Jump to ratings and reviews
Rate this book

Catatan Ichiyo: Perempuan Miskin di Lembar Uang Jepang

Rate this book
Ichiyo Higuchi adalah gadis Jepang biasa. Ia terlahir dengan nama Natsuko Higuchi, sebelum mengambil keputusan besar untuk mengganti namanya menjadi Ichiyo Higuchi. Ia menjalani hari-hari yang sulit dan melelahkan. Berpindah-pindah dari rumah yang satu ke rumah yang lain karena kondisi keluarga yang miskin.

Sepeninggal ayahnya, yang paling berpengaruh bagi bakat sastranya, Ichiyo menjadi anak yang paling bertanggung jawab untuk menjaga keluarganya. Pekerjaan apa pun ia lakukan demi semangkuk nasi, sup miso shiru dan acar bagi keluarganya. Mulai dari menulis cerpen dan novel, berdagang, hingga pekerjaan seperti mencuci dan menjahitkan kimono orang lain.

Perjalanan hidup mengarahkan Ichiyo menjadi penulis. Menjadi penulis perempuan pada zaman Meiji adalah hal yang hampir mustahil, namun tekad dan semangat Ichiyo akhirnya membawanya menjadi salah satu penulis yang paling diperhitungkan di Jepang. Sayang, kesehatan yang terus memburuk akibat penyakit tuberkulosis yang menggerogoti Ichiyo mengantarnya pada ajal di usia belia, 24 tahun.

Di akhir hidupnya, barulah sajak dan novel-novelnya dibaca dan dihormati oleh warga Jepang. Beratus-ratus tahun kemudian wajahnya diabadikan pada mata uang kertas 5.000 yen Jepang. Sebuah penghormatan dan kedudukan yang tak pernah dicapai oleh perempuan Jepang mana pun.

286 pages, Paperback

First published January 24, 2011

13 people are currently reading
137 people want to read

About the author

Rei Kimura

22 books21 followers
Rei Kimura is a lawyer with a passion for writing about unique events and personalities. She has adopted an interesting style of creating stories around true events and the lives of real people in a number of her books, believing that is the best way of making hidden historical events and people come alive for 21st century readers.
With this objective in mind, Rei has touched on historical events like the horrific sinking of the Awa Maru and the Kamikaze pilots of World War II and woven them into touching stories of the people who lived and died through these events.
Then there are stories of courage, love and rejection beautifully portrayed in “Butterfly In the Wind” a story of the concubine of Townsend Harris, first American consul to Japan, set against the colorful and turbulent era of the Black Ships. This book has touched the hearts of many and been translated into languages from Spanish, Polish, Russian, Dutch to Thai, Hindi, Indonesian, Marathi.
Rei's writing also touches on interesting issues like that raised in “Japanese Magnolia” a book based on the true story of two men, a samurai and a peasant who dared to cross two forbidden areas in feudal Japan, that of homosexuality and a class society “so sharply defined it cut like a knife.”
Other controversial stories she has written include “Japanese Rose” a book which asked the question was there ever a Japanese female kamikaze pilot in the Second World War?
But it's not all history and culture, she also writes on contemporary events like “Aum Shinrikyo-Japan’s Unholy Sect” an expose of the 1995 sarin gas attack on the Tokyo subway. Occasionally, her love for animals and sense of humor surfaces in this very heart warming and delightful story of a rogue Pomeranian dog, “My Name is Eric,” a complete departure from Rei’s normal story lines but nevertheless, a refreshing one!
Kimura considers her writing as part of the perennial quest for truth, challenge and fulfillment. Her books have been translated into various Asian and European languages and widely read all over the world.
Apart from being a lawyer, Rei Kimura is also a qualified freelance journalist and is associated with the Australian News Syndicate.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
36 (25%)
4 stars
50 (34%)
3 stars
42 (29%)
2 stars
11 (7%)
1 star
4 (2%)
Displaying 1 - 30 of 36 reviews
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
July 23, 2012
Tak menyangka buku ini sebuah autobiografi tetapi lebih seperti novel historikal.

Rei Kimura menulis tentang seorang perempuan pada era Meiji yang menolak keberadaan perempuan diluar area rumah tangga. Ichiyo, perempuan dengan bakat sastra, berkeinginan kuat untuk dapat menjadi penulis sastra yang hebat berlawanan dengan era dimana dia berada saat itu.

