Jump to ratings and reviews
Rate this book

Memori

Rate this book
Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi.

Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.

Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia—cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman.

Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.

312 pages, Paperback

First published May 1, 2012

47 people are currently reading
1886 people want to read

About the author

Windry Ramadhina

12 books824 followers
young woman with lots of interests, ambitions and dreams, which shattered into pieces, each surfaced as different face and waiting for itself to become whole once more time. her world came to architecture, illustration, photography, literature, business, and japan. used to known as miss worm in cyber world. shattering her pieces at kemudian.com and deviantart.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
620 (35%)
4 stars
606 (34%)
3 stars
415 (23%)
2 stars
87 (4%)
1 star
42 (2%)
Displaying 1 - 30 of 211 reviews
Profile Image for Winna.
Author 18 books1,967 followers
May 9, 2012
Saya adalah penggemar Windry sejak sama-sama menulis di komunitas Kemudian. Bagi saya, tulisan Windry lugas dan no-nonsense, tanpa basa-basi dan apa adanya. Hampir tidak ada bagian yang bertele-tele, penjelasan berlebihan, dan dialog yang tidak masuk akal. Saya mengagumi itu dari Windry.

Setelah sekian lama vakum, Memori terbit. Saya sempat membaca sedikit petikan babnya di blog Windry, namun belum benar-benar menyukai dan mengenal Mahoni, sang karakter utama. Kemudian saya pun mulai membaca dari awal, yakin bahwa buku ini pasti akan saya sukai. Dan saya tidak salah.

Kelebihan buku ini terletak pada tokoh-tokohnya, dan dialognya. Konfliknya tidak cukup kuat untuk menjatuhkan buku ini pada kategori romance, tapi dengan mudah, bagi saya, untuk melabelinya sebagai general fiction, ala fiksi Barat yang menitikberatkan plot pada self discovery dan keluarga. Membacanya pun sama seperti membaca terjemahan fiksi Barat, dan saya menyukai penggunaan bahasa baku dalam narasi juga dalam dialog Mahoni, tanpa penggunaan percakapan berbahasa Inggris sama-sekali kendati kebanyakan karakternya pernah tinggal di luar negeri. Saya juga menghargai bagaimana karakter Sigi yang remaja menggunakan lo-gue sebagaimana layaknya remaja pada umumnya, dan tidak menyamakannya dengan cara bicara Mahoni.

Windry pernah menyinggung bahwa menulis dengan POV orang pertama adalah sebuah tantangan tersendiri. Dalam buku ini, sama-sekali tidak terlihat demikian. Dengan luwes, Windry menguasai karakter Mahoni, yang awalnya terasa menyebalkan dan egois bagi saya, tapi kemudian dengan indah menjelmakan karakter yang flawed ini agar berkembang menjadi seseorang yang dapat menerima masa lalunya sendiri dan menjadi orang yang lebih baik.

Dari segi plot, begitu membaca beberapa bab awal, saya langsung penasaran dengan ceritanya dan tak sabar ingin terus membaca. Dari segi setting, dengan jelas terlihat bagaimana Windry menguasai bidangnya. Ini adalah salah satu novel berlatar arsitektur yang terbaik, dari apa yang pernah saya baca. Windry mendeskripsikan segala sesuatu seperti seorang pro, membuat para pembaca yang walaupun bukan arsitek atau desainer interior dapat dengan mudah membayangkannya. Dan ketika Windry (dalam suara Mahoni) memberitahu saya bahwa Romance Home atau Folkloric sangat cantik, saya begitu saja mempercayainya.

That's the power of this book.

Dari segi karakter, Windry berhasil menciptakan satu sosok yang tidak sempurna, namun dapat menarik empati pembaca. Kita mengenal Mahoni dan mengetahui ada sisi-sisi dalam dirinya yang ada dalam diri kita sendiri; rasa kesepian itu, ketakutannya, impiannya, keraguannya. Karakter favorit saya adalah Sigi, yang dewasa dalam caranya sendiri. Juga Mae, dan Sofia, yang bukan merupakan karakter stereotipe novel yang mulai repetitif digunakan.

Wind, you inspire me to write again :) congratulations for this beautiful comeback.
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
May 21, 2012
Saya ingat sekali, pertama kali kenal dengan karya Windry Ramadhina ketika saya sedang liburan di Jogja dan seperti biasa, saya suka mengunjungi toko buku di sana, salah satunya Toga Mas, siapa tahu mendapatkan buku yang tidak ada di kota Solo yang seringnya tidak lengkap. Saya lupa tepatnya tahun berapa, yang jelas waktu itu saya iseng mencomot buku Orange, di mana mungkin sedikit buku terbitan Gagas yang masih bersisa di toko buku yang selalu diskon itu. Kadang saya memilih buku untuk dibawa pulang seperti itu, saya baca sinopsisnya dan kalau sepertinya menarik saya akan beli, tanpa melihat itu buku bestseller atau siapa penulisnya, apakah baru atau sudah menelurkan karya berpuluhan, hanya bermodalkan asal ambil. Dan tidak jarang, dengan metode asal ambil itu saya malah merasa berjodoh.

