tadinya mau ngasih 4 Bintang, tp krn ada bbrp judul yg agak bias sama isinya, batal deh 4 bintangnya. meski bgitu, ada banyak hal yg saya setuju dgn si penulis, misalkan knp org Bali itu terlihat kurang menghargai org meninggal, atau knp mrk tidak pernah melakukan ibadah rutin layaknya muslim dan kristen, penggolongan kasta pun di Bali pada akhirnya menjadi buah simalakama buat mrk sndiri......
Sangat direkomendasikan buat kalian-kalian yang hobi travelling apalagi yang sudah berkali-kali ke Bali hanya untuk sekedar refreshing. Setelah membaca ini kalian akan tersadar bahwa Bali seharusnya bukan hanya tempat untuk refreshing semata melihat sunset di Pantai Kuta maupun Sanur, bermain di Tanjung Benoa, atau sekedar memborong oleh-oleh di Pasar Sukowati. Di Bali, suatu provinsi dimana pariwisata merupakan jantung ekonomi masyarakatnya ternyata mulai kehilangan arah. Gde Aryantha Soethama menuliskan fakta-fakta masyarakat Bali dari kumpulan esainya secara apik. Kenapa saya hanya memberi 3 bintang ? Bukan karena buku ini tidak bagus tapi mungkin karena bab esai-esainya yang sangat banyak dan hanya singkat-singkat sehingga membuat saya terkadang merasa bosan membacanya. Secara keseluruhan isinya bagus :)
This is a book of critiques. Critiques on the tourists, but also on the Balinese people. Critiques on how tourists simply use Bali as their holidays, but give nothing to think about how Balinese should live if they want to conserve the land and culture, but also to do well in economics. Gde also throw critiques on the Balinese whose culture is so rigid, without any flexibility towards westernization.
The only option for Balinese culture is: to hold or to lose. There has not yet been discussions on how several aspects should be maintained and several aspects should be kept.