Walmiki-penulis Ramayana- ini dalam tradisi India dihormati sebagai seorang Adikawi, Penyair Utama atau Penyair Idaman. Dengan demikian Ramayana pun adalah Syair Utama atau Syair Idaman. Ada juga yang menyebutnya sebagai "Syair Sejarah", sebuah syair kepahlawanan yang dengan daya khayal tinggi menceritakan tentang pelbagai hal yang seolah-olah benar-benar terjadi jika mengingat keraguan atau kekaburan akibat silamnya waktu.
Jalur cerita Ramayana berkembang dengan halus, dengan beberapa titik temu. Sang pahlawan adalah seorang manusia super atau bahkan mewujud sebagai titisan dewa. Jika Mahabarata menonjol dalam hal-hal heroik, maka Ramayana didominasi oleh rasa erotik. Di dalamnya terdapat adegan manakala suatu keajaibn tercipta. Sang Pahlawan dan kekasihnya melewati masa-masa cobaan moral dan emosional, tetapi berhasil lulus dari segala ujian. Cinta menang, dipatuhi, dan penderitaan pun tertinggalkan. Ia juga menggambarkan pelbagai suasana dan majemuknya kehidupan, selain menampilkan keindahan alam. Gaya bertutur yang disampaikan oleh Walmiki dalam Ramayana ini begitu anggun mengilhami dan amat menawan.
Buku sastra Ramayana ini, kalau dibandingkan Mahabharata, terasa kurang bumbu deh. Aku lebih suka Mahabharata ketimbang Ramayana ini walaupun tokoh² di Mahabharata bejibun.
Diawali kisah Raja Dasarata yg memohon utk punya putra. Dan serentak dari 3 istri dia memperoleh 4 putra. Putra sulungnya, Rama adalah favoritnya dan calon pewaris takhtanya. Tapi gara² hasutan, istri kesayangan ayahnya menghendaki anaknya yg mjd raja muda dan menyuruh raja mengusir Rama selama 14 thn. Krn telanjur dulu memberikan janji memenuhi apapun yg diminta istri kesayangannya ini, dgn berat hati Dasarata membuang Rama. Tapi Rama didampingi oleh istrinya, Sita dan adiknya, Laksmana.
Dan spt legenda yg sdh kita sering dengar, Rawana raja para raksasa menculik Sita. Rama dibantu pasukan kera Hanuman dan Sugriwa menyerbu Alengka. Setelah Rawana mati, Rama tidak percaya Sita tidak dijamah Rawana sehingga Sita menceburkan diri ke api utk membuktikan dirinya masih suci.
Endingnya lebih bikin gemes lagi. Rama ini bucin sekaligus kelewat risau dgn apa kata publik/rakyatnya. Tega sekali Rama mengorbankan dgn mengusir Sita demi status dirinya sbg raja yg emoh punya istri yg ternoda. Sudahlah, legenda & mitos memang banyak hal yg mustahil.
Oya, buku ini banyak syair puisi. Font tulisan lebih besar drpd yg Mahabharata, tapi kata pengantar dan penutup (glosarium kata² Sansekerta) nyaris 100 halaman, jd inti cerita paling hanya 350 hlm.
walnya, saya mengira buku Ramayana yang saya terima ini adalah Ramayana versi Indonesia. Tetapi, ternyata ini adalah versi asli Ramayana yang ditulis oleh Walmiki, dengan penerjemahnya P. Lal. Saya sendiri sebenarnya tidak tahu apa perbedaan di antara keduanya, tetapi saya rasa pasti ada bedanya, karena ketika sebuah karya sastra disadur dari negara aslinya, ia pasti akan mengalami adaptasi dan asimilasi dengan kebudayaan setempat. Dengan membaca Ramayana versi asli, saya pikir saya akan lebih mudah memahami Ramayana versi Indonesia, jika saya membacanya kelak.
