Jump to ratings and reviews
Rate this book

Untuk Negeriku #1-3

Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi

Rate this book
Menurut Bung Hatta, ada dua pencapaian yang paling berarti sepanjang hidupnya. Pertama, saat ia menjadi salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Kedua, saat mewakili bangsa Indonesia menerima penyerahan kedaulatan Indonesia di Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.

Inilah buku kisah perjalanan hidup dan perjuangan Pahlawan Proklamator Kemerdekaan Mohammad Hatta, sejak masa kanak-kanak hingga ke periode puncak kematangan pemikiran dan kegiatan politiknya. Dibagi dalam tiga jilid: Jilid I berisi cerita tentang keluarga dan masa kecil Bung Hatta sampai ia menuntaskan studi di Handelshogeschool (Sekolah Tinggi Dagang) di Rotterdam, 1930. Jilid II berisi kisah perjuangan Bung Hatta di Tanah Air sampai ia ditangkap dan dibuang ke Digul dan Banda, hingga 1942. Buku Jilid III berisi catatan tentang peran Bung Hatta dalam persiapan kemerdekaan Indonesia dan kisah perjuangan diplomatiknya, yang berpuncak di Konferensi Meja Bundar, akhir 1949.

Buku yang ditulis sendiri oleh Bung Hatta menjelang wafatnya pada 1980. Isinya amat layak dikaji kembali sekarang ini, masa di mana kian banyak orang meragukan kompatibilitas antara nasionalisme dan globalisasi yang terus bergulir kian cepat. (dari rakbukuonline.com)

808 pages, Unknown Binding

First published January 1, 1979

73 people are currently reading
840 people want to read

About the author

Mohammad Hatta

84 books181 followers

Latar Belakang dan Pendidikan
Dr.(H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta (populer sebagai Bung Hatta, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 12 Agustus 1902 – wafat di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Bandar udara internasional Jakarta menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasanya sebagai salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia.

Nama yang diberikan oleh orang tuanya ketika dilahirkan adalah Muhammad Athar. Anak perempuannya bernama Meutia Hatta menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.

Perjuangan
Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB) Cabang Padang. Di kota ini Hatta mulai menimbun pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan politik, salah satunya lewat membaca berbagai koran, bukan saja koran terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta mengenal pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus Salim dalam Neratja.

Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. “Aku kagum melihat cara Abdul Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat menarik perhatian dan membakar semangat,” aku Hatta dalam Memoir-nya. Itulah Abdul Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat Islam; anggota Volksraad; dan pegiat dalam majalah Hindia Sarekat, koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta Utusan Melayu dan Peroebahan.

Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas ia bertolak ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya dimuat dalam majalah Jong Sumatera, “Namaku Hindania!” begitulah judulnya. Berkisah perihal janda cantik dan kaya yang terbujuk kawin lagi. Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, datanglah musafir dari Barat bernama Wolandia, yang kemudian meminangnya. “Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku,” rutuk Hatta lewat Hindania.

Pemuda Hatta makin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan, pengalaman sebagai Bendahara JSB Pusat, perbincangan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Minangkabau yang mukim di Batavia, serta diskusi dengan temannya sesama anggota JSB: Bahder Djohan. Saban Sabtu, ia dan Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota. Selama berkeliling kota, mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air. Pokok soal yang kerap pula mereka perbincangkan ialah perihal memajukan bahasa Melayu. Untuk itu, menurut Bahder Djohan perlu diadakan suatu majalah. Majalah dalam rencana Bahder Djohan itupun sudah ia beri nama Malaya. Antara mereka berdua sempat ada pembagian pekerjaan. Bahder Djohan akan mengutamakan perhatiannya pada persiapan redaksi majalah, sedangkan Hatta pada soal organisasi dan pembiayaan penerbitan. Namun, “Karena berbagai hal cita-cita kami itu tak dapat diteruskan,” kenang Hatta lagi dalam Memoir-nya.

Selama menjabat Bendahara JSB Pusat, Hatta menjalin kerjasama dengan percetakan surat kabar Neratja. Hubungan itu terus berlanjut meski Hatta berada di Rotterdam, ia dipercaya sebagai koresponden. Suatu ketika pada medio tahun 1922, terjadi peristiwa yang mengemparkan Eropa, Turki yang dipandang sebagai kerajaan yang sedang runtuh (the sick man of Europe) memukul mundur

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
224 (64%)
4 stars
89 (25%)
3 stars
24 (6%)
2 stars
2 (<1%)
1 star
7 (2%)
Displaying 1 - 30 of 38 reviews
Profile Image for Rizky Indra.
3 reviews1 follower
September 3, 2015
“Allah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, Tuhan seru sekalian alam. Allah mejadikan segala yang ada di alam dan di langit. Allah memberi kita rezeki. Sebab itu kita kita harus berterimakasih kepada Allah. Balas kasih Allah kepada kita itu dengan mengasihi orang lain. Bagikan pula rezeki yang dikaruniakan Allah kepada kita itu kepada orang lain yang tidak punya. Dan Allah nanti membalas budi kita dengan melimpah-limpah.

