Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seribu Malam Untuk Muhammad

Rate this book
"Ada banyak nilai universal yang diajarkan Muhammad SAW kepada kita, pengikutnya. Namun terkadang kita gagal untuk menangkap maknanya. Dengan bahasa yang sederhana, namun sangat mendalam, novel ini mengisahkan pencarian seorang anak manusia lintas-iman tentang makna yang patut digali dari nilai-nilai universal yang telah diajarkan sang manusia agung itu." —Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Pendiri Maarif Institute

“Ada banyak cara orang jatuh cinta pada Nabi Muhammad. Dalam buku ini, Fahd Djibran menuturkan bagaimana seorang non-Muslim jatuh cinta kepada kekasih Tuhan itu, yang dikisahkannya lewat sebuah surat kepada mantan kekasihnya. Meski sudah cukup banyak membaca dan mendengar tentangnya, saya memperoleh banyak cerita baru tentang rasul agung itu dalam buku ini. Cinta saya kepadanya pun meningkat berlipat—ya, dia, yang tiap hari menyuapi seorang buta yang tiap kali itu pula menghujatnya, sampai suatu kali Allah memanggilnya dan si buta tak lagi didatangi tamu agung” –Ihsan Ali-Fauzi, Direktur Program Yayasan Wakaf Paramadina

::::::::::::::::::

Sementara jutaan muslim mendambakan perjumpaan dengan Muhammad yang mulia dalam mimpi mereka, mungkinkah seorang pemuda non-muslim yang terpilih? Mungkinkah seorang pendosa bermimpi berjumpa dengan sang manusia maha manusia?

Demikianlah ia mendapatkan pengalaman itu, mimpi yang begitu menyentakkan, sesuatu yang terlampau suci bagi dirinya namun tak sanggup ia tolak.

Sejak malam itulah ia memutuskan untuk melakukan pencarian… Ada sebagian dari dirinya yang terbawa oleh sosok lembut Muhammad yang hadir dalam mimpinya—menjadi semacam getar yang terus-menerus memanggil, berdenyar dalam hatinya, dan ia ingin kembali menemukannya…

Inilah pencarian itu, seribu malam untuk Muhammad.

184 pages, Paperback

First published August 25, 2010

18 people are currently reading
679 people want to read

About the author

Fahd Pahdepie

27 books530 followers
FAHD PAHDEPIE, suami juga ayah penuh-waktu untuk Rizqa Abidin serta dua putra mereka Falsafa Kalky Pahdepie dan Alkemia Malaky Pahdepie. Menulis, bekerja, dan berkreativitas dirayakannya di waktu senggang. Orang rumahan yang menulis untuk diceritakan pada istri dan anak-anaknya.

Selain menulis, Fahd juga merupakan pembicara publik, penulis skenario dan sutradara film maupun teater. Saat ini menjadi co-founder dan CEO inspirasi.co. Ia bisa ditemui di www.fahdpahdepie.com atau facebook.com/fahdpahdepie atau twitter @fahdisme.

Profil lengkapnya bisa dibaca di: http://id.wikipedia.org/wiki/Fahd_Pah...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
285 (48%)
4 stars
182 (30%)
3 stars
90 (15%)
2 stars
23 (3%)
1 star
9 (1%)
Displaying 1 - 30 of 83 reviews
Profile Image for Miss Kodok.
220 reviews18 followers
January 29, 2011
"Apakah yang lebih besar dari iman?"
Lalu kutatap lagi sosok lelaki yang tampak agung itu: Muhammad.
"Kebaikan," katanya tiba-tiba, "Melebihi apapun, adalah yang paling utama dari semuanya. Aku menyebutnya ihsan."


Itulah mimpi yang didapat oleh tokoh "aku" dalam cerita ini, tokoh utama yang tidak akan kita ketahui jati dirinya sampai di akhir cerita, tetapi telah mampu membuat hati saya bergetar hebat dan berurai air mata membaca suratnya.

Novel ini adalah sebuah surat sepanjang 100 halaman yang ditulis oleh "aku" untuk sang kekasih, Azalea.
"Aku" bermimpi bertemu dengan Rasulullah, hal yang sangat diinginkan oleh umat Islam di belahan dunia manapun, padahal "aku" adalah seorang non-muslim. Mungkin mimpi bagi kebanyakan orang hanyalah merupakan bunga tidur, begitu pula mimpi ini, yang awalnya dianggap biasa saja oleh "aku". Namun ternyata setiap detail dari mimpi itu kerap mengganggunya dan akhirnya membawa "aku' pada episode panjang sebuah penjalanan "pencarian" tentang tokoh Rasulullah. Perjalanan yang membuatnya meninggalkan keceriaan masa mudanya, meninggalkan keluarganya, dan juga kekasih yang sangat dicintainya.

Menariknya bahwa "aku" menggunakan metode empiris untuk melakukan pencariannya. Dimulai dari memahami hakekat dan esensi tidur itu sendiri, yang entah bagaimana dapat mengantarkan manusia ke alam mimpi. Sebuah alam bawah sadar yang tidak mungkin dapat direncanakan sebelumnya.

Dalam usahanya untuk mengenal tokoh Muhammad, "aku" menggeluti begitu banyak sumber, baik sumber yang berasal dari kalangan muslim sendiri maupun sumber-sumber yang berasal dari non-muslim. Cukup banyak data dan informasi yang "aku" sampaikan agar sang kekasih (yang juga non-muslim) dapat memahami"pencarian" yang tengah dilakukannya, yang juga ternyata mampu membuat saya semakin meyakini Rasulullah sebagai sosok yang 99,9% sempurna (karena sesungguhnya hanya ALLAH-lah pemilik kesempurnaan).

"Aku" memulai pencariannya dengan melihat saat-saat terakhir dalam episode kehidupan Rasulullah. Peristiwa dengan Ukasyah di dalam mesjid usai Rasulullah memimpin shalat subuh berjamaah menunjukkan betapa dalam orang-orang di sekeliling beliau mencintainya. Begitu besar kecintaan mereka sehingga kesedihan yag mendalam atas kepergian Rasulullah mampu melumpuhkan sebuah kota (Madinah).

Inilah buku yang membuat saya merasa sangat malu karena "aku" yang non-muslim mampu melakukan sebuah pencarian untuk lebih mengenal Rasulullah, sementara saya yang sudah menjadi muslim lebih dari 40 tahun, tidak lebih banyak tahu tentang tokoh yang menjadi junjungan saya (sebuah tamparan keras yang sama sekali tidak menyakitkan tapi mampu membuat saya menangis dan merenung).

Inilah buku yang menyadarkan saya bahwa saya belum mampu berbuat kebaikan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Saya yang mengaku beragama islam belum mampu meneladani sikap Rasulullah walau seujung kuku.

Aku menatap punggung Muhammad yang menjauh.... Terus menjauh.
Entah mengapa ada perasaan sedih yang teramat dalam saat ia meninggalkanku di tempat itu sendirian. Aku benar-benar tak rela melepasnya pergi... Aku menatap pungungnya dan memanggilnya kembali dengan mata rinduku...


dan inilah buku yang mampu membangkitkan kerinduan saya yang tak tertahankan akan hadirnya sosok agung sang Rasulullah. Manusia mulia kekasih ALLAH.

Profile Image for Rachmah.
10 reviews2 followers
March 17, 2013
Maaf, meskipun buku ini dengan sangat baik ditulis Fahd, dengan bahasa yang indah, tapi sepertinya ia melupakan satu hal. Bahwa buku ini bisa disalahkaprahkan oleh orang-orang yang berada di tengah kebimbangan agama.

Bahwa kebaikan lebih besar daripada agama, ini jelas bisa dipersepsi macam-macam oleh banyak orang. Akan jadi kacau jika orang yang berada dalam kebimbangan agama pada akhirnya lebih memilih menjadi ateis atau tak peduli dengan agamanya, karena ia pikir melakukan kebaikan saja sudah cukup. Bukan begitu.

Saya bukan berusaha untuk menjadi seorang ekstrimis dan tidak melegalkan kebebasan dan toleransi beragama. Tapi jika di sini Fahd menuliskan bahwa semua agama itu sama, maka dengan senang hati saya katakan bahwa hanya orang yang tidak beragama yang merasa bahwa semua agama adalah sama (seperti yang di kutip dari HAMKA)

Mungkin dari banyak persepsi yang ada tentang isi buku ini (yang saya lihat, sepertinya 100% review yang ada bilang buku ini ratenya bagus), pemahaman saya yang negatif tentang buku ini sepertinya bisa jadi salah satu pertimbangan tentang isi buku.

Sebaiknya buku ini tidak dibaca sih. Saya menuliskan reviewnya di sini supaya lebih berhati-hati saja jika memang suatu saat atau suatu waktu pernah atau tidak sengaja membacanya.
Profile Image for Fahd.
Author 27 books530 followers
February 23, 2012
FAQ (Frequently Asked Question)

1. Apakah buku ini ada hubungannya dengan buku Menatap Punggung Muhammad (MPM)?
Ya, buku Seribu Malam Untuk Muhammad adalah versi repackage dari buku Menatap Punggung Muhammad (MPM)—dengan penyempurnaan, perubahan kemasan/cover, dan perubahan judul.

2. Apakah buku ini 100% sama dengan buku MPM?
90% sama. Ada perubahan introduksi cerita, beberapa detail yang terlewat di buku sebelumnya, serta yang paling signifikan adalah perubahan cover, judul dan ISBN.

3. Mengapa di-repackage atau di-republish?
Keputusan ini diambil karena penerbitan di edisi sebelumnya kurang maksimal, terutama dari sisi distribusi. Banyak orang yang ingin membaca buku MPM, tetapi distribusi (terutama ke luar Jawa) kurang maksimal. Penerbitan Seribu Malam Untuk Muhammad (SMUM) ini juga sekaligus merupakan jawaban atas kebutuhan tersebut.

4. Mengapa pindah penerbit?
Keputusan untuk pindah penerbit diambil berdasarkan banyak pertimbangan. Selain alasan di atas, buku ini (dalam versi MPM) sudah memasuki cetakan keempat namun daya jangkaunya belum terlalu baik. Posisi stok buku MPM juga sudah habis sehingga dimungkinkan untuk mengalihkan hak penerbitannya ke penerbit lain. Mudah-mudahan, bersama Kurniaesa Publishing buku ini dapat menjangkau masyarakat pembaca yang lebih luas.

5. Mengapa ganti judul?
Pilihan ini diambil berdasarkan berbagai masukan dalam penerbitan edisi sebelumnya (MPM), termasuk dari beberapa pakar. Setelah didiskusikan ke berbagai daerah di seluruh Indonesia, termasuk beberapa kampus, toko buku, dan kelompok diskusi, kata “punggung” ternyata memiliki konotasi negatif bagi sebagian masyarakat Indonesia—terutama mereka yang tinggal di wilayah Sumatera (Bahasa Melayu). Kata “punggung” biasa diasosiasikan untuk kata-kata umpatan/hinaan. Sehingga, meskipun buku ini tentu tidak bermaksud demikian, lebih baik judulnya diganti. Oleh karena itu, juga untuk alasan penyegaran, dalam edisi baru ini (cetakan keempat) buku ini berubah judul menjadi Seribu Malam Untuk Muhammad.

