MUHAMMAD
SAYA selalu menyebut namanya, mendoakan tiap pagi dan petang, sebisa saya. Saya mencoba mencintainya─Nabi saya Muhammad saw.─meskipun iman saya rapuh dan penuh noda. Ada satu sabda yang saya ingat, yang menjadi alasan mengapa saya terus, dan akan terus, melakukan hal itu: “Kau akan bersama yang kaucinta.”
Maka tiap kali saya menyebutnya dalam doa (Islam menamakannya “shalawat Nabi”), saya terbayang Anas bin Malik, dan jadi sedikit gembira: amal ibadah saya tak ada seujung kukunya, tapi saya mencintainya, maka saya akan bersamanya. Kalau Nabi di surga─dan dia memang akan di surga─saya boleh berharap seperti Anas bin Malik, “Semoga kelak saya bersama di sisi-Nya.”
Tentu saja saya jauh dari pantas untuk mendapat surga, bahkan meski itu surga paling bawah. Harapan itu sendiri sebenarnya konyol: saya cuma mau cari aman di akhirat dengan menempel Nabi, tapi hidup enak di dunia dengan sering melanggar ajaran-ajarannya.
Memang Nabi Muhammad saw. yang saya kenal ialah lelaki luar biasa, bahkan bagi Barat. Salah satu kehebatan yang sering disebut-sebut adalah kemampuannya membangun peradaban hanya dalam waktu 23 tahun masa hidupnya. Dan ia mulai menjadi jenderal perang dari umur cukup senja, 50 tahun─di usia yang sama dengan James Bond 007 dalam Skyfall yang sudah agak meragukan untuk tetap jadi agen lapangan.
Michael Hart, ilmuwan Barat, memasukkannya sebagai manusia paling berpengaruh nomor satu di dunia sepanjang masa, di atas Isaac Newton, di atas Jesus, atau Einstein─sampai sekarang tak ada tanda-tanda akan turun jadi nomor dua atau tiga.
●●●
Tapi orang baik dan hebat tak pernah luput dari cela: sebaik apa pun manusia (tak perlu harus jauh-jauh, lihat saja di sekitar kita), pasti akan ada yang meragukannya. Hal seperti itu tak terelakkan. Seakan-akan orang hidup hanya untuk cari borok.
Dan sejarah menghadirkan celaan yang cukup panjang terhadap seorang nabi akhir zaman bernama Muhammad.
Pada tahun 1997, di kota Hebron, Tatiana Soskin mencoba menempelkan gambar Muhammad dalam bentuk babi sedang membaca Qur’an. Di awal abad 21, tepatnya tahun 2002, pemenang Pulitzer Doug Marlette menyebar gambar Muhammad mengendarai truk yang membawa roket nuklir. Itu adalah tahun di mana dunia terkejut dengan Tragedi 9/11. Tak cukup, pada tahun 2004, Theo van Gogh melalui film Submission memperlihatkan tubuh empat wanita bugil yang ditulisi ayat-ayat Qur’an. Kita tahu akhir Theo van Gogh: ia mati dibunuh Mohammad Bouyeri di Amsterdam. Ayaan, rekan perempuan van Gogh dalam pembuatan film itu, seirama. Ia adalah seorang yang tekun menuding Islam sebagai pembawa kabar buruk penindasan bagi perempuan. Ia seolah tahu “yang dibutuhkan kebudayaan Islam adalah buku, lakon, puisi, dan lagu yang… mengejek aturan agama”. Di Denmark, tahun 2005, surat kabar Jyllands-Posten menerbitkan kartun Nabi.
Tapi rupanya tak sependek itu. Celaan itu agaknya hanya perpanjangan masa lalu. Di zaman Pencerahan, Voltaire menganggap Muhammad sebagai ekstrimis dan pendusta yang canggih. Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang berperan dalam penaklukan Aceh, “expect to hear that Muhammad never existed"─mengharapkan untuk mendengar bahwa Muhammad tidak pernah ada. Sekitar dua setengah dekade kemudian Liutsian Klimovich, orientalis Soviet, pada tahun 1930 mewujudkan harapan Hurgronje: ia tanpa gentar menulis artikel Did Muhammad Exist?. Di dalamnya ia menganggap Muhammad makhluk fiksi. Adanya Muhammad, menurut Klimovich, hanya hasil asumsi bahwa setiap risalah agama harus memiliki seorang pembawa dan pendiri.
