Jump to ratings and reviews
Rate this book

Misykat: Refleksi Tentang Islam, Westernisasi, dan Liberalisasi

Rate this book
"Spektakuler! Kolom Misykat Dr. Hamid Zarkasyi di Jurnal Islamia Republika selama 3 tahun (2009-2012)menjadi kolom yang paling banyak dibaca orang. Berciri lugas, cerdas, dan bernas. Buku kumpulan Misykat ini membuktikan, Dr.Hamid saat ini merupakan salah satu dari sederet kolumnis terbaik di Indonesia. Selamat Membaca!" ( Dr. Adian Husaini, Kepala Progran Studi Magister Universitas Ibn Khaldun Bogor)

“Misykat, adalah relung jiwa DR. Hamid Fahmi Zarkasyi yang bukan cuma cerdas dan sarat makna tapi juga penuh inspirasi, dalam dan menyelamatkan logika.” (Bahtiar Nasir, sekjen Majelis Intelektual Dan Ulama Muda Indonesia)

“Paduan dari nalar yang tajam dengan ketulusan hati dan tutur yangjernih telah membuat buku ini bernas dan ‘gurih’. Bon Lecture!”(Dr. Syamsuddin Arif, Dosen IIUM - Malaysia)

”Membaca karya Mas Hamid ahmy Zarkasyi yang terhimpun dalam buku ini kita segera mendapai cerdas, bernas, dan merangsang kita untuk mencari solusi. Karya tulis dalam buku ini berselancar dari khasanah Islam klasik dan kontemporer, dari peradaban Barat sampai akar filosofis suatu persoalan. Tulisannya menjadi enak di baca karena Mas Hamid mampu meramunya menjadi formula yang siap saji untuk didiskusikan lebih lanjut.” (Herry Mohammad—Redaktur Pelaksana Majalah Gatra)

320 pages, Paperback

First published January 1, 2012

68 people are currently reading
670 people want to read

About the author

Hamid Fahmy Zarkasyi

16 books97 followers
Lahir di Gontor, 13 September 1958, Hamid Fahmy Zarkasyi adalah putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor Ponorogo. Beliau juga Pemimpin Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS).

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menamatkan pendidikan menengahnya di Kulliyatul Mu'allimin al-Islamiyah Pondok Modern Darussalam Gontor dan S1 di Institut Studi Islam Darussalam di pondok yang sama. Pendidikan 2 (MAEd) dalam bidang pendidikan diperolehnya di The University of Punjab, Lahore, Pakistan (1986). Pendidikan S2 (M.Phil) dalam Studi Islam diselesaikan di University of Birmingham United Kingdom (1998). Sedangkan studi S3 (PhD) bidang Pemikiran Islam diselesaikan di International Institute of Islamic Thought and Civilization - International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) Malaysia pada 6 Ramadhan 1427 H/29 September 2006.

Baru-baru ini ia dipilih menjadi Pimpinan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Sejak tahun 2003 ia aktif melakukan workshop pemikiran Islam yang berupaya bersikap kritis terhadap program liberalisasi pemikiran Islam. Murid langsung Prof. Dr. Syed Mohammad Naquib al-Attas ini juga pernah menjadi wakil umat Islam Indonesia dalam simposium tentang masa depan politik Islam di JIIA Tokyo (2008). Ia juga menjadi anggota delegasi RI (Kemenlu) dalam program Public Diplomacy Campaign ke Austria (2010).

Ia banyak melakukan lawatan ke berbagai negara Eropa dan Asia dalam program dakwah, seminar, studi banding, dsb. Selain aktif menulis di berbagai media massa dan beberapa jurnal, kesehariannya ia habiskan untuk mengajar dan memimpin Program Kaderisasi Ulama dan Pascasarjana Institut Studi Islam Darussalam, Gontor.

Dikutip dari Misykat: Refleksi Tentang Islam Westernisasi dan Liberalisasi

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
200 (63%)
4 stars
77 (24%)
3 stars
16 (5%)
2 stars
12 (3%)
1 star
8 (2%)
Displaying 1 - 30 of 56 reviews
Profile Image for Jiwa Rasa.
407 reviews57 followers
July 15, 2012
satu lagi tulisan hebat dari murid Prof SN Alattas. Bagai membaca Catatan Pinggir Goenawan Mohammad tetapi dengan worldview dan framework Islam yang kemas dan memukau.
Profile Image for Fais al-Fatih.
89 reviews118 followers
May 24, 2016
Sebelum membaca buku ustadz DR. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil ini, saya sudah mencoba membaca 2 buku karangan aktivis muda lulusan UIKA Bogor yang juga membahas mengenai Islam yang dikaitkan dengan Liberalisme, Pluralisme dll. Saat membaca buku mereka, saya yang miskin ilmu ini puyeng, klepek-klepek, banyak mencoba memutar otak dan berpikir keras, ra mudeng dan hampir overflow otak saya, tersebab banyaknya istilah pembahasan yang terlalu tinggi dengan berbagai istilah asing yang njelimet. Buku mereka sudah bagus dan disusun dengan dengan baik, hanya saya saja yang susah memahaminya.