Dengan segala penderitaan dan pergulatan melawan kemiskinan, Ichiyo berusaha memperoleh impiannnya. Impian yang hanya sesaat dinikmati secara nyata, Ichiyo secara tragis harus menyerah pada garis umur yang pendek.
Profile Image for Lukman Hakim.
9 reviews4 followers
July 23, 2012
Tulisan Rei Kimura ini mengisahkan kehidupan Natsuko Higuchi. Seorang novelis wanita yang sangat poluler di Jepang pada zaman Meiji. Natsuko sejak lahir sudah menunjukkan bakatnya sebagai sastrawan. Bahkan Natsuko sudah dewasa sejak lahir. Ia tidak menunjukkan prilaku yang menggemaskan seperti anak seusianya. Natsuko sudah menetapkan cita-citanya diumurnya yang masih balita. Ayahnya yang bernama Noriyoshi yaitu seorang Samurai Shogun melihat bakat yang menarik pada putrinya. Noriyoshi sering membawa Natsuko ke permentasan satra yang dihadiri pejabat-pejabat shogun. Natsuko pernah membawakan sastra klasik dengan penghayatan yang sangat luarbiasa. Banyak pejabat-pejabat yang mengagumi Natsuko kecil.
Di usia remajanya Natsuko mengganti namanya menjadi Ichiyo. Hal ini dilakukan karena nama Natsuko dianggap terlalu biasa untuk menjadi seorang novelis satra klasik. Ichiyo memiliki arti daun gugur saat senja. Nama ini dinilai sangat puitis. Ichiyo remaja terus mengasah bakatnya. Ichiyo sempat disekolahkan di sekolah sastra terkenal. Ia menjadi siswa yang paling menonjol diantara siswa lainnya. Ichiyo sangat dikenal oleh guru-gurunya. Minat membaca dan menulis Ichiyo sangat tinggi. Bahkan membaca satu buku bisa diselesaikan selama 1 jam.
Kehidupan keluarga Higuchi berputar 180 derajat setelah sepeninggalan Noriyoshi akibat tuberculosis yang memakan habis kondisi fisiknya. Ditambah dengan kematian anak pertamanya juga yaitu Sentaro akibat penyakit yang sama. Keluarga Higuchi menjadi sangat miskin. Keluarga Ichiyo hanya menyisakan 3 orang wanita, yaitu Ichiyo, adiknya (Kuniko) dan ibunya (Furuya).
Ditengah kemiskinan keluarga Higuchi. Ichiyo menghasilkan karya sastranya yaitu:
Desember 1894 (meiji 27) : Ootsugomori
Januari 1895 (meiji 28) : Takekurabe
September 1895 (meiji 28) : Nigorie
Desember 1895 (meiji 28) : Jyusan ya
Januari 1896 (meiji 29) : Wakare Michi
Takekurabe alias Child's Play menjadi karya terpopuler di Jepang. Ichiyo mendadak terkenal. Namun ia meninggal dunia diumur 24 tahun akibat tuberculosis. Meninggal di tengah ketenarannya. Ichiyo Higuchi dikenang sebagai perempuan tangguh yang mampu bersaing dengan kaum pria di Zaman Meiji yang terkenal sangat memandang sebelah mata perempuan. Inchiyo Higuchi dikenang dalam selembar uang kerta 5000 Yen. "Suatu saat nanti mungkin foto kakak akan muncul di uang Yen ini" teringat ungkapan Kuniko kepada Ichiyo Higuchi.
Profile Image for Nanik Nur'aini.
515 reviews10 followers
October 10, 2013
Finally I finished this book. Please give me applause. Haaa. Saya memang menyelesaikan buku ini dengan sedikit perjuangan. I give this book 2 stars, although it has a good story but the plot is a little bit boring.

Sejujurnya, saya sempat berhenti di tengah jalan karena bosan dengan jalan ceritanya.
Sebenarnya, saya tertarik untuk membeli buku ini karena melihat judul bukunya, Catatan Ichiyo: Perempuan Miskin di Lembar Uang Jepang. Another self-improvement book lah setelah Saga No Gabai Baachan. Bagaimana Ichiyo, yang merupakan seorang penulis terkenal di Jepang, wajahnya bisa diabadikan dalam uang 5000 yen. What she had done?

Buku ini bisa dibilang berkonsep diary-buku catatan yang ditulis Ichiyo sendiri. Bagaimana dia menuliskan seluruh perasaannya ke dalam tulisan, ketika dia sedang jatuh cinta, ketika dia sedang marah, ketika dia sedang berduka. Well, di beberapa bagian saya sempat terhanyut dengan cerita yang disuguhkan oleh Rei Kimura, tetapi sisanya hanya sebuah monoton yang membuat saya menyerah.

Sebuah pelajaran yang bisa kita dapatkan dari membaca buku ini adalah, walaupun kehidupan Ichiyo jauh dari kata layak (miskin), tetapi dia tidak pernah menurunkan standarnya, dia tetap berpegang pada prinsip dan tekadnya untuk mewujudkan semua mimpi-mimpinya untuk menjadi seorang penulis terkenal. Dengan karya yang tidak murahan tentunya.


