buku ini merupakan buku terakhir dari trilogi 'Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya' yang telah menjadi best-seller di Indonesia selama tujuh tahun sejak jilid pertamanya diluncurkan. 108 cerita dalam buku ini menginspirasi kita untuk menjadi lebih peka, mawas, tidak serius-serius amat dalam menghadapi ketidakpastian kehidupan dan kematian. Adanya masalah adalah tak masalah, jika kita bisa menyikapi hidup dengan penuh ketulusan, penerimaan, dan kewelasan. Buku ini akan membuat kita menjadi pribadi yang makin hening dan bening.
Ajahn Brahmavamso Mahathera (lovingly known to most as Ajahn Brahm) was born Peter Betts in London, United Kingdom in August 7, 1951. He came from a working-class background, and won a scholarship to study Theoretical Physics at Cambridge University in the late 1960s. After graduating from Cambridge he taught in high school for one year before travelling to Thailand to become a monk and train with the Venerable Ajahn Chah Bodhinyana Mahathera.
Whilst still in his years as a junior monk, he was asked to undertake the compilation of an English-language guide to the Buddhist monastic code - the Vinaya - which later became the basis for monastic discipline in many Theravadan monasteries in Western countries.
Waktu pengen cerita tentang isi buku ini, kok jadi bingung ya mulainya dari mana. Pengen ngasi petikan-petikan tapi semuanya penting.
Jadi saya coba memasukkan beberapa petikan panjang dan beberapa cerita yang menarik.
“Terlalu berlebihan berharap untuk hidup tanpa rasa sakit, Adalah salah berharap untuk hidup tanpa rasa sakit, Karena rasa sakit adalah pertahanan tubuh kita. Tak peduli seberapa tak sukanya kita, dan tak ada yang suka rasa sakit, Rasa sakit itu penting, dan kepada rasa sakitlah kita harus berterima kasih.
Bagaimana lagi kita bisa tahu, untuk menarik tangan kita dari api? Jari kita dari belati? Kaki kita dari duri? Jadi rasa sakit itu penting dan kepada rasa sakitlah kita harus berterima kasih” -bab 43
“Bagian terberat dari segala sesuatu dalam hidup , adalah… Memikirkannya.” Bab- 96
“Seorang menyebut anda idiot, maka anda mulai berpikir,”Bagaimana mereka bisa menyebutku idiot? Mereka tak berhak menyebutku idiot! Betapa kasarnya menyebutku idiot! Akan kubalas mereka karena telah menyebutku idiot!”
Dan tiba-tiba saja Anda sadar Anda telah membiarkan mereka begitu saja menyebut Anda sebagai idiot sebanyak 4 kali lagi!
Setiap kali Anda ingat apa yang telah mereka katakan, berarti Anda mengijinkan mereka menyebut Anda idiot. Di sinilah letak masalahnya.
Jika seseorang menyebut Anda idiot dan dengan segera Anda membiarkannya berlalu, maka ejekan tersebut tidak akan mengusik Anda. Disinilah letak solusinya.
Mengapa membiarkan orang lain mengendalikan kebahagiaan dalam diri Anda?” -bab 95
“Filsuf dan matematikawan prancis, blais pascal (1623-1662) suatu kali berkata,”Segala masalah manusia disebabkan oleh ketidaktahuannya tentang bagaimana untuk duduk tenang.”
Saya akan menambahkan dengan ini “… dan tidak tahu kapan saatnya duduk tenang.”
Pada tahun 1967, Israel sedang berperang melawan Mesir, Syria, dan Yordania. Di tengah-tengah peristiwa yang belakangan dikenal sebagai Perang Enam Hari itu, seorang wartawan bertanya kepada mantan Perdana Menteri Inggris, Harold Macmillan, apa pendapatnya tentang masalah di Timur Tengah itu.
Tanpa keragu-raguan, sang negarawan sepuh itu menjawab,”Tak ada masalah di Timur Tengah.” Si wartawan tertegun mendengar jawaban itu.
