Gimana rasanya kamu terbangun di tempat antah berantah, nggak tahu di mana, nggak ada siapa-siapa, bahkan yang lebih menakutkannya lagi, kamu nggak tahu kamu itu siapa? Itu yang terjadi pada tokoh “aku” di buku ini. Dia ditemukan oleh Tarni, usia 13 tahun, seusia dengan tokoh aku, dan merupakan Penduduk Asli, yang sedang berkelana saat menemukan aku yang hampir mau dimangsa ular. Aku pun jadi ikut berkelana bersama Tarni.
Petualangan di Pedalaman Australia.
Biasanya Australia yang kita kenal seperti Sydney, Perth, atau mungkin Canberra. Namun, di buku ini, kita diajak untuk berpetualang di Australia tengah, tepatnya di gurun merahnya. Australia ternyata punya gurun, ya. Selain itu juga akan bertemu dengan burung lonceng, kuda, gurun merah, menginap di gua, mencari air. Persis seperti kegiatan pramuka versi di alam bebas.
Aku dan segala panggilannya dari Tarni.
Tokoh “aku” di sini itu hilang ingatan. Dia nggak ingat apa-apa. Maka dari itu, Tarni memberikan dia nama panggilan. Tapi, panggilannya banyak, tergantung situasi. Pertama, Moonflower. Lalu, Murai, Maestro, dan terakhir Tidda yang artinya sahabat perempuan. Yang paling berkesan dan menyentuh adalah panggilan Tidda :”)
Lagu Pengelana.
Ternyata judul ini merepresentasikan budaya dan kultur suku pedalaman yang menggunakan lagu sebagai peta mereka.
“Lagu yang kau dengar kunyanyikan diam-diam. Itu bukan sekadar lagu. Itu sebuah peta. Peta yang menunjukkan orang-orangku tentang jalur impian."
Hal itu yang membuat Tarni tidak tersesat selama mereka melalui gurun yang tak berpenghuni, mencari gua untuk berlindung, serta mata air untuk minum.
Memanggil Orang Mati dan Generasi Yang Dicuri.
Ada dua highlight yang menarik perhatianku di buku ini, yaitu cara Tarni yang memanggil orang mati tidak dengan namanya. Karena sebagai tanda hormat dan juga agar tidak mengganggu roh orang tersebut. Suku Penduduk Asli masih memegang kuat budaya dan kepercayaan mereka tentang roh. Hal ini membuat hubungan Tarni dan Murai (sebut saja tokoh aku demikian) berbeda sudut pandang. Tarni percaya hal gaib, sementara Murai sangat realistis dan menilai bahwa mempercayai yang tak terlihat itu tidak pernah terpikirkan olehnya. Tapi, friksi itu yang membuat hubungan mereka menjadi semakin dekat.
Generasi Yang Dicuri. Di buku ini memperlihatkan bahwa Penduduk Asli semakin lama semakin digeser bahkan dihilangkan dari keasliannya. Istilahnya mereka adalah anak-anak Penduduk Asli yang diambil dari orangtua mereka oleh pemerintah. Mereka diambil dan dibawa ke sebuah institusi tempat dia diajari agar tidak terlalu seperti Penduduk Asli. Mereka mengajarinya Sejarah Eropa bagaimana menjadi kuat agar bisa bekerja di ladang dan pabrik, dan cara berbahasa Inggris. Mereka mengajari anak-anak lelaki sedangkan anak-anak perempuan diajari bagaimana menjadi pembantu rumah tangga yang baik.
Dipaksa dan direnggut keasliannya untuk menjadi penduduk bangsa lain di tanah sendiri adalah simbol kolonialisme. Sebut saja suku aborigin yang kian sedikit di tanah aslinya sendiri dan suku indian pun kian tergusur oleh so called white people. Miris. Sedih.
Dan nggak semua kembali dengan baik-baik saja. Ada juga yang tak pernah kembali. Itu kejam. Benar yang dikatakan oleh Murai.
Persahabatan Tarni dan Murai.
Tarni dan Murai ini sahabatnya tuh nyahabat banget. Mereka itu definisi strangers to friends—sisters. Banyak pandangan yang berbeda. Apalagi Tarni ini penduduk asli yang anak suku pedalaman yang berteman dengan Murai, anak kota (meskipun dia hilang ingatan, tapi vibe kotanya tuh ada banget).
Plot twist yang nge-twist banget.
Crying bawling dengan plot twist-nya. Padahal udah disebar petunjuknya sama penulisnya, tapi ku fokus ke cerita dan penggambaran gurun merah Australia yang cantik dan misterius jadi pas twist-nya dateng, langsung huaaahhhh tidakkk 🤧🤧
Rekomendasi.
Buku ini cocok bagi kamu yang menyukai cerita middle grade slight young adult dengan bumbu-bumbu magical realism. Penuh kisah heartwarming tentang bagaimana Penduduk Asli mempertahankan hidup dan budayanya di tanah sendiri. Ditambah plot twist yang tak pernah terduga.
🌹 4.5 bintang untuk "Polisi tidak peduli. Mereka hanya mau duduk di kantor mereka yang ber-AC dengan kaki diangkat ke meja, menonton TV dan menikmati kopi mereka." di halaman 240.