Tetapi, alhamdulillaah... Ketika membaca Misykat karya ustadz yang lulusan Gontor, Pakistan, Inggris dan Malaysia ini, saya perlahan bisa mengerti dan memahami mengenai Liberalisme, Pluralisme, Westernisasi dan istilah-istilah lainnya dengan mudah. Bahasa yang digunakan beliau pun tidak terkesan menggurui, mengalir bagai air, apalagi ditambah lagi dengan pengalaman-pengalaman pribadi beliau, semakin menambah wawasan para pembaca mengenai topik tersebut, apalagi saya lebih senang saat membaca suatu buku jika dilengkapi dengan kisah-kisah atau pengalaman pribadi penulis, buku menjadi semakin interaktif.

Lemahnya kita umat Islam dalam menghadapi barat dan agen-agennya di Indonesia (sebut saja JIL, dll) adalah kurangnya wawasan, bacaan dan ilmu. Sehingga banyak di antara kita yang hanya bisa melawannya dengan cercaan, hinaan bahkan aktivitas fisik, sehingga makin menguatkan argumentasi mereka bahwa kita adalah penganut paham kekerasan. Padahal jika menguasai ilmunya kemudian dituliskan dalam bentuk buku, plus pernah kuliah di Eropa, mereka aktivis yang sangat terpesona dengan paham-paham yang lahir dari Barat akan kejang-kejang, marah-marah bahkan protes. “Bilang sama Mas Hamid”, kata seorang kawannya dalam sebuah milis, “dulu di Birmingham dia nyantri dengan para orientalis, sekarang dia mencela dan mengkritik orientalis. Jangan seperti kacang lupa pada kulitnya.” Ternyata mereka yang sering mengatakan Islam, MUI, al-Qur’an anti kritik, padahal mereka sendiri anti kritik, ini yang namanya standar janda, eh maksudnya ganda.

Saya juga pernah membaca Catatan Pinggiran, tulisan Goenawan Mohamad di majalah Tempo, jujur saya terpana dan terpukau, karena memang asyik membacanya. Ustadz Cholis Akbar, redaktur pelaksana Hidayatullah.com, dalam komentarnya mengenai buku ini mengatakan, saat membaca Catatan Pinggir Goenawan Mohamad, mendapatkan informasi, tetapi saat membaca Misykat: Refleksi Tentang Islam, Westernisasi, dan Liberalisasi selain mendapatkan informasi, kita juga mendapatkan ilmu plus meneguhkan keyakinan. Itu juga yang saya alami, kebanggaan akan agama Islam ini semakin bertambah.

Para pemuda Islam wajib membaca buku ini, untuk menambah khazanah dan perbendaharaan akan keterkaitan antara Westernisasi, Liberalisasi dan Islam. Agar kita tak mudah ditipu oleh mereka yang ngaku lulusan pesantren, bisa baca kitab kuning terus lanjut “belajar” Islam di Barat, dan sering menggunakan bahasa-bahasa tingkat tinggi. Kata ustadz Bachtiar Natsir, Sekjen MIUMI dalam sambutannya untuk buku ini, “kemajuan dunia Barat sebenarnya telah menyilaukan (mereka) kaum lemah pemikiran, lemah aqidah dan lemah wawasan.” Kita boleh kagum pada sisi kedisiplinan, teknologi dan tradisi keilmuan dunia Barat, tetapi tidak untuk aspek pandangan hidup, moralitas, kemanusiaan, keluarga dan lain-lainnya. Karena sebenarnya mereka menjadi maju setelah meninggalkan Gereja dan agamanya, tetapi tidak dengan kita umat Islam. Kita akan jatuh, terbelakang dan menjadi bodoh saat kita meninggalkan Islam, dan akan maju dan jaya saat kita menjadikan Islam sebagai pedoman hidup kita, seperti yang terjadi beberapa abad yang lalu.

Wallaahu a’lam..
Profile Image for Abdul Shahiid.
Author 1 book4 followers
June 2, 2012
Buku ini sangat menakjubkan. Kegairahan masyarakat muslim nusantara khususnya Indonesia/Malaysia dalam mengejar tahap "maju" atau "moden" dengan berpandukan Barat telah menyebabkan mereka terperangkap.

Buah pikiran, konsep, hujah/argumen dan sebagainya yang hanya sekedar bergayut pada akal dan situasi begitu rapuh sehingga kerosakannya tak dapat tertutupi walaupun diperbaiki dan per-elok baik dengan istilah yang baru atau bahkan konsep yang baru berkali-kali. Kegagalan yang sentiasa akan berterusan.

Islam menawarkan suatu yang teguh lagi kokoh umpama pohon yang akarnya kuat mencengkam bumi. Akal dipandu dengan wahyu dan sunnah rasul SAW. Akal juga dibentuk cara kerjanya menggunakan metedologi/manhaj yang bertujuan memelihara ketulenan sekaligus memandu agar tidak terjatuh ke jurang kesesatan atau keterlampauan (ghuluw).