6. Apakah yang sudah membaca MPM tidak perlu membaca lagi SMUM?
Pilihan ada di tangan pembaca. Seperti disebutkan di atas, perubahan yang terjadi paling banyak hanya 10%. Jika ingin membaca dalam edisi SMUM, dipersilakan. Jika dirasa tidak perlu, terima kasih sudah membaca MPM. :)

7. Apa visi buku ini?
Visi buku ini sederhana. Pertama, buku ini ingin memberikan sudut pandang lain dalam mengenal Muhammad Rasulullah—yang biasanya diceritakan dalam bentuk sirah atau penceritaan langsung mengenai sosok Muhammad. Dalam buku ini Muhammad diceritakan dari sudut pandang tokoh aku, seorang non-Muslim yang memutuskan melakukan pencarian setelah bermimpi berjumpa Muhammad Sang Nabi. Kedua, buku ini hendak menitikberatkan pada ‘pengalaman Muhammad’ (the Muhammad experience) dan bukan sekadar pengetahuan/cerita tentang Muhammad SAW. Ketiga, melalui buku ini mudah-mudahan banyak orang yang semakin tergerak untuk mengenal sosok Muhammad Sang Nabi.

8. Apakah buku ini kisah nyata?
Bukan, ini buku fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata. Pengalaman mimpi, sang kekasih, dan pencarian tentang Muhammad-nya nyata, tetapi kemudian dituliskan dalam bentuk novel/fiksi yang beberapa bagiannya didramatisir atau dikurangi. Kisah-kisah mengenai Muhammad SAW adalah nyata, berdasarkan sumber-sumber rujukan sebagaimana yang disebutkan dalam buku ini. Jadi, secara umum buku ini tidak bisa dikatakan ‘kisah nyata’ meskipun diangkat dari sebuah pengalaman yang nyata.

9. Apakah mungkin seorang non-Muslim bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad?
Ya, ada banyak kesaksian yang membuktikan hal itu. Di samping kemungkinan oposisionalnya bahwa seorang Muslim juga berkemungkinan menjumpai sosok-sosok/simbol suci agama lain dalam dunia mimpi. Berdasarkan diskusi panjang yang sudah dilakukan dengan berbagai tokoh agama, kyai, guru besar dalam bidang agama, memang terdapat keraguan jika ditinjau dari sudut pandang fiqh/syariat (artinya tidak ada teks/nash langsung yang menunjukkan hal tersebut). Namun, dari sudut pandang tasawuf, hal tersebut sangat mungkin terjadi. Novel ini mengisahkan sebuah pengalaman spiritual, juga Muhammad dalam konteks yang impersonal, jadi dimensi yang diperbincangkan memang dimensi spiritual.

10. Apakah novel ini hanya untuk dibaca kalangan Muslim?
Tidak, meskipun membicarakan sosok Muhammad Rasulullah, novel ini tidak secara spesifik tergolong novel agama. Buku ini dapat dibaca siapa saja (Muslim maupun non-Muslim) yang ingin mengenal Muhammad, baik sebagai seorang manusia maupun sebagai seorang Nabi.
Profile Image for Truly.
2,764 reviews13 followers
November 20, 2011
Draf sebenyak 115 halaman , berukuran A4 mendarat dengan manis di e-mail saya. Hanya ada satu kalimat dari sang pengirim " Kira-kira bagaimana?"

Lembar pertama sepertinya biasa saja, namun lembar-lembar selanjutnya membuat kedua alis saya bertemu. Setelah sekian lama, rasanya baru kali ini sebuah draf cerita membuat saya kehabisan kata-kata.

Waktu seakan berhenti, saya terus membaca tanpa perduli sekitar
Form penilaian yang seharusnya diisi menjadi terabaikan.Saya justru lebih menikmati cerita yang mengalir, seakan sedang mendengarkan sang tukang cerita, Fahd Djibran, dengan tutur kata yang halus bercerita mengenai isi draf.

Saya hanya menjawab e-mail itu dengan kalimat sekitar 10-15 baris
Sangat tidak profesional, mengingat seharusnya saya mengisi form penilaian yang ada. saya tidak tahu harus menulis apa.
Setiap kali membaca, ada perasaan hangat yang mengalir, ada rasa tenang yang datang

Baru saja Adzan berkumandang
Saat saya selesai membaca lembar pertama buku
Draft itu sekarang sudah menjadi buku sebanyak 181 halaman.
Ada perasaan sesak di dada

Saya juga tidak yakin apakah mampu menulis repiu buku ini
Setiap pembaca, ada "sesuatu" yang bisa ditemukan di sana.
Sesuatu yang maknanya akan berbeda bagi setiap orang yang membacanya.

Untuk kali ini, sebaiknya anda membaca sendiri
Jangan perdulikan coretan iseng saya
Karena saya sendiri tidak tahu harus membuat apa
Bacalah.......

---------------------------------------

Jadi kemana saja aku selama ini?
Tanggal 29 Maret 2008, tepat pada ulang tahunnya, seorang lelaki muda bermimpi menjumpai seorang lelaki.

Lelaki dalam mimpinya tampak begitu anggun dan bercahaya. Entah bagaimana ituisinya menyatakan bahwa ia telah bertemu Muhammad, Sang Nabi Muhammad SWA.

Selanjutnya, ia tak kuasa menolak pesona yang ada. Perlahan ia mulai mencari tahu dan lebih mengenal sosok yang ditemuinya dalam mimpi

Ini kisah tentang pencarian jati diri seorang anak manusia selama 780 hari.Ia menyadari sudah begitu banyak dosa yang ia buat, ia tahu ia harus berubah

Sebuah mimpi, membuatnya lebih memahami apa itu arti kehidupan dan bagaimana hidup ini harus diisi dengan ajaranNYA

Buku ini, merupakan sanduran surat yang dikirimkannya kepada Azalea sang kekasih yang ditinggalnya begitu saja demi mencari jawaban dari mimpinya.Azalea sudah menjadi mualaf sekarang, tentunya dengan perenungan yang panjang.Namun, pencarian sang kekasih lebih menggetarkan jiawanya.

Cinta pada sesama memang indah, namun sang lelaki sudah menemukan makna cinta sesungguhnya.
Dan semuanya berawal dari mimpi.

Profile Image for Swety Retna.
138 reviews10 followers
February 22, 2017
Buku ini pernah terbit dengan judul "Menatap Punggung Muhammad", buku tentang pencarian akan sosok Nabi Muhammad oleh seorang non-muslim yang didatangi Nabi Muhammad SAW melalui mimpinya.

Karena sewaktu membaca buku ini, aku sudah membaca sekitar 5-6 buku Sirah Nabawiyah, aku bisa mengerti apa yang dirasakan oleh tokoh aku dalam buku ini. Betapa ia ingin tahu akan sosok itu, betapa ia rindu akan Muhammad.. ya.. aku juga ingin semua orang, khususnya muslim, yang mungkin seumur hidupnya belum pernah sekalipun mencoba mengenali Nabi Muhammad atau belum pernah membaca satu buku pun Sejarah Nabi Muhammad, agar membaca, mengenal, dan mengetahui paling tidak kisah perjalanan Nabi Muhammad menyebarkan Islam. Sungguh, hal itu menimbulkan kecintaan dan kerinduan yang mungkin tidak kita sangka sebelumnya, terhadap Beliau, kekasih Allah, Muhammad SAW. Sangat-sangat merindukannya sampai ketika kita telah membaca satu kisahnya, kita akan terus kehausan akan kisahnya, membaca lagi-lagi dan lagi , mencari banyak Sirah nabawiyah dari berbagai penulis. Seperti melengkapi puzzle-puzzle yang hilang dari kisah hidup Rasulullah...
merasakan trenyuh, rindu, rindu yang melumpuhkan karena tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan menatap wajahnya pun...! seperti rindu yang tak terobati.. sampai-sampai setiap membaca buku islam, yang disana tertulis, nabi Muhammad akan muncul saat hari penghisaban untuk memberi syafaat, seolah-olah ingin sekali kita berlari ke hadapannya, melihat wajah cahaya Beliau dan membayangkan diri kita menangis menumpahkan rindu... menangis dan menangis karena cinta yang tertahankan sekian lama...

paling tidak itulah rasa yang aku punya setelah aku mengenali Rasulullah... dan membaca buku ini, menimbulkan kerinduan itu lagi, kerinduan itu lagi.... Rindu kami padamu ya Rasul...
Profile Image for Muhammad Rasyid Ridho.
273 reviews4 followers
July 29, 2011
Sebagai seorang muslim, tak dapat di sangsikan banyak di antara kita yang menginginkan bermimpi bertemu Muhammad, Rasul terakhir yang diutus untuk ummat sedunia. Karena, banyak anggapan dengan bertemu Muhammad maka kehidupan dan akhiratnya sudah terjamin dengan kebaikan.
Karena Apa? Karena dalam suatu hadits, dikatakan bahwasanya tak ada yang bisa menyerupai Muhammad dalam mimpi, termasuk syaitan atau iblis. Jika seseorang bertemu dengan Muhammad dalam mimpi, maka dari hadits tersebut dapat dikatakan bahwasanya itu benar-benar Muhammad dalam mimpinya.

Pertanyaannya, bagaimana jika yang bertemu Muhammad dalam mimpi itu adalah orang non muslim? Mengapa bukan orang-orang muslim yang memang sangat menginginkan bertemu Muhammad dalam mimpinya? Yang bahkan sebagian orang itu melakukan ritual-ritual yang berlebihan karena rasa keinginan yang sangat dalam mimpinya. Dan apakah itu benar-benar Muhammad yang mendatanginya dalam mimpi?

Ini adalah kisah dalam novel terbaru Fahd Djibran yang berjudul Menatap Punggung Muhammad, setelah best sellernya novel berjudul Rahim. Kisah di dalamnya tokoh Aku adalah lelaki non muslim yang mengirim surat setebal seratus halaman pada pacar yang di tinggalkannya, Azalea namanya.

Dia bercerita kenapa dia meninggalkan pacarnya itu. Alasan kuat apakah yang menyebabkan dia harus pergi meninggalkannya tanpa salam dan kabar selama beberapa bulan itu. Dalam suratnya dia bercerita bahwasanya dia sedang menjalani masa-masa mencari Muhammad.

Pencariannya terhadap Muhammad itu adalah efek dari, mimpinya yang bertemu dengan Muhammad saat malam yang sebelum tidur dia dan Azalea telah melakukan hal yang melanggar norma-norma agamanya apalagi dalam islam, zina atas nama cinta. Sebuah keanehan yang sangat ia rasakan, anehnya bahkan hal itu terjadi saat tidur setelah melakukan maksiat.