“Apa maksud Anda ‘tak ada masalah di Timur Tengah’?” si wartawan penasaran. “Tak tahukah Anda bahwa sekarang sedang berlangsung perang yang ganas? Tidak sadarkah anda bahwa selama kita sedang berbicara ini, bom-bom jatuh dari langit, tank-tank meledakkan segala sesuatu, dan prajurit diberondong butiran peluru. Banyak orang tewas atau terluka. Apa yang Anda maksud ‘tak ada masalah di Timur Tengah’?”
Dengan sabar negarawan yang berpengalaman itu menjelaskan,”Pak, sebuah masalah adalah sesuatu yang memiliki solusi. Nah, tak ada solusi untuk apa yang sedang terjadi di Timur Tengah, oleh karenanya hal itu tidak bisa dikatakan sebagai sebuah masalah.”
Berapa banyak waktu dalam hidup kita sia-siakan karena mengkhawatirkan sesuatu yang pada saat itu, tak memiliki solusi dan karena itu, bukanlah sebuah masalah?” Bab 51
“Minumlah teh ketika tak ada jalan keluar, ketika tak ada lagi yang perlu dilakukan, ya jangan ngapa-ngapain.” Bab 47
Best Seller, “Si cacing dan Kotoran Kesayangannya”, buku yang setiap ceritanya membuat saya tahu bagaimana cara menemukan kebahagiaan dalam hidup.
Membuat saya sadar, bahwa ternyata banyak hal di dalam hidup saya yang saya jadikan sebuah masalah, padahal bukan masalah.
Di dalamnya banyak cerita-cerita lucu yang menuntun menemukan apa itu bahagia. Jadi tau, bahagia itu gampang!! :D
Tadinya saya pikir buku ini adalah buku humor fabel. Lalu, saat melihat penulisnya yang merupakan pendeta Buddha, saya mikir, ini nggak mungkin isinya fabel. Judulnya yang agak nyeleneh: Si Cacing Dan Kotoran Kesayangannya (nah lho? Kotoran kan kotor, biasanya dibuang, dibenci, disingkarkan, kok malah dibilang 'kesayangannnya'?) buat saya mulai baca satu-persatu.
Pertama, saya suka karikatur cacingnya. Imut-imut sama pas buat saya cengengesan sendiri.
Ok, lupakan karikaturnya karena ini bukan komik atau manga.
Kedua, saya suka cara penulis menyampaikan cerita. Memang mengarah pada Buddhis, tapi saya rasa orang di luar Buddha juga bisa saja baca buku ini. Kata-katanya simple, mudah dimengerti, dan sesekali kocak.
Yang paling nendang itu cerita ke-27: Kenapa aku? Kayaknya, semua orang di dunia, secara langsung dan nggak langsung, pernah mengeluh dengan kalimat 'kenapa aku' ini. Kita mulai saja dari anak kecil: - Anak bungsu: kenapa aku harus punya kakak kayak dia?? - Anak sulung: kenapa aku harus punya adik kayak dia?? - Anak tengah: kenapa aku harus punya kakak, terusnya adik kayak mereka?? - Anak tunggal: kenapa aku gak punya saudara? Kesepian nih... Ini baru dalam 1 hal, sisanya banyak banget, dan melanda semua kalangan, tidak peduli dari anak kecil, remaja ataupun orang dewasa.
Akhirnya, setelah membaca 108 cerita pendek ini, saya mengerti apa maksud judulnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku tulisan Ajahn Brahm selalu diulas dengan sederhana. Mudah dicerna, memberi kita pelajaran yang sangat sederhana dalam kehidupan, tidak banyak tips dalam hidup ini, hidup lah dengan bersahaja, Dan perlahan kita Akan menemukan kebahagiaan ;-)
Langsung baca buku ketiga dan sekarang jadi pengen baca yang pertama & kedua. Bisa dibilang memang dari 108 cerita cuma ada beberapa cerita yang bener2 nyantol di aku. Tapi aku tetep salut sama Ajahn Brahm. Bener2 buku yang simple dan santai. Buku self-improvement yang nggak menggurui sama sekali, bahkan terkesan ceria. Berasa deket juga sama Ajahn Brahm, walaupun kadang ada jokes yang garing, tapi ntah kenapa masih bisa disenyumin ha-ha. Terus juga ngebuka pengetahuanku tentang kehidupan biksu. Yang aku kurang suka dari buku ini, ntah karena aku yang nggak terlalu fokus, atau memang akhir2 cerita mulai ngebosenin.
