Paul Robin Krugman is an American economist, liberal columnist and author. He is Professor of Economics and International Affairs at the Woodrow Wilson School of Public and International Affairs, Princeton University, Centenary Professor at the London School of Economics, and an op-ed columnist for The New York Times. In 2008, Krugman won the Nobel Memorial Prize in Economics for his contributions to New Trade Theory and New Economic Geography.
Dengan gambar sampul lumpur lapindo, sudah nyata dan teranglah kalau salah satu sasaran tembak buku ini adalah Bakrie dan korporasinya.hehehe
Jelas ini menjadi keharusan rujukan bagi para pengusaha yang merasa dirinya bisa mengurus negara atau daerah setelah dirinya sendiri merasa berhasil mengurus perusahaannya.
Soal Bakrie, yang ditembak habis2an, sedikit banyak spekulatif saya juga akan menyampaikan unek2 berikut. Bulan Juli 2010 mendatang, Kabupaten sidoarjo mengadakan pemilukada. Ada 2 orang calon bupati yang berasal dari PT Lapindo Brantas, yang pertama Yuniwati Teryana didukung partai demokrat dan yang kedua Bambang Prasetyo Widodo didukung partai golkar. Entah lelucon apalagi yang akan terjadi di Sidoarjo ini. Bagi saya, ini seperti menjadikn dalton brothers -biang kerusuhan di kota- menjadi eksekutor pemerintah. hehehe
Saya sedikit beringsut ke lapangan sepakbola *tetep* Di musim 2009/2010, kesebelasan Delta Putra Sidoarjo (Deltras) berhasil promosi ke Liga Super musim depan dengan menjadi runner up divisi utama. Seanjang perjalanannya di musim ini, tercatat Deltras mendapatkan hadiah pinalti sebanyak 15 kali!!!!! beberapa diantaranya di menit-menit akhir dan tidak bisa dijelaskan dengan logika matematika ataupun hukum fisika sekalipun!!*lebaydotcom*
Nah, di sinilah kecurigaan timbul (bukan tarzan atau polo). Sudah jamak diketahui kalau wasit bisa disuap dlsb. Namun untuk deltras bisa jadi perkecualian, saya curiga ada tangan besar di belakang ini semua. Siapa lagi kalau bukan bakrie cs *nuduh* Kenapa? jelas lah, biar warga sidoarjo yang gemar bola senang, itung2 ganti rugi hehehe, sedikit melupakan para deltamania, sebutan penggemar fanatik deltras terhadap musibah lapindo. Ditambah lagi fakta bahwa klub milik Bakrie, Pelita Jabar musim ini terdegradasi!!! jadi jangan heran, kalau musim depan Pelita yang kerap berpindah-pindah homebase bakal menjadi Pelita Deltras atau semacamnya.
Terimakasih pada mama lauren sehingga saya bisa bercenayang.hihihihi
Yang jelas sudah ada nyanyian untuk bakrie lah
..... lapindo/bakrie jiancuk dibunuh saja ..... tret..tret..teeettttttttt
يذكر كروجمان مفهومين خاطئين عند رجال الأعمال والتي معها يفشل رجل الأعمال الناجح فشلاً ذريعاً إذا حاول التحليل والتخطيط لاقتصاد دولة بأكملها دون الرجوع لدراسة مبادئ الاقتصاد.
"العديد من رجال الأعمال يجدون صعوبة في تقبل فكرة أن تقوم عملية صنع السياسة الاقتصادية الحكيمة على عدم التدخل. فهم دائماً نشطون، وبالتالي يكون من الصعب على من اعتاد القيام بهذا الدور أن يدرك أنه عندما يتعلق الأمر بالسياسة الاقتصادية للدولة فإن هذه الطريقة في الإدارة تكون أصعب بكثير، ولا حاجة للجوء إليها."
"الفكرة القائلة بأن أفضل طريقة لإدارة الاقتصاد تتمثل في إعداد إطار عام جيد ثم تركه يعمل من تلقاء نفسه لا تبدو منطقية في نظر رجل الأعمال."
وهذا يؤدي في النهاية إلى عجز اقتصادي.
وبناءاً عليه: :) أرفض ترشَّح خيرت الشاطر لرئاسة الجمهورية، بل وأرفض مشروع النهضة.. على الأقل في هذه المرحلة من تاريخ مصر!
