Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seri Buku TEMPO: Bapak Bangsa

Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa

Rate this book
Menentang feodalisme, Haji Oemar Said Tjokroaminoto punya andil menempa para tokoh pergerakan nasional. Dialah guru politik serta induk semang Presiden Soekarno serta tokoh pergerakan lain, seperti Semaoen, Musso, Alimin, dan Kartosoewirjo.

Di tangan Tjokro, Sarekat Islam berubah dari organisasi saudagar batik pribumi menjadi gerakan politik yang bedar dan kuat. Pidato dan tulisannya menginspirasi puluhan ribu orang dan menumbuhkan semangat kebangsaan. Rakyat jelata menganggapnya "Ratu Adil", sementara Pemerintah Belanda menjulukinya "Raja Tanpa Mahkota".

160 pages, Paperback

First published December 1, 2011

28 people are currently reading
409 people want to read

About the author

Tim Buku TEMPO

44 books95 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
67 (29%)
4 stars
83 (35%)
3 stars
65 (28%)
2 stars
6 (2%)
1 star
10 (4%)
Displaying 1 - 30 of 32 reviews
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,394 followers
April 15, 2016
Bicara Tjokroaminoto adalah bicara gerakan dan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan, walaupun fokus utamanya tentu mengenai Sarekat Islam serta dinamika politiknya. Selain sebagai tokoh penting SI, di buku ini diceritakan juga bagaimana pengaruh Tjokroaminoto sebagai bapak kos pada Soekarno (nasionalis), Semaoen, Musso (komunis), dan Kartosuwirjo (Islam).

Bukunya ditulis secara objektif dan tidak terlalu panjang, rasanya seperti membaca majalah TEMPO. Namun karena pembagian bab seperti itu banyak kalimat dan quote yang diulang-ulang. Pembahasannya pun jadi terasa kurang sistematis. Namun demikian buku ini tetap menarik sebagai perkenalan / rangkuman terhadap sejarah Indonesia.

Satu hal lagi. Saya baru tau Tjokroaminoto ternyata dipengaruhi oleh Islam Ahmadiyah!
Profile Image for Fatih Hayatul.
30 reviews
August 25, 2022
Sebuah disertasi yang cukup konkrit dalam koridor aspek biografi yabg coba dibawakan.

Menarik, melihat bagaimana perjuangan "Raja Jawa Tanpa Mahkota" ini membentuk prinsip ideologinya, diceritakan pula momen-momen dimana Tjokro mulai terpuruk dan melemah namun tidak sama sekali membuatnya kehilangan arah dalam tujuan. Bukanlah seorang Tjokro namanya jika dia harus tunduk pada pemikiran yang bersebrangan dengannya, tidak dengan cara yang ortodoks tapi dengan gaya yang lebih fleksibel. Sesuai dengan paham Islam-Sosialismenya. Terbukti dari bagaimana dia mau dan berniat berkompromi dengan Semaoen pada konflik Sarekat Islam dengan SI Merah.

Referensi yang luas dan keterbukaan adalah kunci bagaimana seorang penggerak ini bisa menjadi mentor bagi para pendiri bangsa. Banyak muridnya yang berseberangan secara ideologi setelah mereka melihat bagaimana cara Tjokro punya filosofi dasar berpikir rasional yang membuat mereka punya pemikiran rasional lanjutan yang berpondasi kokoh.

Ibarat lukisan, Haji Oemar Said Tjokroaminoto memperkenalkan kuas-kuas dan cat warna kepada para pelukis hebat yang punya aliran lukis yang beragam.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
February 18, 2017
** Books 69 - 2017 **

Buku ini untuk memenuhi Tsundoku Books Challenge 2017

3,2 dari 5 bintang!


Saya dibuat penasaran dengan rumah H.O.S Tjokroaminoto di gang Peneleh, Surabaya! Selain itu saya jadi teringat kalau Soekarno, Musso, dan bahkan Kartosoewirjo dulu pernah sempat tinggal di rumah Beliau. yah meski pada akhirnya mereka bertiga memilih haluan yang berbeda (Nasionalis, Komunis dan Agamis) :')
Profile Image for Candra.
20 reviews6 followers
January 14, 2020
Bangsa Indonesia tak boleh lagi dianggap sebagai seperempat manusia.

