Di bawah siraman cahaya bintang, bocah lelaki itu mengusap wajah, menyeka air mata yang seketika menggenang di pelupuk mata. Ia teringat tatapan teman-teman sekelas, seolah serempak menghunjamkan berbagai pertanyaan. Padahal, ia sendiri tak tahu dari mana kekalahan itu bermula. Tak ada yang salah, segala hal telah dilakukan dengan saksama. Tetapi, semua itu belumlah cukup. Ia kalah justru di akhir perburuan, dipaksa nasib menerima kenyataan yang, sebelumnya, tak terbayangkan.
Di langit, lintang waluku berkeredip memamerkan cahaya yang, alangkah, cemerlang. Bocah itu telah menempuh perjalanan panjang penuh cahaya, dididik "sejuta bintang" mumpuni, dan tumbuh dalam dekapan cinta ayah-ibunya. Maka, ia tak ingin tenggelam lebih lama, mesti berjuang lebih gigih, seperti harapan "sejuta bintang" yang mengitari hidupnya.
Inilah novel yang berkisah tentang keriangan dan kegilaan dunia anak-anak. Diramu dari sengitnya persaingan, percikan-percikan cinta, hangat kebersamaan, dan keluguan yang menggemaskan. Tegangan mencekam dan inspirasi tak terperi membuat novel ini kaya warna. Bersiaplah menerima kejutan dan kesan yang mendalam.
Akmal Nasery Basral adalah wartawan dan sastrawan Indonesia. Kumpulan cerpen pertamanya Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) yang terdiri dari 13 cerpen termasuk long-list Khatulistiwa Literary Award 2007. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Saat ini tinggal di Cibubur, Bekasi, bersama istri, Sylvia, dan ketiga putri mereka, Jihan, Aurora, Ayla.
Sebagai wartawan ia pernah bekerja untuk majalah berita mingguan Gatra (1994-1998), Gamma (1999), sebelum bekerja di majalah Tempo (2004-sekarang). Ia juga pendiri dan pemimpin redaksi majalah tren digital @-ha (2000-2001), serta MTV Trax (2002) yang kini menjadi Trax setelah kerjasama MRA Media Group, penerbit majalah itu, dengan MTV selesai
Sebagai sastrawan ia termasuk terlambat menerbitkan karya. Baru pada usia 37 tahun, novel pertamanya Imperia (2005) terbit, dilanjutkan dengan Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006), serta Naga Bonar (Jadi) 2 (2007), novel dari film box-office berjudul sama yang disutradarai aktor kawakan Deddy Mizwar.
Di luar minatnya pada bidang jurnalistik dan sastra, Akmal Nasery Basral juga dikenal sebagai pengamat musik dan film Indonesia. Ia termasuk anggota awal tim sosialisasi Anugerah Musik Indonesia. Ketika sosialisasi terhadap penghargaan utama bagi insan musik Indonesia ini dilakukan pada 1997, kalangan jurnalis diwakili oleh Akmal dan Bens Leo. Pada pergelaran AMI ke-10 (2006), Akmal ditunjuk sebagai ketua Tim Kategorisasi yang memformat ulang seluruh kategorisasi penghargaan.
Di bidang perfilman Akmal menjadi satu dari lima juri inti Festival Film Jakarta ke-2 (2007), bersama Alberthiene Endah, Ami Wahyu, Mayong Suryo Laksono, dan Yan Widjaya.
Bukan karena sosok Ical yang dinovelkan, tapi bagaimana kalimat berenda-renda yang justru menimbulkan rasa enggan sepanjang awal sampai akhir. Tugas editornya seperti hanya pada tataran typo, pdhal, penggunaan kalimat yang berlebih-lebihan itu juga tugas editor. Sesak sekali novel ini dengan majas-majas indah nan mewangi. Kalaupun mau dikonsep sastra, gak harus juga kaleeee pake kalimat berbunga-bunga sepanjang novel berlapis-lapis bertaburan sana sini. Kadang bunga kalo kebanyakan bukan harum, tapi syereeemm.
