Putu Fajar Arcana (lahir di Negara, Bali Barat, Bali, 10 Juli 1965) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia asal Bali. Memulai debutnya sebagai penulis sejak menempuh pendidikan di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Udayana. Dia adalah salah satu redaktur di harian Kompas.
Dalam rangka turut meramaikan posting bareng BBI edisi November 2012 dengan tema KLA 2012, aku memilih buku ini untuk bahan review. Tadinya sih mau posting review Gadis Kretek-nya Ratih Kumala atau kumcer Seekor Anjing Mati di Bala Murghab-nya Linda Christanty yang sudah kubaca Oktober lalu, tapi ada daya bukunya sudah terkirim ke Cirebon. Jadilah aku beli novel ini di IBF 2012 kemarin, mumpung Penerbit Kompas menjual secara paket dengan Tantri-nya Cok Sawitri dan Perang Makassar 1669-nya S.M. Noor, dengan korting yang lumayan daripada cuma beli satu novel #Korban Taktik Dagang
Berdasarkan prolog dari N. Riantiarno di awal novel ini, salah satu keistimewaan novel ini adalah tafsir bahwa seorang dewi pun merasa dominasi pria sulit dibantah, dan dia berada di bawah bayang-bayang suami. Bahwa perempuan ternyata sulit "menjadi" apalagi "memiliki" dirinya sendiri. Ini sebuah gugatan yang simpatik dan inspiratif bagi peta peranan perempuan.
Yah, kalau aku mungkin tidak akan membahas dari sisi feminisme, kartinisme ataupun cosmopolitanisme. Karena sepertinya bakal jadi review suka-suka seperti biasa, mudah-mudahan tak ada dewa-dewi yang tersinggung, lantas mengutuk, sehingga aku baru bisa diruwat setelah menjalani masa hukuman 12 tahun... :)
Latar belakang cerita Gandamayu ini adalah kisah Dewi Uma yang dipermainkan oleh nasib, atau lebih tepatnya sih dipermainkan oleh sang suami yang kurang kerjaan. Mungkin karena di jaman dewa-dewa dulu belum ada televisi, internet, ataupun playstation, Dewa Siwa pun iseng-iseng menguji kesetiaan istrinya dengan pura-pura sakit keras, lalu meminta dicarikan obat berupa susu dari sapi putih yang sedang menghasilkan ASI ekslusif. Dewi Uma yang patuh dan mungkin agak-agak bego (Mikir dong, mikir...! Logikanya di mana kalau Dewa Siwa bisa sakit keras? Dewa gitu lo! Atau... mungkin Dewa Siwa sebenarnya cuma alien dari Planet Krypton terus nggak sengaja menelan Kryptonite, yang hanya bisa dilarutkan dengan susu ajaib?) dengan senang hati turun ke bumi, mumpung traveling ke dunia bawah memang sudah lama masuk wishlist-nya.
Tanpa setahu Dewi Uma, Dewa Siwa lantas menyamar jadi gembala seekor sapi putih yang sedang menyusui (aslinya sih sapi hitam, tapi disulap jadi putih, mungkin dengan produk bleaching keluaran terbaru). Ternyata ia harus menunggu agak lama karena Dewi Uma nyasar ke mana-mana. Baru setelah sepuluh kali menyanyikan lagu "Aku Anak Gembala"-nya Tasya, akhirnya datang deh Dewi Uma untuk meminta susu sapi darinya. Setelah mencoba membarter segelas susu sapi dengan permata tapi gagal, lantas menawar untuk membelinya saja, Dewi Uma baru sadar kalau tidak bawa uang karena terburu-buru berangkat dari Kahyangan. Saking paniknya, waktu si gembala sapi dengan kurang ajar minta barter susu sapi dengan bobo-bobo lucu, meski awalnya sempat marah, Dewi Uma pun akhirnya setuju. Apapun boleh dilakukan demi memperoleh obat bagi sang suami... (herannya, kok tidak cari sapi putih menyusui lain saja, masa sih di dunia yang luas ini cuma ada seekor sapi putih? Siapa tahu gembala lain tidak semesum gembala jelmaan Dewa Siwa).
