Karena mawar itu berduri, maka ia mampu menjaga keindahan kuntum-kuntumnya. Tetapi, Mawar, gadis tomboy sekaligus jago karate yang senang mendaki gunung ini, tak hanya dituntut menjaga dirinya sendiri. Ia harus mengembalikan kehormatan keluarganya yang tercabik-cabik.
Ketika Cempaka, Sang Kakak nan cantik dan menjadi idola semua pria bermaksud menggugurkan bayi dari hasil hubungan di luar nikahnya, Mawar menentang keras. Ketika si bayi akhirnya lahir dan Cempaka mencampakkannya, Mawar pun merawat Yasmin, si bayi itu. Ia rela orang-orang mengira bahwa Yasmin adalah anaknya, padahal ia tak bersuami, sementara Cempaka, melenggang dalam karirnya tanpa ada yang mencurigai asal-usulnya.
Ketika sang ibu terjebak dalam lilitan hutang, yang membuat rumah mereka disita dan mereka semua harus pergi dari rumah antik peninggalan almarhum ayah mereka, Mawar pun memimpin kebangkitan keluarga dengan bersusah-payah mencari nafkah.
Bahkan, Mawar pula yang berjuang keras membiayai kuliah Melati, adiknya yang bungsu di Fakultas Kedokteran, sementara kuliahnya sendiri terlantar, karena sibuk bekerja. Bagaimana jika semua pengorbanan itu seperti tak mendapatkan balasan?
Penulis asal daerah poci Tegal ini, punya nama lengkap Sinta Yudisia Wisudanti. Penulis pernah kuliah di STAN Jakarta sampai tingkat II, mengaku aktivitas tulis menulisnya sebagai bentuk penyaluran dari hobinya berkorespondensi dan membaca. Tak heran kalau tulisan-tulisan fiksinya sangat beragam mulai melodrama, komedi, science fiction, historical fiction, sampai cerita-cerita perjuangan dengan latar dalam dan luar negeri yang kerap menghiasi berbagai media cetak, terutama majalah Annida.
Seperti The Road to The Empire, buku mb Sinta ini ludes dalam satu malam. Saya berhasil dibikin mewek. Sedikit-sedikit tergugu, memikirkan diri dan hati sendiri. Konflik Mawar dan keluarganya begitu familiar. Mungkin juga familiar bagi banyak pembaca lainnya. Sekalipun demikian, novel ini terus menawarkan cermin dan menyodorkan banyak pelajaran.
Sangat berharap, mb Sinta akan terus melahirkan karya berkualitas dan istiqamah berdakwah dalam tulisan.
***
[Ulasan Buku]
Membaca fiksi dengan tokoh utama yang membawa serta konflik berlapis-lapis dalam kehidupannya dan menjadi alasan perjuangan yang panjang, mungkin bukan hal yang langka. Bila pernah membaca ‘Ketika Mas Gagah Pergi..dan Kembali’ terselip cerita tentang Ita. Cerita yang menghadirkan Ita dengan kesedihan berlapis-lapis -yang sepertinya secara nyata-, kita akan berpikir bahwa mustahil lapis demi lapis kesedihan atau konflik itu sanggup terselesaikan dengan tuntas. Novel ini pun, demikian. Awalnya menggantungkan pertanyaan itu lewat sinopsis di sampul belakangnya.
Bagaimana bisa Mawar berpikir untuk menanggung anak hasil hubungan diluar pernikahan kakaknya? Lalu memutuskan berhenti kuliah, merintis usaha untuk membantu kakak sulungnya mempertahankan kesejahteraan keluarga? Pun ketika telah matang dan kondisi keluarga membaik, Mawar memilih untuk mendukung adiknya menikah karena memang telah dilamar oleh laki-laki bermartabat. Bagaimana ia tidak mempersoalkan gunjingan ‘perawan tua’ sementara ibunya justru bersedih dan sebenarnya tak ingin ia dilangkahi menikah oleh si bungsu. Dan ketika telah beberapa tahun ia membesarkan Yasmin hingga menjadi anak yang baik dan pintar, bagaimana caranya ia bisa rela menanggapi keinginan kakaknya yang hendak merebut Yasmin dari sisinya?