Well, bagi mereka yang sudah terlalu menjudge negatif buku ini, mengaitkan dengan dunia politik, pilpres, dosa lumpur, rasanya akan tersenyum saat selesai menuntaskan buku ini. Yaaah.. gini doang thoo...
Pilihan tokoh utamanya memang menarik, sosok yang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin negeri ini, ketua partai besar, bisnis sukses, superkaya, pas banget lah untuk menarik pembaca yang ingin tahu lebih banyak. Tapi di sisi lain, sosok ini juga punya 'dosa' yang tak terampunkan, bagi sebagian orang lainnya.
Jadilah kemudian buku ini menjadi kontroversi, antara yang mengharamkan, dan yang menghalalkan. Lah wong baca aja koq repot. Mau baca ayo, gak mau baca ya ayo juga.
Seharusnya editor buku ini bisa mengingatkan penulisnya: kapan naskah pantas dibuat mendayu-dayu (penuh kalimat semerbak tangis haru dan harum surgawi), kapan naskah harus bersifat tuturan bisa. Buku ini luber kalimat puitik, entahlah.
Anak sejuta bintang adalah novel biografis seorang pengusaha sekaligus politikus terkenal Aburizal Bakrie karenanya tak heran ketika novel ini terbit , novel ini langsung menuai berbagai komentar baik itu komentar negatif maupun komentar positif. Yang positif mengatakan bahwa novel ini sangat berguna dan baik dijadikan dasar pengajaran anak, (NH Dini), yang negatif menilai novel ini diterbitkan dalam rangka pencitraan ‘Ical’ Aburizal Bakrie terkait rencananya untuk maju sebagai Capres 2014, bahkan sempat beredar isu bahwa Ical pada awalnya berniat membayar milyaran rupiah pada seorang penulis terkenal untuk membuat novel ini.
Terkait dengan pemberitaan miring mengenai novel ini, penulis dan Aburizal Bakrie segera mengklarifikasikannya baik di social media maupun di blognya. Akmal N Basral selaku penulis mengatakan dengan tegas bahwa novel ini bukanlah novel politik karena di novel ini Ical diceritakan apa adanya.
Sedangkan Aburizal Bakrie dalam blog pribadinya menulis demikian :
Ternyata, novel “Anak Sejuta Bintang” ini jadi ramai diperbincangkan. Banyak juga yang tidak suka dan menyerang novel ini, saya, dan Akmal sebagai penulisnya. Ada yang bilang ini novel pencitraan yang sengaja saya buat untuk 2014, dan lain sebagainya. Ada juga yang bilang saya bahkan awalnya mau membayar novelis terkemuka dengan nilai miliaran. Ini kabar tidak benar. - http://icalbakrie.com/?p=1607
Menurut penulis, dan penerbitnya novel ini memang bukan novel pesanan Ical melainkan lahir dari ide mantan sekretaris Ical yang berniat untuk memberikan kado unik berupa buku untuk ulang Tahun Ical yang ke 65. Ide ini mendapat dukungan dari teman-teman dekat Ical dan penerbit Expose (Mizan Group). Mizan Group menjatuhkan pilihan pada Akmal Nasery Basral yang sudah bekerja sama dengan penerbit dalam menulis novel Biografis KH Ahmad Dahlan - Sang Pencerah (Mizan Pustaka, 2010) dan saat itu sedang menulis novel Presiden Prawiranegara. (Hikmah, 2010)
Novel Anak Sejuta Bintang setebal 403 halaman ini memang pada akhirnya bukan sebuah buku biografi murni melainkan sebuah kisah fiksi yang terinspirasi dari masa lalu Aburizal Bakrie, namun tidak seluruh kehidupan Ical yang menjadi dasar novel ini, penulis membatasi kisahnya hanya dengan menceritakan pengalaman masa kanak-kanak Ical, tepatnya semenjak TK hingga lulus SD (1951-1958.
Di novel ini dikisahkan bagaimana ketika Ical masih kecil, keluarga Bakrie yang kaya raya pernah mengalami kebangkrutan sampai-sampai keluarga ini harus mengontrak rumah untuk tinggal. Namun dalam kondisi seperti itu keluarga Bakrie tidak menyerah dan tetap mengajarkan hal-hal yang positif kepada anak-anaknya.
