Bertema pencarian seorang anak terhadap ayah dan saudara kandungnya,berlatar alam, budaya, dan sejarah beberapa daerah di Sulawesi Selatan. Sangat pekat dan kental. Sangat dalam dan cukup menyentuh. Karena saya pecinta alam, sejarah, dan budaya, maka bagi saya cukuplah pemikat untuk menikmati buku ini.
Meski, saya menemukan cukup banyak kalimat rancu, bahkan sejak di halaman satu. :) Yaitu,
"Sepertiga malam di awal musim kemarau." Ini adalah kalimat pertama paragraf pertama pada prolog. Di kalimat pertama paragraf kedua, masih di halaman satu, tertulis, "Telah setahun hujan tak turun." Kalau menurut pemahaman saya yang sederhana, setahun tak hujan itu cukup lama, agak sulit jika disebut awal kemarau...
Meski, lagi, di kaver depannya tertulis bahwa jalinan cerita berganti-ganti antara haru dan lucu, tapi ternyata saya tidak sampai tertawa juga. Aneh ya? Tapi memang selera humor saya untuk buku terbilang rendah, meski ada juga beberapa buku humor yang sanggup membuat saya tersenyum dan tertawa.
Untuk keharuan di dalam kisahnya, bagi saya cukup. Walaupun saya tidak sampai menangis juga :D Tapi saya suka ending novel ini, meskipun sempat tertebak oleh saya beberapa kejadian akhirnya.
Jiwa backpacker saya terundang di sini: ingin saya menjejakkan kaki di desa Pakka Salo yang dikelilingi pegunungan dan perbukitan, tempat hidupnya beberapa tokoh utama novel ini. Penasaran saya pada sungai-sungai keringnya yang kemudian digali tengah-tengahnya menjadi sumur. Penasaran ingin melihat langsung Danau Sidenreng yang diserupakan oleh Pak Amin dengan analogi Laut Merah yang dibelah Musa. Sekering apa hingga tiang-tiang kayu tinggi yang menyangga bawah rumah-rumah panggung terlihat semua. Danau yang mengering itu.
Tidak salah, novel ini benar-benar penuh dengan hela napas lokal. Sisi-sisi yang membuat negeri ini kaya. Yang seharusnya membuat para penulis tak pernah putus ide cerita.