Merdeka dalam bercanda. kalimat yang sangat tepat untuk mendeskripsikan booming stand up comedy di Indonesia. Komedi genre "baru" yang mengutamakan topik-topik keseharian, keresahan yang digubah menjadi komedi. Isu-isu sensitif kadang jadi tema yang tidak hanya mengundang tawa tapi juga membuat kita tersentak dan berpikir akan sekitar kita.
Dari buku ini saya jadi tahu sejarah stand up comedy. Awalnya dianggap tak cocok untuk masyarakat Indonesia yang suka terusik bila dikritik nyatanya, kini banyak komunitas stand up comedy bermunculan di mana-mana. Perjuangan panjang yang tidak mudah, namun nyatanya terlihat hasilnya. Sebagaimana kata Pandji, "Emang susah, tapi bisa."
Tak hanya menceritakan proses Pandji menjadi sebuah komika dan membangun komunitasnya, buku ini juga menjelaskan secara teknis apa itu stand up comedy dan teori-teorinya.
Jadi 3 bintang yang saya kasih buat buku ini. Satu bintang untuk penulisannya. Buku ini sangat enak dinikmati. Sama seperti Nasional.is.me, buku ini menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami. Satu bintang untuk tampilannya yang menarik. Beberapa halaman berwarna dan dilengkapi foto para komika. satu bintang untuk pengetahuan yang saya dapat. Bukan berarti saya mau jadi komika seperti Pandji, tapi penjelasan dalam buku ini membuat saya lebih memahami apa itu stand up comedy dan rasanya pengalaman menontonnya jadi lebih menyenangkan.
Jadi, mari memerdekakan diri dalam bercanda. Ha...ha... Don't freak out and let's open our mind.
Buku ini membuka pandangan saya pada stand up comedy di indonesia. tadinya saya cuma sekedar tahu saja, tapi karena buku ini udah kayak buku sejarah komtung, saya jadi tahu banyak deh...
ternyata jadi comic nda semudah kelihatannya, musti bisa meng-compile kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda, berpikir cepat, mengingat, berinteraksi, de el el, de es te, de es be... kelihatannya memang ruwet, rumit, complicated, tapi ya itu tadi: pasti bisa (asal rajin latihan dan ga usah takut trus jera pas nge-bomb ato ada heckler..).
ngga mudah memang untuk bisa membuat orang lain tertawa, dan lebih sulit lagi untuk membuat orang lain menertawakan diri masing-masing bersama-sama. makanya, saya salut sama komtung-ers indonesia yang sudah berani "babat alas" dan ambil resiko untuk memberi angin baru bagi komedi. memang sepertinya sudah saatnya untuk bisa berintrospeksi dengan cara yang fun: membuka pikiran, menertawakan diri sendiri, lalu mencoba memperbaiki :D
Memang tidak sebagus dua buku milik Pandji sebelumnya yang saya baca (Nasional.is.me dan Berani Mengubah), tapi lewat ketiga buku ini (empat ding!) Pandji telah meletakkan tonggak sejarah bagi generasi muda Indonesia.
Meski bercerita tentang sejarah comic dan dunia komedi secara umum, namun lewat "memoarnya" ini, Pandji ingin membagikan pemikirannya... apa yang dia rasakan, apa yang sedang ia pikirkan... bagaimana pandapat dia tentang ini, tentang itu... sambil terus menyemangati generasi muda bahwa "Kita Bisa!". Kita bisa untuk membuat Indonesia lebih baik lagi. :)
Well, dari keseluruhan isi buku, saya paling suka bagian (atau kata-kata) yang ini:
"People will think I'm naive, but there's nothin' naive in doing the right thing. Jangan jadiin pemerintah korup sebagai alasan menghindari pajak. Pemerintah biarin saja ngaco, rakyatnya tetap bener. Kalau pemerintah ngaco, rakyat ngaco, apa jadinya negara kita?"
buku tntang pergerakan pejuang kemerdekaan dalam tertawa #ehh. eh tp bener deh, abis baca buku ini berasa abis baca buku sejarah yg nyeritain tentang perjuangan2 pahlawan kemerdekaan. well bukan berarti buku ini ngebosenin. justru sebaliknya, secara gw suka sejarah gituhh. di buku ini pandji nyeritain perjuangan munculnya stand up comedy di indonesia, gmn mereka mesti struggle demi munculnya standup indo. kebayang ga sih, mereka berjuang untuk bikin orang lain ketawa. waow. hahaha, walaupun mungkin bikin orang ketawa itu adalah passion mereka. but the most important point is that they try to make us laugh. salah satu kalimat yg gw suka banget itu adalah "Susah emang, tapi pasti bisa". kalimat yg selalu ada di akhir chapter dan kalimat yg.....memang betul adanya. ga cuma berlaku di dlm strugglenya stand up comedy tapi life in general.
