Perjalanan panjang Valadin mengumpulkan Relik Elemental selesai sudah. Berbekal kepingan-kepingan kekuatan Aether itu, Valadin menuju Laut Kematian untuk menyatukan ketujuh Relik. Tapi sebelum bisa melakukannya, masih ada SATU ujian terakhir. Ujian yang sangat berat, yang berakar dari sejarah kelam Benua Ther Melian.
Sementara itu, Vrey dan teman-temannya mendapat bantuan dari seorang wanita misterius, yang bukan hanya memiliki kekuatan sihir luar biasa, tapi juga mengetahui keberadaan para Aether dan masa lalu Benua Ther Melian. Dan berkat pertolongannya, Vrey berhasil menyusul Valadin.
Ketika potongan demi potongan kebenaran yang sesungguhnya terungkap, Vrey dan Valadin menyadari bahwa mereka terlibat begitu dalam dengan misteri yang menyelimuti PERMULAAN terciptanya dunia mereka, Terra! Dan saat sejarah berulang, perang besar pun menanti di depan mata. Dalam kisah penutup tetralogi Ther Melian ini, perjalanan nasib sekali lagi mempertemukan Vrey dan Valadin. Tapi kali ini keduanya mungkin tidak akan selamat sampai akhir...
Editor’s Note Akhir dari tetralogi Ther Melian. Semua pertanyaan terjawab tuntas di buku ini. Mulai dari sejarah awalnya terciptanya Terra, serta para Aether dan Relik Elemental mereka. Dan kisah ini akan mengajarkan pada kita betapa ketika sesuatu yang kita cintai terancam keberadaannya, seseorang akan rela berkorban apa pun untuk mencegah kebinasaannya.
Writing is her passion since elementary school. She’ve been writing short comics/ stories and sending them to tabloid/ magazine since high-school.
Her first book Past Promise was published by Elex Media Komputindo. It was the first comic made by young female artist that was published in Indonesia at that time.
YEAAAHHHH!! SELAMAT! Untuk novel fikfan Indonesia berseri yang PERTAMA KALINYA RILIS SAMPAI TAMAT!! \^0^/ Jadi, sesuai janji pada pengarang, saya akan langsung review karena sudah selesai baca.
Here be warned; SPOILER AHEAD! Continue at your own risk. I mean it! Anti-spoiler-trespassers will be shot Survivors will be shot AGAIN
Pertama-tama, saya akan berteriak seperti orang bodoh lagi, karena TEBAKAN SAYA TEPAAAAAAAAAAATT!!!
Oke, memang bukan 100% karena saya cuma Shiawase Takuhainin, bukan peramal, tapi setidaknya 80% ngena lah.
Valadin itu memang AHO! Dia KETIPU, saudara-saudara!! Ella is Nenek Lampir, literally, relics is fucking sheeps, the queen is a poor lady, and i got my ending. Dan yang paling mengejutkan, bahkan naluri saya saja tidak menduganya adalah asal-usul bangsa elvar! Man! Dalam mimpi pun nggak menduga mereka itu keturunan mayat hidup. Atau mereka malah mayat hidupnya ya? Whatever, yang jelas, ini...Nice surprise!!
Yah, Valadin sejujurnya nggak penting. Shocknya dia juga, aduh, dasar leader ababil, kemana aja loe. Keasyikan sama Mak Lampir kali ya :P Yang saya agak mengerutkan kening tanpa niat protes, kenapa Karth tampaknya oke saja dengan kenyataan bahwa mereka selama ini kena tipu, atau bahwa temennya bego, atau bahwa dia itu keturunan mayat hidup? Mungkin karena dia cuma mikirin kelincinya yah (Laruen)? Tapi bete dan depresi udah diambil sama Valadin dan fanboynya Eizen, jadi okelah. Lagipula, memang kadang ada kok orang yang tidak memikirkan hal-hal selain yang dianggapnya penting.
Satu lagi yang bikin saya gemas adalah Vrey yang..aduh, kalau sudah ada percintaan, kenapa dia jadi BODOH? Yaa, memang levelnya nggak separah yang satunya, tapi sejujurnya berulang kali saya tergoda sekali nendang dia. Leighton memang tetap saja kurang tegas, tapi setidaknya dia oke. Bicara soal Lei... Sayangnya dia kurang disorot di sini, padahal mestinya bisa jadi bagus kalau dia lebih banyak disorot waktu diskusi politik dimulai, karena saya sebenarnya menyayangkan Lei agak turun kerennya di buku 3, padahal di buku 2 (minus saat dia pundung dijauhi Vrey) dia perannya bagus. Yang saya cukup suka, walau mungkin akan malah dicela yang tidak suka, adalah bagaimana Vrey dan Lar akhirnya rujuk, dan bagaimana suasana ini tetap ditunjukkan setelahnya, ketika mereka dalam kondisi genting.
Mengenai Last Battle of Terra, saya skip saja karena sulit dijabarkan (baca; reviewer malas). Kembali, beberapa hasil sudah diprediksi di sini, seperti bahwa si Valadin kembali bertindak sesuai dugaan (hidup Naluri Gak Asik!), nasib Ella, dan...satu kejutan yang kurang saya suka adalah tindakan last boss yang bawa-bawa orang kalau mau mati.
Menjelang akhir buku...saya sudah hampir pesan tiket ke surabaya untuk cekik Shienny karena 'ending' yang OMGWTFBBQ itu....DAN UNTUNGNYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!! ................................. ........................... .................. ......... ... Tidak perlu terjadi, karena saya dapat ending yang saya suka! OH YEAAAHHHH!! Selamat pada PARA pengantin baru!!! ^o^/
Jadi, sekali lagi, selamat, Shienny. Terima kasih untuk kerja kerasnya, tapi saya harap jangan habis bensin sampai di sini. Saya menantikan karya anda yang selanjutnya!!! お疲れ様でしたー!
PS: Boleh bikin fic AFTER? Yang dengan ada BGM Here Comes Sexy! , tentunya ^____^ <-- NICE SMILE
Waktu terus berlalu.... Akhir dari Ther Melian: Genesis
**gubraaakkss** Apa-apan nih.... covernya menipu....mereka melewati SEMUAnya hanya untuk begini??!? *panik* Beneran??!? Abisss??! *balik halaman2* Eh ini gambar naga yg aku vote dulu, menang ya... ah gak penting... *gondok!* hmm... gambar Eizennya bagus juga.... *balik halaman* Glosarium..., g usah dibaca jg udah tahu.... *masih sebel!* Oh, itu namanya Dajhara ya....terserah deh... *balik halaman lagi, putus asa*
Ha.....??!? *tarik napassssss*
Ini spoiler, beneran---> <---
Bagian protes.... hal 226-228: Ayah dan ayah gak jadi ah, udah dibahas di ripiu yg lain.
hal 231: Sebenernya mau protes istilah "Nenek Lampir", tp stlh dipikir-pikir, istilah ini terlalu absurd, sangat lutju, amat pas dan INDONESA BANGED, hahahaha... gak jadi protes lah, malah ngasih djempol.
hal 268: "Kita berenam; Aku, Eizen, Karth, Laruen, Vrey, Rion dan Leighton...." (ehmm... perasaan ini hitungannya tujuh deh!)
Terus di bagian awal pertempuran udara, sampai , si Valadin kemana aja sih? Kok nggak ada nongol-nongolnya?
Satu lagi, AWAS, ini spoiler sekali ----> <----
Bagian fav, - waktu Lei nolongin Valdy dan bilang nggak perlu ada alasan untuk nolong orang (yeeiii... Lei!)