Profile Image for vee°•♡.
60 reviews5 followers
February 24, 2023
my personal rate : 4/5

berawal dr ikutan reading challenge baca buku sejarah dan aku mencoba buat baca sejarah negara lain yaitu, jepang (ttp pede walaupun rata2 yg ikut challengenya pake sejarah indo😭). sumpah bukunya bagus banget dan cukup menyayat hati. kisah perempuan miskin yg berjuang mati2an buat menghidupi keluarganya yg miskin serta perjuangan buat jadi penulis wanita di era meiji, dimana saat itu posisi perempuan sering dipandang rendah. i love her feminist energy. hidup dia bener2 membuktikan kalo wanita itu juga bisa setara dengan laki-laki! penghormatan terakhir untuk higuchi ichiyo yaitu wajahnya diabadikan di uang kertas jepang 5000 yen. penghormatan yang tidak bisa didapatkan oleh wanita jepang manapun. ini kayaknya masih termasuk fiksi tp ada yg bilang ini autobiografi juga, jd ga fiksi2 bgt menurutku. harus baca karena bukunya ringan dan enak bgt buat dibacaa!
4 reviews
February 21, 2023
Judul : Catatan Ichiyo, Perempuan Miskin di Lembar Uang Jepang
Penulis : Rei Kimura
Penerjemah : Moch. Murdwinanto
Penerbit : @bukugpu

Nama aslinya adalah Natsuko. Gadis yang hidup di zaman Meiji, dimana status perempuan tidak dianggap penting. Namun ia memiliki seorang ayah yang mendorongnya untuk mencintai sastra sejak kecil, hingga ibunya pun heran dengan tingkah ayah Natsuko.

"..suaminya memangku anak istimewa mereka dan mengajarinya sajak-sajak klasik..." (Hal 53)

Ia pun tumbuh dengan cita-cita sebagai penulis dan berharap ada yang menerbitkan tulisannya. Suatu hal yang sangat sulit diwujudkan pada zaman itu, karena banyaknya pandangan rendah tentang wanita. Bahkan, kakak laki lakinya menentang cita-citanya. Natsuko yang kemudian berganti nama menjadi Ichiyo tetap gigih dengan impiannya. Dan kelak ia akan menuai kerja keras yang sudah ia jalani. Tulisannya diapresiasi dan ia termasuk penulis yang paling diperhitungkan di masa itu, meskipun masa hidupnya amat singkat, yakni 24 tahun.

Saat membaca buku ini kita akan menikmati perpaduan tulisan Rei Kimura dan tulisan Ichiyo dalam buku hariannya. Ada dua sudut pandang yang dipakai. Rei Kimura memakai sudut pandang orang ketiga sehingga leluasa menuliskan berbagai tokoh yang di buku ini. Sementara Ichiyo lewat buku hariannya lebih bisa mengungkapkan ekspresi dan kegelisahan yang ia rasakan.

Alur yang disajikan penulis diawali dari endingnya, sehingga membuat pembaca penasaran. Alurnya tidak cepat juga tidak lambat. Membuat pembaca bisa menikmati setiap pergantian cerita yang disusun penulis.

Dari novel ini kita bisa belajar tentang kegigihan dalam menggapai cita cita di tengah keterbatasan dan ketidak berpihakan zaman. Ichiyo membuktikan bahwa dengan kerja keras, dirinya layak diapresiasi hingga wajahnya diabadikan dalam lembar uang Yen 5000. Buku ini bisa jadi salah satu motivasi yang bagus untuk kalian yang sedang bermimpi terutama jadi penulis.
Profile Image for Arutala.
506 reviews1 follower
January 14, 2024
Tak terbayangkan seorang perempuan yang hidup miskin, tanpa koneksi dari kalangan atas, mampu mendobrak pandangan sebelah mata sebagian orang bahwa penulis wanita itu buruk, terlebih di era Meiji yang lebih mengagungkan kaum pria. Kiprah Ichiyo Higuchi dan semangat juangnya yang tak terkalahkan untuk menjadi novelis cukup inspiratif.

Terlahir dewasa dan hanya mengenyam kehidupan nyata, novel-novelnya merupakan hasil rekam jejak dan realita selama Ichiyo hidup dan berpindah-pindah tempat. Semangat dan tujuan hidupnya kuat meski harus mengesampingkan urusan asmaranya dengan Nakarai Tosui, pria yang membuatnya bangkit, jatuh, terpuruk namun bangkit lagi.
Profile Image for Prasad Bhide.
7 reviews
January 26, 2024
I was amazed, disheartened, shocked while reading this book and left with a hollow feeling while reading the last few pages. Blurring the lines between societal norms, ethical and morals as a human.

All these emotions aroused due to the intensity and the frequency with which the traumatic incidences take place in the ichioyo saan's real life and not by the writing narrative. Leaving me with a rhetorical question "what's fascinating in the book? Is it The story or is it the way how story is narrated?"