Dalam mimpinya itu, Rasulullah hadir dan menghampiri dirinya kemudian bertanya padanya, Apakah yang lebih besar daripada iman? Jawab dia, aku tak tahu. Kemudian Muhammad bertanya persis dengan pertanyaan pertama dan dia menjawab dengan jawaban yang sama pula. Kemudian, Muhammad memberinya minum seolah tahu tenggorokannya tercekat sejak tadi dan setelah itu Muhammad berkata, kebaikan yang biasa aku sebut ihsan, itu yang melebihi iman. Kemudian Muhammad pergi dan menjauh darinya. Terus menjauh dan dia merasakan ada kedamaian yang hilang darinya, dia merasakan ada kebaikan saat tadi bertemu Muhammad.

Dari mimpi itulah yang membuat dia harus mencari kebenaran atau mencari Muhammad. Padahal dia telah mencoba untuk menghilangkan mimpi itu dalam pikirannya, namun semakin dia mencoba menghilangkan mimpi itu dalam pikirannya, nyatanya dia semakin memikirkan mimpinya itu. Walhasil, dia harus meninggalkan rumah, keluarga dan juga pacarnya, yang kemudian beberapa bulan setelah itu dia mengirim surat seratus halaman itu pada kekasihnya, Azalea. Dari suratnya itu, tokoh Aku bercerita tentang perjalan pencariannya itu. Saat bertemu kembali dengan paman yang lama tak bertemu disebabkan pamannya menjadi muallaf yang tak diterima dalam keluarganya.

Dari pamannya itu kemudian dia share atas apa yang terjadi padanya. Pamannya pun memberi jawaban-jawaban yang bijak dan menambah banyak pengetahuan padanya. Konon, pamannya masuk islam sama persis karena apa yang terjadi pada dia, sehingga sampai saat ini pamannya ada dalam lingkungan pesantren dan mengajar di sebuah universitas islam swasta. Dia banyak Tanya tentang mimpi dan Muhammad.

Tak hanya itu, dia juga akhirnya bertemu dengan seorang muslim di sebuah perpustakaan, yang akhirnya bisa menjadi teman share dan diskusi dengannya, masih dengan perihal yang sama, tentang mimpi dan Muhammad. Dari orang itu pula akhirnya dia mendapatkan banyak masukkan dan ilmu. Dia semakin tertarik membaca buku-buku tentang mimpi dan Muhammad. Semua literature barat dan timur tentang Muhammad dia baca dan itupun dia ceritakan pada kekasihnya.

Novel ini banyak memberikan pandangan dan pemaknaan dalam ber-islam yang mungkin belum kita ketahui, salah satunya dalam surat tokoh Aku bercerita tentang apa yang telah diskusikan pamannya. Yaitu, dalam perkataan sufi mengatakan bahwasanya kita bisa menjadikan sifat-sifat keMuhammadan dalam diri kita dengan dua syarat. Pertama, Kita harus menjadi Abdul Muthalib, yaitu hamba yang terus berubah dan terus menerus mencari kebenaran. Hal itu harus karena islam menolak berislam karena kebiasaan, bisa kita kaitkan dengan banyak dari kita berislam karena orang tua kita islam maka kita pun islam namun hanya sampai di situ saja tanpa mau menambah dan mencari bagaimana islam dan ajarannya itu sendiri.

Kedua dan terakhir adalah Abdullah, melalui proses pencarian itu kita pun belajar menjadi pelayan, pelayan yang baik pada Tuhannya. Bagaimana pelayan yang baik itu? Yaitu, ketika dia menjalankan perintah dan menjauhi larangan majikan-Tuhan-nya, serta menunjukkan sikap-sikap yang sesuai dengan sikap majikannya itu. Maka, jika pelayan kita Tuhan, adalah kebaikan yang seharusnya menjadi sikap dan akhlak kita.

Jadi, setelah itu -Muhammad- sifat yang terpuji ada dalam diri kita, karena pelayan yang baik adalah yang menampilkan sifat-sifat majikannya. Menampilkan sifat-sifat Allah, asma’ul husna. Jika kita telah menampilkan sifat itu, kita bisa menjadikan sifat kemuhammadan dalam diri kita. Itulah mungkin, kenapa harus ada Abdul Muthalib (Kakek Nabi), Abdullah (Bapak Nabi), kemudian baru ada Muhammad.

Nah, buku ini sangat cocok untuk siapapun, muslim ataupun non muslim. Seperti kata Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dalam endormenstnya untuk buku ini, “Novel ini mengajak kita merenung, menyibak tirai pikiran dan emosi negatif yang menutupi sumber cahaya Illahi, baik yang ada dalam diri maupun di alam semesta.” Kita akan menemukan kebaikan dan makna di dalamnya, tanpa harus mempertanyakan surat itu asli atau hanya karangan Fahd Djibran saja, seperti kata dia yang menjadi tagline buku ini, “Apapun agamamu, kebaikan tak mungkin kau tolak!” Selamat membaca kebaikan.

Judul Buku: Menatap Punggung Muhammad
Penulis: Fahd Djibran
Cetakan: Agustus, 2010
Tebal Buku: 181 halaman
Penerbit: Litera Pustaka
Peresensi: MR. Ridho
Profile Image for Vindaa.
188 reviews2 followers
April 5, 2022
Syahdu.

Saat bagaimana Rasulullah begitu dirindukan bahkan oleh mereka yang bukan muslim sekalipun.

Buku ini berisi surat seseorang kepada kekasihnya yang ia tinggal pergi tanpa berita. Cerita dari seorang lelaki non muslim, yang didatangi Muhammad lewat mimpinya.

Mimpi, yang meninggalkan debar tak berkesudahan. Rindu yang tak pernah pupus. Awal mula dari pencarian yang tak pernah usai. Banyak buku, referensi dan berbagai cerita dia serap, hanya untuk mengenal lebih dalam siapa Muhammad sebenarnya.

Lewat tulisan suratnya, sekilas itu ditujukan untuk kekasihnya. Tapi senyatanya, surat itu untuk Muhammad. Begitu syahdu, dan sangat indah dirasa.

Saya, yang mungkin saja sudah Islam sejak lahir, menjadi ter-plak !

Sudah seberapa kenal selama ini dengan Rasulullah?

Andai.
Rasulullah datang kerumahmu hari ini, APA YANG AKAN KAU LAKUKAN ?

DEG JLEB !
Profile Image for Fahd.
Author 27 books530 followers
August 15, 2010
"Novel ini mengajak kita merenung, menyibak pikiran dan emosi negatif yang menutupi sumber cahaya ilahi, baik yang ada dalam diri maupun di alam semesta."
--Prof. Dr. Komarudin Hidayat
Guru Besar Filsafat Agama, UIN Jakarta

======================

“Apapun agamamu, kebaikan tak mungkin kau tolak!”

Dalam kisah ini, tokoh Aku adalah seorang non-Muslim yang melakukan “pencarian” setelah ia bermimpi bertemu dengan Muhammad Sang Nabi. Sebuah mimpi yang menyentakkan kesadarannya, sebab dalam mimpi itu Muhammad berpesan padanya tentang kebaikan. Sesuatu yang ia tahu tak mungkin ia tolak—siapapun yang mengatakannya. Mulanya, ia berusaha menolak mimpi itu. Tetapi, semakin ia tolak, bayangan Muhammad dalam mimpinya semakin lekat dalam ingatannya.

Entah bagaimana mimpi ini terus-menerus membuatnya gelisah. Ada semacam getar spiritual yang ia rasakan dalam hatinya; ia sama sekali merasa tak pantas menerimanya, sementara sosok Muhammad begitu memesona. Bila mimpi bertemu dengan Muhammad adalah mimpi yang suci bagi mereka yang Muslim, batinnya, mengapa mesti aku yang mendapatkannya? Sampai saatnya, ia memutuskan untuk memulai sebuah pencarian—menemukan Muhammad.

Menatap Punggung Muhammad sesungguhnya adalah sebuah surat panjang yang ditulis seorang lelaki pada kekasihnya. Surat tersebut menceritakan kisah pencarian si lelaki dalam memecahkan makna pesan yang ia dapatkan dalam sebuah mimpinya bersama Muhammad Sang Nabi. Dalam perjalanannya, ia menemukan banyak hal luar biasa dari Muhammad. Fahd Djibran mendapatkan surat itu dari sahabatnya, si kekasih, kemudian menceritakan kembali kisah itu melalui novel ini. Buku ini akan memberikan cara pandang baru bagi pembaca, yang Muslim maupun non-Muslim, mengenai sosok Muhammad—baik sebagai seorang manusia maupun sebagai seorang Nabi.
Profile Image for Dea Arie Kurniawan.
5 reviews
September 27, 2010
Terlepas dari isi suratnya yang debatable, novel ini telah memberiku lebih dari sekadar sudut pandang baru. Bagi kita yang sudah muslim (turunan) harusnya merasa malu pada tokoh 'aku' dalam novel ini. Memang pencarian akan selalu bisa membangkitkan keyakinan yang lebih otentik. Aku ingin sekali berdiskusi mengenai konsep keimanan dan kebaikan. tetapi, tetap saja kalau ditanya mana yang lebih penting, jawabku pasti. Iman!
Profile Image for Aprijanti.
139 reviews22 followers
January 10, 2013
Pada setiap helaiannya saya dibuat mengharu biru. Rindu akan Rasul Allah yang saya tidak bisa temukan pada halaman buku lainnya, bahkan kitab suci. Tulisan Fadh yang sangat romantis (seperti biasanya) sukses membuat saya lebih mengenal siapa itu Muhammad dengan cara yang berbeda, Amirul mukminin.
Kekasih Allah.
Rahmat semesta alam.
Profile Image for Dita Pramitasari.
36 reviews9 followers
May 4, 2013
"Rindu kami padamu Ya Rasul
rindu tiada terperi..."

Apa yang lebih besar daripada iman? Dialah kebaikan. Baca buku ini dan temukan kebaikan itu, kebaikan Rasul yang amat sangat menyentuh hati. Temukan dalam surat untuk Azalea dari pemuda yang tak diketahui siapa namanya. Kau serasa mengalami perjalanan spiritualnya : pencarian.
Profile Image for Raidah Intizar.
17 reviews
December 2, 2011
Allahumma sholli wa sallim 'ala nabiyyinaa Muhammad. You do not intend to do anything except shouting sholawat out loud, crying for regret not knowing your Rasul, after you read this book. Alhamdulillah
Profile Image for Aida Radar.
48 reviews1 follower
October 18, 2014
“MENATAP PUNGGUNG MUHAMMAD”

(Sebenarnya reviu ini sudah lama diposting di blog pribadi. Hanya ingin memosting kembali saja di sini) ^_^


Cetakan Pertama, Agustus 2010
181 Halaman.

