Kau bagai lagu indah, yang membuatku jatuh cinta dalam cara yang sederhana. Menyusup cepat ke dalam dada, mengentakkan hati, lalu mengisi penuh ruang kosong jiwa. Kaulah lirik yang selalu bisa kugumamkan berulang-ulang dalam benakku, tanpa jemu.
Kau tahu, ketika aku menyerahkan hatiku—telah kuserahkan seluruhnya. Namun, mengapa kita tak bisa sekadar saling tatap. Mengapa kita tak bisa teriakkan bahwa cinta yang kita rasa membuat bahagia dalam diri luruh hingga ke ujung-ujung jari yang menghangat.
Tak ada yang salah dengan cinta antara kau dan aku.
Mungkin, yang salah hanyalah waktu. Kau dan aku, seharusnya sejak dulu bertemu…
Novel: 1. Tarapuccino (bersama Rika Y. Sari, Penerbit Indiva Media Kreasi 2009) 2. Hati Memilih (Bukune 2011) 3. Izmi & Lila (Divapress 2011) 4. Persona Non Grata (Indiva Media Kreasi 2011) 5. Yang Kedua (Bukune 2012) 6. Ping! (bersama Shabrina WS, Bentang Pustaka 2012) 7. The Coffee Memory (Bentang Pustaka 2013) 8. Jasmine (Indiva Media Kreasi 2013) 9. A Cup of Tarapuccino (bersama Rika Y. Sari, Indiva Media Kreasi 2013) 10. First Time in Beijing (#STPC Bukune 2013) 11. Perjalanan Hati (Rak Buku 2013) 12. A Miracle of Touch (GPU, 2013) 13. Dear Bodyguard (Bentang Pustaka, 2013) 14. Gerbang Trinil (duet bersama Syila Fatar, Moka Media) 15. Rahasia Pelangi (duet bersama Shabrina WS, GagasMedia, 2015) 16. The Secret of Room 403 (Indiva Media Kreasi, 2016) 17. Love Catcher (Gagas Media ; 2017)
Non Fiksi : 1. Kitab Sakti Remadja Oenggoel (bersama Oci YM, Indiva Media Kreasi 2013) 2. Sayap-sayap Sakinah (bersama Afifah Afra, Indiva Media Kreasi, 2014) 3. Sayap-sayap Mawaddah (bersama Afifah Afra, Indiva Media Kreasi, 2015) 4. I Will Survive (bersama Oci YM, Indiva Media Kreasi, 2016) 5. Sayap-sayap Rahmah (bersama Afifah Afra, Indiva Media Kreasi, 2017)
Antologi : 1. LDR Crazylove (Bentang Belia, 2012) 2. My Stupid Love (Indiva Media Kreasi, 2013) 3. Jomblo Prinsip Atau Nasib (Indiva Media Kreasi, 2015) 4. Ramadhan in Love (Indiva Media Kreasi, 2015) 5. Jejak Kaki Misterius (Indiva Media Kreasi, 2016)
Beberapa penghargaan lomba menulis : 1. Pemenang I Resensi Indiva (2008) 2. Pemenang II Sayembara Cerber Femina (2008) 3. Pemenang Harapan Sayembara Cerber Femina (2009) 4. Pemenang Hiburan Feature Ufuk Dalam Majalah Ummi (2009) 5. Pemenang II Lomba Novel Inspiratif Indiva (2010) 6. Pemenang I Lomba Novel Remaja Bentang Belia (2011) 7. Pemenang Berbakat Lomba Novel Amore 2012 8. Pemenang 1 Indiva Reading and Review Challenge (2015) 9. Pemenang Harapan Lomba Menulis Novel Indiva (2015) 10. Pemenang 2 Lomba Resensi Novel "Pulang" (2015) 11. Pemenang 1 Lomba Blog StilettoBook (2016) 12. Pemenang 2 Lomba Resensi Novel "Ayat-ayat Cinta 2" (2016) 13. Pemenang 1 Lomba Resensi Buku "Cerdas Mengelola Keuangan Pribadi" (2016)
Romantis. Itu kesan pertama yang saya tangkap dari untaian kata di sampul belakang buku manis ini. Bukunya emang dikemas dengan manis banget. Ya gambar covernya, warnanya, kertas sampulnya. Acungin jempol lah buat Bukune yang rasanya punya something different dalam konsep pengemasan setiap buku yang mereka terbitkan.