Nevertheless thanks to the author who introduced us to this astonishing writer and her contribution to the society.
Profile Image for Lina Maharani.
274 reviews15 followers
January 7, 2020
Biografi sederhana Natsue yg bermula dari kecintaan thd sastra puisi hingga kehidupan yg kurang beruntung. Ikut merasakan kehidupan Natsue sblm dikenal mjd Ichiyo, sastrawati yg di kemudian hari mjd nafas baru dlm dunia sastra Jepang.
Profile Image for Nandina.
6 reviews6 followers
March 29, 2013
If there are people who can endure so much from hunger, poverty, cold, illness even insult maybe only Japanese who could resist it with dignity and idealism. At least one person , Natsuko Higuchi or better known as 'Ichiyo'.

Ichiyo is a smart person and has a great literary talent, but her life was not easy. At a young age, her brother died then his father as a breadwinner died and the other brother who expected to earn money fled the family. Age 17, Ichiyo became head of the household. She drop out of school, moved around to cheaper place, poor, work everything to earn money, sometimes not eat for days, feeling frustrated seeing her mother and sister starved, get insults and doubts of her writing talents were the days that she must be lived every day.

The temptation comes, from writing pornographic novels which easy to sell or marry a rich man, but self-esteem and moral values ​​prevent it.

How many of us resist food when our stomach keep screaming any food? How many of us resist wealth when feel pain but can not afford to go to the doctor and buy medicine? Ichiyo could, she would not sacrifice the values ​​and principlesse even for food. And amazingly, she never gave up, especially when the writing was not finding the right style. Despair did not make her stop.

Remarkably, all this suffering not weaken his character instead make her become stronger person. Until one day, the light came Ichiyo. Suffering, humiliation, frustration against poverty, physical exhaustion, plus living near lower class working people and prostitutes, has suddenly become a great source of rich inspiration for the story. Ichiyo find her style, lifting the reality of what she had seen every day, and she unstopable. Hundreds of poetry, prose and novels profusely out of her mind.

Her work were original and fresh, different and no match of other writers of her generation, especially since Ichiyo a woman. Suddenly everybody wanted her, from the literary community, the public and even the kingdom was fond of her novels. A dozen scholars, students, writers went to her house for discussions the themes of the novel.
Ichiyo talent's and intelectuality attract everyone to had a great discuss, great debate about literature and the mass around her house create a joy for Ichiyo, her sister and her mother.

Ichiyo in the book diary saying, "This is fantastic, like a dream .... if this is a dream, please do not come to an end, for the hardships of life to disappear, it became food for the imagination ...." In the grave of her father she wrote, " God knows, the journey is very long, difficult and often seem futile ... blessed me, father, for I finally succeed. "

The sad thing is life can not be separated from the tragedy. At the peak of her career she was dying of tuberculosis who had long suffered but always hidden. She died young.

Thankful to all writers by noting the struggle of her life so world can appreciate Ichiyo. Finally, she got the recognition, ordained as the first professional woman writer in the history of modern Japanese literature. Hundreds later, to honor her, her face adorned 5000 yen bills. It is ironic .. considering her lifetime, Ichiyo often do not have the money ..
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book268 followers
February 23, 2014
Ichiyo Higuchi, seorang wanita Jepang yang memilih profesi sebagai penyair dan novelis. Hidup pada periode Meiji dimana dominansi pria sangat kuat, dan wanita karir dianggap sebagai hal yang tabu. Namun Ichiyo adalah satu dari sekian wanita yang membuktikan bahwa tidak ada halangan apapun untuk mewujudkan impiannya, termasuk gender.


Terlahir dengan nama Natsuko Higuchu dalam keluarga yang miskin, kehidupan masa kecil Natsu cukup menyenangkan. Ayah dan ibunya mengetahui sejak kelahirannya bahwa Natsu akan menjadi anak perempuan yang cerdas. Untuk itu ayahnya berusaha mengajarkan puisi-puisi kepada anaknya ini. Ibunya menentangnya, karena pada masa itu seorang anak perempuan seharusnya belajar bagaimana caranya menjadi seorang istri, bukannya hadir dalam pertemuan para seniman membaca puisi dengan suara lantang. Tapi kekerasan hati ayahnya membuat Natsu tetap menekuni literaturnya dengan rajin.

Di sekolah, Natsu memiliki seorang teman bernama Masao yang juga gemar membaca. Keakrabannya dengan Masao membuat Natsu sangat sedih ketika Masao harus pindah. Di hari terakhir mereka bersama, keduanya memandang daun-daun yang jatuh . Untuk mengenangnya, Natsu bertekad untuk mengubah namanya menjadi Ichiyo (daun jatuh). Menurutnya nama itu lebih puitis dan sesuai dengan keinginannya untuk menjadi seorang seniman.