Persaiangan sengit pemikiran ini mengundang pertaruangan dahsyat antara ilmuan di atas permukaan. Penulis buku ini kemudian hadir dengan kelainan. Beliau malah terlebih dahulu mempeloroti selimut yang menyembunyikan kerancuan, kerapuhan, kesesatan dan ketidakabsahan pemikiran ala barat. Tidak cukup dengan itu beliau malah mengekori setiap jalur hingga ke akar-akarnya yang pada akhirnya memperlihatkan dengan jelas usahasama mereka dalam meracuni pemikiran Islam. Tujuannya hanya satu melepaskan diri dari agama, lalu melepaskan diri dari tuhan, lalu menjadikan diri mereka (hawa nafsu) sebagai tuhan.

Bagi mereka yang mengidolakan barat dan liberalisme, buku ini bakal menjadi pencerah akal dan hati anda..

Selamat membaca!!
Profile Image for Stef.
590 reviews190 followers
February 3, 2019
Mengenal buku ini dari rekomendsi seorang teman setelah diskusi perihal sekuleritas dan liberalisme menurut pandangan islam. Dan membaca ini sedikit membuka pandangan baru dari sudut pandang yang baru, selain itu menemukan beberapa referensi baru untuk di baca.
Profile Image for asami.
36 reviews1 follower
April 7, 2021
Materi yg dikulik tak lekang dimakan zaman. Dan sepertinya gue akan muroja'ah buku ini selalu 😁
Profile Image for Fernanda Pratama.
2 reviews1 follower
September 17, 2013
Sebuah buku yang sangat disarankan untuk dibaca disaat gempuran worldview barat yang ada di tengah masyarakat Indonesia sekarang ini. Buku ini dapat menjelaskan bagaimana sesungguhnya paham seperti pluralisme, relativisme, liberalisme, kesetaraan jender, dst. yang saat ini begitu semangat dibahas merupakan cara baru barat dalam 'menjajah' pemikiran manusia Indonesia. Paham-paham tersebut mencoba menjauhkan masyarakat Islam jauh dari nilai-nilai agama (Islam), bahkan tidak lagi mempercayai Tuhan (agama).
Profile Image for Alvi Syahrina.
7 reviews
April 25, 2013
Saya pikir di sini akan saya temukan argumen-argumen untuk meng-counter pemikiran-pemikiran liberal yang mulai meresahkan umat Islam. Namun buku ini ternyata membuat saya sendiri tersadarkan akan bibit-bibit ghazwul fikr liberal yang sudah mulai tumbuh dalam diri saya sendiri, seakan tidak hanya jadi "tameng" tapi juga menjadi "tamparan". Buku yang luar biasa, membawa kembali kepercayaan diri akan identitas kita sebagai umat Islam.
Profile Image for Deni Aria.
159 reviews4 followers
April 7, 2012
This book has a strong message of how we as
Muslim has to be more aware that seeking of the sound knowledge of islamic worldview is really important to counter the westernized concepts which embezzling our faith! An inspiring book!
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
134 reviews82 followers
June 25, 2018
MUHAMMAD

SAYA selalu menyebut namanya, mendoakan tiap pagi dan petang, sebisa saya. Saya mencoba mencintainya─Nabi saya Muhammad saw.─meskipun iman saya rapuh dan penuh noda. Ada satu sabda yang saya ingat, yang menjadi alasan mengapa saya terus, dan akan terus, melakukan hal itu: “Kau akan bersama yang kaucinta.”

Maka tiap kali saya menyebutnya dalam doa (Islam menamakannya “shalawat Nabi”), saya terbayang Anas bin Malik, dan jadi sedikit gembira: amal ibadah saya tak ada seujung kukunya, tapi saya mencintainya, maka saya akan bersamanya. Kalau Nabi di surga─dan dia memang akan di surga─saya boleh berharap seperti Anas bin Malik, “Semoga kelak saya bersama di sisi-Nya.”

Tentu saja saya jauh dari pantas untuk mendapat surga, bahkan meski itu surga paling bawah. Harapan itu sendiri sebenarnya konyol: saya cuma mau cari aman di akhirat dengan menempel Nabi, tapi hidup enak di dunia dengan sering melanggar ajaran-ajarannya.

Memang Nabi Muhammad saw. yang saya kenal ialah lelaki luar biasa, bahkan bagi Barat. Salah satu kehebatan yang sering disebut-sebut adalah kemampuannya membangun peradaban hanya dalam waktu 23 tahun masa hidupnya. Dan ia mulai menjadi jenderal perang dari umur cukup senja, 50 tahun─di usia yang sama dengan James Bond 007 dalam Skyfall yang sudah agak meragukan untuk tetap jadi agen lapangan.

Michael Hart, ilmuwan Barat, memasukkannya sebagai manusia paling berpengaruh nomor satu di dunia sepanjang masa, di atas Isaac Newton, di atas Jesus, atau Einstein─sampai sekarang tak ada tanda-tanda akan turun jadi nomor dua atau tiga.

●●●

Tapi orang baik dan hebat tak pernah luput dari cela: sebaik apa pun manusia (tak perlu harus jauh-jauh, lihat saja di sekitar kita), pasti akan ada yang meragukannya. Hal seperti itu tak terelakkan. Seakan-akan orang hidup hanya untuk cari borok.