إبريل 2012
تحديث: اخترت مرشح الإخوان الاحتياطي محمد مرسي في انتخابات الإعادة أمام مرشح الفلول.
Krugman argues that business leaders usually make bad economists, because: 1)'a country is not a company' - countries are much larger and heterogeneous and must be managed on the basis of general principles, not particular strategies. We must also remember that economy is a closed system while businesses are open. This also implies that economies often have very strong negative feedback while businesses have positive feedback.
2) Great man's disease - famous researchers in one field develop strong opinions about another field they don't understand. So, it's hard to get business leaders to read economics 101 before they can make policy decisions.
Tamat dalam sekali duduk, buku tipis ini memberikan suatu uraian ringkas nan ringan mengenai bahaya dan tidak tepatnya pengelolaan negara diberikan atau dijalankan oleh pengusaha. Atau dalam bahasa lain, tidak mungkin suatu negara yang adalah wadah bagi sekian banyak kepala dengan segala aktivitas serta motif ekonomi, diatur hanya dengan logika-logika bisnis perusahaan yang seringnya hanya sekadar untuk terus-terusan mengejar dan memaksimalkan profit belaka. Depresi Ekonomi 1930 yang mengguncang seluruh dunia (termasuk Indonesia/Hindia Belanda saat itu) salah satunya disebabkan karena para pemilik kebijakan di tingkat negara justru malah mendengarkan para pebisnis dan pengusaha, alih-alih para ekonom yang sudah jelas tugasnya adalah merumuskan arah perekonomian untuk seluruh negara dan rakyat di dalamnya. Peristiwa besar ini yang kemudian, saya kira, menjadi benang merah dari pembahasan Krugman dalam risalahnya ini. Di sisi lain, Krugman juga memberikan jawaban-jawaban ringkas atas mitos-mitos yang selalu ditiupkan oleh para pengusaha ketika mereka mencoba masuk ke dalam gelanggang politik dan berusaha mengambil peran menjadi pengendali negara. Masuknya para pebisnis menjadi politisi (termasuk di Indonesia hari ini, dan sejak beberapa dekade lalu), menunjukkan dengan jelas apa yang sudah diperingatkan oleh Krugman. Semakin kuat, berkuasa, dan digdayanya oligarki, misalnya -sesuatu yang tidak disebut dalam risalah ini tapi jelas memberikan gambaran atas apa yang terjadi dalam situasi politik-ekonomi Indonesia kini.
The book is essentially about misconceptions that business leaders, or some very simplified caricature versions of them, tend to make in public discussion, mostly about trade (Krugman’s academic home turf). Balance of payments needs to be always, over time, zero, as for instance the trade in goods and capital needs to cancel out. While the differentiation between the effects on companies and countries is interesting, but in some respects it is limited to the situation in the United States in specific time periods (mainly in respect to the reaction of central banks to the trade surpluses). And I really don’t buy that extreme simplification of thinking by ‘businessmen’.
Another point is the difference in complexity between countries and companies - but that feels like a real straw man, as no policy maker actually interacts with an economy in the same way as a business leader does with their company - a more appropriate example would be a specific market vs whole economy.
An interesting and useful point the book makes is about the difference between ‘open’ and ‘closed’ systems, expressed in the fact that companies can for instance outsource some of its functions outside - which countries can’t do so easily. Again, this is limited when one looks at the functionings of smaller countries in Europe (like one where I come from) which share some functions like defence or even waste management and which share a common currency (euro), that is not managed, when looking from the perspective of individual smaller countries, in the same way as the dollar.
There are so many interesting points one could make about this subject - about the different nature of civil service in contrast with regular employment, the unavoidability of welfare entitlements and other public services or even the way debt works. Sadly, Krugman does not make any of them.
While making simplistic distinction between ‘economists’ and ‘businessmen’, this book actually makes a good case why economists don’t make great policymakers or, for that matter, Presidents. Running a country is not like running a business, but it’s still a management of a large organisation, with complex issues. And even within economic policy, when one gets locked in the too macroeconomic and model-driven thinking, loses the potential for developments in areas that actually matter to people - citizens and voters. Because even if things might cancel out each others, people might still have preferences between them.
