Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perjalanan ke Atap Dunia

Rate this book
…ditulis dengan teknik menulis fiksi, sehingga pembaca tidak seperti sedang membaca sebuah brosur perjalanan. Betapa asyik menjadi traveler sembari menulis. Travel Writer! Perjalanan itu ibarat sebuah cara untuk menemukan jati diri.


Gol A Gong, Penulis, Pendiri Rumah Dunia.

***

“Apa yang kamu cari, Daniel?”

Tiba-tiba aku tercekat dengan pertanyaannya. Belum pernah ada orang yang bertanya seperti itu selama perjalananku. Apa yang aku cari? Gila! Aku tidak bisa menjawab pertanyaan sesederhana itu.

Apa yang aku cari? Aku menyeruput teh hangatku yang masih mengepul. Ia tersenyum menangkap kegugupanku.

“Masa muda, Daniel. Masa muda. Memang seharusnya begitu. Pergilah ke mana pun kakimu melangkah. Itu akan menempamu. Memperkaya pengalaman batinmu.” Ia menyedot lagi rokoknya. “Tetapi pada saatnya tiba,” ia melanjutkan, “jadilah laki-laki yang merasa cukup dengan keluarga di rumah.”

* * *

Sedari kecil kita memiliki begitu banyak mimpi dan keinginan. Namun, sejalan dengan bertambahnya usia dan tercebur dalam kenyataan hidup, satu demi satu kita mulai memaafkan diri kita untuk tak harus meraih semua mimpi yang pernah kita miliki. Padahal semua itu bisa kalau kita mau.

Sebuah catatan perjalanan menyusuri Cina, Tibet, Nepal, hingga Everest Base Camp. Ditulis dengan pendekatan personal, tentang bagaimana memiliki impian dan berani mewujudkannya.

356 pages, Paperback

First published April 14, 2012

31 people are currently reading
301 people want to read

About the author

Daniel Mahendra

25 books24 followers
Daniel Mahendra–renowned as DM – is an Indonesian author.

His works are including short stories, novels, poems, essays, journalistic works, biographies, self-improvements, how-tos, travel narratives, movie scripts as well. About 30 of his works had been published.

DM was working as a journalist for several tabloids, newspapers, and magazines before he decided to join with some publishers as an editor. Among his editing are Pramoedya Ananta Toer’s works.

DM was a founder of Pramoedya Institute, Malka Publisher, and Malka Bookstore.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
45 (37%)
4 stars
52 (43%)
3 stars
12 (10%)
2 stars
7 (5%)
1 star
3 (2%)
Displaying 1 - 26 of 26 reviews
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
April 15, 2012
Perjalanan adalah Keberanian Bermimpi

"Kang, kita mau jalan-jalan ke Curug Malela tanggal 23 April, ikutan yuk!"
"Wah... Kok tanggal segitu. Tanggal segitu aku masih di Tibet/Nepal. "
"Sampai Nepal? Sekarang masih di Bangkok? Napak tilas jejak si Roy?? *iri* "
"Belum. Sekarang udah di Chengdu (China).
Nanti malam baru mau naik kereta ke Lhasa (Tibet)."
"Wah, jalan-jalan melulu nih... Seru banget...
Nanti dinapaktilasin ah perjalanannya.. "

Waw! Tibet? Nepal? Yang di kaki Everest?

***
Itu percakapan terakhirku dengan Daniel, ketika ia dalam perjalanan. Beberapa bulan kemudian aku tak mendengar kabarnya lagi. Di mana berada dan kapan ia pulang, aku tak tahu. Hanya status twitter-nya yang terbaca Om Mani Padme Hum tak berubah dari waktu ke waktu.

Sampai pada suatu hari tak sengaja aku membuka situs blog miliknya, yang menampilkan Journey to the Rooftop of the World, berupa catatan-catatan perjalanannya ke Tibet, yang sudah sampai episode belasan kalau nggak salah. Deuh, kemana aja aku? Kok nggak baca dari awal?

Lalu kujejaki tulisannya dari awal. Sejak ia menceritakan mimpinya untuk mengunjungi Tibet. Sebuah catatan perjalanan yang dilakukan sendiri, tentang perjalanan mengenali diri sendiri. Menggapai mimpi masa kecilnya, yang memanggil-manggil. Yang ia coba abaikan sebagai salah satu pemaafan akan impian yang dikiranya tak akan terwujud. Namun ternyata semesta mengamini. Mimpi itu dipanggil dari angannya. Perjalanan menggapai mimpi yang kemudian dirawi menjadi sebuah catatan panjang yang ada di tanganku untuk dibaca.

***
Pada suatu hari, muncul pertanyaan seperti ini :
Kamu tahu bedanya mimpi dan khayalan?
Mimpi didapat saat tidur, dan khayalan dipikirkan saat bangun, pikirku. Ketika kita bermimpi, kita tidak sadar apa yang kita mimpikan, ketika berkhayal kita tahu apa yang kita inginkan, kita khayalkan, walau kadang tak tahu bagaimana cara memenuhi khayalan itu.

Lalu perjalanan macam apa yang dilakukan petualang ini? Ketika ia membaca Tintin in Tibet, ia berkhayal untuk dapat mengunjungi tempat itu. Kuil, salju, dan petualangan menyusuri pegunungan di dataran tertinggi dunia, menghantui pikirannya. Dijadikannya khayalan itu sebagai bagian dari mimpinya, yang terkadang muncul lewat alam bawah sadarnya. Sampai lewat masa remajanya yang dihabiskan di antara gunung dan api unggun, mungkin harapan itu masih tertanam baik-baik dalam kepalanya.

Kamu tahu? Mimpi adalah harapan yang tertunda. Akan terus bersemayam dalam kepala, andaikata kau tidak berani melangkah mewujudkannya. Siapa sangka, membutuhkan waktu dua puluh lima tahun untuk memantapkan sebuah khayalan yang berubah menjadi mimpi, ketika sebuah tangan yang tiba-tiba menarik mimpi ke masa kecil, untuk kemudian dilontarkan sampai tujuan. Dan ia bangun untuk menyongsongnya.

When you want something all the universe conspires in helping you to achieve it. (The Alchemist-Paulo Coelho)

Dan bergulirlah perjalanan petualang ini menuju negeri impiannya. Dengan berbagai kebetulan-kebetulan keberuntungan yang menaunginya, sahabat-sahabat yang diandalkan, ia melangkahkan kaki ke negeri awan itu. Si petualang ini bercerita pengalamannya menginap di bandara, lalu naik kereta dari Chengdu ke Lhasa, bercerita apa yang ditangkap mata, apa yang dibaui hidungnya, siapa yang ditemui, bahasa yang tak ia pahami, bahkan teman merokok dengan bahasa yang berbeda. Ya, karena kereta adalah kendaraan favoritnya, maka tak salah jika ia mengupas banyak hal dalam perjalanan kereta selama dua hari dua malam itu. Ke dataran tinggi naik kereta, kenapa tidak?

Di Tintin in Tibet diceritakan tentang Tintin yang mencari sahabatnya Chang, yang hilang di pegunungan kawasan Tibet. Dalam perjalanan ini, apa yang dicari oleh petualang ini ?

Mungkin seandainya ia memang tidak mencari sesuatu, namun banyak yang ia temui. Ia banyak bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai negara. Teman-teman yang (irinya) sudah mengunjungi negeri kita yang indah. Teman-teman dengan berbagai tindak tanduk, dari sesama backpacker seperti dirinya, sampai yang selalu bertambah volume bawaannya. Kata orang sih, teman yang terdekat adalah teman yang ada di saat kita sama-sama susah. Mungkin karena dinikmati dengan gembira, perjalanan ini tidak dirasa susah. Jadi tetap dekatkah pertemanan yang tercipta dalam perjalanan ini?