Dan sejarah menghadirkan celaan yang cukup panjang terhadap seorang nabi akhir zaman bernama Muhammad.

Pada tahun 1997, di kota Hebron, Tatiana Soskin mencoba menempelkan gambar Muhammad dalam bentuk babi sedang membaca Qur’an. Di awal abad 21, tepatnya tahun 2002, pemenang Pulitzer Doug Marlette menyebar gambar Muhammad mengendarai truk yang membawa roket nuklir. Itu adalah tahun di mana dunia terkejut dengan Tragedi 9/11. Tak cukup, pada tahun 2004, Theo van Gogh melalui film Submission memperlihatkan tubuh empat wanita bugil yang ditulisi ayat-ayat Qur’an. Kita tahu akhir Theo van Gogh: ia mati dibunuh Mohammad Bouyeri di Amsterdam. Ayaan, rekan perempuan van Gogh dalam pembuatan film itu, seirama. Ia adalah seorang yang tekun menuding Islam sebagai pembawa kabar buruk penindasan bagi perempuan. Ia seolah tahu “yang dibutuhkan kebudayaan Islam adalah buku, lakon, puisi, dan lagu yang… mengejek aturan agama”. Di Denmark, tahun 2005, surat kabar Jyllands-Posten menerbitkan kartun Nabi.

Tapi rupanya tak sependek itu. Celaan itu agaknya hanya perpanjangan masa lalu. Di zaman Pencerahan, Voltaire menganggap Muhammad sebagai ekstrimis dan pendusta yang canggih. Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang berperan dalam penaklukan Aceh, “expect to hear that Muhammad never existed"─mengharapkan untuk mendengar bahwa Muhammad tidak pernah ada. Sekitar dua setengah dekade kemudian Liutsian Klimovich, orientalis Soviet, pada tahun 1930 mewujudkan harapan Hurgronje: ia tanpa gentar menulis artikel Did Muhammad Exist?. Di dalamnya ia menganggap Muhammad makhluk fiksi. Adanya Muhammad, menurut Klimovich, hanya hasil asumsi bahwa setiap risalah agama harus memiliki seorang pembawa dan pendiri.

Kita belum bisa berhenti. Pada abad-abad yang lebih jauh, seorang pendeta di Maimuna tahun 743 menyebut Nabi Muhammad saw. sebagai nabi palsu. Peter Bede (673-735) dari Inggris lebih radikal lagi. Ia menyebut Muhammad “a wild man of desert”─seorang manusia padang pasir yang liar. Pada masa-masa yang hampir berdekatan itu kita juga bisa mendengar simpulan cerita Yahya al-Dimasyqi: Muhammad adalah seorang yang licik, punya epilepsi, dan hobi perang.

Apakah kita umat Islam, saya, perlu marah dan kaget?

Bagi orang yang mengetahui sirah Nabi, celaan-celaan itu sebenarnya tidak begitu, dan tidak perlu, mengagetkan. Di zaman Nabi suara-suara semacam itu sudah terdengar─dan mungkin lebih keras, lebih jelas, disertai lemparan batu dan kotoran manusia. Suara-suara itu, suara yang mengingkari kenabian, sempat membuat sedih sang Nabi. Maka dalam surat Yasin, surat yang dijuluki jantung Al-Qur’an, sampai-sampai turun ayat dengan sumpah yang amat kuat dari Tuhan untuk meneguhkan sang Nabi: Muhammad adalah “sebagian dari salah satu rasul-rasul-Nya”.

Apa yang dikatakan para orientalis Barat dari masa ke masa memang mirip-mirip. Pada dasarnya, mereka mengingkari Muhammad dan Quran. Hamid Fahmi Zarkasyi menyebut dalam Misykat─sebuah buku yang sangat cerdas dan tajam melihat westernisasi dan liberalisasi─bahwa serangan terhadap Islam terjadi karena agama-agama yang pemeluknya ramai di Barat itu merasa terancam dengan ayat-ayat Qur’an. Dalam al-Maidah bisa kita temukan: “telah kafir orang-orang yang berkata Allah ialah al-Masih putra Maryam” dan “orang-orang yang mengatakan bahwasannya Allah salah satu dari tiga”. Surat yang lain, an-Nisa ayat 157, menceritakan bahwa Isa yang dibunuh dan disalib (yang kemudian dipercaya sebagai Tuhan Jesus) adalah “orang yang diserupakan dengan Isa”.

Tapi apakah hanya Muhammad satu-satunya Nabi yang dihina? Rupanya tidak. Isa al-Masih, atau Jesus, tercatat cukup sering dilecehkan di Barat. Pada tahun 2004, misalnya, sebuah media internet di Amerika memuat kartun yang menggambarkan Jesus disalib memakai celana pendek dan piyama setan. Judulnya: Jesus Dress Up. Pada tahun 2008 di Linkoping, Swedia, muncul poster di depan umum berjudul Ounx against Christ. Gambarannya menyakitkan bagi Kristen yang taat: seekor setan memberaki Jesus di tiang salib. Pimpinan redaksi koran yang memuat poster itu bertubi-tubi menerima ancaman hukuman mati.

