Jump to ratings and reviews
Rate this book

Selected Studies on Indonesia #7

Bukan 350 Tahun Dijajah

Rate this book
Siapa bilang Indonesia dijajah 350 tahun? Bohong. Mitos belaka. Melalui buku ini GJ Resink sebagai sejarawan sekaligus penyair dan ahli hukum memaparkan bukti-bukti betapa semua itu kontruksi politik kolonial. Kebohongan 350 tahun dijajah dipopulerkan politisi Belanda, tetapi menjadi sangat dipercaya sebagai kebenaran sejarah ketika Sukarno kerap menggunakannya dalam pidato-pidato politik. Lantas para sejarawan dan celakanya pemerintah yang melalui kurikulum pelajaran di sekolah-sekolah akhirnya menjadikan mitos 350 tahun dijajah diterima dan tertanam sebagai kebenaran absolut di masyarakat.

Dalam buku ini Resink memberikan bukti-bukti kuat yang menggambarkan betapa banyak kerajaan-kerajaan dan negeri-negeri di Indonesia yang belum takluk dan di bawah cengkeraman tangan besi hukum kolonial Negara Hindia Belanda sampai abad ke-20. Resink siap dengan segudang sumber, terutama detail fakta hukum yang membuat argumennya bukan saja fokus dan kukuh tetapi juga punya vitalitas dalam memperlihatkan wilayah-wilayah Indonesia yang berdaulat selama kekuatan kolonial bercokol. Hitungan Resink, paling Hindia Belanda sebagai negara hanya ada selama 40 tahun, tetapi usahanya untuk menyatukan seluruh wilayah dan membentuk Negara Hindia Belanda – kemudian menjadi Republik Indonesia – benar-benar selama 350 tahun.

366 pages, Paperback

First published January 1, 1968

143 people are currently reading
1466 people want to read

About the author

G.J. Resink

8 books18 followers
Gertrudes Johan Resink

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
127 (45%)
4 stars
77 (27%)
3 stars
39 (13%)
2 stars
21 (7%)
1 star
17 (6%)
Displaying 1 - 26 of 26 reviews
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
134 reviews82 followers
August 28, 2019
350?

KALAU sejarah diawetkan seperti mumi, kata W. den Boer, akan sangat berbahaya.

Sebab tiap-tiap anak, juga mungkin nanti anak kita, sejak sekolah dasar diberi pemahaman bahwa Indonesia adalah sebuah negeri gemah ripah loh jinawi yang dijajah bangsa asing selama 350 tahun. Pemahaman itu kini sudah jadi awet, seperti mumi. Tak ada yang menggugat, tak ada yang terpikir (imbuhan “–ter” di situ ada hubungannya dengan kuatnya penguasaan wacana) hal sebaliknya: benarkah?

Tapi hari-hari ini Indonesia sedikit banyak beruntung: dunia sejarah memiliki Resink. Dalam buku Bukan 350 Tahun Dijajah yang diterbitkan Komunitas Bambu pada bulan Maret tahun lalu—terbit pertama 1968—ia membuktikan apa yang mengganggu benak kita selama ini tentang Indonesia adalah salah. Bahwa Indonesia tidak dijajah selama 350 tahun, bahwa bangsa Indonesia tidak selemah itu.

Gestrudes Johan Resink lahir 1911 di Yogyakarta. Ia keturunan Belanda-Jawa. Resink masih warga Belanda dan mengalami masa-masa muda saat Gubernur Jenderal B.C. de Jonge pada tahun 1936 berkata dengan angkuh: “Kami orang Belanda sudah berada di sini 300 tahun dan kami akan tinggal di sini 300 tahun lagi.” Tapi tahun 1949 datang, dan ia putuskan untuk menjadi warga Indonesia. Pada tahun itu pula Resink menjadi Guru Besar dalam matkul Sejarah Konstitusi. Ia suka menulis puisi sejak 1941, tapi ia tak tenar berkat kegemarannya itu.

Kini kita menengok kembali nama itu: GJ. Resink.