Kita manusia dan segala yang hidup diatas dunia adalah baru. Alam, matahari, bulan, dan bintang semuanya baru. Semuanya buatan Tuhan. Segala yang terjadi ada yang menjadikan. Ada awal, ada akhirnya. Tuhan yang menjadikan tidak baru, ada selama-lamanya, tunggal, tidak dijadikan. Segala yang dijadikannya sifatnya baru dan Tuhan tidak baru. Allah yang tunggal tidak dapat serupa atau sama dengan yang dijadikannya. Kalau serupa dan sama, itu tidak tunggal lagi. Oleh karena itu Allah adalah zat yang tidak serupa dengan yang baru. Tidak dapat digambarkan dengan rupa manusia, tidak dapat dikatakan dengan bentuk dan rupa yang ada di dunia ini. Yang kita tahu hanya Allah ada sebab dibuktikan oleh yang dijadikannya. Segala yang dijadikan Allah itu akan berakhir pada hari kiamat. Allah yang ada selama-lamanya itu, mengetahui semuanya dan dan mendengar selamanya. Allah Maha Besar dan Maha Kuasa. Dengan cinta dan tawakal kepada Allah, kita dapat merasakan adanya Tuhan. Tidak ada tempat takut, hanya Allah. Orang Islam yang berjalan di diatas jalan Allah tidak perlu gentar, tidak perlu takut, sekalipun berada seorang diri. Ia tak tak perlu merasa terpencil tersendiri di tempat yang sunyi dan jauh sekalipun. Allah senantiasa disisinya.” (Untuk Negeriku, Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi {cet. 2014}, hlm. 27)


Kutipan diatas adalah petuah Syekh Arsjad (Ayah Gaek Batuhampar) kepada Bung Hatta yang ketika itu berumur 7 tahun. Inilah pangkal fondasi yang membentuk karakter Bung Hatta menjadi seorang yang tegas dalam berprinsip, muslim yang taat, intelektual yang berdedikasi, pribadi yang rasional, serta seorang yang selalu menjunjung tinggi kemanusiaan, sosialisme, dan demokrasi. Bung Hatta adalah teladan ideal, orang yang berjiwa dan berjasa besar seperti beliau belum tentu selalu muncul dalam setiap 100 tahun. Buku ini wajib dibaca oleh generasi muda, agar pribadi seperti Bung Hatta tidak sirna tetapi ditiru dan dilipatgandakan.
12 reviews1 follower
January 11, 2018
Sebuah memoar yang mengharukan, sekaligus menginspirasi. Kisah seorang Bapak Bangsa yang mendedikasikan sepanjang hidupnya untuk negaranya. Indonesia harus sangat bersyukur memiliki seorang negarawan seperti Hatta, politikus yang cerdas nan fasih, dan juga seorang penulis yang luar biasa.Hatta, si jenius yang kaku, menceritakan dengan sangat detil kejadian yang terjadi dalam hidupnya sejak Beliau lahir hingga akhir perjuangannya memperoleh kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya di Konferensi Meja Bundar. Sungguh luar biasa mengingat buku ini Beliau tulis pada tahun 1979. Semua kejadian Beliau paparkan layaknya baru saja peristiwa itu terjadi. Kisahnya ditulis dengan gaya khas seorang Hatta; tajam (tanpa bahasa yang berbunga-bunga), idealis, kritis namun tetap santun (seperti berbagai kritik pedasnya terhadap Soekarno, sahabatnya), cerdas, dan runtut. Buku ini adalah salah satu harta karun dari rangkaian panjang perjuangan meraih kedaulatan Indonesia, sebuah cerita yang wajib dipahami oleh manusia-manusia Indonesia yang sekarang menikmati kebebasan hasil tumpah darah para pahlawan di masa penjajahan.
Profile Image for Erwin Pauang.
4 reviews1 follower
April 6, 2013
Bung Hatta menjadi salah satu founding father Indonesia ternyata berawal dari sebuah "kecelakaan" kecil yang menjadikannya lebih memilih jalur perjuangan dan pendidikan daripada mengikuti jejak orang tua dan keluarganya untuk menjadi alim ulama.
Buku yang dibagi dalam tiga bagian ini menceritakan milestone-milestone penting dalam kehidupan Bung Hatta mulai dari Bukittinggi menuju Jakarta hingga berlayar ke Belanda yang menjadi langkah awalnya dalam menancapkan tonggak sejarah perjuangan kemerdekaan indonesia lewat perhimpunan mahasiswa indonesia di Belanda.
Bung Hatta menuntut ilmu dalam bidang ekonomi di negeri Belanda selama kurang lebih 12 tahun.
Hidup dan menuntut ilmu di Belanda, negeri para penjajah yang menjajah negaranya bukannya membungkam Bung Hatta dalam memperjuangkan hak merdeka bagi bangsanya, tapi malah menggelorakan semangatnya untuk mencerahkan baik masyarakat/kaum berpendidikan Belanda maupun para intelektual dari berbagai negara yang bersama-sama menentang kolonialisme dan penjajahan
Buku ini juga mengisahkan pertemuan Hatta dengan para penggiat kemerdekaan dari berbagai negara yang kelak menjadi sahabat-sahabat Bung Hatta.
Bagian terakhir dari buku ini menceritakan aksi, strategi dan peran Bung Hatta dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.
Di dalamnya termasuk pertemuan Ia dengan Bung Karno, perbedaan pendapat dan ideologi hingga konflik diantara mereka, pembuangan di Banda, sampai pada situasi yang memaksa mereka berdua untuk bersatu berjuang meski dengan perbedaaan pandangan yang tidak sedikit diantara mereka.
hal yang tentunya paling ditunggu-tunggu dari buku ini adalah detik-detik menjelang lahirnya negara indonesia dari dwitunggal Soekarno-Hatta.
Konflik-konflik dan kronologis menjelang proklamasi kemerdekaan diceritakan dengan detail dalam autobiografi ini.
secara keseluruhan nampak jelas pengaruh pendidikan yang membawa pencerahan terhadap pemikiran bung hatta dalam memoerjuangkan kemerdekaan.
Nampak jelas semangat itu dalam beberapa tulisan/kolom bung Hatta ygn dimuat persis seperti naskah aslinya dalam halaman-halaman buku ini.