Akhirnya sudah tertebak. Dewi Uma tidak lolos Uji Kompetensi Istri Dewa Level 1. Setia sih setia, tapi Kahyangan Core Value yang paling penting adalah Integritas. Sekali lagi, Integritas! Maunya mungkin loyal pada atasan, ABS, tapi kalau caranya dengan jilat sana jilat sini (no pun intended) dan selingkuh... ya BIG NO NO! Selingkuhnya sama gembala yang namanya saja tidak tahu pula! Please deh. Minimal tanya dulu namanya siapa kek, terus tukar kartu nama, alamat email, atau akun twitter gitu. Siapa tahu mau janjian lagi kapan-kapan kalau ada yang butuh susu lagi (pun intended).
Jadi, meskipun si selingkuhan sebenarnya diri sendiri (gimana kalau dewa atau orang lain, coba? Etapi kalau menurut versi mbak wiki sih Dewi Uma selingkuhnya dengan Dewa Brahma), Dewa Siwa pun mengutuk Dewi Uma sebagai Durga dan menjadi penguasa Setra Gandamayu (dari sinilah judul novel berasal), yang kalau di mitologi Yunani semacam daerah kekuasaannya Hades. Tring! Dewi Uma pun menjadi makhluk menyeramkan, dan baru bisa kembali seperti semula dua belas tahun lagi, setelah diruwat oleh putra bungsu Pandu bernama Sahadewa.
Nah, itu baru latar belakang ceritanya, karena cerita novel sebenarnya diangkat dari Kakawin Sudamala, karya sastra berbahasa Jawa Kuna peninggalan Kerajaan Majapahit, dan tokoh utamanya memang Sahadewa (atau kita sebut Sadewa saja, karena sungguh membuatku yang tidak terbiasa merasa nama itu terdiri dari pertanyaan dan jawaban dalam bahasa Sunda... Saha? Dewa...).
Terus terang, sepanjang sejarahku baca cerita wayang Mahabharata (yang terutama didominasi komik R.A. Kosasih, Yan Mintaraga atau Teguh Santosa), meskipun tahu Sadewa salah satu anggota Pandawa Lima, sama sekali tidak ada cerita maupun aksi tentang dia atau saudara kembarnya Nakula yang nempel di ingatan. Apa sih yang mereka lakukan selain jadi pelengkap penggembira atau pelengkap penderita grup Pandawa? Yang ngikut saja ke mana pun ketiga saudara mereka (yang lebih beken) pergi? Posisi Sadewa dan Nakula di Pandawa V boleh dibilang mirip-mirip Ippei Mine dan Megumi Oka di Voltus V, yang cuma pelengkap bagi kakak beradik Go, Kenichi-Daijiro-Hiyoshi (buat yang nggak sengaja baca sejauh ini dan lost in confusion, selamat, ternyata Anda tidak tergolong kaum jaduler ;P).
Singkat cerita, di tengah huru-hara perang Kurusetra, Sadewa diseret ke Setra Gandamayu, untuk dijadikan tumbal Dewi Durga demi kemenangan Pandawa. Maksudnya sih supaya Sadewa bisa meruwat Dewi Durga kembali jadi Dewi Uma karena sudah 12 tahun berlalu sejak ujian bodoh yang membuat Dewi Uma kena kutuk. Tapi tak dinyana, bukannya Sadewa tidak mau meruwat, tapi ia memang tidak punya kemampuan untuk meruwat. Durga pun mengangkat parang untuk menebas leher Sadewa. Di waktu sepersekian detik itu (yang rupanya lumayan lama untuk level dewa), Dewa Naradha melihat kejadiannya, lantas terbang ke Kahyangan, kongkow dulu dengan Dewa Aswino dan Dewa Mahadewa (nama ini redundant atau gimana sih?) yang ternyata tidak bisa memberikan solusi, lantas akhirnya mereka bertiga sepakat untuk melapor pada Dewa Siwa, yang kebetulan sedang memimpin sidang rapat para dewa, membahas gonjang-ganjing di kahyangan gegara kemurkaan Dewi Durga.
Dewa Siwa pun turun tangan. Setelah 12 tahun mungkin ia agak menyesal sudah bersikap keterlaluan pada istrinya. Ia menemui Sadewa (mungkin posisi parang Durga tinggal beberapa senti lagi dari leher si bungsu Pandawa), dan entah bagaimana Sadewa yang tangannya terikat di pohon randu sempat memberi salam hormat kepada sang dewa. Setelah itu Dewa Siwa pun merasuki Sadewa, dan ujug-ujug Sadewa bisa merapalkan mantra-mantra peruwatan, dan menebarkan sesajen peruwatan yang tahu-tahu memenuhi tangannya (yang sekali lagi, sudah tidak terikat di pohon randu, mungkin berkat kekuatan dewa) ke arah Dewi Durga.
