Jump to ratings and reviews
Rate this book

Fleur

Rate this book
“…Walau hingga kehidupan yang keberapa pun kalian saling mencintai, hingga kehidupan yang keberapa pun juga aku akan mengalahkanmu, merebutnya darimu!”

Florence Ackerley sadar bahwa hidupnya ditentukan kehidupannya di masa lalu. Dua lelaki dalam hidupnya --- George, kakak angkatnya, dan Alford, tunangannya, terlibat di dalam untaian takdir itu. Keegoisan dan saling silang kepentingan membuat kutukan saling berbenturan. Hingga kehidupan yang keberapapun, tetap sama.

Fleur memadukan latar Victorian dengan bumbu dongeng ala peri, menawarkan kecapan fantasi yang segar pada romansa penuh lika-liku.

324 pages, Paperback

First published April 1, 2012

8 people are currently reading
179 people want to read

About the author

Fenny Wong

6 books70 followers
Fenny Wong writes mainly romance fiction, ranging from contemporary to ones with a dash of fantasy.

She is currently managing her batik fashion store http://www.benangsari.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
49 (30%)
4 stars
49 (30%)
3 stars
46 (28%)
2 stars
17 (10%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 30 of 36 reviews
Profile Image for Ana Kosasih.
Author 1 book8 followers
July 4, 2012
Muup ya cc Fenny, padahal aku udah selesai baca dari jauh-jauh hari dan janji mau ngereview juga, tapi akhirnya baru sempet kubikin sekarang karena stress ngurusin kuliah dan hal-hal lainnya. Sejujurnya, aku ga yakin aku sepenuhnya inget apa-apa aja yang sebelumnya mau kusampain dulu. Makanya kapan-kapan aku bakalan baca ulang buku ini, siapa tahu nanti ada beberapa pendapatku yang berubah dan aku bakalan ngedit review ini lagi.

(~ ̄▽ ̄)~

Aku nyelesain buku ini selama (kalo ga salah inget) sekitar tiga hari, soalnya gaya penceritaannya asik dan semacam indah gitu. Pokoknya narasi dan pemilihan katanya itu sesuatu banget lah. Selain itu, sebagai fangirl cc Fenny, aku juga udah nyimpen ekspektasi besar soal Fleur bahkan sebelum buka bukunya. :v :v :v

Yang mau kusampain soal kesanku dari buku ini sebenernya gak banyak-banyak amat, tapi aku gak yakin review ini jadinya bakalan sepanjang apa. Pertama, kurasa sebagian besar adegan dan dialognya beneran keju. Iya, keju. Tapi jenis keju yang enak. =w=a Dan sejauh ini baru tulisan cc Fenny seorang yang bisa bikin aku ngomong kayak gitu soal keju-kejuan. XD Kalimat sejenis "aku cinta padamu" mengalir dengan derasnya di buku ini. Dan selama baca, aku sering ngambil jeda buat sejenak facepalm sambil hyperventilating ala fangirl, yang kuasumsikan sebagai efek samping dari "keju enak" itu. Aku sampai sekarang ga yakin itu hal baik atau buruk, tapi anggap aja itu salah satu dari beberapa hal yang berkesan dari Fleur buatku.

*dipukul penggorengan*

Hal yang paling bikin aku kesel dari novel ini mungkin sifatnya subyektif atau murni preferensi pribadi.

Ini soal karakternya sih. Ukh. Sampai akhir, aku beneran jauh lebih suka karakter-karakter pendahulunya daripada reinkarnasi mereka. Terutama si Florence! Muup, tapi aku ga gitu ngerti kenapa dia bisa sampai diperebutin dua cowok sekaligus (apalagi si Alford! sampai langsung dilamar lho!). Oke, dia cantik, suka membaca, dan rajin berkebun(?)--dan mungkin wajar kali ya, kalo di era segitu cewek diperebutin karena parasnya dan hal-hal tsb. Tapi ya, tetep kerasa ga memuaskan buatku kalo dengan penjelasan itu. (w'A')w Si Flo ini, beneran terkesan kayak tsundere yang keren di bagian awal-awal. Dia dengan entengnya menjegal copet pakai parasol. Dia gak suka berada di tengah keramaian pesta. Dll, dll. Tapi terus makin ke tengah, ke belakang, dan ke akhir-akhir, kok dia makin mirip damsel in ditress! Kesan kerennya ga tau kemana. Kesel aja liatin dia gampang digodain dan diintimidasi sama George, tapi panikan dan lemah gitu di depan Alford. Apalagi di bagian ini nih:



(┛◉Д◉)┛彡┻━┻

Kemana perginya Florence yang cantik, dingin, keren ituuu?

Beda sama Belidis. Belidis, buatku, sangat lovable dan lovely. Biarpun sekilas engga ada yang spesial dari dia, ada hal-hal yang mengagumkan dari dia. Dengan semua keterbatasan yang dia miliki, dia tetap berusaha berguna dan ngejalanin tugasnya. Dia juga lurus dan berani, terbukti dari caranya ngelabrak Fermio dan melawan si Helras. Kupikir, wajar banget kalo keduanya langsung naksir sama Belidis karena kelemahan yang ditutupin sama kepribadiannya ini.

Yah, walau sebenernya mungkin juga aku aja yang kurang bisa mendalami perasaan bimbangnya si Flo, pokoknya ujung-ujungnya aku berusaha ngeyakinin diriku sendiri kalo perasaan kedua cowok itu ke dia sebagian besar adalah imbas dari para pendahulu mereka.

Terus, soal si George. Wuhu~ Bishie! (--> "George, kau sungguh... cantik.") Mungkin agak sama kayak Flo, keberatanku soal dia juga kurang lebih soal cool-nya yang agak ilang, dengan semua kalimat cinta bertabur tanda seru yang dia ucapkan di tengah-tengah. Aku juga lebih suka Fermio daripada dia, tapi mungkin itu cuma karena [pengakuan] after effect yang ditimbulin penggalan-penggalan adegan legendanya ke aku kerasa lebih kuat daripada yang ditimbulin keseluruhan kisah masa kini Fleur [/pengakuan]. Especially di bagian meninggalnya Fermio. Tuh adegan saking cantiknya, beneran jadi moment of braingasm buat seorang fangirl... (。・_・。)

Satu-satunya karakter reinkarnasi yang lebih kusukain dibanding pendahulunya ya... tebak siapa. Alford. Yeah, kayaknya dia emang favorit kebanyakan pembaca Fleur ya? :v Mungkin sesuai kata mami phantabib, kekuatan terbesar karakternya sebagai antagonis(?) adalah sisi manusiawinya. Selain itu, karakternya berkembang, kalau dilihat dari endingnya. Kurasa dia tokoh yang sudut pandangnya paling mungkin dikomentarin "I can relate to that" sama semua orang. Menurutku, engga kayak Helras yang terkesan memaksakan kehendak dengan agresif, Alford lebih kelihatan punya kendali atas situasi (mungkin pengaruh posisinya juga kali ya). Tapi toh in the end, dia cuma lelaki tulus yang clueless soal gimana cara terbaik buat ngejalanin perasaannya (yang sialnya udah ditakdirkan untuk bertepuk sebelah tangan dari jaman beheula #krik).

*Moment of Silence for Our Comrade Who Has Fallen Into The Villain-Zone*

(;A;)

Yah, paling itu doang soal karakternya (yang paling bikin aku gregetan). Tapi mengingat soal ini kayaknya bisa dibilang cuma masalah seleraku aja, bisa jadi sama sekali bukan masalah.

Dan sesuai dengan apa yang udah kusebut tadi, buatku sih, hal yang paling bikin aku senang sama novel ini justru potongan-potongan kisah pure fantasy seputar para pendahulunya. Somehow, kesan indahnya sangat berbekas dan mengesan. Soal ending novelnya sendiri, rasanya aku nyimpen semacam love and hate relationship. Soalnya biarpun kedua tokoh utama akhirnya bisa menjalin cinta dengan bahagia, rasanya kurang aja karena adegan terakhir yang nunjukkin sisi 'happy' itu cuma sebatas mereka kabur ninggalin Alford lagi sekarat, terus sisanya berupa penjelasan soal bayangan si Alford. Dan yeah, doinya sendiri kasihan abis. -____-

Kayaknya cuma segitu yang bisa kutulis. Kalo ada sesuatu yang mendadak keingetan lagi, bakalan kuedit atau kukomen sendiri (monolog?). Sekali lagi, muup muup banget kalo reviewku sama gajelasnya dengan reviewernya. Aku sendiri ga pernah yakin sama apa yang kukomentari, jadi jangan terlalu yakin juga sama kredibilitas komenku. Semoga cc Fenny cepet-cepet ngeluarin novel baru, dan bisa terus dan lebih berkembang lagi sebagai penulis romance fantasy yang keren!