Kamu ajak kami mengelilingi negeri impianmu itu. Kuil-kuil indah dengan para biksu yang beribadah di dalamnya. Sebuah kegiatan keagaamaan yang dikomersilkan sebagai situs wisata. Hatimu terusik. Kamu putuskan menjelajah kota sendiri. Dan di situ kau lihat kehidupan sehari-hari. Menyeberang jalan dalam pengawasan tentara. Sholat di masjid yang kamu yakini tertinggi di dunia. Bercakap dengan orang sekitar.

Aku ngeloyor pergi melihat-lihat jalanan, kota, kampung, masyarakat setempat, atau pedagang di sepanjang jalan. Bagiku melebur langsung pada kehidupan setempat jauh lebih mengasyikkan dan lebih memberikan arti. Karena bersentuhan langsung dengan nadi kehidupan sebuah tempat justru memberikan gambaran tentang wajah tempat itu sendiri. (Monastery, h.163)

Perjalanan, selalu memberikan kebahagiaan untuk yang menikmatinya. Sehingga deru angin, jalan buruk, terpaan hujan, hanya dirasakan sebagai pengalaman. Karena memang tergantung apa yang mau diraih, apakah proses perjalanannya, atau tujuan perjalanannya. Apabila yang penting adalah tujuannya, maka segala cara tercepat, terefektif, harus dilakukan. Apa pun untuk mencapai tujuannya itu. Apabila yang penting prosesnya, maka dicari jalan supaya dalam proses perjalanannya yang lebih panjang itu bisa bermakna. Proses ini tidak selalu mudah, namun terkadang juga kesulitan bisa lewat tanpa berarti. Apalagi perjalanan yang diawali dari mimpi. Dari sesuatu yang hanya dari angan-angan belaka, dan diwujudkan. Bukan hanya tujuannya, namun prosesnya pun juga harus bisa dinikmati.

Mimpi itu masih panjang rupanya. Mungkin masih ada mimpi-mimpinya yang belum terwujud. Masih ada cahaya matahari, desau angin, dan mungkin gadis manis yang menunggu. Juga orang-orang yang menanti kisahmu. Cerita-ceritamu membangkitkan mimpi-mimpi lama yang sempat mengeram di kepalaku. Perlahan aku mulai menata apa yang sebenarnya aku inginkan, dan apa yang bisa aku lepaskan. Mimpi itu kini seperti menanti-nanti untuk terwujud. Mimpi untuk melakukan hal-hal yang selama ini cuma ada dalam pikiran.

Namun satu hal pasti yang dapat kutarik kesimpulan dari semua ini, paling tidak untuk diriku sendiri, adalah: beranilah bermimpi! Beranilah memiliki keinginan! Walau pikiran sadar kita menafikan kemungkinan-kemungkinan itu, tetap beranilah menetapkan tujuan. Karena nyatanya, ketika kita berani memutuskan untuk menggapai mimpi kita, alam bawah sadar kita justru bekerja membantu kemungkinan-kemungkinan mimpi tersebut menjadi kenyataan. Dengan dan lewat cara yang tak pernah kita duga sebelumnya. (Pulang, h.341)

Petualang, apa yang membuatmu pergi? Apa benar kamu hanya mengejar mimpi? Mungkinkah kau pergi hanya untuk merasakan bagaimana rindu pulang?

Bandung, 14 April 2012. 23:32
Indri Juwono.
Pembaca buku. Pengamat jalan. Arsitek.
Profile Image for Aveline Agrippina.
Author 3 books69 followers
April 17, 2012
Hai Om Daniel,

Entah mengapa baru kusadari aku memanggilmu dengan sebutan 'om' setelah beberapa kawanku bertanya,"kok lo manggilnya 'om'?" Kujawab saja pertanyaan itu dengan seloroh asal,"lupa ceritanya" untuk menghindari jawaban yang harus kubuat-buat. Sesungguhnya memang aku tidak tahu jawabannya. Tapi, izinkanlah aku memanggilmu dengan sebutan itu.

Akhirnya, setelah sekian lama ditunggu, Perjalanan ke Atap Dunia ini pun terbit. Kuhabiskan dalam waktu tiga hari di mana saja. Di kamar, di kampus, di kedai kopi, sampai di tempatmu meresmikan kelahiran anakmu ini. Lantas, ketika aku menutup buku ini di sebuah kedai kopi, aku tetiba teringat dengan pernah kulakukan dan ingin kulakukan.

Menjelang akhir tahun 2009, selepas turun dari Gunung Bundar, aku dan beberapa kawan seperjalanan lain langsung disambut hujan lebat. Memang benar, Desember begitu kelabu dan sendu sendiri. Alhasil pakaian kami basah kuyup ditangisi oleh langit. Tetapi aku tidak pernah bisa memungkiri rasa gembira yang selalu ada di dalam hatiku ketika bisa naik pula bisa kembali turun dari gunung. Di bawah kaki gunung tersebut, basecamp kami berada. Lekaslah aku dan kawan seperjalananku memasuki tenda.

"Gunung Bundar sudah! What's next?" tanya seorang kawanku.
"Gunung Semeru! Cartenz Pyramid! Atau kita langsung berangkat ke Everest?" jawabku asal.
"Hueh! Ongkosin sih boleh."
"Kalau ke Cartenz, gue gak mau pulang," ujarku sembari tertawa.

Beberapa kawanku tahu apa yang selalu kucita-citakan. Aku ingin ke Papua. Ingin kudaki seluruh puncak yang ada di Pegunungan Jaya. Ingin kudaki Puncak Sudirman, Puncak Sukarno, Puncak Cartenz Pyramid.

Siapa nyana, sampai kini, Gunung Bundar itulah pendakian terakhirku. Kesibukan yang melanda di daratan lebih mendominasi. Bahkan di waktu liburku, aku harus mengerjakan apa yang tertunda. Tak ada lagi waktu yang cukup bagiku untuk mendaki gunung. Kerinduan itu selalu menggebu ketika aku melihat foto-foto pendakian atau tetiba teringat dengan deru tronton atau bertemu dengan backpack-ku yang selalu menanti di rumah untuk kuajak berkelana.

Tapi percayalah, mimpiku untuk menginjakkan kaki ke Cartenz masih begitu liar. Buas! Aku masih ingin ke sana. Kalau perlu menghabiskan sisa hidup di sana pun, bukanlah masalah besar bagiku. Sebuah kebahagiaan adalah ketika apa yang kita inginkan tercapai.

Om Daniel,

Perjalanan ke Tibet tentu pernah pula menjadi impianku dan sampai kini masih menjadi harapanku. Suatu ketika, aku pun akan menginjakkan kakiku ke sana. Meninggalkan bekas sepatuku di setiap jalannya. Mungkin pula ketika aku pulang, aku sudah membawa setumpuk rekaman perjalananku untuk didokumentasikan dalam bentuk apa. Bisa sama sepertimu, bisa juga tidak.

Petualangan adalah candu, begitu kata Bubin Lantang. Sesungguhnya aku sangat bahagia menjadi insan muda yang pernah berkeliling Pulau Jawa sampai Bali. Aku pernah merasakan bagaimana duduk di kursi pesawat, menghabiskan malam di dalam bus, merasakan getar gerbong kereta yang membawaku, digoncang ombak ketika menaiki perahu. Aveline muda pernah merasakan itu.