Sesungguhnya isi buku itu adalah sebuah surat. Saya tidak akan membahas panjang lebar mengenai isi bukunya. Akan ada kebaikan tersendiri ketika Kau menekuri sendiri buku itu. Saya yakin, Kau akan merasakan sensasi atau atmosfir yang saya rasakan pula —sebagai manusia yang menapaki proses ‘pencarian’ jika itu posisimu kini. Saya berulang kali tersedu, bahu mengguncang bersama airmata yang tumpah, di beberapa bagian surat yang membuka cakrawala pemikiran dan menambah rasa CINTA yang luar biasa pada Muhammad Rasulullah.

Buku —surat itu, ditulis seorang non Muslim kepada kekasihnya bernama Azalea, yang mengungkapkan secara mengagumkan akan sosok Muhammad SAW, sesosok manusia bermandikan cahaya yang ditemuinya dalam sebuah mimpi. Mimpi yang tidak pernah bisa ia lupakan, bahkan hingga dua tahun kemudian, di masa ‘pencarian’nya. Sejujurnya, membaca buku/novel/surat ini, selain menangis dalam tataran tertinggi, membuat saya merasakan MALU yang luar biasa! Seperti apa yang ditulis Fahd Gibran (Sang Penulis) di halaman 171-172:

“......bagiku surat itu sudah menjadi semacam tamparan. Bila kita tanyakan pada teman-teman kita yang Muslim, pernahkah mereka membaca kisah hidup Muhammad Sang Nabi, Sirah Nabawiyah? Sangat bisa diduga kebanyakan dari jawaban mereka adalah: tidak. Atau bila pernah, sejauh mana kisah-kisah itu mempengaruhi hidup mereka, menginspirasi mereka, “menggerakkan mereka? Apa yang mereka tahu tentang Muhammad Rasulullah? Kenalkah mereka pada Muhammad Sang Nabi? Bagaimana cara hidupnya. Apa visinya tentang kemanusiaan? Apa pendapatnya tentang kebaikan dan perdamaian? Apakah mereka tahu? Sungguh, surat itu membuat kita malu. Betapa jauh kita dari pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman tentang Muhammad.

Kita tidak mengenal sosok Muhammad, maka kita gagap mencontoh akhlak-nya yang agung. ......”

Setelah mengungkapkan hal ini, Fahd menuliskan sebuah puisi yang ditulis Camelia Bader yang berjudul Aku Ingin Tahu. Sungguh, saya benar-benar ditampar keras dengan puisi saduran itu.

Saya pernah memosting tulisan yang tak bersumber yang saya temukan di file pemberian seorang Kakak di blog ini tiga tahun silam, yang maksudnya sama dengan puisi itu. Silakan klik: http://aidarahmanbadar.blogspot.com/2....

Apakah kau sedang merenungi kata-kata di tautan itu?

Dari tiap lembaran buku Menatap Punggung Muhammad , saya membaca dengan getaran yang sulit dibahasakan. Getaran campuran antara sedih, bahagia, malu, cengang, dan entah apa lagi. Saya bahkan melupakan rasa lapar —yang semestinya belum boleh saya rasakan karena sedang dalam proses melenyapkan Magh yang menyerang perut sebulan belakangan. Surat di dalam buku itu begitu indah. Saya, pembaca, yang bukan Azalea sebagai seseorang yang surat itu ditujukan, terhanyut dalam. Lantas bagaimana dengan Azalea? (Entahlah! Saya belum mengenalnya. Mungkin suatu saat nanti saya akan Allah pertemukan dengannya.) Namun, dari penuturan Fahd, Azalea dilema mendapati surat itu. Tapi saya mengharapkan ia tetap melanjutkan hidupnya dengan seseorang yang mengimami sholatnya, yang sudah barang tentu bukan Si Penulis Surat.

Saya pernah membaca Sirah Nabawiyah (ketika masih eSeMPe) milik kakek yang diwariskan pada ayah. Sirah itu diterbitkan pada masa ketika kaki-kaki penjajah sedang mencaploki Negara Indonesia kita, hingga memakai penulisan ejaannya Bahasa Indonesia lama dan kualitas kertasnya di bawah rata-rata —nyaris coklat (Saya tidak mengingat lagi tahun terbitnya). Beranjak eSeMA, saya kembali membaca Sirah, namun terbitan baru di tahun itu karena Ayah membelinya. Saya membaca dan mencoba memahami setiap langkah hidup Nabi Tercinta. Memasuki bangku kuliah, saya juga membaca Sirah di perpustakaan miliki Provinsi Sulawesi Selatan yang letaknya tepat di depan kampus biru saya. Selain itu, Saya juga membaca kepingan-kepingan kisah Rasulullah lewat berbagai artikel, esai, buku baik yang menyata di tangan atau via internet. Saya pun membaca kisah Sang Nabi lewat novel karya Hisani Bent Soe yang berjudul “Pengikat Surga”. Di “Pengikat Surga” Mbak Hisani menjadikan Asma putri Abu Bakar r.a. sebagai pencerita, meski secara keseluruhan isi novel, Asma banyak menceritakan perjuangan Sang Nabiyullah.

Di sederet kisah Nabi yang pernah mata saya tekuri, saya merasakan keharuan, kecintaan dan kegetaran. Namun, Sewaktu mengikuti surat yang ditujukan untuk Azalea di Menatap Punggung Muhammad, saya merasakan —yeah, seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya, KEGETARAN YANG SULIT UNTUK DIBAHASAKAN! Saya seperti berada di sebuah tanah lapang yang rerumputan hijau tumbuh dan menyegarkan mata hingga ke batas pandangan mata. Saya menemukan sahabat di masa ‘pencarian’ yang masih terus melakukan ‘pencarian’nya. Allahumma Salli Wa' Salli A’la Muhammad.

Saya tidak sedang menjadi pengiklan atau perayu yang ingin mempengaruhi pikiranmu dengan pendapat saya mengenai isi buku/novel ini. Saya hanya ingin berbagi. Menyampaikan apa yang saya baca dan saya rasakan dan resapi manfaatnya, dengan harapan jika Kau tertarik dan membacanya (dengan memiliki atau meminjam) Kau pun mendapatkan sisi positif yang sama.

Sebelum mengakhiri bahasan tentang buku ini, saya hendak mengutip beberapa kata atau bagian buku (halaman 8 sampai 15) yang menggetarkan itu:

...................

Seperti tak pernah ada keputusan yang sempurna, Azalea,
tak pernah ada surat yang sempurna.

5.

Jadi, kemana saja aku selama ini?

Kemana saja aku selama ini? Aku juga tak bisa menjawabnya dengan pasti, Azalea. Aku mengunjungi terlalu banyak tempat, menemui terlalu banyak orang—hingga aku tak bisa benar-benar mengingat semuanya satu per satu. Aku bertanya-tanya dan berkelana mencari jawaban dari apa yang selama ini kupertanyakan. Ada sesuatu yang dua tahun belakangan ini membuatku resah, bahagia, sedih, galau, gundah… Ah, barangkali yang benar adalah gabungan dari perasaan-persaan itu, sesuatu yang tak pernah benar-benar sanggup aku jelaskan dengan kata-kata biasa. Kau harus mengalaminya sendiri untuk bisa memahaminya. Saat seluruh perasaan bercampur jadi satu dan menghentakkan sebuah sensasi tak terduga pada liang terdalam kesadaran kita.

Tentang perasaan itu, jika kau terus membaca surat ini, kelak kau akan tahu gerangan apakah yang membuatku terus-menerus merasa demikian. Aku harap kau akan membaca surat ini, kemudian biarkan ia membaca matamu.

Azalea, apakah kau bersedia membaca ceritaku?

6.

Cerita ini dimulai tanggal 29 Maret 2008, tepat seminggu setelah hari ulang tahunku, dan belum berakhir... Semua yang akan kau baca adalah apa yang bisa kuceritakan kepadamu hingga bulan-bulan belakangan ini. Aku berusaha menceritakan semua yang perlu kau tahu—dan semua yang ingin kuceritakan padamu.

7.

Azalea, apakah kau pernah mendengar cerita tentang Muhammad?

Ya, Muhammad yang kumaksud adalah seorang Nabi dalam agama Islam. Muhammad Rasulullah atau Muhammad bin Abdullah (570-632 M), begitu orang-orang mengenalnya. Sebagian lain, karena begitu menghormatinya, menyebutnya Sayyidinâ Muhammad. Sayyid, adalah sebutan bagi seorang bangsawan Arab, dan sayyidinâ berarti tuan kami atau junjungan kami. Bahkan, setelah menyebut namanya, orang-orang Muslim membacakan sebuah doa pendek untuknya: sallallâhu alaihi wasallam—semoga doa dan keselamatan selalu terhubung kepada Muhammad.

Azalea, tidak begitu mengherankan mengapa ia begitu dihormati dan diagungkan di kalangan masyarakat Muslim. Seperti yang kita lakukan pada orang-orang yang kita hormati dalam agama kita, selain karena dia seorang Nabi, tentu saja ada alasan atau kisah hidupnya yang begitu baik sehingga semua orang tak mungkin melupakannya. Tapi, aku juga tak begitu tahu. Aku tak mengenalnya, baik sebagai seorang manusia biasa apalagi sebagai seorang Nabi.

Sejujurnya, sebelum semua ini terjadi, aku juga tak mengenal siapa Muhammad. Aku hanya mengetahuinya sebagai Nabi terakhir yang diyakini orang Islam. Barangkali aku memang sering mendengar nama itu, Muhammad; sebab di negara dengan mayoritas penduduk Muslim seperti di negara kita, nama Muhammad tentu saja merupakan nama yang populer. Sebagai seorang Nabi, sekilas aku pernah mendengarnya dalam sebuah nyanyian atau syair lagu di televisi—atau ketika teman-teman kita yang Muslim menceritakan sedikit tentang keagungan sikap dan budi pekertinya.

Azalea, percayakah kau kalau seseorang yang tak pernah aku kenal ini tiba-tiba menjumpaiku dalam mimpi? Percayakah kalau kukatakan padamu bahwa Muhammad menemuiku—ya, aku—dalam sebuah mimpi?

8.

Suatu malam, tiba-tiba aku terbangun dengan dada yang berdebar—dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Keningku berkeringat, napasku turun naik. Aku tidak sedang terbangun setelah mendapati sebuah mimpi buruk, Azalea. Aku menjumpai seseorang dalam sebuah mimpi yang begitu indah, itulah yang membuat dadaku berdebar. Ada perasaan tak rela ketika dalam mimpi itu, seseorang yang kutemui di sana, mengucapkan salam perpisahan dan pergi meninggalkanku.

Orang itu, lelaki yang tampak begitu agung dan bercahaya, entah mengapa tiba-tiba kukenali sebagai sosok Muhammad. Ini semacam pengetahuan yang tak bisa kau tolak, sesuatu yang secara otomatis sudah kau ketahui dalam mimpimu. Intuisi, barangkali. Dan dialah Muhammad, lelaki yang kutemui dalam mimpi yang tak pernah sanggup kulupakan.