Pada akhirnya, cinta memang harus kejam. *buang napas*

ヽ(゜∇゜)ノ
Profile Image for Feby.
Author 3 books19 followers
May 2, 2012
Ehm.
Jarang-jarang ada buku yang bisa kuhabiskan dalam kurun waktu 24 jam setelah membuka halaman pertama. Tapi, yeah, buku ini adalah salah satunya ^^

Firstly, ini fantasy Romance. Langsung excited waktu pertama kali dengar tentang buku ini dari penulisnya. I am a fantasy romance freak, FYI. Dan tentu saja poin bertambah karena buku ini dikarang oleh penulis lokal \(^o^)/

Oke, membahas bukunya sendiri. Mengambil setting victorian era. Ingin iseng sedikit ah, soal penamaan.
Ferdsland --> kedengaran kaya somewhere in wonderland (oke, abaikan),
lalu Riverside street --> Uhuk. Jadi ingat waktu main ke Singapore tahun lalu, lewatin jalanan ini kalo pulang ke flat. *ditabok Fenny* XD XD

Cukuplah komentar iseng soal penamaan. Hehe...
Ada hal yang mengganjal dengan sistem kebangsawanan di sini.
Pertama-tama, kita lihat dulu hal-hal yang dibahas dalam buku ini.
1. Dikatakan bahwa Ackerley itu keluarga bangsawan.
2. George anak angkat.
3. Florence, Sophie, Emily dipanggil dengan sebutan "Miss".
4. Keluarga Ackerley masih tinggal di rumah besar keluarga kendati kedua orangtua Florence sudah meninggal.
5. Ackerley tinggal di wilayah Ferdsland yang notabene milik Cromwell

Jadi inilah yang aneh.

- Bila memang Ackerley adalah bangsawan, sepatutnya disebut apa gelarnya.

- Kemudian, sepengetahuanku (CMIIW) ketika seorang Lord meninggal, maka gelar dan tanahnya akan diberikan pada pewarisnya, Dalam hal ini, George sebagai anak angkat, ga bisa mewarisi tanah dan gelar, jadi semestinya mereka harus udah minggat dari rumah besar itu. Well, kecuali memang rumah itu bukan rumah utama Ackerley. :P

- Panggilan untuk para wanita bangsawan adalah "Lady", sementara "Miss" hanya digunakan pada yang bukan bangsawan. Misal, hanya pengusaha. Sepatutnya sih, Florence, Sophie dan Emily itu dipanggil dengan sebutan "Lady", bukan "Miss".

- Ackerley seharusnya punya wilayah sendiri yang ga terpengaruh oleh Cromwell. Kecuali mungkin kalau memang tingkatan Cromwell lebih tinggi dibandingkan Ackerley. CMIIW
.
.
Huff. Segitu dulu protesku soal kebangsawanan Victorian era. Hehe... ;P
.
.
Lanjut. Tentang karakter.

1. Florence/Belidis
Duh. Pertama kali baca, aku kira namanya Belibis lho. Dan terbayang unggas paruh panjang. Serius. *pokerface*
#thisisnottroll
Aside of that, nama Florence cukup pas buat karakter ini. :P

Aku ngerasa agak-agak gimanaa sama Lady yang satu ini. Kok tau2 nerima lamaran Alford ya? Dengan alasan menghindar dari George? Bukannya dari dulu-dulu kek. Kan banyak yang ngelamar dia. Kebetulan? *grin*

2.George/Fermio
Ga tau apa arti Fermio, tapi IMO, nama George juga pas banget. Aku rasa berhubungan dengan bumi atau tanah. ^^
Cowo gatel yang kurasa aku lumayan suka dia. Mulai dari intro XD XD
Walau sayang di belakang dia jadi super lebay bin melas abis :v

3. Alford/Helras
Well,
SUKAAA BANGET SAMA ALFORD

Karena apa ya? Dia jahat, keras kepala, nyebelin, seenaknya sendiri. Woops? Salah ya? XD
Well, dia karakter yang cukup kuat. Bukan sekedar vilain biasa yang sok-sok jahat dan jadi batu sandungan yang diada-adain untuk nyusahin karakter utama. Aku rasa, aku ga akan nimpuk penulisnya kalau beneran Florence dijadiin sama dia.
Yang agak aneh dengan Alford, cuma kecepatan dia ngelamar Florence. Baru ketemu udah langsung lamaran??? o__o;;;
Walaupun mungkin karena udah ngerasa cocok karena sering liat di dalam mimpi tapi... ^^;;;
.
.
Lanjut, mengenai plot.

Membaca judul bab 1. Cinta Terlarang --> langsung excited. Delicious food :P
The thing is, pembukaannya menarik. Diawali dengan dongeng, lalu adegan posisi ga ngenakin (atau enak?) #iknowimbeingambigunow
Selanjutnya cerita bergulir dengan selipan-selipan dongeng. Cukup jelas dan tidak membingungkan.

Tetapi, IMO, bab 1 itu lebih baik dijadikan Prolog aja. Waktu aku baca bab 2, sempat kebingungan kenapa tau2 ceritanya jadi mundur ke belakang? o__o

Kemudian soal narasi. Yah, aku lumayan suka dengan narasinya. Tetapi ada banyak keju bertaburan di sini. Sebagian enak, sebagian lagi membuatku mengskip. ^^;;

Terakhir, ending.
Mungkin banyak yang akan bilang ini good ending. Tapi bagiku, endingnya ini bittersweet. Personal opinion, feel bad about Alford.
Cukup salut dengan pengarang, karena membuat good ending ini ga terasa dipaksakan.
.
.
Akhir kata, sebenarnya nilai Goodreads-ku untuk Fleur itu 3,5. Tapi ga aku bulatkan jadi 4, karena ada flaw yang bagiku cukup penting. Hehe...
Selamat buat Fenny atas buku keduanya ini. Ditunggu karya-karya selanjutnya.(baru ingat belum baca Moonlight Waltz XD XD)





Profile Image for Anindito Alfaritsi.
65 reviews7 followers
July 2, 2012
Sebagai seorang penulis amatir, aku selalu kagum terhadap siapapun teman/kenalan/rekan seperjuanganku yang telah berhasil menyelesaikan karyanya. Yea, oke, memang ada karyaku sendiri yang telah berhasil kubereskan sih. Tapi itu cacat, jadi lebih baik soal itu kubahas lain kali. Tapi intinya, itu alasan utama kenapa aku kemudian membeli dan membaca novel Fleur karya Mbak Fenny ini.

Buat belajar. Aku beneran perlu belajar.

Pasti ada semacam teknik atau emosi atau makna tertentu di dalamnya yang bisa mendorongku buat (secara becus) menuntaskan novelku sendiri. Nyatanya, di dalamnya memang ada.

Sebelumnya, mengenal Mbak Fenny sebelumnya dari ajang-ajang Fantasy Fiesta, entah kapan, aku lupa persisnya, Mbak Fenny sempat bercerita soal salah satu novel fantasi romansanya yang berulangkali ditolak penerbit karena tak sesuai dengan kebijakan penerbitan mereka. Apa novel yang dimaksudkannya waktu itu adalah Fleur ya?

Fleur, seperti yang kukatakan itu, adalah novel fantasi romansa.

Sebentar. Pikirin ini baik-baik. Fantasi. Lalu Romansa. Jadi tak ada perjuangan besar-besaran yang mempertaruhkan keselamatan dunia. Ini pada dasarnya seperti... tipikal sebuah novel karangan Julia Quinn atau Amanda Quick, hanya saja memiliki elemen-elemen fantasi di dalamnya. Seperti sebuah novel romansa di zaman Ratu Victoria, Inggris, dengan keluarga-keluarga bangsawan, pesta-pesta berkala untuk pencarian jodoh, kereta-kereta kuda yang memenuhi jalan serta reputasi dan harga diri yang harus dijaga, namun dengan elemen-elemen fantasi di dalamnya.

Sebenarnya, ide buat konsepnya menurutku lumayan luar biasa.

Tapi bukan konsepnya yang sebenarnya, yang menurutku, membuat Fleur istimewa. Juga bukan ceritanya sendiri sih. Tapi lebih kayak, ungkapan perasaan isi hati si pengarang yang tersampaikan melalui bahasa dan nuansanya.