Membaca ini jadi lebih mendalami Tjokroaminoto, bukan hanya sebagai pahlawan untuk dipuja, melainkan juga sebagai manusia. Tempo, seperti biasanya, berhasil membumikan tokoh yang banyak diagungkan masyarakat.

Dalam pandangan saya sendiri Tjokroaminoto eksis dengan kepribadiannya yang multifaceted. Tjokro menjadi purwarupa pemimpin besar di fajar pergerakan nasional, merevolusi cara-cara menggalang dan memobilisasi massa, tetapi pula, sebagaimana Shiraishi-san menyebutnya, Tjokro bukan seorang pemikir. Gagasannya bukan angin segar jika dibandingkan tokoh lain seperti, sebutlah, Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, atau bahkan sekawannya sendiri—Hadji Agoes Salim.

Sikapnya bisa terbaca seolah plin-plan di beberapa waktu. Tjokro seorang priyayi yang cukup radikal untuk melakukan bunuh diri kelas, hingga ia hampir dibunuh mertua sendiri, tetapi di kesempatan lain, Tjokro justru menggunakan statusnya sebagai darah biru untuk mengambil alih kontrol suasana yang tidak kondusif dengan menantang orang-orang di pertemuan tersebut.

Mengetahui sepak terjang Bung Besar sebelum membaca ini membuat saya amat sadar seberapa banyak ia belajar dari Tjokroaminoto. Ternyata sejelas, on-the-face itu. Barangkali Kusno memang sedemikian kagum hingga terkesan menjadi versi perbaharuannya Tjokroaminoto; pendekatan politik hingga tabiat dan internalisasi kepercayaan mereka.

Buku ini khas reportase Tempo sekali; enak dibaca dan padat. Tokoh-tokohnya selalu ditampilkan sebagai manusia dan manusia, bukan sebagai dewa atau nabi (atau dalam kasus Tjokro, Ratu Adil) seperti biasanya budaya hero worship di masyarakat umum. Dalam jatuh-bangun dan kekurangan mereka itulah mereka hidup. Dan terasa jauh lebih dekat daripada sekadar objek pemujaan yang tidak boleh diperdebatkan.

3.75 bintang.
Profile Image for Mai Radhiallah.
84 reviews12 followers
January 5, 2021
Nama Tjokro baru je naik di Malaysia. Awalnya saya tahu sosok ini wujud daripada filem Tjokroaminoto. Filem yang berulang-ulang kali saya tonton tapi tak pernah habis. Kemudian nama Tjokro makin kerap disebut sampaikan sebuah sekolah falsafah di Kuala Lumpur membahaskannya. Jujur saya masih blur tentang si Tjokro. Akhirnya saya bertemu buku ini. Buku yang menerangkan autobiografi seorang pemimpin hebat daripada tanah seberang, Indonesia.

Melalui buku ini, saya menilai Tjokro sebagai pemimpin yang garang, radikal dan egaliter. Dia mempunyai pendirian yang kukuh dan tahu apa yang dia inginkan dalam kehidupan. Maksud saya pada tahun 1882-1934 (garis masa Tjokro), bangsa-bangsa asinglah yang menjajah Hindia Belanda. Kita semua sedia maklum tentang kesukaran peribumi untuk hidup di zaman itu. Merasa kerdil dan hilang jati diri. Tapi si Tjokro orang besar ini melawan hak kesamarataan sampai dia sanggup meletak jawapan sebagai Jurutulis Patih Ngawi kerana tak bersependapat dengan orang putih. Dia sanggup tinggalkan dulang emas dan pergi merelisasikan apa yang terbuku di hati.