Literati Resink menunjukkan mengenai “pernyataan-pernyataan yang diabaikan”. Pertama, pemerintah tertinggi di Belanda (Mahkota Kerajaan Bersama Parlemen) dalam Regeeringsreglement pada 1854, pasal 44, memberi wewenang Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk mengumumkan perang dan mengadakan perdamaian + perjanjian dengan raja-raja atau bangsa-bangsa di Kep. Nusantara. Ada unsur diplomasi dan hubungan internasional dalam wewenang itu. Diceritakan bahwa sering diperdengarkan dentuman-dentuman meriam untuk menghormati kedatangan atau keberangkatan raja-raja Pribumi dalam dunia diplomasi. Menteri Urusan Tanah Jajahan mengakui adanya raja-raja merdeka, meskipun “sangat kecil”.

Kedua, beberapa catatan dari Mahkamah Agung. Dalam suatu pengadilan di Surabaya pada tahun 1904, Mahkamah Agung tidak bisa menghukum seseorang dari Kutai karena Kutai tidak termasuk wilayah Hindia Belanda. Beberapa tahun sebelumnya, 1850, saat terjadi kejahatan di atas sebuah kapal Belanda di Labuan Amok di Bali, Mahkamah Agung menyebut peristiwa itu terjadi “di muara sebuah negara asing”.

Ketiga, ada wilayah-wilayah yang merdeka yang diakui pemerintah kolonial. Atlas Hindia Belanda resmi—disusun di Biro Topografi Batavia pada tahun-tahun 1897-1904 dan dibuat lagi 1898-1907 di Den Haag—yang diterbitkan atas perintah Departemen Jajahan menunjukkan “negeri-negeri merdeka” di sebelah utara dan timur Pemerintah Sumatera Barat, “negeri-negeri Kerinci merdeka”, “negeri-negeri merdeka Dalu-Dalu dan Rokan, “negeri-negeri Batak merdeka” di samping Sumatera Timur dan Tapanuli. Di Batak, seperti yang tercatat dalam Intonasi Colijn (diterbitkan di Indonesië pada tahun 1957), seorang penginjil meminta izin untuk masuk Batak karena posisi Batak yang berada di luar Hindia Belanda. Di wilayah tengah, pada tahun 1871, Mahkamah Agung menyebut-nyebut tentang “kemerdekaan kerajaan Goa”. Di bagian timur Hindia Belanda, pada tahun 1880, Mahkamah Agung menegaskan bahwa “tanah Papua, pulau-pulau Aru dan Kei tidak dapat dianggap masuk dalam wilayah Hindia Belanda atau menjadi bagian integral darinya”.

Dengan poin-poin itu kita bisa berbangga hati: kita tidak selemah yang kita kira. Tanah air kita tak pernah sepenuhnya dikuasai. Berdasarkan hukum internasional, wilayah Hindia Belanda (1880) sebenarnya lebih kecil, dengan batas-batas yang jelas. Bahkan dulu ketika VOC menduduki Kota Jayakarta tahun 1619, wilayah yang diduduki hanya sebagian dari Jakarta Utara sekarang. Namun dalam perkembangannya, luas yang kecil itu menjadi luas tanpa batas, berawal dari citra yang dibentuk oleh imajinasi dan sentimen psikologis.

Dan itulah pertanyaannya: bagaimana bisa hal-hal penting seperti itu, fakta-fakta tentang Indonesia, bisa luput, dan dalam waktu yang relatif lama tahu-tahu awet seperti mumi?
Buku Resink menampilkan jawabannya secara historis. Buku pelajaran sejarah Hindia Belanda dulu ditulis oleh Eijkman dan Stapel. Pada edisi ke-5, buku Stapel yang dibuat tahun 1927 menjadi sumber pengetahuan umum masyarakat dan menjadi wajib sampai 1942. Dalam buku itu disebutkan Aceh masih merdeka. Di Bali, sebelum 1849, tercatat masih ada pemerintahan sendiri, yaitu Kerajaan Bone, Wajo dan Luwi. Di Kalimantan, sebelum 1854, masih ada kongsi-kongsi Cina yang punya republik sendiri. Masih ada pula di Sulawesi Tengah, yang bergabung dalam suatu perserikatan. Namun dalam edisi ke 6, cerita di Bali dan Sulteng hilang. Yang terjadi adalah generalisasi dalam buku pelajaran untuk mempersingkat kisah sejarah. Dari situlah, mengutip Foucault sedikit, Belanda sukses menguasai wacana untuk menjajah pemikiran.

