Sebagai penghormatan terhadap Seno Gumira Ajidarma, Perkara Mengirim Senja mewujud dalam rangkaian lima belas cerita karya empat belas pengarang dengan berbagai latar belakang dan gaya penulisan. Cerita-cerita ini merupakan penafsirulangan karya SGA yang dikarang oleh generasi penulis yang lebih segar.
Antologi ini memantik kreasi baru tanpa kehilangan napas awalnya seperti yang tersurat dalam senja yang memerangkap dua perempuan yang tanpa sengaja terjebak cinta bercabang, perselingkuhan seorang “istri setia” yang “dipasung” suaminya, suami tak setia yang diselingkuhi istrinya, hubungan perempuan-lelaki yang rumit tapi lucu, dusta cinta yang perlahan tersingkap kedoknya, patah hati yang unyu, serta pertanyaan-pertanyaan galau tentang hakikat cinta dan percintaan.
***
“Menginterpretasikan karya Seno Gumira Ajidarma bukanlah pekerjaan mudah, tapi sah dan patut dicoba. Sungguh menarik menyaksikan interaksi kreativitas antara roh tulisan SGA dan generasi penerusnya. Yang jelas, jika ada penulis yang mampu menggerakkan sekian penulis muda untuk merenungkan ulang dan kemudian melahirkan karya baru atasnya, itulah magnetisme seorang Seno.”
– Dewi “Dee” Lestari, Penulis Supernova
“Sihir cerita dengan aransemen wacana yang memikat.”
Jia Effendie lahir di Garut tanggal 21 Juni. Senang menulis fiksi sejak SMP. Cerpen pertamanya yang dimuat adalah “Fla Je’t Aime” di majalah Aneka Yess! tahun 1999. Sejak itu, karya cerpen dan puisinya dimuat di berbagai media nasional dan lokal di Indonesia. Pada tahun 2008, Jia menerbitkan kumpulan cerpen Nyonya Perca.
Tahun 2010, cerpennya yang berjudul Mera Berbie terpilih menjadi salah satu cerita yang dijadikan FTV dalam rangka ulang tahun SCTV yang kedua puluh: Sinema 20 Wajah Indonesia dengan judul Susuk Barbie. Kumpulan cerpen keduanya, Ya Lyublyu Tebya, terbit bulan Oktober 2010. Buku Jia yang lain adalah Menuai Sajak di Kebun Raya Bersama Sapardi Djoko Damono (2011), Empat Elemen (2011), Kaki Mimpi (2011), Cerita Sahabat (Gramedia Pustaka Utama, 2011), Perkara Mengirim Senja (Penerbit Serambi, 2012), dan Cerita Sahabat 2: Asmara Dini Hari (Gramedia Pustaka Utama, 2012), Singgah (Gramedia Pustaka Utama, 2013), Glenn Fredly 20 (Entermedia, 2015), dan After Office Hours (Pastel Books, 2016).
Jika ada yang bilang bahwa para penulis cerita pendek itu menyiksa diri mereka sendiri (dan juga pembaca) dengan menuliskan karya yang, alih-alih menghibur, tapi ber-ending aneh; mungkin itu benar. Lewat bentuknya yang pendek, yang hanya sepotong cerita, cerpen dituntut untuk mampu menghasilkan efek pembacaan serupa novel. Hanya saja, karena wujudnya yang hanya sepotong itu, cerpen haruslah bersifat irit dan berhemat habis-habisan demi menyampaikan maksud si pengarang lewat 3 sampai 6 halaman saja. Seperti Perkara Mengirim Senja, sebuah kumpulan cerpen yang dari judulnya saja sudah sangat ganjil. Siapakah Perkara itu sehingga ia berani mengirimkan senja? Dan, apakah senja itu sendiri sehingga ia bisa dikirimkan ke sembarang orang sesuka hati. Yah, bukan cerpen namanya kalau tidak ganjil karena di dalam keganjilannya itulah ia menyimpan magnet bagii orang-orang untuk membacanya.
Perkara Mengirim Senja (PMS), sebagaimana kata kuncinya yakni “senja” merupakan kumpulan cerpen dari orang-orang muda modern, yakni mereka yang pernah menikmati dan sempat terkagum oleh cerpen-cerpen guratan salah satu maestro sastra Indonesia, Seno Gumira Ajidaarma. Lewat PMS ini—yang bahkan singkatan judulnya pun membuat beberapa pembaca berjengit—para pembaca yang kemudian menjadi cerpenis ini hendak merayakan kekuatan imajinasi seorang SGA dalam melukiskan cinta lewat untaian kata-kata. Ada 15 cerita dengan 14 penulisnya, plus pengantar agak nyastra dari Anton Kurnia, yang seperti biasa mampu membawakan lezatnya aroma sastrawan dalam tulisan-tulisan singkatnya. Kesemuanya berpadu dan menaut dalam satu buku, dipersatukan oleh kehebatan seorang pemuda yang mengirimkan sepotong senja untuk pacarnya, sebagaimana salah satu cerpen karya SGA yang fenomenal “Sepotong Senja untuk Pacarku”
1. Gadis Kembang Cerpen karya penulis Bintang Bunting ini mengangkat topik tentang rekayasa cinta. Sebagaimana senja yang bisa dipotong, dalam sastra ternyata cinta juga bisa direkayasa sedemikian rupa. Lewat cerpen ini, penulis sepertinya hendak menyindir kemunafikan cinta yang tiak cukup satu, tapi berdua-dua dengan yang lainnya pula.
2. Perkara Mengirim Senja Cerita yang dijadikan judul kumcer ini—mungkin karena judulnya yang begitu ganjil seganjil senja yang bisa dipotong—mengisahkan tentang orang yang menjual senja untuk dinikmati. Karena dalam sastra senja bisa dipotong, maka sah-sah saja jika ada yang kemudian mau menjual senja dengan beraneka ragam warna dan rasa. Kelebihan cerita ini adalah kosakatanya yang sangat berwarna, pemikiran yang tidak biasa, dan bahasa yang berbunga.
3. Selepas Membaca Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, Alina menulis Dua Cerita Pendek Sambil Membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya Cinta begitu aneh dan ganjil, sehingga bisa memaksa seorang penulis untuk menghasilkan judul sepanjang itu. Dan, lagi-lagi, karena dalam sastra senja itu sah-sah saja untuk dipotong, maka judul yang panjang tanpa dipotong adalah juga wajar-wajar saja. Ini adalah cerita tentang kesetiaan terhadap cinta, di mana kadang kesetiaan itu begitu pekat hingga membutakan logika, membuat seorang suami tega memasung istrinya dengan celana dalam dari besi dan juga membutakan seorang istri terhadap suaminya yang mandul. Yang jelas, ada dua cerita dalam satu judul panjang ini. Barangkali, judul cerpen ini memang terlalu panjang sehingga menghasilkan dua cerita dengan bingkai yang sama. Biar adil, begitu mungkin kata penulisnya.
4. Kuman Cedera atau racun masa lalu terbukti menjadi tidak ada apa-apanya dihadapan cinta. Cerita ini membuktikannya. Bahwa ada seorang gadis cantik yang merasa jijik dan kemudian jatih cinta pada seorang bartender buruk rupa, itu adalah hal yang biasa di hadapan cinta. Sebagaimana kata mereka, cinta itu buta. Namun, di saat yang sama, cinta juga seringkali diawali dengan memandang rupa.