Walau telah menjadi pengusaha sukses kedua orang tua Ical tak larut dalam kesibukan mengejar materi, mereka tetap mengutamakan komunikasi yang baik dengan anak-anaknya.
"Anak laki-laki itu harus sering diajak ngobrol supaya terbiasa mengemukakan pendapat ... Kalau tidak, mereka akan terbiasa menggunakan tangan untuk menyampaikan keinginan." (Hal. 149)
Dengan pola asuh yang baik dan komunikasi yang intens antara orang tua dan anak tak heran jika Ical tumbuh menjadi anak yang baik dan berprestasi di sekolahnya, setiap tahun ia selalu menjadi juara kelas. Tak hanya pintar, Ical juga menjadi anak yang baik dan mengikuti teladan kedua orang tuanya dalam hal berbagi kepada teman-temannya. Saking baiknya Ical selalu meminjamkan kelerengnya pada teman-temannya yang kalah bermain kelereng. Sialnya teman-temannya tak pernah mengembalikan kelerengnya bahkan ketika Ical kalah ironisnya tidak seorangpun mau memberinya pinjaman kelereng.
Kebaikan dan kepolosan Ical juga tercermin dalam kisah ketika Ical tanpa izin kedua orang tuanya memberikan anggur dan apel pemberian rekan ayahnya pada teman-temannya yang kurang mampu padahal saat itu anggur dan apel adalah makanan mewah bagi keluarga Bakrie sekalipun.
Ical yang langganan juara kelas sejak kelas 1 hingga kelas 5 juga memiliki ambisi untuk tetap menjadi juara kelas hingga kelas 6 nanti. Mampukah Ical mempertahankan gelar juaranya? Pada akhirnya memang Ical menyadari bahwa bintang yang paling terang dalam kehidupannya bukanlah kepandaiannya atau ketika ia menjadi juara melainkan kedua orang tuanya.
“Bintang yang paling terang dalam kehidupan Ical adalah papa dan mama. Karena cahaya cinta papa dan mama sehingga Ical bisa menemukan cahaya bintang-bintang lainnya” (hlm. 399)
Novel ini juga mencerminkan keceriaan dan pengalaman-pengalaman menarik anak-anak pada umumnya, ada soal persahabatan, persaingan, bagaimana menghargai orang tua, , spirit mengejar cita-cita, dan sebagainya. Sayangnya semua hal diatas terkisahkan dengan datar-datar saja, kurang didramatisasi sehingga saya pribadi tidak begitu tergugah oleh kisah-kisah Ical kecil dalam novel ini.
Selain Ical sebenarnya ada satu tokoh yang menarik di novel ini, yaitu Raymond, anak mantan tentara KNIL yang pernah tinggal di Belanda. Raymond dengan sombong selalu membanding-bandingkan kondisi di Belanda yang lebih baik dibanding di Indonesia. Dalam satu kesempatan dikisahkan Ical menegur kesombongan Raymond yang dianggapnya telah menghina pemainan bola Ical dan kawan-kawannya. Di luar dugaan Raymond tidak marah melainkan menjawab teguran Ical dengan rasional.
“Maaf, bukan menghina,” ujar Raymond.. “Kalian semua main bola dengan ini,” katanya sambil menunjuk kaki. “Bukan dengan ini,” katanya sambil menunjuk kepala. “Aku tidak menghina, aku bicara terus terang. Itu beda.” (hlm 292)
Sayang kehadiran Raymond ini kurang mendominasi di novel ini, padahal akan lebih menarik jika penulis terus menghadirkan tokoh Raymond yang sombong namun rasional ini sebagai tokoh antagonis sebagai penyeimbang tokoh Ical yang terkesan santun dan sangat baik sehingga novel ini akan semakin hidup dan menarik.
Selain itu ada satu hal yang menurut saya keliru dalam novel ini yaitu ketika dikisahkan Ical dan adiknya sakit batuk, dokter mendiagnosa bahwa sakit ical dan adiknya adalah asma.