Ketika kakak laki-laki dan ayahnya meninggal, Ichiyo menjadi tulang punggung keluarga. Ichiyo mengandalkan mentornya, Nakarai Tosui untuk menerbitkan novel yang ditulisnya. Sebenarnya Ichiyo menaruh hati pada Nakarai, hanya saja cintanya tidak berbalas. Apalagi ada banyak rumor yang tidak baik yang beredar tentang Nakarai. Pengalaman hidupnya dituangkannya dalam tulisannya, hingga akhirnya tulisannya mendapatkan apresiasi dari para seniman lainnya. Untungnya, adiknya Kuniko sangat memahami ambisi dan impian kakaknya. Dia mengambil alih tugas rumah tangga dan terus memberi dukungan pada Ichiyo. Ketika Ichiyo mendapatkan honor pertamanya, Kuniko bahkan berkata bahwa suatu saat nanti wajah Ichiyo akan terpajang pada uang kertas Jepang.

Meski uang yang didapatkan dari pekerjaan menulis sangat kecil, Ichiyo tidak meninggalkan dunia yang dicintainya. Seringkali Ichiyo menahan lapar dan rasa sakit demi menyelesaikan novel-novelnya. Harapan Kuniko akhirnya terbukti. Tapi hal itu terjadi ketika Ichiyo telah meninggal dunia dalam usia 24 tahun karena tuberkolisis. Wajahnya diabadikan dalam lembaran uang kertas 5000 yen, dimana hanya Ichiyo satu-satunya wanita yang mendapat kehormatan itu. Ichiyo wanita yang punya nyali, meski kemiskinan dan dukungan keluarga yang minim tidak menghalangi dirinya menjadi bintang yang cemerlang.
Profile Image for Suzan Oktaria.
345 reviews29 followers
November 4, 2012
Saya merasa penasaran saat teman yang saya berikan buku ‘Catatan Ichiyo:Perempuan miskin di lembar uang Jepang’ sebagai hadiah ulang tahunnya mengatakan buku ini sangat bagus. Oke, saya pun akhirnya membeli kembali buku tersebut dan mulai membacanya. Terus terang saya tidak tahu mengenai Ichiyo.

Rei Kimura menuliskan kisah hidup Ichiyo dalam bentuk catatan harian yang menjadi salah satu sarana Ichiyo untuk menumpahkan segala frustasi dan pikiran-pikirannya yang paling pribadi.

Ichiyo lahir pada 1872 dengan nama Natsuko, anak ketiga dari pasangan Noriyoshi dan Furuya. Natsuko memiliki dua kakak, yaitu Fuji dan Sentaro, dan adik bernama Kuniko.

Awalnya Natsuko hidup dalam keluarga yang berkecukupan, namun sayang Sentaro, kakaknya menderita sakit TBC dan membutuhkan biaya yang cukup besar untuk pengobatannya, disusul Ayahnya yang juga meninggal. Hal ini membuat mereka jadi miskin, dan hidup berpindah-pindah karena tak sanggup membayar sewa.

Natsuko menyukai dunia sastra, Ayahnya yang mengetahui bakatnya mendampingi dan membimbingnya. Debutnya dimulai di usia enam tahun dengan membacakan sajak di depan teman-teman ayahnya yang merupakan komunitas pencinta sajak dan sastra.

Natsuko mengubah namanya menjadi Ichiyo, yang artinya sehelai daun.
Novel pertama Ichiyo ‘Bunga di kala Senja’ diterbitkan majalah Musashino pada 1892, diikuti dua novel lainnya. Ichiyo mendapatkan banyak tawaran karena dianggap memiliki gaya bahasa klasik dan elegan serta berkesan natural.

Novel Umoregi yang terbit di majalah bergengsi Miyako no Hana adalah saat ia dibayar dengan sebenarnya. Ia menerima 10 yen untuk penerbitan bagian pertama novel tersebut. Antara 1895-1896, Ichiyo menghasilkan lima novel, yaitu On the Last Day of the Year, Trouble Waters, The Thirteenth Night, Child’s Play, dan Separate Ways.

Child’s Play menjadi salah satu novel yang paling banyak dipuji, dan menyebabkan dia dijuluki sebagai penulis terbesar sepanjang masa. Namun sayang pada 1896 di usia 24 tahun Ichiyo meninggal,akibat penyakit TBC yang diidap sejak usianya 19 tahun.

Meski Ichiyo hidup dalam kemiskinan, namun tekadnya yang sangat besar dalam mencapai cita-citanya, sangat mengagumkan, apapun rintangan yang menghalanginya dihadapinya.