- waktu Valdy nyodorin tangan ke Lei dan bilang suatu kehormatan untuk bertempur bersama (yeeeiii.... Valdy!)
quote paling pas dan bikin ngakak, "Dan mereka bilang ini misi penyusupan." -Rion-
Villain of the Year: Valadin Illiyara *miss him already*
Akhir kata (ripiu apa rapat RT?!), puas baca TM. Kisahnya rumit dan berbelit, buuanyaak kejutan di bagian akhirnya, jalan ceritanya lancar dan nggak bertele-tele ato bikin bosen, karakter tokohnya juga berkesan. Dan yang paling penting beneran tamat dalam waktu yang telah ditentukan, juga nggak perlu lama-lama nunggu bukunya terbit (terbayang eragon/inheritance... oh nooo.....).
Aku dulu lumayan fobia terhadap FFDN *ditimpukin rame-rame sama para penghuni kastil fantasi*. Tapi sekarang sudah tersembuhkan berkat seri ini. Sungguh! ^_^
Puas. Empat buku, dieksekusi dengan bagus, kompleksitasnya menantang, karakterisasinya oke, emosinya dapet, ilustrasinya keren. Kurang apalagi, coba?
Hanya ada beberapa ganjalan minor subyektif di buku empat ini.
My favorite quote adalah adegan Rion merespon niat Eizen untuk meledakkan daemon dengan rolling eyes dan kalimat, "Dan kukira ini adalah misi penyusupan."
Tapi sebetulnya yang paling membuat poin saya 'cuma' empat bintang adalah ... karena prediksi-prediksi saya benar xP Yang salah cuma bagian akhir, kirain Vrey akan balik on time, gak taunya delay. So? Emang kenapa? Soale level kepenasaranannya jadi nggak setinggi tiga buku sebelumnya. Ini bukan kesalahan penulis, saudara-saudari, the blame is on me :D
Terakhir, buku yang bagus bagi saya ada dua: yang 'hanya' bagus saja, dan bagus yang menginspirasi. Dan Ther Melian adalah yang kedua ;)
Intinya saya suka dengan TM nomor genap. Mungkin karena genap berarti tuntas? Juga memang karena di nomor genap, "kebetulan" Shienny memasukkan adegan dan informasi yang berkesan. Seperti halnya di Chronicle ada Aelwen henshin jadi Leighton , di Genesis ini ada triple... No, kurasa ini quartal twist mengenai asal usul benua Ther Melian, khususnya bagian asal-usul para Elvar. . Nice shock therapy. :))
Bukan cuma shock therapy itu aja yang membuatku suka dengan volume ini. Semua karakter mendapat porsinya masing-masing. Harus kuakui, applause buat Shienny karena berhasil mengadakan jumlah karakter yang banyaknya agak kelewatan, tapi nyaris semuanya mendapatkan peran penting dan tak terkesan sampingan.
Lebih dalam mengenai karakter dan beberapa adegan. - Saya sebal dengan si ratu yang kerjanya minta maaf melulu kaya Pok Minah di Bajaj Bajuri. . - Lalu suka dengan akhir hubungan Vrey dan Laruen, - perkembangan hubungan Leighton dan Vrey , - hubungan Leighton dan sang ayah, sekaligus aksi suicide beliau, - pernyataan blak-blakan bahwa Eizen fanboy sejati. , - pembicaraan terakhir Valadin dan Vrey .
Adegan pertempurannya juga okeh. Biasanya saya suka meng-skip bagian beginian, tapi entah kenapa, adegan begituan di buku ini tak pantengi terus. Soalnya deskripsinya bikin mudah membayangkan, dan kupikir, ini epic! (Kurasa inilah keunggulan mengangkat tema yang familiar kek RPG).
Kendati begitu, ada yang pengen kubahas mengenai beberapa hal yang agak mengganjal. Yang mencegahku membulatkan nilai 4,5 untuk buku ini menjadi 5. :(
1. Aliran waktu kan dihentikan Odyss untuk mencegah kehancuran seluruh Terra gara-gara machina yang overload, tapi kenapa begitu aliran waktunya dijalankan kembali, kehancurannya ga berlanjut? Cuma kena daerah sekitar pulau melayang? Am I missing something here?
2. Kalau memang masalah dengan Theia itu, masalah untuk seluruh Terra, tentunya jangan hanya orang-orang Ther Melian aja yang harus bertarung. Kenapa ga ada usaha dari para petinggi Ther Melian menghubungi orang-orang di luar Ther Melian? Mereka kan orang Terra juga. Again, am I missing something here?
3. Sedikit typo soal kapitalisasi "ayah". Setahuku, "Ayah" sebagai panggilan harus huruf besar. Tetapi kalo "ayahku", adalah kata benda, jadi kalau bukan di awal kalimat, harus huruf kecil.
Terakhir soal ending. Maaf, subjektif. Gyaaa~ saya senang Valadin ga dibunuh Pengarang. Ketertarikan saya pada si bodoh satu ini yang udah dimulai di buku 3, makin bertambah di buku 4. Senang, dia ga dibunuh, tapi sebal karena dia berubah jadi Pok Minah extended version. Menghukum dirinya sendiri?? U gotta be kidding me! >o< Walaupun memang, bila dipikir-pikir lagi, ending ini cukup bagus. Siapa tahu nanti dia punya peran lain di serial Ther Melian Shienny berikutnya. Heheh...
Terakhir. Beneran ini yang terakhir. Ini cuma iseng. Ga usah dibuka tag spoilernya. Ga penting! XD
Sekian repiu saya. Diucapkan selamat buat Shienny karena telah menyelesaikan serial ini dengan tuntas dan cukup epic. Terima kasih juga, telah membuat saya bernostalgila akan masa-masa saya bergadang hanya untuk menamatkan sebuah game RPG. Karya-karya selanjutnya pasti kutunggu. Pasti! \(^o^)/
Saya tercengang, menganga dengan mulut lebar (lebay). Plot twist di buku keempat sekaligus buku terakhir dari seri Ther Melian ini bikin syok. Tapi dengan semua yang terjadi, cerita ini benar-benar menggambarkan dunia abu-abu. Semua tokohnya tidak ada yang seratus persen jahat. Mereka semua hanya berjuang demi kelangsungan hidup mereka masing-masing saja.
Dari awal, saya sudah menebak kalau Valadin pasti sudah melakukan kesalahan besar dengan mengumpulkan ketujuh Aether itu. Alasannya saya tidak tahu apa. Saya hanya menebak kalau mungkin kalau Aether itu dikumpulkan, dunia akan hancur karena tidak bisa menahan kedahsyatan kekuatan Aether tersebut.
Tidak terlalu meleset sih. Tapi ternyata ada yang lebih daripada itu. Ada seorang pengkhianat dari kelompok Valadin yang sejak awal memang ingin menyatukan ketujuh Aether. Untuk apa? Saya tidak bakal menceritakan bagian ini karena akan jauh lebih seru jika dibaca sendiri.
Semua kenyataan itu membuat Valadin terpuruk dan malu. Namun penyatuan tujuh Aether itu mengancam kehancuran Terra, dunia setting cerita di buku ini. Karena itulah manusia, Elvar, bangsa Draeg semuanya bersatu untuk bersama-sama mempertahankan kelangsungan tempat tinggal mereka. Peperangan pun tak terhindarkan. Dan saya harus memuji penulis yang telah berhasil menggambarkan adegan perang beserta aksi tokoh-tokohnya yang banyak itu dengan sangat luar biasa. Saya sampai tegang sendiri saking jelasnya adegan itu di kepala saya seakan saya juga ikut bersama Vrey dan yang lainnya berperang melawan para Aether.
Nah, saya ini iseng sih waktu mau baca buku ini. Saya buka dulu halaman terakhir jadi saya sudah tahu kejutan apa yang bakal saya temukan di endingnya. Memang sih dari cover terlihat kalau Vrey bakal jadian sama Pangeran Leighton. Hanya saja bagian epilognya sengaja dipisah supaya mengecohkan pembaca agar mengira kalau ceritanya itu sad ending. Dan yang bikin saya kesal adalah karena saya sudah tahu bakal ada pengkhianat karena saya membaca judul-judul bab terlebih dahulu. Ada satu bab berjudul "Musuh Dalam Selimut" dan saya langsung menebak kira-kira siapa pengkhianatnya, antara Eizen dan Ellanese. Hampir benar dan juga salah sih. Ah, kesal karena nggak jadi kejutan pas baca (salah sendiri karena kepo).
