What do you think?
Rate this book


184 pages, Paperback
First published August 25, 2010

Mimpi yang menyentakkan jiwa tokoh "aku" dalam buku ini. "Aku" adalah manusia yang dipilih Rasulullah untuk ditemui dalam mimpinya. Mimpi yang diinginkan dan dikejar oleh banyak umat muslim di dunia tetapi "aku" memperoleh mimpi itu tanpa pernah meminta. Padahal, "aku" adalah seorang non muslim.
Kemudian, "aku" menjadi bingung dan bertanya-tanya, "mengapa aku?"
Kebimbangan inilah yang akhirnya membuat "aku" melakukan sebuah perjalanan panjang untuk mencari sosok Muhammad. Pencarian yang membuat ia "terpaksa" meninggalkan kekasih yang amat dicintainya, Azalea.
Terutama. Bagian yang membuat ia penasaran. Mimpi itu berisi tentang pesan yang disampaikan oleh Muhammad. Kebaikan. Bahwa kebaikan lebih penting dan lebih utama daripada keimanan.
Sebuah jawaban yang selalu menjadi pertanyaan "aku" dan selalu menghantui hidupnya. Dan tiba-tiba. Dia memperoleh jawaban itu dari sosok yang sangat mulia tetapi tidak ia kenal.
Mengapa kebaikan lebih utama?
Sebab iman hanya berdampak bagi dirimu sendiri, sementara kebaikan berdampak bagi seluruh semesta. Agama yang baik, sebagaimana juga iman yang baik, kata Muhammad, adalah agama yang menjadi rahmat-bagi-semesta. Muhammad menyebutnya, rahmatan lil 'alamin. Aku, kata Muhammad, sesungguhnya diutus untuk menjadi rahmat bagi semesta. hal. 116
Kebaikan? Barangkali inilah kebaikan, kata "aku" dalam hati, budi pekerti yang dimiliki seseorang yang membuatmu merasakan kebahagiaan yang membebaskan dan kau takkan pernah rela ditinggal pergi olehnya. hal. 9
Mimpi yang membawa "aku" pada pencarian ini memberitahukan kenyataan padanya bahwa Muhammad adalah manusia yang sangat penuh akan kebaikan. Sangat penuh dengan kasih sayang.
Kenyataan inilah yang membuat "aku" menjadi semakin mencintai dan amat merindukan Muhammad..
Lalu, apakah "aku" sekarang menjadi mualaf setelah ia menjadi begitu mencintai Muhammad? Entahlah. "Aku" tidak pernah menjelaskan hal itu dalam suratnya. Surat yang ia berikan kepada Azalea sepanjang 100 halaman setelah meninggalkan Azalea selama dua tahun lebih. Surat yang berisi tentang perjalanan panjangnya selama ini. Surat yang berisi tentang alasan "aku" meninggalkan Azalea. Surat yang kemudian diterbitkan oleh Fahd Djibran dalam bentuk buku. Ya, buku ini. Seribu Malam Untuk Muhammad.
Dan "aku" merasa wajib menjelaskan alasan kepergiannya kepada Azalea melalui surat ini.
Menariknya, kini, Azalea justru merupakan seorang mualaf. Bahkan, sebelum ia menerima surat itu.
Namun tetap saja. Kedatangan surat itu sangat menguncang batinnya. Ditambah lagi, kondisinya waktu itu Azalea telah menikah dengan laki-laki lain. Kedatangan surat itu membuka kembali luka lama yang telah susah payah ditutup rapat-rapat selama dua tahun ini. Namun, kedatangan surat itu juga yang membuat Azalea akhirnya memahami kepergian kekasihnya dulu. Dan Azalea memilih untuk menyimpan semuanya dalam memori terdalam hidupnya. Toh, Azalea tak tahu dimana kekasihnya itu berada sekarang. Apa yang dia lakukan setelah ini Azalea tak tahu. Azalea hanya tau. "Aku" masih terus melanjutkan pencarian dan perjalanan untuk menemukan Muhammad. Mengikuti getar yang terus menerus berdebar dalam hatinya. Getar yang membuatnya terus merindu untuk mencari punggung Muhammad.
Sungguh. Saya bersyukur dan merasa beruntung membaca kisah ini. Sebuah kisah yang menguras perasaan saya. Saya tidak bisa membayangkan kebimbangan yang dialami oleh "aku" dalam pencariannya. Saya juga tidak bisa membayangkan kebimbangan yang dialami Azalea dalam kesendiriannya.
Sungguh. Kisah mereka begitu mengilhami. Kisah yang membuat saya iri dan semakin ingin mengenal Rasulullah SAW. Dan belajar mencintainya. Karena saya. Masih sangat jauh darinya. Masih sangat jauh..
Saran saya hanya satu. Bacalah. Maka mungkin, kau akan merasakan apa yang saya rasakan...
~ Ia Seftia ~