Keyakinannya yang kuat ia akan dapat meraih apapun yang ia inginkan jika ia bertahan dan bertekad untuk mewujudkan. Terbukti ia dapat mewujudkan cita-citanya, karya-karyanya banyak dikenal orang dan menjadi terkenal setelah ia meninggal.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
May 27, 2014
** Books 124 - 2014 **

Novel ini menceritakan tentang kehidupan Ichiyo Higuchi, seorang gadis di jaman Meiji yang mencintai kesusasteraan jepang sejak kecil. sejak kecil ia dan keluarganya hidup dalam kemiskinan mulai dari berpindah pindah rumah, tidak bisa makan dengan layak dan bahkan sempat putus sekolah..

di keluarga Ichiyo ayahnya yang bernama Nobuyoshi Higuchi sangat mendukung dia untuk menjadi sastrawan di jaman itu sedangkan ibunya Furuya Ayame sangat menentang Ichiyo untuk menjadi sastrawan karena saat itu perempuan dituntut untuk tidak menempuh pendidikan tinggi2 dan tinggal hanya untuk memasak dan mengurus rumah

"....Rasanya diriku perlahan-lahan mengering dan sekarat dari hari ke hari, terperangkap dalam dunia pekerjaan rumah tangga yg dianggap ibu sebagai tujuan hidupku sebagai seorang perempuan. kenarin, untuk pertama kalinya aku berharap dilahirkan sebagai seorang laki-laki, yang bebas untuk mengejar apapun yg ingin diraihnya. mengapa perempuan harus diatur dan dibatasi oleh masyarakat? mengapa? Halaman 72"

keadaan semakin bertambah buruk ketika Ayah Ichiyo dan kakaknya, sentaro meninggal karena sakit Tuberkulosis.. di titik ini Ichiyo harus bekerja keras karena kakak lelaki sulungnya tidak bisa diharapkan untuk memberikan nafkah.. ketika akhirnya ichiyo mulai berhasil mendapat pengakuan dari sastrawan2 lainnya.. takdir berkata lain.. tanggal 23 November 1896 ,ia harus berpulang di usia muda 24 tahun dengan penyakit yg sama dengan ayah dan kakaknya..

bagus ceritanya! bacanya ga ngebosenin terinspirasi dengan perjuangan ichiyo yang berusaha untuk meraih mimpinya sebagai sastrawan wanita di zaman meiji jepang! saya berikan 3,2 dari 5 bintang! :)
Profile Image for Andrea Ika.
423 reviews24 followers
March 23, 2014
Kisah dibuka pada saat sosok Ichiyo Higuchi bertahan dengan kondisi penyakitnya yang semakin parah, berlanjut dengan kondisi ‘flash-back’ kembali ke masa lalu tentang kedua orang tuanya termasuk perjalanan hidup mereka hingga lahirlah anak-anak termasuk si cilik Natsuko yang di kemudian hari berganti nama menjadi Ichiyo.

Kisah hidup Ichiyo dicoba diceritakan oleh Rei Kimura dalam bentuk catatan harian Ichiyo yang menjadi salah satu sarana Ichiyo untuk menumpahkan segala frustasi dan pikiran-pikirannya yang paling pribadi. gaya penulisan yang digunakan menggunakan bahasa simple, bahasa sehari-hari dengan dialog-dialog. Buku ini merupakan biografi Ichiyo Higuchi yaitu perempuan Jepang ketiga yang diabadikan pada mata uang Jepang setelah Empress Jingū pada tahun 1881 dan Murasaki Shikibu di tahun 2000. Secara umum buku ini sangat menarik dan tidak membosankan. Semasa hidupnya Ichiyo hidup dalam kemiskinan, bahkan saat ia meninggalpun ia belum benar-benar terlepas dari belenggu kemiskinan keluarganya. Menjadi penulis wanita pada zaman itu berarti menentang arus, tetapi dengan gigih Ichiyo membuktikan dirinya melalui tulisan-tulisannya.Hal yang sangat mengagumkan dari diri Ichiyo adalah tekadnya yang sangat besar dalam mencapai cita-citanya, apapun rintangan yang menghalanginya. Ia memiliki keyakinan bahwa ia akan dapat meraih apapun yang ia inginkan jika ia bertahan dan bertekad untuk mewujudkan. Jepang akan selalu mengingat perjuangannya lewat selembar uang kertas 5.000 Yen Jepang di mana wajah Ichiyo diabadikan.
Profile Image for Halida.
214 reviews
October 26, 2014
Menginspirasi, tokoh Higuchi Ichiyō yang berjuang melawan arus sebagai sastrawan wanita di dunia yang didominasi pria. Hidup di pertengahan kedua abad ke 19, ia selamanya dikenang sebagai salah satu penulis terbaik Jepang yang terang-terangan menolak dibedakan dengan kaum pria. Selama hidupnya yang singkat, ia berhasil memberikan warisan berupa kisah hidup sehari-hari yang ditulisnya dengan gaya bahasa klasik dan menuai pujian dari kritikus sastra. Sayangnya, hanya beberapa saat setelah ia mulai populer dan dapat membantu keluarganya secara finansial, tubuh ringkihnya menyerah pada penyakit tuberkulosis yang selalu ia berusaha sembunyikan.

