Jump to ratings and reviews
Rate this book

23 Episentrum

Rate this book
Tiga anak muda mengejar dan menemukan profesi yang didamba.

Matari, mengejar penghasilan untuk membayar utang kuliah dan menjalani hidup sebagai reporter.

Awan, seorang pegawai bank yang menunggu waktu untuk mewujudkan impiannya sebagai penulis skenario film.

Prama, seorang pekerja di perusahaan minyak yang berlimpah materi, namun belum menemukan kebahagiaan dan makna hidup.

Mereka mencari tujuan, ambisi dan keinginan sampai akhirnya menemukan makna "23 Episentrum". Ini lah kisah perjalanan Mata, Hari, dan Hati yang menggugah.

-----

Dalam paket novel ini terkandung kisah nyata yang dituturkan oleh 23 anak muda yang memilih untuk bekerja seturut kata hati dan kecintaan. Seorang sarjana arsitek malah ingin jadi penerbang; seorang insiyur kimia malah menjadi penggiat biogas di satu desa; seorang sarjana matematika malah menjadi penulis skenario; dan seorang insinyur mesin yang sejak kecil bercita-cita menjadi guru.

Mereka semua membagi kisah sejati mereka mengenai kecintaan terhadap pekerjaan mereka. Mereka percaya bahwa sesuatu yang dilakukan dengan hati akan selalu menghasilkan energi, bahkan prestasi.

Excellence is the gradual result of always striving to do better.

504 pages, Paperback

First published March 26, 2012

27 people are currently reading
203 people want to read

About the author

Adenita

4 books56 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
109 (24%)
4 stars
157 (35%)
3 stars
128 (29%)
2 stars
39 (8%)
1 star
7 (1%)
Displaying 1 - 30 of 101 reviews
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
May 19, 2016
** Books 122 - 2016 **

3,4 dari 5 bintang!

Inilah halaman 267-268 yang paling saya suka dari buku ini!

"Semua orang di dunia ini butuh uang untuk bertahan hidup. Butuh uang untuk meraih impian mereka. Tapi, uang bukan satu-satunya jalan untuk meraih semua itu. Bagaimana cara mendapatkan yang itu adalah sebuah cerita penting yang akan menjadi sebuah kekuatan bagi hati nurani untuk bisa merasakan dan mencium bahwa jalan menuju impian bisa diraih dengan cara yang terhormat dan menyenangkan. Banyak pilihan dan cara untuk mendapatkan uang, apakah hanya mementingkan diri sendiri, memuaskan nafsu yang membubung tinggi untuk memenuhinya? Tapi, dia yang memilih untuk mendapatkan uang dengan cara berkontribusi dan bermanfaat bagi orang lain, adalah dia yang akan membuat hartanya tumbuh eksponensial.

"Rasanya hari-hari terlalu berharga jika hanya diisi dengan keluhan atau merutuki nasib tentang pekerjaan. Pekerjaan yang sudah ditukar dengan separuh waktu yang dimiliki setiap orang dalam sehari adalah sesuatu yang harus disyukuri lebih dari sekadar nilai rupiah atau satuan mata uang yang ada. Ketulusan dalam melakukan pekerjaan bukan hanya akan memberi efek kilau pada pekerjaan yang sedang dilakukan, tapi juga memberikan ruh agar ia bernyawa dan terlihat oleh dunia.

"Tapi pada akhirnya, orang-orang yang punya komitmen, merasa cinta dengan apa yang dilakukan, dan selalu berangkat kerja dengan penuh semangat adalah orang-orang yang sedang membuat perubahan. Dengan energi yang dimiliki, mereka berbagi dan mendorong orang lain untuk merasakan hal yang sama, kebahagiaan-dalam bentuk apa pun. Termasuk, meneruskan apa yang pernah didapatkan dalam hidup ini, Meneruskan kesempatan dan kepercayaan"

Terimakasih iJak untuk peminjaman bukunya
Profile Image for Bunga Mawar.
1,356 reviews43 followers
May 7, 2016
Buntelan buku yg mendarat di Parung bersama sehelai selimut debu, awal bulan ini. Abang manajer yang melempar buku ini sebelumnya sudah berpesan, kalo saya ga suka buku ini, minta saja perpustakaan sekolah untuk menyimpannya. Mungkin cocok, gitu ya. Atau mungkin abang manajer sudah memiliki dugaan saya tidak cocok dengan buku ini.

Baiklah, para episentrum ini kemudian saya baca. Ternyata saya cukup suka dengan cerita yg dikisahkan dalam buku novelnya. Idenya tentu saja klise, tentang mengikuti kata hati dalam beraktivitas hingga bisa mendapat kebahagiaan. Hal yang bikin menarik adalah dinamika pekerja di bidang media dengan segala tantangan dan kerja kerasnya. Bikin saya bernostalgia pada masa pergi siang pulang pagi itu, hehe...

Lalu tiba pula masa membaca buku kedua. Hingga orang ketiga yg dikisahkan pengalaman pribadinya, akhirnya saya bosan. Jadi dua buku ini saya beri bintang 3.5.

Sekian.
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews44 followers
November 17, 2013
Buku itu kalau dibaca pada waktu yang tepat bisa bikin 'jleb!' banget. Itu komentar awal baca buku ini. 23 Episentrum semacam baca kehidupan sendiri.

Diawali perkenalan tokoh yang ciamik dengan masing-masing permasalah mereka, benar-benar menyentuh. Mudah untuk berempati dengan setiap tokoh di buku ini. Dari awal sebenarnya cukup mudah ditebak bagaimana setiap tokoh akan saling bersinggungan. Benang merah-nya bisa dibilang cukup jelas. Namun bagaimana mereka akan menjalani kehidupan pribadinya yang membuat buku ini menarik.

Karena semua permasalahan cukup jelas di awal dengan flow yang asik, ada saat dimana permasalahan mereka menjadi membosankan dalam cerita. Flownya sedikit melambat. Tokohnya kembali menyebut masalah yang sama berulang-ulang hanya dengan sedikit kemajuan untuk menyelesaikannya. Kalau jaman sekarang di kehidupan nyata, status galau di twitter atau facebook yang ditulis berulang-ulang bikin kesel yang baca juga. Semacam itu lah. Tapi mungkin itu yang dijalani oleh semua orang. Karena permasalahan tidak instan selesai.

Flow-nya kembali menarik setelah benang merah terhubung lengkap dengan semua tokoh yang ada di buku. Cerita mengalir dengan lebih ciamik dan lebih menusuk bagi orang yang membacanya di waktu yang tepat :D

Memang, cerita tentang mimpi selalu bisa membuat saya berkali-kali berfikir siapa yang memotong bawang di kamar sampe mata saya berair.

