Man Jadda Wajada, siapa yang sungguh-sungguh akan berhasil. Kalimat itu bukan hanya “mantra” dalam cerita novel Negeri 5 Menara. Kata-kata juga dimaknai seutuhnya selama pembuatan filmnya oleh mereka yang terlibat. Buku ini menyajikan rangkaian kisah di balik sorot kamera; keringat, air mata, juga tawa milik mereka yang telah bahu-membahu menciptakan sebuah karya layar lebar.
Simak perjalanan yang meliputi serunya perburuan pemeran Sahibul Menara, upaya menembus Pondok Modern Gontor, hingga gerilya syuting di London. Kisah-kisah di balik layar ini akan melengkapi dan menjadi kesaksian terwujudnya sebuah keyakinan: Man Jadda Wajada.
Fuadi lahir di nagari Bayur, sebuah kampung kecil di pinggir Danau Maninjau , tidak jauh dari kampung Buya Hamka. Ibunya guru SD, ayahnya guru madrasah.
Lalu Fuadi merantau ke Jawa, mematuhi permintaan ibunya untuk masuk sekolah agama. Di Pondok Modern Gontor dia bertemu dengan kiai dan ustad yang diberkahi keikhlasan mengajarkan ilmu hidup dan ilmu akhirat.
Gontor pula yang membukakan hatinya kepada rumus sederhana tapi kuat, ”man jadda wajada”, siapa yang bersungguh sungguh akan sukses.
Juga sebuah hukum baru: ilmu dan bahasa asing adalah anak kunci jendela-jendela dunia. Bermodalkan doa dan manjadda wajada, dia mengadu untung di UMPTN. Jendela baru langsung terbuka. Dia diterima di jurusan Hubungan Internasional, UNPAD.
Semasa kuliah, Fuadi pernah mewakili Indonesia ketika mengikuti program Youth Exchange Program di Quebec, Kanada. Di ujung masa kuliah di Bandung, Fuadi mendapat kesempatan kuliah satu semester di National University of Singapore dalam program SIF Fellowship. Lulus kuliah, dia mendengar majalah favoritnya Tempo kembali terbit setelah Soeharto jatuh. Sebuah jendela baru tersibak lagi, Tempo menerimanya sebagai wartawan. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah para wartawan kawakan Indonesia.
Selanjutnya, jendela-jendela dunia lain bagai berlomba-lomba terbuka. Setahun kemudian, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk program S-2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya—yang juga wartawan Tempo—adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September dilaporkan mereka berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill.
Tahun 2004, jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Kini, penyuka fotografi ini menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature Conservancy.
Fuadi dan istrinya tinggal di Bintaro, Jakarta. Mereka berdua menyukai membaca dan traveling.
”Negeri 5 Menara” adalah buku pertama dari rencana trilogi. Buku-buku ini berniat merayakan sebuah pengalaman menikmati atmosfir pendidikan yang sangat inspiratif. Semoga buku ini bisa membukakan mata dan hati. Dan menebarkan inspirasi ke segala arah. Setengah royalti diniatkan untuk merintis Komunitas Menara, sebuah organisasi sosial berbasis relawan (volunteer) yang menyediakan sekolah, perpustakaan, rumah sakit, dan dapur umum secara gratis buat kalangan yang tidak mampu.
Judul Buku : Negeri 5 Menara Penulis : A. Fuadi Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Cetakan : I, Juli 2009 Tebal : 416 halaman ISBN : 9789792281422 Harga : Rp. 70.000,-
Siapa yang sudah menonton film "Negeri 5 Menara"? Film ini sendiri diputar serentak di bioskop seluruh Indonsia pada tanggal 1 maret 2012 kemarin. Setelah sebelumnya film seperti Laskar Pelangi meraih kesuksesan, Sang Penari berhasil menggebrak industri film Tanah Air. Kini film Negeri 5 Menara yang juga diangkat dari novel karya Ahmad Fuadi siap mengikuti kesuksesan yang menjadi best seller. Negeri 5 Menara menyapa para pencinta film, dan menjawab rasa penasaran pembaca novel.