Kita belum bisa berhenti. Pada abad-abad yang lebih jauh, seorang pendeta di Maimuna tahun 743 menyebut Nabi Muhammad saw. sebagai nabi palsu. Peter Bede (673-735) dari Inggris lebih radikal lagi. Ia menyebut Muhammad “a wild man of desert”─seorang manusia padang pasir yang liar. Pada masa-masa yang hampir berdekatan itu kita juga bisa mendengar simpulan cerita Yahya al-Dimasyqi: Muhammad adalah seorang yang licik, punya epilepsi, dan hobi perang.
Apakah kita umat Islam, saya, perlu marah dan kaget?
Bagi orang yang mengetahui sirah Nabi, celaan-celaan itu sebenarnya tidak begitu, dan tidak perlu, mengagetkan. Di zaman Nabi suara-suara semacam itu sudah terdengar─dan mungkin lebih keras, lebih jelas, disertai lemparan batu dan kotoran manusia. Suara-suara itu, suara yang mengingkari kenabian, sempat membuat sedih sang Nabi. Maka dalam surat Yasin, surat yang dijuluki jantung Al-Qur’an, sampai-sampai turun ayat dengan sumpah yang amat kuat dari Tuhan untuk meneguhkan sang Nabi: Muhammad adalah “sebagian dari salah satu rasul-rasul-Nya”.
Apa yang dikatakan para orientalis Barat dari masa ke masa memang mirip-mirip. Pada dasarnya, mereka mengingkari Muhammad dan Quran. Hamid Fahmi Zarkasyi menyebut dalam Misykat─sebuah buku yang sangat cerdas dan tajam melihat westernisasi dan liberalisasi─bahwa serangan terhadap Islam terjadi karena agama-agama yang pemeluknya ramai di Barat itu merasa terancam dengan ayat-ayat Qur’an. Dalam al-Maidah bisa kita temukan: “telah kafir orang-orang yang berkata Allah ialah al-Masih putra Maryam” dan “orang-orang yang mengatakan bahwasannya Allah salah satu dari tiga”. Surat yang lain, an-Nisa ayat 157, menceritakan bahwa Isa yang dibunuh dan disalib (yang kemudian dipercaya sebagai Tuhan Jesus) adalah “orang yang diserupakan dengan Isa”.
Tapi apakah hanya Muhammad satu-satunya Nabi yang dihina? Rupanya tidak. Isa al-Masih, atau Jesus, tercatat cukup sering dilecehkan di Barat. Pada tahun 2004, misalnya, sebuah media internet di Amerika memuat kartun yang menggambarkan Jesus disalib memakai celana pendek dan piyama setan. Judulnya: Jesus Dress Up. Pada tahun 2008 di Linkoping, Swedia, muncul poster di depan umum berjudul Ounx against Christ. Gambarannya menyakitkan bagi Kristen yang taat: seekor setan memberaki Jesus di tiang salib. Pimpinan redaksi koran yang memuat poster itu bertubi-tubi menerima ancaman hukuman mati.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Alexander Pushkin, sastrawan Rusia abad 19 yang berasal dari keluarga kaum ningrat, pernah menyebut orang-orang yang menghina orang-orang luhur dengan “berwatak rendah”. Tapi benarkah cuma itu?
●●●
Rupanya masalahnya bukan hanya “berwatak rendah”. Di Barat, kini, tiap-tiap makhluk (bahkan kalau hewan dan tumbuhan mampu) boleh bicara asal perihal nabi, agama, bahkan Tuhan.
Dari mana sikap itu berasal?
Alasan meninggikan hak asasi manusia sepertinya tak cukup. Kita bisa mulai menelisik dari sebuah pertanyaan mengapa dan bagaimana Abad Pencerahan muncul.