Dan tokoh kesukaanku mati. Huwaaaaa... kakek tua pemarahku yang jago banget itu mati.
Untuk Valadin, saya agak menyayangkan keputusannya untuk menghukum dirinya sendiri itu. Kesannya pengecut, namun justru itulah yang bikin saya merasa cerita ini perfect sekali. Saya kan memang suka cerita yang ada perpisahannya. Pas Valadin bilang ke Vrey, "Lupakan aku.", saya langsung memutuskan untuk kasih buku ini bintang lima. Eh, tapi sebenarnya saya memang sudah mau kasih bintang lima sejak awal. Saya itu paling suka sama sejarah. Waktu saya baca tentang awal pembentukan dunia Terra, saya sudah terpukau dan langsung nggak bisa berhenti baca sampai akhir.
Keren lah, pokoknya.
Terakhir, saya mau mengucapkan terima kasih buat Shienny M. S. karena sudah berhasil memberikan saya kesenangan membaca karangannya ini. Sampai pernah message di goodreads buat nawarin baca, saya jadi merasa terhormat sekali hehehehe... Anyway, terus menulis ya. Semoga cerita fantasi Indonesia bisa lebih maju lagi di masa depan! Yay!
This entire review has been hidden because of spoilers.
di review buku terakhir nih, aku bingung mau bikin apa. perasaan bercampur aduk dan binguung mau ngomongin yg mana.. mulai membahas tokoh-tokohnya di buku trakhir ini aja deh..
- vrey, walaupun dia bukan tokoh powerful, tapi tetap campur tangannya yang bahkan sbg seorang pencuri pun berguna banget di sini.
- valadin, whooa, seperti buku sebelumnya, dia udah gak jd favoritku sejak ambisinya yg menghancurkan orang-orang di sekitarnya. dan benar kan! untuk kesekian kalinya, dia diperalat. dan mungkin itu akhir yang pantas buatnya, tapi tetep aja emang aku orangnya pengen happy ending, cukup tertohok juga ngeliat valadin endingnya gt.
- leighton, slamat slamat! semua yang indah didapat leighton. tetapi dia harus kehilangan yang perih untuk mendapatkannya. si pangeran tampan yang berkontribusi dalam perang akhir sesuai statusnya.
- laruen, hmm, mungkin cuma di buku trakhir ini aku mulai memandang positif dia.
- karth, shazin, haha, trnyata memang sangat berguna kalau dia dijadiin temen.
- eizen, tetap semau-gue, dan punya akhir yang mengenaskan. sama seperti valadin, trnyata dia sempat dijadiin boneka juga dulu.
- ratu ratana, yehah! akhirnya sang ratu turun tangan! tetapi nggak nyangka semua ini bermula darinya dan keluarga kerajaannya.. sungguh malang kehilangan suami dan 7 putra-putrinya.
- putri ascha, walaupun dengan kondisinya yang kehilangan desna, dia tetap kuat memimpin pasukannya. gud job, putri! untung bukan tipe putri yang lemah, dan dia mendapat pengganti desna! yihhaa
- rion, hihi, jadi pengawal ya? :D
- ellanese, mungkin dia seorang nenek lampir, tapi trnyta dia cuma menjadi cangkang demon jahat. jadi entah mengapa, bukannya merasa kesal, aku justru kasihan ama dia.
terlalu banyak misteri dan rahasia masa lalu yang terungkap. sejarah bangsa aetheral dan para aether, dunia yang bernama terra dan theia, benua ther melian, relik elemental, dan Odyss. awalnya cukup membingungkan mikir yg mana cerita yg benar. soalnya para aether nyeritain ini, nah ratu ratana ceritanya berbeda pula, eh trnyta cerita sebenarnya keluar dr mulut yang jahat. nah, kebayang kan ternyata selama ini mereka semua, termasuk ratu ratana, ketipu?
pertempuran besar-besaran. dan kehilangan yang cukup besar juga. memang nggak salah leighton memilih menyerah, tetapi untung deeeh setelahnya ia nggak harus menyerah lagi. hehe
serius looh, aku sempat ketipu di endingnya! ini beneran ending kah? kok sedih? eh trnyataaa.... haha! mbak shieeeeennnyy.. gila deh, hampir copot jantung nih >.<
1 bintang untuk cover yg sangat bagus! 1 bintang untuk cerita yang membuatku terpana 3 bintang untuk seperempat bukut terakhir dan endingnya :D
Can't believe it. I could finish it in 2 days. Review will be later
Done with the second borrowed books!!! ****
Meski telat me-review, tapi saya harus me-review karena saya sudah menulis review kisah fantasy heboh ini sejak buku pertama. Ada semacam hutang yang harus saya bayar, apalagi penulisnya sudah 'bertamu' dua kali dimari.
Pertama saya mau mengucapkan selamat untuk Shienny yg sudah menyelesaikan tetralogy Ther Melian. Saya cukup beruntung sedikit telat mengikuti tetralogy ini sehingga saya tak perlu menunggu terlalu lama hingga serial ini tamat. Lebih beruntung lagi karena saya tak perlu membeli, karena ada teman baru gutrit yg berbaik hati memberi pinjaman. Thanks to Cyndi.
Kedua saya mau 'marah2' sama Shienny karena sudah memberi hint ending dengan siapa Vrey nanti bersanding karena sudah jelas di cover novel. Lega sih, tapi kan enakan disimpan sebagai rahasia, menebak nebak, deg2an siapa Prince Charmingnya Vrey. Tapi saya juga sebal sama Cindy yg dengan teganya memberi bocoran adanya epilog di belakang. Saya kan juga pengen merasakan sensasi yg dia rasakan ketika ending digantung, dijejali dengan gambar2 kartun tokoh2 Ther Melian. Baiklah. Ini mungkin semacam balas dendamnya Cindy ke saya karena membocorkan kalimat terakhir Mockingjay. Wkwkwk..
Berikutnya saya mau acung 2 jempol ke Shienny karena di buku ini semua pertanyaan terjawab, baik dari masing2 masa lalu para tokoh, sejarah terjadinya bumi Terra, dan ini yang membuat saya sedikit ngantuk dengan suguhan sejarah dunia Terra. Untungnya si pengarang piawai menulis hingga I didn't drop the book down.
Over all, saya bahagiaaaa dengan ending tetralogy ini. Sedikit kasian juga dengan takdir Valadin. Well, he deserves that dengan segala apa yang dia lakukan.
Puas rasanya selesai menulis review ini dengan ending yang menyenangkan pula. (btw susah bener nulis di touch screen dg qwerty mode).
Selamat, buku terakhir ini berhasil mencampur adukkan emosi, mulai dari terperangah (Melongo, 'Wow', terdiam sambil berfikir trus ngangguk-ngangguk dan sejuta mimik terkejut lainnya), geram dan marah (Rasanya pingin kali nyincang Velith, si wanita iblis itu, susah banget matinya) tentu saja ada bagian sedih DAN Bahagia... Horeee... Akhir yang sempurna untuk mereka semua...
Yup, buku terakhir ini mengungkap semuanya, memutar balikkan fakta dan menyajikan fakta yang lebih mengejutkan lagi...
Untuk Valadin, sebenarnya dia pria yang baik, setidaknya setelah membaca buku terakhir ini, aku jadi ga kesal dan ga pingin ngebejek dia lagi. Begitu juga untuk Laruan, sejujurnya dia bisa jadi saudara yang baik buat Vrey...
Pokoknya, ini ending yang menakjubkan dan selamat untuk Vrey serta Leighton, kalian memang pantas untuk bersama...