Cerita Film Negeri 5 Menara ini bermula dari seseorang bernama Alif. Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia selalu bermimpi, bahwa dirinya bisa menguasai bahasa Arab dan Inggris, kemudian dia ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau sampai ke Amerika.
Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan tentu mandi berkecipak di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.
Di hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak menggigau dalam bahasa Inggris, merinding mendengar ribuan orang melagukan Syair Abu Nawas dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.
Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan teman sekamarnya, Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Kebiasaan berkumpul di bawah menara masjid, mereka berenam pun menamakan diri ‘Sahibul Menara’, alias Pemilik menara. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian jiwa muda ini membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.
Keenam sahabat ini memiliki impian masing-masing dan bertekad meraihnya. Seperti Alif bertekad dapat mengunjungi Amerika, Baso yang bertekad menghafal 30 Juz Al Quran sebelum lulus.
Selain mengangkat pesan moral dalam film ini, sutradara Affandi A Rachman juga menampilkan keindahan panorama di kota Bukit Tinggi dan danau Maninjau, Sumatera Barat. Film yang sarat dengan inspirasi tentang tekad, kerja keras, dan persaudaraan ini didukung bintang-bintang muda berbakat seperti Billy Sandy, Ernest Samudra, Rizki Ramdani, Jiofani Lubis, Aris Putra, Eriska Rein.
Sayang, keenam bintang muda itu tampak kurang mendapat chemistry yang kuat. Beruntung, itu tertutupi dengan akting ciamik dari aktor dan artis senior yang tidak asing di industri hiburan. Seperti Andhika Pratama, Ikang Fawzi, David Chalik dan Mario Irwinsyah.
Judul Buku : Negeri 5 Menara Pengarang : Ahmad Fuadi Jml. Halaman : 425 halaman Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Umum Tempat Terbit : Jakarta Tahun Terbit : Tahun 2009 Cetakan Pertama : Tahun 2009 ISBN : 978-979-22-8004-3
2. Sinopsis:
Alif, anak remaja dari tanah Minangkabau yang belum pernah beranjak ke luar dari kampung halamannya tersebut. Ibunya Alif berniat anak laki-lakinya itu menjadi seorang pemimpin agama, seperti yang telah dilakukan Buya Hamka. Maka dari itu setamat dari SMP, ibunya berkenan untuk menyekolahkan Alif di sebuah Pondok besar di pelosok Jawa Timur yaitu Pondok Madani (PM). Alif kecewa mendengar hal tersebut, cita-cita yang selama ini dia impikan kandas, yaitu menjadi seperti Habibie. Alif lulus seleksi masuk dan diterima menjadi murid di PM. Di PM, Alif menjalin persahabatan dengan 5 orang yang berbeda asal usul yaitu, Atang, Raja, Baso, Said, dan Dulmajid. Anak-anak ini mempunyai kelebihan dan kekurangan yang berbeda, untuk itu mereka saling membantu dan solid terhadap sesama. Awalnya merasa terpaksa masuk PM, tapi setelah tahu situasi di pondok ini dan telah terjalin hubungan dengan para sahabat-sahabatnya layaknya keluarga, Alif merasa terbiasa di sini. Ustadz-ustadz di pondok ini sangat akrab dengan murid-muridnya dan selalu memberikan semangat atau motivasi. Suatu hari, di bawah sebuah menara tinggi di samping Masjid Al-Barq yaitu masjid yang berada di PM, Sahibul Menara (julukan bagi persahabatan keenam anak tersebut) masing-masing memandangi awan yang berada di atas mereka. Mereka berimajinasi tinggi lalu menyebutkan bahwa awan tersebut menggambarkan sebuah benua. Masing-masing dari mereka berbeda pendapat, ada yang menyebutkan benua Eropa, Afrika, Asia, dan sebagainya. Masing-masing benua tersebut mempunyai menara yang berbeda-beda, mereka bermimpi kelak mereka akan berada di 5 menara itu untuk meraih mimipinya. Mereka tidak takut bermimpi setinggi mungkin meskipun tidak tahu bagaimana merealisasikan. Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Alif dan juga sahabat-sahabatnya. Mereka pernah mendapat banyak pelanggaran, gagal dalam keinginannya, siksaan batin karena ditinggal oleh salah satu sahabatnya yaitu, Baso, dan adapula kebahagiaan yang mereka alami tentang keberhasilan misi-misi mereka. Pelajaran-pelajaran yang mereka dapatkan dari para guru dan kakak-kakak salah satunya tentang keikhlasan dan menjadi seorang pemimpin walau hanya setengah tahun. Dan yang paling mengesankan adalah disaat kelas 6. Mereka harus berusaha sekuat tenaga untuk belajar sampai tengah malam selama sebulan untuk menghadapi ujian paling berat di PM yaitu Ujian Pamungkas. Bahan ujiannya adalah materi dari kelas 1 sampai kelas 6, dan ujian tersebut dilaksanakan secara lisan dan tertulis. Selama setengah bulan mereka menjalani Ujian Pamungkas. Meskipun awalnya mereka hampir putus asa karena harus berusaha keras, tetapi hasil yang mereka dapatkan cukup memuaskan. Sahibul Menara merayakan kelulusan mereka semua. Alif merasa bangga karena telah memenuhi keinginan orang tuanya untuk menyelesaikan belajar di PM dan mendapatkan hasil yang membanggakan pula. Seperti pesan dari Kiai Rais, pemimpin Pondok Madani, beliau menyampaikan bahwa kami harus mengamalkan ilmu yang telah kami dapatkan di dalam pondok ini ke masyarakat luar. Belasan tahun kemudian, di London. Alif mempunyai janji dengan sahabatnya yang lama tidak berjumpa, Raja dan Atang. Mereka lalu bertemu dan menceritakan kesuksesan masing-masing dan tak lupa juga, kesuksesan para Sihabul Menara. Lihatlah hari itu, atas doa yang telah kami panjatkan, Tuhan memberikan benua impian ke pelukan masing-masing. Mereka berenam berada di lima negara berbeda, lima menara impian mereka. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. . . . .
3. Kelebihan:
Novel ini banyak memberikan manfaat bagi pembaca karena memuat tentang hidup, mimpi, dan persahabatan. Khususnya bagi kaum remaja, dengan mengambil nilai-nilai positif serta gaya pendidikan yang disiplin dan religius tetapi mudah diterima akan sangat membantu kita dalam dunia pendidikan maupun dalam tata kehidupan kita. Motivasi serta inspirasi yang termuat dalam novel ini dapat membangkitkan gairah pembaca. Permainan kosakatanya mapu menyentuh hati pembaca. Deskripsinya yang detail memberikan gambaran setiap tokoh-tokoh dalam novel ini.
4. Kelemahan:
Alur yang terdapat dalam novel ini merupakan alur campuran (maju-mundur), hal tersebuat membuat cerita sedikit rumit. Karena setelah pembaca terhanyut dalam alur maju yang mendominasi dari awal cerita, ternyata bagian tengah menunjukkan bahwa cerita ini mempunyai alur campuran. Sebagian kosakata dalam novel ini sulit dimengerti meskipun di akhir setiap halaman telah diberikan keterangan terhadap kosakata asing, namun sebagian kosakata belum ada penjelasannya terutama kosakata dalam bahasa Arab dan Minang. Akhir cerita ini seperti belum tuntas, sehingga pembaca masih bertanya-tanya tentang beberapa hal.