An excellent primer on what divides the worlds of economics and business; one that ought to be read by every undergraduate student from either world. More often than not it is the boorish mindset of the CEO cult nurtured within the confines of business schools all over the world that encourages business people to make pronouncements on economic policy issues without the requisite understanding of economic policy analysis. Paul Krugman with brevity and precision explains why such aforementioned pronouncements are dangerous and unwise. Obviously, business schools do not have a monopoly on blind arrogance however in the last few decades, it seems that they seem to be producing more of it than any other educational sector. Wise business people in contrast inside and outside of the business school, understand the limitations of their experience and knowledge and major on their strengths balancing them with intuition. The trained economist will inevitably see in the background the crucial importance of mathematical optimization, political economy and philosophy to informing why Paul Krugman is right to assert that country economic policy should not be approached with the mindset of company management.
I laugh at those who try to apply outdated War strategies like “The Art of War”, which can not keep up with today’s wars, to businesses. So, what makes them think that they can apply today's Economics is a different discipline to running a country.
Nobel Prize-winner “economist” Paul Krugman helps separate the differences between running a “Country” and running a “Business.” In the process, we also need to know that neither is ideal for the situation.
I have read both “The Art of War” by Sun Tzu, as it was required reading for the military, and took several required, economic courses, such as “A Piece of the Action” by Stuart M. Speiser, a part of a business degree.
The bottom line is that this book should be added to your repertoire and library.
Un breve pero muy interesante y bien escrito ensayo sobre las limitaciones y riesgos de poner a un exitoso hombre de negocios al frente del manejo de la economía de un país. No hay grandes ideas novedosas, es más un reflexión del autor. Pero me resultó muy interesante y realmente se lee muy rápido. La idea de sistema abierto (un negocio) vs. sistema cerrado (economía) me pareció muy apropiada.
It's an insightful book, however there are some concepts (like capital inflows reading to trade deficit) are overly simplified and laid out in an abstract manner without considering multiple factors in the relationship. Definitely worth reading.
A very short, but useful, overview of why business leaders tend to not be good economists. Some of the concepts might be a bit opaque if you have not read much about macroeconomics, but it's an excellent read.
Groundbreaking ideas simply unveiled by the language of author. Differences between views of executives and economists clearly well-pointed out though.
Paul Krugman debunks some well known ideas on economics circulating American politics. Draws some contrast between a statesman and a company executive.
Buku ini tidak seperti yg kebanyakan reviewer di Goodreads katakan, tidak ada sama sekali sindiran, mengingat Paul Krugman adalah professor yg punya disiplin ilmiah tinggi. Robin nama tengahnya, pada tahun 2008 meraih Nobel Ekonomi dengan teori NTT dan NEG. New Trade Theory dan New Economic Geography. Mengingat bidangnya adalah ekonomi politik dan internasional, maka patut dimaklumi jika pembaca umum akan salah faham terhadap kemungkinan keberpihakan Krugman pd kelas tertentu. Satu-satunya keberpihakan seorang cendekiawan adalah pada evidence. Krugman pada wawancaranya dengan thebrowser.com 19 Juni 2011 mengatakan bahwa ia sangat mengagumi David Hume melalui bukunya Enquiry Concerning Human Understanding. Ia mengatakan bahwa tidak seorangpun punya jawaban atas segala hal. Apa yg kita anggap kita ketahui adalah apa yg dapat kita buktikan. Satu-satunya jalan yang masuk akal untuk menjelaskan perihal hidup adalah dengan jalan skeptis. Skeptisisme adalah langkah pertama menuju kebenaran. Oleh sebab itu, buku yg ditulis tahun 1996 ini sederhana saja, ia