Apa yang terjadi sebenarnya?

Alexander Pushkin, sastrawan Rusia abad 19 yang berasal dari keluarga kaum ningrat, pernah menyebut orang-orang yang menghina orang-orang luhur dengan “berwatak rendah”. Tapi benarkah cuma itu?

●●●

Rupanya masalahnya bukan hanya “berwatak rendah”. Di Barat, kini, tiap-tiap makhluk (bahkan kalau hewan dan tumbuhan mampu) boleh bicara asal perihal nabi, agama, bahkan Tuhan.

Dari mana sikap itu berasal?

Alasan meninggikan hak asasi manusia sepertinya tak cukup. Kita bisa mulai menelisik dari sebuah pertanyaan mengapa dan bagaimana Abad Pencerahan muncul.

Di Eropa, kuasa kepausan mulai besar saat Perang Salib. Paus Urbanus II menggunakan semangat agama untuk memprovokasi Kristen dalam Perang Salib. Hasilnya, ratusan ribu umat Islam dibantai sejak mulainya Perang Salib tahun 1095. Tak hanya itu, ada suatu masa di mana Kerajaan, Dewan Inkuisisi dan Gereja bersatu memvonis para pelaku bid’ah yang tak sepaham dengan doktrin Paus dan melakukan takhayul─contoh terkenal adalah Galileo Galilei, karena keyakinan sainsnya. Hukumannya macam-macam, dan sangat mengerikan. Dihancurkan jarinya atau dibakar hidup-hidup barangkali hanya salah satu yang termasuk ringan. Pelaku zina, misalnya, akan digergaji dari alat kelamin hingga badan. Sampai ada yang bertanya: adakah kekejaman yang melebihi kekejaman Gereja?

Dari peristiwa-peristiwa itu Gereja dianggap terlalu jauh masuk ke dalam kekuasaan politik. Voltaire pun menghajar Gereja Katolik. Ia gencar mengatakan Tuhan tidak boleh bertentangan dengan akal, Tuhan tak boleh ikut campur dalam kebebasan manusia. Tuhan mulai tak lagi menjadi pusat. Sebab Tuhan Yahudi tiran, Tuhan Kristen barbar, kata Hegel. Lalu tenar ucapan Rene Descartes: “aku berpikir maka aku ada”. Di sini manusia Eropa mulai mengunggulkan akal. Manusia mulai menjadi pusat, menggantikan Tuhan ─sebuah kelahiran humanisme.

Tapi peran akal itu agaknya maju lebih jauh. Tak melulu di bidang sains yang memunculkan beragam penemuan penting yang membantu kerja manusia di bumi, akal mulai merambah dalam urusan-urusan terkait agama. Pembicaraan dan konsep mengenai Bibel, Tuhan, dan agama, dilakukan para filsuf dan sains. Konsep itu lalu dikutip sana-sini, dipercaya lebih dari konsep yang datang dari teolog. Sebab muncul keyakinan baru posmodernisme: mereka menggoyang setiap klaim absolut yang datang.

Di Abad Pencerahan ini kita melihat sejarah yang berbalik: orang-orang Barat menjadi skeptis pada gereja dan pendeta, yang dulu terlalu berlebihan mengekang kebebasan. Mereka menyerang agama dan Tuhan─yang dulu membelenggu kemerdekaan mereka─ramai-ramai. Kini otoritas teolog dilucuti. Liberalis berusaha menghancurkan fundamentalis─dan kita seperti menyaksikan sebuah kutub ekstrim lain yang muncul dari dendam dan benci. Tak ada lagi yang boleh mengatakan bahwa tafsir kitab hanya milik Gereja dan pendeta. Cendekiawan, dan siapa saja, bebas mengatakan apa pun tentang kitab suci, tentang apa saja. Bahasa Bibel yang susah, kata Duane A. Priebe, menguatkan kebebasan itu. Bahasa yang sulit menyebabkan umat kesulitan untuk mencari makna Tuhan dan agama. Maka mulailah pendekatan hermeneutik dan kritik terhadap teks. Di Barat, kini mempelajari ilmu sama dengan upaya mencari kebenaran, namun bukan untuk meneguhkan iman kepada Tuhan. Sebab, Tuhan telah dijauhkan dan kebenaran tak cuma satu. Otoritas teolog, demikian tulis Hamid Zarkasyi dalam Misykat, benar-benar telah diambil alih oleh otoritas filsuf dan saintis.

Sikap dan pemikiran para filsuf dan saintis pada Gereja dan pendeta itu meluber ke sikap pada Islam. Mereka mempengaruhi umat Islam agar percaya pada pluralisme ─sesuatu yang berasal dari yang kelam dan dendam dari sejarah Barat. Mereka berusaha, dan tak juga capek, mengguyah iman umat muslim yang mempercayai akidah tunggal pada Quran dan meletakkan otoritas dan tafsirnya pada ulama-ulama terpercaya (dengan syarat macam-macam dan ketat untuk bisa disebut “terpercaya”). Sikap itu dibawa ke dunia Timur (yang mayoritas Islam dan berpegang teguh pada iman antiliberal dan antipluralis), seakan-akan “dunia harus tahu”.