Maka, dari banyaknya orang yang pernah menginjakkan kakinya di Tibet, mereka semua pun tentu pasti pernah bermimpi suatu ketika akan berada di Potala, hinggap di kaki Gunung Everest, atau pula akan mendaratkan dirinya sampai ke puncak yang akan membuatnya menjadi manusia tertinggi di dunia. Kau pernah memimpikannya bukan? Aku pun demikian. Mungkin, di luar sana akan ada seribu atau sejuta atau lebih umat manusia yang menginginkannya mendaratkan di Tibet. Kau adalah salah satu yang beruntung.

Perjalanan dimulai ketika mendarat di Thailand, kemudian sampai ke Chengdu, dan pada akhirnya Rooftop of The World. Mengelilingi Nepal sebagai bonusnya dan bertemu dengan teman-teman seperjalanan tanpa pernah diduga.

Ah, aku pernah merasakannya seperti itu meski di tempat yang berbeda, Om. Bertemu dengan orang-orang yang tak pernah kuduga, apa yang akan terjadi di perjalanan, sampai kepada kehabisan uang di tengah jalan. Ha! Kehidupan sesungguhnya memang ada ketika kita berani keluar dari rumah dan mengeksplorasi diri kita seluas-luasnya.

Om Daniel,

Perjalanan adalah sebuah skenario film yang bisa berubah kapan saja tanpa pernah kita kehendaki. Tapi di sanalah letak serunya untuk menjalani hidup seluas-luasnya. Akanlah sangat memalukan bila aku hanya pandai secara intelektual semata, tetapi kepekaanku terhadap dunia sekitar sungguh mati. Perjalanan adalah sekolah yang paling dekat kepada kenyataan hidup. Di sana, kita diajarkan menjadi manusia sejati. Manusia yang tidak manja, manusia yang tidak cengeng, dan manusia yang bisa tersentuh dengan panasnya aspal, dinginnya malam, atau penuh tamparan debu di sepanjang perjalanan.

Ketika keinginan telah tercapai dan kita telah berada di sana, semua menjadi selesai dan berhenti seketika. Terkadang proses untuk mencapai sesuatu acap kali jauh lebih bermakna ketimbang tujuan itu sendiri. - hal 114

Setiap orang harus berani bermimpi karena mimpi itulah yang akan membawanya kepada hari-hari yang lebih diharapkan pada masa lalu. Aku selalu berani untuk tetap bermimpi dan selalu berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpiku dengan berbagai macam caranya tersebut. Benar apa yang dikatakan oleh kakekku, orang-orang muda harus berani bermimpi dan berani juga untuk merealisasikannya. Modal kehidupan nomor wahid adalah bermimpi sebagai tujuan ke mana kelak kita akan melangkah ke depannya.

Om Daniel,

Jangan pernah berhenti bermimpi. Jangan pernah berhenti berbagi. Jangan pernah merasa lelah untuk tetap mengejawantahkan segala mimpi-mimpimu. Dari sanalah, kehidupan selalu bermuara dengan caranya yang dahsyat dan tidak pernah terduga.



Jabat erat selalu,


Bandung, 17 April 2012 | 20.59
A.A. - dalam sebuah inisial




PS: Kalau bukunya cetak ulang, mau ah melamar jadi penyelaras aksaranya. :p
Profile Image for lita.
440 reviews66 followers
March 8, 2013
Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengomentari buku ini. Faktor kedekatan dengan proses penulisan buku ini sempat membuat saya enggan untuk melakukannya. Bagaimana tidak, di sekitar pertengahan April 2011 DM mengontak saya untuk mengabarkan kalau dia sedang dalam perjalanan menuju Tibet. Surel ini pun kemudian menjadi korespondensi rutin yang sebagian isinya, tanpa pernah saya sangka, tertuang dalam buku ini.

Kedekatan itu tentu saja menimbulkan subyektifitas. Saya jadi merasa nyaman saat membacanya, mengikuti alur ceritanya. Saya merasa ikut dalam perjalanan DM; terburu-buru mengejar bis menuju bandara, kesepian saat bermalam di bandara di Bangkok, atau pun gemas setelah tahu bahwa di kereta menuju Lhasa disediakan keran air panas untuk menyeduh mie. Saya pun ikut terharu membaca adegan saat DM menjejakkan kakinya di Tibet. Sebuah impian yang lama terpendam dan akhirnya tercapai selalu mengundang haru.

Namun faktor kedekatan juga menimbulkan harapan akan hadirnya sebuah karya yang sempurna, dan itu membuat saya gatal untuk mengomentari beberapa hal dalam buku ini. Pertama, beberapa pengulangan kalimat yang membuat saya merasa bosan. Kedua, kesalahan-kesalahan kecil tapi terasa sangat mengganggu. Misalnya, kening saya langsung berkerut begitu membuka bab pertama, karena all ditulis al. Kemudian kalimat yang memuat "Gunung Himalaya" (hal.44). Duh, Himalaya itu nama pegunungan kan? Kesalahan lain adalah beberapa kali Italia ditulis menjadi Itali, dan Jeanne ditulis menjadi Jean. Padahal, di Prancis (nama yang saya sebutkan ini adalah untuk tokoh perempuan asal Prancis), Jean adalah untuk laki-laki dan Jeanne untuk perempuan.

Di luar kelebihan dan kekurangan itu, saya ingin berterima kasih pada DM. Terima kasih atas diskusi-diskusi yang menarik selama proses penulisan buku ini berlangsung, terima kasih atas kesempatan sebagai pembaca pertama buku ini, termasuk pembaca pertama untuk kata pengantarnya. Terima kasih atas kesempatan untuk memilihkan gambar untuk cover dan judul buku ini. Terima kasih atas janji yang ditepati: mengalungkan mafela khas Tibet, seperti yang tertulis di akhir buku ini. Dan terakhir, terima kasih karena telah menjadikan saya sebagai bagian dari impian DM, dan menjadikan saya sebagai bagian dari hidupnya. (lits)

======

I read the not-yet-edited version of this book. Cannot say much, but I like following Daniel's path :)
Profile Image for Icha Planifolia.
1 review3 followers
April 26, 2012
Perjalanan : Menempa dan Memperkaya Pengalaman Batin

Judul Buku : Perjalanan Ke Atap Dunia
Penulis : Daniel Mahendra
Penerbit : Medium
Tahun Terbit : Mei 2012 (Cetakan 1)
Tebal Buku : 356 hal.

Konon buku ini dipersembahkan “Untuk orang-orang yang berani memperjuangkan mimpi masa kecilnya.” (pada halaman persembahan). Kalimat tersebut kiranya adalah kalimat persembahan yang cukup “menyengat” bagi sesiapa yang masih menggantungkan impian di langit-langit kamar dan hanya memandanginya menjelang tidur. :)

Setiap kita mungkin pernah bermimpi. Seperti halnya Daniel Mahendra bermimpi. Nyatanya buku ini ada (baca : terbit) berawal dari sebuah mimpi masa kecil, diilhami oleh Komik Tintin di Tibet. Siapa sangka kalimat “Aku ingin ke Tibet.” itu tersimpan apik dalam memori otak bawah sadar seorang Daniel Mahendra. Dalam buku ini kita akan menjumpai kenyataan bahwa kebanyakan kita –begitu juga awalnya Daniel Mahendra- hanya bermimpi tanpa sungguh-sungguh “memutuskan” dan “mewujudkan”.

