Bangsa Indonesia tak boleh lagi dianggap sebagai seperempat manusia.
Membaca ini jadi lebih mendalami Tjokroaminoto, bukan hanya sebagai pahlawan untuk dipuja, melainkan juga sebagai manusia. Tempo, seperti biasanya, berhasil membumikan tokoh yang banyak diagungkan masyarakat.
Dalam pandangan saya sendiri Tjokroaminoto eksis dengan kepribadiannya yang multifaceted. Tjokro menjadi purwarupa pemimpin besar di fajar pergerakan nasional, merevolusi cara-cara menggalang dan memobilisasi massa, tetapi pula, sebagaimana Shiraishi-san menyebutnya, Tjokro bukan seorang pemikir. Gagasannya bukan angin segar jika dibandingkan tokoh lain seperti, sebutlah, Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, atau bahkan sekawannya sendiri—Hadji Agoes Salim.
Sikapnya bisa terbaca seolah plin-plan di beberapa waktu. Tjokro seorang priyayi yang cukup radikal untuk melakukan bunuh diri kelas, hingga ia hampir dibunuh mertua sendiri, tetapi di kesempatan lain, Tjokro justru menggunakan statusnya sebagai darah biru untuk mengambil alih kontrol suasana yang tidak kondusif dengan menantang orang-orang di pertemuan tersebut.
Mengetahui sepak terjang Bung Besar sebelum membaca ini membuat saya amat sadar seberapa banyak ia belajar dari Tjokroaminoto. Ternyata sejelas, on-the-face itu. Barangkali Kusno memang sedemikian kagum hingga terkesan menjadi versi perbaharuannya Tjokroaminoto; pendekatan politik hingga tabiat dan internalisasi kepercayaan mereka.
Buku ini khas reportase Tempo sekali; enak dibaca dan padat. Tokoh-tokohnya selalu ditampilkan sebagai manusia dan manusia, bukan sebagai dewa atau nabi (atau dalam kasus Tjokro, Ratu Adil) seperti biasanya budaya hero worship di masyarakat umum. Dalam jatuh-bangun dan kekurangan mereka itulah mereka hidup. Dan terasa jauh lebih dekat daripada sekadar objek pemujaan yang tidak boleh diperdebatkan.
3.75 bintang.