Bagian awal novel ini, kurang saya nikmati. Karena belum terasa mengalir saat membaca dua episode awal. Tapi itulah, permulaan memang tidak selalu mudah. Selanjutnya, tulisan mba Sinta mengamini antisipasi saya. Bahwa karyanya memang kaya. Tidak ada sudut pandang tokoh yang terlampau dominan, tapi hal tersebut tidak membuat rasanya setengah-setengah. Lalu narasi latar yang tata kalimatnya memikat, indah. Alurnya tidak begitu lambat, tidak pula terlalu cepat. Mungkin tema yang diangkat, sekilas serupa sinetron zaman sekarang. Tetapi toh novel ini tidak dramatis yang lebay, tapi dramatisnya natural. Dramatis yang bisa diterima nalar.
Perubahan menjadi lebih baik yang terjadi pada Mawar, pada Melati maupun keluarganya, tidak instan. Dan itulah, asyiknya. Kita mengalir menyaksikan bertumbuhnya mereka. Pertumbuhan yang tidak mudah. Mawar bukan seorang yang terus lempeng dan lapang. Bahwa satu dua kali bahkan ia bertanya letak keadilan Allah terhadap keluarganya. Ada juga saat dia bertanya sendiri, benarkah tindakan-tindakan yang diambilnya? Transformasinya pun tidak sebentar. Tapi karakternya yang begitu kuat mengalahkan melankolisme akut yang mungkin akan melanda kita bila ada di posisi Mawar.
Sejak pertengahan novel, airmata saya meluruh. Mba Sinta berhasil mengaduk-aduk perasaan saya. Sementara saya terus saja iri pada Mawar yang berkarakter nalaria (istilah mba Sinta). Karena saya tahu persis kelemahan perempuan yang berkarakter melankolis. Bahwa orang berkarakter nalaria lebih memiliki potensi berpikir positif dan cepat bangkit. Lalu saya ingin menjadi seperti Mawar. Mungkin itu juga akan diinginkan pembaca lain.
Mawar bukan tokoh yang beranjak cemerlang secara materiil tapi ia beranjak kaya dalam hatinya hingga tercermin dalam transformasi dirinya. Kedewasaannya menajam, akhlaknya semakin cantik. Segambreng permasalahan yang menghampirinya, seperti pasir-pasir yang ia simpan dalam cangkangnya yang mulanya membuat ia kesakitan tapi kemudian balik menghadiahinya dengan mutiara. Bagaimana bisa tidak iri?
Ketika akhirnya Mawar mendapatkan pasangan, kisahnya tidak seperti Cinderella yang menemukan pangeran berkuda. Mungkin hal ini mematahkan kebiasaan cerpen dengan tema bernada sama, tapi itu nilai relevannya. Lalu tidak semua karakter berhasil mencapai titik balik dan beralih menjadi dominan protagonis. Dan begitulah, tidak selalu mudah memelihara ‘kebenaran’ yang telah Allah titipkan.
Satu hal yang sangat kental, novel ini menyuguhkan rupa pengorbanan. Tak perlu disesali, tak perlu diratapi, karena nantinya pengorbanan tersebutlah harga bagi pendewasaan diri.
Rose, adalah fiksi yang dipikirkan dengan matang. Diniatkan untuk mencerahkan. Begitu kan, mba Sinta? :-P
Ah ya, banyak kuotasi yang bersepakat dalam nalar dan begitu diterima oleh hati. Seperti:
“Tetaplah mencari ilmu tentang kebenaran hingga ia berpijak diatasnya dengan teguh. Sampai nanti kita sudah salih pun, tetaplah belajar. Karena hidayah itu secara sunnatullah harus dipelajari dan dipelihara.” –halaman 167
“..Tapi, semakin kamu mencari jawaban diluar agama, semakin akan hancur hidup kita. Kita akan semakin terbentur-bentur pada persoalan yang makin tak terurai karena kusutnya.” –halaman 171
“Kata orang, berdoa adalah katarsis. Mencurahkan semua beban hingga tanpa sisa kepada pendengar, tanpa interupsi. Siapa lagi pendengar yang mampu menampung segala tanpa bertanya (kecuali Allah)?” –halaman 246
Bahkan ada kalimat filosofis tentang anak-anak: “Anak-anak tak pernah merasa lelah, tak pernah menyimpan keburukan di hati, tak pernah merasa dieksploitasi. Anak-anak adalah rancangan alami siklus kehidupan. Permata yang menghiasi rantai kebosanan kehidupan orang-orang dewasa, zamrud yang memberikan pendar kecantikan. Aroma wangi yang menyempurnakan bunga tercipta.” –halaman 70
Cover dan pemilihan nama tokoh-tokoh nya bikin skeptis awalnya, tapi ternyata cerita nya bagus! Problematika keluarga sederhana di Jogja. Konflik keluarga terutama antar saudara yang menurut ku realistis tapi seringkali luput dari perhatian kita. Menurut ku isu yang diangkat sangat brilliant! Plot twist nya ada tapi ngga yang maksa banget, tipis tapi berhasil bikin jantung dar der dor dan penasaran untuk tau kelanjutan kisah nya. Dan yang tentu saja kusuka, ending nya ngegantung!! Haha love it!