Well, selamat buat Shienny yang sukses dengan Ther Meliannya, seri yang bagus, ndak ada plot hole, nggak ada kisah yang ngegantung (eh , yang jelas puas bacanya deh.... Yang jelas, kisah ini berakhir bahagia, bencana yang akan menghancurkan Ther Melian berhasil diatasi, well sempat surprise
Buku terakhir dengan cover yang lebih cerah. Saya sih mengharapkan twist yang lebih dari apa yang saya bisa tebak. Ternyata tidak terlalu buruk, setidaknya pengharapan saya terhadap endingnya tidak terlalu mengecewakan. Tapi beneran saya penasaran Ellanesse setelah dari istana melayang kemana ya, kok Cuma tersisa Karth dan Lauren. Atau saya saja yang melompat-lompat bacanya. Oh iya hampir lupa. Ada part yang selalu sama di tiap bukunya. Semua diawali dengan sebuah flashback. menjadikan ciri khas
saya sebenarnya udah baca buku ini sejak 2 tahun lalu, dan belum lama ini saya membaca ulang semuanya. Kalau menurut pendapat saya, novel ini bisa dibilang sangat bagus! Saya suka gaya bahasanya yang tidak terlalu formal dan tidak terlalu gaul juga di saat bersamaan. Pendeskripsian perangnya itu kalau menurut saya jg bagus kok, tidak terlalu rumit dan bisa dibayangkan dengan mudah. Kekurangannya mungkin hanya satu, yaitu typo. Untuk masalah nama tempat, saya tidak begitu mempermasalahkannya. Bisa membuat peta dunia buatan sendiri saja bagi saya sudah hebat sekali.
Selamat untuk Shienny yang sudah menyelesaikan tetralogi Ther Melian ini! Di antara begitu banyaknya fiksi fantasi Indonesia yang menjanjikan sekuel namun sampai akhir nggak pernah keluar yang namanya sekuel tersebut, hal ini jelas merupakan pencapaian tersendiri. Sampai sejauh ini, baru Shienny dan seorang penulis lain yang berhasil melakukannya. So, kudos to you!
Mengenai buku ini sendiri, buatku lebih baik dari buku ketiganya (yang membuat kenikmatan membacaku berkali-kali kesandung dan sempat juga terjun bebas) dalam artian kenikmatan membacaku cukup terjaga sampai akhir cerita. Namun masih ada beberapa hal yang cukup menganggu kelancaranku membaca dan mencegahku memberikan bintang lebih bagi cerita ini.
Pertama, gaya bahasanya yang terlihat jelas seperti terjemahan dari bahasa Inggris. Ini sebenarnya sudah terlihat dari buku pertamanya. Mungkin bagi sebagian orang hal ini adalah sesuatu yang bagus, bisa membuat buku ini terkesan seperti buatan penulis luar negeri yang lalu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Tapi buatku, ini malah jadi poin minus, karena kalimat-kalimat ala terjemahan tersebut bisa kok dituliskan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar tanpa kehilangan "rasa"nya.
Contoh, di hal 63 Ratu Ratana berkata "Kalau saya boleh."
Itu jelas-jelas merupakan terjemahan langsung dari "If I may?". Kenapa juga nggak dituliskan sebagai "Bolehkah saya mencoba?" yang menurutku lebih berbahasa Indonesia daripada "Kalau saya boleh."?
Dan masih banyak lagi contoh-contoh seperti ini. Silakan dilihat dan dicari sendiri.
Aku ngerti kalau cerita ini awalnya memang ditulis dalam bahasa Inggris dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Tapi sebenarnya bisa saja kan penulisannya diperbaiki agar betul-betul terasa menggunakan bahasa Indonesia, alih-alih sekedar bahasa Indonesia terjemahan?
Kedua, di buku ini masih ada beberapa salah ketik yang cukup menganggu mata. Aku nggak akan membahasnya lagi, karena sudah banyak reviewer lain yang membahas hal ini.
Ketiga, ada satu pilihan kata penulis yang membuatku nyaris ketawa ngakak. Di hal. 283 tertulis "...Hari sudah menjelang siang, tapi segalanya terlihat gelap seolah baru menjelang subuh."
Menjelang subuh? Seriously? Subuh itu istilah dari kaum muslim. Memangnya ada kaum muslim di Ther Melian, sehingga istilah subuh jadi sesuatu yang biasa digunakan? Jawabannya: nggak. Jadi seharusnya lebih masuk akal kalau ditulis: "...Hari sudah menjelang siang, tapi segalanya terlihat gelap seolah baru menjelang fajar."
Keempat, lagi-lagi logika cerita di kisah ini banyak yang tidak sesuai, atau ada detil-detil yang tidak sesuai dengan apa yang pernah dituliskan di buku-buku sebelumnya.
Di hal. 3 dituliskan "...Deburan ombak yang pecah di bibir pantai beserta pekikan burung camar di kejauhan mengisi telinga Valadin. Angin yang berhembus dari lautan membawa aroma garam yang terasa asing baginya."
Aroma garam asing bagi Valadin? Seingatku, di buku 1 digambarkan kalau Valadin adalah Gardian Templia Voltress, yang notabene terletak di Kuburan Kapal, yang jelas-jelas terletak di lautan. Yang jelas-jelas berarti kalau Valadin seharusnya sudah amat sangat familiar dengan bau garam dari lautan.
Apa dalam jangka waktu tiga buku Valadin mendadak amnesia mengenai hal ini? Atau penulisnya saja yang nggak ingat soal detil ini?
Di hal. 239 dituliskan "...Vrey berdecak kagum melihat hamparan karpet rumput, pohon jeruk yang tumbuh subur di halaman, dan kolam air mancur yang berbuih." Sebenernya nggak ada yang salah dalam hal ini, kalau saja saat itu keadaan Ther Melian tidak sedang ditutupi kabut yang amat tebal. Hal ini dipertegas di hal 237, "...Jendela-jendela kayu berukir berjajar di kedua sisi koridor, menampilkan pemandangan kelabu; kebun luas yang diselimuti kabut..."
Jadi, di hal. 237 Vrey melihat keadaan di luar diselimuti kabut, tapi kemudian 2 halaman berikutnya kabut itu sudah hilang sehingga Vrey bisa melihat rumput, pohon jeruk, dan kolam air mancur. Hebat.
Di hal. 426 dituliskan kalau benua melayang yang sudah kehilangan kekuatannya berhenti di udara sebelum memulai proses jatuh yang amat kencang. Menurutku, sesuatu yang jatuh dari udara itu nggak serta-merta bisa jatuh dengan amat kencang, apalagi benda sebesar benua melayang. Biasanya benda itu akan terus melayang sampai momentum lajunya habis, barulah jatuh. Awalnya pelan-pelan dulu, baru lama-kelamaan semakin cepat karena semakin dipengaruhi gaya gravitasi. Bahkan bola pun kalau dilempar ke udara pasti akan ada saat berhenti dulu, jatuh pelan-pelan, barulah semakin cepat.
Terus, yang paling membuatku ketawa adalah bagaimana di cerita dituliskan kalau jalan menuju pusat istana Ther Melian adalah lewat menara ZELBIELL, tapi kalau di peta di awal buku dituliskan nama menaranya adalah menara BABIL.
Aku memang pembaca kisah fantasi yang memperhatikan peta. Aku suka ngebayangin bagaimana para tokoh cerita fantasi bergerak dari satu tempat ke tempat lain melalui peta tersebut. Makanya aku nyadar soal kesalahan ini.
Jadi, ini beneran penulisnya amnesia atau gimana ya?
Kelima, terus terang ada beberapa hal di cerita ini yang menurutku aneh. Salah satunya adalah
Salah duanya,
Keenam, aku sangat menyayangkan bagaimana informasi soal Odyss, yang sebenernya sangat penting, hanya disebut sekilas di buku kedua. Aku sendiri baru inget kapan Odyss ini disebut waktu di buku ini ada yang berkata kalau Odyss itu terlihat di kapel Granville. Seperti yang sudah kutulis di review buku ketiga Ther Melian, katanya manusia itu memuja Odyss. Tapi mana buktinya? Apakah adanya kapel Odyss cukup untuk menunjukkan kalau manusia menyembah Odyss?
