Jump to ratings and reviews
Rate this book

Buya Hamka: Antara Kelurusan 'Aqidah dan Pluralisme

Rate this book
Meski nama Hamka masih dikenang kebesarannya, namun pemikirannya tidak lagi banyak digali oleh umat Muslim Indonesia. Bagaimana jika nama besar nan harum itu dimanfaatkan untuk mendukung paham yang menyatakan bahwa semua agama itu sama (pluralisme)?

Buku ini mengulas secara lengkap tipu muslihat yang telah dilakukan oleh kaum pluralis dengan menggunakan karya-karya Hamka sebagai rujukannya. Dituturkan secara gamblang dan provokatif, karya ini sangat perlu dimiliki oleh siapa pun yang mengenal nama besar Hamka. Buku ini, insya Allah, akan menjadi awal dari sebuah gerakan besar penggalian kembali pemikiran Buya Hamka.

Susunan Bab dalam buku ini adalah sebagai berikut:

BAB 1: Islam dan Toleransi Beragama
(a) Eksluksif, Inklusif dan Pluralis

BAB 2: Buya Hamka
(a) Pendidikan dan Keluarga, (b) Ulama Multitalenta, (c) Pahlawan Nasional, (d) Klaim Pluralisme Terhadap Buya Hamka dan Konsekuensinya

BAB 3: Pluralisme Agama
(a) Sejarah Pluralisme, (b) Tren-tren Pluralisme

BAB 4: Islam dan Pluralisme
(a) 'Ayat-ayat Pluralis', (b) Kritik Para Cendekiawan Muslim Terhadap Pluralisme, (c) Klaim Pluralisme Terhadap Buya Hamka

BAB 5: Konsep Hubungan Antar Umat Beragama Menurut Hamka
(a) Konsep Agama, (b) Islam dan Agama-agama Selainnya, (c) Aliran-aliran Sesat, (d) Aliran-aliran Kepercayaan, Kultus Individu dan Sinkretisme, (e) Komunisme, Sekularisme dan Pancasila, (f) Toleransi Beragama

BAB 6: Menguji Klaim Pluralisme
(a) Hamka dan Humanisme Sekuler, (b) Hamka dan Teologi Global, (c) Hamka dan Sinkretisme, (d) Hamka dan Hikmah Abadi, (e) Hamka dan Teosofi-Freemasonry, (f) Penafsiran Hamka Terhadap 'Ayat-ayat Pluralis'

BAB 7: Timbangan Akhir
(a) Kasus Ahmad Syafii Maarif, (b) Kasus Ayang Utriza NWAY, (c) Kasus Hamka Haq, (d) Kesimpulan dan Rekomendasi





Kata Pengantar I:
Rusydi Hamka (putra Buya Hamka)

Kata Pengantar II:
Buya Masoed Abidin (ulama senior Minangkabau, mantan Ketua MUI Sumatera Barat, mantan Ketua DDII Sumatera Barat, mantan Sekretaris Pribadi Moh. Natsir)

Kata Pengantar III:
Dr. Suhairy Ilyas (Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat, dosen di pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta)





Buya Hamka adalah tokoh penting dalam sejarah Muhammadiyah dan salah satu ulama besar yang pernah dimiliki Indonesia. Pemikiran Hamka selalu menarik untuk dikaji secara akademik, baik dalam aspek teologis, tasawuf, peran perempuan maupun tema-tema lainnya. Akmal Sjafril adalah salah satu di antara para akademisi yang mengkaji pemikiran Hamka, khusus tentang isu pluralisme agama – sebuah isu yang belakangan ini kontroversial. Buku ini layak dibaca dan dibeli. (Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc. M.Ag. - Ketua PP Muhammadiyah)

248 pages, Paperback

First published March 20, 2012

18 people are currently reading
239 people want to read

About the author

Akmal Sjafril

6 books139 followers
Numpang lahir di Jakarta pada tanggal 14 Juni 1981, kemudian dibawa pindah saat masih bayi ke Kota Hujan, disambut dengan meletusnya Gunung Galunggung. Anak bungsu dari tiga bersaudara, waktu kecil hobi menggambar dan bersepeda, setelah dewasa doyan menulis dan main basket. Menempuh pendidikan di SDN Pengadilan 2 Bogor, SMPN 1 Bogor, SMAN 1 Bogor, kemudian melanjutkan kuliah S1 di Teknik Sipil ITB.