Intinya, ada dua bersaudara angkat dari sebuah keluarga bangsawan, cewek dan cowok, di dunia bernuansa Victorian ini, yang saling jatuh cinta kepada satu sama lain. Lalu ada cowok lain, putra seorang penguasa, yang jatuh cinta pada si cewek dan berupaya menjadikan si cewek sebagai miliknya. Namun rupanya, ketiga tokoh di atas merupakan reinkarnasi dari berbagai tokoh serupa di masa lalu yang senantiasa mengalami nasib sama pada setiap siklus reinkarnasi mereka.

Bahasanya agak mendayu, tapi enggak semendayu itu. Perlu waktu bagiku buat sadar kalau dunianya bernuansa Victoria, karena entah mengapa, Mbak Fenny enggak mendeskripsikan latarnya secara eksplisit. Lalu budaya dan struktur masyarkat di dunia itu enggak begitu tersampaikan. Penggalian karakternya, meski runut, juga enggak dalam-dalam amat.

Tapi ada sesuatu tentangnya yang mengusik minatku. Menuntutku buat membacanya secara cepat. Ato seenggaknya secara teratur.

Lalu begitu aku tamat, kesanku terhadap novel ini sendiri: aku bisa ngerasain kalau cerita ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran Mbak Fenny untuk menjadi penulis. Narasinya, menurutku, masih belum sebaik kekuatan narasi Mbak Fenny dalam cerpen-cerpen Fantasy Fiesta yang pernah dibuatnya. Jadi kurasa mungkin cerita ini dibuat saat dirinya masih remaja/beneran muda.

Tapi ceritanya, benar-benar terasa seperti membentuk identitas dan gaya cerita yang Mbak Fenny punya sebagai penulis. Agak susah menjelaskannya.

Bagaimanapun, meski pada akhirnya aku bisa suka, ini bukan novel yang akan aku rekomendasikan ke orang lain begitu saja. Aku memang dibuat penasaran, tapi struktur cerita dan plotnya sebenarnya masih belum mencapai tingkat yang bisa aku nikmati.

...Oke, aku salah. Ada BEBERAPA bagian cerita yang bisa sepenuhnya kunikmati, tapi ada bagian-bagian lain yang enggak. Namun untungnya, bagian-bagian ini enggak terlalu berjarak jauh dari satu sama lain. Jadi aku masih bisa membaca semua ini secara cepat.

Balik lagi ke alasan awal aku baca, aku menemukan pelajaran yang aku cari. Dan aku bisa memahami perasaan lunak yang mungkin Mbak Fenny punyai buat ceritanya yang satu ini.

Yah, ini semua mungkin cuma asumsiku saja sih.

Sebagai tambahan, kalau saja ada editor hebat yang bisa membantu Mbak Fenny lebih mengembangkan cerita ini sebelumnya, ini cerita dengan ide yang benar-benar bisa menghanyutkan. (kayak, ngebahas banyak siklus reinkarnasi alih-alih cuma dua.) Tapi buat sekarang, untuk sekedar menerbitkan saja, kurasa segini cukup.

Aku enggak akan ngasih nilai lebih tinggi karena tahu Mbak Fenny masih akan lebih berkembang lagi.
Profile Image for Noviati Wani.
9 reviews5 followers
October 19, 2012
Untuk ukuran author Indonesia novel fantasy romance ini pantas buat dapet nilai sempurna (bintang lima). Apalagi dia masih muda banget. Nyaris aja nggak percaya kalo ini karangan anak indonesia. Penndeskripsian karakter nyaris selevel bagusnya dengan novel fantasy barat. Great novel! nb: seandainya George Arckley itu nyata hahaha :D
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
September 12, 2012
Fleur bercerita tentang takdir cinta segitiga di antara 3 makhluk. Sang Dewa Bumi dan Peri Bunga yang saling mencintai dan Dewa Matahari yang menginginkan cinta Peri Bunga yang membuatnya menghalalkan segala cara.

Takdir cinta di antara mereka terus berlanjut hingga reinkarnasi-reinkarnasi selanjutnya dan kini tiba pada garis darah 3 orang. Florence Ackerley, George Ackerley, dan Alford Cromwell. Florence yang mencintai kakak angkatnya, George, mengetahui takdir di antara mereka bertiga. Dia berniat untuk melindungi George dari kematian yang menjadi takdir Dewa Bumi. George yang kemudian tahu akan hal ini berusaha sekuat tenaga untuk merubah takdir itu. Mampukah mereka?

Fleur, buku yang saya beli setelah terpapar promo langsung penulisnya :))

Saya suka dengan jalinan ceritanya. Penulis terlihat paham akan setting era yang dia pilih (yang kayaknya terinspirasi Inggris zaman Victoria. CMIIW). Baik dari segi pakaian, kehidupan pribadi, hingga sosial terasa masuk akal dan terjalin dengan baik. Cuma saya tidak tahu sih, apa zaman Victoria dulu hubungan cinta antara kakak-adik angkat dianggap tabu atau tidak. Oh well, kalau di dunianya si penulis dianggap tabu, ya biarlah.

Pertanyaan utama saya berhubung soal ceritanya sendiri adalah: siapa sih yang nulis tuh buku dongeng yang Florence punya? Penasaran aja :))

Masih ada sedikit typo dalam cerita. Seperti kata "dibalik" yang harusnya "di balik" (hal. 71) dan kata "istir" yang harusnya "istri" (hal. 288). Selain itu ada satu kata yang rasanya kurang tepat penggunaannya (rasanya typo dengan kata yang mirip), tapi saya lupa kata apa dan di halaman berapa :s

Sebenarnya nilainya 3.5 dan harusnya dibulatkan ke atas, tapi ada satu faktor yang membuat saya memberi nilai 3. Hasil cetakan bukunya terasa "kotor" buat saya. Ada halaman-halaman dengan noda-noda kecil berwarna kuning stabilo. Ada halaman dengan garis tipis putus-putus warna hitam di beberapa halaman. Ada lagi halaman lain yang seperti ada bercak tintanya (walau cuma tipis dan kecil sih). Buat saya itu berantakan banget. Gak tahu deh apa cuma di buku saya atau di buku lain juga.

Dan.... Selamat buat Fleur yang menjadi buku ke-400 yang saya rate di Godreads ini :)
*kasih tepok tangan

Selamat juga buat novel barunya Fenny Wong ini (yang kayaknya bakal nerbitin buku baru lagi dalam waktu dekat).
94 reviews10 followers
November 11, 2013
Menemukan Fleur di pameran dan langsung beli .... dan ga nyesel.
Buku ini bagus, ceritanya manis (kadang kemanisan tapi bisa ketelen), dan endingnya cakep. Berharap mati yg terakhir itu mati sungguan sih (tapi kayaknya terlalu jahat)

Karakter favorit: Alford. Apalagi pas di bab2 awal dia masih judes2 sombong tapi baek hati gitu mweeeeeee.... Di tengah2 sampe hampir terakhir jadi rada ababil kaya Geor ama Flo sih, tapi terakhirnya keren lagi <3

Yg bikin penasaran sampe buku ditutup... Kalo si Helras udah mengubah takdirnya dengan nyelamatin Fermio, berarti mestinya reinkarnasi2 berikutnya sampe ke Alford-Georg pun yg terjadi sama donk.... Terus.... apa bapaknya Flo bakal berubah? (ngebayangin orang2 kaget ngeliat foto di aula besar berubah tapi ga inget itu siapa :v )
Profile Image for Manikmaya.
99 reviews40 followers
March 9, 2013
Cerita roman yang apik dan memukau. Si Antagonisnya pun ga sembarang antagonis yang biasanya hanya diciptakan sebagai 'tokoh jahat' tandingan si protagonis saja. Memasukkan elemen fantasi perseteruan dua dewa yang berlangsung terus menerus dalam memperebutkan seorang peri bunga itu juga bagus sekali.

Hanya saja ... saya penasaran ... jika Fermio, Belidis, dan Helras bereinkarnasi menjadi manusia ... apakah seluruh pria di dunia ini dulunya adalah dewata dan seluruh wanita di dunia ini dahulu adalah peri bunga? #eh?
Profile Image for F.J. Ismarianto.
Author 4 books21 followers
May 2, 2013
Sececap Fleur
Suata masa, hiduplah peri bunga bernama Belibis Belidis. Dia bukanlah peri yang tercantik, bukan pula peri yang berbakat--malahan dia sering sakit-sakitan, tapi dia punya satu kelebihan lain yang mungkin tidak dipunyai peri bunga lain, atau bahkan para dewi. Kelebihan yang kemudian membuat Fermio, Dewa Bumi, dan Helras, Dewa Matahari, jatuh cinta padanya.