totally recommended untuk generasi muda yang mulai luntur semangat nasionalismenya dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.
7 reviews1 follower
September 30, 2020
Buku ini merupakan otobiografi Bung Hatta. Bung Hatta sangat baik menulis buku ini, dengan ingatan yang sangat kuat Bung Hatta dapat menceritakan secara detail, bahkan ditambah dengan beberapa cerita unik maupun lucu. Dalam buku ini kita diceritakan mulai dari Bung Hatta kecil,bagaimana Bung Hatta mendapatkan pendidikan yang berperan penting dalam membangun kualitas intelektual Bung Hatta, kemudian di akhir buku Bung Hatta menceritakan upayanya dalam mempertahankan kedaulatan Bangsa Indonesia.

Banyak hal yang dapat kita pelajari dan teladani dari sosok Bung Hatta. Contohnya seperti Bung Hatta yang sangat gemar membaca, bahkan ketika beliau kembali ke Indonesia, dan ketika dipindahkan tempat pengasingannya sangat banyak jumlah buku yang harus ikut dipindahkan juga. Hal lainnya adalah beliau sangat suka mencatat, dan catatan yang dituliskan dilakukan sedetail mungkin. Kedua hal tersebut yang menjadikan Bung Hatta memiliki hafalan yang kuat.

Sayangnya Bung Hatta tidak menceritakan kisahnya, andai saja beliau menceritakannya pasti akan menjadi bagian yang membuat buku ini semakin menarik.
Profile Image for Dwi Ananta Putra.
28 reviews2 followers
December 25, 2018
Sejarah perjuangan kemerdekaan tidak melulu tentang Soekarno dan orasinya. Hatta adalah seorang visioner, seorang penggagas yg cerdas, visi beliau tentang demokrasi sudah tertuang dari sejak lama, pandangan tentang Islam yang damai. Setelah membaca buku ini, Mohammad Hatta mendapatkan tempat tersendiri dalam fikiran saya, tidak seperti biasanya yg selalu disandingkan dengan Soekarno.

Kerap memiliki pandangan berbeda dengan Soekarno, namun untuk kemerdekaan Indonesia, persatuan adalah satu-satunya jalan. Sebuah nilai yg sudah semakin luntur di negeri yg kemerdekaannya diraih dengan penuh perjuangan.
Profile Image for monet.
6 reviews4 followers
January 29, 2021
Hatta merupakan sosok pendiri bangsa yang sangat jenius. Buku ini membuktikan pemikirannya yang sangat cemerlang, ingatannya sangat kuat, serta tulisannya begitu detail dan unik hingga bisa membawa pembaca ikut berpetulang dalam peristiwa hidup yang dilaluinya. Petualangan beliau dirangkum dalam tiga jilid, dimulai dari Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi, Berjuang dan Dibuang, serta Menuju Gerbang Kemerdekaan.