Secara keseluruhan, buku ini cukup menarik. Hanya saja ada beberapa "catatan" untuk versi terjemahan ini. Meskipun pada halaman-halaman awal terdapat catatan kaki untuk istilah asing dalam bahasa Jepang, catatan kaki seperti itu semakin sedikit ditemukan di bagian lain buku, sehingga beberapa istilah tidak jelas/ harus dicari sendiri. Selain itu, istilah "pohon ceri" (cherry tree) juga lebih pas rasanya jika diterjemahkan sebagai "pohon sakura" untuk pembaca Indonesia.
Satu hal lagi -mungkin ini untuk versi aslinya- penekanan bahwa Ichiyō merupakan tokoh dengan "bakat sastra" yang besar tidak perlu ditulis sebanyak itu karena malah berkesan mengganggu.
Profile Image for Sutresna.
225 reviews14 followers
September 16, 2014
Saya ndak tahu ini diterjemahkan dari english apa japanese langsung, tapi banyak kalimat rancu akibat penggunaan kata 'yang' yang berlebihan, juga penggunaan tanda koma yang aneh, tapi mungkin kayak gitu emang gaya penulisan si penulisnya?

Tapi ceritanya bagus, pada bagian hidup susah si tokoh utama, narasinya menjadi lebih melebar, hingga range cerita yang dihasilkan lebih luas, seperti mencakup pemikiran beberapa tokoh, atau pendeskripsian lokasi juga adat setempat yang seolah memperburuk kondisi keluarga Higuchi, si tokoh utama.

Ketika kehidupan jadi lebih baik, seperti saat Ichiyo terkenal, yang saya rasakan adalah alur menjadi sedemikian cepat sehingga menimbulkan efek bahwa kehidupan tokoh utama memang untuk kesusahan saja. Kesenangan hanya seperti bianglala yang bergegas kabur dari pandangan.

Dan si Ichiyo ini beneran cewek yang unik pada zamannya, membaca cerita ini saja saya sudah bisa membayangkan masalah yang sebenarnya terjadi dan pembangkangan Ichiyo terhadap kebiasaan masyarakat demi menjadi penulis profesional.

Asyik!
Profile Image for Arie  Sukma Jaya.
7 reviews
June 6, 2013
Tentu saja membaca buku ini merupakan hal yang menarik. Menarik karena buku ini berpusat pada satu tokoh, Ichiyo.
Semakin dibaca semakin menarik karena buku ini mengangkat isu gender dan perjalanan hidup dari yang penuh kesulitan menjadi penuh penghormatan. Seorang wanita yang menjadi penulis dalam sebuah ruang zaman yang belum memungkinkan. Membuatnya menjadi pendobrak zaman. Namun, ia tidak sempat menikmati penghormatan pada karya-karyanya karena usianya yang singkat.
Menarik juga memperhatikan pengakuan bangsa Jepang terhadap Ichiyo yang memakan waktu lama. Kini, setiap orang yang memegang uang 5000 Yen, melihat wajahnya, sedikit banyak mengingatnya, meskipun belum tentu membaca karyanya.
Profile Image for eti.
230 reviews107 followers
November 26, 2014
#53 - 2014

sebenarnya ceritanya menarik. tentang ambisi penyair muda -perempuan pula-, yang hidup di zaman yang kurang berpihak pada kaumnya. cuma sayangnya, zaman Meiji yang menjadi latar belakang novel ini kurang tereksprolasi dengan lengkap, hanya kimono saja yang menggambarkan gaya busana pada zaman itu. lainnya hanya sambil lalu saja, seperti kaum elit samurai dan dominasi kaum pria terhadap wanita. jadi nuansanya kurang terbangun dengan baik. lalu, hampir di setiap chapter, pembaca seperti diingatkan akan kemiskinan keluarga si tokoh, perasaannya yang terpendam kepada Nakarai, juga tentang segala ambisinya. adanya repetisi yang terus menerus menjadinya novel ini terasa agak membosankan. tapi lumayan, buat bacaan selingan.
Profile Image for Lila Cyclist.
856 reviews71 followers
June 21, 2014
"Siapa yang tahu? Kau mungkin akan menjadi sangat terkenal hingga suatu hari wajahmu akan muncul dalam salah satu lembaran uang kertas Jepang". (hal. 173)

Siapa saja kah yang menghiasi lembaran uang rupiah? Jika diperhatikan hampir semua lembar memasang wajah para pahlawan baik pria maupun wanita. Semua orang berjasa besar untuk negeri tercinta ini dengan menyumbangkan tenaga, pikiran hingga nyawa mereka. Ichiyo, bukanlah pahlawan wanita Jepang yang mengangkat senjata demi negara tercinta, tapi sumbangsih nya terhadap dunia sastra Jepang begitu besar hingga wajahnya menghiasi lembaran uang 5000 yen Jepang lebih dari satu abad! Jadi, siapa perempuan istimewa ini?