Buku ini pun menyajikan sebuah realita : akan banyak tantangan dalam proses perwujudan impian. Begitulah yang dialami Daniel Mahendra. Semua tantangan sebelum keberangkatan, ketika sedang dalam perjalanan, hingga kembali pulang dijalin apik oleh penulis. Ditulis dengan bahasa yang mengalir, ringan, hingga menyelesaikan membacanya sampai halaman terakhir menjadi –seolah- hanya sekejap mata.

Kiranya penulis pun mampu mendeskripsikan setiap kejadian yang dialaminya dengan apik. Toh, meskipun saya belum pernah menjejakkan kaki di tempat-tempat yang disebutkan dalam buku ini, tapi imajinasi saya sudah terlebih dahulu menemui Daniel Mahendra tertidur di bangku bandara Bangkok, membersamainya mengelilingi bandara Bangkok –yang konon luas itu-, bertolak ke Chengdu, menempuh perjalanan berhari-hari dalam kereta menuju Lhasa, dan seterusnya. Seolah sungguh berada disana dalam tiap liku cerita.
Begitu pun ketika penulis merasa gulana ketika menginjakkan kaki di Istana Potala yang kini dieksploitasi untuk turis, di sudut kamar saya turut gulana. Atau saat ketakjuban melihat gugusan Himalaya yang dibalur salju, kiranya ketakjuban itu pun melingkupi saya. Dikali lain melaksanakan sholat maghrib di kota Lhasa adalah pengalaman langka, pun saat harus merasa dirongrong maut tersebab mengalami Acute Mountain Sickness saat di Everest Basecamp…begitu detil dan mengalir panulis bercerita, hingga saya sungguh-sungguh menikmati “trip” ini.

Kisah manis pun membumbui buku ini. Menggambarkan keindahan Danau Phewa bersama pesona Jeanette si gadis Prancis. Juga mengisahkan persahabatan asyik dengan dua pemuda Malaysia, Tan dan Chen. Atau betapa Juan yang Amerika memiliki banyak cinta bagi sesama. Semua terjalin sangat manis dalam buku ini.

Sedikit saja yang saya sesalkan, secara pribadi saya memiliki ekspektasi lebih pada adegan penulis bertemu dengan seorang pemuda Nepal yang nyatanya bisa berbahasa Jawa. Saya kira jika diceritakan lebih dramatis tentu perut ini akan sempurna dipelintir tawa, yang akan membuat semakin “manis” rasa buku ini. Sekali lagi ini ekspektasi pribadi saya.

Bagi para pejalan (baca : traveler) kiranya ada baiknya membaca buku ini sebelum memulai perjalanan. Memampukan diri kita menjawab pertanyaan yang diajukan lelaki penjual kopi di Kota Pokhara :
“Apa yang kamu cari, Daniel?”
“Masa muda, Daniel. Masa muda. Memang seharusnya begitu. Pergilah ke mana pun kakimu melangkah. Itu akan menempamu. Memperkaya pengalaman batinmu.”
Nyatanya buku ini menyajikan filosofi dari sebuah perjalanan. Untuk mendapatkan filosofi itu dan menyimpannya rapat-rapat dalam ingatan tentulah mesti membaca buku ini secara keseluruhan. Jadi, ayo segera baca!

Terlebih bagi anda yang mencintai debu jalan, buku ini kiranya dapat memperteguh keberanian anda untuk menggenggam impian, menyambangi tempat-tempat –yang mungkin- selama ini hanya dibiarkan menghuni ruang ingatan. Bagi yang bermimpi untuk menjadi pejalan (baca : traveler) dan tak pernah mewujudkannya (entah dengan alasan apa), kiranya buku ini dapat memuaskan dahaga anda yang selalu rindu dengan baluran debu jalan. Dan bagi anda yang akan atau sedang melakukan perjalanan, kiranya buku ini akan menjadi teman yang sangat mengasyikan, membersamai anda dalam perjalanan yang sarat pegalaman batin.

Sesungguhnya ini tidak cukup, namun saya harap yang sedikit ini cukup mewakili. Selamat menikmati Perjalanan ke Atap Dunia : Tibet, Nepal, dan Cina dalam Potret Jurnalisme. Happy reading! :)

Kamar Sunyi, 26 April 2012
~Icha Planifolia~
Profile Image for Felly.
235 reviews
April 24, 2012
Mungkin ada ngomong ini spoiler atau apeu? Ini cuma sepenggal catatan pinggir dan pertanyaan waktu baca Perjalanan ke Atap Dunia | Daniel Mahendra

Hal 22: Hai, apa kabarmu, Ta? – siapa Ta ini? Tapi akhirnya tahu juga (kayaknya) lewat Twitter @penganyam kata

Hal. 32: Fokus dalam mewujudkan impian itu sangat diperlukan. Bekerja tanpa tujuan atau impian itu tidaklah cukup

Hal 90: Perjalanan adalah pelajaran mengenal diri sendiri

Hal 114 & 159: Ketika perjalanan telah tercapai dan kita telah berada di sana, semua menjadi selesai dan berhenti seketika. Terkadang proses untuk mencapai sesuatu acap kali jauh lebih bermakna ketimbang tujuan itu sendiri

Hal 146: Perjalanan adalah kelahiran kembali dalam bentuk yang paling sederhana

Hal 153: Kebahagiaan adalah keputusan dalam pikiran.

Hal 177: Kalau lebih banyak gambar lagi mungkin akan lebih menarik dan posisinya ngga hanya di tengah saja

Hal 223: Tidak ada orang yang memanjat gunung dengan alasan scientific. Imu hanya digunakan untuk menggalang dana untuk ekspedisi, tapi kita tetap mendaki gunung pada akhirnya .. teringat All elevations Unknown: An Adventure in the Heart of Borneo by Sam Lightner, JR.

Hal 300: Bekerjalah! Karena itu pertanda gairah hidup

Hal 306: Tentang sekolah --> dengan belajar kita (mungkin) dapat menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang belum terjawab (yang mungkin dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru yang lebih rumit lagi)

Hal 319: “Kalau kamu sudah berkeluarga, kamu akan berpikir dua tiga kali untuk traveling seperti ini. ... Maka jadilah laki-laki yang cukup dengan keluarga di rumah.” (kalau cewek gimana nih? Kayaknya tergantung masing-masing persepsi)

Hal 324: Hukum Traveler --> ”Kita bertemu, berpisah, dan bertemu lagi dengan teman perjalanan di bumi bagian mana pun. ... Jangan pernah berbohong atau berbuat curang. Karena nanti bisa jadi kita akan bertemu lagi. Entah di bumi bagian mana”

Hal 338: Pesan moral --> Jangan biarkan pikiran nakal dan usil bersama kita di kala perjalanan. Apa yang kita pikirkan sangat mungkin terjadi dimanapun Anda berpijak dan ini tidak hanya berlaku di Mekah atau Vatikan saja.

Hal 340: Bagian terpenting dalam catatan perjalanan ini.
- Perjalanan dapat mengubah cara pandang dan pikir kita
- Perjalanan membuat kita lebih berani dalam menetapkan tujuan
- Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini bila kita betul-betul memperjuangkannya
- Perjalanan adalah perjalanan batin dan pelajaran untuk berani bermimpi



Profile Image for Evi Yuniati.
38 reviews18 followers
May 19, 2012
Tahu tentang buku ini waktu hadir di talkshow bukunya mas Gong, TEWE (Traveler Writer) di Istora Senayan beberapa waktu lalu.

Waktu itu aku ga ngeh kalo penulis buku ini hadir. Waktu mas Gong menyebut nama Daniel Mahendra, barulah ku teliti yang mana orangnya. Akhirnya aku bertatap muka juga dengan penulis Epitaph, buku yang begitu membekas di ingatanku.