Pada jilid pertama, pembaca dikenalkan dengan sosok Hatta kecil yang hidup di kampung halamannya, Bukittinggi. Kehidupan bermain dengan teman-temannya hingga nilai-nilai agama yang dipupuk sejak masa kecilnya tertuliskan pada bagian ini. Masa-masa sekolahnya saat di Bukittinggi hingga ke Rotterdam melalui Betawi, berikut juga organisasi-organisasi yang diikutinya secara paralel tertuang secara rinci.

Dari jilid ini, pembaca bisa mulai mengenal sosok Hatta yang mengawali jejak perpolitikannya dan kisah berdirinya Perhimpunan Indonesia. Momen yang paling berkesan dari buku bagian pertama ialah saat Hatta berkuliah di Belanda. Pembaca bisa merasakan atmosfer benua biru, mulai dari suasana politik hingga kondisi ekonomi Belanda dan negara tetangga yang dikunjungi beliau.

Menjajaki buku bagian kedua, Berjuang dan Dibuang, pembaca akan semakin dibuat kagum dengan pribadi Bung Hatta yang gagasan-gagasannya semakin tajam. Polemik dengan partner duet mautnya, Soekarno, beliau utarakan dalam buku ini yang juga dimuat di majalah Daulat Ra’jat. Melalui tulisannya, begitu terasa perbedaan pandangan dan sikap kedua founding fathers negeri kita.

Perjalanan Hatta dengan keteguhan pandangan beliau dan organisasinya ternarasikan dengan rapi. Buah pikiran dan rasa cinta beliau terhadap tanah air pun tertuang di setiap titik yang dilaluinya, seperti saat beliau diasingkan ke Boven Digul dan Banda Neira, Bung Hatta menuliskan, “Di atas segala lapangan Tanah Air aku hidup aku gembira. Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang kusimpan dalam dadaku.” Dari sini pula, pembaca akan mengenal bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta dan Jakarta saja. Ada sekian penjuru negeri ini yang kita belum ketahui.

Memasuki bagian penutup, Hatta menuliskan peristiwa demi peristiwa Menuju Gerbang Kemerdekaan. Kejadian-kejadian penting tentang berdirinya Indonesia tercatat di bagian ini yang disertai detail momen yang hanya dapat dilihat dari kacamata Hatta. Bagian ketiga ini akan mengingatkan pembaca pada pelajaran IPS atau Sejarah yang didapatkan semasa sekolah, mulai dari masa kependudukan Jepang, detik-detik kemerdekaan, kala mempertahankan kemerdekaan, hingga pengakuan kedaulatan oleh Belanda. Haru dan tegang menyelimuti latar suasana tiap peristiwa yang dituliskannya. Dan hal yang paling penting dari bagian ini adalah kemerdekaan Indonesia tak hanya menjadi hadiah untuk bangsa ini, tetapi juga hadiah terindah baginya atas jasa-jasa beliau memperjuangkan kemerdekaan.

Autobiografi dari tokoh bangsa yang sangat mencintai buku dan literasi ini tak hanya memberi teladan dari berbagai sisi kehidupan, tetapi juga membuat pembaca menilik kembali sejarah negeri ini. Semakin memerhatikan makna setiap kalimat yang dituangkannya, pembaca akan semakin dibuat jatuh cinta dengan sosok Hatta, bahkan menyadarkan rasa cinta tanah air yang senantiasa mesti kita tanamkan dalam jiwa. Dan tulisan-tulisan beliau ini merupakan harta karun bagi bangsa kita yang mesti dipahami oleh setiap rakyat Indonesia karena melalui karya-karyanya kita dapat memahami alam pikiran Bung Hatta dan tanah tumpah darah kita.
Profile Image for Arif.
96 reviews7 followers
April 24, 2018
Saya merasa Pak Hatta sosok dekat setelah baca biografi beliau yang sederhana, detil, teknis, apa adanya. Sosoknya tidak di awang-awang, seperti pak Karno. Pak Hatta sangat serius, relijius dan di sisi lain terasa sufistik. Ayah tirinya, Pak Gaeknya, adalah ulama di Batuhampar. Pak Hatta hampir memperdalam ilmu agama, pernah bahasa Arab nahwu, tapi keburu ditarik nasib sekolah umum.

