Jump to ratings and reviews
Rate this book

Detektif Sekolah

Rate this book
Tessa, sang penggagas Tim Detektif TBS, kerap hampir putus asa dengan kedua rekannya—Bams dan Momon—yang begitu unik. Namun, di balik keunikan dan kegokilan kedua rekannya, mereka datang membawakan bukti-bukti yang selalu bisa mendekatkan mereka kepada pelaku.Detektif TBS yang terbentuk di taman belakang sekolah selalu siap beraksi untuk kasus-kasus yang bikin penasaran. Misteri adalah tantangan bagi mereka. Dengan semangat pantang menyerah, detektif SMA ini akan selalu siap beraksi sampai kasus selesai. Akan selalu ada jawaban di balik pertanyaan yang pelik—dan akan selalu ada cara untuk mempertahankan kesetiakawanan yang diuji.TBS—tim penyelidik gokil dan cerdas, mengungkap kasus sampai tuntas!

220 pages, Paperback

First published March 1, 2012

4 people are currently reading
60 people want to read

About the author

Dimas Abi

7 books25 followers
Dimas Abi adalah salah satu penulis Indonesia yang bergerak pada genre komedi. Ia telah menerbitkan beberapa novel solo, antara lain : Gorilove (bukune, 2009), Detektif Sekolah (2012), Idolku Cantik (2014), dan Berburu Restu (2023)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (13%)
4 stars
13 (29%)
3 stars
19 (43%)
2 stars
5 (11%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Angsa Kembar.
30 reviews
January 13, 2023
Sangat mencerminkan novel komedi awal tahun 2011an. Jokes-jokes garing, kalimat enggak nyambung dan logika lompat-lompat yang bisa aja dinikmatin. Ringan banget pokoknya. Misterinya ada, tapi lebih banyak diselingin sama komedi-komedi radit-esque.


Kalau ini terbit tahun 2016, mungkin cocok untuk diadaptasi jadi film oleh Fajar Nugros.

Profile Image for Haris Firmansyah.
Author 12 books35 followers
May 7, 2017
Cuma tuntas baca kasus pertama aja. Kasus kedua kebanyakan basa-basi.
Profile Image for Nana.
40 reviews1 follower
January 9, 2014
Salah satu buku yang bikin saya ngakak dari halaman pertama sampe akhir. Mungkin selera humor tiap orang berbeda, tapi yang jelas selera humor penulis buku ini sama kayak saya. Gak heran saya bisa menikmati buku ini dari awal sampai habis dan nagih untuk baca buku selanjutnya :)

Review ini copas dari blog, setahun lalu, hahaha :D

Niatnya sih mau ngakak gelundungan di lantai abis baca sinopsis bukunya waktu di toko buku. Tetapi, berhubung enggak etis dan ada kemungkinan gue ditangkep dan dijatuhi hukuman selamanya di apartemen bobrok dalam film The Raid untuk jadi samsaknya Mad Dog (sumpah ngeri banget), akhirnya gue cekikikan aja dan langsung masukin itu novel ke dalam kantong belanja (kalo belanja online, tulisannya add to cart) tanpa mikir dua kali.

Oke, cukup ceritanya, mari masuk ke review. Ngomong-ngomong, pulang dari Gramedia, gue langsung baca novel ini di TJ. Tapi setelah beberapa halaman akhirnya gue tutup karena gue enggak tahan mau ngakak. Kalo gue nekat ketawa kenceng-kenceng dalem TJ, kejadiannya bisa kayak yang tadi gue beberin. Sori, masih belum punya nyali ketemu Mad Dog, apalagi jadi samsaknya. Karena rasanya enggak puas kalo baca novel ini tanpa ngeluarin hasrat untuk tertawa, akhirnya gue tahan enggak baca sampe di rumah.

Kalo baca cerita gue barusan, udah tau dong ya, ini novel komedi. Tulisannya sih cerita detektif, tapi daripada jadi detektif, gue rasa karakter-karakter dalam novel ini lebih cocok ngelawak aja. Apalagi yang namanya Momon si Panda Cina. Kalo makhluk itu boleh dipelihara, bakal gue kandangin deh.