WAH!!!! BIG applause untuk cerita ke 108 terakhir di buku ini, Pikiran Monyet.
Sejujurnya mendekati akhir buku, pikiran saya sedikit zooming out, kurang fokus. Hingga akhirnya saya membaca sebuah paragraf di cerita Petapa Gua Nullarbor.
Pulanglah, berdamailah dengan diri Anda. Cintailah diri Anda. Mencintai diri Anda bukanlah menyukai diri Anda. Kalau sekadar menyukai, itu sih, hanya suka dipuji atau disanjung. Mencintai diri Anda berarti menerima diri Anda apa adanya
Saya selalu percaya bahwa saya akan membaca buku di waktu yang tepat dan isi buku tersebut memang saya perlukan.
I feel like kinda disappointed in the few early chapters because I don’t get what’s funny on most of the jokes and I think I like the first two books especially the first one better, but the more I read it, the more I get “the magic” of Ajahn Brahm. It’s brilliant like he did before. And this is the books that I really need right now. It help me through hard time and think it will help a lot of people too. A must read
buku ini sangat recomended untuk kalian yh mencari-cari tentang bagaimana menyikapi dunia dan kehidupan yang sementara ini.
bukunya dibuat dengan berbagai cerita mudah dimengerti dan buku ini dapat dibaca oleh siapa sja. tidak untuk kalangan tertentu. karena buku ini ditujukan untuk semua kalangan baik muda, tua, cewek, cowok, dll..
“Iya saya sudah kenyang dengan keheningan, kebeningan, kedamaian, welas asih, hukum kemelekatan, dan seterusnya. Namun maaf, repetisi yang berlebihan tidak membuat saya lebih luas untuk berpikir. Dari ke-tiga buku beliau, saya rasa cukup berhenti di seri pertama.”
Pas SMP beli buku ini kirain buku lucu”an, gataunya pas dibika isinya filosofi dong wkwkwk.. Tapi mulai dari kecil akhirnya bisa belajar tentang prinsip sederhana dari perspektif buddhis..
kalau ditanya apa satu buku yang bakal kurekomendasiin ke semua orang, bahkan ke orang yang attention spannya sepanjang satu video tiktok atau yang nggak suka baca sekalipun, ini buku yang bakal kurekomendasiin.
si cacing dan kotoran kesayangannya adalah sebuah trilogi yang mana masing-masing berisi 108 cerita pendek yang penuh hikmah. ditulis oleh seorang biksu buddha, ajahn brahm, buku ini berisi kisah-kisah yang ia temui selama mengabdi menjadi seorang biksu.
meskipun ditulis sama tokoh agama, isinya sama sekali nggak religius apalagi menggurui. pure refleksi soal kehidupan yang diselingi candaan lucu dari kejadian sehari-hari.
kenapa bakal kurekomendasiin ke semua orang? soalnya ceritanya ringan-ringan semua, ditambah pendek-pendek banget, cuma 1-2 lembar aja🤣
tiga pertanyaan di slide pertama juga kuambil dari salah satu cerita di bukunya. cerita yang sangaaaattttt berkesan buat aku yang overthinker ini karena kayak ditampar hehe.