Setelah beberapa bulan sejak itu akhirnya buku Perjalanan Ke Atap Dunia launching juga. Saat buku ini ada di genggaman, rasa tak sabar mengikuti perjalanan mas DM (begitu aku menyapanya) akhirnya ku mulai.

Lembar demi lembar ku lewati dan rasanya tak ingin berhenti untuk sekedar menemui kisah baru di kota yang baru. Iri? Ya, timbul rasa iri demi membaca kisah perjalanan mas DM ini. Seru, asik, banyak pengalaman yang terjadi selama perjalanan. Punya teman-teman baru, mengenal budaya dan kebiasaan di negara yang berbeda. Sungguh membuatku iri :)

Ada kalimat menarik sebagai pembuka chapter di halaman 169 dari seorang Mark Twain "Twenty years from now, you will be more dissapointed by the things that you didn't do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbour. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover." Yah... Benar sekali kata-kata itu. Jangan sampai menyesal tanpa pernah meraih apa yang kita impikan. Harus berjuang untuk bisa merengkuhnya.

Jadi ingat akan mimpiku untuk bisa ke Belanda. Memang bukan mimpi sedari kecil seperti mas DM yang memimpikan Tibet sejak membaca buku Tin Tin, tapi jujur sampai saat ini aku masih takut-takut untuk bisa mewujudkan mimpi ke Belanda karena banyak sekali rintangan yang harus ku halau.

Mudah-mudahan buku perjalanan mas DM ini bisa selalu menjadi pengingat bagiku, bahwa tidak ada mimpi yang tak mungkin terjadi kalau tidak diniatkan. Lewat perjalanan juga bisa membawa satu perubahan dalam hidup. Pasti ada pengalaman yang berpengaruh seperti yang terjadi dengan mas DM.

Gaya penuturan mas DM mengalir runut seperti bercerita lisan. Pokoknya menarik, excelent :)

Terima kasih mas DM yang sudah berbagi kisah perjalanannya, lumayan bisa jalan-jalan super irit ke Cina, Tibet, Nepal dan negara-negara kecil yang disinggahi. Ikut merasakan menggigil, mual selama perjalanan. That's why I like reading traveling book, I can be at the same place, same moment with the traveler :)

Namaste...
Profile Image for Luthfi.
2 reviews1 follower
April 14, 2012
hari ini saya mengikuti launching buku ini di cafe daerah dagi giri... belum saya baca semua namun ketika saya membaca prolog dan beberapa halaman saya dapat menikmati buku ini karna gaya bahasa dan sudut pandang yg mudah di fahami namun tetap terasa kuat alurnya.. buku TRAVEL WRITING ini di kemas dan dalam pencritaan yg berbeda dengan buku berjenis 'how to'..
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books63 followers
October 1, 2020
Perjalanan ke Atap Dunia by Daniel Mahendra (2012) [29-30]

*celotehanku terhadap buku ini hanya mengandung sekitar 30% cerita saja

Saat membagikan pengalaman berkerta di India melalui IGS di instagram, Mbak @nmlense kasih info tentang buku ini. Saat melihat foto yang aku bagikan, Mbak Novie teringat kisah Daniel Mahendra saat melakukan perjalanan menggunakan sleeper train menuju Tibet.

Wah, langsung penasaran, yekan. Dan, mungkin "jodoh", saat cek di marketplace, nemulah buku ini. Bekas sih, dan untungnya saat bukunya tiba di Palembang ternyata kondisinya masih sangat baik.

Dari sampulnya udah ketahuan kalau Mas Gol A Gong yang kasih kata sambutannya. "Semua lelaki pasti memiliki mimpi besar dalam hidupnya. Lelaki pemberani memang harus memulainya dengan menjadi seorang pemimpi." lalu di bagian lain Mas Gong menuliskan, "seorang lelaki perjalan yang selalu menuliskan perjalanannya tentu memiliki kepekaan terhadap sekelilingnya."

Ntaps! kata pengantarnya aja udah sebagus ini. Jadi gak sabar terus baca, kan!

Sesuai sub judulnya, buku ini bercerita tentang pengalaman Daniel Mahendra menuju tanah impiannya: Tibet. Apa pasal? ya, sebagaimana para-pemburu-Tibet lainnya, ialah komik Tintin yang jadi pemicu awal (ditambah kemudian film Seven Years in Tibet).

Yang kemudian menarik ialah saat saya mengetahui bahwa Mas Daniel ini ya sama kayak orang kebanyakan. Jika mau melakukan perjalanan, ya harus menabung dulu. Beliau tak berasal dari golongan tajir-melintir yang nggak pernah gelisah melihat angka di balik harga sebuah perjalanan.

Nah, drama-drama seputar persiapan perjalanan ini mendapatkan porsi cukup banyak di awal. Dan, terus terang, saat membacanya, saya nampak berkaca! 🙂 Di mulai dari berburu tiket murah, mempersiapkan peralatan, termasuk kemudian menjadi bimbang harus meneruskan perjalanan atau tidak.

"Betapa pentingnya sebuah tindakan. Ketika kita mulai memutuskan sesuatu, tiba-tiba isi kepala kita bekerja dengan sendirinya: bagaimana untuk mencapai sesuatu tersebut."

Benar, itu yang kemudian terjadi di perjalanan itu. Dari yang tadinya perjalanan akan dilakukan bersama kawan, namun akhirnya dilakukan seorang diri pun menjadi sebuah "jalan" demi mencapai impian tersebut.

Saya sangat menikmati tiap-tiap bagian perjalanan yang dilakukan. Termasuk hal "remeh-temeh" proses menuju bandara dari rumah. Penulis dapat menceritakannya dengan menarik.

Pertemuan-pertemuan di perjalanan juga mendapat porsi besar. Hubungan Daniel dan guide selama di Tibet, lalu pria muda asal Amerika yang jadi roommate hingga para travelmate yang berasal dari beberapa negara.

"Alangkah betul kata-kata Paulo Coelho dalam The Pilgrimage: ketika kau melakukan perjalanan, kau akan merasakan suatu kelahiran kembali dalam bentuk paling sederhana. Kau berhadapan dengan situasi-situasi baru, harimu akan berjalan lambat dan dalam sebagian besar perjalanan ini, kau akan menemui orang-orang baru yang berbahasa asing. Jadi, kau bagaikan bayi yang baru keluar dari rahim."

Oh ya, apa rasanya saat bisa menjejakkan kaki langsung di negeri yang sudah lama diimpikan? dari kata-kata yang tertulis, lagi-lagi saya merasakan Déjà vu. Tapi kemudian bagaimana? apakah negeri impian ini susuai dengan espektasi? nah pandangan-pandangan ini juga menarik untuk dikulik.

Saya sangat menikmati buku ini walaupun semakin ke belakang, perasaan menggebu-gebu ingin melakukan perjalanan yang sama seperti penulis sedikit memudar. Kenapa? Ntahlah. Yang jelas saya jadi berfikir apakah "memelihara mimpi" akan satu destinasi apakah tetap mendapatkan porsi yang lebih di hati atau secukupnya saja? 🙂

Terakhir, bagi yang penasaran dengan kisah perjalanan yang ditulis (semi) fiksi ini, dapat baca langsung ya. Oh ya, buku ini dicetak ulang dengan kemasan dan judul yang baru yakni ALAYA.

"Segi paling penting perjalanan adalah bahwa kita mampu mempelajari diri sendiri lebih banyak dengan melihat orang lain. Kita melihat tanah air kita dengan lebih jelas bila kita jauh daripadanya dibanding kita berada di dalamnya."