Dilema orang yang lulus kuliah adalah menentukan arah hidupnya. Tahun-tahun pertama akan menjadi tahun pembuktian diri. Tahun berikutnya akan diikuti oleh pertanyaan, sudah benarkah jalan yang dipilih ini? Tapi selama masih bernapas, selam itu pulalah pertanyaan demi pertanyaan tentang hidup akan bergulir. Ketika berhenti bertanya, hanya ada dua kemungkinan, orang itu tidak peduli atau mati.
Profile Image for Muhammad Syamsul Muin.
11 reviews
October 26, 2016
Risiko sih emang, tapi cinta…
“ Tapi pada akhirnya, orang-orang yang punya komitmen, merasa cinta dengan apa yang dilakukan, dan selalu berangkat kerja dengan penuh semangat adalah orang-orang yang sedang membuat perubahan. Dengan energi yang dimiliki, mereka berbagi dan mendorong orang lain untuk merasakan hal yang sama, kebahagiaan-dalam bentuk apa pun. Termasuk, meneruskan apa yang pernah didapatkan dalam hidup ini, Meneruskan kesempatan dan kepercayaan”

― Adenita, 23 Episentrum



Kalo susah, ngapain kamu ambil coba? | ng..ngga tau, habisnya aku suka aja sama itu. | Gimana sih? modal kok suka doang | Ya, ngga tau lah. Pokoknya aku suka aja, masalah bisa atau ngga nya, urusan belakangan, yang penting dari awal aku udah cinta aja, risiko sih emang, tapi cinta… ((curhat skripsi))



Kepadanya yang telah yakin dengan apa yang telah dipiliih, semoga dimudahkan dalam setiap perjalanan. Karena dalam mencapai tujuan akan ada masalah-masalah yang silih ganti berdatangan. Bahagialah dengan apa-apa yang telah kamu putuskan. Jika tidak, mungkin kamu salah memutuskan. Setidaknya jangan lupa untuk berdoa terhadap apa-apa yang di angankan dan diimpikan.

Profile Image for Siti Awaliyah.
91 reviews1 follower
May 18, 2012
Udah lama gak baca novel yang bikin saya ngerasa seperti ditampar2. Baca buku ini saya merasa melihat refleksi cerita hidup saya sendiri, dan saya yakin bahwasanya setiap orang pernah berada dalam masa pencarian jati diri, profesi yang menenangkan hati, profesi yang dikerjakan dengan passion dan love. Saya bisa merasakan apa yang dirasakan salah satu tokoh yang ada di novel tersebut. Basically, novel ini menceritakan kisah tiga anak manusia (Matari, Prama, dan Awan) yang masing2 di antaranya bergelut dan berkecamuk dengan hati masing2 serta realita yang ada. Cerita ini umum terjadi dan kerap terjadi hampir di setiap manusia, khususnya bagi mereka yang tengah memasukin awal tahap dunia kerja. Pertentangan batin, kebutuhan, dan realita, untuk mencapai suatu ketenangan jiwa.
I do crying reading this book actually...dont know why just felt that it's so real..but the motivation brought by this book is great! two thumbs up for this book. Love it so much :)
Profile Image for Nike Andaru.
1,644 reviews111 followers
April 30, 2012
Kali ini saya harus bilang bukunya Adenita yang ini memang bagus.
Sebenarnya tema yang diangkat tidak jauh dari mengejar impian dan cita-cita ala buku Adenita sebelumnya, 9 Matahari.
Jika saya kurang suka buku pertamanya, buku kali ini saya harus mengakui bukunya bagus.
Gak hanya bercerita tentang impian dan cita-cita, tapi juga tekad, kerja keras, passion pada pekerjaan, arti memberi dan sentuhan cerita cinta yang manis dan tidak berlebihan.

menarik sekali, apalagi banyak quote yang keren di buku ini.
Profile Image for Marsya .
12 reviews5 followers
January 28, 2013
Sungguh buku 23 Episentrum amat “berbahaya” untuk dibaca. haha Karena buku ini menurut gue cukup nyentil untuk orang-orang yang berada di tengah kegalauan karir dan masa depan, macam gue ini. Ketika lo bingung mana yang harus dipilih antara passion, gaji yang menggiurkan, tuntutan lingkungan. Yah hal-hal yang pasti ditemui ketika hidup lo udah memasuki fase life after college. Bagus banget untuk yang masih abu-abu mencari dream job yang sesuai dengan passion, ditambah quote-quote inspiring dari percakapan antar tokohnya!
5 reviews
February 20, 2013
buku ini hampir sama lah temanya dengan novel-novel motivasi lainnya. bagus memang inti ceritanya. pengemasan bahasanya juga menarik. tapi menurut saya yang kurang dari novel ini adalah ceritanya yang agak bertele-tele. kita semua sudah bisa menebak di awal akhir ceritanya bagaimana, tapi di tengah-tengah cerita masih saja diberikan percakapan-percakapan yang menurut saya agak kurang penting dan terkesan membahas itu-itu saja. hehehe. tapi over all, lumayan lah ^_^
Profile Image for Rakhmad Permana.
12 reviews9 followers
September 15, 2012
Buku ini menebarkan sebuah semangat dan inspirasi . Dimana terkadang pembaca di ajak untuk merenunginya . Pesanya kuat sekali .
Sebarkan energi
dan bela sampai mati passionmu itu
May 27, 2014
On an office thanksgiving, I got this book. Inspiring, waking up the dead spirited of a dreamer. Slashed down all the officer. Realizing how much lost I personally made.
Profile Image for Rayya Tasanee.
Author 3 books23 followers
November 23, 2016
Awalnya saya iseng searching buku di iJak. Nemu buku ini. Dari judulnya, sepertinya isinya berbobot.

Novel ini berkisah tentang Matari dan Awan yang bersahabat dan ingin meraih mimpi masing-masing. Hmm, saya agak kurang suka dengan beberapa diksi dan majas yang digunakan dalam narasinya. Tokoh Prama yang kaya raya dan berfisik sempurna nan berhati mulia ini agak mengganggu saya karena perannya di sini seperti dewa penolong. Tapi pesan moral novel ini kuat meskipun disampaikan dengan eksplisit.
"Karena sesuatu yang dilakukan dari hati pasti akan melahirkan prestasi." (Hlm. 135)

"Tentang berbagi... lakukan kebaikan dan lupakan." (Hlm. 140)

"Pekerjaan itu cuma alat buat mencapai tujuan kita. Bahkan, ada yang menganggap pekerjaan itu alat tukar untuk memperpanjang napas. Tapi buat gue, pekerjaan itu penting buat memberi napas pada jiwa gue." (Hlm. 162)