aku punya buku pertamanya dan dulu buku ini yang menemaniku menghabiskan waktu di bandara dan berjam-jam di pesawat. terus kebetulan kemarin waktu ke book cafe di rak mereka ada buku ketiganya dan aku berhasil baca 150an halaman dalam sekali duduk dong, karena saking pendeknya chapter-chapternya😌
Buku yang ketiga ini merupakan buku terakhir dari seri Si Cacing dan berisi sebanyak 108 cerita didalamnya, berdasarkan kata pengantar buku, cerita-cerita ini untuk menginspirasi kita untuk menjadi lebih peka, mawas, tidak serius-serius amat dalam menghadapi ketidakpastian kehidupan dan kematian. Serta dapat menghadapi masalah sebagai bukan masalah, jika kita bisa menyikapi hidup dengan penuh ketulusan, penerimaan, dan kewelasan. Dan melalui buku ini, diharapkan dapat membuat kita menjadi pribadi yang makin hening dan bening. Seperti biasa, buku ini tetap diulas oleh Ajahn Brahm secara sederhana. Ajahn Brahm Juga membagikan kisahnya mengenai kehidupan disini. Buku ini (tentu saja) tetap bisa dibaca oleh semua ras, suku, agama. Dan juga tetap menginspirasi aku akan banyak hal. Supaya ngga serius2 amat, ada beberapa cerita yang mengandung unsur humornya, dan juga tetap memberikan suatu pesan moral melalui cerita humor. :) Ada beberapa hal yg menurutku sbg kekurangan dalam buku ini, salah satunya, ada beberapa cerita yg telah kubaca di internet jauh sebelum buku ini terbit, tapi dijadikan pengingat saja bagi yg sudah pernah membaca, mungkin masih banyak yg belum membaca cerita tersebut :) Review-ku yang selengkapnya, klik http://lovely-room.blogspot.com/2012/...
Bintangnya cukup tiga aja, karena makin banyak cerita yang ada di buku ini sudah pernah saya baca atau dengar sebelumnya. Cerita yang bagus, masih kontemplatif dan harusnya menyadarkan kita yang sudah sekian lama pingsan, tidak berbuat baik lebih banyak bagi orang lain atau bahkan bagi diri sendiri. Tapi karena seperti saya tulis tadi, banyak cerita yang sudah saya tahu sebelumnya, kesannya isi buku ini ga asli lagi..
*maaf ya Pak Brahm dan para penjaga TM Bookstore yang tadinya pengin getok saya tapi batal karena ternyata saya pulang dari sana dengan membeli 3 buku lain*
cerita-ceritanya sangat menarik dan saya pikir dapat saya aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi saya tidak bisa mengingat semua pesan yang disampaikan melalui tiap cerita. Kemudian terpikir untuk menulis pesan moral dari masing-masing cerita dalam 1-3 kalimat. Saya berharap agar ke-108 x 3 pesan itu dapat dibaca dalam waktu yang singkat serta lebih mudah mengingatkan saya tentang suatu pertimbangan bagaimana sebaiknya saya bereaksi terhadap situasi, kondisi, dan peristiwa tertentu.
Suka sekali dengan buku ini, karena memberikan saya cara pandang yang berbeda akan kehidupan. Maka dari itu saya membaca nya dari yang edisi pertama sampai ketiga ini Walaupun ada beberapa cerita yang hampir sama atau bahkan sama dengan yang edisi sebelumnya tapi bagi saya tetap memberikan nilai plus tersendiri
Baru kali ini membaca karya Ajahn Brahm, itupun melompat baca buku ke 3, pinjaman Dian. Memang ya, biksu cocok menulis. Mereka tipe orang yang menjauhi dunia dan kenikmatannya, menyukai kedamaian dan keheningan. Orang yang demikian selalu bisa memetik hikmah dari hal-hal kecil, yang terlihat sepele bagi orang awam. Penasaran dengan buku 1 dan 2nya, reviewnya bagus2 di GR.
buku ini penuh dengan kebijaksanaan hidup, bagaimana menyikapi hidup saat susah, senang, marah, sedih,beruntung maupun musibah dll dengan tetap tersenyum dan selalu berpikir positif terhadap diri sendiri maupun lingkungan..
Sungguh menenangkan. Walau ini adalah buku terakhir dari seri si cacing, saya masih bersyukur bahwa dengan membaca santai inipun saya banyak diingatkan kembali tentang hal-hal yang penting dalam hidup saya.
It's really fun to read the Book.. Easy to read and simple story but giving a lot advices. I don;t read the 1st and the 2nd book..I didn't get it at bookstore. And the book was given by someone who teach me much about :)