Penggambaran penyembahan Odyss di buku ini persis seperti fenomena orang yang menyebut diri beragama tapi nggak pernah beribadah menurut agamanya itu. Kita menyebutnya agama KTP, alias agamanya cuma dinyatakan di KTP doang tapi nggak pernah diimplementasikan. Dan masyarakat yang kayak gitu digambarkan shocked waktu tahu Odyss itu bukan dewa? Nggak ngaruh kali, lah wong Odyss nya aja nggak pernah disembah, cuma dibikinin kapel doang.
Terakhir, aku mau mengomentari mengenai perangnya. Penggambarannya sudah oke, walaupun memang terlihat seperti CGI pertempuran ala game RPG. Tapi tetep oke kok. Yang sangat kusayangkan adalah ketiadaan emosi dalam penggambaran perang tersebut. Perang adalah sesuatu yang amat sangat emosional. Berbagai macam emosi bisa terlibat di sana, emosi para prajurit, emosi para tokoh utama, emosi para jendralnya. Dan semua emosi ini, jika dituliskan dengan tepat dan terampil, akan membawa pembaca hanyut dalam suasana perang tersebut, seakan-akan pembaca betul-betul ada di sana.
Namun yang terjadi di buku ini hanyalah penggambaran siapa sedang menyerang siapa, jurus apa yang digunakan, lalu jurus balasan apa yang diluncurkan. Persis kayak komentator sepak bola: “Bola dibawa oleh Vrey ke sisi kiri lapangan. Namun dihadang saja oleh Naga Indigo! Vrey segera mengoper ke Leighton! Leighton terus maju! Melewati penjaga gawang! Dan GOL!”
Bahkan komentator sepak bola pun lebih ada emosinya ketimbang penggambaran perang di buku ini.
Yah, terlepas dari semua kekurangannya, cerita Ther Melian ini jelas menghibur, dan sudah menemaniku selama setahun terakhir. Jadi, terima kasih banyak kepada Shienny yang sudah berbagi kisah ini denganku. Kutunggu karya-karyamu berikutnya, yang mudah-mudahan lebih baik lagi dari Ther Melian ini.
Pertama2, sebelum membuli2 penulis dan seisi bukunya, ijinkan saya mengucapkan selamat karena Ther Melian--sepanjang pengetahuan saya, jadi CMIIW--adalah novel genre fiksi-fantasi lokal pertama yang menjanjikan tetralogi dan sukses memenuhi janji tersebut! Posisi kedua disusul oleh Xar&Vichattan, tapi kayaknya saya udah mengucapkan selamat di review Xar&Vichattan 3 kemarin. (ntar dicek lagi deh)
Seperti--mungkin ada yang memperhatikan update progress Goodreads saya membaca novel ini--yang telah saya katakan, komposisi buku pamungkas dari tetralogi Ther Melian ini adalah 40% galau, 40% cerita sejarah masa lalu dan bohong (bukan saya atau penulis yang bohong, itu karakternya ada satu kok suka bohong sih, heran hidungnya belum panjang si Ratu~) dan 20% lagi final battle, termasuk di dalamnya final battle preparation.
Kita bahas bagian galaunya dulu.
Rupanya protagonis sedang galau di buku keempat ini. Kalo boleh digambarkan dengan lebay sih, kira2 dia galaunya begini: "Aduh, saya suka sama dia, tapi dia pangeran. Tapi suka. Tapi beda status. Tapi susah ngelupain dia. Tapi ntar jadi gak fokus sama misi. Tapi ..." Lanjutkan sampe tak hingga, silakan. :))
Yaa, romance yang diangkat di buku ini adalah antara dua karakter beda status, yang satu pangeran, yang satu lagi pencuri. (Gak ada yg menyalahkan kalo tiba2 ada yg teringat cerita Disney's Aladdin ato Final Fantasy IX, lagian cinta beda status banyak juga kan di cerita lain?) Galaunya itu, kalo saya boleh bilang, ngabisin lumayan banyak halaman nih. Menurut saya sih harusnya bisa dipadatkan sedemikian rupa supaya nuansa galau tetap kena (dasar generasi galau saya ini, galau kok dipiara sih) tapi juga nggak ngabis2in halaman sampe segitunya.
Lanjut ke bagian cerita sejarah masa lalu.
Buanyak. Banget. Dibahas di buku keempat ini. Whew. Bukunya sendiri dibuka dengan big bang theory (yang bukan acara lawak sitkom, tapi teori terbentuknya Bumi) versi dunia Ther Melian, dilanjutkan dengan banyaknya sejarah yang terkuak dengan munculnya seorang karakter yang super tua banget dan tahu nyaris segalanya (tap doi cakep lho gitu2 juga). Tumpah blegh deh itu semua sejarahnya.
Bagian sini agak sulit dikomentari karena memang hanya si karakter tersebut yang tahu dan dia baru muncul di buku keempat ini. Wajar jadinya semua baru dijabarin di buku keempat ini. Agak brutal sih jadinya penjelasannya numpuk di buku keempat ini, tapi saya susah protes juga karena keputusan si penulis mengarahkan plotnya begini dan mengeluarkan si karakter di buku keempat.
Lanjut ke final battle.
Saya suka adegan perangnya. :D
TAPI!
*pasang SFX seram ah biar bikin sebel*
Tapi meskipun final battle-nya (pake armada kapal udara dong ini perang, mantep lah :))) oke punya, ada beberapa hal yang perlu saya komentari.
Pertama, makhluk2 yg dilawan oleh armada kapal udara kadang memberikan kesan "terhenti" sejenak waktu salah satu atau salah dua sedang beraksi. Timbul pertanyaan~! Apakah memang sebenarnya status kekuatan makhluk2 itu terlalu imba dibandingkan armada kapal udara makanya kadang makhluk2 itu suka distop sebagian serangannya sementara yang lain mengobrak abrik jajaran kapal udara? Atau apakah memang pengendali makhluk2 itu butuh kendali total atas mereka sehingga susah fokusnya? (Kalaupun yg terjadi adalah poin kedua, maka seharusnya makhluk yang kesannya lagi bengong itu bisa dibombardir oleh armada kapal, menurut saya)
Kedua, komunikasi antara kapal udara menggunakan komunikator atau isyarat bendera, menurut yang ditulis di buku.
Saya akan merekomendasikan penulis untuk nonton anime Last Exile: Fam The Silver Wing.
Mau tahu kenapa?
Karena saya bertanya2 gimana cara ngeliat bendera, misalnya situasi berkabut atau mereka ada di ketinggian yang sama dengan awan atau kalau lagi rusuh sehingga sulit melihat.
Jawabannya: isyarat yang seharusnya dipakai adalah isyarat lampu. Cahaya lebih terlihat di dalam situasi berkabut atau berawan ketimbang bendera.
Tapi terlepas dari itu, overall final battlenya mantap, rawr~ Cuma keseringan srudak sruduk aja sih itu kapal2 udara.
Sekarang, kita buli2 karakter.
Saya prihatin abis sama Feyn (diperkenalkan di buku 3) dan Rion (diperkenalkan di buku 1).
Gara2 kedatangan karakter lain yang lebih utama, peran mereka dan beberapa karakter lain jadi nyaris rata sama tanah gak kentara gitu. :)) Feyn akhirnya cuma jadi pilot, Rion akhirnya cuma jadi penunjuk jalan. Masih agak mending Putri Ashca dapat peran jadi salah satu komandan armada kapal udara.
Panahnya Rion yang udah dimodif ama si Putri Ashca itu bentuknya gimana, btw? Soalnya kok rada gak masuk aja di saya kalo di ujung panah digantungin botol2 atau sesuatu yang diisi cairan (kesan dari tulisannya gitu) karena itu membuat titik berat anak panah jadi berat di depan dan si panah bisa2 ngglosor di tanah sblm mencapai sasaran dan si pemanah terpaksa mengubah cara menembaknya (yang mana diperlukan beberapa kali gagal sampai dia menemukan sudut yang pas). Beda kalau mata panahnya yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi mata panah khusus yang dibuat secara alkimia.