Sumbar saat itu ulama tidak anti adat. Ada prinsip adat bersendi syarak, syarak bersendi adat (kutipan langsung di buku). Hal tentang adat patrilineal memang bakal kompleks, tapi ulama setempat bisa mentoleransinya. Pak Hatta bilang misal ziarah kubur orang tua untuk mengingat dan mendoakan tidak masalah. Yang salah ke makam keramat dengan maksud lain yang mendekati syirik. Hal yang berbeda konon di Sumbar saat ini situasi keagamaanya agak lain, ya? (CMIIW)

Dalam kesehariannya Pak Hatta orang yang perhatian hal-hal kecil. Dari cerita dan detail yang diutarakan kita tahu banyak hal tentang bagaimana dunia, ilmu pengetahun, hingga watak sosial di berbagai daerah tempat hidup pak Hatta, mulai dari: Bukittinggi, Jakarta, Rotterdam, perjalanan beli berkonferensi, perjalanan memulai dunia menulis dan politik, hingga dibuang di Digoel dan kemudian di Banda Neira.

Pak Hatta orangnya terlihat sangat disiplin. Rencana waktu, bangun sarapan, pembagian kerja, semau seperti telah dipikirkan. Maka tak heran ritme perjalanan santai di sore yang Pak Hatta lakukan sampai bisa jadi patokan waktu buat nelayan setempat. "Oh sudah jam lima, " kata merela. (versi di Tempo)

Dari buku ini saya kenal berbagai konsep dagang waktu (futures) yang menjadi benih bencana keuangan di Abad XX sudah dikenal dan dilakukan pengusaha di Betawi saat itu, termasuk dilakukan oleh pamannya Etek Ayub Rais. Mungkin karena saat ini saya telah paham beberapa konsep ekonomi, jadi memahami biografi ini terasa menarik.
Profile Image for Hero Yudha.
23 reviews1 follower
October 28, 2018
Hatta adalah seorang teladan luar biasa dengan pemikiran hybrid dalam proposalnya dalam proses pembentukan Dan pembangunan negeri ini. Seorang yang anti terhadap kapitalisme tapi bukan seorang komunis yang mencita2kan pembangunan ekonomi kolektif kerakyatan. Seorang administratur dan ideolog yang konsisten. Pada masa pemerintahan awal kemerdekaan dimana kabinet dikuasai orang2 kiri yang bertarung Satu sama lain, Hatta menjadi ultimate choice to recover the chaos situation. Membaca kisahnya dalam otobiografi ini, Saya yakin bahwa negeri ini memang dibangun oleh orang2 yang tulus dengan cita2 untuk rakyat. Namun politik praktis kadang memaksa orang untuk berkompromi untuk mencapai tujuan akhir, yaitu Indonesia yang berdaulat Dan makmur. Terima kasih Pak Hatta untuk seluruh sumbangan dan pengabdiannya.
Profile Image for Hakni..
166 reviews3 followers
December 30, 2023
Dialah tokoh yang terkenal tidak memiliki sisi romantis, cenderung kaku (menurut pengakuat Bung Karno dan Sjahrir).
Pada buku pertama ada beberapa point yang menarik bagiku;
1. Bung Hatta walaupun telah pergi dari negara-negara demi menuntut ilmu dan menempuh perjalanan untuk menambah pengalaman politik, namun ia dikenal sebagai orang yang tidak neko-neko, ternyata pondasi agama yang kuat dari keluarganya merupakan kunci sikap menjaga diri dari Bung Hatta.
2. Setiap berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, Bung Hatta tidak lupa mencontohkan sikap disiplinya. Dia dengan rapi menyusun setiap jadwal dari bangun tidur hingga menjelang tidur. Bung Hatta memiliki jadwal yang tetap dan pasti untuk menghindari kesia-siaan dalam satu hari tersebut, bagi Bung Hatta setiap hari adalah kegiatan belajar dari apapun yang ada didekatnya.
3. Bung Hatta yang dengan jujur pasti menolak jabatan yang tidak sanggup ia emban. Ia tidak serakah terhadap jabatan. Tidak segan jabatan itu ia serahkan kepada kader lain yang lebih mampu.

Pada buku kedua ada beberapa point yang menarik pula untukku;
1. Bung Hatta punya enam belas peti besi berisi buku (WAW!)
2. Partai yang kembali dikembangkan oleh Bung Hatta sepulangnya dari Belanda lebih mementingkan segi kualitas pemikiran dari massanya. Memang sedikit kader partai Bung Hatta (tidak sebanyak Partindo milik Bung Karno), Bung Hatta lumayan ketat dalam menerapkan rekruitmen kader inti partai.
3. Duel gagasan yang dilakukan oleh Bung Hatta dan Bung Karno secara transparan melalui majalah milik masing-masing partai. Perbedaan Bung Hatta dan Bung Karno adalah, Bung Hatta membebaskan kader partainya untuk membaca gagasan dan sanggahan milik Partindo sekaligus sebagai bahan evaluasi diri mengenai cara berpikir PNI-P berbeda dengan Bung Karno yang melarang kadernya membaca Daulat Rakjat dan hanya menggunakan sumber tulisan milik Bung Karno.