"Tari, kamu tahu, betapa banyak di luar sana orang yang tersiksa karena apa yang mereka lakukan hanya karena uang? Akhirnya, mereka menjadi mesin atas hidup mereka. Pekerjaan mereka memang selesai, tapi mereka tidak memberikan ruh terhadap apa yang mereka kerjakan. Hasilnya? Hanya untuk kepentingan sendiri dan tidak berumur lama. Mereka hanya diperbudak oleh waktu dan baru menyadari apa yang mereka inginkan saat usia mereka sudah separuh abad. Kamu mau hidup seperti itu?" (Hlm. 205)

Pesan dalam novel ini lumayan memotivasi para pekerja (khususnya di tahun-tahun awal masa kerja) untuk dijadikan bahan pertimbangan antara melanjutkan meraih mimpi atau bertahan di pekerjaan yang memberi kemapanan finansial tetapi tidak menghidupi jiwa. Haruskah memperjuangkan keduanya atau berfokus pada salah satunya? Menurut buku Unleash Your Other 90% karya Robert K. Cooper, alangkah lebih baik kalau kita memaksimalkan potensi yang kita miliki untuk mencapai hasil pekerjaan yang optimal. Tapi di satu sisi, apabila passion kita tidak menjamin 'kestabilan finansial', bukankah ini menjadi rumit? Novel 23 Episentrum memberikan semangat kepada pembaca yang mungkin mengalami hal yang sama seperti Awan atau Matari. Namun, kisah nyata tak semudah cerita dalam novel, bukan? Jadi, mana yang harus kita pilih? Barangkali jawabannya akan ditemukan ketika kita telah menyelami kedalaman hati.



6 reviews
November 3, 2016
Hidup itu penuh pilihan, termasuk urusan kerjaan. Mau bekerja sekadar untuk menambah pundi-pundi di rekening atau mengikuti apa yang jadi panggilan hati. Semua punya konsekuensi. Apapun keputusan yang kita ambil, buku ini menyarkan kita bahwa menjadi bertanggung jawab pada setiap keputusan yang kita ambil itu teramat sangat penting
Profile Image for Monika Sembiring.
26 reviews
November 22, 2016
Rasanya saya membaca buku ini di saat yang tepat, baru lulus kuliah, sedang menggebu-gebu soal idealisme tujuan hidup. Sangat ringan tetapi menurut saya pesannya tersampaikan. Setidaknya buku ini berhasil membuat saya bertekad untuk melakukan 'perjalanan hati' mencari tujuan hidup saya juga.
Profile Image for Wulaningsih.
8 reviews
February 24, 2017
Episentrum, judul yang jelas catchy buat saya
Apalagi ditambah label buku 2 in 1, nilainya jadi meroket, bikin penasaran maksudnya gimana

Ternyata, buku ini terdiri dari 2 episode, buku pink (cerita utama) merupakan kisah fiksi, dan buku biru (suplemen) non-fiksi. Untungnya saya membaca di momen yang bisa dibilang lumayan tepat, masa transisi kuliah.

Kuliah - sama halnya seperti Matari, sayapun merasakan lika-liku dunia perkuliahan. Saya dulu tipikal manusia idealis namun berubah menjadi manusia realis ketika mengenyam bangku kuliah. Kondisi naik turun sempat membuat saya ingin menyerah pada keadaan dan meneriakkan slogan modifikasi ala Frozen, let it flow istilah kasarnya luweh, ikut arus ajalah.
Untungnya, selalu ada support system yang mendampingi masa up & down, hingga saya pun bertekad bulat menolak untuk menyerah pada keadaan (walaupun masih tetap dalam koridor realis sih, tapi untungnya hati sejalan dengan yang dijalani, Alhamdulillah)
Pesan ibu selalu terpatri di pikiran saya, "dek, ibarat menyebrang sungai, kita ini sudah sampai setengah jalan. sudah terlanjur basah. jadi lanjutkan hingga tepian. lanjutkan hingga bisa meraih apa yang jadi tujuan awalmu. supaya tidak sia-sia apa yang kamu usahakan selama ini. berdoa, berusaha, percaya sama Allah, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan."
lho, kok saya jadi curcol, bisa jadi tambahan suplemen 23 episentrum nanti :")

Butuh waktu singkat untuk melalap habis buku pink. Mungkin karena saya suka cerita, jadi ya kurang afdol kalo tidak dibaca sampai selesai, walaupun sedari awal sudah ketebak sih mau dibawa kemana akhir cerita ini.
Intinya buku ini menukil bagian kecil dari hati manusia yang haus akan ambisi, hasrat keinginan, cita, cinta, dan mimpi vs. kehidupan nyata atau keadaan (?).
Memang benar, perspektif itu penting. Gimana niat kita, gimana saat menyikapi masalah. Ingat! Jalanmu, pilihanmu, pertanggungjawabanmu. Kalo istilah Pak Muktar sih tenangkan pikiran, hatipun tentram. Jadi, emang kuncinya ada sinkronisasi antara pikiran dan hati.
Penggambarannya apik, sarat nilai, memberi itu bukan hanya sekedar koridor materi, namun juga perhatian, dukungan, semangat moral, dan juga doa.

Sayang, banyak dialog langsung, terkadang membingungkan. Kurangnya narasi, padahal akan lebih menarik jika dibumbui narasi yang sesuai. Beberapa tokoh kurang digali, seperti tokoh Rafiq alias Opiq dan Gusti. Kedua tokoh ini justru membuat saya penasaran, bagaimana perjuangan yang dihadapi selanjutnya hingga mencapai mimpi mereka. Namun toh sedari awal sudah disebutkan kalo fokus cerita 23 episentrum pada perjalanan 3 orang tokohnya. Jadi ya memang seputar kehidupan Awan, Matari, dan Prama.

Untuk suplemennya alias buku biru, butuh waktu lebih untuk menyelesaikannya. Buku suplemen membuktikan bahwa kisah itu sebenarnya banyak kita jumpai di dunia nyata, mungkin memang dalam bentuk lain. Perjuangan akan sesuatu yang didasarkan kata hati akan melahirkan prestasi dan ketenangan jiwa bagi diri, itu bukti nyata dari banyak kisah yang tertuang dalam suplemen.

Overall, saya kasi 3,5. Kenapa? Karena 23 episentrum bukan hanya sekedar cerita kegalauan biasa, namun juga cerita nyata luar biasa.
Profile Image for Almira Nuringtyas.
99 reviews3 followers
January 1, 2018
Baca buku ini sekitar semester 5, satu tahun yang lalu. Lumayan, cukup bagus menurut aku. Spirit dan idealismenya sangat kental terasa, cocok dibaca buat anak kuliahan menjelang akhir seperti aku haha. Tapi menurutku kisah cinta Mentari terlalu too good to be true sih hahaha
10 reviews
March 28, 2022
Penokohan dan perkenalan tokohnya sangat apik. Setiap tokoh dibekali dengan karakter kuat.