Untuk mata panah modif, saya merujuk pada game Thief, kebetulan saya pernah memainkan Thief II di mana untuk bersembunyi dibutuhkan bayangan, bayangan dapat timbul ketika obor dimatikan, dan obor dapat dimatikan dengan menembakkan sejenis anak panah tertentu ke arah obor tersebut. Di sana, mata panah si protagonis yang memang terbuat dari material tidak biasa makanya bisa begitu. Bukan karena digantungin botol ramuan.
Vrey galau, saya gak mau bikin dia tambah galau dengan membuli2 dia.
Valadin, nah, kalo buat dia saya punya rada banyak komentar.
Saya baru sadar kalau saya kenal beberapa karakter lain yang statusnya seperti dia. Dari yang tadinya "white knight"/"paladin" lalu beralih menjadi "dark knight".
Melihat begini saya jadi khawatir tren pindah kubu dari paladin jadi dark knight ini bakalan jadi klise.
Dulu saya seorang paladin tapi setelah berobat ke klinik Tong Fang, saya jadi dark knight. Terima kasih klinik Tong Fang!
...
Kemudian saya bingung mau komentar apa satu persatu tentang karakternya. orz
Jadi, gimana yah, di buku keempat ini karena situasi rusuh dengan banyak sisipan penjelasan ini-itu mengenai sejarah dan fakta2 yang tersembunyi, karakter2nya jadi tenggelam. Masing-masing, selain Vrey, Valadin, Leighton, jadi kurang terekspos. Ini diperparah dengan kedatangan karakter2 baru seperti Raja Batzorig dan 1-2 karakter lainnya (yang saya tak bersusah payah mengingat namanya karena waktu perang pun gak mengatakan sesuatu yg remarkable, ikutan aja nggak krn harus jaga kota sendiri).
Waktu fokusnya balik lagi ke kelompok kecil penyusup, baru deh peran masing2 karakter kerasa lagi.
Beralih ke plot, rawr.
Plotnya ... whew. Ada twist luar biasa~ Biarpun saya rada bosan ama cerita2nya si Ratu Ratana Hidung Panjang Tukang Bo'ong Kalo Kamu Gak Berbuat Begitu Gak Akan Jadi Gini tapi beberapa penguakan faktanya itu buat saya luar biasa. Luar biasa tak terduga. Beneran.
Ada beberapa plot hole sebenarnya, tentang beberapa tindakan yang diambil sang Ratu (lagi2 salahnya dia, yep).
Lalu Deus ex Machina di akhir cerita yang sebenarnya agak kurang jelas.
Hum, yah. Tapi terlepas dari semua flaw yang saya dapati, gaya bahasa, ilustrasi, plot, karakter, dari novel ini terkomposisi menjadi sesuatu yang enjoyable. Sangat enjoyable. Rawr. Dan sebuah penutup yang luar biasa.
Terima kasih pada penulis yang menyelesaikan karyanya hingga akhir dan terima kasih juga pada Elex yang menerbitkan semuanya sampai tamat.
Vonis 4/5 bintang untuk buku terakhir Ther Melian ini, rawr. :D
1. Apa rencana berikutnya Vrey dan Lei setelah gagal total mencegah kelompok Valadin mendapatkan relik elemental?
2. Apa sebenarnya rahasia sword Zward Eldrich dan kaitannya dengan Odyss?
3. Apa sih sebenarnya rahasia kelam Ther Melian ?
4. Berhasil tidak Valadin mencapai impiannya agar bangsa Elvar bisa kembali berjaya dengan menggunakan 7 relik elemental?
5. Terus bagaimana hubungan beda status Vrey dan Lei?
Inti cerita dari Genesis : Semuanya tentang kebohongan.
Kesan saya :
Sejujurnya membaca Genesis rada melelahkan, karena buku ke-4 seri TM ini penjelasannya banyak banget dan pace-nya juga cepat ampe ngos-ngosan ngikutinnya. Mulai dari rahasia kelam Ther Melian, Odyss, terus Aether, bangsa Elvar dan belum lagi plot twist mengenai villainnya yang ternyata adalah...... Genesis adalah rangkuman jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dari 3 buku sebelumnya dikumpulkan dan dijawab dalam buku ke-4 ini. Kalau dibuku sebelumnya pembagian porsinya lebih banyak di battle maka di Genesis lebih banyak di explanation.
Terus yang mulia RR (selanjutnya saya singkat YMRR), mengapa baru muncul di buku ke 4? jadinya kesan plot device-nya terasa sangat kentara dan boleh dibilang YMRR ini jadi tokoh utama di Genesis. Baca Genesis juga ingetin saya sama game Suikoden dimana semua tokoh-tokoh yang tadinya saling berprasangka dan saling tidak percaya jadi bersatu dengan tujuan yang sama yaitu save the world (oke, mungkin terdengar klise bagi yang terbiasa main game RPG , tapi bagi pembaca non-gamer it's a decent storyline). Bahkan sebelum menyerang pertahanan akhir musuh, para heroes harus melakukan world map battle dulu (It's felt like Suikoden series, BTW Suikoden is one of my all time classic RPG)
Nah sekarang comments on characters session :
Hanya ada 3 karakter yang perannya benar-benar ditonjolkan dalam Genesis, mereka adalah YMRR, Vrey dan Valadin, yang sayangnya mengakibatkan karakter-karakter lain jadi terpinggirkan, misalnya Lei, Feyn, Rion, Ascha. Tapi sejak Revelation, memang tokoh utama sudah di plot Vrey dan Valadin, hanya saja seiring perkembangan cerita banyak peran utama yang bergeser.
Untuk akhir Valadin dkk sendiri, menurut saya sudah pas, they got what they deserved, meskipun untuk 1 karakter, sepertinya plotnya dibuat menjadi terlalu nobel setelah semua perbuatannya (saya tidak bicara soal memaafkan dan penebusan, saya bicara soal karmanya karakter tersebut) tapi mengingat cerita ini sendiri terinspirasi dari element-element game RPG, jadi mungkin pengarang membuat segala sesuatunya lebih mudah diterima, seperti halnya cerita dalam pakem video games.
terus YMMR
Oke, sekarang hal apa yang saya harapkan dari sebuah cerita fantasy yang terinspirasi dari element-element games RPG, yaitu unsur manusiawi karena bagaimana pun tetap ada perbedaan besar antara game dan novel yang sama-sama memakai unsur RPG. Dalam novel saya mengharapkan cerita yang lebih manusiawi. Sampai saat ini saya masih tidak tau latar belakang Karth selain daripada dia seorang Shazin. Apa yang membuatnya menjadi Shazin? apakah Karth yatim piatu? Tidak pernah ada pembahasan sama sekali mengenai latar belakangnya, begitu pula dengan Eizen, apa yang membuat dia menjadi magus yang sangat terobsesi pada kekuatan, apakah Eizen punya keluarga yang masih hidup? Lalu Ellanese, kisahnya hanya diceritakan dalam sebaris kalimat, tanpa penjelasan lebih lanjut bagaimana dia bisa sampai jatuh seperti itu? Begitu pula dengan putri Ascha, meskipun hanya karakter pendukung, mengapa dia dikisahkan selalu berjuang sendiri, bukankah Ascha mempunyai banyak saudara? Apa saudara-saudarinya tidak ada yang cemas? Meskipun fokus utama storyline lebih tentang quest relik elemental, tapi tidak ada salahnya kalau setiap karakter diberi sedikit kisah. Memang ada kisah, tapi lebih banyak tentang Vrey dan Valadin yang menurut saya secara karakter sangat tipikal (sorry buat fans Valadin dan Vrey), karakter Eizen dan Laruen menurut saya pribadi lebih menarik, terlepas dari ideologi dan pemahaman mereka.