5. Ulang Celotehan sang pengarang Biru Indingo terasa begitu scientific dalam cerita “Ulang”. Tentang sebuah cerita misteri yang katanya terjadi di masa depan di puncak Gunung Himalaya, entah apa maksudnya tapi saya belum bisa menangkap inti dari “Ulang”. Yang jelas, di sini ada tokoh Sukab dan Alina yang memang muncul dalam cerpen-cerpen SGA. AH, mungkin saya harus membaca cerpen-cerpen beliau dulu agar bisa lebih memahaminya.
6. Akulah Pendukungmu Cara membaca judul ini adalah dengan dinyanyikan karena itu bagian dari lagu “Garuda Indonesia”. Ibarat cerita fantasi, alkisah hiasan dinding Garuda Pancasila di dinding kelas itu bisa berbicara di malam hari, demikian juga poster foto presiden dan wakil presiden yang biasa terpajang di setiap kelas. Setiap tahun sekali, di Hari Kesaktian Pancasila, hiasan garuda itu diperkenankan untuk mewujud dan melakukan sesuatu yang hebat. Apa yang akan dilakukannya tahun ini? Silakan baca sendiri.
7. Empat Manusia Cuma cerita ini yang sejauh ini mendapatkan banyak sekali tempelan kertas post-it-notes karena begitu banyaknya kutipan indah tentang perayaan cinta dan kehidupan. Bahwa perjalanan waktu hanya bisa dilakukan ke masa lampau dan bahwa cemburu itu selalu datang menyertai cinta yang teramat sangat, itulah yang paling menyantak dari “Empat Manusia” ini. Pada akhirnya, cinta terkadang tidak lah benar-benar suci dan tulus seperti kelihatannya. Empat manusia, Hendar, Susan, Yani dan Purba membuktikannya.
8. Saputangan Merah Cabikan memori yang datang menyergap oleh keberadaan sapu tangan merah beraroma rempah telah meninggatkan seorang pria akan hadirnya seorang wanita misterius namun mampu menawan hatinya. Entah apa maksud dari cerita ini, sepenangkapan saya ini adalah tentang cinta yang biasanya memang sering kali datang dengan tiba-tiba.
9. Senja dalam Pertemuan Hujan Cukuplah kutipan berikut ini untuk menyampaikan keindahan dari cerpen ini karena saya juga pusing menangkap maknanya: “Aku suka senja. Senja mengantarai terang dan gelap. Seperti ibu yang menemani anaknya hingga tidur. Hangat dan nyaman.” (hlm 97)
10. Kirana Ketinggalan Kereta Contoh dari sebuah cerpen arus utama, yakni cerita dengan ending tak terduga, yang biasanya muram. Adalah Gupta yang habis mengantarkan kekasihnya Kirana ke stasiun karena Kirana hendak pergi ke “kota lain”. Ternyata, Kirana telah ketinggalan kereta dan mereka pun akhirnya mencari kereta lain di bibir jurang. Pembaca pasti bisa menebak “kereta” dan “kota lain” yang dimaksud di sini.
11. Gadis Tak Bernama Cerobohnya cinta sehingga begitu angkuh ia untuk memotong senja dan menghadiahkannya untuk pacarnya. Sayangnya, kali ini kecerobohan sang pemuda berhasil diketahui oleh seorang gadis tak bernama yang bertigas sebagai seorang peneliti senja. Akhirnya, ia menemukan cara agar senja tetap aman dan tidak dipotong-potong lagi seenaknya oleh para pecinta yang lupa diri, walaupun dengan cara yang tidak kalah gilanya.
12. Guru Omong Kosong Coba apa yang akan terjadi ketika Pak Dikin yang hanya seorang penjaga sekolah mengantikan tugas para guru dalam mengajar di kelas? Hasilnya, sebagaimana buku panduan aneh yang ditemukan Pak Dikin, adalah omong kosong dari sebuah kitab Omong Kosong. Entah dalam cerita ini penulis hendak mengkritik pekerjaan cerpenis yang hanya meributkan hal-hal indah tapi kurang penting ataukah ia hendak menunjukkan bahwa menjadi guru itu tidak hanya bisa dilakukan sambil lalu karena tanggung jawabnya yang sangat besar.
13. Surat ke-93 Cenungkan (renungkan) apa yang sebenarnya terjadi sampai seorang wanita rela mengirimkan 93 surat berturut-turut untuk kekasihnya yang telah pergi meninggalkannya untuk mencari penghidupan di kota. Mungkin kisah ini adalah kisah cinta yang buta atau sang gadis yang memang begitu mencintai kekasihnya. Namun, penulis cerita ini mampu membuktikan kedalaman bahasa dan pesan-pesan yang termuat di ceritanya. Paragraf-paragraf di dalamnya penuh dengan petuah dan sindiran terhadap kehidupan kita sehari-hari. Cerita ini yang harus Anda baca, jangan dilewatkan walaupun adanya di hampir paling belakang.
14. Bahasa Sunyi Bermula dari sebuah kartu pos berisi senja, pecinta itu melanjutkan kisah cinta jarak jauhnya lewat BBM. Dan, dari BB itu juga cinta sekaligus bukti penghianatan janji sucinya.
15. Satu Sepatu, Dua Kecoak Mengapa Om Bram yang kaya, modis, tampan dan perlente itu tidak mampu membahagiakan Tante Asih? Bagaimana pengaruhnya terhadap Reta, putri angkatnya? Mengapa pula Reta membuang sepatu-sepatunya ke kali? Entahlah, bacalah kumcer ini di saat senja hari agar kau mengerti!
Maafkan saya jika pembacaan ini kurang tepat, saya memang membaca cerpen-cerpen ini pada dini hari menjelang fajar, kebalikan dari waktu senja itu sendiri.
Pujian terutama untuk kertas covernya yg sangat ekslusif dengan kertas tebal bertekstur. Penghargaan setinggi-tingginya untuk ilustrasi2 indah yang sangat mewakili di halaman-halaman buku ini, yang menjadikan buku kumcer ini bagus dan begitu berbeda dengan buku-buku sejenis. Selamat merayakan senja.
Akhirnya, saya selesai membaca kumcer ini jam 15.55 ... satu-dua jam menjelang senja.
Perkara Mengirim Senja. Saya tertarik membaca karena rasanya sangat Indonesia, didedikasikan untuk seorang sastrawan besar dan diungkapkan oleh penulis-penulis muda. Saya pun sempat bertanya-tanya bagaimana begitu banyak penulis dengan gaya penulisan yang berbeda bergabung di satu buku dan harus ada benang merah dengan cerpen Seno Gumira. Tentunya tidak akan mudah bagi penulis dan juga bagi pembaca. Penulis harus tetap mempertahankan style mereka meski merujuk pada cerpen orang lain. Sedangkan pembaca harus siap menerima keragaman itu dan cepat menyesuaikan diri saat melompat-lompat dalam menyelami kisah-kisah dengan cara bertutur penulis yang berbeda-beda.