Cerita cenderung repetitif dan flow alur lambat banget. Di pertengahan sudah mulai bosan karena keseluruhan cerita sudah bisa ditebak. Menurutku terlalu datar dan kurang greget.
Profile Image for Wahyu Sulistyatanto.
5 reviews
June 15, 2023
Buku ini saya baca kurang lebih 15 tahun yang lalu, salah satu buku yang membuat saya tertarik dengan genre fiksi
Profile Image for Niken Larasati.
1 review
November 28, 2016
Setelah vakum selama hampir 4 tahun karena larut dalam metamorfosisnya sebagai perempuan, menjadi istri sekaligus menjadi ibu, Adenita kembali berhasil menjalin satu per satu dari jutaan kalimat menjadi rangkaian cerita yang utuh dalam novel keduanya yang berjudul 23 Episentrum. Novel pertamanya yang berjudul 9 Matahari mengukuhkan namanya sebagai nominasi Penulis Muda Berbakat Khatulistiwa Literary Awards 2009 dan penerima Penghargaan Duta Bahasa Berprestasi dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat 2010. Adenita adalah salah satu penulis muda yang berhasil mendulang sukses besar lewat buku pertamanya yang menjadi best seller dan dicetak tujuh kali.

23 Episentrum tidak jauh dari tema yang diangkat Adenita pada buku pertamanya tentang perjuangan mengejar mimpi dan mewujudkan cita-cita. Lebih menarik dari 9 Matahari, pada karya keduanya ini Adenita merangkum sebuah perjalanan mata, hari dan hati para tokohnya lengkap dengan keyakinan, kerja keras, ketekunan, persahabatan dan bumbu cerita cinta yang cukup manis di sela-selanya. Buku keduanya ini didasari dari ide sederhana yaitu pekerjaan dan passion. Uniknya, 23 Episentrum merupakan satu sampul kuning yang terdiri dari dua buah buku. Episentrum sendiri berarti titik pada permukaan bumi yang terletak tegak lurus diatas pusat gempa di dalam bumi ini ibarat energi yang disangkutpautkan dengan para tokoh.

Buku pertama bersampul merah jambu ini adalah novel fiksi dengan 3 tokoh utama bernama Matari atau Tari, Awan dan Prama. Cerita diawali oleh Tari dan dinamika pekerja di bidang media dengan segala tantangan dan kerja kerasnya. Tari baru saja meraih impiannya menjadi sarjana diantara carut-marut kondisi ekonomi keluarganya bertekad mengejar pekerjaan impiannya sedari kecil; seorang news anchor, di sebuah kantor barunya, TV Berita (TvB). Sebelum wisuda, Tari resmi diterima menjadi reporter di TvB, news anchor belum berhasil langsung ia gapai namun tetap harus dijalani untuk melunasi utang kuliahnya sebesar 55 juta!

Cerita beralih kepada Awan, sahabat Tari yang bekerja sebagai Treasury Finance di sebuah bank. Awan dianggap sebagai seseorang yang pandai mengatur keuangan, utang piutang dan terlihat sebagai laki-laki yang mapan. Tiga tahun di bank, belakangan membuatnya sadar telah memasuki tempat kerja yang tidak pas untuk hatinya. Dibalik keseriusannya, Awan menyimpan sebuah hobi dalam menulis menulis skrip film yang selalu membuatnya lebih bersemangat.

Kemudian ada Prama, sahabat Awan yang baik hati dan kaya raya. Diumurnya yang muda, Prama telah direkrut oleh perusahaan minyak Perancis dan sekaligus di sekolahkan S-2 ke Prancis oleh perusahaannya. Pencapaiannya itu tidak lagi membuatnya bahagia. Tidak ada tantangan kerja dan ia merasa terancam dengan posisi nyaman yang tidak akan menjadikannya apa-apa. Pada buku merah jambu ini diceritakan bagaimana para tokoh dengan latar belakang yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, mewujudkan keinginannya bekerja sesuai passion.

Buku kedua, bersampul biru sebagai suplemen (tambahan) yang berisi 23 biografi singkat tentang kisah nyata 23 anak muda yang memilih mengejar pekerjaan impian sesuai kata hatinya. Mereka membagi kisah-kisah mereka mengenai pekerjaan sebagai sebuah ibadah. Bukan hanya sekedar menukar waktu dengan uang. Mereka percaya bahwa sesuatu yang dilakukan dengan hati akan selalu menghasilkan energi, bahkan prestasi.

Secara garis besar, novel fiksi Adenita ini cukup mudah ditebak alur ceritanya. Di beberapa bagian, bumbu roman yang ingin disajikan Adenita terkesan sangat biasa. Termasuk dalam Suplemen 23 Episentrum, terkesan biasa sehingga membuat pembaca cepat sekali bosan. Meski demikian, kreatifitas Adenita merangkum realita kehidupan cukup ringan pada gaya bahasa, pilihan kata yang pas dan alur cerita cukup merata untuk masing-masing bidang pekerjaan yang sempat dimunculkan dalam cerita fiksinya.

Paket buku ini cocok bagi yang sedang krisis motivasi ataupun yang masih bingung dengan passion-nya dalam disiplin ilmu maupun pekerjaan. Adenita cukup tuntas menyajikan rangkaian-rangkaian motivasi dan ingin menunjukkan bahwa cerita dalam novel fiksinya bukanlah sekedar omong kosong, dengan memberikan 23 kisah anak muda yang berasal dari lintas disiplin ilmu, profesi dan hobi yang berbeda. Mereka memerdekaan suara hati untuk bebas memilih apa yang dicintai meskipun jauh dari apa yang telah ditekuni selama ini.

“…bahagia kan bukan cuma soal uang, dan pilihan hidup itu ngga perlu harus sama dengan orang lain.” – 23 Episentrum
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Anastasia Cynthia.
286 reviews
May 18, 2014
Terdiri dari dua buku; 23 Episentrum menceritakan perjalanan tiga orang anak muda dalam mengejar sebuah posisi dalam profesi dalam buku pertama, sedangkan buku kedua, sebagai suplemen, Adntia menceritakan biografi 23 orang orang-orang di sekitarnya dalam bidang mereka masing-masing.