Penjelasan latar belakang menurut saya adalah sesuatu yang sangat manusiawi dalam sebuah cerita, asal jangan berlebihan, bahkan dalam Harry Potter, pemeran pendukung juga mendapat kisah mereka masing-masing, mulai dari Dumbledore, Snape, Luna Lovegood, Neville Longbottom, Sirius Black hingga kau-tau-siapa, saya tidak ada maksud membandingkan dengan HP, itu hanya sekedar contoh. Saya tidak tau apakah pengarang bermaksud membuat kisah tambahan para karakter lain lewat kumcer, namun akan jauh lebih baik bila dijabarkan dalam seri cerita utama. Tapi satu hal yang saya suka di buku ini adalah interaksi antar karakter, salah satunya interaksi Laruen dan Vrey (terasa sangat manusiawi), udah ah dari tadi manusiawi terus.
O ya ada satu yang mengganjal saya mengenai : Elvar
Ther Melian
Akhir kata, saya memberikan tepuk tangan pada pengarang yang telah sukses menuntaskan dan menerbitkan 4 seri buku ini. Bukan pekerjaan mudah, apalagi pengarang sepertinya wanita multitasking, good job sis
Genesis adalah buku terakhir sekaligus penutup dari tetralogi Ther Melian.
Di buku penutup saga Ther Melian ini, plot-nya cukup padat dan semua masalah yang ada di buku-buku sebelumnya akhirnya dapat terselesaikan dengan tuntas. Twist tentang keturunan Elvar dan penghianatan major mungkin merupakan highlight dari buku keempat ini, yang jujur, nggak aku duga-duga sih bakal begitu.
Satu-satunya hal yang buat aku kurang nyaman baca seri ini (selain typo-nya), adalah penulisan adegan pertarungan yang dieksekusi dengan kurang baik. Kak Shienny lebih sering menggunakan gaya 'tell' daripada 'show'. Udah itu aja. Tapi menurutku itu major, karena basically, seri ini banyak adegan pertarungannya.
Terakhir, ending. Wah, kalau boleh jujur, ending awal bakal lebih keren dan realistis sih. But I also like the epilogue version of ending.
Overall, Ther Melian adalah tetralogi fantasi karya penulis dalam negeri yang pantas untuk diikuti. Aku cukup puas setelah menyelesaikan buku ini. Kudos to Kak Shienny!
This entire review has been hidden because of spoilers.
jujur iya mbak bukunya pada keren dan menarik penuh petualang dari awal sampai vol ke 4 ganesis sungguh bikin penasaran, dari pagi sampai malam, bangun pagi sampai sore bacanya eh ending nya bikin kecewa kok gak bersama ? udah penasaran banget tau nya ending gini , langsung google cari di internet hahahah ternyata gak ada, buka lagi vol ke 4 nya dilihat lagi daftar isinya , dan bertanya apa ini ? kulihat epilog nya,, langsung sikat baca lagi , dan rasa sedih,penasaran,kecewa bertukar dengan kelegaan dan kesenangan tersendiri , emang sih vrey pantas bersama leighton
This entire review has been hidden because of spoilers.
Secara garis besar reviewku tentang buku ini akan sama seperti buku sebelumnya di seri ini. Hanya saja, dari segi plot cerita menurutku buku ini agak lebih kompleks dan jadinya lebih seru.
Okay, sebelum aku cerita kenapa aku sampai jedot-jedot kepala, mari melihat sisi positif dari buku ini.
Pada buku#4 ini bercerita tentang pertempuran semua banggsa Terra yang bersatu melawan Theia.
Ceritanya sangat seru dan menarik, lebih menarik dari buku sebelumnya. Semua tanda tanya dan awal mula relik elemental terjawab di buku ini. Membuat hati berdebar-debar karena ingin mengetahui akhir dari ceritanya dan karena banyak kejutan di sana sini. Apalagi pas pertempuran di udara dan pas perkelahian Vrey dengan Vellit yang ternyata tujuan Vrey adalah mencuri pedangnya. Itu keren sekali, karena di luar dugaan. Untuk kali ini tidak ada cerita yang bertele-tele seperti di buku sebelumnya.
Dan sempat ketipu dengan endingnya yang ngegantung, dan ternyata masih ada epilog di belakang setelah gambar-gambar dan glosarium.
Dan sekarang, waktunya berkeluh kesah.
1. Hal. 268. serpertinya salah menghitung. " jadi biar kusimpulkan lagi. Kita berenam: Aku, Eizen, Karth, Laruen, Vrey dan Leighton.... ha!!! bukannya ini tujuh T__T
2. Pada glosarium dijelaskan: Terra: Dunia Terra terdiri dari beberapa benua. Antara lain: Benua Ther Melian, benua tropis kecil yang terletak tepat di tengah khatulistiwa. Benua Barat, benua hijau yang terletak di sisi barat khatulistiwa. Benua Timur, benua kecil yang terdiri dari bukit pasir dan padang tandus. Benua utara, benua besar yang terletak dari belahan utara Terra yang tertutup salju.
Yang jadi pertanyaan adalah: kalau ini adalah masalah Terra, kenapa yang berjuang melawan Theia hanya orang-orang dari benua Ther Melian saja? Apa benua yang lain tidak berpenghuni? Kalau memang tidak berpenghuni kenapa tidak ada penjelasan baik di glosarium ataupun diceritanya?
3. Istilah nenek lampir. Maaf, aku gak setuju istilah ini digunakan untuk menghina Ellenase/Vellit. Bukannya aku fans beratnya, tapi rasanya kurang pas saja. Julukan ini terkesan seakan dipaksakan. Seperti yang kita ketahui, nenek lampir adalah salah satu tokoh dalam sandiwara radio terkenal pada jamannya yaitu Tutur Tinular. Dan nenek lampir di buku ini entah mengacu kepada siapa? karena di buku-buku sebelumnya juga tidak dijelaskan siapa nenek lampir ini. Apakah dia salah satu daemon atau penulis hanya meminjam namanya saja yang tetap mengaju pada nenek lampir di Tutur Tinular. Bahkan julukan Eizen untuk Vellit "iblis betina" dan "wanita jalang" masih lebih tepat digunakan dari pada nenek lampir. Jadi, sekali lagi, julukan ini terkesan sangat dipaksakan.
4. Ketika Valadin dan Vrey terjebak di dunia kehampaan. Untuk membuat portal agar kembali ke dunia Terra, Valadin menggambar rune di atas tanah dengan menggunakan darah yang berasal dari ujung jarinya yang sengaja dia gigit. Seriously? Sengaja digigit hanya untuk mengeluarkan darah untuk menulis di atas tanah? Tanah loh. Seingat aku, untuk menulis di atas tanah tak perlu harus menggunakan darah kan? pakai jari tangan aja juga bisa. Dan toh gambar runenya juga tidak harus menggunakan darah kan? Adegan ini yang menurutku sangat lebay.
5. Endingnya. Kenapa? Kok aku berasa seperti nonton sinetron. hahaha.....*guling-guling*
Yeah akhirnya saya menyelesaikan juga tetralogi Ther Melian ini. Mulai baca Revelation pada April dan setelah 3 bulan yang terasa selamanya, akhirnya tuntas juga :D
Kali ini Valadin dkk akhirnya mempelajari sejarah terbentuknya Ther Melian, serta asal-usul bangsa Elvar, Draeg, dan juga Manusia. Setelah suatu kejadian kunci yang membongkar wujud asli relik elemental, Valadin dkk akhirnya bergabung dengan Vrey dan teman-temannya untuk menumpas musuh yang sesungguhnya. Perang besar pun pecah. Tiga bangsa bersatu untuk menyelamatkan dunia mereka dari ancaman kehancuran.