Tapi kehancuran konsep agama dan Tuhan di Barat, serta merosotnya otoritas teolog itu sendiri telah diramalkan. Dalam Islam ada suatu hadits: jika suatu perkara diberikan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah waktu kehancurannya.
Profile Image for Azizah Zahra.
96 reviews17 followers
April 15, 2020
Buku ini mengupas tentang pandangan alam Barat yang populer dibicarakan, terutama di kalangan akademisi, tetapi sedikit dipahami secara mendalam. Melalui buku ini Dr. Hamid sukses memaparkan tentang Barat, pemikiran Barat dan Islam dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami tanpa “menyederhanakan” (baca: menyepelekan) permasalahan yang ada.
.
Ibarat Covid-19, worldview Barat adalah virus bagi akal dan pemikiran manusia, khususnya umat Islam. Worldview ini lebih dahulu diperkenalkan oleh para saintis, ilmuwan, serta filsuf; disokong oleh para pendidik dan akademisi di kampus-kampus. Maka kelompok yang pertama dan paling beresiko terpapar virus worldview ini adalah mereka yang memiliki akses ke pendidikan. Namun tentunya mereka bukan satu-satunya yang akan terpapar. Karena mereka berkemungkinan besar untuk menjadi carrier seperti halnya para traveller dalam kasus Covid-19.
.
Untuk melawan virus diperlukan vaksin atau kalau dalam istilah komputer, perangkat lunak antivirus. Covid-19 jelas belum memiliki vaksin. Tetapi untuk virus worldvıew yang kita bicarakan dalam tulisan ini, buku Misykat-nya Dr. Hamid dapat digunakan sebagai antivirus dalam langkah melawan worldview Barat. Kalau harus dibandingkan dengan perangkat lunak, buku ini sebanding dengan Smad-AV. Kinerjanya baik dan bersaing dengan antivirus premium yang berbayar serta efektif sebagai langkah awal menangkal virus di komputer.
.
Buku ini ibarat scanner atau alat pemindai virus. Seperti halnya kuisioner yang kita dapatkan untuk mengecek adanya kemungkinan diri kita terinfeksi covid-19: berapa suhu badan anda? Apakah anda menderita batuk, pilek atau demam? Maka setiap subbab dalam buku ini seakan memindai keberadaan virus worldview Barat.

Menurut saya, Dr. Hamid memilih judul yang tepat untuk karya beliau. "Refleksi". Karena ketika membaca buku ini saya betul-betul merasa sedang melakukan muhasabah diri. Terlontar pertanyaan: Adakah dalam diri saya pemikiran Barat sebagaimana yang beliau tuliskan? Banyak ataupun sedikit, sudah ter-Barat-kankah saya?
Profile Image for Mare Mare.
Author 6 books1 follower
January 9, 2025
Buku ini kata temanku ada di perpustakaan masjid Indonesia Frankfurt. Dan buku ini memang harus dibaca oleh umat Islam, karena banyak dari umat Islam di Indonesia yang terhegemoni pemikiran yang dilahirkan oleh peradaban Barat. Tidak heran karena masuknya pemikiran Barat sudah masuk ke dalam kurikulum, bahkan pemikirannya diadopsi oleh dosen-dosen di Perguruan Tinggi Islam. Tentu saja aku tidak akan menyangkalnya karena aku sendiri bekerja di institusi tersebut.

Buku ini sebuah upaya melihat Barat dengan program westernisasi dan liberalisasinya secara objektif dengan tetap mempertahankan cara pandang Islam. Sekilas terlihat konfrontatif dan anti Barat tapi sejatinya itu adalah sikap kritis-argumentatif. Di tengah orang-orang silau dengan peradaban Barat, buku ini bagaikan oase untuk menyegarkan pemikiran umat Islam.

Di buku ini dijelaskan tentang istilah barat, timur, Tuhan, agama, argumen kecerdasan dan keimanan (yang belum lama ini sempat viral), filsafat agama, humanisme, ateis. Lalu pembahasan ideologi dan teologi liberal dibahas dari tragedi 9/11 WTC. Dibahas juga tentang istilah moderat dan radikal (yang jadi momok pembahasan di Indonesia, termasuk tes CPNS kategori ini pasti masuk), pluralisme dan toleransi,eksklusif dan inklusif, feminisme dan keadilan gender, dan masih banyak lagi.

Part yang aku suka adalah bab tanya-jawab dengan Pak Prof Hamid. Beliau memang orang filsafat, tapi bahasa buku ini ringan dan beberapa menceritakan pengalaman beliau selama di Inggris. Beliau ini salah satu contoh orang yang mengenyam pendidikan di Barat, tapi bisa bersikap kritis terhadap pemikiran Barat. Makanya beliau pernah dikritik oleh teman sejawatnya (kalau ga salah), beliau ini belajar dari orang-orang orientalis tapi mengkritik pemikirannya.