Buku yang harus kalian baca minimal satu kali saja. Banyak kisah baik, menginspirasi dari budi pekerti Bung Hatta dan cara berpikirnya.
Profile Image for Ian.
111 reviews4 followers
December 13, 2025
Suatu kewajiban buat baca buku ini minimal sekali sih. Jujur gw gak terlalu suka biografi, cuman berhubung ini otobiografi yang ditulis langsung oleh Hatta, gw pikir ini bakal sesuatu yang lebih insightful dari hanya sekadar kisah hidup beliau. Dan iya buku ini bukan hanya sekadar kisah hidup Hatta, tetapi juga berupa renungan, gagasan, dan impian yang beliau tuliskan dalam bentuk otobiografi. Dari pandangan hidup sebagai seorang muslim yang menapaki jalan seorang cendekiawan, ahli ekonom yang melihat kapitalisme memimpin imperialisme, gagasan nasionalis yang mentransendenkan jiwa provinsialisme, dan banyak pengamatan beliau terkait budaya dan adat demi membentuk sistem demokrasi yang beliau impikan terdapat pada buku ini meskipun tidak sedalam pada tulisan-tulisan essai langsungnya.

Gw baca edisi kompas yang terbaru, dan ada beberapa modernisasi kata yang dirasa lawas dan memiliki makna berbeda, juga pilihan agar buku ini dibagi menjadi 3 buku dibanding 1 seperti edisi sebelumnya karena tebalnya buku ini. Jujur saja membaca buku 800 halaman otobiografi bukan sesuatu yang mudah, terlebih jika kita tidak memiliki hubungan empati dengan orang tersebut. Tetapi karena bentuk kekecewaan, dan melihat betapa bobroknya pemerintah pusat terutama wapres kita sendiri membuat gw terenung betapa mundurnya kita sebagai bangsa dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ini. Dan ya, membaca kisah hidup beliau sebagai seorang mahasiswa terpelajar di Belanda, sepak terjangnya di dunia politik dan diplomasi, serta bentuk perjuangannya sebagai salah satu anak bangsa membuat gw terharu. Ada satu kalimat yang bahkan membuat gw terharu dan jujur hampir membuat gw menangis:

"Kepada saudara-saudara kita yang menempuh jalan pembuangan dan hidup dalam perasingan, inilah syrat hidup yang kita peringatkan: 'Di atas segala lapangan Tanah Air aku hidup aku gembira. Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang kusimpan dalam dadaku."
Profile Image for Nadya Larasati.
3 reviews
January 19, 2021
When reading this, I felt like being told a live, vivid story by wisest grandpa. I felt that he was very close, alive, and warmed my heart. Whilst from the story itself, I became more and more aware that my beloved country, Indonesia, wasn’t built by any sort of amateur. Read this, you’re gonna know how advanced our ancestors already were and you’ll just be enlightened to improve yourself better.
Profile Image for Dimitri Putra.
6 reviews
January 30, 2020
Interesting to know person behind the founding of Indonesia. New perspective on looking at Indonesia independence process.
Profile Image for riam budhi.
33 reviews1 follower
July 14, 2021
Jilid satu sudah selesai, mulai jilid ke-2. Best story-nya bawa buku 3 koper...hahahaha
Profile Image for Kamila.
42 reviews25 followers
October 7, 2022
detail self life story telling from Indonesian founding father, Moh Hatta.
Profile Image for kathleen.
23 reviews
June 19, 2024
it's so intriguing to know how our founding father lived (sounds intruding but i swear i mean it in the nicest way possible-)! moreover, in the end they're just humans like us.
Profile Image for Muhammad Akmal.
11 reviews
December 30, 2025
my Bung<3 panutan ku..
Seru sekali bisa diajak-Nya ke masa kecilnya Bung Hatta.. Baru baca buku pertamanya, nanti lanjut lagi—soalnya aku agak lelet kalo baca non fiksi.. he he..
Profile Image for Norma.
43 reviews11 followers
September 7, 2014
The Gandhi of Java