“Mungkin mereka tertular bukan dari orang tua, melainkan dari lingkungan sekitar yang ada penderita asmanya,” jawab Dokter Ghulam panjang lebar (hlm 64)
Pendapat dokter Ghulam ini tentu saja salah, karena sesungguhnya penyakit Asma bukanlah penyakit menular melainkan penyakit keturunan.
Suasana Jakarta thn 50-an & Granat SR Cikini
Selain kisah masa kecil Ical, melalui novel ini juga kita dapat melihat wajah dan suasana Jakarta di tahun 50-an lengkap dengan situasi politiknya seperti tentang pemilu pertama di tahun 1955, lalu ada juga suasana perayaan 17 Agustus 1956 di Istana Negara yang dihadiri oleh Ical yang bersama teman-teman SD nya ditunjuk untuk menyanyikan lagu2 perjuangan di depan Bung Karno. Di bagian ini penulis menyertakan pidato Bung Karno yang menggelegar, walau bukan pidato aktual melainkan telah diubah oleh penulisnya untuk kebutuhan novel ini tapi isi pidato itu tetap menghadirkan semangat dan kelihaian Bung Karno dalam berpidato.
Satu hal yang menarik juga adalah munculnya peristiwa pencobaan pembunuhan terhadap bung Karno saat beliau menghadiri perayaan hari lahir Perguruan Cikini. Di bagian ini penulis mencoba mengisahkan peristiwa penggranatan itu dengan hidup lengkap dengan keterangan sembilan orang anak dan seorang ibu hamil yang tewas di tempat dan 100 orang korban luka berat.
Tidak hanya itu saja, penulis juga membeberkan pendapat yang berkembang beberapa waktu kemudian setelah peristiwa itu yang menyatakan bahwa motif asli pencobaan pembunuhan terhadap Bung Karno bukanlah motif politik melainkan karena … perempuan!, dimana setahun sebelum kejadian itu saat Bung Karno berkunjung ke Bima beliau mengucapkan kata-kata yang menembuat dendam orang Bima, dan Bung Karno sempat pula menggoda wanita di sana. Fakta di pengadilan memang mengungkapkan bahwa pelaku penggranatan adalah orang Bima.
Novel best seller
Pada akhirnya dengan segala kelebihan, kekurangan, dan berbagai komentar miring tentang novel ini, novel ini telah menarik minat masyarakat Indonesia, hal ini terbukti dengan larisnya novel ini di pasaran. Penerbit Mizan di sebuah media online mengungkapkan bahwa novel ini masuk kategori best seller dengan angka penjualan hampir 10 ribu eksemplar pada bulan pertama. Saat ini novel Anak Semua Bintang telah memasuki cetakan ke-3. Dua cetakan sebelumnya telah beredar di pasaran sebanyak 30 ribu ekslempar.
Dengan banyaknya yang membaca novel ini, terlepas apakah ini novel pencitraan atau bukan tentunya kita semua berharap semoga nilai-nilai positif yang dikisahkan dalam novel ini dapat menginspirasi pembacanya akan pentingnya pola pengasuhan anak seperti yang ditunjukkan oleh keluarga Bakrie dan nilai-nilai persahabatan sejati di dunia anak-anak yang saat ini tampaknya semakin langka ditemui terlebih pada saat kita semua telah dewasa.
Entah apa yang salah, narasi dalam novel ini terasa sangat ingin menjelas-jelaskan sesuatu dengan daya upaya, membuat lelah, kadang terasa di-sastra-sastra-in sehingga terlewat berpanjang-panjang tanpa memedulikan pembaca.
Buat apa sesungguhnya melapis-lapiskan kata dengan kata lain, sehingga sosok yang novelisasikan terasa jauh, tidak berpijak, seperti setengah dewa, pendriaan dibuat seakan-akan diperih-perihkan, serupa cerita yang tidak berpijak bumi, dan jauh dari nyata.
Ibarat menggoreng sepotong kerupuk, minyak goreng dua drigen penuh di kuali besar. Sayang kan, minyak goreng mahal....