Dari segi karakter, gue suka banget. Masing-masing karakter punya keunikan sendiri yang enggak bisa begitu saja dilupakan pembaca. Momon si Panda Cina, Bams si Ubur-ubur, Tessa si kutu buku, sampai Mila si cantik penggemar dangdut koplo. Bahkan karakter sampingan macam Ketua Osis enggak rasional yang berniat membuat kompetisi debus di sekolah pun bukan karakter yang gampang dilupakan. Belum lagi karakter Rambo yang alih profesi jadi tukang masak sejak keluar dari penjara, dan entah kenapa gue ngebayangin si Rambo mirip karakter Alfridus Godfred sebagai Ambon galak di The Raid. "Saya trada waktu tipu tipu, ekalo saya muak saya menggila!"

Dari segi cerita, simpel dan enggak terlalu berat walaupun ini novel detektif. Bahkan gue rasa novel ini juga bisa dimengerti sama orang yang awam soal perdetektifan sekalipun. Untuk yang maniak novel atau komik detektif, gue rasa sih pada bisa nebak jalan ceritanya. Tapi tenang aja, novel ini bukan cuma menawarkan cerita detektifnya saja, pengalaman baca kalian akan sangat menyenangkan karena bakal banyak dialog-dialog tak terduga di setiap adegannya yang bikin perut keram. Sebaiknya jangan membaca novel ini sambil makan atau minum kalau enggak mau makanan atau minumannya nyembur keluar.

Detektif TBS (Taman Belakang Sekolah) yang beranggotakan 3 orang, Bams, Tessa dan Momon, terbentuk secara tidak sengaja berkat usulan Tessa yang kebetulan sedang membaca novel detektif. Mungkin mereka akan menjadi pengusaha Lele kalau saja Tessa sedang membaca buku berternak Lele. Dan cerita ini akan lebih menarik karena mereka harus bekerjasama dengan Mila yang membantu bisnis orangtuanya di pasar ikan. Ini gue nulis apa sih?

Iya intinya, detektif TBS terbentuk begitu saja tanpa ada persiapan matang. Dan rasa-rasanya yang punya bakat jadi detektif sesungguhnya cuma Bams yang memang dianugerahi kemampuan untuk selalu berpikir out of the box. Soal ilmu dan pengetahuan umum lainnya bisalah mengandalkan Tessa. Tapi yang gue masih bingung, peran Momon di tim ini selain jadi samsak Bams dan Tessa kalau lagi kesel apa ya?

Setelah Tim TBS terbentuk, pembaca akan disuguhi beberapa kasus yang terjadi di lingkungan sekolah serta petualangan Tim TBS yang berjuang susah-payah menyelesaikan kasus tersebut. Meski banyak halangan dan dalam beberapa kejadian ada usaha mereka yang sia-sia, Tim TBS tidak menyerah begitu saja. Petualangan mereka bertiga yang super kocak memang terlalu seru untuk dilewatkan.

Bagaimana Momon mengatasi kekecewaannya karena dijadikan babu di tim basket?
Bagaimana Bams meyakinkan ketua osis kalau kompetisi dangdut di SMA itu bukan ide yang bagus?
Bagaimana cara Tessa mengasuh Panda Cina dan Ubur-ubur?

Dapatkan jawabannya dalam novel DETEKTIF SEKOLAH!
Profile Image for Rezza Dwi.
Author 1 book277 followers
May 21, 2016
Jeng jeng! Gue sebenernya mau kasih 3,5 tapi nggak ada. Yaudah 4 deh buat bonus.

Satu kata, suka! Udah. Itu intinya.

Hal yang paling gue suka dari Detektif Sekolah adalah karakterisasi yang kuat. Bahkan rasanya, kalau gue boleh lebay, gue bisa tau siapa yang lagi ngomong meski tanpa dialog tag. Bams, Tessa, Momon, bahkan tokoh lainnya itu punya ciri khas masing-masing yang bikin bayangan di kepala gue kerasa nyata, nggak abu-abu. Tokoh fav gue BAMS! Bukan karena ketidak tampanan dia, tapi karena menurut gue, dia paling menonjol dan menarik perhatian. /cie, gue tertarik perhatiannya/

Menurut gue plotnya apik, alurnya runut. Adegan-adegan di ceritanya diadakan bukan tanpa tujuan. Karakter yang muncul sebagai cameo bahkan punya tujuan di ceritanya, termasuk si Pak Kades. Bisa dibilang teknik nulisnya rapi, menurut gue.

Setting. Gue kira si cerita akan full di sekolah. Ternyata nggak. Ada setting pasar ikan Muara Angke dan Pulau Tidung yang bikin cerita ini kerasa tidak membosankan.

