Camille, seorang konsultan makcomblang, sedang sekarat karena kanker yang kambuh lagi. Camille putus harapan. Dia berusaha menyiapkan istri pengganti bagi suaminya. Dan blunder terparah pun terjadi. Bukannya berhasil mendekatkan suaminya dgn istri pilihannya, malah berakhir dgn Edward, suami Camille selingkuh dgn wanita yang tidak diduga oleh Camille.
Dari buku ini saya menarik banyak pelajaran:
1. Jangan mendahului rencana Tuhan. Camille dengan congkaknya merasa dia tahu betul utk merencanakan dan mempersiapkan istri utk suaminya dan menjaga serta mengurus anak-anaknya. Hal ini mengakibatkan Edward sakit hati dan marah besar yang terpendam. Dan membuat dia berpaling kepada wanita lain yang "available" dan kebetulan Edward cocok lahir dan batin.
2. Mungkin selama ini saya sulit menjelaskan kenapa saya tidak suka dengan pria yang terlalu terlihat orang baik-baik. Dan setelah membaca novel ini, voilà, eureka.... saya menemukan jawabannya. Edward adalah contoh sempurna suami yang setia alias bukan tipe selingkuh, tanggungjawab, tidak pernah bertengkar hebat dan selalu berkompromi alias tidak pernah menolak tegas terhadap keinginan istrinya, walaupun tidak sesuai dengan keinginannya, namun memiliki mental "kerupuk" dan butuh pengakuan dan penghargaan dari pihak luar (dalam novel ini adalah Angie, selingkuhannya) yang bisa mengerti keputus-asaan dirinya yang merasa tidak dihargai dan diragukan kebecusannya dalam menangani rumahtangga jika Camille sudah tiada. Dia adalah contoh PECUNDANG terselubung terbaik yang pernah saya baca dalam novel-novel yang selama ini pernah saya baca. Kalau saja Edward punya ketegasan lebih untuk menolak dengan keras keinginan istrinya yang tidak masuk akal dan berani menghadapi penyakit kanker Camille yang terjadi terulang kembali, saya kira perselingkuhan tidak akan ada. Edward adalah contoh pria "tamak" secara emosi. Dia menginginkan keluarga yang sempurna dengan Camille, namun tidak bisa melepaskan bayangan bersama Angie juga. Edward adalah pria yang kebingungan untuk menentukan pilihannya sendiri.
3. Untuk Angie dan semua wanita yang berselingkuh dengan suami orang, saya menganggap kalian adalah "sampah" yang membuat malu kami semua, kaum wanita. Kalian adalah "maling" yang mengintai pada kelemahan rumahtangga orang lain, apapun alasannya. Sebenarnya kalian tidak "insecure" namun kalian memulainya dengan meluangkan waktu sbg teman curhat, dll. Akhirnya kalian jatuh cinta dan merasa sanggup mengisi kekosongan yang tidak didapatkan pria pecundang ini dari istrinya. Kasihan sekali kalian, sebab biasanya karma akan mendatangi kalian, cepat ataupun lambat.
4. Jujur saja membaca buku ini, membuat hati saya "berdarah-darah" juga. Disini diceritakan bahwa tokoh-tokoh ini normal semua, bukan tipe sakit jiwa ataupun doyan selingkuh, kecuali permintaan agak abnormal dari istri yang sekarat yang bermaksud utk mencarikan pengganti dirinya jika dia sudah tiada. Edward bukan tipe peselingkuh bahkan dia setia terhadap keluarganya. Angie juga sebenarnya bukan tipe perebut suami orang, namun dia tidak kuasa menahan perasaan yang berkembang terhadap Edward, walau tahu dia salah besar dengan berselingkuh saat istri Edward sedang sekarat. Di akhir cerita Edward hidup bahagia dengan menikahi selingkuhannya, Angie (yang membuat saya makin muak dan marah, Edward digambarkan lebih tulus menikahi Angie daripada sewaktu dulu menikahi Camille). Sedangkan Camille tetap hidup sendiri dan melanjutkan hidup. Membuat saya bertanya-tanya, tampaknya keputusan Camille utk mencarikan istri pengganti utk Edward sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Sebab terbukti setelah 6 bulan perceraian mereka, Edward toh langsung menikahi selingkuhannya atas dasar mereka masih saling mencintai.
Tidak adanya perjuangan cinta yang sungguh-sungguh dilakukan oleh Edward dan Camille (walaupun mereka belakangan ke konselor pernikahan juga) karena Edward yang labil ini tidak bisa menghilangkan bayangannya ketika bersama Angie. Sekali berselingkuh, sudah retak pernikahan yang walaupun sudah terbangun baik-baik dan penuh cinta. Waktu pernikahan yang sudah berlangsung lama bukan ukuran pernikahan yang sukses. Suami/istri yang baik bukan jaminan pernikahan akan selamanya. Dan yang lebih menyakitkan lagi dari yang saya baca, saling mencintai juga bukan jaminan jika baru dilanda "bencana" saja, masing-masing pihak langsung punya solusi masing-masing, dan dalam kasus Edward tolol ini, langsung pindah ke lain hati.
Buku ini memang realistis dan saking nyatanya membuat saya mau "muntah" dan hipertensi. Kalau maksud dari author utk membenarkan cinta dari perselingkuhan itu sah-sah saja, well, dia boleh kecewa dengan pendapat saya. Jadi, dengan kesimpulan diatas, saya memutuskan final utk 1 bintang. Cerita bertele-tele, panjang lebar sebanyak 611 halaman, hanya makin memperjelas sikap saya bahwa buku ini SAMPAH utk ukuran buku romance.