saya pribadi itu buat jadi agak kebingungan. Bagian yang paling mengganggu—yang membuat saya akhirnya kasih bintang dua— adalah bagian di mana karakter utama, beberapa kali, menceritakan rasa cinta terhadap ibunya sampai ia melihat pasangannya seperti manifestasi ibunya sendiri. Bahkan di satu bagian dia menceritakan bagaimana 'bersenggama ' dengan ibunya sendiri di dalam mimpi.
Displaying 1 - 30 of 182 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.