Nama The Gandhi of Java tidak banyak yang mengenalnya atau malah belum pernah mendengarnya sama sekali, salah satunya adalah saya ... Jika saya tidak membaca otobiografi Tokoh sejarah favorit saya manalah mungkin saya tau The Gandhi of Java itu siapa.
The Gandhi of Java adalah sebutan kepada Mohammad Hatta dari para cendekia luar negeri pada masa itu. Disebut Gandhi karena perjuangan Beliau untuk kemerdekaan Indonesia mirip dengan perjuangan Mahatma Gandhi dari India.
Mohammad Hatta the founding father of Republic of Indonesia, sang Proklamator, Bapak Koperasi Indonesia, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.
Saya baru saja menyelesaikan bacaan otobiografi Mohammad Hatta : Untuk Negeriku, buku yang membahas tentang tokoh sejarah Indonesia yang satu ini sudah lama saya cari ... ini pun tak sengaja ketemu di salah satu sudut rak buku di gramedia, tinggal satu - satunya. Alhamdulillah akhirnya ketemu juga.
Beliau adalah tokoh sejarah Indonesia favorit saya, walaupun kebanyakan orang mengidolakan tokoh Proklamator yang satu nya (Bung Karno), tidak begitu dengan saya ... walaupun saya tidak menampikkan jasa Bung Karno sebagai salah satu Proklamator Indonesia.
Kenapa saya mengidolakan Bung Hatta:
1. berhati lurus
2. teguh pendirian
3. jujur
4. kepentingan bangsa diatas kepentingan pribadinya
5. meletakkan masa depan bangsa sebagai tujuan hidupnya
6. menyelaraskan ucapan dan tindakan

Pertama kali jatuh hati dengan sosok Bung Hatta ketika membaca disebuah buku (lupa bukunya, tapi kalimat ini yg terngiang - ngiang di ingatan saya) bahwa beliau tidak akan memikirkan kesenangan pribadinya (menikah) sebelum Bangsa Indonesia Merdeka.

Buku yang selesai saya baca ini merupakan cetakan ke 3, yang terbagi kedalam tiga buku yaitu
Buku 1 : Bukit Tinggi - Rotterdam lewat Betawi
Buku 2 : Berjuang dan Dibuang
Buku 3 : Menuju Gerbang Kemerdekaan

Otobiografi ini aslinya diselesaikan sebelum beliau meniggal dunia pada tahun 1980, hmmm ... saya aja belum lahir ketika Beliau meninggal :(
Pada waktu membeli buku ini saya mencari - cari di daftar isi tentang keseharian beliau dengan keluarga Beliau setelah Indonesia Merdeka tetapi tidak satupun yang saya temukan. Sehingga isinya benar - benar tentang perjuangan Beliau sampai Indonesia Merdeka.
Tentang kelahiran beliau pun cuma ditemukan disalah satu sudut foto Beliau dengan kakak perempuannya yang bernama Rafiah bahwa Beliau dilahirkan dengan nama Muhammad Athar dan dipanggil dengan nama Atta. Kronologis perubahan nama dari Muhammad Athar menjadi Mohammad Hatta pun tidak ditemukan.
Tentang pernikahan beliau pun hanya ditemukan disebuah foto pada halaman terakhir Buku ke3, Foto Bung Hatta dan Bu Rachmi yang sepertinya baru saja melangsungkan pernikahan karena Bu Rachmi memakai untaian melati, dibawah foto itu tertulis "Aku bersama istri pada hari pernikahan tanggal 18 November 1945 di Megamendung Bogor"
Kalau kesimpulan yang saya baca setelah membaca buku ini bahwa ketika keadaan terdesak Bung Karno tidak dapat berfikir (maaf klo kesimpulan saya salah), tetapi Bung Hatta dengan berfikiran jernih mampu mengeluarkan (kalau saya bilang menciptakan) isi teks proklamasi, memang benar teks proklamasi itu adalah tulisan tangan Bung Karno, tetapi itu adalah buah fikiran dari Mohammad Hatta yang didiktekan kepada Bung Karno untuk dituliskan.
Hal paling menggembirakan di hidup beliau adalah dua peristiwa yakni Ketika memproklamasikan Indonesia Merdeka dan menerima penyerahan kedaulatan Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat. (Meutia Farida Hatta Swasono).
Sebenarnya masih banyak lagi hal - hal yang menggelitik di buku ini, tapi klo penasaran silahkan baca buku otobiografi Mohammad Hatta, tidak ada salahnya mengenal pendiri Republik Indonesia ini.