Belidis mencintai Fermio. Fermio mencintai Belidis. Helras benci pada Fermio karena dicintai oleh Belidis. Padahal Helras tidak kalah dari Fermio dalam hal mencintai Belidis, bahkan dia yakin cintanya pada Belidis jauh lebih besar dibanding cinta Fermio pada Belidis.

Kearoganan, kebencian, sikap kekanak-kanakan (?) kemudian bermuara pada satu hal: kutukan.

Kutukan cinta di mana kisah mereka bertiga yang tragis akan terulang meski di kehidupan ke-berapa pun!

Baik Belidis telah berenkarnasi menjadi Florence Ackerley, Fermio menjadi George Ackerley, dan Helras sebagai Alford Cromwell... Cinta Belidis dan Fermio tak akan pernah bersatu. Sebab Belidis akan tetap menjadi milik Helras!

Apakah kutukan itu akan terpatahkan? Ataukah Belidis, Fermio dan Helras akan terus mengulang kisah cinta mereka yang tragis hingga dunia berakhir?

Citarasa Fleur
Aku suka pada sampulnya!

Sejak melihatnya di toko buku, aku sudah suka pada sampulnya yang "beraroma" klasik. Berwarna cokelat dengan gambar buku usang berusia ratusan tahun agak di tengah.

Dari kemasan, kita beralih ke endorsment atau komentar. Endorsment terbaik, versiku, adalah endorsment dari Yuliono. Diikuti oleh Dion Yulianto, Nita Sofiani, F.A. Purawan, Marchel, Truly Rudiono, Bonmedo Tambunan dan terakhir R. D. Villam.

Komentar-komentar mereka, kemungkinan besar akan mendongkrak keinginan calon pembaca yang mudah sekali penasaran.

Ada satu komentar aman. Ada dua komentar yang tidak memuji tapi juga tidak mencela. Lebih ke pertanyaan dan saran--yang saran ini sukses bikin aku tertawa, hahah.

Satu komentar, seandainya sesuai dengan konteks akan jadi komentar terbaik, memberikan konsep kuat kisah di buku ini. Untuk satu komentar lagi, aku bakal menaruhnya di akhir citarasa ini, soalnya mungkin agak beraroma sop iler.

Yang jelas, dari komentar-komentar itu, di benakku--dan mungkin juga benak calon pembaca lainnya--terbentuk pikiran bahwa Fleur ini berkisah tentang "kutukan cinta" dan "cinta terlarang."

Sekarang kita lihat sinopsis (atau blurb?), bisa dilihat disini. Ada tiga nama tokoh dongeng beserta tiga nama tokoh reinkarnasinya. Tapi diantara ketiga nama tokoh reinkarnasi, kenapa hanya George yang nama belakangnya tidak ditulis?

Siapa yang menulis sinopsis di cover? Fenny-kah? Atau tim Divapress?

Apakah penghilangan nama belakangan itu salah satu clue untuk membantu pembaca mengenali sosok George? Atau justru agar tidak mengenali? Padahal, menurutku, kalau nama belakangnya ditulis akan makin memperkuat konsep "cinta terlarang" yang telah dikatakan oleh beberapa komentator.

Atau justru nama itu sengaja tidak dituliskan untuk menyiratkan bahwa beberapa komentarnya... tidak terlalu benar soalnya tidak ada cinta terlarang... di novel Fleur ini.

Tapi judul bab pertamanya... Cinta Terlarang. Jadi siapa yang salah? Mungkin aku yang salah. Sebab tidak bisa menangkap di mana letak cinta terlarangnya.

Masuk ke dalam cerita. Kisahnya dibagi dalam dua bagian, tentu saja. Yang pertama, kisah dongeng yang melibatkan Belidis, Fermio dan Helras. Yang kedua, jelas, kisah reinkarnasi mereka: Florence, George dan Alford, yang hidup di Eropa abad 19.

Meski nggak terlalu detail-detail amat, tapi aku suka dengan nuansa Eropa abad 19 yang digambarkan cukup baik oleh Fenny lewat transportasinya yang berupa kereta kuda dan pakaian yang dikenakan para tokohnya. Sayangnya, Fenny tidak menyebutkan di mana tepatnya setting tempat ini. Maksudku, Fenny tidak menyebutkan kota atau desa tempat tinggal Florence Ackerley itu masuk dalam negara mana.

Tidak apa-apa sih tidak menyebutkan lokasi tepatnya rentetan kejadian di Fleur ini di mana. Tapi penyebutan negara di Fleur menurutku penting. Sebab dapat memperjelas arti kata "Lady" dan "restoran Perancis" bagiku.

Mungkin kata Lady itu alih-alih berarti "gelar" maksud atau arti sebenarnya adalah wanita. Soalnya, di beberapa bagian, entah kenapa aku ngerasa Fleur ini ditulis dalam bahasa Inggris.

Selain penasaran dengan kejelasan dua kata di atas, ada lagi yang membuatku sangat penasaran dan karena kesibukan--

alah, sibuk apa lo, Jun? Paling juga sibuk menjahit dan merenda!

Iya, aku sibuk menjahit dan merenda! Menjahit dan merenda cinta maksudnya, hahah.

Kembali ke citarasa. Karena jadwalku yang padat--

Jadwalmu padat?! Sudah kayak lalu lintas saja, padat merapap.

(Ah, biarkan kucing mengeong, aku akan mendatanginya dan mengelusnya, eh, maksudku aku tetap akan menulis review!)

--aku belum sempat mencari infonya. Beberapa yang membuatku penasaran adalah... Hanya dua sebenarnya, yakni:
- kapan revolver ditemukan?
- kapan teknologi pembuatan es pertama kali ditemukan?

Ya, revolver (sering disebut) dan es (hanya disebut sekali) turut serta memeriahkan novel berjudul Fleur ini. Tapi diantara keduanya yang paling bikin aku penasaran adalah es. Atau mungkin maksud es disini adalah sebutan untuk salju? Mungkin saja. Tapi kalau itu benar, kenapa tidak menyebutnya salju saja? Meski cuman satu kata, kan bisa bikin salah paham :( #eaaa

Atau memang benar-benar es? Ah, jadi bingung. Kapan sih teknologi pembeku air ditemukan?

Soal kisah cintanya... Aku tidak setuju dengan Nita Sofiani. Kisah di Fleur ini mungkin berbeda dengan kisah cinta segitiga yang belakangan ini happening, tapi aku pernah mendapati kisah yang serupa. Di bab pertama aku sempat tersendat ketika adegan masuk ke kehidupan Florence--mungkin karena aku belum terbiasa dengan gaya bercerita Fenny, tapi setelah masuk ke bab dua... Kisahnya mulai mengalir lantjar. Apalagi ketika mulai masuk ke dua bab sebelum epilog, aku tidak bisa berhenti batja! Tiga bab terakhir merupakan bagian terbaik dan ter--seperti kata F.A. Purawan--indah dari Fleur!!

Balik lagi ke satu komentar yang tadi sempat kusinggung. Komentar yang sebenarnya terbagus kedua dan pas dengan gambar cover depan: komentar yang menyebutkan kutukan dan buku. Kenapa aku... Penasaran dengan komentar itu? Bagi yang telah membatja buku ini sampai tuntas, jelas akan membantah komentar itu. Sebab kutukan itu tidak... Untuk mencari tahu kelanjutan kalimatku itu, kalian mesti membatja sendiri buku karya Fenny Wong berjudul Fleur ini, hahah.

Akhir kata, jika kamu suka banget kisah fantasi romantis, atau kisah romantis berbalut dongeng, atau kisah cinta yang endingnya nggak happy-happy amat alias cukup happy--nyaris bisa dipercaya terjadi di dunia nyata, saranku... lewatkan saja untuk membatja Fleur bila kamu ingin merasa rugi! :))

P.S.
[1] Terima kasih pada kak Dion Yulianto yang telah memberiku kesempatan menikmati Fleur yang manis ini :')

[2] Fleur adalah buku pertama terbitan Divapress yang aku batja. Aku cukup terkejut mendapati, aku tidak tahu bagaimana menyebutnya, screenshot atau cuplikan kalimat atau kata-kata seperti yang biasa kutemukan di cerpen di tabloid. Sangat membantu calon pembeli yang skimming alias batja/pindai cepat. Apalagi yang tercetak di situ, di bingkai dengan apik, bagian-bagian terbaik dari novel itu. Tapi... Bagiku kehadirannya agak... Jujur ya, agak mengganggu. Jadi setelah bab 2, aku tak menghiraukan screenshot itu lagi.