Begitu membuka lembarnya, pembaca sudah disuguhi ilustrasi memikat pada layout dan dilanjutkan dengan kata pengantar yang cukup panjang. Cerpen "Gadis Kembang" milik Vabyo ditunjuk sebagai pembuka. Khas Vabyo sekali. Ia layaknya membuat puzzle utuh, mengacak urutannya dan mengajak pembaca menemukan dan menyempurnakan kembali urutannya dengan 'rahasia' yang terkuak di paragraf akhir. Ya. Masih sama. Ada rima di baris-baris akhir. Vabyo selalu menyenangkan dengan mengajak 'bermain' pembacanya. Dan saat kita sudah lama bermain dan penasaran, Vabyo belum juga mau mengungkap. Saat kesal telah memuncak, Vabyo akan muncul dan mengatakan "Ini loh rahasianya, kamu pasti tertipu, bukan??". Membaca karya Vabyo adalah siap 'ditipu', saudara! :D
Cerita kedua adalah "Perkara Mengirim Senja" milik Jia Effendie. Bagi saya pribadi, cerpen ini juaranya. Mungkin saya rasa karena paling dekat dengan 'gaya yang saya inginkan'. Kental dengan personifikasi dan diksi yang manis dan imajinatif. Penulis memainkan senja sebagai suatu objek hidup yang tak pernah habis diungkap. Saya suka!:)
Kisah ketiga milik Aan Mansyur berjudul "Selepas Membaca Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, Alina Menulis Dua Cerita Pendek Sambil Membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya". Saya yang ngefans berat dengan cerpen penulis dalam antologi Dari Datuk ke Sakura Emas, merasa cerpen ini berbeda. Kisahnya ditulis dengan banyak sindiran dan ironi tentang kesetiaan, keterbukaan dan rasa saling menghargai yang tak diindahkan. Awalnya saya pikir cerpen akan diakhiri dengan ending yang 'biasa'. Ternyata oh ternyata, saya sampai tertawa miris karena menertawakan diri sendiri yang 'sebegitu bodohnya' dikejutkan ending. :D
"Kuman" milik sang ilustrator, Lala Bohang menjadi kisah keempat. Kisah ini bertema hati yang memiliki dua cinta sekaligus, namun diungkapkan dengan cara yang berbeda.
Kelima adalah "Ulang" karya Putra Perdana. Menggunakan tokoh Sukab dan Alina milik Seno Gumira, dan diberikannya kemasan berbeda. Tampaknya pembaca harus membaca kisah original Sukab dan Alina terlebih dahulu agar dapat menikmati secara utuh cerita ini.
Lambang Garuda beserta judul "Akulah Pendukungmu" milik Sundea menjadi cerita keenam. Diantara tema cinta sebelumnya, cerita ini terasa nasionalis. Yang unik, pembaca diajak bernyanyi "Garuda Pancasila" terlebih dahulu sebelum mulai membaca kisah. Dan saya pun melakukannya :). Secara penuturan, bergaya lebih sederhana, meski tak mengurangi arti pesan di dalamnya.
Pembaca diajak beranjak pada "Empat Manusia" milik Faizal Reza. Empat bagiannya mengungkap satu persatu kisah empat manusia yang saling berhubungan itu. Menarik minat pembaca melalui cara berceritanya dan ide kisah cinta yang rumit.
Dilanjutkan dengan "Saputangan Merah" milik Utami Diah K, bagi saya kisah ini memiliki kekuatan pada karakter tokoh perempuan yang unik karena jarang diangkat.
Kisah kesembilan ditulis oleh Mudin Em bernama "Senja dalam Pertemuan Hujan". Cerpen ini terasa modern dibanding kisah-kisah sebelumnya, karena mengambil setting kehidupan metropolis. Ditandai dengan adanya capture pesan singkat sepenggal lirik lagu. Namun tetap mengambil benang merah senja dalam pembahasannya.
Mari beralih pada "Kirana Ketinggalan Kereta" oleh Maradilla Syachridar. Saya juga suka dengan cerpen yang satu ini. Bagus, indah, sederhana dan namun cukup mudah dimengerti, yang membuat saya enjoy menikmatinya. Dan dengan mudah mengingatnya kembali.
Theoresia Rumthe menyuguhkan judul "Gadis Tidak Bernama". Membaca kisah ini saya serasa disuguhkan isi hati dan curhatan si perempuan secara kontinyu. Seandainya ending dibuat dengan lebih mengejutkan, saya mungkin akan lebih jatuh cinta dengan kisah ini.
"Guru Omong Kosong"- Arnellis menjadi cerita kedua belas yang tajam. Banyak sindiran untuk negara yang tersirat, dengan mengambil sudut pandang dari seseorang yang mungkin mewakili sebagian besar penduduk negeri ini.
"Surat ke-93" milik Feby Indirani termasuk jajaran favorit saya. Meski hanya bercerita tentang seorang wanita desa yang merindu lelakinya merantau di kota, namun hampir setiap paragraf tulisan ini mengandung kedalaman makna. Kekuatan itu dibarengi dengan diksi yang indah dan berbeda yang membuat pembaca terkesima. (Congrats mbak Feby!:))
Rita Achdris menyuguhkan "Bahasa Sunyi" disini. Banyak ironi ditemukan dalam kisah ini beserta pesan besar yang ingin dikatakan.
"satu Sepatu, Dua Kecoak" menjadi kisah penutup. Terasa pas sebagai ending yang ringan dan mudah ditangkap, namun tak pernah mengurangi maknanya. Penulis mengemas dengan cara yang berbeda, namun menarik.
Kumcer ini dikemas dan disajikan baik. Empat bintang rasanya pantas diberikan!:)
Bagi para penikmat dan pembaca buku Indonesia pasti sudah tak asing dengan nama Seno Gumira Ajidarma (SGA). Beliau adalah salah seorang penulis terbaik Indonesia yang telah menulis puluhan cerpen, novel, puisi, esai bahkan juga pernah mendapatkan penghargaan dari dalam dan luar negeri. Buku Perkara Mengirim Senja ini berisi 15 cerita yang merupakan penafsiran ulang dari karya-karya SGA.
Mau mencoba menjelajahinya? Saya ceritakan beberapa kisah di dalamnya ya. :)
Cerita pertama adalah karya @vabyo , berjudul Gadis kembang, mengisahkan tentang kisah cinta perselingkuhan dalam rumah tangga. Satu kalimat yang saya suka “Rumah memiliki kekuatan Magis bagi penghuninya.” Empat bintang untuk cerita ini. Ending yang manis tapi getir penuh kejutan.
Cerita kedua milik @JiaEffendie berjudul Perkara Mengirim Senja. Sebagai judul utama buku ini, cerita Jia memiliki keistimewaan tersendiri karena permainan kata ganti yang cantik membuat saya sampai membaca tiga kali agar memahami jalan ceritanya. Potongan senja seperti kisah Alina dan Sukab milik SGA menjadi dasar cerita ini. Empat bintang untuk kartupos senja.
Cerita ketiga milik @hurufkecil yang judulnya saja sudah fenomenal (saking panjangnya). Selepas Membaca Sebuah pertanyaan untuk Cinta, Alina menulis dua cerita pendek sambil membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya. Sesuai judulnya, ada dua cerita pendek dalam judul ini yang saya rasa tidak berkaitan. Yang satu tentang ‘terpasung’nya Si Wanita oleh Suaminya dan yang satu lagi tentang seorang Pria yang baru ditinggal pergi istrinya. Dua cerita, empat bintang untuk kepiawaian memainkan akhir cerita.