Di awali dari cerita seorang Matari, atau Tari, yang menjejaki kantor TvB untuk pertama kali, mencecap langkah pertama dalam pekerjaan impiannya sedari kecil; seorang news anchor. Bertemu dengan rekan sejawat yang baru. Lantas, cerita bergulir cepat, menceritakan Awan, bankir garis miring penggila film, sahabat Tari yang dengan setia membantunya mengatur urusan keuangan dan utang puitang. Semua orang melihat Awan yang sejahtera sebagai seorang bankir, pandai mengatur keuangan, tapi hati kecilnya berkata lain, menanti hari yang menjeratnya selama bertahun-tahun dengan pekerjaan yang sama sekali tidak ia minati. Walau, ibunya mati-matian berkata kalau menjadi sarjana ekonomi merupakan pegangan yang pas bagi Awan untuk menata rumah tangga. Tapi, Awan lebih ingin hobinya dalam menulis skrip film bertumbuh pesat. Di samping Awan, ada Prama. Tampan, baik hati, luar biasa kaya. Di umurnya yang muda, ia telah direkrut oleh perusahaan minyak Perancis. Malang melintang Jakarta-Tanzania. Dan uang tentunya bukan lagi menjadi masalah, tapi satu masalah Prama, hatinya kosong. Sekosong pikirannya setiap kali matanya menelusuri horison laut dan iri mencuri dengar rekan sejawatnya yang tengah menelepon kekasih yang nun jauh di sana. Prama bosan hidup dengan target. Kini, saat semuanya sudah digenggamannya, ia merasa uang tidak bisa mengobati hatinya yang kosong.


"23 Episentrum" bukan karya fiksi hura-hura. Pertama kali melihat judulnya, tentu saja ada yang berbeda. Episentrum yang berarti pusat gempa disangkutpautkan dengan 23 ambisi orang muda, sehingga terbentuklah novel yang luar biasa patut untuk dibaca. Selewat melihat gaya bahasa percakapannya yang mengunakan diksi yang luar biasa ringan, kata-kata yang cerkas, juga kronologi cerita yang lekas, Adentia mencoba merangkum realita kehidupan yang acapkali terlihat di kalangan masyakarat. Tidak hanya melintas di karier yang cemerelang, dari yang paling bawah seperti peran seorang OB dan supir, Adentia pun mencoba mengoreknya dengan kalimat-kalimat yang menyentil dan patut masuk daftar kuotasi.

Berangkat dari ide yang biasa tapi jarang disentuh masyarakat, ya, kadang masalah pekerjaan sering dianggap personal, tapi diam-diam sering didiskusikan. Sama seperti dalam "23 Episentrum" yang menyuguhi pesan-pesan literasi yang luar biasa memotivasi. Sayang mungkin di beberapa halaman awal "23 Episentrum" terkesan ngalor-ngidul, membahas hal-hal yang lebih mirip roman mainstream. Tapi, usaha Adentia dalam menelanjangi masing-masing profesi yang dilakoni oleh ketiga karakternya patut diacungi jempol. Mulai dari seluk-beluk dunia reportasi berita, perfilman, hingga perminyakan lepas pantai.

Dari genre yang memotivasi, dalam "23 Episentrum", Adentia mencoba untuk membumbui ceritanya dengan sedikit roman kok. Bukan roman picis tapinya, lebih ke dua orang yang mencoba saling mengerti lalu tertambat satu sama lain. Ya, walaupun alur dalam genre roman ini terkesang dibanting oleh keseluruhan genre utamanya, tapi masih asyik untuk disimak sih, apalagi jika diimingi-imingi pendamping dengan personal seperti Prama hehe :)

Overall, "23 Episentrum" bisa dibilang novel ringan yang membekali pembacanya dengan pesan dan motivasi diri. Pas banget untuk dinikmati oleh fresh-graduate yang lagi putus asa dan tersesat. "23 Episentrum" memang tidak membeberkan lika-liku dunia kerja secara lengkap, tapi tetap saja sayang jika dilewatkan.
Profile Image for Agoes.
512 reviews37 followers
May 3, 2012
Apakah gaya bicara karakter fiksi dalam sebuah novel mencerminkan gaya bicara penulisnya? Jika iya, mungkin sudah terbayang bakal seperti apa bicara dengan Adenita, penulis buku ini. Novel dengan judul 23 Episentrum menceritakan kisah orang: Matari (yang sebelumnya juga menjadi tokoh utama dalam 9 Matahari), Awan, dan Prama yang masing-masing (kata penjelasan di belakang buku ini) sedang mengejar profesi yang dicintainya. Kalau kamu beli buku 23 Episentrum ini, otomatis akan dapat bonus sebuah buku 'suplemen' berisi kisah nyata perjalanan hidup 23 orang yang juga memilih pekerjaan sesuai dengan apa yang mereka cintai.

Ada kontinuitas antara novel 9 Matahari dengan 23 Episentrum ini, yaitu tokoh Matari Anas yang masih terbenam dalam hutang :D Jika di 9 Matahari perjuangan yang dilakukan Matari adalah menyelesaikan kuliah, di 23 Episentrum ini dia menghadapi tahap berikutnya dalam tantangan hidup: dunia kerja. Di novel ini, diceritakan bagaimana dia berjuang dalam menjadi seseorang yang bekerja di TvB (Tv Berita). Tokoh kedua, Awan, adalah karyawan bank yang ingin resign dari pekerjaannya dan mengejar keinginannya untuk menjadi seorang penulis cerita. Tokoh ketiga, Prama, adalah seorang karyawan di perusahaan migas(?) yang gelisah karena jemu dengan pekerjaannya.

Premis yang disajikan novel ini sangat menarik, dan konflik yang dihadapi oleh ketiga tokoh itu memang banyak juga dirasakan oleh banyak orang yang sedang berada di tahap awal karirnya (hasil ngobrol dengan beberapa teman yang baru lulus dan mulai bekerja). Akan tetapi, sayangnya karakter ini novel ini kok agak flat, terlalu hitam putih. Yang baik ya baiiik, yang buruk ya buruk. Kepribadian ketiga tokoh utama juga nggak beda-beda amat, semuanya punya gaya bicara sok inspiratif yang lama-lama terkesan jadi agak preachy. Yang membedakan mereka cuma jenis kelamin dan pekerjaan saja. Secara umum, novel ini juga memang punya nuansa 'saya pingin memotivasi dan menginspirasi kamu setelah baca ini!' yang sangat kental, tapi nuansanya terlalu kental (bagi saya) sehingga saya agak eneg. Orang lain mungkin pendapatnya beda. Saya suka yang manis-manis, tapi kalau terlalu manis... ya ga tahan juga. Sama seperti 9 Matahari, penyelesaian konfliknya juga kok... biasa banget. Kurang memuaskan sih, menurut saya. Mungkin karena saya orangnya suka yang serba dramatis dan klimaks, haha...

Akan tetapi, bagian suplemen dari 23 Episentrum ini sangat bagus. Mungkin penilaian positif ini karena formatnya yang non-fiksi, sehingga terkesan lebih 'jujur' dalam menyampaikan pesan, nggak seperti bagian fiksinya yang terlalu terkesan menasehati dan terlalu kepingin memotivasi. Beberapa tokoh yang diangkat dalam bagian suplemen ini bukan orang yang sering muncul di televisi atau media lain, sehingga kisah mereka justru jauh lebih menarik untuk disimak.