Buku ini wajib dibaca oleh semua kalangan. Sekarang umat Islam juga perlu mengetahui bahwa banyak muslim yang terjajah secara pemikirannya tanpa sadar.
Profile Image for Ahmad Hanif.
37 reviews
December 24, 2023
Saat awal-awal saya kuliah saya juga pernah bersentuhan dengan sedikit tulisan-tulisan daripada tema "anarkisme"
Wacana yang diangkat dalam anarkisme adalah sedikitnya "setiap individu ataupun kolektif masyarakat tidak boleh ter-kekang oleh segala bentuk penindasan yaitu penindasan yang dilakukan oleh segala macam bentuk otoritas -dalam hal ini termasuk otoritas agama- terutama otoritas negara, menolak segala macam bentuk diskriminasi dalam bentuk gender, agama dan sebagainya.

Ketika saya membaca buku ini memang gus hamid tidak menyebut satu pun pemikiran anarkisme, tapi salah satu tema yang sering digaungkan dalam anarkisme adalah mereka wajib membela keadilan, ke-sama rataan, ke-setaraan. Dalam hal ini juga kesetaraan gender. Dalam bentuk otoritas keluarga bukan hanya laki-laki yang boleh memimpin keluarga,
Isme yang satu ini juga bisa dibilang menolak fitrah yang Allah karuniakan dalam islam, karena rusak nya ilmu sehingga mereka gagal mendapatkan hikmah dalam dīn ini.

Bisa disimpulkan cabang-cabang ide pemikiran anarkisme sedikitnya adalah pluralisme agama, kesetaraan gender, pro-lgbtq, dan itu semua disanggah oleh gus hamid dalam buku ini dengan bahasa yang mudah dipahami.
Pun buku ini sangat luar biasa membahas aliran-aliran pemikiran filsafat yang menjadi tema paling diminati oleh mahasiswa, yang kebanyakan mereka terjatuh dalam kesesatan berfikir ala filsafat Barat yang implikasi nya hingga taraf kekufuran.
Buku ini juga sangat cocok jika di-padu bacakan oleh buku yang ditulis oleh ustadz adian husaini yaitu "wajah peradaban Barat" Karena dengan membaca kedua nya kita akan mendapatkan pemahaman yang bersambung.

Syukron jazzakumullah khoiron katsiron gus hamid fahmi Zarkasyi dan juga guru-guru dari insist. Barakallahu fiikum.
Profile Image for wina.
98 reviews1 follower
July 14, 2020
ini bintang lima maksimal banget ya? gabisa lebih ya?
wkwkwkwk

usaha tak mengkhianati hasil,
referensi buku Ustad Hamid Fahmy bikin aku rasanya ingin menarik nafas sambil memejamkan mata terus teringat
'ya ampun, waktu aku tuh selama ini buat apa aja, ya, sangat tidak produktif banget sih'
fyi, referensi buku aja dari halaman 266 sampai dengan halaman 273

it's a must read book banget, buat yang ingin tau aliran-aliran apa saja yang menggerogoti umat beragama di dunia, terutama umat Islam yang keliatan banget paling susah ditembus...
lumayan paham ideologi dasar mereka, apa yang menggerakkan mereka, dan pertarungan ideologi ini serius banget,

yang paling penting, bahasanya ustad sangat amat mudah sekali dipahami, nggak ngejlimet

banyak juga sebenernya para profesor barat di beberapa universitas luar negeri, peneliti-peneliti yang nggak sepaham sama aliran-aliran ini,

yang jelas, someday kalau dikasih Allah anak lelaki akan kunamain 'Ghazali'
hehehehe
Profile Image for Aly.
13 reviews
September 30, 2022
Lugas, jelas, to the point. Nendang banget pembahasannya. Banyak membuka pikiran dan memperluas pengetahuan saya. Beberapa kebingungan dan keraguan soal isu2 yang beredar masif masa kini juga terjawab oleh buku ini. Kadang2 harus nyari tau lebih sih hal yang nggak secara detail dijelaskan di sini, tapi ini bagus jadi pemicu keingintahuan buat orang2 yang belum tau apa-apa macam saya.

Semakin yakin kalau Islam punya konsep yang sempurna, tanpa perlu berbagai -isme lain produk manusia. Kitanya aja yang praktiknya belum menyeluruh, pengetahuan masih dangkal, jadi mudah terpengaruh sama pemikiran lain yang bahkan nggak sejalan prinsipnya dengan Islam. Kesimpulannya harus belajar, belajar, dan belajar lagi. Ada pendidikan generasi yang harus dijaga, karena moral bukan hal yang remeh temeh. Dan, semuanya dimulai dari diri sendiri.
Profile Image for Vinanuraa.
70 reviews
March 7, 2022
Buku pemikiran pertama yang saya baca. Memilih ini karena pada waktu itu aku lagi rancu2nya banged sama dunia ditengah banyaknya pemikiran dan teori sewaktu belajar mata kuliahku dibidang sosial.

Buku ini mampu menggambarkanku sebuah pijakan untuk melihat dunia dari sudut pandang islam, islamic worldview. Bukan karena kita tidak terbuka dengan pemikiran lain bukan, namun karena memang islam adalah sebuah beliefs yang memang seharusnya menjadi landasan kita untuk berpikir.