Menjadi blogger sejak tahun 2005, kerap menulis seputar pemikiran Islam. Selepas kuliah S1 pada tahun 2006 langsung menikah (nggak pake lama!) dengan Rahmi Awaliah. Pada tahun 2007 mendapatkan beasiswa dari Program Kaderisasi Ulama (PKU) kerja sama Baznas dan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) untuk kuliah pascasarjana di Jurusan Pendidikan dan Pemikiran Islam, Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Bogor. Menamatkan kuliah S2 pada tahun 2009 di bawah bimbingan Dr. Adian Husaini dan Dr. Suhairy Ilyas dengan tesis berjudul “Studi Komparatif Antara Pluralisme Agama dengan Konsep Hubungan Antar Umat Beragama dalam Pemikiran Hamka“. Pernah mengajar di beberapa kampus, aktif sebagai peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS). Pada tahun 2010 menerbitkan buku pertama yang berjudul Islam Liberal 101.

Pada tahun 2012 turut mendirikan #IndonesiaTanpaJIL (ITJ), dan dikaruniai anak pertama (Afnan Malik Akmal) pada tahun yang sama. Mendirikan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) pada tahun 2014, dan sejak tahun 2016 menjadi pengurus Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia. Pada bulan Agustus 2017 terpilih sebagai Koordinator Pusat ITJ, dan tak lama kemudian meneruskan studinya (S3) di Program Studi Ilmu Sejarah, Universitas Indonesia (UI). Dikaruniai anak kedua, Aynan Karim Akmal, pada tahun 2020.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
35 (47%)
4 stars
28 (38%)
3 stars
5 (6%)
2 stars
2 (2%)
1 star
3 (4%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Boyke.
2 reviews1 follower
June 4, 2012
Buku ini membuka mata, bahwa ide pluralisme adalah ide usang semenjak negeri ini baru jadi. Buya HAMKA sebagai ulama, sudah menghadapi argumentasi mereka dengan bijak, tentu saja melalui tulisan-tulisannya yang sangat 'nyastera' ala ulama penulis dahulu. Tapi tetap saja tersirat argumentasi yang cerdas layaknya orang yang memang bukan saja kaya ilmu tapi juga tahu membimbing arah ilmunya dengan keimanan.
Saya yakin banyak pula ulama-ulama dahulu yang tidak dipedulikan oleh sejarah atau malah sengaja dihapus dari sejarah yang mempunyai sikap dan pemikiran sehebat Buya HAMKA. Belum pernah saya kagum sama seorang Buya HAMKA sebelum saya membaca buku ini. Kekuatan iman yang didampingi dengan dalamnya ilmu agama Islam mestinya menjadi contoh bagi kita generasi kini dan kita turunkan ke anak-cucu nanti.
Profile Image for Hadiyatussalamah Pusfa.
109 reviews11 followers
January 23, 2013
Saya baru tahu akhir-akhir ini, bahwa seorang Buya Hamka adalah salah seorang ulama besar yang pemikirannya dikaitkan dengan pluralisme. Yap. Katanya, Buya Hamka adalah seorang pluralis. Katanya. Saya pribadi sebenarnya hanya mengenal sosok Buya Hamka sebagai seorang sastrawan karena saat SMA, guru bahasa Indonesia saya memberi tugas untuk membaca karya sastra angkatan dulu-dulu. Rasa penasaran saya membuncah saat membaca TL @malakmalakmal. Katanya, di negeri jiran sana, pemikiran Buya Hamka selalu digali, buku-bukunya tidak pernah kehabisan pembaca, dll.. Saya aneh, kok segitunya ya? Emang Buya Hamka itu siapa? Bukannya sastrawan? Palingan setahu saya, beliau itu membuat Tafsir Al Azhar. Kok orang Malaysia segitunya ya? Dari sinilah saya tergelitik untuk mencari tahu lebih lanjut. Sebagai seorang muslim, sebagai orang Indonesia, masa ga kenal sama tokoh sekaliber Buya Hamka.