Apakah semua novel Divapress diberi screenshot kayak gitu?

[3] Aku sempat berpikir Fleur ini settingnya di Perancis. Hal ini dikarenakan judulnya yang bahasa Perancis.

[4] Fleur itu kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya bunga--nah, kalau yang ini aku sempat mencari tahu, hahah.

Have a "mirror" on http://feedmebook.blogspot.com
Profile Image for Dewi Kirana.
Author 2 books20 followers
September 7, 2012
Sebuah kisah fantasi romansa (atau romansa fantasi?) yang bersetting di Ferdsland, yang sebenarnya mirip sekali dengan Inggris di zaman Victorian.

Mengenai setting cerita ini, acungan jempol harus kuberikan kepada penulis. Penulis bisa menggambarkan settingnya dengan cukup baik, yang menunjukkan kalau penulis sudah melakukan riset yang cukup mendalam mengenai hal itu (atau penulis cukup menggemari era Victorian, sehingga tahu banyak tentangnya :D ). Istilah-istilah baru (atau istilah-istilah yang tidak familiar) pun dijelskan dengan catatan kaki (walaupun aku lebih memilih kalau semua istilah itu dijelaskan di dalam cerita). Namun ada beberapa istilah yang seakan terlewat untuk dijelaskan, seperti parquet dan drapery, membuat penulis seakan tidak konsisten menggunakan catatan kaki sebagai tekniknya untuk menjelaskan istilah-istilah tersebut.

Mengenai karakterisasinya, terus terang menurutku karakterisasi Florence agak kurang. Sepanjang cerita dikisahkan kalau ia adalah seorang gadis yang berani, namun keberaniannya itu hanya terlihat ketika ia menjegal copet dengan parasolnya. Sisanya keberaniannya sama sekali tidak kelihatan. Belidis sendiri juga diceritakan sebagai karakter yang berani. Tapi menurutku keberaniannya hanya tampak dari 1) Belidis berani menampar Helras, dan 2) Belidis berani memarahi Fermio. Kalau menurutku, daripada disebut berani, Florence/Belidis lebih tepat disebut sebagai berkemauan kuat. Karena kekuatan kemauan itulah Florence rela meninggalkan George dan menerima lamaran Alford. Dan karena kekuatan kemauan itu jugalah Belidis berani menampar Helras dan memarahi Fermio (karena mereka dengan satu dan lain cara membahayakan bibit bunga yang Belidis rawat).

Karakterisasi George menurutku biasa saja. Dan karena tidak diceritakan kenapa Florence bisa sebegitu mencintai George, aku akan berasumsi kalau cinta ini semata-mata karena Florence adalah keturunan Belidis dan George adalah keturunan Fermio. Kebetulan saja Geroge adalah cowok cakep-kaya-punya kedudukan cukup terpandang. Tapi kurasa, walaupun George terlahir kembali jadi seseorang pengemis jelek buta cacat pun, Florence akan jatuh cinta padanya, karena bagaimanapun George adalah Fermio, kan?

Cinta Belidis kepada Fermio malah lebih masuk akal, karena (mungkin) Fermio sering menemani Belidis, membantunya, jadi wajar saja seiring waktu Belidis jadi jatuh cinta pada Fermio. Helras, apesnya, tidak melakukan ini, hanya mengamati Belidis dari jauh. Makanya Belidis tidak jatuh cinta padanya. Coba kalau Helras banyak membantu Belidis seperti Fermio. Bukan tidak mungkin Belidis malah akan jatuh cinta pada Helras.

Mengenai sosok Alford, well, harus kuakui aku merasa sebal tapi juga simpati kepada cowok satu ini. Di awal cerita aku sebal banget sama Alford karena Alford itu egois, dingin, kaku, dan bodohnya nggak ketulungan kalau sudah menyangkut masalah cinta. Heran juga, padahal Alford punya dua kakak perempuan, tapi nggak ngerti bagaimana caranya memperlakukan perempuan. Apa kakak-kakaknya nggak ada yang pernah ngajarin dia? Kasihan amat.

Tapi yah, penulis sukses membalik kesan antagonis Alford di akhir cerita dengan menunjukkan kalau Alford juga manusia (mulai nyanyi Alford jugaaaa manusiaaaaaa). Cowok itu punya emosi, punya alasan di balik semua sikap dinginnya, dsb dsb dsb. Walaupun tetap saja pada akhirnya dia itu egois dan bodoh dalam urusan cinta. Tapi mengharuskan Alford mengalami kepahitan demi Florence cukup membuatku mengharapkan akhir yang lebih baik bagi cowok bodoh itu. Tapi sayangnya hal itu tidak dianugrahkan oleh penulisnya. Teganya dirimu wahai penulis! (Mulai mengajukan petisi “Beri Alford Cinta”)

Penulisan cerita ini sebenarnya sudah cukup rapi. Tapi berkali-kali kalimatnya terbaca seperti kalimat yang awalnya ditulis dalam bahasa Inggris lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Itu pun dengan terjemahan yang kadang-kadang terlalu harfiah, tidak disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, membuat kalimat-kalimatnya jadi terbaca dengan aneh. Ada juga kalimat-kalimat yang tidak terbaca seperti bahasa Indonesia, tapi juga tidak bahasa Inggris. Hanya… aneh saja.

Banyak penulisan adegan di cerita ini terbaca seperti adegan film. Tapi bukan berarti itu menjadi poin plus buat cerita ini, karena adegan-adegan yang mirip film itu malah membuat cerita ini menjadi terlalu mirip cerita-cerita romansa yang ada di film. Dengan kata lain, jadi biasa saja. Bahkan ada beberapa adegan mirip film yang terbacanya jadi aneh dan lucu kalau dituliskan dalam bentuk novel, seperti pelayan slash begundal bawahan Alford yang menggeretakkan jari-jemarinya sewaktu menghampiri George. Ayolah, gerakan menggeretakkan jemari itu gerakan khas film-film yang ingin menggambarkan, “Lihat, gue pria gede, serem, ganas, yang siap menghajar elu!” Dalam penulisan novel, hal seperti ini seharusnya bisa digambarkan dengan cara yang lebih unik dan tidak biasa.

Terakhir, endingnya ceritanya terlalu berkesan pesan moral buatku. Aku lebih memilih kalau ceritanya diakhiri dengan kisah Florence-George, atau bahkan kisah Alford, tapi bukan petuah seperti yang ada di cerita ini. Tapi mungkin ini hanya masalah selera saja.
Profile Image for Zulhidayat Pramudya.
12 reviews2 followers
September 10, 2012
Yeey, akhirnya selesai baca novel tepung (flour), Eh? Fleur.

Awal baca sih, saya tidak tergugah banget buat baca novel ini cepet, tapi dibagian tengah. Ada sesuatu yang menarik dan membuat saya ngebut bacanya, selain itu buku ini adalah hadiah ultah dari pacarku. Jelas buku ini jadi semakin istimewa buatku. Hehehe, covernya di dominasi warna putih agak buram dan sebuah buku yang udah jadul abis di tengahnya. Sinopsisnya tentang sebuah kutukan cinta segitiga yang sebenarnya udah pasaran banget, tapi penulis bisa membuat kisah ini lebih unik lagi. Dalam cerita ini kita disajikan 2 cerita.

Kisah dongeng dan kisah aslinya. Dongeng itu mengikat sebuah kutukan bagi sang karakter aslinya. Jujur saya lebih menyukai kisah dongengnya dari pada kisah nyatanya. Karena yang di dongeng kesan dan juga feelnya lebih terasa.

Well, kisah ini penuh dengan berbagai macam diksi dan dialog yang terasa keju, tapi aku bisa maklumi, mengingat karakternya memang tampak masihi menggebu-gebu dalam cinta. Hal itu amat wajar. Tapi beberapa kejanggalan bisa saya pinggirkan untuk tidak mengurangi keindahan novel ini.

Karakterisasi yang paling aku acungi jempol adalah si Alford. Bagiku Alford hanyalah ga beruntung, karena dia dididik untuk tidak jadi orang yang pandai dalam mengungkapkan perasaannya, aku jadi ingat Masumi Hayami, tapi Masumi setidaknya punya cara sendiri dalam menunjukkan perasaannya, tapi si Alford. Aku harus bilang dia ga punya kemampuan itu sama sekali.