Di Eropa, kuasa kepausan mulai besar saat Perang Salib. Paus Urbanus II menggunakan semangat agama untuk memprovokasi Kristen dalam Perang Salib. Hasilnya, ratusan ribu umat Islam dibantai sejak mulainya Perang Salib tahun 1095. Tak hanya itu, ada suatu masa di mana Kerajaan, Dewan Inkuisisi dan Gereja bersatu memvonis para pelaku bid’ah yang tak sepaham dengan doktrin Paus dan melakukan takhayul─contoh terkenal adalah Galileo Galilei, karena keyakinan sainsnya. Hukumannya macam-macam, dan sangat mengerikan. Dihancurkan jarinya atau dibakar hidup-hidup barangkali hanya salah satu yang termasuk ringan. Pelaku zina, misalnya, akan digergaji dari alat kelamin hingga badan. Sampai ada yang bertanya: adakah kekejaman yang melebihi kekejaman Gereja?
Dari peristiwa-peristiwa itu Gereja dianggap terlalu jauh masuk ke dalam kekuasaan politik. Voltaire pun menghajar Gereja Katolik. Ia gencar mengatakan Tuhan tidak boleh bertentangan dengan akal, Tuhan tak boleh ikut campur dalam kebebasan manusia. Tuhan mulai tak lagi menjadi pusat. Sebab Tuhan Yahudi tiran, Tuhan Kristen barbar, kata Hegel. Lalu tenar ucapan Rene Descartes: “aku berpikir maka aku ada”. Di sini manusia Eropa mulai mengunggulkan akal. Manusia mulai menjadi pusat, menggantikan Tuhan ─sebuah kelahiran humanisme.
Tapi peran akal itu agaknya maju lebih jauh. Tak melulu di bidang sains yang memunculkan beragam penemuan penting yang membantu kerja manusia di bumi, akal mulai merambah dalam urusan-urusan terkait agama. Pembicaraan dan konsep mengenai Bibel, Tuhan, dan agama, dilakukan para filsuf dan sains. Konsep itu lalu dikutip sana-sini, dipercaya lebih dari konsep yang datang dari teolog. Sebab muncul keyakinan baru posmodernisme: mereka menggoyang setiap klaim absolut yang datang.
Di Abad Pencerahan ini kita melihat sejarah yang berbalik: orang-orang Barat menjadi skeptis pada gereja dan pendeta, yang dulu terlalu berlebihan mengekang kebebasan. Mereka menyerang agama dan Tuhan─yang dulu membelenggu kemerdekaan mereka─ramai-ramai. Kini otoritas teolog dilucuti. Liberalis berusaha menghancurkan fundamentalis─dan kita seperti menyaksikan sebuah kutub ekstrim lain yang muncul dari dendam dan benci. Tak ada lagi yang boleh mengatakan bahwa tafsir kitab hanya milik Gereja dan pendeta. Cendekiawan, dan siapa saja, bebas mengatakan apa pun tentang kitab suci, tentang apa saja. Bahasa Bibel yang susah, kata Duane A. Priebe, menguatkan kebebasan itu. Bahasa yang sulit menyebabkan umat kesulitan untuk mencari makna Tuhan dan agama. Maka mulailah pendekatan hermeneutik dan kritik terhadap teks. Di Barat, kini mempelajari ilmu sama dengan upaya mencari kebenaran, namun bukan untuk meneguhkan iman kepada Tuhan. Sebab, Tuhan telah dijauhkan dan kebenaran tak cuma satu. Otoritas teolog, demikian tulis Hamid Zarkasyi dalam Misykat, benar-benar telah diambil alih oleh otoritas filsuf dan saintis.
Sikap dan pemikiran para filsuf dan saintis pada Gereja dan pendeta itu meluber ke sikap pada Islam. Mereka mempengaruhi umat Islam agar percaya pada pluralisme ─sesuatu yang berasal dari yang kelam dan dendam dari sejarah Barat. Mereka berusaha, dan tak juga capek, mengguyah iman umat muslim yang mempercayai akidah tunggal pada Quran dan meletakkan otoritas dan tafsirnya pada ulama-ulama terpercaya (dengan syarat macam-macam dan ketat untuk bisa disebut “terpercaya”). Sikap itu dibawa ke dunia Timur (yang mayoritas Islam dan berpegang teguh pada iman antiliberal dan antipluralis), seakan-akan “dunia harus tahu”.
Tapi kehancuran konsep agama dan Tuhan di Barat, serta merosotnya otoritas teolog itu sendiri telah diramalkan. Dalam Islam ada suatu hadits: jika suatu perkara diberikan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah waktu kehancurannya.