Sebuah buku perjalan seorang yang ingin menjadi stand up comedian, bukan hanya itu. Juga memperjuangkan kiprah stand up comedi di indonesia. Sangat menarik Membuka wawasan baru bagi saya pribadi
Merdeka. Indonesia pasti bisa merdeka dalam bercanda.
Buku ini ditulis oleh Pandji Pragiwaksono. Pandji ini merupakan satu dari stand-up comedian di Indonesia. Dia mungkin tidak lebih baik dan lebih lucu daripada yang lain, tapi hanya dialah yang juga ngerap, menulis buku, pengusaha clothing basket, komikus, penyiar radio, MC, presenter televisi, guru public speaking & presenting. Banyak sekali, ya? Tak perlu iri.. Jalan kesuksesan kita masing-masing sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa, bukan?
Buku ini menceritakan tentang perjalanan dalam membangkitkan stand-up comedy di Indonesia. Pertumbuhan stand-up comedy di Indonesia sendiri pun sekarang ini sudah mulai terlihat pesat sekali. Di televisi juga seringkali kita melihat berbagai comic yang berstand-up di atas panggung yang menghibur kita-kita semua.
Sekarang berbeda dengan dahulu. Dahulu, pastinya, stand-up comedy belum semeriah sekarang. Seperti yang dijelaskan oleh Pandji dalam bukunya, banyak orang-orang kita yang meragukan stand-up comedy akan berhasil di Indonesia. Karena stand-up comedy merupakan budaya luar. Coba kita telaah lagi mengenai stand-up comedy. Stand-up comedy ini hanyalah merupakan format, format menyampaikan dengan berdiri (yang biasanya) sendirian di atas panggung. Namun, bagaimana dengan kontennya (isinya)? Ya, tetap komedi-komedi juga, tohh. Kalau orang suka dengan komedi ya walaupun dengan format apapun pasti akan suka juga. Jadi, apa masalahnya?
Ada beberapa nama yang tidak bisa lepas dari budaya stand-up comedy di Indonesia, yaitu Warkop, Taufik Savalas, Ramon Papana, Iwel Wel, Indra Yudhistira, Agus Mulyadi, dan Raditya Dika. Mereka semua ini pahlawan yang memajukan stand-up comedy di Indonesia. Bahkan, saya ingat dahulu pertama kali saya menyaksikan stand-up comedy, yaitu dengan melihat video Raditya Dika yang ada di Youtube, yang waktu itu sedang ramai-ramainya dan selalu muncul di timeline facebook saya. Unik sekali. Dan, banyak yang suka itu.
Di dalam buku ini juga terdapat penjelasan-penjelasan mengenai istilah yang ada di stand-up comedy, yaitu seperti bit, set, set up, punchline, kill, dan bomb.
Pandji juga bercerita mengenai pertunjukan tunggalnya yang diberi nama "Bhinneka Tunggal Tawa". Mulai dari mempersiapkan bit-bit, mempersiapkan tim untuk mengurus pertunjukan tunggalnya tersebut, hingga kegembiraan dia setelah melakukannya dengan berhasil. Salut buat Pandji.
Iya, lumayan. Buku ini memberikan banyak wawasan baru bagi saya mengenai dunia stand-up comedy. Walaupun saya bukan seorang comic, tapi saya adalah seorang penikmat stand-up comedy. :)
Saya terpukau sama layout content buku ini! Asik banget liatnya. Warna-warni tapi ga berlebihan. Baguuuus :3
Terlebih lagi, Mas Pandji ini memang jago nian merangkai kata. Asik gitu, mengalir. Terus tanpa sadar saya ngangguk-ngangguk menanggapi tulisannya (mudah terpengaruh sekali ya hmmm). Foto-fotonya juga bagus.
Oke, kembali ke topik.
Yang ga tau stand-up comedy itu apa, coba acungkan tangannya! :) Sebelum baca buku ini sih, saya akan PD menganggap saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tau. Logikanya, gampang aja, komedi yang dilakukan oleh seseorang sambil berdiri. Haha sederhana sekali ya. Tapi bung, ternyata lebih dari itu. Stand-up dalam stand-up comedy artinya bukan berdiri, tapi mengutarakan & membela opini serta pandangannya. Pemaknaan "stand-up"nya sama kaya dalam kalimat "he stood up for what is right". Gitu sih kata buku ini. Dalem ya? Hehe
Intinya, buku ini membahas mengenai proses di balik boomingnya stand-up comedy saat ini. Awalnya, Mas Pandji sendiri ragu mengenai hal ini, cocok ga ya di Indonesia, bakal diterima ga ya. Susah, tapi pasti bisa. Asal ada kemauan, pasti ada jalan. Setalah pencinta stand-up comedy berkumpul, terciptalah momentum. Orang-orang inilah yang akhirnya memperjuangkan stand-up comedy.