Ketika membelinya saya sama sekali tidak tahu bahwa ini tentang masa kecil Ical,hal yg membuat saya membelinya adalah review dari tokoh2 favorit saya,Prof. Arief Rahman Hakim, Prof B.J. Habibie. Saya pikir isinya akan sehebat dlm review mereka,namun ternyata tidak. Novel ini hanya ttg masa kecil Ical,yg menurut saya biasa saja,kenapa biasa? Krn saya yakin banyak orang tua yg pola pengasuhannya jg sebagus Pak Bakrie. Justru saya mempertanyakan review Pak Arief Rahman,bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh kekayaan dan status. Saya melihat bahwa lingkungan pergaulan Ical yang penuh dengan anak2 pejabat dan orang2 berpengaruh turut andil dalam pembentukan karakternya,mungkin. Juga dengan bergelimangnya fasilitas yang diberikan orang tuanya. Di luar itu,saya cukup kagum dengan gaya bahasa penulis yg cukup mengalir,meski dlm beberapa kesempatan sepertinya dialog Ical dan teman2nya terkesan terlalu matang untuk usia mereka. Tiga bintang cukuplah untuk novel ini
Aku enggak terlalu update sama berita-berita politik terbaru, enggak tahu juga Aburizal Bakrie itu kenapa. Jadi memang aku baca buku ini menilainya enggak subjektif ya, karena gaya penyampaian buku ini emang enak, lumayan lah. Ceritanya juga, mungkin ada yang menilai enggak menarik, tapi karena aku emang suka sama cerita kayak gini, menurutku oke juga. Buku ini dulu enggak beli sih, ini sumbangan buat perpustakaan kecilku. Tapi udah 2 tahun disini, baru sekarang aku baca. Ternyata lumayan :D Jadi buat yang nganggep buku ini 'patut di rate rendah' karena tokohnya Aburizal Bakrie please, menilainya jangan dari tokohnya dong. Lagian ini tokohnya masih kecil.. :v Diakhirinya pas lulus SD/SR. Overall, aku suka gaya cerita sang penulis di buku ini :D
Suka sih sama isi ceritanya. Baru mereview sekarang, setelah lebih dari satu dasawarsa. Ceritanya sederhana, tidak banyak konflik dan setidaknya kita bisa tahu sisi lain dari Ical hehe.
Penilaian murni dari isi buku saja. Dosanya di dunia nyata tetaplah menjadi tanggung jawabnya
Novel yang sangat mendidik untuk anak-anak. Novel yang menceritakan kegilaan dan kegirangan dunia anak-anak dan perjalanan hidup mereka tanpa memandang harta.
Sebenernya pas pertama beli buku ini beneran gatau tokoh utamanya Abrizal Bakrie. Berhubung bukunya masih disampul jd ga bs ngintip2 isinya, cuma dari tampilannya keliatan menggoda *aww!
Pas nyampe dirumah, pas tau tokoh utamanyanya siapa, pas tau gaya ceritanya ky gimana, langsung ilang semangat. Jujur gue ngarepin buku ini bakal macemnya tetralogi laskar pelangi Andrea Hirata yg isinya perjuangan idup anak kampung miskin buat sekolah, merantau, jumpalitan cari makan, sampe hal2 ajaib yang bikin kita kadang nyengir, ngakak, atau nangis sampe meler2 ingus. Eh ternyata ekspektasi gue ketinggian cuy!
Well gatau ya,apa karena udah tau sosok si Ical gedenya macem mana, gue jd antipati atau sentimen duluan pas baca buku ini. Tapi gue ngerasa ceritanya kurang membumi. Kalo Ikal kan masih ada bandel2nya, masih ada jaman2 dia putus asa dan apatis, ada jaman susah, ada jaman seneng, ada jaman bego2an, ada jaman keblinger jatoh cinte. Kompleks gituh! Kalo Ical? Yah..Ical (aburizal) emang udah dari sananya anak pengusaha, so dari kecil atmosfer hidupnya udah berkecukupan, Ical tumbuh di lingkungan dan dikelilingi dengan orang2 yang berbeda dibanding Ikal Laskar Pelangi. Dan ceritanya menurut gue cenderung subyektif karena cuma menggambarkan Ical anak baik, ical anak pintar, ical yang dermawan dan rendah hati, ical yang begini, ical yang begitu. Lagian buku ini cuma nyeritain Ical sebatas jaman SD menjelang SMP, yaaa,,,, kurang puas aja.