Akulah Pendukungmu adalah cerita keenam di buku ini. Cerita yang ditulis @salamatahari ini buat saya memiliki kesan yang berbeda di antara cerita-cerita lainnya. Mungkin karena judulnya yang mengingatkan saya akan penggalan sebuah lagu nasional kita, Garuda Pancasila. Cerita ini menceritakan apa yang dilakukan Sang Garuda ketika hari kebangkitan Pancasila yang disandangnya dirayakan yaitu pada tanggal 1 Oktober. Cerita ini merespon cerpen ‘Joko Swiwi’ dan ‘Pelajaran Mengarang’ milik SGA.Satu kutipan yang saya suka dari cerita ini "Waktu adalah pesaing yang tidak kenal ampun".
Cerita ketiga belas adalah cerita milik @FebyIndirani yang berjudul Surat ke-93. Tentang surat ke-93 yang dikirimkan seseorang terhadap cinta yang mengabaikannya. “Karenanya pengabaian adalah bentuk hukuman paling kejam.” Entah karena kebodohan atau kesetiaan seorang wanita yang membuat saya gemas membaca cerita ini. Merupakan tafsir ulang dari Surat dalam Atas Nama Malam.
Cerita favorit saya adalah cerita dengan judul Gadis tak Bernama karangan @perempuansore. Cerita ini berkisah tentang seorang gadis yang bekerja di Departemen rahasia yang bernama Dinas Penelitian Senja. Pekerjaannya meneliti senja, sampai sedetil-detilnya. Mengukur diameternya, menghitung serat jingganya sampai mengukur hangatnya. Nah, pekerjaan yang romantis bukan? Tapi seperti yang gadis itu bilang, "Pekerjaan Romantis tidak membawamu kepada hubungan yang romantis", maka begitu juga dengan kisah cinta gadis tak bernama ini. Penokohan yang kuat serta plot cerita yang ringan dan bahasa yang menyenangkan untuk dinikmati membuat cerpen ini amat saya suka.
Mungkin karena saya secara pribadi memiliki ketertarikan tersendiri terhadap pemandangan senja, sehingga tentu saja secara sukses membuat saya begitu tergoda ketika cetakan pertama buku ini diluncurkan lewat @PosCinta. Secara keseluruhan, saya menyukai kesemua cerita yang di dalam buku ini. Tidak semuanya bernafaskan senja atau cinta, sebab ada juga yang membahas konflik social seperti di cerita Guru Omong Kosong milik @arnellism atau pada Satu Sepatu, Dua Kecoak milik @salamatahari.
Pemilihan diksi yang kaya juga membuat saya sebagai pembaca terlena sampai tak mau berhenti membaca. Ya, selain karena keindahan bahasa, saya cukup butuh perhatian lebih banyak ketika membaca beberapa cerita yang misterius. Sayangnya, tidak semua cerita ditulis merupakan tafsir ulang karya SGA yang mana, meski beberapa cerita memang mempunyai latar cerita yang sama. Tentang potongan senja, Sukab dan Alina, dimana ketiga elemen tersebut sering muncul di cerita-cerita milik SGA.
Ilustrasi yang apik dan misterius juga memenuhi beberapa halaman, membuat kesan cerita yang digambarkannya lebih dalam dan lebih menawan. Tentu saja empat bintang layak saya berikan untuk buku ini!
Seperti kata Alberthiene Endah, Penulis Mimpi Sejuta Dolar "Sihir cerita dengan aransemen wacana yang memikat."
"Perkara Mengirim Senja" adalah 'sebuah persembahan untuk Seno Gumira Ajidarma', salah satu penulis top Indonesia. Di dalamnya terdapat lima belas cerita yang semuanya terinspirasi atau mendaur ulang cerpen-cerpen yang SGA pernah tulis.
Cerita-cerita yang ada di sini kebanyakan bicara tentang cinta dan senja. Sepertinya kedua hal ini sengaja dipilih karena memang kedua hal inilah yang menonjol dalam berbagai cerpen SGA.
Selayaknya sebuah kumcer, ada cerita yang saya suka, ada yang biasa saja, dan ada juga yang kurang. Untuk cerpen favorit, saya suka sama: Gadis Kembang (karena lucu), Perkara Mengirim Senja (yang terasa paling dekat nuansanya dengan Sepotong Senja untuk Pacarku-nya SGA), Kuman (yang sedikit aneh, tapi terasa bermakna), Akulah Pendukungmu (yang imajinatif, tapi gantung), Kirana Ketinggalan Kereta (yang 'gila'), dan Surat ke-93 (yang galau).
Secara keseluruhan, saya suka dengan buku ini. Cerita-ceritanya menarik, walau kadang timbul kesan monoton karena temanya itu-itu lagi. Gaya penulisannya beragam karena ini buku antologi, tapi hampir semuanya sudah luwes dan enak dibaca.
Semua penulis punya gaya masing-masing dalam menafsirkan siapa itu Seno, tapi pada akhirnya yang keluar adalah gaya dan karakter khas masing-masing penulisnya. Buku yang powerful dan bikin gue minder akan skill yang dimiliki penulis lain. Harus belajar lebih banyak dan lebih cepet nih, masak gue kalah jauh sama anak-anak yang pada jauh lebih muda dari gue.
Dengan menuliskan kata 'senja' di dalam cerpen-cerpen itu, bukan berarti mereka telah 'menjawab' karya-karya Om Seno Gumira. Masih ada Sukab yang tak dieksplor menyeluruh dan Alina yang sesekali saja.
Ngerjain buku ini menyenangkan sekali. Dari mulai ngumpulin penulisnya, nungguin penulisnya nyetor, sampe mikirin konsep isi dan cover dan sampai launching. Asyik banget. Apalagi dibantuin sama orang-orang terbaik di bidangnya.
Tidak banyak buku sastra Indonesia yang saya baca, bisa dihitung dengan kancing. Salah satunya adalah Seno Gumira Ajidarma (SGA), penulis kawakan ini ternyata banyak menuai penghargaan baik dalam maupun luar negeri! Sebut saya durhaka karena lebih sering menikmati karya pop dan barat daripada karya negeri sendiri (terlebih sastra) dimana banyak yang nggak kalah hebat. Awal tahu Perkara Mengirim Senja (PMS) dari twitter yang waktu itu ramai banget dibahas. Penasaran sekali karena judulnya begitu menarik, ada apa sih dengan senja? Setelah klik sana sini jadi nggeh kalau PMS ini dibuat sebagai tribute untuk SGA, yang ditulis oleh orang-orang yang juga mengidolakannya dan membuat cerita yang mempunyai benang merah dengan cerpen-cerpen SGA, salah satunya adalah cerpen Sepotong Senja Buat Pacarku. Ada 15 cerita yang ditulis oleh 14 penulis yang mempunyai latar belakang yang berbeda.
Sebelum masuk ke cerita, mari kita tonton dulu book trailer PMS yang dibuat oleh Faizal Reza dan ilustrasi yang keren banget dari Lala Bolang.