Nama Tjokro terpalit dengan sejarah-sejarah besar Indonesia. Dia pelopor gerakan demokrasi ke arah republik. Menganut fahaman sosialis dan ada membaca buku Karl Marx. Dia berpendapat sosialis bukan milik kominis semata. Fahamannya itu diluncur ke dalam Sarekat Islam (SI), sebuah organisasi yang gah ketika itu. Wujudnya SI ini dipicu oleh persaingan perdagangan batik antara peribumi dan pedagang cina. Sistem kasta terjadi apabila terdapat larangan memakai batik corak tertentu kerana corak tersebut melambangkan status.

Selain itu nama Suharto, HAMKA, Musso, Alimin juga disebut. Suharto, Presiden Indonesia pernah sewa bilik di belakang rumah Tjokro. Diusia muda Suharto, dia mengagumi Tjokro. HAMKA pula sampai menipu umurnya agar dapat berpengajian dalam SI. Banyak lagi sebenarnya nak tulis ni, elok baca jelah buku ini biar dapat 100% pencerahan!
Profile Image for Vecco Saputro.
12 reviews4 followers
June 27, 2018
Singkatnya saya melihat bahwa buku ini menceritakan dua sisi berlawanan dari diri Tjokroaminoto. Sisi pertama ialah jalan negosiasi dan dialog Tjokroaminoto ketika bertemu orang yang berbeda dengan ideologinya. Sisi kedua ialah jalan keras Tjokroaminoto saat mengubah struktur dan anggota organisasi Sarekat Islam.

Namun lepas dari dua hal berlawanan itu, kita sebagai pembaca akan melihat sisi-sisi kecil Tjokroaminoto. Bagaimana dia menyihir perhatian massa dalam pidato yang kelak menjadi inspirasi Sukarno dalam berorasi, suasana rumahnya yang menjadi tempat tokoh-tokoh pergerakan berdiskusi, dan anggapan massa yang menyebut dirinya sebagai ratu adil adalah sisi Tjokroaminoto yang diungkapkan dalam buku ini.

Seluruh sisi Tjokroaminoto dibahas oleh Tim Tempo dengan ringan. Sayangnya, saya tidak menangkap masa kecil dan alasan dia memilih jalan dan pikirannya dari buku ini. Untungnya, buku ini menyebutkan buku-buku rujukan yang mungkin membantu kita.
Profile Image for Andita.
309 reviews3 followers
July 24, 2025
"Pada Oemar Said Tjokroaminoto, kita bisa menemukan pemberontakan sekaligus kelenturan. Ia menanggalkan atribut feodalisme: menyimpan gelar raden, memprotes laku dodok—berjalan jongkok di depan bangsawan—juga menuntut kesetaraan bangsa Hindia. Ia kemudian menyeru pengikutnya mengenakan "pakaian Eropa", sebagai lambang "pribumi sama-sama manusia seperti orang Belanda".

Rasanya selalu menyenangkan untuk bisa membaca atau menambah informasi baru tentang tokoh-tokoh di Indonesia.

Kehidupan yang terbentuk saat ini juga berasal dari sejarah masa lalu, sehingga ini adalah caraku mencoba mengerti dan belajar.
Profile Image for Lisa Nahar.
125 reviews
August 27, 2020
Membaca buku ini jadi tahu bahwa pamor Tjokroaminoto begitu besar hingga dianggap sebagai Ratu Adil oleh para anggota Sarekat Islam. Perjuangannya untuk kemerdekaan sangat persis ditiru Soekarno yang menginginkan tanpa peperangan. Persatuan juga menjadi prinsip, tujuan serta kunci perjuangannya.