norma-puspita.blogspot.com
5 reviews
January 1, 2017
Mohammad Hatta is one of the founding fathers of Indonesia, together with Soekarno, we know him as the first president and vice president of the republic. The combination of 3 books compiling 3 major series of Bung Hatta's life shows the readers how long it was for him to claim the independence of indonesians from Japan and Netherland. Starting from the first book showing his struggle to get the best education he could ever get, as an indonesian, who was pretty hard because the dutch made it complicated for the indonesians going to school. He finally made it to the highest education level he could get as a scholar, and got the trust from his people to bring Indonesia to its independence. The first book also shows how only people from respective families could step into higher level education in the age of dutch colonial age, fortunately he could manage to get it and in the future made it to the founding father from Indonesia. Expected to be religion expert, he changed his family hope to become an economist and took economic school.
Profile Image for Eka Putra.
10 reviews2 followers
July 21, 2015
Bung Hatta merupakan sosok yang sangat inspiratif. Proklamator yang dijuluki Gandhi van Java ini memiliki sederet prestasi yang gemilang saat beliau masih muda. Pada umur 23 tahun, beliau sudah mampu memimpin sebuah forum internasional untuk menentang imperialisme. Walaupun sebelum kemerdekaan tidak ada secara tertulis Bung Hatta adalah pemimpin bangsa Indonesia, akan tetapi dunia mengakuinya. Bung Hatta menjadi pemimpin bangsa Indonesia bukan karna memenangkan suara pada pemilu, bukan juga karna menduduki kursi pemerintahan Hindia Belanda. Beliau menjadi pemimpin karna semangatnya untuk memerdekakan bangsanya. Yang mengutamakan bangsa lebih dari apapun. Beliau sendiri baru memikirkan kehidupan pribadinya untuk menikah baru setelah Indonesia merdeka. Beliau tokoh yang sangat memiliki pendirian yang kokoh. Beliau merupakan sosok yang sudah selayaknya diteladani oleh pemuda masa kini. Untuk melepaskan bangsa Indonesia dari penjajahan yang tak kasat mata saat ini.
Profile Image for Fuadiyah Kamil.
4 reviews
January 25, 2013
Sebuah perkenalan manis dengan wakil presiden pertama kita. Salah satu ia, yang percaya, bahwa menulis itu penting, sangat penting. Tak hanya omong besar, tapi mulai memikirkan benar-benar apa yang akan disampaikan. Tak tergesa-gesa, tapi juga berani mempertanggungjawabkannya.

Karakter yang, untuk sekarang ini, tak apa ia tak menjadi pemimpin. Tak apa ia berdiri di puncak tertinggi. Tapi ia, yang justru berjuang dengan segala yang dia punya untuk melakukan tindakan nyata. Melalui pendidikan, melalui pemikiran, dan segala tenaga yang dipunya. Tapi hasilnya nyata. Hasilnya ada. Bahkan hingga berpuluh-puluh tahun setelahnya.

Secara pribadi, juga membuat saya untuk lebih banyak diam sekarang ini. Saya sudah capek bicara dan nyatanya tidak pernah didengar orang, hhhe. Mungkin saya perlu melakukan sesuatu lebih nyata. Terimakasih Hatta, Bung Hatta, Pak Hatta...:)
Profile Image for hidayat rusli.
3 reviews
May 10, 2013
sedikit banyak melalui buku ini kita bisa tahu latar belakang dan dasar yang membentuk watak pemikiran dan karakter seorang Bung Hatta. Sejarah masa kecil, merantau ke Batavia hingga dilanjutkan dengan petualangan kuliah dan perjuangan di Belanda kemudian kembali dan perjuangan kemerdekaan di Indonesia sungguh menegaskan beliau tak sekadar pemimpin tapi pemikir yang cerdas. Jadi penasaran dengan buku Indonesian Vrij...
Profile Image for Marlina Ali.
Author 4 books4 followers
September 21, 2015
Sempat beberapa kali hampir menangis ketika membaca beberapa bagian. Terutama pidato pembelaan Hatta. Dari buku ini banyak belajar juga tentang politik dan pentingnya menulis.
Inspiring. Worth to read.
Profile Image for Dimas Saputra.
9 reviews
May 17, 2019
Mengisahkan perjalanan seorang tokoh yg sangat berpengaruh dalam kemerdekaan indonesia.

Perjalanan hidup seorang wakil presiden pertama di indonesia, dikisahkan pula masa kanak-kanak di kampung halaman sebuah desa (Lupa nama desanya hehe) di padang.
Profile Image for Adrian.
12 reviews5 followers
June 18, 2012
akan jadi bintang 5 kalau saja ceritanya sampai Bung Karno lengser di tahun 65 :(
Profile Image for Muhammad Syarafuddin.
18 reviews3 followers
December 8, 2013
Jika sudah membaca Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat-nya Cindy Adams, rugi rasanya tidak turut membaca Memoir Hatta ini.
Displaying 1 - 30 of 38 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.