Maap2 aja nih Pak Ical, buat para pendukung Ical atau pendukung partai ehem2. Bukan saya sentimen sama anda Pak, cuma emang ternyata buku semi biografi anda kurang mengena di hati saya. cheeerrs!
kenapa semua review mempermasalahkan aburizal bakrie? ya, saya tahu maksudnya, hanya saja buku ini tidak menceritakan tentang hal 'itu'. isinya polos, tentang kehidupan anak kecil dalam asuhan orang tuanya. bukan kawan, buku ini bukan biografi, tapi semi fiksi.
saya senang mendengar kehidupan anak kecil dengan latar belakang jaman dahulu karena tentunya lebih berwarna dan lebih menarik daripada anak-anak era sekarang. namun kenapa saya hanya memberi rating 2? beberapa kejadian dilebih-lebihkan, sehingga agak bosan karena terlalu banyak kata-kata sementara intinya hanya sebatas beberapa kalimat saja. lalu, mungkin karena tokoh utama sudah terlahir kaya, perjuangan yang diberikan juga sedikit, jadi isinya datar, mungkin seharusnya penulis memberi sedikit kejutan agar tidak terlalu datar. sangat disayangkan, dalam paragraf masih terdapat penjabaran, yah, seharusnya detail dalam cerita tidak diuraikan, melainkan diceritakan.
hal yang menarik dari buku ini terlihat dari pola asuh papa ical yang sangat memperhatikan anak-anaknya, dan kisah yang paling menggugah saya yaitu saat teman ical membuat pisau dari paku yang dilindas kereta demi membela diri hingga akhirnya hal buruk terjadi padanya. saya menghargai usaha penulis dalam mencari data, saya suka melihat catatan kaki di bawah halaman yang membuat saya mendapat sedikit pengetahuan tentang hal yang sedang terjadi pada jaman itu, dan terakhir, saya suka cover dan bintang-bintang di tiap halamannya.
"Rame-ramenya" novel ini sebenernya yang bikin saya tertarik. Mengingat objek biografi yang diangkat adalah Aburizal Bakrie / Ical. Sehingga bagi sebagian pihak novel ini berbau politik, pencitraan, dsb. Sebegitu ramenya pemberitaan, apa isi buku ini seheboh beritanya? Ternyata pun akhirnya saya menganggap tidak. Bercerita tentang kehidupan masa kecil Ical, buku ini lebih cenderung memberi pesan-pesan moral melalui bagaimana Bakrie membesarkan anaknya. Seperti biasanya Akmal N Basral selalu membuat biografi dengan cerita yang mengalir. Namun saya lebih suka dengan Sang Pencerah ketimbang ASB. Rasanya dialog-dialog yang dilakukan Ical dan teman-teman sebayanya terlalu dewasa untuk anak seumuran mereka. Mungkin sebaiknya penulis mempertimbangkan kembali bagaimana diksi anak kecil berdialog, sehingga pembaca merasa lebih nyata. Dan sejujurnya saya sering kali bertanya-tanya dalam proses pembacaan, apakah ada anak kecil dengan tingkat pemikiran dan kebijaksanaan yang begitu besar, meski nilai moralnya yang baik untuk diambil. Secara umum, novel ini berkonflik datar (mungkin karena mengikuti kejadian sesungguhnya dari tokoh yang memang berkecukupan). Cukup baik dengan bintang tiga.