Apakah kau pernah mengalami mimpi semacam ini, Azalea? Saat tiba-tiba kau tahu siapa seseorang yang kau temui dalam mimpimu padahal sebelumnya kau tak pernah berjumpa dengannya?

Pada mulanya, aku berusaha menolak. Aku tak ingin memercayainya sebagai Muhammad. Barangkali ini hanya mimpi biasa, bunga tidur yang tanpa makna, kataku dalam hati. Aku berusaha melupakan mimpi itu, Azalea. Tetapi, semakin kuat aku berusaha melupakannya, justru setiap detil dari mimpi itu semakin baik kuingat. Aku mengingat suasananya, aku mengingat sosoknya, aku mengingat kata-kata yang ia sampaikan—aku mengingat semuanya.

“Apakah yang lebih besar daripada iman?” kata sosok Muhammad dalam mimpiku. Ia tersenyum menatapku, tetapi entah bagaimana aku tahu sesungguhnya ia sedang agak bersedih.

“Aku tak tahu,” kataku. Tenggorokanku terasa sangat kering. Terik matahari menyengat—aku berada di sebuah tempat yang kering dan tandus. Bukan padang pasir, tapi sebuah tempat yang belum pernah kulihat dan kuketahui sebelumnya.

Tiba-tiba, aku ingin melihat sosok itu… dan ia tersenyum tulus ke arahku. Aku melihat seorang lelaki dengan wajah yang agung dan bercahaya. Ini semacam cahaya aneh yang justru tak membuatku merasa silau—tapi teduh. Kulitnya bersih, badannya tidak kurus juga tidak gemuk, wajahnya tampan, bola matanya hitam jernih, bulu matanya lentik, alis matanya panjang bertautan.

Sekali lagi ia tersenyum. Senyum yang sanggup membuatku melupakan rasa haus dan panas yang membakar kulitku. “Apakah yang lebih utama dan lebih penting daripada iman?” katanya seperti mengulang pertanyaan pertamanya.

“Aku tak tahu,” aku menjawabnya dengan kata-kata yang sama.

Lalu ia memberiku minuman. Ia seolah tahu bahwa tenggerokonku terasa menyempit, haus yang hampir membakar rongga mulutku. Ia menyodorkan sebuah cawan berisi air yang dingin dan jernih… “Minumlah,” katanya, “kau sangat membutuhkannya.” Lagi-lagi, ia tersenyum.

Aku pun segera meminumnya. Ada dingin yang mengalir di tenggorokanku, mengalir menjadi damai di hatiku, membebaskan sel-sel hidupku yang sempit. Aku merasakan air itu mulai menghidupkan lagi sel-sel yang mulai mati di tubuhku—aku merasakan kesegaran yang membebaskan, sesuatu yang membuat matahati dan pikiranku begitu terbuka. Lalu langit meredup-teduh, awan diarak pelan-pelan, angin menerbangkan helai-helai daun yang kering, rumput-rumput bersemi, bunga-bunga mekar—wewangian yang membebaskan segala bentuk penderitaan.

Lalu kutatap lagi sosok lelaki yang tampak agung itu: Muhammad. “Kebaikan,” katanya tiba-tiba, “melebihi apapun, adalah yang paling utama dari semuanya. Aku menyebutnya ihsan.”

Seketika, langit hening, bumi hening. Dan lelaki itu melemparkan senyumnya sekali lagi, lalu membalikkan tubuhnya setelah mengucapkan sebuah salam perpisahan. Pelan-pelan, ia melangkah pergi, menjauh meninggalkanku.

Apakah yang lebih besar daripada iman? Bisik hatiku. Apakah yang lebih utama dan lebih penting daripada iman? Aku menatap punggung Muhammad yang menjauh… terus menjauh.

Kebaikan? Barangkali inilah kebaikan, kataku dalam hati, budi pekerti yang dimiliki seseorang yang membuatmu merasakan kebahagiaan yang membebaskan dan kau takkan pernah rela ditinggal pergi olehnya.

Entah mengapa ada perasaan sedih yang teramat dalam saat ia meninggalkanku di tempat itu sendirian. Aku benar-benar tak rela melepasnya pergi… aku menatap punggungnya dan memanggilnya kembali dengan mata rinduku, tetapi ia terus menjauh… menjelma sunyi, meninggalkanku.

Aku terbangun dengan dada yang berdebar, dengan perasaan yang begitu sedih. Muhammad, Muhammad, Muhammad, aku mengulang-ulang nama itu. Mengapa aku bisa memimpikannya?

Azalea, bila aku menganggapnya bukan sebuah mimpi biasa, barangkali aku memang berlebihan. Pada mulanya aku juga berpikir begitu. Tetapi, aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri.

.................

1.

kepergian,

lambaikan tangan atau salam perpisahan

selalu seperti tak punya perasan—

apalagi jika kau melakukannya tanpa pesan.

tapi waktu, semua akan berlalu—

yang tersisa tinggal kenangan.


(Menatap Punggung Muhammad, Fahd Djibran)

***

Untuk menuntaskan bacaan Menatap Punggung Muhammad ini, silakan membaca bukunya yaaa... Z jamin ada positif hal di dalamnya. ^_^
*Aida Radar: sebagai Penyambung Kata’ji.
(Sekali lagi, trims atas bukunya ya, Ridho) ^_^
Profile Image for Wulan Kuswo.
5 reviews
January 3, 2026
Baca ulang buku ini setelah beberes buku-buku lama. Kupikir, ada baiknya kubaca ulang semua buku lama itu. Aku masih ingat fenomena This Man yang kubaca dari buku ini. Aku juga ingat bahwa buku ini ditulis sebagai surat dari seorang lelaki kepada kekasihnya yang ia tinggal pergi begitu saja setelah ia bermimpi bertemu Muhammad. Kepergiannya tersebut dalam rangka mencaritahu sosok yang ia jumpai dalam mimpinya.
Salah satu hal menarik tentang membaca buku adalah bahwa kau bisa memiliki pendapat dan perasaan yang begitu berbeda ketika kau membaca ulang sebuah buku. Aku yang dulu, yang pertama kali membaca buku ini, akan berkata bahwa buku ini bagus dan menyukainya. Aku yang sekarang merasa bahwa buku ini lebih mirip potongan-potongan artikel yang ditempel dan masing-masingnya diberi awalan, "Azalea, ...." dan seterusnya. Banyak bagian yang menceritakan hidup Muhammad terasa seperti penjabaran copy-and-paste, tanpa emosi dan karakter tokoh Aku menguap begitu saja.
28 reviews1 follower
June 1, 2017
seribu malam untuk Muhammad, dalam buku ini saya seperti ditampar oleh kenyataan bahwa saya sebagai seorang muslim tidak pernah mencari tahu apa pun tentang Rasulullah. Apa-apa yang dikisahkan pada saya, itulah yang saya tahu itu pun jika saya menyimaknya dengan penuh seksama.

Tapi, di buku ini dikisahkan tentang pencarian dan perjalanan akan kehausan pada Muhammad. Dia yang tak pernah tahu, akhirnya mencari dan menemukan bahkan lebih banyak dari seorang muslim itu sendiri. Dan, buku ini mungkin akan lebih menggambarkan Muhammad sebagai manusia, tentang kebaikan-kebaikannya dan kemuliaan budi pekertinya.

Jika penulis ingin agar buku ini bisa membuat pembacanya mencari tahu lebih dalam tentang Muhammad, kau berhasil membuat saya ingin memahami kemanusiaan Muhammad. Bagaimana menjadi manusia yang bisa memanusiakan manusia, melalui Muhammad.
5 reviews
April 30, 2023
Saya menyukai gaya bahasa Fahd. Ini adalah karya pertama Fahd yg saya baca.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Ia Seftia.
29 reviews13 followers
May 15, 2015
"Apakah yang lebih besar daripada iman?" kata sosok Muhammad dalam mimpiku. Ia tersenyum menatapku.
"Aku tak tahu," kataku.
Sekali lagi ia tersenyum. Senyum yang sanggup membuatku melupakan rasa haus dan panas yang membakar kulitku. "Apakah yang lebih utama dan lebih penting daripada iman?"
"Aku tak tahu," aku menjawabnya dengan kata-kata yang sama.
Lalu kutatap lagi sosok lelaki yang tampak agung itu: Muhammad. "Kebaikan," katanya tiba-tiba, "melebihi apapun, adalah yang paling utama dari semuanya. Aku menyebutnya, ihsan."

Seketika, langit hening, bumi hening. Dan lelaki itu melemparkan senyumnya sekali lagi, lalu membalikkan tubuhnya setelah mengucapkan sebuah salam perpisahan. Pelan-pelan, ia melangkah pergi, menjauh meninggalkanku.

Entah mengapa ada perasaan sedih yang teramat dalam saat ia meninggalkanku di tempat ini sendirian. Aku benar-benar tak rela melepasnya pergi.... aku menatap punggungnya dan memanggilnya kembali dengan mata rinduku, tetapi ia terus menjauh... menjelma sunyi, meninggalkanku. hal. 7-9

Mimpi yang menyentakkan jiwa tokoh "aku" dalam buku ini. "Aku" adalah manusia yang dipilih Rasulullah untuk ditemui dalam mimpinya. Mimpi yang diinginkan dan dikejar oleh banyak umat muslim di dunia tetapi "aku" memperoleh mimpi itu tanpa pernah meminta. Padahal, "aku" adalah seorang non muslim.
Kemudian, "aku" menjadi bingung dan bertanya-tanya, "mengapa aku?"
Kebimbangan inilah yang akhirnya membuat "aku" melakukan sebuah perjalanan panjang untuk mencari sosok Muhammad. Pencarian yang membuat ia "terpaksa" meninggalkan kekasih yang amat dicintainya, Azalea.

Terutama. Bagian yang membuat ia penasaran. Mimpi itu berisi tentang pesan yang disampaikan oleh Muhammad. Kebaikan. Bahwa kebaikan lebih penting dan lebih utama daripada keimanan.
Sebuah jawaban yang selalu menjadi pertanyaan "aku" dan selalu menghantui hidupnya. Dan tiba-tiba. Dia memperoleh jawaban itu dari sosok yang sangat mulia tetapi tidak ia kenal.

Mengapa kebaikan lebih utama?
Sebab iman hanya berdampak bagi dirimu sendiri, sementara kebaikan berdampak bagi seluruh semesta. Agama yang baik, sebagaimana juga iman yang baik, kata Muhammad, adalah agama yang menjadi rahmat-bagi-semesta. Muhammad menyebutnya, rahmatan lil 'alamin. Aku, kata Muhammad, sesungguhnya diutus untuk menjadi rahmat bagi semesta. hal. 116

Kebaikan? Barangkali inilah kebaikan, kata "aku" dalam hati, budi pekerti yang dimiliki seseorang yang membuatmu merasakan kebahagiaan yang membebaskan dan kau takkan pernah rela ditinggal pergi olehnya. hal. 9

Mimpi yang membawa "aku" pada pencarian ini memberitahukan kenyataan padanya bahwa Muhammad adalah manusia yang sangat penuh akan kebaikan. Sangat penuh dengan kasih sayang.
Kenyataan inilah yang membuat "aku" menjadi semakin mencintai dan amat merindukan Muhammad..