Jalan kisahnya sederhana, tapi dikemas menarik. Alurnya juga kebanyakan sangat mudah terbaca, tapi dirangkai dengan indah. Aku cuma agak terganggu dengan begitu banyak orang-orang pencuri dengar dalam cerita ini. Kok, rasanya kurang natural. Itulah penyebab aku mengurangi satu bintang dari nilai sempurna.

Salam Kreatif

ZH

Tambahan saya juga review secara Live di Youtube

http://youtu.be/YU9VMyFs8DQ
Profile Image for Ghyna Amanda Putri.
Author 19 books62 followers
March 29, 2013
Ini keren, *angkat dua jempol*

Pokoknya saya puas banget baca ini d(' v ')b

Sederhana tapi kuat, dan manis.

Saya jarang baca novel karena emang agak pilih-pilih, buat yang satu ini juga saya nimbang-nimbang agak lama, baca-baca review punya orang dulu, baca ulang sinopsisnya, baru berani beli. Salah satu yang bikin saya tertarik buat baca itu sinopsis singkat yang ada di sampul bukunya, dan begitu buka BAB pertama, sejujurnya saya agak nyepelein karena ngira ini pasti biasa banget. Tapi akhirnya berani luangin waktu buat lanjut baca, dan terus baca... sampai saya mutusin buat berhenti baca. Kenapa? Bukan, bukan karena nggak suka, justru saya emang tipe orang yang suka ngelama-lamain baca buku yang saya anggap menarik. Saya mau nebak-nebak dulu gimana lanjutan ceritanya, ending apa yang bakal dikasih, sebelum baca sendiri.

Ternyata ini keren... saya suka setting victorian era (nggak tau sih, itu betulan victorian era atau bukan) dan kisah fantasi dunia peri yang bener-bener kayak dongeng. Nggak ada hal-hal yang ngeganggu selama baca, mungkin cuma editorialnya aja yang kadang rancu nempatin kata tapi ya udahlah, toh ceritanya juga udah kegambar di imajinasi saya.

Dan begitu tutup buku, saya ngerasa puas.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Marchel.
538 reviews13 followers
April 8, 2014
Gimana ya perasaan gw?

Senang? Mungkin lebih dari itu.

Now, I can't wait membandingkan dengan naskah awalnya yang hingga kini masih disimpan rapi.

Semangat Fenny !!!

N jangan pernah merasa minder n nda pede lagi yaaa.
*nunggu buntelan*
Profile Image for Michael.
41 reviews2 followers
November 22, 2012
baru selesai baca buku ini.. keren banget gak nyangka aja novel ini ternyata di buat orang indonesia walaupun tema yang di angkat disini agak kurang lazim di pakai..
sangat suka tokoh goerge a.k.a fermio kayaknya tokoh gw banget #et hahaha yah gak salah lah saya kasih bintang 4
Profile Image for Puspita Sanri.
58 reviews46 followers
December 22, 2013
buku ini menggambarkan kisah cinta yang unik dan tragis. aku selalu suka dengan cerita roman yang gelap seperti ini. overall, buku ini bagus dan tulisannya tersusun dengan apik, enak sekali untuk dibaca :)

4/5 bintang untuk cerita yang unik dan George (yes, i kind of fall for him haha) <3
Profile Image for Devita Natalia.
105 reviews19 followers
December 11, 2012
Curhat sedikit, buku ini gue dapat di Gramedia CP dan saat nyari-nyari pake komputer ternyata sisa satu buku. Jujur karena penasaran sama ini buku, gue minta tolong sama mbak gramednya buat bantu nyari, berdoa dalam hati supaya perjuangan gue dateng nggak sia-sia. Secara sisa satu buku di gramed biasanya bukunya entah kemana dan kemungkinan besar bakal nggak dapet. Tapi emank lagi beruntung, gue berhasil dapat buku ini. Yeayy..seneng banget. haha.

Oke mulai reviewnya..

Fleur menceritakan tentang Florence, Fermio dan Alford. Kehidupan percintaan mereka sudah ditakdirkan dari kehidupan sebelumnya. Pada kehidupan yang dulu, Florence adalah Belidis, George - Fermio dan Alford - Helras.

Belidis, sang peri bunga lemah dipertemukan dengan Dewa bumi yaitu Fermio. Karena kelemahan Belidis, Ia tidak dapat menumbuhkan bunga-bunga dengan kekuatannya. Namun karena ada Fermio, perlahan Belidis jadi bisa. Belidis tidak tahu dengan bantuan yang diberikan Fermio kepadanya membuat Fermio jadi melemah. Fermio yang mulai melemah meminta bantuan kepada temannya yaitu Dewa matahari - Helras. Helras yang melihat keadaan Fermio akhinya tahu bahwa keadaan Fermio disebabkan oleh peri bunga (Belidis). Helraspun menolak untuk membantu dan ia ingin melihat peri bunga seperti apa yang membuat temannya rela kehilangan kekuatan. Saat Helras datang ke bumi, Helras berhasil mengetahui seperti apa Belidis. Dan akhirnya, Helras mempunyai keinginan untuk merebut Belidis dari Fermio. Sampai terjadi pertarungan antara Dewa matahari dengan Dewa Bumi. Fermio kalah dan akhirnya mati. Belidispun menjadi melemah dan Helraspun ternyata tidak bisa mendapatkan Belidis.

Lalu, bagaimana nasib Florence, George dan Alford? Florence dan George yang hidup pada masa kini sebagai kakak adik, sudah nggak memungkinkan untuk mereka bisa bersatu. Ditambah lagi dengan kisah Belidis yang sudah diketahui oleh Florence.

Karena saat Florence membaca kisah Belidis, tertulis perkataan Helras kepada Fermio. "Walaupun hingga kehidupan yang keberapapun kalian saling mencintai, hingga keberapapun kehidupan juga, aku akan mengalahkanmu, merebutnya darimu! Hingga kehidupan keberapa pun kenyataan akan tetap sama. Kau takkan pernah bersatu dengan Belidis."

Jadi apakah kisah Belidis akan terulang dikehidupan Florence??


Kalau mau tahu akhirnya gimana, monggo dibaca buku ini. :)
Profile Image for Annisa M Zahro.
130 reviews25 followers
September 18, 2013
Read more: here

Akhirnya, setelah kurang lebih dua pekan yang lalu saya selesai membaca novel ini, hari ini terbit juga reviewnya. Kesan pertama saya tentang novel ini: Novel dari penulis lokal dengan cita rasa Eropa. Setting waktu yang digunakan penulis adalah era Victoria. Dari segi cerita, isinya lumayan oke, ini membuktikan bahwa karya penulis lokal juga patut diacungi jempol. Penulis cukup bisa membawa saya menyelami emosi tokoh-tokoh dalam novelnya. Cuma ada bebapa bagian yang membuat saya heran. Pertama, soal buku yang berisi kisah Belidis-Fermio-Helras, bagaimana bisa ada buku ini? Di cerita tidak ada penjelasannya, apakah bukunya terbentuk dengan sendirinya dari kekuatan Belidis atau bagaimana. Yang kedua, menurut saya kurang lazim, Alford kembali ke masa lalunya dua kali, saat dia menjadi Helras, dan saat dia menjadi Alford. Seharusnya, Alford cukup kembali pada masa dia menjadi Helras dan kutukannya pun terhapus. *pembaca sok-sokan*

Kali ini di luar isi cerita, kita mulai dari sampul buku. Dengan nuansa coklat, sampulnya cukup bisa memberi saya "rasa" terhadap buku ini. Akan tetapi, karena saya bukan pecinta novel-dengan-gambar-orang, menurut saya, gambar perempuan di sampul belakang agak annoying. Sebenarnya novel ini sudah cukup manis tanpa ada embel-embel si perempuan. Terus, dari kutukan yang disebutkan juga di sampul depannya sudah terlihat kalau kalimat kutukannya terlalu bertele-tele. Intinya satu, tapi sampai disebut di dua kalimat.