Review lengkap menyusul di blog :-)

Profile Image for Octharina Nur.
120 reviews16 followers
March 30, 2017
Menginspirasi sekali tokoh wanita Jepang yang bernama Ichiyo ini. Ia berjuang terhadap diskriminasi yang dialami oleh kaum perempuan khususnya dalam bidang sastra, ia membuktikan bahwa perempuan juga bisa berkarya dan punya kapasitas dalam dunia sastra. Menceritakan kisah hidup Ichiyo bersama keluarganya yang miskin, perjuangannya memperoleh pengakuan, lika-liku dan kesulitan hidupnya, kisah cintanya, serta karya-karyanya. Ichiyo meninggal di usia muda, 24 tahun, namun ia telah mampu mengharumkan namanya, membuktikan kemampuan kaum perempuan, dan menjadikan dirinya sebagai perempuan pertama dan satu2nya yang gambar dirinya terpampang di lembar uang Jepang.
Profile Image for Tiara Orlanda.
201 reviews18 followers
May 10, 2012
KEREN :) bisa dilihat ya dari banyaknya rate saya untuk bukunya.

catatan ichiyo adalah buku autobiografi yang menceritakan perjuangan seorang gadis jepang yang bermimpi menjadi penulis dimana pada zaman meiji hal itu dikuasai oleh kaum pria. dan seorang wanita di jaman itu kurang diperhitungkan.

perjuangan ichiyo akhirnya tidak sia-sia karena akhirnya bukunya dikenal orang banyak dan wajahnya diabadikan pada lembaran 5000 yen.

INSPIRATIF.
tentang seorang gadis jepang yang pantang menyerah walaupun hidupnya sulit.

buku ini keren. rasanya kayak bukan ngebaca cerita sejarah. kayak novel. Rei Kimura sangat pintar membuat sejarah ini hidup.

recommended !
Profile Image for Elsa.
57 reviews1 follower
February 11, 2015
Kisah perjuangan keras seorang Perempuan Jepang dalam mencapai mimpinya sebagai seorang penulis. Seumur hidupnya Ichiyo harus mengalami jatuh bangun. Keluarganya banting tulang demi nasi dan acar. Sampai tiba dimana akhirnya karya2 Ichiyo dikenal dan mendapatkan pentakuan dari masyarakat luas Jepang. Sayangnya, buah manis hasil perjuangannya cuma dirasakan sebentar karna Ichiyo menderita tuberkolosis tahap akhir.

Cerita yang cukup memilukan. Sayang sekali Rei Kimura tidak banyak menyinggung sejarah Jepang kuno di dalamnya. Padahal itu akan jadi wawasan sejarah buat siapa saja yang membacnya.
Profile Image for Hobby.
1,062 reviews2 followers
May 4, 2012
So good to find an autobiografi but not like reading some kind historical guidaince :D
Rei Kimura write this historical journey about woman that her dreams just become someone, a good and great writer, something so impossible for woman on those era ( it's set on Japan when Meiji cultural refused woman involve in many ways ), and what so good about it, they way her writing ... it's like reading a novela, but a very good one. For more about this review, please visit my blog at :
http://my-classic-books.blogspot.com/...
Profile Image for Nadhifa Nurrur rahma.
5 reviews
October 2, 2012
Mampukah penulis wanita menjadi terkenal?
Apalagi pada jaman edo? Dimana harga diri wanita terinjak - injak.
Kalau di Indonesia ada Kartini, maka Ichiyo Kimura adalah pembela emansipasi penulis wanita di Jepang.
Memiliki darah seni dari ayahnya lah yang membuatnya menjadi seperti ini. Bergelut dalam dunia sastra bersama kaum lelaki. Membela keadilan bagi penulis wanita. Jatuh bangun keluarganya. dan.. Akhir kisah sedihnya.
Profile Image for Siska  Tanjung.
7 reviews7 followers
May 17, 2012
Memoir seorang tokoh besar yang dismapaikan dengan terlalu didramatisir (serasa baca teenlit), entah karena bahsa terjemahannya atau memang karena gaya penulisan seorang Rei Kimura..pas baca itu jd pengen cpt selesai, bukan karena penasaran tapi lebih ke berharap menemuakan ssuatu yg lebih menarik dr yang dibaca.
6 reviews
May 20, 2012
Saya selalu tertarik sama kebudayaan Jepang, dan baru baca 1 buku ini yang membuat saya melihat suatu sisi perempuan yang begitu menarik dan menginspirasi dalam kecintaannya thd sastra bahkan meninggal saat ketenaran sedang bertiup kearahnya. Good book.
Profile Image for Desi Ayu.
92 reviews22 followers
January 5, 2015
Ichiyo mengajarkan keberanian dalam mengejar mimpinya, walaupun orang-orang di sekitarnya tidak pernah menghargai karya-karyanya. Sampai ketika impiannya terkabul. Namun harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Sangat menginspirasi. Keterbatasan bukanlah alasan untuk memperjuangkan asa. ^_^
Displaying 1 - 30 of 36 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.