Skor 8,4/10
Profile Image for Yunita1987.
257 reviews5 followers
September 6, 2012
'Karena menyadari aku sudah kembali dari perjalanan jauh ke Negeri Atap Dunia. Kini saatnya kembali ke realita'

Sebenarnya aku uda pernah melirik buku ini waktu singgah ke Gramed, tapi apalah daya waktu melihat cover + resensi dibelakang bukunya yang kurang begitu menarik utk aq membelinya, so selamat tinggal deh buku. (ampe lupa itu kapan ya...:D). Ok deh, waktu teman kantor yang iseng-iseng bertanya padaku "Yun, ada gak sih buku rekomended dari mu untuk kubaca? tapi aku mau bacanya yang seperti kisah siIchal" (dalam hati, apaan tuh si'Ichal'?). Akhirnya dari pada pusing, aq segera buka GoodReads, dan tanpa sengaja aq melirik "Perjalanan ke Atap Dunia" dan membaca review2 dari teman, dan hasilnya aq benar-benar terpikat. So sorenya aq langsung bergegas ke Gramed hanya untuk beli buku ini (emang aq sudah kebelet pengen baca...:D, padahal list 'to-read' masih banyak) Sampainya di Gramed - Semanggi, aq kecewa karena buku itu gak ada,,,hiks. Tapi dengan muka sedih,kecewa tingkat tinggi, tuh pegawai gramed ampe bela-belain cari ke gudangnya (langsung ucapin 'terima kasih ya mas uda ampe dicari kegudang').

So lanjut lah malam langsung buka plastiknya dan pasang lagu yang kira-kira cocok dan mulai buka halaman 1. (kebiasaanku, sebelum mulai baca, buku pertama ampe kata-kata yang gak penting pasti dibaca juga seperti tanggal cetak, editor dll(padahal gak perlu jg kale untuk aq)...:D) Dan hasilnya bisa ditebak, aq memberikan 5 bintang, bila perlu ada 10 bintang, pasti aq serahkan untuk buku ini. Buku ini bukan sekedar menceritakan perjalanan ataupun menjelaskan tempat-tempat yang patut dikunjungin, tapi ada unsur yang lebih mendalam dibuku ini, yaitu 'semangat sang penulis' + kata-kata bagus yang dia selipkan disetiap cerita, sehingga membuat buku ini patut diberikan nilai lebih.

Selama aq baca buku ini, aq kok seperti merasa benar-benar mengalaminya sendiri. Bagaimana perjuangan sang penulis untuk mempersiapkan semuanya, mulai dari perlengkapan pribadi ampe persiapan dokumen yang benar-benar ribet seperti pasport, visa, masalah tiket perjalanan + penukaran uang. (sebenarnya aq iri sama penulis, dia bisa sampai melakukan perjalanan ke Tibet. Aq aja masih sampai ke Malaysia sendirian kadang masih agak-agak sombong gitu, karena berhasil sendirian disana, tapi ini sang penulis sampai ke Tibet!!!. Membuat keinginanku yang belum tercapai untuk bisa ke Korea, jadi keingat lagi. Ok selesai ini, langsung cari-cari website untuk perjalanan kesana deh)

Ok lanjut...!!! Setelah selesai semuanya yang benar-benar buat aq jantungan (soalnya sipenulis ribet banget nih untuk persiapannya + sempat ketiduran padahal pagi-pagi uda harus ke bandara Cengkareng - Jakarta). Sampai dibandara, sipenulis gak banyak cerita soalnya kebanyakan tidur sih...:D dan akhirnya sampailah ke Bangkok. Cara penulis menjelaskan bandara yang ada diBangkok, membuatku penasaran sampai menanyakan ke teman (yang sudah asyik tidur nih...:D Gila ya!!!) seberapa besar sih tuh bandara? dan dengan baiknya dia menjelaskan padaku (tapi mata masih tertutup...kwkwkw) Perjalanan dilanjutkan dari Cina ke Tibet (disini juga banyak cerita-cerita menarik yang akan sangat sayang jika dilewatkan) bagaimana sipenulis yang harus berada dikereta untuk waktu dua hari dua malam (yang dideskripsikan perjalanannya itu dari Aceh - Surabaya, gak kebayang ya jauhnya). Cerita dilanjutkan waktu dia berada di Tibet, OMG benar-benar buat mupeng + iri hati. Bagaimana dia mengalami sindrom sakit akibat perubahan cuaca dan kurangnya oksigen, pertemuannya dengan teman-teman baru yang aneh-aneh tapi saling bantu, menelusuri daerah Tibet, mengenal orang-orang disana dan bagaimana cara hidup mereka. (aduh seru banget ya)

So, setelah di Tibet, apakah selesai? tentu tidak dong. Karena setelah di Tibet, penulis masih melakukan perjalanan ke Mt.Everest (belum sampai kepuncaknya sih, tapi sipenulis sekali lagi buat iri, dia hanya mendeskripsikan dengan 'datang saja sendiri', so What?? aq harus kesana gitu....?hehehe....lanjutlah) akhirnya, setelah Tibet, lanjut ke Nepal. (ketemu orang-orang Nepal yang dikenal lebih ramah dan lebih berasa aman, tenang dari pada ke Tibet, soalnya banyak tentara cina disana) So diNepal apakah masih seseru di Tibet? so pasti IA dong, apalagi dibumbuhin dengan kisah cinta, what? apa maksudnya dengan cinta? (baca sendiri aja sih, apa maksud 'Cinta' disini) So akhirnya penulis pun harus balik lagi ke negeri tercinta, Indonesiaku.

Pokoknya nih selama baca buku ini, aq seperti ikut bareng penulis. Bagaimana suka-duka perjalanannya, bagaimana perkenalannya dengan teman-teman sesama travelling ala backpaker, bagaimana pertemuan dengan orang-orang baru, budaya baru + makanan baru, jadi ingat kata-kata penulis 'Ini soal Rasa'...hehehe).

Sebenarnya, aq berencana untuk menuliskan apa aja kalimat-kalimat bagus yang aq temukan setelah baca buku ini tapi niat tinggal niat karena kehebohanku sendiri merekomendasikan kepada teman2, so skarang buku itu sudah tidak bersamaku lagi. (Aq ingin teman-temanku juga ikut melakukan petualangan sang penulis,,,jadi bukan hanya berhenti di aq aja)

So,buat yang belum baca, silahkan dibaca ya. Gak akan menyesal kok. Percayalah !!!!
Profile Image for Ani Andriyanti.
108 reviews4 followers
June 12, 2013
Dari dulu, saya sangat menyukai buku-buku traveling. Dalam bentuk apapun. Padahal saya hampir jarang banget treveling euy #curhat. Entahlah, rasanya ikut menikmati perjalanan demi perjalanan yang dirasakan orang lain. Apalagi kalau pemaparannya baguuus, membawa kita ke dalamnya, seperti buku ini :)

Ya, saya mengenal buku ini dari senior kantor. Katanya buku ini bagus. Jadilah penasaran saya baca. Dari awal membaca buku ini, saya langsung sukaaak #pake “k” pula ya sukanya :D Bang Daniel membuat buku ini untuk orang-orang yang berani memperjuangkan mimpi masa kecilnya loh. Langsung deh ngaca, apakah kita sudah berjuang untuk mewujudkan mimpi? Atau membiarkannya saja bersemayam di angan-angan, menunggu Tuhan menjawab dan pasrah? :)

Adalah Bang Daniel (saya sebut “Bang” saja deh), dari kecil sudah berkeinginan pergi ke negeri atap dunia, Tibet. Berkali-kali membaca komik Tintin di Tibet, berkali-kali menonton film Seven Years in Tibet, dan terus saja bertanya-tanya: apakah mungkin dia bisa pergi ke Tibet?