Dewi Uma pun terlepas dari kutukannya, Setra Gandamayu yang macam kuburan dan penuh mayat berserakan pun tiba-tiba beralih jadi taman cantik nan asri. Sebagai hadiah karena telah meruwat dirinya (masa sih tidak sadar kalau itu bukan jasa Sadewa yang tidak becus meruwat?), Dewi Uma memberi Sadewa nama Sudamala dan menunjukkan jodohnya. Sadewa disuruhnya pergi ke negeri Prangalas dan menemui Resi Tamba Petra. Sadewa juga mendapat jimat, hingga tak seorang pun bisa menyentuh kulitnya, apalagi mengalahkannya dalam peperangan. Mendadak, Sadewa menjadi ksatria sakti tanpa tanding.
Cerita berlanjut dengan petualangan Sadewa memenuhi petunjuk Dewi Uma. Dalam perjalanan Sadewa bertemu dan berteman dengan harimau jadi-jadian, yang dikutuk karena membunuh istrinya sendiri. Kelak untuk menebus dosanya harimau itu pun jadi vegetarian. Dan akhirnya ia pun bertemu dengan Resi Tamba Petra yang diruwatnya sehingga bisa melihat lagi. Seperti biasa dalam cerita wayang, ia pun diberi hadiah salah satu dari dua putri sang resi, Diah Padapa. Belakangan putri sang resi yang lain, Diah Soka, menjadi jodoh Nakula yang meninggalkan medan perang demi menemukan kembarannya.
Selesaikah cerita? Belum ternyata. Mungkin karena Sadewa dan Nakula kurang populer, bisa jadi sastrawan Majapahit yang menyusun cerita ini ingin membuat Sadewa lebih populer dengan menjadi juru selamat dalam Bharata Yuda versinya. Konon tiga putra Pandu dari Dewi Kunti kewalahan melawan dua raksasa dari pihak Kurawa, Kalantaka dan Kalanjaya, tapi berkat jimat dari Dewi Durga, akhirnya Sadewa bisa mengalahkan mereka berdua. Tamat.
Jadi pesan moral dari kisah Sadewa ini adalah... jangan selingkuh, saudara-saudara. Kakawin Sudamala penuh dengan orang-orang yang perlu diruwat gara-gara masalah perselingkuhan. Kasus Dewi Uma sudah cukup jelas. Tapi ada juga kasus Kalika, anak buah Dewi Durga, yang membunuh suaminya yang selingkuh dengan racun, berikut 34 orang tak berdosa yang tak sengaja meminum racunnya. Resi Tamba Petra juga buta karena melihat istrinya selingkuh.
Eh, ada pesan moral lainnya, ding: lihat-lihat kalau jalan! Kalau tidak sengaja melangkahi Dewa Siwa, bisa-bisa seperti Dewa Citrasena dan Citranggada, yang dikutuk jadi raksasa Kalantaka dan Kalanjaya.
Sebagai orang yang lahir dan besar dalam lingkungan Hindu-Bali, sebenarnya saya tidak pernah benar-benar memahami bagaimana kisah Perang Baratayudha. Saya terbiasa mendengar tentang Panca Pandawa, tapi tak mengenal seluk beluk polemik di antara mereka. Saya juga hanya sebatas tahu bahwa Dewi Durga adalah Dewi Uma, shakti Dewa Siwa yang dikutuk menjadi 'penguasa' setra (kuburan). Senang sekali akhirnya bisa membaca semua hal ini dalam sekali duduk saja melalui buku karangan Bli Can ini.
