Aku menemukan buku ini secara tidak sengaja ketika berkunjung ke Togamas di Solo. Sinopsis di sampul belakangnya yang membuatku tertarik untuk membelinya. Jadi menurut sinopsis itu, buku ini adalah sebuah novel fiksi sejarah yang ceritanya terinspirasi dari perang Paderi di Sumatera Barat. Selama ini kita tentu saja tahu bahwa perang itu adalah pertentangan kaum adat dengan umat Islam yang dikemudian hari dimanfaatkan VOC untuk menjalankan taktik devide et impera. Namun ternyata ada banyak fakta sejarah yang selama ini disembunyikan dari khalayak. Hal itu yang novel ini coba ingin telisik. Penulisnya sendiri juga mengaku bahwa ia menulis kisah ini karena tergelitik beberapa buku yang terbit setelah era reformasi bergulir yang mencoba mengungkit fakta-fakta sejarah yang selama ini ditutupi tabir hitam.
Sayangnya untuk sebuah novel fiksi sejarah, buku ini terlalu tipis menurutku. Sedikit sekali yang dikisahkan. Meskipun itu bisa jadi menyulut rasa penasaran pembaca untuk mencari tahu lebih lanjut (penulis menyebutkan juga buku yang ia baca terkait sejarah perang Paderi). Tutur katanya indah memukau. Celakanya keindahan kalimatnya tak diimbangi penulisan yang baik. Ada banyak tanda baca yang terasa ganjil letaknya. Terutama tanda koma yang banyak sekali digunakan penulis.
Penulis : • Mohammad Sholihin Ukuran : 15x23 Tebal : 216 ISBN : 979-168-228-3 Harga : Rp. 36,000
Pertentangan Kaum Paderi dengan Kaum Adat Menegakkan Islam Secara Kaffah Tinggal Tengku Hudzail al-Alaf dan Datuak Sati yang bergulat dengan puluhan Laskar Putih. Bertubi-tubi tombak, pedang, dan badiak menghujani mereka berdua. Sekali mereka berkelit, menghindar. Tapi sabetan itu terlalu banyak, hingga akhirnya. “Sreeeetzzttttttttttsss!” * * * Perang Paderi memang meninggalkan kenangan heroik sekaligus trauma dalam memori bangsa Indonesia. Periode pertama perang itu (1803 - 1821) adalah perang saudara. Praktis yang saling berbunuhan adalah orang Minang dengan Mandailing (Batak). Perang ini disebabkan keinginan para ulama di Kerajaan Pagaruyung untuk menerapkan dan menjalankan syariat Islam sesuai mazhab Wahabi. Kemudian pemimpin para ulama yang tergabung dalam Harimau nan Salapan meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Raja Pagaruyung Sultan Muning Alamsyah beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Diilhami dari sejarah Mohammad Sholihin merangkai cerita dalam novel ini menjadi menarik. Dibungkus dengan bahasa yang indah, pembaca akan disihir dengan keutuhan novel ini sendiri.