Buku itu, menurut Stapel, merupakan sejarah Belanda di Indonesia atau “Belanda di seberang lautan”. Perspektifnya didominasi Belanda. Perspektif Indonesia mulai dibuka oleh para profesor di Sekolah Hukum Batavia dalam jurnal De Stuw (Stimulus). Namun bubar jalan pada masa Gubernur Jenderal de Jonge karena khawatir membahayakan masa depan para penulis & kontributor yang masih muda. Yang menarik, para ilmuwan sejarah Belanda tahun 1930-an tidak pernah membayangkan perubahan Hindia Belanda kolonial menjadi Indonesia merdeka. Wertheim & Resink kemudian mengaku malu dengan pandangan “yang tidak berpandangan jauh ke depan” tersebut. Resink sendiri mengira Hindia Belanda akan menunggu lebih lama untuk merdeka, sebab mitos masa kolonial dalam buku sejarah memang telah menimbulkan pesimisme masa depan.

Tapi kekritisan Resink ini sebenarnya bukan hal yang terbilang baru. Pemikiran Resink mengenai Hindia Belanda hanyalah satu dari tiga ikonoklasme—“penghancuran citra yang diagungkan”, penghancuran patung-patung suci—tentang Indonesia. Patung-patung suci, citra-citra yang diagungkan itu, adalah kekuatan raksasa yang pernah menguasai Nusantara: Majapahit, VOC, dan Hindia Belanda. Ikonoklasme meruntuhkan kegagahan citra-citra itu, menggantinya dengan kuil-kuil lain.

Mengenai Majapahit, misalnya. Armijn Pane membuat definisi Nusantara yang lebih besar daripada deskripsi Nusantara Vlekke. Armijn Pane mengisahkan sejarah masa lalu Sriwijaya yang menggapai Sri Lanka dan Dataran Tinggi Dekkan, serta pengaruh Majapahit yang mencapai Thailand dan Vietnam (sampai-sampai ada yang mengatakan, kalau Mohamad Yamin meramalkan masa depan, Armijn Pane melengkapi dengan masa lalu). Tapi Bosch, dalam Uit het stof van een beeldenstrom, jurnal Indonesie Desember 1956, memiliki pengetahuan dan pegangan berbeda. Bosch menganggap kekuasaan Majapahit bukan dalam hal politik, melainkan hanya seperti VOC, yaitu dalam “mendirikan kantor-kantor perdagangan” dan “menduduki pangkalan” demi kepentingan ekonomi atau perdagangan.

Dengan demikian kita akan tahu tiga patung suci tak selamanya mesti berdiri. Patung-patung itu telah digantikan tiga kuil baru: “kuil” Bosch yang menyederhanakan Majapahit Raya—yang dibayangkan megah itu—ke ukuran yang lebih kecil, “kuil” kecaman terhadap VOC yang membuat citra VOC tak kelihatan dominan, dan “kuil” Resink yang melepas bagian “plastis” dari pemerintahan Hindia Belanda.

Ikonoklasme telah menggoyah pegangan-pegangan lama. Dan kita, rakyat Indonesia, berterimakasih lah kita kepada Tuan Resink.
Profile Image for asih simanis.
209 reviews134 followers
April 21, 2023
Buku ini adalah buku yang selalu saya cari, yang ternyata telah ditulis 55 tahun silam.

"Bukan 350 tahun Dijajah" merupakan sebuah buku terjemahan dari karya G.J Resink, seorang sejarawan Hindia Belanda, yang berjudul "Indonesian History between the Myths: Essays in Legal History and Historical Theory". Buku aslinya diterbitkan oleh University of British Columbia di tahun 1968, sedangkan bentuk terjemahannya ini pertama kali terbit tahun 2012.