Gandamayu memperlihatkan kisah heroik dalam peperangan Baratayudha, carut marut dunia kahyangan milik Dewa Siwa, kegelisahan wanita-wanita berwujud dewi, dan juga kehangatan masa kecil Bli Can. Novel ini memang menjadi kenang-kenangan dari perjalanan bersepeda Bli Can dan ayahnya dari desa ke desa semasa tahun '70-an. Sang ayah memang dikenal piawai menembang sehingga acapkali ia diundang ke hajatan-hajatan desa, tentu saja dengan mengajak Bli Can kecil. Walaupun begitu, sampul buku yang menggambarkan siluet ayah-anak dan sepedanya di senja hari tak begitu menggambarkan isi buku ini. Bagaimana tidak, kenangan bersepeda itu hanya menjadi titik tolak hadirnya novel ini. Selebihnya, Gandamayu merupakan cerita pewayangan.
Alur cerita Gandamayu terasa sangat cepat, sehingga banyak detail yang tak saya rasakan dalam buku ini. Seperti ketika Kunti bertemu dengan Nakula dan Sahadewa setelah berpisah sekian lama, ketegangan Bima yang dengan cepat saja diredakan oleh Arjuna di detik-detik akhir perang, kebahagiaan Dewi Durga dan tokoh lainnya setelah berhasil diruwat oleh Sahadewa, dan masih banyak lagi. Padahal, menurut saya, sedikit tambahan detail akan lebih menghidupkan cerita ini.
Keunikan yang saya temukan dalam Gandamayu adalah kekesalan sekaligus kegelisahan wanita-wanita di dalamnya, yaitu Dewi Uma, Kalika, dan Kunti, terhadap kaum pria. Sebagai wanita, mereka seolah memperlihatkan keserbasalahannya dalam hidup. Seperti Uma yang dikutuk oleh Siwa menjadi Durga hanya karena ia terpaksa tidur bersama seorang gembala sapi di tengah hutan (yang merupakan Siwa yang menjelma ke bumi demi melihat kesetiaan Uma). Padahal hal itu Uma lakukan untuk membuktikan kesetiaannya pada Siwa; ia harus mencari air susu dari sapi putih yang tengah menyusui anaknya untuk mengobati Siwa (yang lagi-lagi cuma akal-akalan Siwa saja). Setelah menjalani 12 tahun hidupnya sebagai Durga dan kemudian diruwat oleh Sahadewa, ia kembali ke kahyangan. Namun, di sana ia malah menyadari bahwa selama ini ia telah dibutakan oleh nilai-nilai luhur kahyangan. "Nilai-nilai luhur itu hanyalah klaim kaum lelaki yang tak ingin privilege dan otoritas dirinya terancam. Ini semacam tirani dalam rumah tangga dan ruang-ruang dalam komunitas para dewa." (halaman 183-184).
Novel ini seolah menjadi refleksi dalam hidup kita bersama, apakah laki-laki selalu berhak menjadi yang utama, yang berada di atas perempuan? Apakah yang muda harus selalu berada di bawah perintah yang tua? Selain itu, novel ini juga mengingatkan kembali bahwa mitologi-mitologi ternyata masih relevan dalam hidup kita yang bahkan telah melampaui masa modern ini. Itulah sebabnya mereka masih menjadi acuan hidup sebagian besar orang, apalagi di daerah kelahiran saya. Dan bagi saya, tak ada salahnya untuk membiarkannya tetap begitu, selama mitos tersebut memang suatu hal yang menghadirkan manfaat baik dalam kehidupan bersama. Ah, betapa banyak hal yang bisa saya petik dari 186 halaman isi kisah Gandamayu.
Menyelesaikan satu kisah Mahabharata memang membutuhkan pemikiran yang jernih dan benar-benar tidak terkait dengan pikiran lain yang menggelayut dalam benak. Dan dari semua pengorbanan pengosongan pikiran itulah, kisah epik Mahabharata selesai dengan sempurna dan meninggalkan bekas-bekas dalam jiwa maupun raga. Berbagai bentuk kisah dari lakon Pandawa dan Kurawa, kerap kali disuguhkan melalui berbagai bentuk cerita. Tak jarang dari kisah-kisah itu yang menuai konflik sekaligus sarat makna. Salah satu kisah lelakon tersebut adalah kisah utama Dewi Uma dan Sahadewa yang digambarkan dalam novel besutan salah satu redaktur kompas Minggu, Putu Fajar Arcana.