Saya juga baru tau kalau komedi ini agak lain. Ga cuma asal lucu kaya joke telling. Tapi ada nilai yang mau disampaikan, semacam kritik sosial. Jadi memang karakteristiknya komedi yang serius, ada unsur mikirnya. Kadang orang terlalu takut untuk menghadapi kenyataan. Semacam, ada hal-hal tertentu yang kita semua tau itu salah, tapi ya udah sih ga usah di bahas. Contohnya tentang topik kulit hitam kulit putih di Amerika. Kalo di Indonesia misalnya tentang SARA. Makanya dibuat ke dalam format komedi, menertawakan kebodohan sendiri tapi lalu jadi berusaha memperbaiki diri. Istilahnya, mengobati luka dengan tertawa.
Katanya sih gitu. Hehe soalnya, jujur, saya bukan penikmat stand-up comedy, jadi kurang tau juga.
Pelajaran yang saya tangkep dari buku ini, selain pengetahuan yang lumayan banyak mengenai stand-up comedy adalah semangat pantang menyerah dari orang-orang di balik semua ini. Yang namanya hasil yang wah itu ga bisa kita peroleh dengan cara instan, harus ada ikhtiar yang optimal. Kalo kata Mas Pandji, "Susah, tapi pasti bisa". :)
Tadinya ga tahu kalau ternyata isi buku ini mengupas tuntas tentang perkembangan stand up comedy di Indonesia. Tapi karena penasaran yasudah saya lanjutkan saja membaca buku ini. Toh selama ini saya hanya menikmati pertunjukannya, belum pernah mengetahui tentang seluk beluk stand up comedy.
Ini merupakan buku kedua Bang Pandji yang saya baca setelah buku Nasional.is.me. Seperti biasanya, Bang Pandji menggunakan bahasa yang ringan namun berbobot. Gaya bahasanya membuat pembaca mudah mencerna poin yang ingin disampaikan pada buku.
Buku ini sangat bermanfaat bagi pembaca yang memang ingin belajar tentang stand up comedy, lengkap dengan pengertian, istilah-istilah, tips menjadi comic, serta tentunya perkembangan stand up comedy di Indonesia. Ternyata Bang Pandji memang 'dedengkot' stand up comedy Indonesia. Saya yakin tidak ada yang tidak mengagumi beliau.
Buku Merdeka Dalam Bercanda judulnya provokatif menurut saya. Bagaimana tidak provokatif? Lha wong buku ini memaksa saya untuk membelinya, hehehe... Buku ini bercerita tentang perjuangan untuk mengembangkan Stand Up Comedy di negeri ini. Sebuah genre komedi yang benar-benar baru. Komedi tunggal. Genre komedi yang menurut beberapa kalangan dianggap serius, terlalu blak-blakan. Buku ini adalah referensi bagi penikmat Stand Up Comedy, apalagi untuk yang ingin serius menggeluti Stand Up Comedy, buku ini sangat penting.
Saya baca versi ebook yang saya download dari webnya Pandji, yang hanya 70-an halaman. Yang perlu digaris bawahi di sini adalah meskipun telah berbuat banyak untuk perkembangan Stand Up Comedy Indonesia, dengan rendah hati Pandji mengapresiasi tokoh-tokoh lain yang telah merintis Stand Up Comedy Indonesia. Saya sendiri yakin tanpa usahanya merintis Stand Up, dunia Stand Up Comedy di Indonesia tidak akan meledak seperti sekarang.
Pandji cukup menginspirasi, memberi ide pergerakan yang sebenarnya tidak selalu harus dibawakan dengan kesan "serius". Buku ini lebih ditujukan kepada orang-orang yang sudah tertarik dengan stand up comedy sejak awal, bukan orang yang buta soal stand up comedy. Untuk bagian sejarah stand up comedynya cukup menarik. Tetapi, tidak cukup untuk membuat seseorang yang awam tentang stand up comedy tertarik untuk mencobanya.
Isinya kurang lebih sejarah kehadiran stand up comedy di Indonesia, dari sudut pandang Pandji. Masih seperti buku Pandji sebelumnya, sarat dengan pesan-pesan positif khas Pandji
keren bukunya dari awal suc berdiri, tokoh tokoh yang berperan, sampai saat ini jadi industri semua dikupas jadi tahu kalau komik itu juga punya lab dalam bentuk lain, ada tempat training untuk ngetes bit dan bisa ga lucu juga karena baru ngetes bit :p
Dari kacamata seorang yang bukan penikmat Stand Up Comedy (kita hanya berbeda selera, kawan), saya cukup menikmati buku ini. Memahami perjuangan-perjuangan Bang Pandji dkk untuk membudayakan Stand Up Comedy di Indonesia. Susah, Tapi Pasti Bisa. Congrats !