“Beberapa kali pernah kutulis di dalam blog pribadiku tentang keinginanku pergi ke Tibet. Tetapi kapan? Aku tak pernah bisa menjawabnya. Kuinsafi: keinginan mengunjungi Tibet ternyata hanya angan. Bukan sesuatu yang konkret. Adalah betul aku pernah menuliskannya. Artinya, tidak semata angan yang mencelat melalui lisan. Tetapi sudah kutuliskan. Namun tetap saja: meski sudah pernah ditulis, semua itu tanpa pengejawantahan.”

Bang Daniel mengajarkan banyak hal di sini. Meraih mimpi itu terkadang harus menghadapi tantangan demi tantangan, tidak melulu berjalan mulus bak jalan tol. Begitupun dengan Bang Daniel dalam mempersiapkan perjalanannya ke Cina ini. Ah, saya seperti turut serta dalam perjalanan ini. Memelototin harga pesawat tiap waktu untuk mendapatkan harga yang murah, tidur di bandara, berhari-hari di kereta menuju Lhasa. Semua saya rasakan pokoknya :D

Tapi tapi tapi, bukan yang indah indah aja loh baca buku ini. Saya sempat kecewa, tau kenapa? Ah, ekspektasiku terhadap Tibet tinggi sekali sebelumnya. Sama seperti tweet saya ke Bang Daniel “saya tidak pernah menyangka bahwa Tibet akan seperti apa yang anda gambarkan di buku ini.” Dan jawaban Bang Daniel “Apa boleh buat: tak selamanya impian berbanding lurus dgn kenyataan. Tetapi untuk mengetahui hal itu, kita harus membuktikan.” seperti apa itu? tentu anda semua harus membaca buku ini!!!

Ketika keinginan telah tercapai dan kita telah berada di sana, semua menjadi selesai dan berhenti seketika. Terkadang proses untuk mencapai sesuatu acap kali jauh lebih bermakna ketimbang tujuan itu sendiri. – hal 114

Hal yang paling saya suka adalah melihat gugusan Himalaya yang dipenuhi salju. Ah, tampaknya awesome sekaliiii #ngebayangin terus mupeeeng :)

Oiya, ada satu lagi yang ku suka. Bertemu dengan orang-orang baru tampaknya menyenangkan sekali :) Seperti bertemu saudara sendiri. Seperti hal nya ketika Bang Daniel bertemu dengan Juan, si pemuda dari Amerika Latin. Juan yang seorang perokok berat bisa benar-benar stop menjadi perokok, padahal mungkin semua orang tau bahwa dalam praktiknya berhenti merokok itu tidak semudah yang dibayangkan #konon. Dan Bang Daniel pun menanyakan itu karena dia juga seorang perokok. Kata Juan “Aku tahu. Memang nggak mudah. Berat. Sangat berat. Tapi ketika kita konsekuen dengan keputusan kita, segalanya bisa kalo kita mau. Yang kita butuhkan hanya keberanian kok.” Ah, andai banyak orang yang bisa berpikir seperti ini, mungkin saya tak akan pernah sesak napas di bis yang penuh asap rokok #curhat :D

Itu hanya salah satu dari sekian banyak hal menarik di buku ini. Well, silahkan baca sendiri buku ini. Cina, Tibet, Nepal dan saatnya kini kita pulang ke tanah air tercinta :)

“Masa muda, Daniel. Masa muda. Memang seharusnya begitu. Pergilah kemanapun kakimu melangkah. Itu akan menempamu. Memperkaya pengalaman batinmu. Tetapi pada saatnya tiba jadilah laki-laki yang merasa cukup dengan keluarga di rumah… Kelak istri dan anak-anakmu di rumah adalah harta sebesar-besarnya yang kamu miliki”
Profile Image for Nuansa Cendekia.
5 reviews
Read
May 17, 2012
Perjalanan ke Atap Dunia by Daniel Mahendra

Merged review:

Bacalah tentang Cina dengan segenap kedigdayaan ekonomi dan budayanya. Tetapi tak baik melupakan Tibet dan Nepal karena keduanya merupakan sumber pengetahuan terpenting tentang alam, manusia, spiritualitas, politik, seni dan budaya.
Bagi yang merasa mustahil ke sana, nikmatilah buku liputan perjalanan ini karena memang menyediakan eksotisme kelas tinggi. Bagi yang ingin segera ke sana, baca dan bawalah buku ini sebagai karib perjalanan.

Kesaksian Kelayaban Daniel membuktikan: niat dan tekad merupakan syarat menggapai impian. Langkah awal dimulai. SANGGA memberikan kesaksian semesta. Tentang alam yang penuh pesona. Di BERAJA, antara Thailand-Cina mengajak sang penulis memahami betapa anehnya ia menjadi orang asing di antara sekian manusia asing. NISKALA, eksotika religius. Himalaya menjadi simbol dari spiritualitas. ANCALA, Daniel berkarib dengan sahabat masa depannya, yakni kematian. Dingin menyadarkan tentang kemungkinan untuk mati. RENJANA, menjadikannya terasing. NEPAL yang miskin memberi kesaksian tentang harga manusia. Adapun MALKA, tempatnya penulis memadu cinta, menghanyutkannya. Di SELOKA, setelah niat dan harapan terwujud, Daniel memberikan banyak makna. Hingga di BANDUNG ia pun merawikan kisah kelayabannya. Bacalah......[]
Profile Image for Stevenziv.
5 reviews1 follower
December 30, 2012
Sebuah catatan perjalanan yang sangat menarik dan sarat makna. Tetang petualangan Daniel Mahendra dalam mewujudkan mimpinya pergi ke negara tertinggi di dunia - Tibet (termasuk juga Nepal dan China). Perjalanan Ke Atap Dunia memberikan sebuah makna yang dalam pada saya, bahwa beranilah bermimpi, dan berusahalah menggapai mimpi itu, dan temukan dirimu dalam perjalananmu.

" Masa muda. Memang seharusnya begitu. Pergilah ke manapun kakimu melangkah. Itu akan menempamu. Memperkaya pengalaman batinmu. Tetapi pada saatnya tiba.. Jadilah laki-laki yang merasa cukup dengan keluarga di rumah"

" Ciptakan kebahagiaan itu dari hatimu. Maka segalanya akan selesai. Kamu akan memandang kehidupan dengan senyuman. Betapapun kamu seorang diri tidaklah masalah. Karena kebahagiaan itu bukan persoalan dengan siapa. Ingat dimana hatimu berada, disitu hartamu berada.."

" Beranilah bermimpi! Beranilah memiliki keinginan! Walau pemikiran sadar kita menafikan kemungkinan-kemungkinan itu, tetapi beranilah menetapkan tujuan. Karena nyatanya, ketika kita berani memutuskan untuk menggapai mimpi kita, alam bawah sadar kita justru bekerja membantu kemungkinan-kemungkinan mimpi tersebut menjadi kenyataan. Dengan dan lewat cara yang tidak pernah kita duga sebelumnya"




Profile Image for Citra Mardiati.
38 reviews6 followers
March 31, 2013
Di awal membaca buku ini saya merasa sedikit bosan tetapi makin berpindah halaman rasa penasaran saya datang perlahan-lahan. Gaya bahasanya ringan dan mampu memancing kita untuk membayangkan bagaimana visual dari cerita-ceritanya itu sendiri.