Dan untuk menemani membaca buku ini, para penulis membuat mixtape-nya di mana lagu-lagu tersebut sangat cocok dengan cerita yang mereka buat. Diantaranya ada lagu Tak Pernah Terpikir yang diciptakan sendiri oleh @vabyo untuk menemani membaca cerpen Gadis Kembang, ada Gosh - Inggrid Michaelson untuk cerpen Perkara Mengirim Senja, ada lagu Keliru dari Ruth Sahanaya untuk cerpen Empat Manusia, lagu Where did My Baby Go - John Legend menjadi pendamping di cerpen Senja dalam Pertemuan Hujan. Dan ada jugalagu yang tidak asing lagi kita dengarkan sewaktu sekolah dulu, Garuda Pancasila dan Hymne Guru, bisa ditebak dong lagu tersebut akan mengiringi cerpen yang mana. Untuk lagu yang lainnya bisa didengarkan di sini.
Berikut sinopsis ke-15 cerita:
Gadis Kembang by @vabyo
Bererita tentang Taya, seorang istri yang suaminya selingkuh dengan gadis kembang kampung sebelah. Banyak orang yang menggosipkan dan mengasihi dirinya akan perbuatan sang suami tapi ditanggapi Taya dengan banyak diam. Padahal, Taya tahu ada sebab kenapa suaminya berani menghianati dirinya.
Tulisannya khas Vabyo ;p, ceritanya sedih tapi dialunkan dengan kocak dan berima. Saya kasih contoh dialog yang membuat saya ngakak :p "Saya kemarin nganter suami si Neng sama simpanannya itu. saya gemes, pengen ngejuntrungin becak, tapi nanti kalo rusak, saya juga kan yang gak bisa kerja!" Si tukang becak merancau penuh emosi. Taya mendengus kesal. "Ya udah saya turun di sini aja, sebelum becaknya saya jungkir-balikin."
Inilah pertama kalinya Taya berjalan di atas jembatan goyang tanpa berdendang. Kausnya kusut. Pikirannya kalut.
Dan quote favorit saya adalah: "Kasihan memang sering kali menyakitkan." Suka efek kejut di akhir cerita sehingga menjadikan cerpen ini cerpen favorit pertama di buku ini.
Perkara Mengirim Senja by @JiaEffendie
Ditulis dengan sudut pandang orang pertama masing-masing tokoh. Pertama adalah seorang wanita yang memotong senja dan ingin menyerahkannya ke orang yang dicintainya, sayangnya dia belum menemukan orang yang pas. Tokoh kedua adalah seorang laki-laki yang asik bercumbu dengan pacarnya tapi diganggu oleh dering telepon yang tak pernah menyerah berbunyi. Si penelopon ini menawarkan sebuah produk, menjual sepotong senja dalam amplop. Garansinya adalah sepotong senja tersebut akan dikirimkan langsung oleh si penelepon dan harganya gratis kalau dia bilang mencintainya.
Ceritanya unik dan kalimatnya indah. Bisa menebak hubungan antara kedua tokoh, tapi endingnya bener-bener Jder! Efek kejut di endingnnya benar-benar mengejutkan! Cerpen favorit kedua.
Selepas Membaca Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, Alina Menulis Dua Cerita Pendek Sambil Membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya by @hurufkecil
Ada dua cerpen, pertama bercerita tentang suami yang sangat posesif terhadap istrinya, sampai-sampai dia meengharuskan istrinya memakai celana besi setiap hari, tujuannya agar dia tidak selingkuh. Cerpen kedua bercerita tentang suami yang baru saja kehilangan istrinya. Dia pun mengenang dengan membuka masa lalu istrinya, tas yang terakhir dipegang oleh istrinya. Di dalamnya dia menemukan sebuah benda yang akan membuatnya meraung-raung. Ada efek kejut di ending kedua cerpen tersebut. yang paling saya sukai adalah cerpen pertama, benar-benar tak terpikirkan sebelumnya akan berakhir seperti itu, haha pinter banget penulis 'membalas dendam'. "Hidup adalah sembunyi. Belajarlah seni menyembunyikan! Sembunyikan rupamu! Sembunyikan hatimu! Ada lebih banyak kata-kata dalam diam." Cerpen favorit saya yang ketiga.
Kuman by @lalabohang
Seorang wanita mendua dengan bartender buruk rupa, dia telah terjangkit kuman cinta.
"Kau cinta sama dia?" "Cinta setengah mati." "Katanya kau jijik sama wajah cacat dia?" "Iya jijik, tapi cinta setengah mati."
Lucu sekali ketika si perempuan memeriksakan jantungnya yang berdetak kencang tanpa dia suruh. Cerpen favorit saya yang keempat.
Ulang by @putrafara
Cerpen pertama yang membuat saya berpikir keras, haha. Jujur saya bingung dan benar-benar butuh konsentrasi untuk membaca ini. Ada sedikit unsur fantasi dalam bercerita. Intinya ada seseorang yang mengajak Alina 'jalan-jalan'. Cerita ini saya kira merupakan fanfic dari cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku.
Akulah Pendukungmu by @salamatahari
Pengen tahu asal usul lahirnya Garuda Pancasila? Pengen tahu siapa ibunya? Dan mendengar percakapan foto presiden Soeharto dan wakil presiden Tri Sutrisno dengan sang Garuda? Pengen bertemu dengan salah satu murid yang mempunyai nasip dengan sang Garuda? Di cerpen ini sang Garuda akan menunjukkan kesaktiannya!
Cara berceritanya unik sekali, terlebih yang percakapan benda di dinding itu :).
"Sebetulnya tak semua pertanyaan harus ada jawabannya. Tapi ketika dijadikan soal ulangan, mau tak mau pertanyaan itu harus ada jawabannya."
Empat Manusia by @monstreza
Ada empat bagian, pertama bercerita tentang Yani dan Purba. Kedua tentang Yani dan Hendar. Ketiga tentang Hendar dan Susan. Keempat tentang Susan dan Purba.
Sebuah rantai makanan hubungan yang menarik. Suka sekali cara penulis menghubungkan satu tokoh dengan tokoh yang lainnya. Endingnya juga mempunyai efek kejut yang akan menjelaskan semua bagian di cerpen ini. Cerpen favorit saya yang kelima.
Saputangan Merah by @tummythumb
Seorang laki-laki yang sangat tertarik dengan seorang perempuan namun enggan menampakkannya. Dia hanya berani mengamati perempuan tersebut. Suatu pagi dia menemukan saputangan merah di genggaman tangganya, entah nyata atau tidak.
Entah ya, saya tidak menemukan yang special dari cerpen ini.
Senja dalam Pertemuan Hujan by @omemdisini
Sepasang kekasih yang cintanya dipertemukan oleh senja. Mereka sering sekali bertemu pada waktu sore hari, karena waktu yang lainnya dipergunakan sang lelaki untuk istrinya. Seorang laki-laki yang mencintai dua orang wanita.
Kerasa sekali kalau si lelaki bingung menentukan pilihan. "Aku adalah potongan senja yang akan kau ambil untuk pacarmu. Tinggal seperempat. Tiga perempatnya telah hancur oleh hujan yang kau ciptakan."
Kirana Ketinggalan Cerita by @maradilla
Kirana mengajak Gupta untuk mengantarkannya ke stasiun. Gupta ingin bertanya kemana Kirana akan pergi? Kenapa tidak membeli tiket? Namun Kiranya menyuruhnya jangan bertanya, hanya temani saja. Hari itu Kirana ketinggalan kereta, begitu juga dengan hari selanjutnya. Gupta tetap menemani karena dia mencintai Kirana, tak perlu tanda tanya.