Masuk ke komentar atas buku ini. Sayang banget, komentarnya terpisah satu di lembar lain, cuma satu kata ditambah nama dan identitas komentator. Sayang sama sisa kosong di bawah tulisan itu, yang kalau mau sebenarnya komentar itu bisa tidak dimasukkan saja atau ukuran huruf untuk seluruh komentar diperkecil, sehingga seluruh komentar dapat masuk dalam satu lembar kertas (dua halaman bolak-balik).
Profile Image for Aulia Aziza.
32 reviews3 followers
February 22, 2014
Bentar, saya mau cerita dulu :P
Jadi, sebelumnya buku ini saya liat di tokobuku online dan masukin ke wishlist. Tapi entah kenapa mungkin karena udah lama ga naruh perhatian ke buku ini, soalnya hampir 1 tahun ga kebeli2 juga, jadi pengen dihapus aja dari wishlist.
Tapi, sebelum dihapus, saya baca lagi sinopsis bukunya, siapa tahu niat lagi buat dibeli. Eh, setelah baca sinopsisnya lagi langsung aja dibeli X) Dan bener-benar ga nyesel udah beli!
It's really worth. Suka perpaduan antara historical romance dengan fantasy. Ceritanya tentang Florance Ackerly yang mempunyai kekasih bernama George, tapi sayangnya mereka ini saudaraan. Untungnya hubungan mereka sekedar saudara angkat. Alhasil, percintaan mereka harus disembunyikan.
Namun, suatu hari Florance dilamar oleh seorang Alford Cromwell, seorang lelaki paling berkuasa di Fredsland. Namun, di saat itu juga Florance menemukan sebuah buku peninggalan Ibunya yang telah meninggal. Florance sadar bahwa kehidupannya dikutuk dan semua jalan hidupnya sama dengan buku tersebut. Jadi, demi memutuskan kutukan tersebut ia harus membelok dari jalan cerita yang ada di dalam berita.
Nah, bagaimana kah kehidupan Florance selanjutnya? Apakah ia benar-benar niat menghindari kutukan dari buku tersebut? Bagaimana jalan kisahnya dengan George setelah Florance menerima lamaran dari Alford?

So far, aku suka banget sama buku ini. Sebelumnya pernah baca karya Fenny Wong yang lain yaitu Moonlight Waltz, tapi entah kenapa ga selesai-selesai bacanya. Namun, setelah baca yang ini, saya suka sekali dengan jalan ceritanya meskipun ada beberapa adegan dan jalan cerita yang digambarkan secara lambat hal itu membuat saya sedikit bosan dan tidak mengerti.
Untuk karakter yang paling saya suka Alford Cromwell! Hahaha, entah mengapa suka aja sama dia. Atau ini emang kebiasaan saya yang lebih suka karakter lelaki utama kedua di sebuah cerita? Upss ^^v
Profile Image for Novita Wijayanti.
8 reviews3 followers
February 4, 2013
Aku udah tertarik baca novel ini sejak sekitar November 2012, tapi baru bisa baca (ngerampok punya temen) akhir Januari ini. Tertarik sama covernya yang keren bangeeeeettt~ >u<
Selanjutnya, langsung agak down baca halaman-halaman awal, karena ada beberapa kata depan yang rasanya nggak tepat penggunaannya, dan kata ‘ke luar’ yang ternyata setelah kubaca 2 kali lebih tepat ditulis ‘keluar’. Disambung, nggak dipisah. Masalah sepele, tapi akibatnya lumayan tuh. Editornya apa kabar ya? #wondering
Terus, bete sama si Florence yang udah takut duluan sama kutukan yang disebutin di buku dongeng. Dia kan nggak tau gimana nasibnya sama George kalo nggak nerima lamarannya Alford...bisa aja kan ternyata nggak seburuk itu? Rasanya jalan cerita agak maksa, penulis mati-matian berusaha mirip-miripin kehidupan Florence sama kehidupan Belidis.
Dan endingnya..........ehem, mangkel pol. Kirain cerita pas George, Florence n Alford mati adalah endingnya. Dan penyesalan Alford dalam kematiannya adalah penutup yang bagus banget. Ternyata eh ternyataaa.....dibalikin lagi ke kehidupan Helras yang memperbaiki nasib ketiganya, dan setelah itu balik lagi ke Alford yang batal membunuh George!! Man, man, man......what kind of ending is this??
Terakhir, pas halaman terakhir cerita, halaman 321. Rasanya kayak balik ke jaman SMP dulu, disuruh nemuin n nulis amanat cerita yang abis kita baca buat pelajaran bahasa. It’s sooooo........weird. Jadi, sepanjang membaca cerita ini, si penulis ngira aku ini anak SD ato SMP yang nggak bisa metik pelajaran dari cerita yang udah kubaca gitu? O.o
Tapi kukasih rating 3 lah karena cover yang keren, ide cerita yang menarik, n gaya penulisannya yang menyenangkan buat dibaca.
Profile Image for Sisma Dwi.
24 reviews4 followers
February 21, 2013
Kalimat yang keluar dari pikiran saya ketika selesai baca buku ini adalah "Ceritanya kayak dongeng."

Fermio, Belidis, Helras = George Ackerley, Florence Ackerley, Alford Cromwell

Fenny Wong seperti mengangkat sebuah dongeng ke dalam dunia nyata dengan setting Eropa sekitar tahun 1800an. Mengisahkan Kakak beradik keluarga terpandang Ackerley yang yatim piatu dan saling jatuh cinta. Namun keduanya terjebak dalam sebuah dongeng dalam buku yang diwariskan sang ibu, Mrs Ackerley yang meninggal ketika melahirkan Florence.
Hidup Florence berubah ketika ia memutuskan menerima lamaran dan akhirnya bertunangan dengan Alford Cromwell yang akhirnya ikut terjebak dalam dongeng tersebut. Dongeng yang tak pernah diketahuinya.
Dongeng tersebut bercerita tentang Fermio sang Dewa Bumi yang begitu melindungi Belidis si peri bunga yang lemah. Namun Helras sang Dewa Matahari begitu benci melihat itu dan ingin memiliki Belidis. Apapun akan dilakukan Helras untuk memiliki Belidis.
Florence melihat dongeng itu sebagai takdir, sedangkan George melihat dongeng itu sebagai mimpi buruk. Hanya Alford yang bisa mengubah takdir dan mimpi buruk itu. Walau Alford menginginkan Florence seutuhnya, seperti Helras yang menginginkan Belidis.

Fenny Wong berhasil membuat saya pilu dengan Fleur ini. Betapa cinta itu melindungi bukan sekedar memiliki. Betapa Fermio melindungi Belidis dan George mencintai Florence. Alford yang melimpahkan cinta pada Florence dan Helras yang memberikan kekuatannya pada Belidis. Mereka berusaha mengubah takdir masing-masing. Antara terharu dan bahagia di akhir cerita. Memberikan pengalaman membaca yang luar biasa untuk para pecinta dongeng.
Profile Image for Farida Farano.
6 reviews3 followers
July 1, 2013
plotnya bagus. suka cerita dongengnya. nggak nyangka cerita cintanya bs seru n bikin deg2an. and I found myself tersepona dgn Alford yang judes.

However, setting eropanya, Victorian era I supposed, terasa kurang kental. I'm talking about the house, interior, cutlery, fashion be ause it's a novel. well, mgkn krn saya membandingkan nya dgn ayu utami ketika bercerita ttg candi2 di manjali, atau anne rice yg dgn indah bercerita ttg gaun2 velvet atau beledu yg halus indah dgn renda dan pita warna2 di interview with the vampire. frankly speaking lbh mudah membayangkan cerita n drew me into the story kalau setting tempatnya jg digambarkan dg gamblang. I love vivid descriptions.

ada yang sedikit janggal juga. ketika flo ngotot melindungi George, n tiba2 datang ide brilliant utk elope, indeed I was shock to find out secepat itu flo setuju. I mean, heloooo? where the hell was that from?

next, living in the same house n reciprocally fall helplessly in love kok bisa keep their hands off not to fuck each other dgn cinta semembara itu? not that I wish for a bed scene like what harlequin books often have krn penulis fleur dari Indonesia, but I wish something yg more make sense.

pertanyaan saya: apakah cerita (cinta) harus selalu make sense? IMHO, cerita yg dibikin rapi dari bolongan2 pertanyaan aneh saya adalah cerita yang menarik dan tidak membuat saya malah tergesa2 pengen tau akhir dongengnya n parahnya justru sering skimming reading di bbrp chapter, like what I did when I was reading Fleur.

baca novel ini jadi inget novel pertama yang tak bikin pas SMP. Hehehe. I wish I was as brave as Fenny finding a courage to write n to publish solo.
Profile Image for Almira Nuringtyas.
99 reviews3 followers
April 15, 2013
3.5 stars :)

Gue suka nih buku. Historical romance berbalut fantasi. Keren! Jadi tertarik baca buku historical romance lain abis baca nih buku.