Dalam buku ini, sebenarnya tidak digambarkan secara gamblang perjalanan hidup beliau. Memang bukan biografi. Pada intinya, Buya Hamka ini merupakan seorang ulama, pendidik, akademisi, politisi, filsuf, sastrawan, sejarawan, penulis, jurnalis, dll.. Karya-karyanya pun beragam dan kaya akan ilmu. Mulai dari tafsir, hadits, aqidah, fiqih, falsafah, tasauf, sejarah Islam, satra dan kebudayaan Islam, dll.. Tidak diragukan lagi bahwa Buya Hamka itu bukan sosok sembarangan.

Lalu, apa masalahnya? Ternyata banyak oknum yang mengaitkan beliau dengan pluralisme. Benarkah seorang Buya Hamka menyetujui adanya pluralisme? Memangnya pluralisme sudah ada sejak kapan? Disini kita bisa memahami pemikiran Buya Hamka mengenai pluralisme dengan cukup mendalam. Selamat membaca :)
Profile Image for Atique euqita.
150 reviews6 followers
July 30, 2018
Untuk saya pribadi buku ini agak komplikatif untuk direview, isinya meluruskan pandangan beberapa tokoh pluralis dan liberalis di indonesia terhadap sosok seorang Buya Hamka.

Memaparkan biografi ringkas Buya Hamka dan pandangan2 para penganut paham pluralis tersebut dalam buku ini yang lebih mengedepankan opini dan nafas plural mereka daripada fakta kelurusan Aqidah Buya Hamka, memelintir maksud pernyataan dan tafsiran2 Al Quran dari seorang Buya Hamka dan memasukkannya dalam 'golongan mereka', sebagai seorang tokoh agamis yang pluralis di indonesia.

Dari daftar pustaka yang ada di buku ini, menunjukkan kalau penulis mengumpulkan banyak referensi dan fakta tertulis untuk mengkaji dan mematahkan penokohan Buya Hamka sebagai sorang Pluralis. Buya Hamka seorang agamis yang lebih mengutamakan kelurusan aqidah berdasarkan Quran dan hadist sesuai dengan pemahaman para solafus shaleh..
Profile Image for Rainilamsari.
181 reviews20 followers
August 19, 2021
Just finish a thesis by Ust. Akmal Sjafril “Sebuah sumbangsih kecil dalam sebuah pekerjaan besar,” akunya. Maasya Allah, tabarakallah, Gurunda.

Sebelumnya, Buya Hamka pun ‘mitos’ bagi saya; tinggi di awang-awang, jauh, tak terjangkau. Nggak banyak pula yang saya ketahui tentang beliau kecuali tiga kata kunci, yakni ulama, Minang, dan tokoh sastra.

Membaca karya ilmiah, belum pernah seajaib ini rasa-rasanya. Beberapa keterangan yang disampaikan membuat diri tetiba rindu sosoknya. Beberapa ulasan mengenai apa-apa yang beliau perjuangkan membuat hati tetiba blank, kehilangan. Selain emang melowan aja anaknya ✌🏻

Suka sekali bagian ‘magis’ ini, “Jalanan di Jakarta hanya bisa sepi karena dua hal: Muhammad Ali bertanding, atau Hamka berpidato.” Grrr!

Karya dan biografinya banyak dibukukan, difilmkan, dipelajari. Kata-katanya banyak dijadikan quotes of the day. Kiprah dan pemikirannya diteladani dan dijadikan bahan diskusi. Fatwanya panjang usia melewati hari-hari. Betapa pribadi yang rawr byaza.

Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (1908-1981), adalah sosok multitalenta dengan banyak predikat, yaitu ulama, pendidik, akademisi, politisi, filsuf, sastrawan, sejarawan, penulis, jurnalis, Pahlawan Nasional, Ketua MUI pertama, dan seterusnya, dan seterusnya. Sepanjang hidupnya (bahkan sampai sekarang) beliau dikenal sebagai sosok ulama besar yang gigih mendakwahkan Islam dan sangat tegas dalam hal akidah.