Bahasanya sederhana sekali, tidak puitis namun mengena. Suka sekali dengan tokoh Gupta :).
Gadis Tak Bernama by @perempuansore
Nama saya adalah Unknown, saya seorang perempuan yang manipulatif, mempunyai dua pacar, dan pekerjaan saya adalah peneliti senja. Saya marah ketika Dinas Penelitian Senja mengumumkan kalau kini senja hanya sepotong! Saya ingin membuktikannya sendiri, kenapa ada orang yang tega memotong senja demi pacarnya?
Ceritanya unik sekali, dan sepertinya pekerjaan sebagai peneliti senja sangat nikmat. "Cinta bisa dinikmati dengan cara lain. Truhlah kata komitmen di balik behamu. Jangan melakukannya dengan terburu-buru sebelum kau tahu kau akan berkomitmen dengan siapa. Seperti jangan menikah hanya karena orangtuamu mulai resah. Atau tetanggamu yang gelisah."
Guru Omong Kosong by @arnellism
Dikin, seorang penjaga sekolah yang tertimpa tugas dadakan, dia harus menggantikan salah satu guru yang tidak bisa mengajar hari itu. Tugas dia hanya menuliskan catatan yang dikirim guru tersebut lewat sms yang kemudian murid-murid akan mematuhinya, sayangnya Dikin tidak menyangka kalau akan ada pertanyaan dari para murid, dan dia tidak mempunyai jawaban yang diperintahkan. Hari berikutnya, dia menemukan sebuah buku yang berjudul Kitab Omong Kosong, dan terbersit olehnya mungkin buku tersebut bisa dibagi dengan para muridnya.
Suka sekali dengan cerpen ini, dan memang tidak jarang guru mempunyai gaya mengancam agar murid menyelesaikan tugas dan hanya main perintah saja, haha tidak semuanya loh. Ide tentang menyentil dunia pendidikan membuat cerpen ini menjadi favorit saya yang keenam.
Surat ke-93 by @febyindirani
Seorang wanita yang ingin menunjukkan kerinduannya dengan terus mengirim surat sampai berpuluh-puluh, dan nyeseknya tak pernah mendapat balasan.
"Cintaku cukup terentang dari pagi hingga petang. Sedangkan jika ia harus memilih antara aku atau senja, ia pasti berpihak pada senja. Bukan karena ia tak mencintaiku, tapi karena ia malas sekaligus angkuh. Aku memilih mencintainya. Atau mungkin cinta telah memilihku. Dan jika kau mencintai hingga terasa menyakitkan, kau akan menemukan tak ada lagi kebencian, yang ada hanyalah cinta yang lebih besar."
Bahasa Sunyi by @lukisansunyi
Tangkapan saya tentang cerpen ini adalah sepasang suami istri dalam proses perceraian, salah satunya tetap ingin mempertahankan hubungan mereka.
Ada salah satu kalimat yang menginggatkan saya akan sanggahan seorang artis tentang kasus korupsi yang melanda dirinya, trik mengelaknya membekas sekali :p.
Satu Sepatu, Dua Kecoak... by @salamatahari
Reta, seorang anak yatim piatu dan keluarganya tidak bisa menyekolahkannya, membuat Arnold tergerak untuk mengadopsi. Usia Arnold sudah cukup untuk berumah tangga, terlebih ada Reta yang membutuhkan sosok seorang ibu. Desakan keluarganya membuat dia menyerah dan mau dijodohkan. Sayangnya, pernikahan membuat Reta kehilanggan sosok bapak dan ibu.
"Lo tau, nggak sih, lengkap nggak selalu harus sepasang?"
Suka, suka, suka sekali dengan cerpen ini, endingnya benar-benar tidak bisa saya tebak, efek kejutnya benar-benar menutup manis buku ini. Ilustrasinya juga yang paling saya suka. Selain sebagai penutup, cerpen ini juga menjadi cerpen favorit saya yang ketujuh.
Kenapa banyak banget sih gambarnya? Nggak usah cerewet, suka suka saya dong XDD. Karena saya sangat jatuh cinta dengan goresan tangan Lala Bohang. Selain keindahan para penulis bercerita tentang senja, ilustrasi di buku ini benar-benar membuat saya mewajibkannya untuk menaruh dan mengoleksi di rak buku saya. Selain itu, yang paling saya sukai adalah bagaimana penulis membuat ending cerita ini, hampir semuanya mempunyai efek kejut yang tidak pernah terpikir sebelumnya (saya suka sekali menebak akhir cerita). Pasti banyak yang berkomentar, kenapa tentang selingkuh semua sih? Membaca pengantar di Tentang Senja dan Cinta yang Galau, saya sedikit memahami gaya penulisan SGA, suka sekali bercerita tentang cinta yang absurb, mencampuradukkan fiksi dan fakta, bercerita tentang kaum termajinalkan secara politik dan sosial (pelacur, kaum homo, dan preman). Jadi, saya tidak terlalu kaget dengan cerita yang tidak biasa dibuku ini, melihat mereka mentafsirkan karya-kaya dari SGA.
Nah, ngomongin tafsir menafsir, saya menemukan bagian 'kurang puas' dengan buku ini. Saya ingin tahu mereka menafsirkan dari cerpen apa saja? Memang sebagian tertulis, tapi tidak semuanya. Karena membaca buku ini saya menjadi tertarik dengan karya SGA, saya ingin membaca karyanya dan ingin menemukan benang merah apa yang ada di cerpen buatan SGA dengan cerpen-cerpen yang ada di buku ini. Dan 'kurang puas' berikutnya adalah tidak adanya profil SGA. Memang di pengantar kita akan diperkenalkan dengan SGA, tapi menurut saya kurang banyak *emang banyak maunya ini orang*, hehe. Itu aja sih, selebihnya saya sangat menyukai kumcer ini.
Buat yang suka kisah happy ending, pertanyaan yang membutuhkan jawaban, cinta yang romantis nan manis, disarankan jangan membaca buku ini.
"Hidup adalah sembunyi. Belajarlah seni menyembunyikan. Sembunyikan rupamu! Sembunyikan hatimu! Ada lebih banyak kata-kata dalam diam." (Aan Mansyur, halaman 31)
Kumpulan cerita ini ditulis sebagai tribut terhadap Seno Gumira Adjidarma, berupa penafsiran ulang karya-karya yang pernah ditulis SGA. Ada lima belas judul cerita dari empat belas penulis dengan latar belakang yang berbeda. Jika suka dengan 'Sepotong Senja untuk Pacarku', dalam buku ini kalian akan bertemu Sukab dan Alina dalam berbagai sudut pandang. . . Cerpen favorit saya masih jatuh pada karya Aan Mansyur. Meski telah berkali-kali membaca dua cerita tersebut, saya masih terkesima dengan kisah Rahasia dan celana dalam besi-nya. Aan Mansyur bercerita tentang kesetiaan dalam 'Selepas Membaca Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, Alina Menulis Dua Cerita Pendek Sambil Membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya'.