Buku ini merupakan kumpulan 14 Esai Ilmiah karya G.J Resink yang , secara keseluruhan mencoba meruntuhkan sebuah mitos yang telah mendarah daging di Indonesia, bahwa--Nusantara telah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun.

Penulis berusaha memutarbalikkan mitos ini melalui tiga pendekatan ilmiah yaitu: pendekatan hukum internasional, teori sejarah dan sejarah sastra. Melalui ketiga cara ini beliau memaparkan fakta demi fakta yang menggambarkan peta sejarah nusantara yang lebih berwarna dari bayangan kita sebelumnya. Ada begitu banyak wilayah yang merdeka, ada begitu banyak wilayah yang telah memiliki bentuk pemerintahan yang sangat maju, dan hubungan antara wilayah-wilayah tersebut dengan Hindia Belanda tidak selalu dalam konteks "yang dipertuan" dengan yang "dijajah". Justru di banyak kesempatan mereka memiliki hubungan yang sejajar. Adapun wilayah yang betul-betul berada di bawah kuasa Hindia Belanda sangat kecil, dan masa sistem penjajahan penuh diberlakukan jauh lebih pendek dari yang selama ini dilebih-lebihkan. Estimasi umur penjajahan di wilayah yang sangat kecil ini sekalipun hanya maksimum 40-50 tahun saja, jauh dari mitos 350 tahun yang terlanjur beredar.

Lalu mengapa penting untuk mendobrak mitos ini?

Karena ide bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun ironisnya justru Belanda-sentris untuk melanggengkan supremasi Belanda di Nusantara dan meniadakan kekuatan-kekuatan kerajaan Pribumi yang sebetulnya nyata adanya. Memutarbalikkan mitos ini akan membuat kita dapat melihat sejarah Nusantara dalam perspektif yang lebih menarik, lebih dalam, sambil pula menghargai kemajuan budaya kita sendiri yang selama ini telah tenggelam di bawah mitos penjajahan tadi.

Buku ini sangat penting, sebagai pembuka sebuah paradigma baru dalam melihat Indonesia.

Walau begitu, saya perlu memberi peringatan bagi siapapun yang memutuskan untuk membaca buku ini bahwa, buku ini ditulis dengan gaya bahasa ilmiah yang sedikit membosankan dan berputar-putar. Dan, diterjemahkan dengan kurang lihai oleh pihak penerbit. Sehingga, membaca buku ini menjadi tidak mudah. Walau begitu, jika anda bersabar untuk membaca halaman demi halaman, anda akan keluar dengan sepasang mata baru.

Bahwa, kita tidak pernah se-terbelakang yang sering disebut-sebut. Bahwa pekerjaan rumah kita untuk membaca ulang sejarah, dan menyusun narasi bangsa kita sendiri masih belum rampung, dan bahwa, jalan setapak yang susah payah G.J. Resink buatkan untuk kita belum juga kita lanjutkan.

Siapa kita, mau kemana kita?
Pertanyaan yang tak kunjung selesai dipertentangkan.