Lalu, apakah "aku" sekarang menjadi mualaf setelah ia menjadi begitu mencintai Muhammad? Entahlah. "Aku" tidak pernah menjelaskan hal itu dalam suratnya. Surat yang ia berikan kepada Azalea sepanjang 100 halaman setelah meninggalkan Azalea selama dua tahun lebih. Surat yang berisi tentang perjalanan panjangnya selama ini. Surat yang berisi tentang alasan "aku" meninggalkan Azalea. Surat yang kemudian diterbitkan oleh Fahd Djibran dalam bentuk buku. Ya, buku ini. Seribu Malam Untuk Muhammad.
Dan "aku" merasa wajib menjelaskan alasan kepergiannya kepada Azalea melalui surat ini.

Menariknya, kini, Azalea justru merupakan seorang mualaf. Bahkan, sebelum ia menerima surat itu.
Namun tetap saja. Kedatangan surat itu sangat menguncang batinnya. Ditambah lagi, kondisinya waktu itu Azalea telah menikah dengan laki-laki lain. Kedatangan surat itu membuka kembali luka lama yang telah susah payah ditutup rapat-rapat selama dua tahun ini. Namun, kedatangan surat itu juga yang membuat Azalea akhirnya memahami kepergian kekasihnya dulu. Dan Azalea memilih untuk menyimpan semuanya dalam memori terdalam hidupnya. Toh, Azalea tak tahu dimana kekasihnya itu berada sekarang. Apa yang dia lakukan setelah ini Azalea tak tahu. Azalea hanya tau. "Aku" masih terus melanjutkan pencarian dan perjalanan untuk menemukan Muhammad. Mengikuti getar yang terus menerus berdebar dalam hatinya. Getar yang membuatnya terus merindu untuk mencari punggung Muhammad.

Sungguh. Saya bersyukur dan merasa beruntung membaca kisah ini. Sebuah kisah yang menguras perasaan saya. Saya tidak bisa membayangkan kebimbangan yang dialami oleh "aku" dalam pencariannya. Saya juga tidak bisa membayangkan kebimbangan yang dialami Azalea dalam kesendiriannya.
Sungguh. Kisah mereka begitu mengilhami. Kisah yang membuat saya iri dan semakin ingin mengenal Rasulullah SAW. Dan belajar mencintainya. Karena saya. Masih sangat jauh darinya. Masih sangat jauh..

Saran saya hanya satu. Bacalah. Maka mungkin, kau akan merasakan apa yang saya rasakan...

~ Ia Seftia ~

Profile Image for Amanda Sastri.
144 reviews12 followers
August 19, 2012
Sebelumnya kepengen minta maaf dulu, mumpung Idul Fitri, hahaha, engga. Gini, gw mau minta maaf sama Fahd Djibran karena gw awalnya agak skeptis lho sama Mas Fahd satu ini. Gw sempet khawatir kalau dia agak Liberal. Ya terus kenapa emangnya Mand kalau Liberal? Gw cuman ga kepengen dan harus menjauhi Islam Liberal karena gw ini sangat mudah terinfluence. Dan pilihan gw sekarang ini bukan menjadi seorang Islam Liberalis. Gw takut kepengaruh, jadi gw sekarang agak milah-milih literatur yang berbau Islam takutnya Liberal. Ya intinya... gw cuman takut kepengaruh atuhlah gapapa atuh #heh

Tapi ga sih Alhamdulillah. Ga Liberal ternyata yah, tapi emang lebih mmm... toleran banget. Hehehe. Jadi kapan pas sama Reni disuruh baca, gw langsung beli lagi malemnya ke Rumah Buku. Terus ada buku Ensiklopedia Sahabat Nabi juga di RumBuk, dan kapan itu mama bilang kepengen baca soal kisah sahabat nabi, jadi gw beliin deh. Dan Alhamdulillah berkah Ramadhan, gw dapet boneka sapi dari Serambi karena beli 2 buku terbitan Serambi =)) Berkah Ramadhan. Sekarang bonekanya gw kasih ke Inka karena gw ga demen boneka #halah

Ok, itu intermezzo awal-awal. Gw baca ini awal-awal agak naikin alis, kenapa harus dikemukakan dengan nulis surat ke mantan kekasih sih? Mana Azalea lagi namanya, gw jadi inget shampo #woi Ya tapi gw terusin bacanya, dan kata Reni bener bahasanya enak. Simple. Dan walaupun ga banyak goncangan yang ada di dalam diri gw kek gw baca 99 Cahaya di Langit Eropa, tapi lumayan juga agak tergoncang. Terutama soal kisah Nabi Muhammad-nya, Subhanallah sekali :|

Yap, dari jaman dulu mpe sekarang kalau gw disodorin kisah Rasulullah gw selalu nangis terutama pas masa-masa wafatnya Rasulullah. Pas Beliau ngomong, "Umati-Umati." saat kematiannya, aduh oTL Cintanya banget-banget yah Rasulullah sama kita, dah ga ngerti lagi. Rasulullah itu berharap... sangat berharap umurnya bisa seribu tahun demi tetap meluruskan umatnya ke jalan yang benar. Itu sih yang gw tangkep dari kisah wafatnya Rasulullah.

Balik lagi ke buku ini, pesan yang bagus banget, "Mana yang lebih mulia dari Iman?" "Ihsan." Ihsan alias kebaikan. Ini buat gw HMMM HMMMM pada awalnya. Tapi ya gimana, emang bener bok =)) I mean, aduh, ini terlepas dari agama apa agama apa, kebaikan itu yang harus dijunjung. Kebaikan, yeps, kebaikan. Kalau kata mama dunia ini sangat butuh kebaikan. Kebaikan sedikit saja mampu mengguncangkan seluruh dunia. Betul, ke-ba-i-kan. Jadi baik. Menebar senyum. Pokoknya ini hal paling simple sebenernya kalau diketik, JADI-BAIK!

Dan Rasulullah itu... Dia adalah Rahmatan Lil ‘Alamin, Nabi penutup untuk seluruh alam semesta. Sempet bikin gw bertanya-tanya juga, tapi bahkan di buku ini dijelasin kalau Islam itu adalah penyempurna dari seluruh agama. Gw ga melihat tulisan soal 'membenarkan seluruh agama' (kekuatan para Islam Liberal), bahkan ini lebih condong ke sebuah buku Islam yang ditulis oleh seorang non-Muslim. Jadi yaaa... gitu #gajelas Hahaha, baca deh. Bahkan si Fahd sendiri sadar kalau buku ini akan jadi buku debatable, dan itu yang ada di dalam diri gw juga.

Mungkin yang gw petik dari buku ini adalah; yaps, Rasulullah, mengenal lebih dalam pribadi Rasulullah sebagai Nabi seluruh alam semesta. Bagaimana Rasulullah adalah seorang Muslim sejati yang tetap dalam kesederhanaannya dalam menjunjung Islam. So, yaaa... gw sebagai seorang Muslim akan terus mengikuti tauladannya sebagai seorang Muslim yang menjunjung ga hanya keImanan, tetapi juga keIhsanan. Tetap berbuat baik kepada non-Muslim sebagaimana Muslim sejati harus berlaku.

Yeps, intinya, emang idola itu harusnya Rasulullah sih yah :D Muslim sejatinya tetep.
Profile Image for Ade Putri.
216 reviews
December 6, 2014
“Apakah yang lebih besar daripada iman?” kata sosok Muhammad dalam mimpiku.

Sekali lagi ia tersenyum. Senyum yang sanggup membuatku melupakan rasa haus dan panas yang membakar kulitku. “Apakah yang lebih utama dan lebih penting daripada iman?”

Dimulai tanggal 29 Maret 2008, mimpi itu hadir dari seorang pria non muslim yang bertemu Nabi Muhammad. Mimpi yang membawanya pada sebuah pencarian panjang tentang sang Baginda. Itu semua ia ceritakan lewat sebuah surat pada kekasihnya, Azalea. Dua tahun masa pencarian itu, selama itu pula ia melakukannya sendiri. Meninggalkan kekasih yang sungguh dicintainya.

***

Ini adalah buku yang membuat saya cukup tertegun lama. Tak jarang sesak di tenggorokan. Air mata yang tak lagi bisa ditahan. Sebesar apa rasa cinta kita pada Nabi Muhammad? Mungkin pertanyaan tersebut tepat untuk menggambarkan apa – yang ingin digambarkan dalam buku ini. Kalau awalnya saya mengira surat ini hanyalah fiksi karangan Fahd Djibran, rupanya saya salah. Surat sepanjang 100 halaman ini adalah nyata. Benar-benar dialami oleh seorang pria non muslim. Ya, non muslim. Dan ia bermimpi bertemu Nabi Muhammad. Subhanallah.

Menurut Abu Hurairah, seseorang yang meriwayatkan hadits ini berdasarkan perkataan Muhammad sendiri, “Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka dia benar-benar telah melihatku. Sesungguhnya Setan tak dapat menyerupaiku.” (hlm. 33)

Si “Aku” menceritakan kisah mimpinya cukup panjang. Debaran dada dan perasaan yang sulit dijelaskan saat pertama kali bermimpi, meyakini bahwa yang hadir di mimpinya adalah benar sosok Nabi Muhammad, pencarian panjang dengan bertanya pada banyak sumber, membaca ratusan buku yang membahas tentang Muhammad. Sampai-sampai menceritakan berbagai kisah Nabi Muhammad tentang betapa beliau dicintai begitu banyak orang. Bukan saja muslim, semua umat beragama mencintainya sebab kebaikannya.

Lalu kutatap lagi sosok lelaki yang tampak agung itu: Muhammad. “Kebaikan,” katanya tiba-tiba, “melebihi apapun, adalah yang paling utama dari semuanya. Aku menyebutnya ihsan.” (hlm. 8)

Barangkali surat ini adalah sebuah pengemasan baru. Dan mungkin semacam ‘teguran’ bagi kita umat Islam. Sudah seriuskah kita dalam beragama. Meneladani sang Baginda pembawa wahyu pertama dan cahaya bagi semua umat? Berapa banyak dari kita yang berharap bertemu dengannya? Berusaha menjalani berbagai ritual agar dapat tercapai meski hanya dalam mimpi. Cuplikan puisi Aku Ingin Tahu karya Camelia Bader ini cukup menjadi renungan:

Aku Ingin Tahu

Bila Nabi Muhammad Saw., datang mengunjungimu, barang sehari atau dua hari. Bila tiba-tiba Rasulullah kita itu datang tak disangka-sangka, aku ingin tahu apa yang akan kalian lakukan?