Selain cerpen 'berjudul panjang' tersebut, ada empat belas cerpen yang tidak kalah menarik dan kreatif atas penafsirulangan cerpen-cerpen SGA. Sebut saja Gadis Kembang karya Vabyo, Perkara Mengirim Senja karya Jia, Akulah Pendukungmu karya Sundea yang sedikit nasionalis, Guru Omong Kosong karya Arnellis, dll. Semuanya membawa nafas baru dan segar.
Ilustrasi dari Lala Bohang juga menambah cantik isi buku ini. Selamat menikmati senja dan cinta yang tersebar dalam buku ini!
Sebuah kumcer ringan yang merefreshkan otak sementara dari bacaan2 'berat' buku ini memang diatributkan untuk Seno Gumira Ajidarma, salah satu penulis favorit saya, mungkin penulis favorit kebanyakan orang Indonesia juga. Konon Pram pun memuji kepiawaian Seno dalam mengolah kata-kata yang indah itu. Di dalam buku ini juga terdapat tulisan Aan Mansyur, Lala Bohang dan lain sebagainya.
ide untuk menjawab atau menginterpretasikan suatau karangan seorang penulis seperti Seno Gumira Ajidarma, oleh penulis-penulis lainnya, merupakan sesuatu yang menarik. Melalui gaya penuturan masing-masing dalam rangkaian-rangakaian cerita kecil yang memiliki arti besar. Dan poin paling penting, perlu untuk membaca karangan Seno untuk dapat menyelami buku ini sedalam-dalamnya. Secara cover dan judul buku ini, totally great!
* Ia berusaha percaya bahwa hidup adalah sekumpulan misteri dan rahasia dengan kesakitannya sendiri * Terlalu sering menengok ke belakang akan membuatmu sulit maju. Bahkan kaca spion pun dibuat lebih kecil dari kaca depan kan? * Kekurangannya tidak akan membuatnya mati tetapi justru bertambah kuat * Kenikmatan kadang menghilangkan kewaspadaan. Kebahagiaannya terpaksa sirna kala kakinya tersandung batu kerikil hingga ia jatuh tersungkur. * "Lo tau, nggak, sih, lengkap nggak selalu harus sepasang?" * Kalau kau tidak mau ya tidak usah. Tak usah banyak mendengarkan orang lain. Ini hidupmu dan bukan hidup mereka * "Tapi Kirana, bukankah kalau kamu lelah, ke mana pun kamu pergi, kamu masih harus menghadapi dirimu sendiri?" * "Aku lelah dengan perkataan orang-orang terhadapku. Keluargaku yang seharusnya mengenalku, sperinya tidak pernah mengerti aku. Dan yang paling menyebalkan, sebenarnya aku lelah dengan diriku sendiri. Sepertinya aku memang harus perg." * Lagi pula kata-kata menajadi sangat tidak efisien untuk sebuah hubungan jarak jauh."
Saya adalah salah satu penggemar berat dari Seno Gumira Ajidarma. Mulai dari novelnya sampai cerita-cerita pendek. Gaya menulis Seno Gumira telah membuat saja jatuh hati dan secara tidak langsung telah menginspirasi beberapa tulisan yang pernah saya buat.
Pertama kali saya menemukan buku kumpulan cerpen ini di perpustakaan sekolah, saya langsung buru-buru membawanya ke rumah setelah melihat tulisan dedikasi untuk Seno Gumira Ajidarma. "Wah, tulisan macam apa yang bisa dihasilkan sebagai dedikasi untuk Seno Gumira?" begitu pikir saya.
Ternyata saya langsung larut dan jatuh cinta. Mulai dari cerpen Gadis Kembang, Perkara Mengirim Senja (saya sangat suka cerita ini!), Selepas Membaca Sebuah pertanyaan untuk Cinta, Alina menulis dua cerita pendek sambil membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya, Akulah Pendukungmu, Surat ke-93, sampai Satu Sepatu, Dua Kecoak. Semuanya menyihir pikiran saya dan langsung memancing berbagai ide-ide baru.
Karya sastra di sini hampir keseluruhan bergaya surealis yang merupakan genre favorit saya. Ditambah dengan ilustrasi-ilustrasi yang juga terlihat misterius dan indah secara bersamaan, buku ini bisa menjadi temanmu di kala sepi. Oh, jangan lupa sediakan secangkir cappuccino.
Saya membeli buku ini karena membaca tagline-nya : Sebuah persembahan untuk Seno Gumira Ajidarma, dan dengan alasan yang sama saya langsung semangat untuk menuntaskannya begitu membuka plastiknya. Sayangnya, sampai halaman terakhir yang saya baca, saya tidak menemukan alasan untuk memberi bintang lebih dari tiga. Saya suka idenya, tapi tidak semua cerpennya saya suka. Ada yang berkesan dipaksakan dan disangkut-sangkutin dengan senja, ada yang terlalu bertele-tele sehingga membuat saya bosan. Tapi selain itu tentu ada yang membuat saya jatuh hati, ada, tidak semua. Saya suka cerpen milik Jia yang sekaligus menjadi judul buku ini,dan saya juga suka cerpen Akulah Pendukungmu karya Sundea.
Mungkin benar kata Dee di cover belakang buku ini, 'menginterprestasikan karya SGA bukanlah pekerjaan yang mudah, tapi sah dan patut dicoba...', dan memang buku ini sangat sah untuk memberikan penghormatan terhadap karya Seno -terutama cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku yang dijadikan inspirasi lahirnya buku ini- oleh para penulis muda, apapun hasilnya.
Beli buku ini waktu ada pameran buku di Mall :D buku ini berisi beberapa kumpulan cerita pendek, yang dibuat oleh beberapa penulis dengan versi yang lebih modern, sebagai salah satu bentuk persembahan untuk Seno Gumira Ajidarma. buku ini berhasil bikin gue tambah jatuh cinta sama sastra. uniknya dibuku ini, kalian bakal banyak nemuin kata 'senja' disana. Dibuku ini cukup banyak mengangkat cerita tentang kehidupan rumah tangga. Cara penulisan yang lugas, serta pemilihan kata-kata yang membuat kita terus berpikir, menurut gue pribadi adalah hal yang bikin buku "perkara mengirim senja" jadi semakin menarik. biar asik, gue tutup dengan salah satu quotes bagus dari buku ini
surat ke-93 "Lawan dari cinta? bukan benci tapi ketidakpedulian. - Pengabaian adalah bentuk hukuman yang paling kejam"
Awalnya saya tertarik membaca buku ini karena judulnya terdengar romantis, dan covernya :D. Terdapat ilustrasi pada setiap kisah yang membuat saya betah membaca buku ini, walaupun ada beberapa cerita yang menurut saya membosankan, agak maksa untuk dikaitkan dengan senja namun tetap memaksa saya untuk membabat habis buku ini. Cerita favorit saya adalah cerita yang menipu saya, dengan ending yang tak terduga seperti cerita karya Aan Mansyur yang memiliki judul yang paling panjang. Cerita yang berjudul sama dengan judul buku ini karya Jia Effendie juga masuk dalam cerita favorit saya. Walaupun saya hanya memfavoritkan dua kisah, namun saya memberikan tiga bintang untuk buku ini karena saya suka covernya dan ilustrasi yang ada di tiap kisah :D
Sejujurnya, setelaah merampungkan Senja dan Cinta yang Berdarah, saya sempat ingin merespon beberapa cerpen SGA – seperti Tujuan: Negeri Senja dan Ikan Paus Merah. Namun sepertinya saya terlambat beberapa tahun. Karena beberapa tahun silam sudah terbit cerpen-cerpen yang dipersembahkan khusus untuk SGA dan terangkum dalam sebuah antologi berjudul Perkara Mengirim Senja ini. Membacanya membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Teman saya terkekeh ketika bagian Sedangkan saya sulit menghapuskan ingatan tentang Garuda Pancasila dan Sandra. Unik, tentu saja. Setidaknya, para penulis di dalam buku ini berhasil mengintrepretasikan karakter SGA dengan sangat halus namun kuat.