bukan manifesto politik liberalnya Paul Krugman. Buku ini hanya ingin mengatakan bahwa barang siapa menabur benih strategi makro dan strategi mikro secara paralel, maka ia akan memanen bencana. Dia tidak ingin mengatakan bahwa seorang bisnismen tidak akan berhasil mengurus negara. Ia ingin katakan bahwa bisnismen yg mengatur negara dg caranya mengatur bisnis, akan gagal, begitu pula sebaliknya. Sebab naturnya kebijakan makro berbeda dg kebijakan mikro. Seseorang tidak dapat memakai strategi mikro yg diterapkan pd bisnis untuk diterapkan pada negara. Bisnismen bekerja dg sistem yg terbuka sedangkan ahli ekonomi bekerja dg sistem tertutup yaitu nation border. Bisnismen bekerja memakai strategi-strategi khusus dan kasuistik, sementara ahli ekonomi berstrategi dg prinsip-prinsip umum yg berlaku dlm ekonomi makro. Tak berarti seorang ekonom lebih pintar daripada pengusaha, dan sebaliknya, akan tetapi jalan pikiran mereka yg berbeda memang hanya berlaku untuk habitat mereka masing-masing. Untuk memperagakan tesisnya, Krugman mencontohkan dua kasus dalam konteks perekonomian Amerika Serikat. Pertama, Export & Job. Kedua, Investment & Trade Balance. Yang pertama terkait dengan fakta disetujuinya perdagangan bebas dunia melalui forum GATT. Bukankah dalam perdagangan bebas, dengan menaikkan ekspor, lapangan kerja akan tercipta dan tenaga kerja terserap? Ya, jelas! Justru..., disini letak sesat pikir yg umum dialami para pengusaha dan kebanyakan orang termasuk politisi. Pemilu di Amerika Serikat selama bertahun-tahun didominasi retorika semacam itu. Ekonom berpikir berbeda, ini sebatas aritmatika sederhana. Uang masuk didompet sektor industri ekspor adalah uang keluar didompet sektor industri lain di lain tempat. Uang masuk didompet pekerja yg terserap di sektor ekspor mengambil dari dompet saudaranya sesama pekerja disektor lain. Federal Reserve tidak akan membiarkan ekonomi booming seperti yg terjadi dimasa lalu, yang mana tenaga kerja menjadi terlalu banyak terserap hingga memanaskan ekonomi dan mengakibatlan inflasi diluar kendali mereka. Fed mengendalikan inflasi dengan suku bunga. Pada tahun 1994 saat ekspor terlalu banyak, Fed menaikkan suku bunga sampai 7 kali lipat. Apa yg terjadi? sektor real estat dan properti terluka parah. Mereka ini adalah sektor yg keberhasilannya sangat tergantung pada tingkat suku bunga. Jadi, sementara sektor ekspor menyerap banyak tenaga kerja, sektor real estate/properti sedang mem-PHK pekerja-pekerjanya dan melukai daya beli mereka. Simpulannya, Krugman mengatakan bahwa apa yang telah dipelajari pengusaha dari kesuksesannya membangun dan menjalankan usaha, tidak akan membantu mereka memformulasikan kebijakan ekonomi negara. Dan sebaliknya, apa yg ekonom pelajari dari kesuksesannya mengatur ekonomi negaranya, tidak akan membantu mereka dlm membangun dan menjalankan bisnis. Negara bukan perusahaan besar, dan perusahaan besar bukanlah negara.
Terimakasih. lebih lengkapnya follow twitter @ekonomirakyat
buku ini bener2 sederhana, lugas dan jernih, baru baca beberapa halaman pertama dr buku tipis ini aja jd berasa dikasi loop dan lampu seratus watt ngeliat kondisi yg butek akhir2 ni...
... pengusaha selalu memiliki insting untuk, seperti yg diungkapkan Ross Perot, 'membuka kap mobil dan mengutak-atik isinya,' dan sayangnya negara bukanlah seonggok mobil mogok -- kalaupun ia terkena hantaman krisis, dan dari buku ini kita belajar bagaimana perbedaan seorang ekonom dan pengusaha menghadapi persoalan perekonomian nasional.
yup..! perekonomian nasional bukan ekonomi perusahaan, walau dg jumlah karyawan yang mencapai 200 ribu orang sekalipun. Buku ini mencoba mengupas, tidak dengan adil melainkan tajam, kenapa sebaiknya kita harus tetap belajar... terutama mereka yang ditunjuk untuk berada di tangkup kekuasaan mengelola perekonomian sebuah negara, yg bukan perusahaan.
NB: makasi bt ronny dkk buat sisipan kulum SMI-nya ini ;)
Not quite what I was hoping for, but still sort of interesting. I was hoping he would spend more time going into detail about the conflict of interests between a company (which is naturally profit-seeking) and a country (which has other more abstract goals). Still, worth a quick read.