saya percaya, apapun idenya, akan melahirkan karya yang baik jika diolah oleh tangan yang tepat. Novel ini telah membuktikannya. Tema dan jalinan cerita yang umum dijumpai dalam drama televisi - empat kakak beradik perempuan yang yatim dan berbeda karakter, harus bergelut dengan lika-liku hidup terkait kekurangan uang, ibu yang jatuh sakit, salah satu anggota keluarga hamil diluar nikah, diteror para broker saat agunan rumah telah jatuh tempo, dst - di tangan mbak Sinta Yudisia mampu menjelma sebuah cerita yang sangat apik dan menyentuh, juga sarat nilai inspirasi.
Salah satu kelebihan utama novel ini ada pada kekuatan karakter tokoh-tokohnya. Mbak Sinta berhasil menokohkan Dahlia, Cempaka, Mawar dan Melati dalam pribadi masing-masing secara spesifik, juga memberi sifat yang proporsional kepada mereka, termasuk kepada sosok sang ibu. tak ada si hitam dan si putih. Semuanya punya sisi baik dan kurang. Dan melalui sosok Mawar, tokoh sentral novel ini, banyak pelajaran bisa diambil, diantaranya tentang kesabaran, keteguhan dan pencarian jati diri.
Selain itu, dialog-dialog segar antara Mawar dan teman-teman prianya juga tak jarang membangkitkan sisi humor dan perenungan sekaligus. Lihatlah apa yang dikatakan Rasyid saat Mawar mempertanyakan kenapa orang baik rejekinya seret sementara orang jahat rejekinya berlimpah. "Karena rejeki ukurannya bukan hanya duit, Non. Buktinya, Mama kamu yang baik dan shalihah itu punya anak-anak perempuan yang baik, cantik, sehat walafiat, nggak cacat. Coba kalau itu diuangkan, berapa miliar, Mawar?" (hal.59).
Ditunjang oleh jalinan plot yang rapi, penceritaan yang mengalir, dan inspirasi yang disampaikan tanpa menggurui, juga kelindan kisah yang beberapa kali memancing air mata, membuat novel ini very recommended buat para penyuka novel drama :)
Rose, Akhirnya sampai juga buku ini dalam genggaman, saat mulai membaca aq benar – benar tidak punya gambaran sedikitpun buku ini bercerita tentang apa. Sinta Yudisia sudah merupakan jaminan bacaan bagus dan berbobot bagiku. Jadi saat ditag mbak Sinta review buku ini via fesbuk, aq langsung skip. Bukannya ga suka, tapi ogah dapet spoiler, soalnya direview biasanya ada spoilernya. Bahkan saat mengambil buku ini dari rak, aku tidak mengintip sinopsi dibelakangnya. Padahal membaca sinopsis buku adalah salah satu kegiatan wajib ku saat hendak membawa buku ke meja kasir. Pengecualian untuk mbak Sinta Yudisia.
Membaca judulnya dan dari awal cerita kupikir cerita ini akan berkisar tentang perempuan bernama “Rose” ternyata dugaan ku tidak sepenuhnya benar. Rose adalah sebuah kisah keluarga, konflik saudara perempuan, cemburu, hal – hal yang biasa muncul didalam keluarga.
Rose, betapa besar luka yang dibuat oleh saudara, ia tetaplah saudara. Sejauh apapun ia pergi, suatu saat ia pasti kembali. Sebesar apapun permasalahan yang muncul dan usaha untuk menghindarinya dia harus dihadapi.
Rose, membuatku menekuri satu demi satu keputusan yang telah kubuat. Ku ingat – ingat kapan terakhir kali aku memohon bantuan pada Nya untuk mengambil keputusan? Sudah lama sekali.
Ah, Rose...
Tapi, seperti kebanyakan buku mbak Sinta terdahulu, ending Rose juga dibikin gantung. Entah nanti mau dibuat sekuel atau memang diserahkan pada pembaca untuk berandai – andai bagaimana kelanjutannya.
