Menggarap satuan kecil semisal tradisi kampung atau kehidupan rumah tangga, Raudal Tanjung Banua menjalankan siasat naratif yang jitu dalam menghadapi realitas yang besar. Anasir kecil seperti pisau atau parang, menjadi pusat tersembunyi dari pengisahan; begitu konsistennya anasir itu tergarap, sehingga ia bisa bermakna sebagai kelamin lelaki atau bayangan lelaki, yang merangsang konflik di bawah permukaan. Tanpa perlu menjadi simbolisme atau realisme, sejumlah kisah Raudal yang terbaik menjadi "sistem" yang utuh dalam dirinya sendiri namun sekaligus prisma yang memancarkan masalah kaum, puak, atau satuan sosial yang lebih besar. Tanpa kegenitan untuk meleburkan warna lokal, Raudal berhasil meneruskan kompleksitas (dan keretakan) tradisi lisan ke dalam tulisan, ke dalam sastra.
Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat dan Harian Haluan, Padang, untuk akhirnya memutuskan merantau ke Denpasar, Bali, bergabung dengan Sanggar Minum Kopi dan intens belajar pada penyair Umbu Landu Paranggi; lalu ke Yogyakarta, menyelesaikan studi di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta, mendirikan Komunitas Rumahlebah dan bergiat di Lembaga Kajian Kebudayaan AKAR Indonesia - sebuah lembaga budaya yang menerbitkan JURNAL CERPEN INDONESIA.
”Ada saatnya pepatah itu patah atau dipatahkan, dan itulah yang terjadi kini.”(hal.80)
Membaca Parang Tak Berulu ini sebab ingin menyiapkan diri untuk membaca kumpulan cerpen terbaru Raudal Tanjung Banua Cerobong Tua Terus Mendera —sebenarnya narasi-narasi Raudal sudah cukup familier bagi pembaca kita, tapi rasanya perlu membaca buku yang ini. Saya selalu merasa buku ini adalah satu “buku penting” Raudal. Narasinya sangat tenang, sangat menyenangkan seperti seorang pendongeng. Dalam buku ini ada sebelas cerpen yang telah lebih dahulu terbit di Tempo, Kompas, Horison, Jurnal Cerpen, dll. Bisa dibayangkan, kekuatan narasinya.
Sebelas cerpen: 1. Rumah Berkabut 2. Laju Buaian di Rumah Tak Berpenghuni 3. Perempuan yang Jatuh dari Pohon 4. Tukang Pijat Keliling 5. Parang Tak Berulu 6. Pusaran Lubuk Pengantin 7. Tubuh yang Bersekutu 8. Tali Rabab 9. Ladang Terhijau Saat Kemarau 10. Batang Pinang, Batang Pisang, Kenangan Terus Memanjang 11. Rumah-Rumah Menghadap Jalan
Ada satu kata kunci yang menarik untuk ditandai dalam buku ini: perkara domestik, dongeng, mitos, dll. Raudal menggunakan semua “elemen” tradisional itu untuk cerita yang menarik. Meski kalau andai buku ini terbit sekarang saya bisa membayangkan akan banyak rujaka untuk prespektif Raudal dalam beberapa cerpen. Misalkan cerpen “Tubuh yang Bersekutu” elemen queer yang dipakai “hanya untuk kejutan” saya rasa kurang pas kalau cerpen ini ditulis sekarang. Apalagi ada beberapa cerpen yang sangat eksploitatif perempuan (sebagai korban kekerasan seksual, perkawinan yang hanya mensyaratkan keperawanan dengan darah di malam pertama, dll). Tapi, kan itu cerpen yang terbit dua dekade yang lalu.
Paling saya sukai adalah cerpen Perempuan yang Jatuh dari Pohon, Tukang Pijat Keliling, dan Tali Rabab. Makanya saya sudah siap menyambut kumcer baru Raudal.
Kumpulan cerpen ini ditulis oleh penulis kelahiran Sumatra Barat. Gaya bahasa dan tema yang tersaji pada kumpulan cerpen ini sangat dipengaruhi oleh gaya bahasa Minang dengan gaya narasi serupa novel-novel klasik angkatan Balai Pustaka yang memang didominasi oleh penulis Minang. Tema-tema yang diangkat adalah tema-tema sosial kemasyarakatan minang yang bagi pembaca orang minang mungkin sudah tidak asing. Dari sebelas cerpen yang dimuat, ada dua cerita yang menarik untuk saya dan membuat saya selesai membacanya dalam satu sesi baca yaitu Parang Tak Berulu dan Tali Rabab. Sedangkan cerita yang lainnya ada yang cuma beberapa paragraf saya baca tapi tak kunjung nyangkut di hati saya jadi tidak diteruskan.
Kumpulan cerita yang mengusung lokalitas beserta segenap persoalannya, termasuk politik gender, di tengah tipisnya batas budaya lokal dan global saat ini. Dibuka dengan cerita "Ranah Berkabut" mengenai tokoh sentral perempuan yang terperangkap jalinan sosial yang dikuasai paham tradisional patriarkal, yang kemudian mencoba melakukan “perlawanan” melalui tindakan simbolik dan kemudian dianggap menyimpang. Setipe dengan Ranah Kabut, cerpen lainnya mengutarakan hal yang kurang lebih sama, di antaranya Perempuan yang Jatuh dari Pohon, Pusaran Lubuk Pengantin, Tukang Pijat Keramat dan seterusnya.
kata yang dipilih untuk ending di cerita yang merupakan ending kumpulan cerpen ini. mengusik. mengingatkan kembali keinginan untuk pulang ke kampung halaman. kerinduan yang tak bisa tergantikan. seperti halnya dengan sebagian besar cerita yang ada.
mengisahkan tentang mitos dan budaya setempat (sumatra barat) yang masih tetap mengukung penghuni na di era modernisasi. di satu sisi melestarikan budaya itu bagus, tapi di sisi lain ada yang perlu mengejar ketertinggalan juga. dimana mitos itu mengurung penduduk na, apakah harus tetap demikian?
When I read this book, feel like I hear the song of algae's music in the ocean. The deep, the blue and seagull's scream brougth me to the place of old wisdom.
membaca tulisan-tulisan Raudal menyenangkan. bukan hanya karena lokalitas isi-nya, tetapi juga karena Raudal selalu mengemas karyanya dengan komposisi yang rapi.
Setiap cerita dalam buku ini kaya akan lokalitas. Dan, tentu saja, saya penggemar cerita2 yang kaya lokalitas seperti buku ini. Renyah bahasanya, mengagumkan alur ceritanya. Bagus!