Mengutip salah satu sinopsis belakang bukunya, sayang sekali kalau tidak menyukai buku ini sebelum membacanya. Coba baca dulu! Baru tidak suka! /lho. Ah bercanda~~ u w u.
Eniwei, komik ini tipis. Cocok untuk menjadi bacaan sambil lalu dan heads empty no thoughts. Yah pokoknya tipe buku yang dibaca untuk humor dan lucu-lucuan saja.
Kalau suka dengan humor gaje ala anak sekolahan, maka judul ini maupun adaptasi animenya dapat kalian coba. Tokoh di dalam komik ini rata-rata sangat unik, aneh, dodol, dan mencerminkan... kalian-kalian semua saat masih sekolahan! Gaje! >:D GAK JELAS! /bercandakokwkwk //yanggakjelasitumahGus.
Menurut saya pribadi, animenya memang berhasil mengadaptasi judulnya dengan sangat baik. Bahkan membuat kisah di komiknya lebih menyala dari seharusnya!!! q(❂‿❂)p *Gus jelas pemuja animenya.
Nahhhh...
Sebenarnya, karena pernah menonton animenya, saya agak ragu apakah masih dapat menikmati buku ini. Kan kalau sudah pernah membaca atau menonton lalu kemudian disuguhkan adaptasinya yang lain, maka feelingnya juga bisa berbeda.
Tapi ternyata saya tetap terhibur dengan bukunya. Saya masih ngakak di banyak bagian yang memang bahlul bin somplak(?) Wkwkwk. Meski mari saya jujur, memang ada yang saya tidak terlalu nikmati juga (dan langsung mengerti mengapa tidak pernah kisah ini diadaptasi ke anime).
Yah begitulah^^. Untunglah judul ini bisa terbit di Indo. Terima kasih elex, telah menerbitkannya sampai selesai. [8/10]
I'd best describe it as your Platonic yuri high school girl manga plot, but instead of the "girls being cute and funny" hanging it, it's boys hanging out, fighting, and playing make-belief (another way to describe it would be an ensemble gag version of Seto Utsumi Vol. 1). There's a bit of winking at this point with the extra stories "high school girls are bizarre/funky" which features the female side-characters having antics and calling out the point of "you can have high school girls do X and have it be a success, but slice-of-life guys is a waste."
It was entertaining enough, but I think the anime was more entertaining in execution and probably wouldn't have liked this manga as much if I didn't already have a fondness for the series from the anime.
kertasnya jelek, tipis, lemes, jelek, eh udah aku sebutin, mengenaskan lah fisik komik ini.
dan hype series ini sudah hilang kalian kira animenya itu jaman apa astaga dragon itu eike masih kuliah, berapa ribu tahun yang lalu coba??
sigh, ini tipe series dimana animenya jauh lebih bagus dari aslinya. Gabungan seiyuu dan animasinya bisa menimbulkan efek punchlines yang kuat banget, beda klo gambar dengan guyonan yang punya niche sendiri kayak komik ini.
Gara-gara udah nonton animenya, jadi tertarik buat baca versi komiknya. Dan ternyata tidak jauh beda apa yang ada di komik dengan animenya *yaiyalah XD*. Cuma karena anime itu bergerak dan bersuara, jadi lebih terasa 'klik'nya pas nonton animenya. Lebih kelihatan lucunya *ya walau komiknya juga lucu, karena terjemahannya juga bagus*.
It’s…kind of funny, but also kind of stupid. The format is short gag chapters - you can see why the original title was The *Pointless* Daily Lives of High School Boys. The artwork is so-so. Overall it’s a lighthearted read, and will appeal to some people’s sense of humor.
I really didn't get it. It was basically a bunch of short situations that I didn't have context for. I didn't have any intro to the characters and I just didn't enjoy this.
Vol. 1 Hal. 109 Kalimat "baiklah, ketua OSIS yang mukul bola pertama kali". Timeline enggak pasti, jadi bingung siapa kosis di sini. Di volume selanjutnya, ternyata kosisnya bukan mereka. Tapi, Hidenori yang pertama kali pukul bola, jadi dia kosis pas ini? Kalau di anime, terjemahannya "bagaimana jika harus memukul ketua OSIS kita sekali?". Lebih masuk akal karena kalimat sebelumnya tentang penentuan hukuman.
Ulasan untuk volume 1-7 (tamat). Animenya adalah salah satu genre komedi terbaik yang enggak cepat membosankan. Hampir semua tokoh seperti bisa jadi karakter utama. Faktor utama kelucuan animenya, yakni dari cara pengisi suara mengucapkan dialog dan membuat tokohnya terasa hidup.
Maka, rasanya ada yang kurang pas aku cuma baca dan enggak bisa dengar audionya. Candaannya lebih susah dimengerti, jadi terkesan garing.
Namun, ide-ide permainan absurd di sini masih bisa membuatku tersenyum-senyum dan tertawa kecil. Aku sendiri lumayan bisa "mendengar" para tokoh karena cukup sering menonton animenya.
Ada juga hal-hal yang sebenarnya dari pertanyaan dan kejadian di lingkungan sekitar yang disampaikan dengan sindiran. Berhubung eksekusinya terasa enggak sopan, jadi kurang cocok untukku. Untung di ceritanya ada konsekuensinya, sih.
Untuk ending-nya, mungkin penulis ingin menunjukkan kalau kisah anak-anak sekolah ini belum berakhir dan masih banyak kejadian kocak lainnya. Namun, aku merasa kurang puas karena kayak digantungkan. Aku sendiri lebih suka ending animenya karena ada gambaran masa depan tokoh-tokohnya—meskipun cuma mimpi, sih.
Mengoleksi komik ini cocok untuk orang-orang yang merasa spesial dengan animenya dan ingin baca cerita tambahan. Namun, ada juga cerita yang cuma ada di animenya. Beberapa kelompok dengan interaksi kocak di sini, yaitu:
1. Trio Karakter Utama -> dua cowok berotak random nan klop yang jago improvisasi (yang satu hobi overthinking demi kebaikan orang lain) + satu cowok lebih normal, tapi penurut dan akhirnya sering terbawa suasana. 2. Para Cowok dan Gadis Sastra -> adu puitis buat "bantu" si penulis novel romansa yang ceroboh dan canggung. 3. Tiga Cewek Gorila dan Si Pawang -> dua cewek misandris + satu cewek monster bermuka manis yang berusaha tobat, tapi masih saja seram + cowok korban yang sering bisa membalas perbuatan mereka. 4. Motoharu dan Kakak -> kisah saudaraan paling "wholesome". 5. Trio Bodyguards dan Kosis Cewek -> awalnya mereka melakukan kesalahan ke satu sama lain, tapi lama-lama jadi melindungi dan dilindungi. 6. Mitsuo dan Kawan-kawannya -> sering dijadikan korban dan kasihan banget.