Aura Victoriannya kerasa banget. Antara setting masa kini yg berlatar 1800an sama cerita dongengnya sendiri yg diceritain secara bergantian juga gak bikin bingung. Pun alur ceritanya sangat menyenangkan buat diikuti. Dan covernya, cantik bangeeet :) I love it!

Tapi buat karakternya sendiri gue rata2 kurang suka. Sebel sama Florence, lembek banget dah. Terus apasih kelebihan2 Florence ini sampe bikin 2 cowok paling oke di masanya ngejar2 dia?-_- Jujur gue lebih suka karakter Belidis, kalo dia akhirnya disukai sama 2 dewa sih gue gak heran, soalnya Belidis nih emang oke dan loveable bgt.

Si George juga kurang suka. Lebih suka Fermio, gatau knp. Gue ngerasa si George ini kurang pantes buat Florence, pendapat pribadi aja ya wkwk.*dijotos George*

Satu satunya yg gue suka bgt disini itu Alford Cromwel! Yeah, menurut gue nih kharakter manusiawi banget. Dan ketulusannya buat Florence bisa sampe gue rasain :') #freepukpuk buat Alford dr gue yaa :')

Buat ending, kurang puas sih. Tapi menurut gue udah pas. Sukses terus buat penulisnyaa ;)
Profile Image for Orinthia Lee.
Author 12 books123 followers
April 22, 2013
Nyari buku ini di toko buku susaaah banget sekarang. Nyari di mana-mana nggak ketemu. Eh tiba-tiba temenku di Bandung bilang dia dapat buku ini dari diskonan di toko buku. Tadinya mau nitip, ternyata udah kehabisan... lagi-lagi :( Jadi solusi terakhir aku minjem aja sama temenku itu.

Begitu baca bab awal, aku udah merasa cocok sama buku ini. Cara deskripsinya, jenis ceritanya... aku banget. Aku suka cerita-cerita seperti ini... hehehe.... Dan aku menikmati baca buku ini sampai-sampai aku ceritain isinya ke mama dan mama jadi ikut penasaran sama ceritanya. Aku suka bagaimana Fenny mengaitkan kehidupan Florence, George, dan Alford dengan kehidupan masa lalu mereka sebagai Belidis, Fermio, dan Helras. Kisah cinta yang romantis sekaligus tragis. Dan aku suka bagaimana Fenny menyajikan ending untuk ketiga tokoh tersebut, senang dengan kesadaran yang akhirnya didapat oleh Alford/ Helras tentang apa itu cinta yang sebenarnya. Fenny, thank you for writing this story!

Buku ini manis banget. Semoga nanti aku dipertemukan dengan buku ini lagi, yang milikku sendiri.
10 reviews
November 13, 2025
ketemu novel ini dari perpus sekolah, and i think this is the best book i ever got.
Pertama, aku suka covernya. Selera aku banget!
Kedua, aku udah gak terlalu suka genre romance, tapi ga nyangka yang satu ini bakal seindahhhh ituu, bikin suka romance lagi, dan aku bahkan berharap bisa ketemu cerita lain yang kayak gini😭😭
Ketiga, bayangin, waktu klimaks nya aku berulang kali buka tutup buku cuma karena ga sanggup lanjutin dan sakit hati banget (mungkin karena disaat bersamaan aku juga lagi galau kali, ya)
Keempat, 2 atau 3 bab terakhir bener bener bikin aku nangis sesegukan, ngebayangin ada cinta sebesar ini, ya ampun😭😭😭

Awalnya jujur aku kira ini cerita kayak oh yaudah, apalagi mereka juga saudaraan (walau saudara tiri) dan aku belum pernah baca genre romance yang saudara-saudaraan gini, TAPI GA NYANGKA BANGET BAKAL SEBAGUS INI. Aku kasihan sama Florence dan George, kasihan juga sama Alford, tapi kayaknya lebih kasihan aku 😭

POKOKNYA AKU RATE: 😭😭/10
SOALNYA AKU NGETIK INI MASIH SEDIH WHWHWHHWHWJW

oke, udah, gitu aja. hehe. Semangat!
Profile Image for Rizki Widya Nur.
53 reviews1 follower
June 1, 2014
Sebenarnya udah nyelesain buku ini lama tapi, baru sempat review sekarang.
Awal bacanya sih ngira bakal lama bacanya atau malah selesai di tengah, alias gak lanjut. Ternyata semakin lama novel ini bikin penasaran juga. Disini kita dibuat berpikir bagaimana si tokoh utama menyelesikan kisah cinta segitiganya sementara ada kutukan di dalam keluarganya. Si tokoh utama ini menurutku gadis yang lemah, karakter yang sama sekali gak aku sukai. Cuma ternyata nih, itulah yang bikin konflik di sini, keingintahuan muncul karena gadis itu gak tegas.
Sebenarnya ceritanya biasa sih. Cuma karena ada dongengnya, jadi gak ngebosenin. Cukup baguslah buat romance fiction buatan indonesia.
Profile Image for Fakhrisina Amalia.
Author 14 books201 followers
January 24, 2013
Fenny itu makannya apa sih? imaginasinya bagus banget :|
gak kebayang gimana dia bisa mneyatukan kehidupan dongeng dan kehidupan nyata sekaligus.
Florence, Alford, dan George yang ternyata punya kehidupan di masa lalu, terus sama-sama terikat sumpah satu sama lain, sampai akhirnya mereka harus berjuang untuk mengubah takdir mereka itu sendiri. aaaaaaah, dan covernya memang luar biasa ! :D

dan most favourite quote yang ada di buku ini dan paling menyentuh hati adalah..
"Aku ingin kembali.. kembali sekali lagi"

*kemudian nyari tisu
Profile Image for Truly.
2,764 reviews13 followers
April 16, 2012
Terus terang saya lupa kapan pertama kali menbaca draft awal kisah ini.
pastilah sudah berkembang menjadi lebih baik.
Jika berurusan dengan hati, apapun bisa dijungkirbalikan
Layaknya iklan minuman dalam botol, siapa saja bisa terkena panah cinta, dimana saja serta kapan saja.
Ada sesuatu yang berbeda dalam kisah ini
Waspadalah......!

Repiunya nanti sajalah
menunggu buntelan dari sang penulis
Profile Image for Fenny Wong.
Author 6 books70 followers
Read
October 6, 2012
Wrote the first draft sometime a couple of years ago, in the midst of hectic exams and sad goodbyes. It provided the kind of escapism that I needed.

The idea of a flower taking nutrition from earth but standing straight challenging the sun intrigued me. The simple idea evolved into this published version of Fleur.

Fleur tells a story about the meaning of possessing, sacrificing, and loving.
Profile Image for Simbahenom.
190 reviews2 followers
July 5, 2012
Memang sulit melepaskan seseorang yang kita cintai, terlebih kita begitu mencintainya. tapi kadang memang ada hal-hal yang lebih baik diikhlaskan, tidak kita miliki.

Saya menyarankan Alford untuk mencontoh bagaimana sikap Kang Shin Woo ketika menyadari sebesar apapun dia berusaha, Go Mi Nam tak akan berpaling padanya.

Melepaskan..

Mengikhlaskan...

Begitu mulia, tapi begitu sulit dilaksanakan

*Nah nyambung ke Go Mi Nam lagi -_-"

*Ga pake repiu*
Profile Image for Shiki.
215 reviews34 followers
January 15, 2013
Pertama-tama, buku ini rapih.
Dalam artian, penulisannya tidak bikin saya menutup buku untuk memijit kening atau pindah tempat mencari pewe demi meningkatkan mood.

Tapi, tanpa bermaksud merendahkan genre romance sama sekali, sepertinya saya memang kurang cocok dengan romance yang kental seperti ini ^^;;;

Jadi, kalau dilihat dari sisi lain, artinya buku ini oke untuk yang suka kisah percintaan, dan fantasi pula.
Profile Image for Demeter Aulia.
23 reviews
Read
January 21, 2015
Ini seperti dongeng klasik. Aku suka ceritanya. Sebenarnya sih, jenis semacam ini bukan yang biasa aku baca. Hanya saja takdir kemudian membawaku memiliki buku ini *halah*
.
Jujur saja, agak butuh waktu lama untukku memahami keseluruhan ceritanya. Mungkin aku yang bodoh sih, jadi masih sering membalik lembar sebelumnya beberapa kali baru kemudian lanjut membaca chapter berikutnya. Tapi overall aku menikmati cerita ini. Novel ini cocok dibaca di waktu senggang, disaat relaks begitu.
Displaying 1 - 30 of 36 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.