Sebenarnya, saya suka banget sama novel ini. Ceritanya santai dan menyenangkan. Alur ceritanya gak kemana mana. Tapi, saya gak ngeh kalau tokoh utamanya ini pak Aburizal Bakrie. Saya ngeh nya pas ngebaca halaman 386, sewaktu pembacaan siapa yang mendapatkan peringkat pertama. Well, saya memang telmi -___-
Oke, lanjut! Sejujur jujurnya, saya suka dengan novel ini. Tapi, sewaktu tahu tokoh utamanya pak Aburizal, saya jadi mereasa gak ngeh dan mendadak konslet. Saya emang tahu kalau novel ini menceritakan tentang beliau. Tapi saya baru tahu kalau sebutan Ical adalah sebutan untuk beliau di masa kecil *efek gak pernah nonton berita*
Tapi, jeng jeng. Ketika saya membuka halaman halaman pertamanya, tepatnya di halaman 11, ternyata ada nama beliau. Saya jadi merasa aneh. Saya buka buka kembali halaman 386, dan ternyata benar. Tokoh utamanya memang pak Aburizal!
buku ini menceritakan tentang masa kecil aburizal bakrie sampai menyelesaikan bangku sekolah rakyat perwari (atau sekarang disebut sekolah dasar). banyak nilai-nilai moral yang dapat kita ambil dalam novel ini. karena novel ini, saya menjadi mengerti bagaimana masa kecil ical termasuk latar belakang keluarganya dan kepribadian yang luar biasa istimewa yang dimilikinya. membaca buku ini seperti kembali memperluas dan membenahi bahasa indonesia yang selama ini saya pelajari.. penulis yang sengaja menampilkan klimaks problema tokoh utama di akhir cerita mampu mengikat keseluruhan cerita yang disajikan...
Membaca novel biografi memang agak susah untuk membedakan mana yang fiksi dan mana yang nyata. Keputusan pun ada pada tangan pembaca, mau berpusing-pusing menerka mana yang fiksi dan nyata, atau mengikuti saja alur cerita yang disuguhkan dalam buku. Saya pun memilih pilihan kedua, maka selanjutnya review ini hanya mengomentari alur cerita tanpa menengok kontroversi di balik terbitnya buku ini dan berkomentar, “Apa ini nyata atau dibuat-buat demi pencitraan sang tokoh?”
Tapi rasanya tidak mungkin mengganti nama Ical. Namanya juga novel biografi.
Akmal Nasery Basal bisa bawa pembaca ke suasana masa kanak-kanak Ical dengan sangat baik. Detail. Itulah keunggulan ANB dalam memaparkan drama kehidupan Ical. Begitu dramatisnya sampai-sampai sulit bagi pembaca membedakan mana drama mana nyata. Halah lha mbok yo wes, jenenge ae novel. Hehehe...
sy belum membaca novel ini, jadi bintang dua-nya sementara (bisa 5), tapi sebelum sy membaca buku, sy ingin sekali memperoleh jawabnya: KENAPA PENULIS NOVEL INI BERSEDIA MENULISKAN NOVEL PESANAN SEPERTI INI? di tengah prasangka itu, semoga sj penulis novel ini melakukannya demi panggilan hati, nurani.
Maaf ya, cuma kasih bintang 2. Bukan soal politik atau Lapindo. Tetapi saya kesulitan menikmati novel ini. Gaya bahasa Bang Akmal sebenarnya asyik. Beberapa kedetailan setting, juga saya sukai. Tapi, sebuah novel, tentunya akan ditentukan pada plotnya. Sedangkan plot novel ini... waduh, datar sekali.
Bukunya cukup menarik, namun entah kenapa kalo keinget yang jadi tokoh utamanya di dalam buku tersebut aburizal bakrie jadi aneh. Namun dari keseluruhan bukuna tetap asik dibaca, alur ceritanya yang jelas membuat pikiran tidak lelah karena harus membaca 2 kali. Heheheh
Buku yang berisi nilai-nilai luhur. Seorang anak yang pantang menyerah, tentang nilai persahabatan. Akmal Nasery Basral menguntai dengan kalimat-kalimat penuh makna.
simple aja, Laskar Pelangi wannabe. Cuma bedanya ini cerita tentang anak2 pejabat dan pengusaha yg sekolah tanpa perjuangan yg berarti. oya.. apa kabar Lapindo Cal??