Apakah saya merekomendasikan buku ini? Ya, apalagi untuk orang-orang yang berada di rentang usia dewasa muda. Terutama sekali karena ini buku 2-in-1. Jadi tergantung preferensi masing-masing. Untuk yang suka cerita-cerita yang manis, mungkin bagian fiksi novel ini lebih menarik untuk kalian. Untuk yang butuh model konkrit, bagian suplemennya akan terasa lebih menarik.
Profile Image for Iman Safri lukman.
9 reviews6 followers
June 1, 2012
epi-sen-trum: titik pada permukaan bumi yang terletak tegak lurus di atas pusat gempa yang ada di dalam bumi.

Buku ini menyadarkan saya, bahwa menikmati sebuah cerita tidak mesti membaca paragraf-paragraf 'cantik'. Dihiasi metafora. beberapa kalimat di buku ini saya sebut 'lumayan cantik' dengan beberapa quote yg penulis sempalkan (sempalkan, ada di kbbi ga ya? :P) di beberapa paragrafnya.

Dari beberapa buku yang pernah saya baca, ini adalah karya dengan jumlah dialog terbanyak.

Menceritakan 3 tokoh utama; Matari, Awan, dan Prama. Ketiga tokoh utama tersebut diikat oleh satu benang merah; profesi. Bagaimana Matari yang susah payah menyisihkan gajinya sebagai reporter untuk membayar hutang 50juta lebih--hutang yg ia 'tabung' saat menuntaskan mimpinya untuk menjadi sarjana. Bagaimana Awan yang 'galau' sebagai bankir karena ingin menyenangkan ibunya, tetapi hatinya lebih tertarik di dunia film dan cerita. Serta Prama yang berpenghasilan gede di perusahaan minyak asing, tp ga menemukan kebahagiaan juga (bukan karena ia ga suka pekerjaan, tp lebih karena ia merasa terlalu sibuk mengurusi dirinya sendiri dan pekerjaannya)

Sebuah buku yang lumayan menarik bagi saya, ada beberapa point penting yang bisa saya ambil. Seperti pentingnya berbagi, mencintai pekerjaan, atau memaknai hidup ke dalam sudut pandang yang berbeda.

Sebuah buku yang hampir habis saya baca, tapi mendadak saya enggan untuk meneruskannya.

terlalu banyak 'resonansi kata'
seperti kata 'nya' dalam kutipan berikut:

Ada rasa gentar dalam hati(nya) untuk memilih jalan ini. Rasa gentar yang sesungguh(nya) bukan untuk diri(nya), melainkan untuk orang lain. Awan takut pilihan hidup(nya) akan mengecewakan ibu(nya) yang amat dicintai(nya). Takut tidak mampu membuktikan bahwa pilihan langkah(nya) ini benar di hadapan orang lain. Dan, pagi itu ia dengan berat hati tetap melangkah menuju sebuah tujuan seperti biasa(nya), tempat raga(nya) bersandar dan bekerja, tapi tidak jiwa(nya).

kata 'aku', 'ini', dan beberapa lainya juga lumayan sering beresonansi. Awalnya saya memaksakan hati untuk terus membaca, sebelum akhirnya berhenti pada halaman 154. Mengamati baik-baik percakapan tari dengan Gusti (driver di TvB)

"Persis! Orang yang punya ilmu itu dijanjikan naik derajatnya, Gus... Sekarang, kalau kamu menelantarkan kuliah, kamu udah rugi berkali-kali lipat" Jlebbb ada sesuatu yang serta merta menohok hati paling rapuh (jiaaahhh). Untuk orang yang sangat tidak sependapat dengan kalimat itu, maka adrenalin menggiringku menjadi sangat subjective menilai buku ini. Pandangan sobjective dari seorang yang drop out kuliahnya, seorang yang meyakini bahwa pilihan ini adalah kebenaran yang bagi sebagian besar orang lain adalah kebodohan dan kesia-siaan. Pandangan tentang bahwa dirinya takkan pernah RUGI BERKALI KALI LIPAT jika menghentikan kuliah.

Episentrum, aku belum menemukan 'pusat gempa' yang mampu menarik mata, fikiran, dan hati untuk meneruskan membacanya.

buat buku suplemennya jg belum, smoga lebih menarik dari episentrum.
dan lagi-lagi, semua hal sangat relatif.
Profile Image for rizki.
31 reviews3 followers
November 23, 2012
Jalan-jalan di toko buku, terintimidasi sama sebuah buku dengan warna kuning terang dan judul yg eye catching "23 Episentrum".

Yap! Seperti yang sudah di-review sama yg lainnya, novel ini terdiri dari 2 buku: fiksi dan non-fiksi.

***

Buku fiksi bercerita tentang perjalanan karir 3 orang dng latar belakang yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama: ingin bekerja dengan passion.

Matari.
Seorang wanita yang (merasa) sudah menemukan passion dalam kariernya, namun penghasilan yang dihasilkan masih terlalu kecil untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membayar hutang biaya kuliahnya yang mencapai 50 juta.

Awan Angkasa.
Seorang karyawan bank yang menjadi tulang punggung dalam keluarganya. Bekerja di bank memang cukup untuk memenuhi kebutuhannya dan membiayai biaya sekolah adik-adiknya, namun hal tsb bukanlah passion-nya. Passion-nya adalah bekerja di dalam industri per-film-an yang saat itu masih belum begitu menjanjikan.

Prama.
Salah satu lulusan terbaik di kampusnya dan langsung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan yang diinginkannya begitu lulus. Dengan penghasilan yang begitu besar dan bidang pekerjaan yang sesuai passion, tidak membuat dirinya senang dan lega. Ada sesuatu yang kosong di dalam dirinya dan membuat ia rela melakukan apapun untuk mengobatinya, termasuk 'menyumbangkan' setengah dari gajinya.

Buku ini sejenis 'buku omnibus' yang menceritakan kisah dari karakter yang berbeda-beda, namun pada akhirnya saling keterkaitan. Yang paling 'wah' dari buku ini adalah quotes-quotes yang diberikan sangat 'pas'. Pembahasaannya sangat bagus dan tertata. Tujuan utama dari buku ini untuk memotivasi para pembacanya pun saya rasa tercapai.

Yang kurang dari buku ini adalah ketiga tokoh tersebut sama-sama puitisnya (--"). Ketiga tokoh tersebut juga memiliki sifat yang sama, sehingga kurang bervariasi.

***

Buku non-fiksi menceritakan tentang kisah perjalanan hidup 23 orang dari berbagai bidang yang berbeda-beda. Satu hal yang sama dari semuanya adalah mereka melakukan itu karena 'cinta' akan hidupnya.