Akhir perjalanan Ther Melian ini bisa saya bilang sangat memuaskan. Masalah-masalah yang ada ditangani dengan baik dan rahasia-rahasia yang tersimpan akhirnya terkuak. Twist berkali-kali pada novel ke-4 ini juga tidak terasa dipaksakan. Cuma beberapa twist emang udah ketebak sih.
Pertarungan terakhir Terra juga bisa kubilang termasuk epik. Aksi non stop dan pertarungan yang disajikan memuaskan. Akhir cerita Ther Melian juga memuaskan. Cuma kok ada bagian yang gantung yah di sisi Valadin. Apa sengaja dibuat begitu sebagai potensi sekuel?
Cover buku terakhir ini T-O-P-B-G-T. Saya suka dengan komposisi warnanya dan juga pose Vrey dan Leighton. Cuma melihat Vrey, saya merasa bentuk badannya kok agak aneh yah. Entah mengapa dia terkesan gendut di sini :| Saya kurang tahu apa karena posenya atau karena model bajunya (yang ketika saya lihat awalnya saya pikir itu semacam rok hanbok loh :|).
Di buku kali ini juga ada sedikit typo. Di halaman 206 ada kata "Jadi" yang terketik "Jad" dan karena muncul pada dialog, saya sempat terhenti lama dan mikir, memangnya ada karakter dengan nama Jad? Jade begitu atau Jadadiah? Terus di halaman 333 ada kata "para" yang seharusnya "pada".
WARNING: Review ini mungkin mengandung spoiler; terutama bagi yang belum membaca buku ketiga. Tapi aku mengusahakan spoiler sesedikit mungkin :) ------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Kadang kita lupa betapa mudahnya jatuh dalam kesalahan akibat kesombongan dan perasaan bahwa kitalah yang paling benar. Tapi kali ini, kita tidak bertarung untuk alasan itu. Kali ini kita bertarung demi hak hidup bagi seluruh Manusia."
Setelah sebelumnya Valadin dan kawan-kawan telah berhasil mendapatkan 7 Relik Elemental, ia harus menemukan Relik sesungguhnya yang terletak jauh di pusat Istana Ther Melian; benua melayang legendaris yang telah lenyap karena bencana yang dahsyat. Untuk bisa menemukan Istana Ther Melian tersebut, mereka harus terlebih dahulu mengalahkan Odyss, Magus Kerajaan Bangsa Aetheral yang berusaha untuk mencegah bencana dahsyat untuk dengan Mantra Waktu. Satu-satunya senjata yang dapat mengalahkan Odyss hanyalah Zward Eldrich; pedang dengan aura gelap yang selama ini menjadi milik Valadin....
Akhirnya petualangan kedua kubu berakhir di buku keempat ini. Saya tidak bisa tidak teringat sebuah quote dari kisah lain ketika membaca bagian yang paling mengejutkan dari buku keempat ini;
The dream ends There can be no growth without suffering No future without sacrifice And... No dream without end
Rasanya seluruh saga Ther Melian ini sudah diwakili oleh quote di atas. Apakah itu jelek? Setidaknya bagi saya tidak demikian.
Klise, tertebak, tapi tetap memberikan kejutan tidak terduga. Akhir yang tertebak ini juga cukup bagus bagi saya (tidak WOW karena cover telah menunjukkan ending yang sesungguhnya, bukan versi trap yang disediakan pengarang di akhir buku). Kalaupun ada keluhan, saya hanya menyayangkan ilustrasi yang menurut saya - sejak buku 1 - ekspresi karakternya DATAR. Sedangkan dari segi cerita, saya harus mengakui, tindakan terakhir Valadin di akhir buku malah menurunkan penilaian saya terhadapnya (karena itu bukan penebusan, tapi PELARIAN, IMHO).
Ada banyak yang saya rasa kurang, tapi banyak pula yang menghibur saya - dalam arti positif - sepanjang keempat buku ini. Terima kasih, Shienny MS. Mudah-mudahan karya berikutnya pun memuaskan.
Buku ke-4 ini agak berbeda nuansanya dengan 3 buku terdahulu, boleh dibilang high imagination as a fantasy novel.. sesuatu yang sungguh sulit untuk ditulis, apalagi mampu meyakinkan pembaca untuk "mempercayai"nya, jadi salut buat Shienny MS :)
1 hal yang tidak kusuka dari buku ke-4 ini adalah perubahan karakter2, sehingga gairah di dalamnya otomatis agak berkurang.. sebagai contoh, Valadin memang sudah tidak jahat, namun seolah kepribadiannya menjadi berubah sepenuhnya. begitu juga dengan rekan2nya yang lain.
Eksekusi cerita bisa dibilang tidak buruk, apalagi bisa bikin deg2an baca ending (dan waktu itu udah berniat ngomel2) untungnya ada epilog lagi yang pasti memuaskan para fansnya, haha.
eniwei betewei.. karena aku lebih suka cerita yang cowoknya strong, jadi aku kurang respek dengan Lei :p *malah curcol* hahahaha
Wuaaaaah gila ceritanya bikin deg-degan ah..!! Kirain endingnya bakal suram.. untung baca sampe abis. Hahahaha. Overall memang ceritanya model komik manga banget, dan kadang bikin geli sndri krn banyak line dialog yg bsa dbilang cheesy gitu. Yah, menang image novelnya begitu sih, jdi ya malh ga normal kyny klo cara penceritaannya ga begitu.. hehehe
Tapi untuk sebuah karya lokal, ini karya yg jempolan deh. Love it.. ga nyesel baca dr awal smp akhir krn ceritanya mmang bagus. Salut sama ke-kreatifan kak Shienny. Plotnya betul2 hidup dan ga ngebosenin atau bertele-tele. Tokoh2nya ala manga juga sih tapi ttp hidup dan ber-impact. Hehehe.
Bangga deh udh baca buku ini. Semoga makin banyak kisah2 kaya gini.. :)
akhirnya ketujuh relik berhasil disatukan tapi ternyata bukan aether asli melainkan velith yang berkuasa. Valadin harus berjuang melawan mereka atau benua Ther Melian akan hancur. Korban mulai berjatuhan bahkan nyawa sendiri nyaris melayang. Valadin memang selamat tapi terjebak dalam kabut kegelapan entah sape kapan.Dan Vrey terjebak dalam portal cahaya. Waktu terus berlalu Leighton masih menunggu dan berharap Vrey akan kembali.
Finally... Itu yang muncul di benak saya ketika selesai membaca serial novel ini. Satu-satunya cover yang diambil dari model di dunia nyata. Sesuai covernya, sudah bisa menebak kan bagaimana ceritanya. Selesai membaca novel ini bukan berarti pikiran kita juga akan berhenti memikirkan ceritanya. Malahan muncul pemikiran "Apakah masih ada lagi cerita selanjutnya?". Dan tangan-tangan pun akan mencari di om gugel tentang mhythology ini, dan...............
Dari semua buku, sepertinya paling suka yang ini. Mungkin karena yang paling intens, jadi feelnya lebih dapet, even romancenya pun feelnya dapet padahal ngga terlalu mengharapkan kisah romance di series ini
Penasaran sama series ini setelah baca webtoon TM Academy dan mikir kenapa ngga nyoba baca buku fantasy series dari penulis Indonesia lain. Not to mention, I love fantasy. And it turns out pretty good, and I like it more than I thought I would
Keren! seru! Paling sedih waktu adegan si Eizen mengorbankan diri. Adegan paling keren waktu Velith keluar dari Ellanesse dan masuk ke badan Valadin. Waktu Valadin buka portal cahaya buat Vrey pulang juga bagus!!
Tamatannya sempat menipu, untung masih ada epilog, sudah siap-siap protes kalo tamatnya kayak gitu!!!!!!!!
This entire review has been hidden because of spoilers.
mungkin penulis akan bilang seperti itu ketika tahu endingnya ternyata nggak berakhir seperti itu, hahahahahahaha, aku terkecoh, untung baca review yg lain jadi tahu kalo masih ada satu bab lagi :))