Mbak Sinta Yudisia, Terima kasih atas tamparan keras “Rose” pada ku... sakit sih, tapi pantas.
Ikhlas, sebuah kata yang sering terucap tapi tak selalu mudah ketika dijalani. Keikhlasan, tidak berarti meniadakan kekecewaan ataupun kesedihan. Ikhlas hanya berarti dua: bersyukur dengan nikmat, dan bersabar dalam ujian.
Novel ini kaya. Kaya tokoh, kaya konflik, sekaligus kaya pesan.
Dengan Mawar sebagai tokoh sentral, porsi saudara-saudaranya yang lain Dahlia, Cempaka, dan Melati tetap seimbang. Bahkan karakter kawan-kawan merekapun tetap tereksplor dengan baik, sehingga tak ada tokoh yang dominan. Semua tokoh di kisah ini sama pentingnya.
Novel keluarga dan konflik berlapis. Aku menikmati membaca episode demi episode di buku ini. Dan aku pun terlarut dalam setiap ujian dan proses penguatan iman masing-masing tokohnya. Bagaimana Melati si bungsu, yang pendapatnya selalu didengar paling akhir justru pertama-tama yang menemukan hidayah, atau Mawar yang memilih mengais hidayah di jalanan bersama kawan-kawan “preman”nya. Dahlia yang berdamai dengan pilihannya sebagai anak tertua yang harus menanggung keuangan keluarga. Atau bagaimana Cempaka yang egois terpaksa harus tergugu ketika menyadari tak semua hal bisa diperoleh dengan kekayaan yang dimilikinya. Sebuah kisah yang sarat hikmah.
Menyelami kisah ini, pembaca menyadari bahwa karakter ikhlas itu terbentuk tidak dengan serta merta, tapi justru melalui proses pembelajaran dari setiap pergulatan batin yang panjang setelah episode-episode pahit kehidupan.
Di dalam novel ini, pembaca akan disajikan proses metamorfosis tokoh-tokohnya. Bagaimana mereka yang awalnya biasa-biasa saja dari segi pemahaman agama, hingga menjadi sosok yang selalu melibatkan Allah dalam setiap pengambilan keputusan. Dan betapa tidak mudahnya jalan yang harus mereka lalui menuju ke sana, terutama Mawar sebagai tokoh sentralnya.
Jika dibandingkan karya Sinta Yudisia yang berjudul Existere, novel ini lebih ringan, alurnya juga lebih cepat. Pendeskripsian penulis atas suatu tempat atau situasi pun tidak terlalu banyak/detil. Dalam novel ini justru lebih tergambarkan isi hati tokoh-tokohnya. Bagaimana mereka memecahkan konflik batin yang dialami.
Di mata saya, tidak ada adegan yang serupa sinetron dalam novel ini. Entahlah, tapi yang melekat bagi saya adalah sinetron itu serba berlebihan, hehe, sedangka dalam novel ini, saya tidak menemukan suatu hal yang berlebihan. Bumbu konflik yang berlapis tetap sesuai takarannya. Tiap potongan episode kehidupan keluarga mereka sangat "seru" untuk disimak. Karakterisasi tokoh-tokohnya pun dibangun dengan baik. Sayang, kisahnya tetap harus berakhir, hehe.
Boekoe ini lebih dari lajak oentoek disinetronkan! Tentoe sadja kalaoe djadi disinetronkan, saja harap djadinja tak bakal senorak sinetron Catatan Hati Seorang Istri dan Aisyah Putri >,<
Inspiratif banget. Ada ja tjewek kajak Rose masih hidoep di doenia ini? Masyaallah >,<
Akoe soeka tokohnja jang jaoeh dari kesan Marie Soee. Rose ga tjantik, tjerdas terlaloe djoega tidak, popoelar djuga kagak. Tapi mwah, dia tjalon bidadari soerga. Soenggoeh akoe ingin ketemoe ROSE jang sebenarnja kalaoe ada.
Haroesnya ini adja jang disinetronkan. Tapi dengan penoelis skenario Fahri Asiza kali ja, biar gak norak amat eksekoesinja >,<
kisah dalam buku ini benar-benar menggugah kesadaran kita bahwa ya, selalu, Allah menjawab doa-doa, di masa yang tepat, bahkan saat manusia melupakan apa yang pernah dipintanya. mengajarkan pula bahwa kebohongan hanya melahirkan kelelahan yang tiada habisnya. mengingatkan saya juga bahwa rasa syukur itu ternyata harta berharga :)