Buku ini tidak se'wah' buku fiksi. Buku ini memiliki gaya bercerita sendiri, sehingga tetep menarik untuk dibaca. Ada 'added value' lain (tidak sama) dengan buku fiksi. Buku ini memang buku suplemen dari seri buku fiksinya.

***

Oiya, saya rasa judulnya sama isi bukunya kurang cocok tuh. Entah saya yang belum menemukan keterkaitan antara judul dengan isi bukunya atau gimana, tapi menurut saya memang kurang cocok. Kira-kira judulnya apa ya yang pas.. hoho, saya juga gak tahu.. (--")
Profile Image for hifels.
42 reviews1 follower
December 27, 2012
“iya... ya. . . , kenapa semua orang senang banget nyiksa diri mereka dengan kemewahan semu. Cuma masalah pengelolaan uang saja ternyata” – Matari
“sebenernya mungkin udah lama, jiwa itu ada dalam diri gue.. tapi semua ini terbuka gara-gara perjalanan hati gue kemarin. Gue ini kurang berbagi. Makanya, hati gue keras. Dari kemarin yang gue urusin Cuma urusan diri sendiri” - Prama
“you can solve the problem, if you can state it” – Awan
Pernah baca buku motivasi kan? Sering baca quotes dari orang-orang sukses?
Nah buku ini seperti perpanjangan dari untaian makna dan kutipan-kutipan dari orang-orang sukses yang senang berbagi kebahagiaan. Senang berbagi kail untuk semua orang.
Mungkin saya bisa nulis kutipan yang lebih dalem maknanya, dialog-dialog yang lebih cerdas, sebuah deskripsi edan yang sangat kaya pengetahuan, tapi saya pilih kalimat-kalimat di atas secara acak dan sederhana karena saya yakin pembaca yang lain akan menemukan hal-hal ajaib yang ada di buku ini. Saya ingin menularkan sensasi yang dirasakan saat membaca halaman terakhir : Kagum!
Melalui kutipan diatas, saya berharap bisa memancing para pencari ilmu lainnya untuk membaca sendiri dan menggali titik ilmu yang dicari. Saya sudah berbagi spoiler, jadi tinggal teman-teman yang hobi baca lainnya yang melanjutkan mau membaca atau tidak.
Seperti yang telah dituliskan para pe-review- buku, 23 Episentrum bagian pertama, berisi tentang kisah tiga orang anak muda dalam mencari titik episentrumnya masing-masing di dalam hidup, yang sukses memberikan sumber inspirasi – yang mudah-mudahan tidak pernah terputus kepada saya sebagai pembacanya.
Penulisnya memiliki gaya menulis yang santai, mengalir, tapi makna-nya dalam, yang menjadi salah satu kelebihannya.
Duh, saya bingung mau tulis apa lagi.
Baca dulu yang lain deh. Ahahahaha
# ten minutes later
Oke, setelah baca review dari orang lain, saya pikir inilah keberuntungan dari tidak mengetahui sesuatu. Kenapa?
Karena saya belum membaca 9 matahari, saya tidak bisa membandingkan sesuatu.
Saya juga tidak menyuarakan kekurangan buku yang jadi sumber inspirasi ini, walaupun kekurangan itu telah dituliskan oleh seseorang dan saya cukup setuju, tapi saya tetap akan menjadikan poin 10 dari 10 ini tetap pada posisinya.
Sekian.
Profile Image for Aya.
3 reviews6 followers
January 1, 2015
Selamat membaca ^^
Dapat buku ini dari hasil Blind Date with Book, Surabaya Book Club. Salah satu novel 2 in 1 yang saya suka. Ada dua buku, buku pertama adalah novelnya, berwarna pink. Dan buku yang biru adalah ‘Suplemen 23 Episentrum. Alur ceritanya hampir sama dengan karir saya. Maka dari itu, saya jeli sekali baca buku ini.
[Sinopsis]
Perjalanan Mata, Hari, dan Hati.
Matari Anas, reporter yang kebanyakan hutang, demi mengejar kuliahnya. Seorang sarjana Komunikasi Universitas Panaitan, Bandung. Kemudian bekerja sebagai reporter di salah satu stasiun televisi ternama di Jakarta TvB. Impiannya menjadi news anchor, tapi, dia malah diterima sebagai reporter. Tekun bekerja demi membayar cicilan hutangnya yang banyak.
Awan Angkasa, seorang Treasury Financy di Bank Madani. Merasa tertekan dengan pekerjaannya, karena tidak sesuai passion. Uang selalu mengalir, tapi jika tidak karena passionnya, sama saja kosong. Dia lebih suka menulis di blog, dan ingin menjadi penulis skenario film. Awan adalah teman dekat Matari, yang selalu menasehatinya dalam masalah hutang Matari.
Prama Putra Sastrosubroto, sarjana teknik perminyakan yang lulus tepat waktu dan langsung dilamar oleh perusahaan minyak Perancis, T & T, sebagai reservoir engineering dan berstatus international mobile employee. Prama adalah teman dekat Awan, bagi Awan, Prama bukan hanya sekadar pengusaha minyak, tapi dia juga bak bank berjalan.
23 Episentrum adalah perjalan Matari, Awan, dan Prama untuk mengejar profesi yang dicintainya. Mereka mencari tujuan, ambisi dan keinginan sampai akhirnya menemukan makna "23 Episentrum". Inilah kisah perjalanan Mata, Hari, dan Hati yang menggugah.
***
“Semoga si penerima bisa merasakan kebahagiaan dan perasaan yang sama denganku,” – hal 26
“...Aku mencintai kamu karena mencintai kamu membuat aku bahagia. Titik.”- hal 253

Banyak juga quotes yang menarik dalam buku ini, apa lagi dalam suplemen 23 Episentrum. Itu yang bisa memotivasi diri kita, agar sungguh-sungguh meraih kesuksesan.
Tidak ada penulis yang sempurna, editor, percetakan pun begitu. Saya menemukan ketikan tulisan yang kurang apik dalam hal-219 (adalahuangsimpanannyauntukmembayarcicilanutang). Tidak adanya spasi. Semoga bisa menjadi koreksian.

Profile Image for Resty Marsellya.
5 reviews9 followers
July 9, 2013
Buku 2 in 1. Sebuah perjalanan 3 orang anak muda di usia 20an, Awan, Matari, dan Prama. Mengungkapkan makna hidup dan menemukan kebahagian hingga akhirnya menemukan “23 episentrum” dalam perjalanannya.

Awal - awal baca buku ini, mengingatkan saya pada suatu masa, kegundahan hati pada suatu posisi.