Apakah kau akan menyediakan ruanganmu yang terbaik, bagi tamumu yang terhormat itu, Muhammad Rasulullah Saw., dan kau meyakinkannya bahwa kau sangat-sangat senang dikunjung olehnya. Melayaninya adalah suatu kebahagiaan yang luar biasa. (hlm. 170)

Selanjutnya bisa dibaca dalam buku ini.

Jadi, mengapa kebaikan lebih utama daripada keimanan? Sebab iman hanya berdampak bagi dirimu sendiri, sementara kebaikan berdampak bagi seluruh semesta (hlm. 116)

Sebuah buku yang sarat perenungan dan pencarian panjang tentang kerinduan pada sang Baginda Nabi Rasulullah Muhammad SAW. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad. Allahumma shalli wa salim wabarik ‘alaih.
Profile Image for Rizky Susanty.
8 reviews
April 26, 2015
"Apakah yang lebih utama dan lebih penting daripada iman?" katanya seperti mengulang pertanyaan pertamanya.

Lalu kutatap lagi sosok lelaki yang tampak agung itu: Muhammad. "Kebaikan," katanya tiba-tiba, "melebihi apapun, adalah yang paling utama dari semuanya. Aku menyebutnya ihsan."


Begitulah pesan indah dari Rasulullah SAW yang hadir sejenak dalam mimpi sang pemuda yang menjadi tokoh utama dalam novel ini. Ya, memimpikan Rasulullah. Bukankah pengalaman langka tersebut yang selama ini diidamkan oleh banyak muslim?

Pemuda beruntung tersebut memimpikan Muhammad. Ia bertanya-tanya, bagaimana bisa? Pemuda ini--dari awal hingga akhir novel tak disebutkan namanya--adalah seorang nonmuslim. Bahkan, ia menilai kehidupan yang ia jalani sebelumnya cukup kelam. Ia pernah masuk dalam pergaulan bebas, bersama Azalea, kekasihnya.

Mimpi tersebut menyisakan kegelisahan pada diri sang pemuda yang akhirnya memutuskan untuk berkelana "mencari" Muhammad. Ia meninggalkan Azalea tanpa kabar.

Dua tahun kemudian ia menulis surat pada Azalea setebal 100 halaman yang menceritakan perjalanannya tersebut. Surat inilah yang tertuang keseluruhannya dalam novel.

Sang pemuda mengungkapkan perasaannya, dari kegelisahan hingga kekagumannya pada Muhammad. Ia bahkan jatuh hati. Muhammad, muhammad, muhammad. Disampaikannya kepada Azalea beberapa kisah tentang Muhammad yang menyiratkan keagungan akhlak insan mulia ini. Ia pun menyampaikan pemahaman yang ia dapat tentang konsep "ihsan" atau kebaikan dan mengapa dalam mimpinya Muhammad menyebut kebaikan lebih utama dari Iman.

Iman hanya berdampak pada diri kita sendiri sedangkan kebaikan berdampak pada seluruh semesta. Kebaikan tak memilih. Kebaikan menembus batas perbedaan apapun, termasuk agama. Misalnya menyingkan duri dari jalanan. Itu pun kebaikan. Saat kita melakukannya, kita telah membantu menyelamatkan orang yang akan lewat di jalanan tersebut, siapapun dia, apapun agamanya.

Inilah yang memperjelas pengertian kita akan makna "Rasulullah adalah rahmat bagi semesta, rahmatan lil alamin" karena kebaikannya adalah untuk semesta. Muhammad adalah milik seluruh manusia.

Novel ini memang tak begitu tebal namun cukup menyentuh perasaan pembaca melalui ungkapan-ungkapan kekaguman sang pemuda pada keindahan pribada Muhammad yang telah memikat hatinya. Selain itu, yang tak kalah menarik, pembaca juga diajak menyelami lika-liku yang dilalui sang pemuda dalam memahami keimanan.

"...mungkin iman memang sesuatu yang absurd untuk dipetakan. Perjalanan keimanan bukanlah suatu perjalanan yang linear, ia begitu fluktuatif. Kadang-kadang menurun seperti palung yang dalam, kadang-kadang seperti sebuah lompatan kuantum." (halaman 148)

"Beragama adalah proses pencarian terus-menerus. Islam menolak cara beragama yang menetap pada kebiasaan. Kisah Nabi Ibrahim dalam Alquran menegaskan bahwa untuk sampai pada keimanan, seseorang harus terus-menerus melakukan pencarian. Sebab, keimanan yang sesungguhnya adalah buah dari pencarian..." (surat dari paman sang pemuda, halaman 137)

"Telah datang pada kalian Sang Utusan. Paling mulia di antara kalian. Pedih hatinya merasakan yang kalian derita. Sangat ingin ia melihat kalian bahagia..." (halaman 143-144)
Profile Image for Hadiyatussalamah Pusfa.
109 reviews11 followers
August 21, 2013
Panggil saya Azalea. *berasa jadi Azalea*

Sama sekali, buku ini tidak membahas seorang tokoh bernama Azalea. Novel fiksi ini berisi tentang pengalaman seorang “aku” yang melakukan pencarian, pencarian jati diri melalui sosok Muhammad Rasulullah. Dikemas dalam bentuk surat yang ditujukan untuk Azalea, kekasihnya di masa lalu. Azalea dan “aku” merupakan sepasang kekasih yang sudah tidak bertukar kabar selama 2 tahun karena “aku” tiba-tiba meninggalkan Azalea begitu saja. Surat yang dikirimkan “aku” kepada Azalea ini menjelaskan alasan kepergiannya yang tiba-tiba, tanpa kabar.

Semua berawal dari sebuah mimpi. Mimpi “aku” bertemu dengan sosok mulia, Muhammad Rasulullah. Padahal, “aku” ini bukan seorang muslim. Gelisah, bingung, tidak mengerti, tapi tidak bisa disangkal. Dan entah dari mana, “aku” tahu saja kalau sosok yang ditemuinya itu adalah Muhammad Rasulullah. Karena mimpi inilah, “aku” melakukan pencarian mengenai sosok mulia itu. Untuk menjawab semua kegelisahannya, kebingungannya, ketidak mengertiannya.

Tapi yah, yang paling bikin saya bingung, terjebak antara dunia nyata dan dunia fiksi, sekaligus bikin terharu adalah bagian interlude buku ini. Jadi surat ini beneran? Sosok Azalea itu nyata? Dan, dalam 2 tahun yang mungkin tampak seperti waktu ga jelas nunggu-apa-siapa-untuk-apa bagi Azalea, Azalea berhijrah, menjadi seorang mualaf. Sampai sekarang, entah bagaimana ujung pencarian sosok “aku”. Apakah menjadi mualaf atau tidak, entahlah. Mereka berpisah, untuk memulai perjalanan ke arah yang sama.

***

Buku ini membuat saya bercermin.

Entah perjalanan seperti apa yang dilalui oleh sosok “aku”. Berapa banyak literature yang “aku” baca mengenai Rasulullah dalam perjalanannya. Berapa banyak orang yang “aku” ajak diskusi dalam pencariannya. Yah, saya tidak tahu.

Buku ini membuat saya bercermin.

Saya teringat percakapan antara Rasulullah dan Umar, ketika tiba-tiba Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, aku mencintaimu seperti aku mencintai diriku sendiri.”

Rasulullah pun menjawab, “Tidak, Umar. Aku harus lebih engkau cintai dibandingkan dengan dirimu sendiri.”

Maka Umar pun segera meralat pernyataannya, “Wahai Rasulullah, aku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri.”

Ketika sekarang kebanyakan orang galau dalam memaknai cinta, bagi Umar, cinta itu sesederhana kata kerja. Karena cinta itu hanya kata, yang akan bermakna dengan kerja yang kita lakukan. Maka Umar pun tidak mengambil pusing. Buktikan saja. Maka ia menjadi sosok yang paling depan membela Rasulullah, mencontoh Rasulullah, berlomba-lomba melakukan kebaikan dengan sahabat Rasul lainnya.

Rindu kami padamu, ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu, ya Rasul
Serasa dikau di sini


Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya surge
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja


Mencintai Rasulullah. Rindu. Ingin bertemu. Semua itu baru berarti saat dibuktikan dengan tindakan. Seberapa banyak yang saya ketahui tentang Rasulullah? Seberapa banyak saya mengikuti sunnah Rasulullah? Seberapa banyak saya mengamalkan apa yang Rasulullah sampaikan? Ya Allah, astaghfirullah…
Profile Image for Awal Hidayat.
195 reviews36 followers
September 17, 2013
Bila Nabi Muhammad SAW, datang mengunjungimu,
barang sehari atau dua hari. Bila tiba-tiba Rasulullah kita itu datang tak disangka-sangka
Aku ingin tahu, apa yang akan kalian lakukan?

- Aku Ingin Tahu, Camelia Bader

Seribu Malam untuk Muhammad
Menyedihkan. Saya sudah terlalu sering melewatkan buku ini di rak Gramedia, justru harus mendapatkannya dengan modal pinjam dari teman. Mungkin, karena saya bukan penikmat buku religi. Pun, sudah terlambat: 19 bulan sejak terbitan terakhirnya.

Pada awalnya, saya akan sangat lama menyelesaikan buku ini. Bukan apa-apa, -bukunya tidak begitu tebal memang, tugas-tugas kuliah yang terus merayu minta dielus. Kemarin, saya dipinjamkan. Tiba di rumah, karena sedang penasaran, saya langsung membuka halaman pertama, prelude. Kesan pertama, menohok.
Apa yang lebih besar dari iman? Apa yang lebih penting dan lebih utama dari iman? Kebaikan.


Baru saja, saya menyelesaikan lembar terakhirnya. Kesan terakhir, masih menohok.
Kalian tahu, buku ini tidak sepenuhnya adalah tulisan Fahd Djibran. Pun, lebih dari setengahnya mungkin memang bukan milik Fahd Djibran. Buku ini adalah surat dari seorang lelaki anonim yang “didatangi” oleh lelaki sebaik-baiknya lelaki, manusia sebaik-baiknya manusia, Muhammad. Surat yang ditujukan untuk kekasihnya, Azalea, yang terpisah selama dua tahun. Surat yang bercerita tentang bagaiamana dia didatangi Muhammad yang mulanya tidak dikenal, kemudian ditinggalkan, dan pencarian tentang Muhammad setelahnya. Dalam mimpi, lelaki anonim itu dihadapkan pada pertanyaan dan diberikan pula jawabannya. Lelaki anonim itu bukan Muslim. Beruntungnya, dia terpilih. Dia dipilih sendiri oleh Muhammad. Bukan rekaan, sebuah fakta.

Selesai saya membacanya, seperti pengakuan Fahd Djibran sendiri, saya ikut menangis karena “surat cinta” untuk Muhammad itu. Saya di kampus, dan saya masih merasakan butiran air yang menggantung di pelupuk. Saya malu. Bukan karena banyak orang yang melihat, melainkan tentang saya dan Muhammad.