Buku satu ini menjadi unik bukan hanya karena mengambil satu paham feminisme yang bisa ditarik dari satu tokoh dewi kahyangan, melainkan menjadi unik juga karena digambarkan dalam kisah yang melompat dan paralel. Di satu sisi, tokoh utama yang memiliki lakon dalam buku, berkisah lewat tembang-tembang yang dinyanyikan oleh seorang ayah pada anaknya di sepanjang perjalanan. Kisah menjadi satu fragmen, meski digambarkan dalam dua masa yang sudah jelas berbeda. Meskipun pada kisah si bapak dan anak itu digambarkan hanya dalam sehari semalam, kisah tokoh-tokoh yang familiar dalam wayang ini malah digambarkan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Sungguh paralel dan seperti berada dalam dua masa berbeda. Ini adalah salah satu nilai plus yang saya berikan terhadap buku.
Ketika cerita tentang dunia perwayangan tidak melulu dibahas dengan bahasa dan bahasan yang rumit.
Cerita si kembar Nakula - Sahadewa (menurut penulis, itu nama versi Bali) yang jadi penentu kemenangan Pandawa di perang Barata Yudha, juga penyelamat kerajaan Indraprasta dari kehancuran, walaupun dengan perjalanan cerita yang panjang.
Isi buku lebih menitikberatkan cerita Nakula - Sahadewa, tapi terselip juga cerita Dewi Uma dengan kesetiaannya kepada Dewa Siwa.
Yang buat lebih menarik, penutup cerita bukan pada kemenangan Pandawa, tapi pada pandangan Dewi Uma tentang kedudukan perempuan sebagai istri. Terselip gerakan emansipasi wanita? Bisa dibilang begitu, walaupun tidak dalam penulisan yang terlalu lugas. Hanya sekadar pandangan mengarah ratapan.
Sebagai keturunan Nakula - Sahadewa (karena sama-sama kembar), buku ini bikin bangga karena jarang ada buku yang mengangkat cerita soal putra dari ayah Pandu dan ibu Madri.
Cerita mahabharata dalam bentuk apa pun selalu menarik, begitu juga kisah tentang Dewi Uma yang dikisahkan oleh Putu Fajar Arcana. Dewi Uma yang dikutuk menjadi Betari Durga - si penjaga kala - bukan karena kesalahannya melainkan karena ego sang suami.
Putu Fajar Arcana mencoba memotret tentang perempuan yang tertindas namun tetap patuh, perempuan yang menerima nasibnya tanpa bisa berbuat apa pun.
Namun, entah kenapa, ketika membaca novel ini, rasanya potret tentang perempuan yang begitu bagus, yang tetap relevan hingga dewasa ini, terasa kurang menggigit. Mungkin karena Putu Fajar Arcana hanya mengupas kulit luarnya saja.
Rasanya ketidakberdayaan Dewi Uma, kemarahannya kepada sang suami, Syiwa, seharusnya bisa dikupas lebih mendalam, karena sebenarnya disitulah letak 'potret perempuan' itu.
ga banyak novel Indonesia yang nyertain tentang tokoh perwayangan. buku ini salah satunya. dan ga cuma pewayangan, tapi menitikberatkan pada kisah Sadewa dan saudara kembarnya, Nakula. juga Btari Durga yang merupakan istri Siwa yang dikutuk.
buku ini well-written dengan berbagai macam filosofi di dalamnya, yang bisa membuat pembaca ikut merenungi hakikat dari manusia itu sendiri. konflik khas dunia perwayangan diramu apik sehingga menarik untuk menyelesaikannya dalam sekali baca.
sebenarnya buku ini terdiri dari dua bagian yang saling terkait. satu bagian tentang anak dari petani sekaligus penembang yang diajak ayahnya ke acara ruwatan. sedang bagian lain adalah cerita perwayangan itu sendiri, di mana ada beberapa kali sang anak petani merasa menjadi si Sahadewa.
unik, i might say. tapi keunikan itu jadi nilai plus dari buku ini.
Bintang empat karena telah mencerahkan saya yang tadinya setengah 'buta' memahami cerita Mahabarata.
Saya sudah lama ingin bisa memahami kisah epik Mahabarata. Komik, majalah, film, bahkan wayang kulit semalam suntuk hanya memberikan sepotong-sepotong pemahaman pada saya. Saya tidak paham karena merasa begitu banyak tokoh dengan berbagai macam kesaktian dan latar belakang. Belum lagi berbagai tokoh itu memiliki hubungan keluarga satu sama lain, membuat saya sebagai pembaca awam kesulitan menikmati kisah ini. Namun, Gandamayu mengantarkan saya pada sebuah pemahaman yang hampir utuh terhadap epos Mahabarata, sesuatu yang tadinya terasa tidak terjangkau oleh saya yang menyukai sastra.