Dulu saya sempat bingung,

Memiliki sesuatu yang kamu sukai

atau….

Menerima kepercayaan dari orang lain untuk kamu miliki, sedangkan kamu nggak begitu suka dengan pemberian itu

“Bersikap dewasalah, jangan egois..

Apa iya harus terus bertahan di tempat yang bukan passion kamu?

Saya bisa ngerasain apa yang Awan alami,

Seperti berjalan di jalan yang gelap, Nggak bisa berkembang,

Kaya nggak punya nyawa.

“Kerja itu ibadah, harus senang, harus pakai hati…harus dinikmati.”

Sampai pada akhirnya seorang sahabat menyadarkan sebuah kalimat klise yang sebenarnya sering kali kita dengar.

“Do what you love, love what you do.”

23 episentrum ini bener - bener berhasil memutar kembali masa lalu,

“Let the light of your heart show you the direction to go”


Buku yang menginspirasi, bukan hanya mengajarkan apa yang bisa saya dapat dari masa lalu, tapi juga apa yang saya dapat di masa depan nanti.

” Fase setelah lulus kuliah seperti menjadi tonggak sejarah yang penting dalam perjalanan hidup setiap orang, terutama seorang sarjana baru. Mencari pekerjaan yang pas, seperti halnya mencari jodoh. Apalagi mencari pekerjaan atau karier yang berhubungan dengan passion, tujuan dan mimpi - mimpi hidup yang kadang kala menjadi bahan tertawaan orang lain…”

“….Tapi pada akhirnya, orang - orang yang punya komitmen, merasa cinta dengan apa yang dilakukan, dan selalu berangkat kerja dengan penuh semangat adalah orang - orang yang sedang membuat perubahan. Dengan energi yang dimiliki , mereka berbagi dan mendorong orang lain untuk merasakan hal yang sama, kebahagiaan - dalam bentuk apa pun. Termasuk meneruskan apa yang pernah didapatkan dalam hidup ini. Meneruskan kesempatan dan kepercayaan.”
Profile Image for Epphy Arista.
19 reviews10 followers
September 27, 2012
Saya sudah menamatkan 23 Epicentrum karya Adenita. 2 minggu nyelesainya. Awalnya sempat kecewa, mungkin karena big expectation kali ya. Mbk Adenita adalah penulis fovoritku, menurutku beliau mampu memberikan ruh di karya sebelumnya. Novel 9 matahari Adenita adalah novel yg sangat menginspirasiku dan membuatku berhasrat untuk kembali kuliah.


Di awal2 bab, saya kecewa, jenuh, saya gk menemukan ada yg spesial di sana. Semua datar. Gaya ceritanya full dialog. Terkesan menggurui. Monoton. Saya hampir menyerah dan gk mau melanjutkannya. Gaya ceritanya sebelas dua belas ama karya 5 cm milik Dhonny, menggurui, tp kalo di 5 cm aku masih bisa menemukan gregetnya saat pendakian Mahameru, tapi di sini datar. Semua orang memiliki pemikiran sama. Sok bijaksana. Sok menggurui. Pendiskripsian tentang latar cerita hampir gk ada. Padahal kata Andrea Hirata, pembaca Indonesia suka di dikte, suka pendiskripsian. Humornya gk terselip. Kata2, monyi, monyong, gk enak untuk di baca. Saya kurang terhibur.

Tapi saya terus baca...terus hingga bab 28, saya baca sampai beres. Dan saya baru menemukan Adenita di sini. Cara bertuturnya, semangatnya, inspirasinya, saya suka.

Dan nilai yg saya kasih 3 dari 5 deh. Cukup inspiratif untuk buku motivasi dan kurang cocok untuk di sebut novel. Maaf.

But over all, thank you Adenita buat inspirasinya, banyak hal yg aku dapat dari buku ini terutama tentang pencarian jati diri dan karir. Cocok di baca bagi yg baru lulus kuliah.

Tetap berkarya Adenita :D
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
May 5, 2012
23 Episentrum terdiri dari dua buku; buku pertama adalah sebuah kisah fiksi tentang beberapa karakter yang dalam perjalanan mencapai dan meraih impian mereka masing-masing. Sedangkan buku yang kedua berjudul Suplemen 23 Episentrum adalah kisah-kisah non-fiksi tentang orang-orang di sekitar penulis.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Matari Anas.
Seorang Sarjana Komunikasi Universitas Panaitan, yang merasa terlambat memulai kariernya. Cita-citanya menjadi news anchor. Membaca berita dengan setelan blazer yang elegan, memberikan informasi pada dunia. Ia diterima sebagai reporter, bukan news anchor sebagaimana impiannya. Dua minggu setelah wisuda, ia memasuki dunia kerja yang sesungguhnya di Jakarta dan bergabung bersama para sarjana lainnya. Sementara para wisudawan baru masih sibuk berleha, Tari sudah berjibaku dengan pekerjaan. Bukan semata ia rajin, tapi karena butuh; butuh menghasilkan uang secepatnya agar bisa segera menghidupi dirinya dan juga membayar biaya kuliahnya yang masih meninggalkan utang. Utang atas nama sebuah impian menjadi seorang sarjana....

Baca review selengkapnya di:
http://thebookielooker.blogspot.com/2...
Profile Image for Ulfah N.
18 reviews
May 26, 2012
Menemukan review buku ini di sebuah majalah ketika sedang butuh dosis buku2 motivasi yg nggak jauh2 dari perjalanan karir, hidup dan pertanyaan2 hidup yang sangat sering muncul ketika berada dalam Quarter Life Crisis, seperti yg sy alami skrg.
Buku yang bagus menurut sy adalah buku yg bisa 'menyentuh' hati pembacanya, dan buku ini sudah tentu salah satunya. Adenita menceritakan poin2 filosofi dan pesan2 penting tentang lika liku kehidupan dengan gaya yang ringan dan jujur, dikemas dalam cerita perjalanan hidup 3 tokoh utama (prama, awan dan tari). Ketiganya merupakan manifestasi dr hal2 yg akrab terjadi pada fresh graduate, lulusan kuliahan, yg kerja pd perusahaan di bidang tertentu. Financial, career and pursuit of life fullfilment.
Saat membaca novel ini, sy merasa senasib dgn prama, awan dan tari sekaligus. Banyak sekali yg bisa 'dicatat' dari novel ini.
Seperti sebuah 'ding' yg mengingatkan kita akan mimpi2 yg mungkin terlupa, terkubur bersama rutinitas kantor sehari2. Sebuah pengingat untuk yg merasa hidupnya seperti sedang mati suri, hidup segan mati tak mau :D
Great job Adenita.
*ps: novel ini rasanya spt gabungan Sang Pemimpi dan Edensor milik Andrea Hirata
Displaying 1 - 30 of 101 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.