Judul Novel: Negeri 5 Menara Judul Resensi Novel: Negeri 5 Menara Pengarang: A. Fuadi Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit: 2012 Kota Terbit: Jakarta Jumlah Halaman: 424 Hal Novel karanggan A. Fuadi ini merupakan salah satu novel best seller. Novel ini menceritakan tentang salah satu tokohnya yang bernama Alif Fikri atau Alif. Anak Maninjau ini sebenarnya ingin melanjutkan sekolahnya ke SMA Bukittinggi setelah mengikuti perintah sang Amak untuk sekolah di jalur Agama. Namun, Amaknya tidak rela kalau Alif masuk SMA. Alif telah mencoba membujuk Amaknya dengan cara mengurung diri di kamar. Namun, keinginan Amaknya tidak tergugah. Hingga ada surat dari Pak Etek Gindo yang menyarankan Alif bersekolah di Pondok Madani di Ponorogo, Jawa Timur. Alif pun bimbang Dengan berbagai pertimbangan, Alif meminta Ayah dan Amak unutk bersekolah di Jawa Timur saja kalau tetap harus bersekolah agama. Di Pondok Madani, Alif berteman dengan 5 anak nusantara yang disebut Sahibul Menara. dengan mantra sakti yang diajarkan oleh Kiai Rais "Man Jadda Wajada", Alif semakin mantap untuk bersekolah di Pondok Madani. Walaupun surat dari Randai (temannya) kadang-kadang menggoyahkan hatinya. Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil!
Baru baca setelah kovernya sudah berubah menjadi seperti ini, hehe. Bagus. Memberi wawasan tentang kehidupan pondok pesantren yang sebelumnya tak pernah terpikir oleh saya. Buku ini memberikan magnet tersendiri hingga pada akhirnya membuat saya untuk meneruskan perjuangan membaca buku keduanya : Ranah 3 Warna.
Common words and high motivated vibes make this book impressive which could change your insecurity of dreaming. Rewarding all the achievments is not too much and fair enough comparing to the efforts. Man Jadda Wajadaa is an incredible word!
Sebuah film yang sarat dengan pesan... Man Jadda Wa Jadda..siapa yg bersungguh-sungguh maka dapat lah ia. Kata-kata ini pernah sy pelajari, sewaktu masih semester awal. Pelajaran Retorika namanya, pelajaran yg mempelajari kalimat-kalimat pembangun semangat, atau kalimat-kalimat penuh makna dan pesan tapi dalam bahasa Arab. Kebayangkan susahnya mesti pelajarin bahasa Arab yg notabene ngga pernah sy pelajari sama sekali, kalo Bahasa Inggris ya masih mending. Oke back to the topic, sy memutuskan untuk menonton film ini krn penasaran dengan novelnya. Yah lagi-lagi krn pertimbangan harga dan krn sy memang bukan orang yang royal dalam membeli buku *bilang aja pelit...jd sy ngga beli hehehe. sy berharap Filmnya sedikit banyak sudah menggambarkan isi bukunya walaupun ngga semua, ya ngga mungkin buku setebal itu dibuat film seluruhnya :D Dengan nonton filmnya setidaknya sudah mengobati rasa penasaran saya, hal yang paling sy takutkan kalo menonton film yg diangkat dari novel adalh filmnya tidak sebagus novelnya seperti yg sy alami ketika menonton film ayat cinta, benar2 kecewa. Tapi krn berhubung sy belum baca novel negeri 5 menara jd film ini menurut sy lumayan, Film ini mampu menghadirkan unsur ke daerahan yang kuat. Utamanya Baso, anak Makssar yg merantau ke tanah Jawa untuk menuntut ilmu, salut sama aktingnya. Begitu banyak pesan moral dalam film ini membuat kita setidaknya memberi apresiasi positif, walaupun menurut sy masih lebih bagus film laskar pelangi. BTW Film ini bagai oase ditengah keringnya gurun perfilman Indonesia. Film2 yg secara moral, cerita dan juga pesan yang terkandung sangat dangkal dan hanya mengandalkan unsur porno dan nudity. Overall film ini bisa jdi salah satu film recomended buat anak2. Man Jadda Wa Jadda..oi ada satu kalimat juga yg menjadi favorit sy sewaktu belajar retorika, kulil hakku walaw kana murran..katakanlah yang benar itu walaupun pahit..ngarep jg sih kali aja ada buku yg bakal ngangkat kalimat ini sebagai unsur pesan yg ditonjolkan:D
menginspirasi.. ada kalimat motivasi yg harus ditulis di notes ataupun ditempel di kamar.. bahkan sampai mikir kalau masuk pesantren.. yaa . ikhlas ikhlas ikhlas.