Suka dengan gaya penulisan buku biografi ini karena ada berbagai sudut pandang. Tidak sisi positifnya saja, tapi juga kelemahannya. Tapi tanpa mengurangi kewibawaan Tjokroaminoto sebagai tokoh Bapak Bangsa.
Profile Image for Nuraini.
57 reviews2 followers
July 12, 2018
Suka secara kemasan dan penampilan. Buku saku seri tokoh bangsa ini. Ringan utk dibaca dan dibawa2. Tapi isinya lebih seperti artikel reportase ala2 majalah tempo alih2 biografi yg runut dan ada beberapa pengulangan fakta yg terkesan maju mundur. Karena itulah sy beri 3 bintang. Nilai plusnya lg, dilengkapi foto dan keterangan sejarah.
Profile Image for Dyan Eka.
290 reviews12 followers
January 4, 2025
Negara ini ternyata pernah memiliki seorang pemimpin suatu kaum yang memikirkan kesejahteraan rakyat biasa. Berusaha menghapus feodalisme dan berusaha endirikan pemerintahan negara mandiri.
Tapi kalau dilihat sekarang, negara yang katanya sudah merdeka ini nyatanya masih berhenti di jaman ketika Tjokroaminoto menyebarkan Sarekat Islam.
Profile Image for Dian Shinta.
170 reviews
February 16, 2020
Lebih menarik membaca buku sejarah di usia sekarang daripada masa sekolah dulu. 😅 Dulu saya termasuk orang yang sering mengantuk saat Bapak Guru mapel Sejarah sudah masuk kelas dan siap mengajar.

Dan, di sini saya dibawa kembali ke awal abad 19 yang hampir 100 tahu sebelum saya lahir. 😶
Profile Image for Youlee Kawai.
10 reviews1 follower
November 22, 2016
Tentang seseorang yang begitu besar jasanya dalam membangun fondasi bangsa Indonesia namun tak banyak orang tahu. mungkin kita ingat waktu kecil kita sering mendengar dari guru-guru kita bahwa indonesia merdeka karena rakyatnya bersatu melawan penjajah bagaikan sapu lidi bila hanya sebatang akan mudah dipatahkan tapi jika banyak akan susah dipatahkan. tapi apa pernah kita bertanya siapa yang menyatukan "lidi-lidi" itu? yah ialah salah satunya Haji Oemar Said Tjokroaminoto yang sering disingkat menjadi H.O.S Tjokroaminoto pemimpin organisasi terbesar pada jamannya yaitu Sarekat Islam yang pada 1919 mencapai 2.500.000 anggota. Tjokroaminoto inilah yang pertama kali mencetuskan rumusan nasionalisme dimana sebelumnya perjuangan kemerdekaan masih bersifat sporadis di masing-masing daerah. Bahwa benar negara ini dibangun oleh para kyai ulama dan keturunan ningrat yang pemikirannya jauh melampaui jamannya yang rela meninggalkan gelar ningrat dan kehidupan priayinya untuk menyetarakan derajat bahwa semua makhluk sama dihadapan tuhan dan menginginkan hukum islam diterapkan. Walau pada akhirnya murid-muridnya yang juga anggota sarekat islam tercerai berai ada yang beraliran komunis seperti semaoen ygn akhirnya memimpin PKI, Soekarno yang sudah ia anggap seperti anak sendiri beraliran Nasionalis, dan kartosoewiryo yang beraliran agamis, karena sebagai guru beliau memang tidak pernah memaksakan pemikirannya tapi setidaknya beliau sudah mengkader para pemuda2 indonesia sebelum wafatnya. itulah yang menjadikan beliau seorang Guru Bangsa. karena setelah beliau tidak ada pengkaderan seperti yang dilakukannya. dan saat sarekaat islam melemah muridnya maju menjadi orang nomer satu dan juga sebagai bapak proklamator indonesia menggantikannya karena soekarno sendiri pernah berkata bahwa cerminku ialah pak tjokro dan gaya pidatonya pun ia pelajari dari gurunya tersebut. harapannya semoga masih ada sosok seperti pak tjokro di era sekarang ini.