“Kita sebagai Ulama telah menjual diri kita kepada Allah, tidak bisa dijual lagi kepada pihak manapun!” – Buya Hamka, pelantikan Ketua MUI, 1975

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu anhu..

Asli. Buku ini aneh banget, si. Bisa bikin kangen banget gini padahal sebelumnya asing sama sekali. Pengalaman baca tesis yang paling ‘sesuatu’. Belinya di @malamibookstore. Highly recomended! Beliau kini udah nggak ada, banyak yang mungkin dahulu hidupnya beririsan kemudian kini merasa kehilangan. Ust. Akmal bilang, jangan sampai warisan pemikirannya pun ikut hilang, untuk itulah perlu kita lestarikan. Tabik!
Profile Image for Fathiyah Azizah.
110 reviews34 followers
April 26, 2019
Adanya Tuduhan Pluralis pada Hamka oleh beberapa kalangan pluralis diantaranya Syafii Maarif, Ayang Utriza dan Hamka Haq, dengan menukil Tafsir AlAzhar Al baqarah 62 Al maidah 69, penulis tergerak untuk melakukan penelitian dan membuat buku ini. . . .

Diawal diberi penjabaran tentang sejarah kemunculan idealisme terzebut, kemudian dipaparkan pula definisi Pluralisme dari kalangan Pluralis beserta tanggapan ulama terhadap konsep tersebut. Lengkap dan terperinci. FYI, Pemikiran pluralisme diawali dg penanaman rasa ragu terhadap agama sendiri. Gagasan Pluralisme berasal dari peradaban Barat-Kristen. Ada kaitan erat dg sekulerisme dan liberalisme yg juga menjamur di Barat setelah berakhirnya era hegemoni Gereja. Ada 3 masalah penting yg melatar belakangi sekuler-liberal; Sejarah kristen, teks Bibel, dan teologi Kristen. . . .

Kembali pada Tuduhan, penulis menelusuri secara terperinci pandangan Hamka tentang

1. Konsep Agama

2. Penempatan Islam di antara agama-agama lain

3. Aliran-aliran yang menyimpang

4. Kepercayaan Sinkretisme dan kultus individu

5. Komunis, sekuleris dan pancasila

6Bagaimana Hamka mengejawantahkan toleransi beragama . . .

Membaca Penjambaran Penulis mulai dari nomer 1-6, membuatku berpikir ulang tentang tuduhan "fanatik agama", "radikalisme". Mereka yang menuduh seperti itu belum paham tentang perjuangan para ulama sejak zaman dahulu hingga sekarang. Mereka tak paham apa yang dihadapi beliau-beliau. Masya Allah, perjuangan Hamka menghadapi semua itu, nyawa pun dipertaruhkan. Aku teringat lagi kutipan di buku to kill of mockingbird "Anda tidak akan pernah memahami seseorang sampai Anda berada di sudut pandangnya. Sampai Anda masuk ke dalam kehidupannya dan berjalan di dalamnya . . .

Doa bersama, ibadah bersama akan menimbulkan sikap toleran yang hipokrit dan dipaksakan. Perbedaan Tak perlu dikompromikan, melainkan menjadi alasan untuk menghormati dan tidak saling mencampuri urusan agama masing-masing. Hakikatnya setiap orang pasti menganggap agamanya paling benar. Pada akhir kesimpulan dari penulis, Hamka BUKAN SEORANG PLURALIS.
Profile Image for Mochammad Hadyan.
123 reviews4 followers
April 14, 2023
Alhamdulilah, walaupun tidak pernah bertemu dengan Buya Hamka, melalui buku ini saya bisa mendapatkan banyak faedah dan mengenal secara dalam tentang ulama yang satu ini.

Buku ini mencoba mengkombinasikan antara biografi Buya Hamka dan argumentasi-argumentasi pemikiran sifilis, terutama pluralisme, yang mencatut nama Buya untuk mengamini kegiatan mereka.

Sangat direkomendasikan untuk yang ingin tahu tentang Buya Hamka lewat pemikiran beliau dan fenomena-fenomena sesat pikir yang digaungkan oleh pemikir pluralisme.

Displaying 1 - 9 of 9 reviews