Bagaimana mungkin, seorang pria non-muslim mengalahkan seorang muslim sejak lahir perihal pengetahuan tentang Muhammad. Dia tahu lebih banyak dibandingkan saya. Tidak peduli, seberapa senang saya membaca sirah nabawiyah ketika kecil, dia tahu jauh lebih banyak. Pencariannya yang dilatarbelakangi mimpi membuatnya tahu banyak tentang rahmatan ‘lil alamin

Menggetarkan. Untaian kata yang dirangkai indah tentang Muhammad membuat saya bergetar tak sadar. Sebenatnya, buku ini tidak sepenuhnya bercerita tentang religiulitas. Banyak pengetahuan yang dimunculkan dalam suratnya, mimpi dalam tidur, misalnya. Saya terkadang melewatkan beberapa bagian tentang itu, tapi bukan masalah. Trivia yang tidak terlalu mengganggu.

Pada akhirnya, saya ikut berharap. Semoga harapan pembuat surat, penerima surat, dan penyebar surat ini berhasil. Semoga kita bisa menghadirkan Muhammad dalam hati kita masing-masing, ke-Muhammad-an yang sejati. Aamiin.
Profile Image for Wijayanto.
33 reviews5 followers
September 16, 2011
Berawal dari note FB yang dibagi oleh seorang teman yang saya kenal, dari situlah saya mengenal Fahd Djibran dan penasaran dengan karyanya. Tulisannya memang unik dan beda, itulah yang mendasari saya mencari buku ini. Kurang lebih 3 toko buku yang saya kunjungi menyatakan kehabisan stock, bahkan sampai toko buku online pun tidak bisa memintakan buku ini pada penerbitnya, apa nggak bikin tambah penasaran? Jalan terakhir yang saya tempuh adalah ingin langsung meminta buku ini dari penulisnya. Ternyata di blognya Fahd ada petunjuk bagaimana mendapatkan buku MPM ini lewat emailnya Kurnia Esa. Dan Alhamdulillah, akhirnya bisa juga mendapatkan buku ini, dengan harga diskon, dan juga 2 buku Fahd yang lain, Rahim dan Yang Galau Yang Meracau.

Sama sekali puas. Walau masih ada typo di beberapa bagian. Dari segi bahasa, tentu ini bukan bacaan ringan. Selain bertebaran istilah-istilah yang asing buat saya, banyak juga kalimat yang agak sulit untuk ditangkap maksudnya. Mungkin karena tingkat berbahasa yang berbeda. Saya memang agak sulit memahami bahasa-bahasa filosofis. Terutama ketika tokoh Aku sedang berdiskusi. Namun ketika si Aku sedang bercerita, saya merasakan seolah terbawa ke dalam cerita tersebut. Masuk di tengah-tengah lingkungan yang dideskripsikan. Dan cara Fahd bercerita sangat mudah untuk dibayangkan.

Bentuk penyajian novel sebagai surat adalah hal yang baru buat saya. Dan Fahd cukup berhasil dalam menyampaikan ide-idenya tanpa kesan menggurui melalui berbagai argumen dengan referensi yang bejibun banyaknya. Tidak bisa tidak novel ini membuat kita untuk merenung dan berpikir. Untuk pembaca Muslim, novel ini seperti menyentil dan mengingatkan kita kembali pada Nabi Muhammad dan ajarannya. Sedangkan pesan untuk menyadari bahwa kebaikan berada di atas iman, adalah pesan yang tepat untuk semua umat beragama.
Profile Image for Ninartika.
16 reviews5 followers
March 13, 2014
"Apapun agamamu, kebaikan tak mungkin kau tolak."


Cukup sulit buat dapetin buku ini. Di toko buku udah gak restock, di toko buku online langganan juga habis. Tapi syukurnya, masih ada toko buku online yang lain masih bisa memesankannya ke penerbit. Alhamdulillah~

Buku ini berbentuk surat yang di tulis oleh tokoh "Aku", seorang non-muslim, kepada mantan kekasihnya yang bernama Azalea. Di dalam surat itu, Aku bercerita tentang kehidupannya yang sedang melakukan pencarian. Pencarian tentang sosok Muhammad yang ditemuinya di dalam mimpi. Iya, Sang Kekasih Allah, Muhammad SAW...

Saat membacanya, memang membuat saya merenung sendiri, "Seberapa besar saya mengenal Sayyidina Muhammad?"

Selain Iman, ada yang disebut Ihsan, kebaikan, yang selama masa hidupnya, selalu dicontohkan oleh Sayyidina. Kebaikan terhadap semua makhluk, tanpa terkecuali. Apakah kita sudah mencontoh kebaikan-kebaikan yang diajarkan oleh Muhammad?

Buku ini bercerita dengan ringan, walau di awal cerita saya sempat pusing dengan teori-teori mimpi itu. Yah, tapi itu tak akan mengurangi makna dari buku ini. Sempat juga membaca review yang menganggap buku ini 'menyamakan seluruh agama'. Tapi setelah membacanya sendiri, tidak ada tuh yang seperti itu. Hanya sebuah surat cinta tentang pencarian seorang non-muslim, yang kembali mengingatkan tentang jati diri saya. Yah...tak perlu di debat, walau penulisnya sendiri mengakui bahwa buku ini bakal debatable.


Iman bukan hanya soal pengakuan dan pensaksian, iman harus bisa dibuktikan melalui perbuatan. Keimanan adalah perjuangan untuk berserah--ia harus datang dari dalam dirimu sendiri.


Mengapa kebaikan lebih utama daripada iman? Sebab iman hanya berdampak bagi dirimu sendiri, sementara kebaikan berdampak bagi seluruh semesta. Agama yang baik, sebagaimana juga iman yang baik, kata Muhammad, adalah agama yang menjadi rahmat-bagi-semesta.
1 review
April 17, 2011
novel yang berjudul Menatap Punggung Muhammad ini menceritakan seorang pemuda non muslim yang hidup bebas bersama kekasihnya yang bernama Azalea. namun pada suatu hari dia bermimpi Nabi Muhammad SAW, hingga akhirnya ia penasaran akan mimpinya itu. Banyak artikel dan buku-buku yang ia beca mengenai kaitan antara mimpi dan kehidupannya. Apalagi ia memimpikan seorang nabi yang sebenarnya ia tidak mengenalnya.

Namun perasaan nya itu justru semakin merasakan kerinduan pada Nabi yang mendatanginya itu. Karna berdasarkan apa yang ia baca bahwa bermimpi tentang Nabi Muhammad adalah mimpi yang diidamkan oleh setiap muslim dan tidak akan pernah ada yang bisa merekayasa mimpi itu.

novel ini seperti bentuk surat kepada sang kekasih yang menceritakan Kekasih umat Islam, yaitu nabi Muhammad SAW. ia rela meninggalkan kehidupannya, pacarnya, dan keluarganya. secara umum novel ini mengisahkan sejarah hidup atau biografi singkat Nabi Muhammad. yang saya suka adalah si penulis mencantukan beberapa buku atau artikel yang mengisahkan kepemimpinan dan keunggulan, khususnya artikel dari luar negeri. Banyak juga yang diungkapkan kebaikan atau sifat-sifat nabi yang harus dicontoh .

sayangnya, di akhir cerita "surat" novel ini tidak menceritakan kalau pemuda non muslim itu jadi masuk islam atau tidak :-(

note dari novel ini

“kebaikan lebih utama dari iman, sebab kebaikan adalah pembuktian dari keimanan yang sanggup melampaui keimanan itu sendiri”
Profile Image for Puu.
10 reviews
April 17, 2011
novel yang berjudul Menatap Punggung Muhammad ini menceritakan seorang pemuda non muslim yang hidup bebas bersama kekasihnya yang bernama Azalea. namun pada suatu hari dia bermimpi Nabi Muhammad SAW, hingga akhirnya ia penasaran akan mimpinya itu. Banyak artikel dan buku-buku yang ia beca mengenai kaitan antara mimpi dan kehidupannya. Apalagi ia memimpikan seorang nabi yang sebenarnya ia tidak mengenalnya.

Namun perasaan nya itu justru semakin merasakan kerinduan pada Nabi yang mendatanginya itu. Karna berdasarkan apa yang ia baca bahwa bermimpi tentang Nabi Muhammad adalah mimpi yang diidamkan oleh setiap muslim dan tidak akan pernah ada yang bisa merekayasa mimpi itu.

novel ini seperti bentuk surat kepada sang kekasih yang menceritakan Kekasih umat Islam, yaitu nabi Muhammad SAW. ia rela meninggalkan kehidupannya, pacarnya, dan keluarganya. secara umum novel ini mengisahkan sejarah hidup atau biografi singkat Nabi Muhammad. yang saya suka adalah si penulis mencantukan beberapa buku atau artikel yang mengisahkan kepemimpinan dan keunggulan, khususnya artikel dari luar negeri. Banyak juga yang diungkapkan kebaikan atau sifat-sifat nabi yang harus dicontoh .

sayangnya, di akhir cerita "surat" novel ini tidak menceritakan kalau pemuda non muslim itu jadi masuk islam atau tidak :-(

note dari novel ini

“kebaikan lebih utama dari iman, sebab kebaikan adalah pembuktian dari keimanan yang sanggup melampaui keimanan itu sendiri”
30 reviews
July 21, 2014
Pencarian.
Itu adalah kata yang sangat saya garis bawahi dari buku ini. Bertutur mengenai sebagian kisah Rasulullah, may Allah honour and grant him peace, dan pencarian seorang anak manusia yang bermimpi berjumpa dengan Sang Maha Manusia, buku ini seperti tulisan Fahd Djibran yang lain, sukses membuat saya berpikir, dalam. Saya suka konsep ihsan yang dibahas di sini, yang baru saya ketahui setelah membaca buku ini, yang memiliki dua pengertian paling umum. Pengertian ihsan yang pertama, yang mungkin dikenal paling luas, yaitu "beribadahlah seakan-akan engkau dapat melihat Allah, jika tidak maka yakinlah bahwa Allah selalu melihatmu." dan yang kedua adalah "berbuat baik kepada orang lain seperti hal yang kepada dirimu sendiri."

Jika para sahabat belum membaca buku ini, dan membaca sedikit review saya di atas, pasti tidak menyangka bahwa buku ini ditulis dalam bentuk 'surat cinta' yang dikirimkan seseorang kepada mantan kekasihnya yang ia tinggalkan demi pencarian hidupnya. Bagi saya, novel ini jauh dari kesan normatif yang biasa ditemukan di novel islami lainnya. Menariknya, buku ini menawarkan beberapa nilai universal yang disampaikan Rasul SAW, yang dikemas ulang dengan pemikiran yang lebih menjelajah yang dapat dibaca oleh semua golongan tanpa memandang agama apapun. Karena kebaikan tak mengenal batas agama, kebaikan itu tak tertolak!

this review also posted on: http://bonjouremeldah.blogspot.com/20...
Displaying 1 - 30 of 83 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.