Sejujurnya, membaca sinopsis di cover belakang, saya berharap bakal menemukan scene-scene romantis antar tokoh-tokohnya. Sayangnya, menurut saya, minim banget scene romantisnya. Romantis gak harus melulu tentang interaksi tokoh kan ya? Tapi suasana sekeliling yang ciamik juga salah satu sebab sesuatu itu bisa dibilang romantis. Atau, pendeskripsian perasaan tokoh-tokohnya, juga bisa dibilang romantis kok. Tapi saya ngerti dengan pakemnya penulis. Dan ini juga sebuah nilai plus dari penulis yang satu ini. Penulis kayaknya gak pernah mau mengeksplor terlalu dalam dan intens tentang perasaan tokoh-tokohnya yang bukan suami istri. Mungkin dalam, tapi kurang jleb gitu. Apa sayanya aja ya yang gak bisa ngerasain? O.o #efekkebanyakanbacaromance
Ada juga beberapa hal bikin dahi saya berkerut-kerut. Bahkan sempet juga terlintas di pikiran, “Ini beneran bikinannya penulis yang satu ini ya?”, kalau aja saya gak ngenalin gaya tuturnya penulis ini. Karena beberapa detail ‘kecil’ ini cukup mengganggu saya.
First, tentang waktu, dan ini yang bikin dahi saya berkerut banget. Di prolog kan dengan jelas disebutkan bahwa segalanya bermula pada tahun 1997. Di bagian selanjutnya, waktu berlalu 10 tahun kemudian. Artinya 2007 kan? Nah, kok si Vienna nyanyi Matahariku-nya Agnes Monica?? Lagu itu kan rilis 2008. O.o
Yang bikin saya jleb, di halaman 92, saat MC membacakan pengumumannya, MC itu bilang, “And the first winner of Asian Song Couple Festival 2011 is…” Waks??? 2011??? Jauh amaaaattt??? Tuing tuing. O.o
Pertemuan kembali antara Vienna dan Dave dalam festival kan 10 tahun dari 1997, yang artinya tahun 2007. Nah, beberapa minggu setelahnya, mereka masuk ke festival Asia. Yah, anggep aja udah pindah tahun jadi 2008 awal. Tapi kok MC-nya bilang Song Festival 2011? Ah, mungkin salah ketik. Ya ya… mungkin salah ketik nih. Berkali-kali saya meyakinkan diri soal itu. Dan syukurlah, saya sedikit nglupain soal tahun-tahun itu.
Yang meyakinkan saya bahwa itu salah ketik adalah pernyataan Dave di halaman 186. Dave bilang soal 13 tahun yang lalu. Berarti, 1997 ditambah 13, jadinya 2010. Ini sih wajar, karena sudah beberapa tahun sejak pertemuan mereka di festival. Hehe… abaikan saja komen sotoy ini. :p
Second, saya agak bingung dengan background tindak kriminal apa yang dilakukan si Haris? Penggelapan? For what? Seenggaknya, disinggung sedikit lah, biarpun gak banyak, karena fokus cerita emang gak di situ. Tapi kalau aja dijelaskan sedikit, pembaca pasti bisa lebih lega.
Third, penulis kelihatan pengen memasukkan cerita lain sebagai hikmah, sebuah cerita nyata yang pernah saya baca. Penulis memasukkan cerita ini secara ‘halus’. Tapi bagi saya, kelihatan emang ‘maksa’ dimasukin. Kenapa ‘maksa’? Tiba-tiba aja kakak Dave nyeletuk untuk berkunjung ke seorang kerabat jauh yang lama gak dikunjungi. Mungkin, emang karena ‘kasus’nya mirip sama Dave, jadi tiba-tiba aja kakak Dave terceletuk. Tapi bagi saya, tetep ‘dipaksa’ kisah tentang Paman Goh Kee ini harus bisa masuk sebagai hikmah. Tapi ‘maksa’nya emang smooth banget, sehingga gak begitu terasa sih. Gak jadi soal kok. Dinikmatin aja, gak usah sambil mikir-mikir kayak saya yang sotoy ini. :D
Fourth, mungkin udah ciri khasnya seorang Riawani Elyta ya. Selalu aja, di setiap tulisannya itu, dalam satu paragraf akan ada dua dialog dari dua tokoh. Kalau biasanya kan, dialog antar tokoh selalu diberi jeda dengan ganti baris, sekaligus menandakan kalau dialog yang ini adalah dialog milik tokoh yang lain. Kalau penulis ini, sering banget, tokoh A bilang ‘bla bla bla’ di awal paragraf, nah di tengah atau akhir paragraf, tokoh B menjawab ‘la la la’. Jadi agak sedikit kurang nyaman aja. Saya pribadi, lebih enjoy kalau penulis berkenan memberi baris yang berbeda pada setiap pergantian dialog antar tokohnya. :)
Terlepas dari hal-hal yang bagi saya mengganggu, tapi gak begitu penting itu, satu hal yang pasti, ini buku yang layak dibaca. Berkisah tentang arti sebuah kesetiaan. Beneran dah, kalau saya dapet istri yang pandai menjaga diri (dan hati) kayak Vienna, bakal saya pertahanin abis-abisan. ;)
Riawani Elyta, seorang penulis muda cerdas berbakat dari Tanjung Pinang Kepulauan Riau. Banyak sudah karyanya menghiasi cakrawala dunia kepenulisan di Indonesia. Novel “Yang Kedua” ini adalah novel kelima yang berhasil dipublikasikan, selain banyak karyanya yang berupa antologi, beberapa novelet di media cetak dan berbagai penghargaan dari sejumlah Lomba Menulis yang pernah diraihnya.