Catatan Kecil:
- Hal-hal paling menarik dalam buku ini adalah deskripsi penulis mengenai kerajaan-kerajaan di Timur Indonesia yang sangat maju dan humanis, jauh melebihi bayangan saya sendiri. Karena konteks sejarah Indonesia kerap sangat Jawa-sentris, saya juga menyarankan buku ini bagi mereka yang mempunyai rasa ingin tahu besar mengenai kerajaan-kerajaan di timur Indonesia
- Walaupun tulisan G.J Resink sendiri kerap membuat saya frustasi, saya sangat menyukai pengantar yang dibuat oleh A.B. Lapian untuk buku ini. Seandainya pembaca tidak sabar membaca keseluruhan buku, saya sarankan agar minimal membaca kata pengantar tersebut. Sebuah tulisan yang sangat bagus.
Profile Image for Kahfi.
140 reviews15 followers
August 26, 2016
Dari judulnya saja saya sudah kepalang tak sabar untuk melahap buku ini, dan begitu saya menyelesaikan nya hanya satu kata yang terpikir di benak. Benar.
Buku ini merupakan antitesis dari pemahaman banal yang sudah diwariskan beberapa generasi di Indonesia, mulai dari sistem pendidikan hingga diskusi bernas. Buku ini seolah memberikan perbandingan yang lebih logis agar kita tidak terjebak pemahaman kolonial yang sudah usang.
Memakai pendekatan hukum internasional dan pendekatan Indonesiasentris membuat kita mengerti bahwa Hindia Belanda tak seluruhnya milik Belanda, meskipun ditulis dengan bahasa yang sedikit rumit namun perlahan bisa dipahami.
Singkatnya, buku ini sangat penting untuk membangun sintesa kita terhadap sejarah kolonial.
6 reviews
September 21, 2020
the translation is so suck to the point i have to recheck about the terms because its so unfamiliar for me and the fact that this book has a LOT of typos makes me more sad than ever, and im just that sad because they didnt give the proofs [the pictures or sample from its bills or laws he mention still accepted] of all the events he said on this book [at least some of it still okay] but they choose to didnt do that so it add more lacks to this book. This book is so hard to understand for unexpert people esp me like me. like i just dont get it?? but still it opens my mind about Indonesia has never been colonised by Netherlands like all the history books taught us to.
Profile Image for Luz.
1,027 reviews13 followers
December 28, 2021
Dalam buku ini Resink memberikan bukti-bukti kuat yang menggambarkan betapa banyak kerajaan dan negeri di Indonesia yang belum pernah takluk dan di bawah cengkeraman tangan besi hukum kolonial Negara Hindia Belanda. Resink siap dengan segudang sumber, terutama detail fakta hukum yang membuat argumennya bukan saja fokus dan kukuh, tetapi punya validitas dalam memperlihatkan wilayah-wilayah Indonesia yang berdaulat selama kekuatan kolonial bercokol.

Hitungan Resink, paling-paling Hindia Belanda sebagai negara hanya ada selama 40 tahun, tetapi itu pun tidak benar-benar seluas wilayah Republik Indonesia hari ini, meskipun Belanda sudah benar-benar mengusahakan penaklukan selama 350 tahun.
Profile Image for Vioo.
121 reviews12 followers
March 19, 2023
hardly ever dnf a book but hufttt i cant hold this anymore. dont get me wrong, the content is immaculate. nevertheless, i didnt enjoy this book as much as i expected. i thought it would be a fun-nice-to-know-read. turns out the readability of this book (for a non expert) is so bad to the point i had to force my self to read.
Profile Image for Dian.
32 reviews
April 4, 2020
Kelengkapan pembahasannya bagus namun saya ada kesulitan untuk memahami gaya penulisannya. Terlalu kaku :(
Profile Image for yudi.
4 reviews
March 18, 2023
"It is imperative for foreign historians—who are sympathetic to the Indonesian people and harbor an ardent love for Indonesian history—to acknowledge that they cannot extricate themselves from the clutches of colonial historical writing so long as they continue to subscribe to truncated and sharpened historical perspectives. Failure to do so will only perpetuate the pervasive influence of colonialism on the historiographical discourse and limits the possibility of decolonizing the historical narrative.

The contention that the obliteration of impudent historical views concerning three and a half centuries of Dutch colonization may well signify a pivotal shift of historical writing—from colonial to national."