Membuat sesuatu yang rumit menjadi mudah dipahami, adalah proses yang sangat susah. Oleh karenanya, saya tidak ragu memberikan bintang empat pada novel Putu Fajar Arcana ini.
Novel ini bercerita tentang hari-hari sebelum Bharata Yuda. Tentang kesulitan yang dihadapi Pandawa dalam menghadapi Korawa, setelah ditinggal Kresna. Tentang keputusan-keputusan yang harus diambil saat masa-masa genting, serta berbagai pertimbangan di balik keputusan tersebut. Tentang pengorbanan dan keikhlasan Kunti. Sekaligus tentang kesetiaan Uma yang diuji oleh Siwa, yang menyebabkan ia dikutuk menjadi Durga.
Bagus. Thrilling. Fajar Arcana tidak memakai kata-kata sulit seperti pendapat sebagian orang bahwa sastra harus tentang kata-kata sulit yang jarang digunakan. Bahkan kita bisa menemukan kata 'rada' digunakan ketimbang 'agak'. Gaya bercerita yang sangat sederhana. Which is good untuk (cuplikan) cerita serumit Mahabharata. *jempol*
Cerita Mahabarata masih menjadi salah satu bacaan yang menarik bagi saya, berkisah tentang Dewi Uma yang dikutuk menjadi Durga. Buku ini mungkin sebenarnya ingin berbicara banyak tentang perempuan, Dewi Uma, perempuan pengikut Durga, Kunti, tapi kurang dikupas lebih dalam sehingga potret perempuan yang ditampilkan dalam karya sastra ini masih terasa kurang menggigit. Banyak nilai sosial yang ada dalam novel ini, meskipun juga ada banyak kekurangan dalam buku ini.
Membaca novel ini jadi sedikit tahu tentang dunia wayang, dilatari epik Mahabarata novel ini berkisah tentang Dewi Uma, Dewa Siwa, Nakula Sadewa, dll. Juga tentang apa yang dinamakan ruwatan. Dikisahkan dengan menarik dari tuturan seorang ayah kepada anaknya.
Novel ini masuk dalam daftar 10 besar Khatulistiwa Award, sayangnya Gandamayu gagal masuk dalam 5 besar.
Arcana's book. this novel tell about Dewi Uma and Dewa Siwa. Dewi uma's is cursed by Dewa Siwa become Dewi Durga in Gandamayu. One day, Dewi Kunti meet with Dewi Durga and give Sadewa. Sadewa is eaten by Dewi Durga, but Dewa Siwa have in Sadewa's body, but Dewi Uma, can't eat Sadewa. Finally, Dewi Uma is changed by Dewa Siwa get Dewi Uma
Sarat akan cerita perwayangan yang begitu jarang kita temukan di era sekarang ini. Inti cerita sendiri menyentil bagaimana peran dan posisi perempuan di kehidupan, bahkan termasuk di khayangan sendiri, yaitu hubungan Dewi Uma dengan Dewa Siwa. Menegangkan namun Putu Fajar Arcana berhasil menghibur di akhir cerita.
Membaca kembali kisah Mahabhrata dalam versi yang lain selalu membuatku senang. Apalagi ini ada intertekstual antara kekinian dengan kisah Sahadewa-Nakula, Dewi Durga, dan Siwa.... Yaaaa mungkin Mahabharata selalu bisa ditafsirkan dan menghasilkan kisah baru yang berbeda dan seru.
berkisah tentang dunia pewayangan, terutama kisah tentang Dewi Uma. membaca buku ini, membuat tangan saya tak berhenti membuka halaman demi halaman dan selalu mendapatkan pelajaran baru dari tiap halamannya.
Mencerahkan bagi saya yang selalu kebingungan jika mempelajari silsilah pandawa korawa. Ternyata Durga itu Uma, ternyata dewa masih meragukan kesetiaan istrinya.
ok nih ud lama ga baca buku skali ny baca langsung pas dpt ny cerita mahabrta tapi diselangin sama jaman modern jadi ny ad campur2 sama emansipasi wanita juga heheheheheheg