What do you think?
Rate this book


244 pages, Paperback
First published February 1, 2012
Oke. Biarlah aku kalah di mata orang banyak. Aku memilih menang di mataku sendiri. Itulah ujian terberatku: memilih kalah di mata dunia tapi setia pada prinsip yang tak kelihatan orang.
"Setelah dewasa beranjak tua aku sadar bahwa kita lahir pun bukan karena keputusan kita. Artinya, ada banyak hal dalam diri kita yang bukan tanggung jawab kita. Kita tidak bisa memilih lahir sebagai anak kaya atau miskin, dari orang tua yang harmonis atau berkelahi melulu. Kita tidak bisa memilih talenta kita. Kita lahir tidak sempurna, melainkan membawa cacat dan kelemahan genetik orang tua kita. Kita bukan selembar kertas kosong."
-Rico, hlm. 133-
“Selanjutnya hidup bagaikan judi…”
“Orang yang tidak pernah merasa tertekan tak kan bisa menginginkan kebebasan.”
“Aku selalu merasa bahwa perempuan sering jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Dan mereka memikirkan kehidupan, bukan kegagahan. Kami, para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain.”
“Aku kini mahasiswa. Tapi perguruan tinggi telah menjadi peternakan yang membesarkan ayam-ayam leghorn dan broiler saja. Yaitu ayam-ayam palsu, yang tak punya kemauan, tak punya kenakalan, tak punya rasa ingin mencari yang sebenarnya. Ayam-ayam yang diproduksi untuk daging dan telurnya saja. Ayam-ayam yang tak punya karakter, tak punya keunikan individu. Ayam-ayam yang hanya mengangguk-angguk, mematuk2 apapun yang diberikan kepada mereka, sampai kelak Kiamat memotong leher mereka.”
Dua puluh tahun silam aku pernah menjanjikan kisah sukses tentang putra daerah yang merantau untuk belajar di perguruan tinggi terbaik negeri ini. Kini ceritaku bukan sukses-sukses amat. Aku tidak menjadi insinyur, melainkan fotografer. Aku tidak menjadi bos, melainkan freelancer (h.158)
(Enrico): Aku siap mati. Tapi aku tidak membayangkan bahwa para mahasiswi siap mati tak hanya untuk cita-cita luhur, tetapi juga untuk melindungi kami, teman-temannya. Aku selalu merasa bahwa perempuan sering jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Dan mereka memikirkan kehidupan, bukan kegagahan. Kami para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbiat untuk orang lain. Tiba-tiba aku teringat Sanda, kakakku yang menyelamatkan aku dari serangngan ayam hitam pemakan anak kecil. (h.135)
Sebagai pedagang telur, ibuku tak pernah menahan telur untuk menjelang Lebaran, dimana harga akan jadi tinggi dan aku akan untung banyak. Ia marah besar ketika tahu aku menumpuk ribuan telur di kamar menjelang Lebaran. Ia melarangku berbut begitu lagi. Itu tidak benar, katanya. Dan soal kesetiakawanan, jangan tanya lagi. Ibuku tidak datang ketika dijemput pasukan Yani dalam Operasi Bayi Gerilya. Ia memilih kehilangan seperempat puting susunya demi kesetiaanya pada Ayah. (h.145)
Freud dan psikoanalisa adalah kritik atas rasionalisme. Kritik terhadap kepercayaan bahwa manusia selalu bisa mengambil keputusan jernih dan sadar. Psikoanalisa menunjukkan adanya sisi gelap bawah sadar manusia yang sangat mempengaruhi tindakan manusia. Begitu juga, Agustinus dan dosa asal adalah adalah kritik terhadap kepercayaan bahwa manusia bisa mencapai keselamatan hanya dengan keputusan sadarnya dan usahanya sendiri. Manusia membutuhkan belaskasih Tuhan dan juru selamat (h.208)
"Sekali lagi kubuktikan bahwa yang kuinginkan adalah menjadi merdeka."