Saya tertarik meminjam buku ini dari rak seorang teman karena setidaknya ada dua hal. Pertama, judulnya yang menggaet kata "senja". Kedua, salah satu penulisnya adalah Aan Mansyur.
Senja dan Aan adalah perpaduan kedua hal yang romantis. Pandanglah ke langit barat saat senja dan scroll timeline @aanmansyur di Instagram. Itu salah satu cara menemukan kebahagiaan, setidaknya secara personal.
Saya baru tahu kalau rupanya buku ini semacam "tribute to SGA". Saya belum pernah sebenarnya membaca satu pun buku dari "pangeran senja" itu. Tapi, buku ini kalau memang benar "menceritakan ulang" senjanya Seno ala penulis kontemporer, it's maybe hard for me. I quite like it, but it's just okay. Okay Okay. Ok.
akhirnya berhasil juga baca buku ini stelah sekian lama :p Menginterpretasi karya orang lain dengan membuat karya baru memang bukan perkara gampang. tapi penulis-penulis di buku ini berhasil melakukan tugasnya.
dipenuhi cerita dengan bahasa indah, puitis, dan bersayap lebar. senja berserak di hampir semua cerita bittersweet di buku ini.
anywho, cerita yang paling aku suka adalah Surat Ke-93 di mana sang tokoh utama terasa sangat desparate dalam menanti balasan surat dari kekasihnya. rindu yang dia pendam sekian lama terus membuncah, tanpa tahu sedikitpun tentang kabar sang kekasih. tajam, sendu, sekaligus menarik. seperti tes air hujan yang membekas pada kaca jendela di sore hari *halah*
Merupakan sebuah tribut untuk Seno Gumira Ajidarma, berupa kumpulan cerpen yang ditulis oleh penulis-penulis muda. Namanya juga kumpulan, pasti ada yang bagus, ada yang biasa saja, ada yang jelek. Ketertarikan saya pada buku ini karena ada unsur SGA* -nya. Memang tidak sekuat penulis aslinya, tapi beberapa cerita yang memang bagus dan merepresentasikan kisah asli (cerpen) dari SGA*. Secara keseluruhan, saya menilai buku ini layak baca. Selain kisah, ada juga ilustrasi-ilustrasi sederhana yang menarik.
Perkara mengirim senja tentu tak semudah memotong senja untuk dimasukkan ke dalam amplop kemudian dikirim. sepertihalnya cerita cinta yang rumit dikisahkan. Salut pada para penulis untuk dapat menulis dengan kekhasan masing-masing meski cerpen-cerpen dalam buku ini diinspirasi oleh cerpen karya SGA. seperti sundea yang dekat dunia anak-anak, saya merasakan kekhasannya dalam cerpennya. saya kagum dengan kekreatifitasan para penulis, meski akhir yang tidak terduga dapat diduga, sepertihalnya karya-karya SGA.
Selain "senja" dan "cinta", Alina juga sering disebut dalam kumpulan cerpen ini. Saya jadi penasaran dengan wujud asli dari Alina ini.
Semua cerpen ini memang pas dibaca saat senja hari, dengan segala keromantisan, keterbukaan, dan perayaan kasih sayang. Sayangnya saya ketinggalan senja saat membacanya. Mungkin itulah mengapa saya hanya menikmati beberapa saja di antara kisah-kisah ini. Salah tiga-nya adalah cerpen milik Vabyo, Aan, dan Faizal Reza
Perkara Mengirim Senja itu judul yang keterlaluan romantisnya. Membaca buku ini, semua kontributornya saya anggap dewa. Semua tulisan, dan kata-kata, rasa-rasanya bisa saya telan mentah-mentah. Yang paling saya suka, "Empat Manusia" nya @monstreza, dan "Surat Ke-93", dan (hanya) judul dari dua tulisan Aan Mansyur, satu dari banyak cerita yang menceritakan kembali Alina, 'heroine' dalam cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma.
Meskipun saya tidak begitu mengenal SGA dan belum pernah membaca satu pun karyanya, secara keseluruhan saya bisa menikmati cerpen-cerpen yang ada di buku ini dengan baik. Penilaian 3/5 saya berikan karena lebih banyak cerpen yang saya suka dibandingkan cerpen yang kurang saya suka. Anehnya cerpen berjudul sama dengan judul buku (Perkara Mengirim Senja) adalah salah satu cerpen yang kurang saya suka. Absurd dan kurang bisa diterima akal saya. :)
Ternyata masih belum bisa suka banget sama kumcer ya. Entah ada berapa kata senja dalam buku ini, semua tentang senja. Ya, senja yang dikirimkann Sukab pada kekasihnya Alina.
Nama-nama penulisnya udah gak asing lagi sih ya, paling gak seliweran gitu di temlen twitterku. Ada Vabyo, Omem, Jia Effendi, Aan Mansyur. Aku suka ceritnya Vabyo sama Aan deh.
Agak kecewa. Sebelum beli, sudah berekspektasi terlalu tinggi dengan gaya bahasa penulis-penulis muda yang gayanya lebih segar dari yang tua-tua. Ternyata dari kumpulan cerpen ini, cerpen yang menghanyutkan dari segi bahasa, struktur cerita, penuturan, bagi saya pribadi cuma cerpen karya aan mansyur dan valiant budi/
Ada tiga cerpen favorit saya di dalam buku ini: "Gadis Kembang"-nya Valiant Budi, "Perkara Mengirim Senja"-nya Jia Effendie, dan "Gadis Tidak Bernama"-nya Theoresia Rumthe. Sebenarnya cuma mau ngasih tiga bintang, tapi karena saya juga nge-fans sama Seno Gumira Adjidarma, buku ini saya beri empat bintang. :3
Tertarik dengan buku ini karena ada cerpen M Aan Mansyur di dalamnya. Setelah membuka buku ini, langsung mencari tulisan M Aan Mansyur. Kecewa. Karena dua cerpen di buku ini sudah pernah saya baca dalam kumcer Kukila. Tapi setelah membaca cerpen lainnya, sepertinya tidak ada alasan untuk kecewa dengan buku ini.
The book is dedicated to one of my favorite writers, Seno Gumira Ajidarma. The book has several stories in it, it was written by several good writers, but my heart fell for Aan Mansyur's. For further more, please kindly hit the link http://poscinta.com/pms/
Memang sudah terlalu banyak Senja dan Cinta, tetapi Sukab dan Alina kurag begitu banyak di explore. Padahal khas dari Seno Gumira Ajidarma adalah dari Sukab dan Alina. Tapi proyek Tribute to Seno Gumira Ajidarma yang tertuang di Perkara Mengirim Senja ini patut diacungi jempol. :)