(concern voiced on October 1954, concern sustained on March 2023)
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,093 reviews17 followers
August 7, 2023
Meskipun ada beberapa bagian yang salah ketik dan gaya bahasanya yang cukup kaku, kumpulan esai yang disampaikan di buku ini menambah wawasan saya dalam memahami mitos penjajahan Belanda selama 350 tahun di Indonesia. G.J. Resink dengan panjang lebar menjelaskan bukti-bukti dan argumen yang berhubungan tentang kekuasaan Belanda di Indonesia yang ternyata masih cukup banyak daerah-daerah yang waktu itu diyakini sebagai kerajaan yang tidak menganggap Belanda sebagai atasan mereka, melainkan setara dan memiliki perjanjian kerja sama. Daerah tersebut salah satunya adalah Aceh. Lantas, jika kita memahami bahwa Indonesia dimulai dari Sabang sampai Merauke, jadi anggapan bahwa Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun adalah salah.
1 review
Want to read
November 12, 2020
Tantangan Indonesia kedepan dengan melihat sejarah dan kultur kesukuan adalah bagaimana menaklukkan hukum-hukum warisan Belanda atau pemikir-pemikir feodal menjadi hukum dan undang-undang yang berorientasi kerakyatan dan mensejahterakan seluruh rakyat yang ada pada bangsa Indonesia, walaupun dengan tingkatan yang berbeda tetapi mereka terbebas dari kelaparan, kebodohan, tidak mampu berobat, menjalankan keyakinan agama dengan tenang dan bebas, hidup di hari tua dengan tenang tanpa harus memikirkan mencari nafkah lagi.
Profile Image for Dian Pradikta.
42 reviews2 followers
February 4, 2023
Kaget". Dan aku nggak mau spoiler apa saja faktanya! Tapi cuma mau bilang kalau perlu beberapa kali baca untuk bisa memahami kata - katanya. But, semua terasa terkalahkan oleh penasaran.
Dan, bisa baca hingga akhir?! Butuh usaha yang besar juga. Akhirnya bahagia bisa menyelesaikan hingga halaman akhir.

.
Intinya buku ini bukan cuma membahas mengenai Hindia Belanda, masa kolonial, tapi juga beberapa tokoh yang bergerak untuk kemerdekaan.
95 reviews3 followers
July 18, 2021
350 tahun dijajah adalah retorika politisi untuk menanamkan rasa nasionalisme dan patriotisme dalam masa pergerakan dan perjuangan.

Faktanya Indonesia dahulu terdiri Hindia Belanda dan beberapa kerajaan yang otonom. Konsentrasi kekuasaan pemerintah Hindia Belanda hanya ada di beberapa tempat saja dan mengembangkan hubungan perjanjian dengan kerajaan otonom tersebut.
Profile Image for HF Jaladri.
56 reviews
January 31, 2018
Sangat membuka mata bahwa 350 tahun dijajah hanyalah mitos. Menjelaskan secara terperinci apa yang terjadi dan seharusnya dituliskan dalam buku-buku sejarah.
1 review
October 11, 2018
The greta book
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
Currently reading
May 19, 2022
membantu untuk mengerjakan tugas sejarah
This entire review has been hidden because of spoilers.
45 reviews
May 1, 2024
Dissecting the myth of three centuries of existence neerlandaise through a series of racist colonial government incompetence
Profile Image for Jon Budi Prayogo.
88 reviews
January 19, 2026
penjajahan belanda di seluruh Indonesia selama berabad-abad lamanya adalah sebuah generalisasi sejarah yg dibuat-buat. Belanda hanya menjajah selama 40 sampai 50 tahun di seluruh Indonesia.

istilah indonesia ditemukan pada tahun 1850 oleh dua sarjana inggris, Earl dan Logan. Namun negara Indonesia tidak pernah merayakan kelahiran seabad penemuan istilah "Indonesia".

banyak negara-negara kecil di flores dan sebagian sumba merdeka dari hindia belanda pada tahun 1909. begitu juga dengan kerajaan-kerajaan di bali pun yang merupakan "negara-negara kecil yang merdeka" pada tahun 1913. hal ini berarti ketika negara belanda tampil sebagai pemerintah kerajaan Nusantara Hindia, berbagai daerah masih sepenuhnya merdeka.

dijajah 350 tahun sebenarnya hanya ungkapan Gubernur Jenderal de Jonge melalui pernyataan-pernyataan nasionalisme dengan kalimat "kami orang belanda telah berada di sini selama tiga ratus tahun, kita harus tinggal disini selama tiga ratus tahun lagi..."

sebagian besar wilayah sumatra berada di luar daerah jajahan belanda. buku ini ditulis dengan bahasa yang kaku dan mungkin akan sulit dicerna, tapi utk mempermudah memahami isi dari buku bisa membaca pengantar dari Lapian terlebih dahulu dihalaman awal, beliau meringkas sebagian isi dari bukunya. direkomendasikan untuk para pecinta sejarah, memahami sejarah Indonesia.
Displaying 1 - 26 of 26 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.