Profile Image for whyrmd.
9 reviews
February 28, 2016
Menceritakan kisah pak cokro dalam perjuangan nasional, yang awalnya hanyalah seorang saudagar batik di laweyan surakarta kemudian dilantik oleh samanhoedi menjadi anggota Sarekat islam hingga akhirnya memiliki karier cemerlang dan diangkat menjadi ketua sarekat islam. Mendirikan koran oetoesan hindia dan fadjar asia. Jika berbicara di panggung podium seperti Harjuna jika dalam pewayangan yang tidak takut terhadap siapa yang dihadapai. Suaranya berat dan tegas, Tidak memiliki rasa takut terhadap belanda tercermin dalam keberaniannya meminta langsung untuk mendirikan pemerintahan sendiri saat tengah berpidato. Beliau Memiliki 10 anak didik di rumahnya gang paneleh VII yang kemudian beberapa diantaranya menjadi pelopor kemerdekaan indonesia.. Mementori dan menginspirasi bapak bangsa soekarno hingga murid lainnya musso, semaoen, alimin, kartosuwiryo. Yang kemudian hari berselisih paham dengan beliau sendiri. Soekarno nasionalis, musso-alimin-semaoen-darsono yang memilih komunis hingga kartosoewiryo yang islam garis keras. Disebut Raja tanpa mahkota oleh belanda, disebut herucokro dari gang paneleh oleh rakyat pada saat itu yang mempercayainya sebagai messiah atau ratu keadilan dalam ramalan jayabaya. Orang yang sebenarnya ningrat tetapi akhirnya lebih memilih terjun ke masyarakat bawah untuk mengetahui langsung kondisi masyarakatnya. Lahir dimadiun 16 agustus 1883 dan meninggal dijogjakarta 17 desember 1934 akibat penyakit ginjal dan maag kronis.
Profile Image for Fachry Fajar Artabudhi.
33 reviews
May 1, 2021
Seseorang yang membuang gelar bangsawan karena tak suka feodalisme di hindia belanda. Beliau melawan dan pengkritik penjajah lewat serikat islam. Kerap dijuluki sang ratu adil dan raja tanpa mahkota. Beliau pula induk semang para tokoh pendiri bangsa kendati seiring berjalannya waktu para tokoh tersebut terpisah karena ideologi yang berbeda. Namun, jasanya dalam menciptakan cikal bakal kemerdekaan Indonesia tak boleh kita lupakan.
Profile Image for Sayekti Ardiyani.
128 reviews3 followers
September 26, 2016
Membaca buku ini pembaca mendapat gambaran berdirinya organisasi terbesar di awal pergerakan melawan penjajah, ialah SDI. Tjokroaminoto yang diberi gelar Raja tanpa Mahkota ini berhasil membesarkan organisasi SDI hingga bersebrangan dengan para tokoh di dalamnya, termasuk perpecahan menjadi SI kiri. Pahamnya adalah sosialisme Islam, bukan sosialisme ala komunis, Ia berpendapat bahwa sosialisme ada dalam Islam dan itulah yang ideal.