Kisah pada novel “Yang Kedua” diawali dengan pertemuan dua tokoh utama dalam cerita ini, Vienna dan Dave dalam suatu pesta ulang tahun seorang teman, yang terjadi secara kebetulan dan tidak disadari namun ternyata membawa kesan yang begitu dalam bagi keduanya.
Pertemuan kedua terjadi sepuluh tahun kemudian di lain kota, dalam kondisi yang sama sekali berbeda. namun kenyataan menyatukan mereka dalam satu panggung. Vienna dan Dave sama-sama menjadi pemenang dalam sebuah Festival Vokal, dan pada akhirnya membawa mereka berdua menghadapi Festival selanjutnya di pentas Asia, sebagai pasangan duet. Kemenangan yang mereka raih di ajang internasional serta merta diikuti pula dengan popularitas.
Faktor tuntutan ekonomi yang menjadi latar belakang keikutsertaan Vienna dalam festival menyanyi tersebut, dengan kemenangan-kemenangan dan kepopuleran yang diraihnya, membuat Vienna merasa dimanfaatkan sebagai ‘sapi perah’ oleh suaminya sendiri. Haris, suami Vienna, lelaki manja yang ambisius, menganggap semua itu adalah balasan yang setimpal atas kerelaannya menerima Vienna sebagai istri yang tidak bisa memberikan keturunan dan juga sebagai balas jasa atas partisipasinya mendorong Vienna untuk ikut dalam Festival Vokal. Hadiah dan honor yang diterima Vienna akan langsung dialihterimakan Haris dengan dalih investasi.
Dave ternyata menaruh hati pada Vienna semenjak pertemuan pertama, meskipun ia harus menerima kenyataan bahwa Vienna telah bersuami. Dan insting Dave mendapati bahwa Vienna juga memiliki perasaan yang sama, namun bias oleh tuntutan keadaan bahwa ada Haris dan kenyataan bahwa Vienna adalah wanita yang ‘kurang sempurna’.
Disini penulis dengan apik membawa pembaca pada masalah yang dihadapi para tokoh utama. Alur dan plot serta deskripsi yang jelas, menarik pembaca pada emosi yang dialami Vienna dan Dave. Walaupun penyelesaian konflik antara Vienna – Haris dan persoalan yang dihadapi Vienna – Dave terkesan terburu-buru dan dipaksakan untuk mendapatkan ending.
Akhir penyelesaian cerita yang menyenangkan selalu diharapkan oleh para pembaca, dan di novel “Yang Kedua” ini pembaca akan mendapatkan jawaban yang memuaskan. Bahwa cinta tidak selalu ada pada jalan yang mulus dan lurus, tapi harus diperjuangkan untuk direngkuh, adalah kesimpulan penting dari keseluruhan isi novel ini. Bacalah, dan Anda akan dapat memahami makna cinta yang penuh tanda tanya akan kesejatiannya.