Untuk humornya, lumayan. Di awal-awal, gue ngakak banget. Serius. Sampe lagi baca di tempat makan diliatin sama anak kecil yang mungkin ngerasa aneh liat gue ketawa sendiri. Tapi, makin sini humornya sedikit memudar. Intensitas ketawa gue berkurang.

Cerita detektifnya terhitung ringan. Mungkin emang karena di sini si Penulis bermaksud buat ambil kasus yang nggak serius-serius banget. Tapi, sejauh ini gue suka. Gue suka-suka aja sama kasus yang diambil dan cara si Penulis merunutkan adegan untuk setiap tokoh mencapai titik terang menguak kasus.

Banyak sentilan-sentilan tentang kehidupan juga di ceritanya, yang sebenarnya dikemas ringan dan tidak berkesan menggurui. Ini juga hal yang bikin gue suka.

Tapi, tetep ya, yang namanya karya pasti punya kekurangan. Cerita ini gue rasa kurang banyak /eh haha serius. Kurang banyak dalam artian bukan hanya karena gue kurang puas, tapi juga karena gue rasa DETEKTIF SEKOLAHnya belum begitu kerasa. Mereka hanya menguak satu kasus di sekolah dan satu kasus lain yang nggak sengaja ditemuin di pulau Tidung. Endingnya seolah tiba-tiba. Tanpa kesimpulan dan tanpa ngasih tahu kalau si TBS itu ke depannya gimana. Tessa gimana, Bams gimana, Momon gimana, lalu gimana juga eksistensi grup detektif mereka di sekolah.

Untuk penyuntingan, menurut gue, rapi. Typo-nya bisa dihitung jari satu tangan. Kerennya, cerita ini pake bahasa baku tapi humornya tetep kerasa nggak kaku.

Good job!
Profile Image for Siska Barendha.
47 reviews2 followers
July 14, 2014
Hmm.. Novel ini seharusnya bisa gue selesaikan dalam sehari, karena halamannya tipis dan ceritanya ringan. Persis kayak gorengan, cepet abisnya.

(tapi karena gue sibuk bermalas-malasan makanya gue tunda bacanya)

Novel ini adalah novel Dimas Abi pertama yang gue baca dan kesan gue lumayan baik. Kesan selanjutnya? Ya, terserah gue juga. :p

Detektif Sekolah, bercerita tentang tiga sekawan bernama Tessa, Bams, dan Momon (yang sedikit mengingatkan gue dengan Jiban dan Emon) yang bertemu secara tidak sengaja bertemu di Taman Belakang Sekolah (selanjutnya disingkat menjadi TBS) dan membentuk tim Detektif. Ya iya lah ya, judulnya udah jelas ga mungkin juga kan bikin tim cerdas cermat.

Awalnya, gue mengira novel ini adalah novel detektif serius dengan misteri yang harus dipecahkan oleh pembaca si tiap chapter, beserta penyelesaiannya di akhir halaman. Iyaa, masalahnya gue emang kaga baca sinopsisnya dulu. Wakakakak. Makanya pas baca gue langsung mangap.

Ohh, ternyata novel komedi!

Seperti yang gue bilang tadi, kesan gue terhadap novel ini lumayan baik. Dimas Abi konsisten dalam menciptakan karakter. Sehingga, meski novel ini memiliki premis yang sederhana dan unsur misterinya kurang nendang, tapi ceritanya cukup menghibur.

Kenapa cuma cukup menghibur? Well, seharusnya novel ini kocak. Kocak banget malah. Tapi gue gak tau apa yang salah dengan syaraf di otak gue sehingga ketika baca novel ini gue cm 'narik bibir dikit' dan tidak nyengir lebar atau bahkan terpingkal2 seperti yang mungkin orang lain alami. Mungkin ini akibat terlalu kritis sama tulisan sendiri kali ya (gegayaan banget sih lo, ciz).

Yang jelas menulis komedi itu sulit. Apalagi menulis komedi yang bisa bikin orang ketawa (karena banyak novel komedi yang nggak bikin ketawa sama sekali). Dan Dimas Abi mampu melakukan keduanya, so thumbs-up buat Dimas Abi. :D
Profile Image for Edotz Herjunot.
Author 5 books14 followers
January 15, 2017
Dari dua kasus yang ada, sebenernya gampang banget ditebak siapa pelakunya..
Tapi yang paling penting buat gue, ceritanya menghibur banget.. komedinya asik khas Dimas Abi
Profile Image for Anita Nur.
7 reviews3 followers
July 4, 2012
awalnya lumayan. tapi masih belum bikin penasaran sampe susah berhenti baca.
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.