Bapak bangsa ini adalah inspirasi bagi tokoh semacam Sukarno yang menyihir pendengarnya ketika berpidato. Tjokromaninoto melakukannya sebelum Sukarno.

Tjokroaminoto yang berasal dari keluarga bangsawan memilih menentang segala feodalisme. Meski begitu saya menemukan sedikit ambigu atas sifatnya, ketika dalam satu rapat ia beridiri di atas meja dan mengatakan ia golongan ksatria, siapa bernai menentanngya?
Profile Image for Dimitri.
29 reviews1 follower
March 8, 2015
Dimulai dari semangat menyamakan derajat pribumi asli dengan para tuan kolonialnya, H.O.S Tjokroaminoto telah berkontribusi pada bangkitnya kesadaran politik kaum rakyat biasa, melalui Sarekat Islam yg dipimpinnya.

Orator ulung, organisatoris SI yang handal serta piawai dalam memainkan kharisma dan pengaruhnya dalam organisasi, menjadi modal keberhasilannya dalam berjuang saat itu. Hubungan baik yg dibina melalui keanggotaan di Volkskraad juga menjamin SI dapat berkembang dalam batasan yang diterima pemerintah kolonial.

Banyak tokoh perjuangan, spektrum kanan, tengah maupun kiri, yang bersinggungan dan mempengaruhi / dipengaruhi oleh tokoh ini. Wajar jika kita bilang bahwa tanpa nya sejarah Indonesia akan sangat berbeda dan tidak akan sama...
9 reviews1 follower
May 29, 2012
Tjokroaminoto memilih berpisah dengan feodalisme jawa yang cenderung tunduk kepada pemerintah kolonial, mendekat kepada rakyat, menumbuhkan sebangat kebangsaan. Gelar Raden Mas berganti Hadji Oemar Said (HOS). Hidupnya semakin berwarna: sebagai kuli pelabuhan, menjadi juru tulis, hingga memimpin organisasi massa terbesar diawal revolusi.

Di bawah kepemimpinannya, Sarekat Islam yang awalnya organisasi pedagang batik menjadi gerakan antikolonialisme dengan jutaan anggota tersebar di 81 daerah Hindia Belanda. Menjadikannya berjuluk sang 'Raja Jawa tanpa mahkota'. Di rumahnya, pemuda Sukarno, Kartosoewiryo, Musso, Alimin, dan Semaun ditempa, walau akhirnya bersimpang jalan dengan sang mentor.
11 reviews65 followers
July 28, 2012
Satu hal yang saya baca dari buku ini, bahwa perbedaan pola pikir antar para pendiri bangsa di masa awal, memang tidak bisa dihindari selama sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Dan hal itu sangat rawan mengganggu proses dari perjuangan itu sendiri, bahkan jika terus dibiarkan maka akan menyebabkan batalnya usaha para pendahulu.
Ideologi apapun mestinya dapat dikesampingkan selama tujuan yang utama yaitu kesejahteraan rakyat Indonesia menjadi pola akhir yang akan diraih. Polaritas menjadi kelompok tertentu berdasarkan ideologi tertentu mestinya menjadi hal yang tidak perlu terlalu ditonjolkan, selama dasar utama perjuangan yaitu kemerdekaan dan kemandirian berbangsa menjadi dasar utama.
Profile Image for Wahyu Awaludin.
358 reviews10 followers
May 14, 2014
Ini keren banget! pembahasannya lengkap, enak dibaca, dan mengalir. Terang sih, soalnya yang menulis maestro jurnalistik dari Tempo. Satu-satunya yang saya sesalkan: bukunya tipis banget! Cuman 146 halaman. Padahal kalau mau dibandingkan, biografi Muawiyah bin Abi Sufyan saja 1000-an halaman. Biografi Steve Jobs 700-an halaman. Biografi Warren Buffet 1200-an halaman. Bah, masih belum ada satupun biografi Tjokroaminoto yang lengkap seperti itu, bahkan mayoritas pahlawan pun belum ada biografinya. Tapi secara umum buku ini bagus banget.
Beli dan baca! Gak akan nyesel!
Profile Image for Ismi Persson.
66 reviews2 followers
March 25, 2016
Si Raja tanpa Mahkota yang menjadi guru para pendiri Indonesia, sayang buku ini hanya sedikit menyinggung zelfbestuur gagasan beliau, sayang sekali buku ini kurang detail karena hanya berupa gabungan-gabungan reportase. Nilai plus tentu saja bonus poster yang super keren menceritakan Gang Peneleh VII.
Profile Image for chy.
14 reviews4 followers
May 14, 2016
berisi kisah hidup Tjokroaminoto beserta anak2 didiknya yang di kemudian hari bersimpang jalan. Meski belum menganut nasionalisme, namun Tjokroaminoto mengajarkan hal2 yang membuka pemikiran para anak didiknya dan memajukan organisasi dagang SI menjadi gerakan politik.
Profile Image for Wawan Kurn.
Author 25 books36 followers
August 6, 2016
Dengan SI yang telah dibangun serta sejumlah tulisan dan pidatonya, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari "Guru Para Pendiri Bangsa" ini. Salah satunya, bagaimana sikap beliau menentang feodalisme pada masanya.
Profile Image for Son.
30 reviews
June 4, 2013
Kemasan ringan tapi bobot sejarahnya sangat dalam. Beliau adalah guru para tokoh politik pra kemerdekaan
Displaying 1 - 30 of 32 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.