Ketika awal membaca novel ini, aku ga begitu antusias apalagi begitu tau sang tokoh wanitanya sudah menikah. Dan semakin gundah ketika sang wanita ternyata mengalami kemalangan yang sangat menyakitkan bagi seorang wanita. Setelah terus kubaca sampai akhir, ternyata ceritanya seperti kisah nyata dari beragam kehidupan manusia. Tidak ada yang terlalu mendramatisir yang membuat kita "iri" pada cerita ini yang kadang saya temui ketika saya membaca cerita yang manis. Ternyata terkadang saya harus membaca sisi lain kehidupan dari sudut yang berbeda agar saya bisa bersyukur dengan hidup ini. Kesabaran dan keikhlasan serta kebesaran hati dari sosok Dave dan Vienna membuat mata hati saya terbuka.
kedua buku Riawani ini sudah saya baca setahun yang lalu, tapi jika disuruh memilih, saya dan hati saya lebih memilih YANG KEDUA. menurut saya, ceritanya lebih 'ngegereget' Yang Kedua, memang dua novelnya (Hati Memilih & Yang Kedua) sama-sama menceritakan konflik orang dewasa, tapi pada novel YangKedua inilah saya merasa konfliknya mengena sekali, atau mungkin karena konflik biasa dilihat di sinetron/kehidupan nyata. cerita yang membuat saya ingin sekali masuk di dalamnya.. 4stars, saking good-nya.. ;D
Sebenarnya ceritanya udah ketebak endingnya sih ya. Ceritanya pun biasa, tapi Riawani lumayan membuat ceritanya yang biasa menjadi lumayan lah. Alurnya juga terasa lambat. Bagian klimaks pun rasanya sudah bisa aku prediksi di awal. Tapi di bagian Dave melihat pasangannya Pamah Goh Kee, itu bagian menarik.
Bagiku cinta tak lebih dari sekedar ucapan di bibir selama kau tak mampu memperjuangkan apa pun. -Paman Goh Kee-
Uhm.. pertama kali membaca karya Mbak Riawani. Kesan pertama, mengalir teratur, dengan bahasa yang mudah dipahami juga alur cerita yang rapi. Namun, ada beberapa kekurangan yang saya tangkap. Menurut saya, terlalu lama menuju konflik. Sampai 100 halaman saya baca, saya belum menemukan konflik yang membuat saya penasaran.
Ide cerita yang diusung penulis memang klise, mengenai orang kedua, seseorang yang hadir saat seseorang yang lain sudah memiliki pendamping. Namun, saya akui bahwa penulis mampu mengemasnya menjadi sangat menarik. Dilatarbelakangi dunia seni musik dan entertainment, novel ini menjadi semakin menarik untuk dibaca. Meski, mengangkat permasalahan mengenai rumah tangga, namun saya pikir remaja pun pantas membacanya. Banyak pelajaran hidup yang bisa diambil.
Karakternya sudah cukup kuat, Vienna yang pemalu yang selalu berusaha membentengi dirinya dari orang lain selain suaminya. Haris yang berambisius namun sedikit egois juga Dave yang lemah lembut, baik hati dan perhatian.
Seandainya, Vienna mengalami kegagalan dalam kontes nyanyi lalu berangsur-angsur bangkit dan akhirnya meraih juara, mungkin novel ini akan menjadi lebih hidup karena tak ada kesuksesan yang instan. Tapi secara kesuluruhan, oke, baik dibaca oleh remaja dan dewasa.
Satu hal yang menjadi pelajaran penting yang saya ambil dari novel ini adalah agar tidak mudah menghakimi kehidupan seseorang, terutama selebritas yang seringnya privasi mereka diumbar di khalayak dalam berbagai media. Namun, seberapa banyak kehidupan mereka yang kita ketahui? Seperti cerita Vienna. Kalau semisal kisah Vienna ini nyata dan kita hanya mendengar dan membaca cerita hidupnya dari media, bisa jadi kita akan memvonis Vienna terlibat skandal dengan teman duetnya dan hal-hal lainnya. Tanpa kita pernah tahu bagaimana kehidupan Vienna yang sebenarnya, apa yang terjadi di balik pernikahannya.
Sudah beberapa buku karya mbak Riawani yang saya baca. Secara keseluruhan saya suka dengan gaya bercerita Mbak riawani, mengalir dan tidak membosankan. Termasuk dalam novel yang kedua ini. Tapi ada beberapa kekurangan yang saya catat. yang pertama ending yang mudah ditebak, yang kedua pemilihan nama tokoh yang sering 'nggak pas' di hati saya (alasan yang kedua ini murni subjektif semata).