Bagi orang yang pertama kali baca buku pemikiran, topik ini berat, meskipun bahasanya ringan. Overall, aku suka dan bersyukur telah dipertemukan dengan buku ini sebelumnya.
Profile Image for Rio Rahman.
1 review20 followers
March 6, 2018
Baca pendahuluan, kemudian baca daftar isinya, buku yang saya beli tanggal 28 Maret 2017, baru saya baca kembali akhir bln februari 2018 karena sudah gk ngerti sama bahasanya yang menjelimet..
alhamdulillah dengan membaca buku” pendahulun yang lebih ringan bisa membantu dalam memahami buku ini, sperti buku liberalisasi Islam di Indonesia, kritik, tantangan dan solusinya, karya Dr. Adian Husain, kemudian buku Islam Gak Liberal karya Zaky Ahmad Rivai.. sabar insyaAllah banyak manfaat nya buku ini..
Profile Image for Isom Rusydi.
11 reviews
October 12, 2017
Sangat munafik sekali jika Barat selama ini dielu-elukan dengan kemajuannya. Betul mereka maju, tapi mereka kering dengan nilai-nilai. Maka sangat masuk akal sekali jika Edward Said mengatakan bahwa Timur adalah sesuatu yang menakutkan Barat. Timur adalah sumber-sumber nilai sedangkan Barat adalah hedonisme postmodern.

Memabaca Misykat, saya lebih paham mengapa akhir-akhir ini dunia disibukkan dengan anomali bernama Barat.
Profile Image for Nur Ikma Chasanah.
7 reviews
June 5, 2019
Perang yang Islam hadapi sekarang bukanlah senjata api dan bom yang berhubungan dengan fisik. Tapi pemikiran-pemikiran yang menjamah masyarakat khususnya kaum muda yang tanpa disadari telah merusak egolah yang menjadi arti sejati dari perang itu. Disampaikan secara gamblang dan jelas, sekularisasi dan pemikiran pemikiran yang merusak, sangat sayang ubtuk tidak dibaca. Buku ini adalah hadiah yang saya terima dari dosen saya, semoga kita semua bisa mengambil manfaat dari buku ini.
15 reviews
April 27, 2025
menurutku buku ini lumayan runtut dalam penyampaian. tapi perlu diingat bahwa yang dipaparkan adalah sebuah penjelasan dari wacana yg disampaikan.. kesalahanku adalah membawa penjelasan itu lebih dalam dan menyikapinya lebih dari sekedar wacana. jadi baca buku ini juga harus bijak, kalau mulai oleng, segera konsul ke guru. bisa jadi kita belum bisa membedakan mana yang harus kita ikuti mana yang cukup kita tau dan kita baca.
5 reviews
January 6, 2020
Dalam buku yang ditulis oleh Pak Hamid ini, saya menemukan berbagai sanggahan terhadap pandangan Barat sekaligus upaya reorientasi muslim terhadap pandangan-pandangan tersebut. Saya suka. Buku dapat menjadi rem buat teman-teman yang pemahaman filsafat Baratnya terlalu "kenceng". Dalam artian siap menabrak sana sini. Selamat membaca.
3 reviews9 followers
January 19, 2018
SPEKTAKULER!
Penulis sangat memahami pemikiran-pemikiran Barat sekaligus melihat, menilai, dan mengritisinya dengan rapi. Bahasanya-pun tidak terlalu tinggi sehingga mudah dipahami. Cocok dibaca oleh akademisi agar tidak terbuai dengan paham-paham yang berasal dari Barat.
Profile Image for Ulfa Isnayani.
44 reviews1 follower
March 16, 2022
Buku ini memberikan pandangan penulis mengenai westernisasi, liberalisasi, dan pandangan lain mengenai Islam. Pembahasan yang sebenarnya berat, tetapi dikemas dalam bentuk sederhana dan mudah dipahami oleh orang awam.
Profile Image for Aisyah.
7 reviews
December 31, 2025
Pembahasan mendalam tapi berbahasa yg ringan banget. Cocok dibaca bagi yg awam maupun sdh & sdg mempelajari 3 topik ini (islam, westernisasi, liberalisasi). Selalu jadi rekomendasi buat siapapun yg tertarik dg pemikiran Islam! 😁
Profile Image for Nasrullah.
3 reviews
July 28, 2017
Bagi yang ingin mengetahui apakah cabaran dan halangan yang dihadapi ISLAM dan umatnya pada abad ini, tanpa ragu-ragu saya mengatakan buku ini WAJIB bagi kalian membacanya. Titik.
Profile Image for Ibnu Sahidin.
5 reviews3 followers
November 28, 2020
Buku yang dengan ringan mampu menjelaskan pemikiran Barat beserta kritik atasnya. Sederhana dan mudah dipahami.
1 review
July 7, 2021
Sangat bagussss dan luarbiasa
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Danang.
14 reviews
October 10, 2021
Sangat menginspirasi dan membuka wawasan cakrawala pemikiran.., semoga ada Volume 2 nya.,
Displaying 1 - 30 of 56 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.