Jujur banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapatkan dari membaca buku ini. Mengenal Tibet dan Nepal lebih dekat, keadaan geografisnya dan tentu saja kebiasaan-kebiasaan masyarakat di sana, budaya dan spiritualitasnya. Nggak melulu membicarakan tentang pengalaman perjalan, mas Daniel juga curcol sedikit juga di buku ini, hihihi... Oia saya juga baru tahu tuh tentang AMS (Accute Mountain Sickness, wah terus buat penderita asma seperti saya ntar kalo kesampaian menginjak tanah Tibet apa kabar ya? :(

Eh tapi sedih loh itu sama kondisi Tibet yang serba ketat itu peraturannya. Kasihan mereka yang sulit sekali untuk berpergian dari sana, padahal banyak orang dari negara lain datang ke tempat mereka, tetapi mereka tidak mendapatkan kesempatan melihat negara lain:(

Angkat 2 jempol lah pokoknya buat mas Daniel. semoga suatu saat saya juga bisa menginjakkan kaki di atap dunia itu (J >o<)J


Note:
Thanks bang Halmi atas pinjaman bukunya :)

Profile Image for NRifa.
10 reviews
May 26, 2012
NRifa : "Mewujudkan sebuah keinginan haruslah ada pemicunya!iya khan?!"
DM : "Buat impianmu dan bertanggung jawablah terhadap impianmu :)"
"Itu yang akan jadi pemicu"
"Jadikan bentuk visual, beberapa gambar misalnya, jadikan wallpaper hp"

Itu sekelumit komunikasi dengan DM.

Dan aku juga sudah pernah lakukan hal untuk mewujudkan keinginan atau mimpi jadi kenyataan, tapi tidak untuk dibukukan hehehe.

Dan buku ini..., membacanya semakin memperjelas, bahwa sebuah keinginan bisa terwujud jika kita yakin bisa !!!

"Keyakinan itu mutlak milik kita, apa yang kita yakini bisa, semuanya akan menjadi nyata"(NRifa)

Dan salah satu bentuk nyata itu sendiri terwujud menjadi buku ini, seorang Daniel Mahendra berhasil mewujudkan salah satu dari impiannya.
Tiba di negeri Atap Dunia.
Selamat ya Daniel Mahendra, aku yakin masih banyak mimpi yang masih harus di wujudkannya.

Semoga sukses selalu dan di tunggu buku barunya dengan cerita yang makin seru dan sarat dengan makna hidup.
Profile Image for Didik Ismawanto.
48 reviews2 followers
December 22, 2013
"Hidup memang sebuah perjalanan. Seperti setiap orang menjalani hidupnya. Yang membedakan hanyalah bagaimana kita memaknai setiap perjalanan yang kita tempuh."

Sebuah buku yang menceritakan perjalanan Daniel Mahendra menuju negeri atap dunia. Perjalanan ini bukan hanya perjalanan memanjakan panca indera semata. Lebih dari itu. Karena pada hakikatnya perjalanan adalah mencari makna dari setiap yang kita alami, kita rasa.

Dan, perjalanan ini sendiri membawa Daniel pada sebuah kesimpulan, bahwa kita harus berani bermimpi. Berani menetapkan tujuan, berusaha merealisasikannya, dan menafikan bayangan kemungkinan-kemungkinan buruk di depan. Ya, itulah inti dari semua ini, berani mengalahkan diri sendiri.
Profile Image for Aida Radar.
48 reviews1 follower
November 20, 2014
Buku cerita perjalanan yang tak bisa membuat saya menunda untuk menyelesaikannya. Saya menikmati belahan dunia lain (China, Tibet, dan Nepal) yang sangat begitu ingin saya kunjungi. Bila suatu ketika saya tetap belum bisa menginjakkan kaki di tempat-tempat itu, saya mengucapkan terimakasih pada Kang Daniel Mahendra yang telah menulis pengalamannya yang keren ini. Membaca Perjalanan ke Atap Dunia membuat saya seperti menjadi sang penulis dengan lika-liku perjalanan. Sukak! ^^

Buku ini saya baca tahun lalu. Tadi pagi ke perpustakaan kampus untuk pinjam karena ingin membacanya lagi. Sayangnya tidak berhasil menemukannya. Padahal ada tiga eksemplar waktu saya pertama menemukannya di rak Sastra. Mungkin mereka sedang jalan-jalan di imajinasi peminjam lainnya. :D
Profile Image for Devi R. Ayu.
77 reviews11 followers
June 14, 2012
Catatan perjalanan seseorang selalu menyenangkan untuk dibaca, karena pada satu sisi menyajikan cara pandang seseorang terhadap dunia, seseorang yang bukan diri kita.

Saya suka cara Daniel bercerita, dan di sisi lain semakin memperkuat kenyataan bahwa laki-laki yang suka travelling itu belum tentu setia *oopss* :D

Dari beberapa tulisan ada beberapa yang mengena di hati, misalnya saat ada yang bertanya, "apa yang kau cari" hehehehehe banyak yang nanya soal itu juga soalnya ke saya :D *curcol mode on*. Pada akhirnya kita sadari, kadang-kadang kita bertualang hanya untuk mencari sesuatu yang dekat, yang selama ini nyatanya tidak kita lihat.
Profile Image for Melissa.
11 reviews
August 26, 2012
Saya senang dengan gaya penulisan Pak Mahendra dalam menceritakan perjalanannya ke Tibet. Apalagi saya memiliki buku Tintin di Tibet, dan saya makin penasaran bagaimana rasanya akhirnya berhasil pergi ke suatu tempat yang kita telah impikan sejak dulu. Melalui tulisannya saya seolah-olah ikut terbawa perasaan yang dirasakan Pak Mahendra waktu itu. Semuanya dibawakan dengan ringan tapi tetap asik untuk diikuti kisahnya sampai selesai. Kalau pengalaman travelling bisa disuguhkan dengan keunikan seperti ini saya pasti tidak akan sabar untuk membacanya lagi!
Profile Image for Annisa Hartoto.
9 reviews17 followers
August 26, 2012
Salah satu travelogue yang paling inspiratif yang pernah saya baca. Bukan, bukan karena ke mana sang penganyam kata melangkahkan kaki dan apa yang dia saksikan, namun melainkan bagaimana melakukan perjalanan dapat membantu kita membuka mata hati dan menemukan jati diri.
Profile Image for Pradana Yulia Adhi.
1 review5 followers
December 9, 2012
buku yang membuat saya seolah-olah pernah menjelajahi pesona himalaya.. serasa benar-benar naik kereta diatas rel yang panjang dan di kanan kiri deretan himalaya. tibet, negara yang masih bergejolak dengan 'empunya' RRC.
Profile Image for Aprilia Hartami.
5 reviews
March 5, 2013

Good. Rincian perjalanannya cukup jelas dan jujur... Dari buku ini, saya tahu bahwa butuh persiapan/perhitungan yang matang untuk ssuatu perjalanan.. Nice stories!
Profile Image for Freeday Samaqi.
1 review80 followers
May 23, 2014
Sebuah perjalanan menuju Negeri yang asing, sendiri. Namun dalam perjalanan kita tak kan pernah sendiri. Kenapa? Karena kita akan menemukan kawan baru, saudara baru dalam perjalanan kita.
Profile Image for Jimmy Ariesta.
24 reviews
March 31, 2015
lumayan.. not bad

cuma kok kayak membaca novel nya Gola Gong Balada si Roy ya?
Displaying 1 - 26 of 26 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.