Yang kedua, sebuah novel tentang cinta dua manusia yang sempat dipertemukan ketika remaja dan kemudian terpisah oleh jarak dan waktu. Mereka kembali dipertemukan ketika sama-sama sudah dewasa, tetapi sayang sekali yang wanita sudah menikah.
Sebagai partner bernyanyi tentu saja mereka diharuskan untuk selalu berinteraksi.
Judulnya sih suka. Penerbit Bukune lagi. Yah, walaupun nama penulisnya baru dengar juga waktu beli ini buku. Tapi gimana ya? Bingung dan membosankan. Nggak suka sama semua karakternya. Maaf :)
"Kamu telah menarik perhatianku sejak pertemuan pertama kita, Vien. Dan sampai hari ini aku masih terus berjuang menahan semua keinginan dan perasaanku terhadapmu. Karena aku bukan pria pengecut yang hanya bisa mengambil kesempatan untuk merebut wanita yang sudah menjadi milik orang lain, meski aku mencintainya."
"Aku sudah lama tak lagi peduli akan alasan. Banyak orang hanya mampu mengatakannya, tapi tak mampu membuktikan. Aku tak mau protes pada Tuhan kenapa hidupku ditakdirkan begini. Biarlah kata cinta hanya jadi milik mereka yang masih terus mencari, aku cukup menjalani apa yang sudah kumiliki. Bagiku, cinta tak lebih sekedar ucapan di bibir selama kau tak mampu memperjuangkan apapun."
Cerita ini bermula ketika Vienna mengikuti sebuah festival menyanyi untuk yang pertama kalinya. Dan hasilnya ia pun berhasil memenangkan perlombaan tersebut. Hadiah yang awalnya ingin Vienna gunakan untuk membetulkan atap dapur yang bocor ketika hujan, dan yang lainnya di hanyutkan oleh keinginan Haris, suaminya, yang merasa motornya itu sudah butut dan tak layak digunakan. Dan bermula dari situ Haris tampak berubah. Hadiah dari perlombaan tersebut yang salah satunya adalah kontrak rekaman dengan Diva Entertaiment, mengharuskan Vienna untuk mengikuti festival duet yang berlangsung di Singapore.
Saat-saat Vienna di Singapore, Haris sering menarik uang tabungannya dengan alasan ingin membangun CV bersama teman-temannya. Dan lewat festival tersebut, Vienna bertemu dengan Dave, lelaki yang merupakan partner duetnya. Dave pun mulai merasakan getaran yang berbeda terhadap Vienna. Hubungan rumah tangga Vienna dengan Haris akhirnya kandas ditengah jalan karena Haris telah ditetapkan sebagai terdakwa, serta utang Haris telah menumpuk. Sejak saat mengetahui hal tersebut, Dave mulai memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya, Vienna mengatakan bahwa Vienna terkena infeksi rahim dan tidak ada pilihan lain selain mencabut rahimnya. Namun tak perlu diragukan, Vienna adalah sosok yang menarik dan anggun. Namun, apakah Dave dapat menerima kekurangan Vienna yang satu itu?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Saya merasa agak bosan di awal… Tapi saat suami Vien sering muncul itu saat-saat yang selalu membuat saya kesal.. why… karena saya selalu berpikir suami macam apa dia… yang rasanya seperti memanfaatkan keadaan finansial keluarga mereka….
Dan ternyata beneran… senjata makan tuan… semuanya lenyap begitu saja karena ketamakannya… :3
Yang sangat membuat saya ‘terenyuh’ saat membaca bagian Paman Goh Kee dan istrinya.. It made me cry. How could he be so patient? What if he rejected to marry her? Is is love? What is love?
Hal-hal seperti itulah yang membuat saya bertanya-tanya…
Dave.. pun menjadi sosok yang membuat saya terharuuuuu…
Ya Allah…. Ada pria yang kayak gitu jugaaa… They will face and fight it together… T_T
Nah kalau yang ini, saya suka salah satu kalimat di blurbnya, "Aku dan kamu, seharusnya sejak dulu bertemu". Langsung deh, ambil dompet, bayar ke kasir. Isinya bercerita tentang seorang wanita yang telah memiliki suami, dan berkecimpung dalam dunia musik yang digeluti. Sebenarnya belum selesai baca, tapi saya sudah bisa menebak alur nih, pasti endingnya twisted banget. Siap-siap tisu. Namun, ada hal yang saya tidak suka: font dan spacenya terlalu kecil huhu