Di zaman sekarang ini, kesusasteraan klasik mungkin sudah hampir tak memiliki tempat di hati masyarakat. Khususnya kesusasteraan klasik yang ditulis oleh anak bangsa. Coba saja kita lihat, siapa saja yang sudah membaca Negarakertagama ataupun Sutasoma? Saya sendiri pun belum membacanya sih, tetapi saya memiliki keinginan untuk membaca itu semua. Rasanya sayang sekali bukan, kalau kesusateraan yang usianya sudah ribuan tahun itu menghilang begitu saja ditelan bumi. Menurut saya, kesusasteraan itu juga harta suatu bangsa, sama seperti batik, keris, ataupun orangutan. Sayang sekali jika mereka tenggelam di telan zaman. Dan sangat menyedihkan sekali jika kita harus jauh-jauh pergi ke luar negeri untuk mendalami lebih jauh kesusasteraan negeri sendiri.
Kisah Ramayana awalnya adalah sebuah kesusasteraan lisan, yang disampaikan dari mulut ke mulut. Dengan demikian, ada banyak versi Ramayana yang berkembang di masyarakat India. Tetapi, dipercaya bahwa kisah asli Ramayana terdiri atas tujuh bagian yang dibagi menjadi tujuh buku. Di bagian awal buku ini, penerjemah asli dari bahasa sansekerta ke bahasa Inggris, P. Lal, mengungkapkan bahwa buku pertama dan ketujuh bisa jadi tidak ditulis oleh Walmiki, karena itulah ia memotong sebagian besar kisah di buku itu yang ia anggap tidak relevan dengan kisah Ramayana. Dan memang, setelah membacanya sendiri, saya merasa ada beberapa hal yang kontradiktif dan membuat saya bingung. P. Lal berujar bahwa buku yang sedang saya baca ini tebalnya hanya sepertiga dari karya aslinya, yang membuat saya takjub. Saya sudah menduga sih, sebuah karya yang bisa disebut roman ini (karena menceritakan Rama sejak kecil hingga akhir hidupnya), pastilah sangat kompleks. Tetapi saya bersyukur karena buku ini tidak terlalu tebal, karena kalo nggak, saya pasti pusing bikin resensinya. Hahaha
Di bagian halaman belakang buku ini, tempat sinopsis berada, dijelaskan bahwa Mahabarata bersifat heroik sedangkan Ramayana lebih banyak berisi erotis. Setelah membaca, ternyata memang benar adanya. Puisi-puisi di kisah ini, yang sangat banyak jumlahnya (sepertiga lebih saya rasa), banyak yang menggambarkan keindahan tubuh wanita secara gamblang. Saya rasa, saya tidak perlu menjelaskannya di sini. Cukup baca saja sendiri, ya...
Buku ini juga disertai dengan glosarium bahasa sansekerta, terutama untuk bagian-bagian yang dianggap penting dari kisah ini. Adanya kamus kecil ini tentunya mempermudah pembaca, meskipun saya agak malas bolak-balik buka ke halaman belakang, jadi saya cuek aja terus membaca meski tidak tahu artinya. Ketika ada kosakata yang membuat saya benar-benar penasaran, barulah saya membuka halaman belakang dan mencari makna kata yang bersangkutan.
Buku ini terdiri dari tujuh bagian yang awalnya merupakan buku-buku tersendiri. Jadi, saya membagi resensi saya menjadi dua bagian. Soalnya saya berniat untuk cerita semuanya, sampai akhir.
kembalinya rama ketempat para dewa menyudahi cerita pengembaraan rama sebagai jelmaan dewa wisnu didunia. buku ini di terjemahkan oleh djokolelono yang diambil dari kitab ramayana karya walmiki, namun dituangkan dalam bentuk yang singkat dan sederhana, sehingga ada beberapa inti cerita yang tidak disampaikan kepada pembaca.
Buku ini merupakan terjemahan dari kisah Ramayana karya Walmiki dari bahasa Inggris. Kisah ini ditulis kembali oleh P. Lal dengan sedikit meringkas cerita tanpa menghilangkan ciri khas dari kisah tersebut.