Untuk buku keduanya Metropolis saya agak telat menyadari kalau sudah ada buku terbaru karya Windry. Seperti yang saya bilang tadi, toko buku di kota saya kurang update. Kali ini saya lupa kapan dan di mana mendapatkan buku Metropolis, yang saya ingat ketika melihat pertama kali tidak perlu ragu saya langsung membawanya ke kasir.

Setelah itu, saya tidak menemui buku karya Windry Ramadhina lagi.

Beberapa bulan yang lalu, saya iseng mengunjungi blognya, karena kangen akan tulisannya, dan seperti mendapat kejutan yang membahagiakan, akan ada DUA novel terbaru yang berjudul Home dan Sakura Haru, yang tidak lama lagi akan terbit. Dan setelah mengulik habis blognya, banyak cerpen yang mengobati rasa kangen saya akan tulisan Windry, dan tahu alasan kenapa dia sempat vakum, ada Balerina yang mewarnai hidupnya dan menguras waktunya.

Saya menunggu dengan sabar dan tibalah saatnya untuk menikmati karya Windry lagi. Novel terbarunya bukan berjudul Home tapi oleh pihak penerbit diganti dengan Memori. Tidak masalah, kedua judul tersebut terasa sama saja. Buku ini juga tidak langsung saya dapat. Waktu tahu kalau sudah beredar saya mendatangi toko buku terbesar di kota Solo dan hasilnya nihil, buku tersebut tidak ada di rak new realese, saya konfirmasi ke penerbitnya dan katanya baru dalam tahap distribusi, saya pulang dengan membawa buku lain :p. Minggu berikutnya saya titip saja ke kakak yang stay di Solo (saya sudah tidak lagi ada di Solo, hanya sebulan sekali atau kalau ada kepentingan saja, saya kerja di kota kecil yang tidak ada toko bukunya T.T) dan akhirnya dapat! yeay. Tidak membutuhkan waktu lama, dalam semalam saya membabat habis buku ini.

Kenapa malah curhat? hehehe, karena judulnya Memori, saya jadi terkenang ketika pertama kali berkenalan dengan karya Windry, memorable sekali karena sejak buku pertama saya sudah sangat menyukai tulisannya. Ok, saya akan langsung ke cerita buku ini ya.

Mahoni, seorang arsitek yang sukses di Virginia, seorang yang terobsesi dengan Frank O. Gehry, dia sangat berpegang teguh pada prinsipnya, tidak jarang dia menolak order kliennya karena selera meraka tidak sesuai harapan Mahoni, dia pekerja seni, dia tidak mendesain sesuai pesanan, dia juga sedikit keras kepala, terlebih kepada masa lalunya.
Seumur hidup, aku tidak pernah dan tidak akan mau meniru, termasuk membuat rancangan berdasarkan contoh tertentu. Desain-desainku ini sangat spesifik. Aku berkreasi untuk jiwa, menciptakan sesuatu yang indah, yang mampu menggerakkan perasaan orang lain.
Ada masa lalu yang ingin Mahoni simpan rapat-rapat, yang membuat dia tidak ingin kembali ke rumah. Tapi, ada kalanya kenangan yang terkubur itu akan bangkit, meminta penyelesaian. Telepon dari Om Ranu adalah jawabannya, mau tidak mau Mahoni harus pulang ke Jakarta.

Mahoni tidak berencana lama tinggal di Jakarta, hanya dua hari, setelah mendatangi pemakaman Papanya (yang dia lewatkan) dia akan langsung pulang. Kemarahan, kebencian akan kedua orang tuanya muncul kembali. Rencana yang hanya dua hari tinggal di Jakarta berubah menjadi dua bulan, Mahoni harus menjadi wali Sigi, adik tirinya, anak dari Papa dan Grace yang masih dibawah umur dan masih sekolah, anak dari perempuan yang sudah mengambil Papa darinya dan dari Mae. Tapi Mahoni tidak bisa berkata-kata lagi ketika Om Rahu berkata, "Demi Papamu, Mahoni."

Sambil memikirkan langkah apa yang akan dia ambil untuk kedepannya terhadap Sigi yang tidak dia pedulikan, Mahoni pergi ke mal untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinyanya yang sebelumnya tentu tidak direncanakannya. Di sana dia melihat sebuah restoran yang didesain sangat indah, khas art nouveau gaya desain warisan Prancis abad kesembilan belas yang banyak meniru bentuk-bentuk alam, karena sangat penasaran akan siapa pendisainnya tanpa malu Mahoni bertanya ke kasir dan dengan baiknya dia menunjukkan sketsa restoran.
Gambar itu, sketsa pradesain restoran dalam guratan tanpa putus yang spontan, dibuat di atas selembar kertas putih kekuningan menggunakan pensil warna tanah liat. Itu konte sanguine, aku kenal betul. Warna coklatnya yang kemerahan teramat khas, tidak ada pensil lain yang memiliki warna serupa. Dan, gaya sketsa yang luar biasa intuitif itu menginggatk aku kepada seseorang, seseorang yang selalu menggambar dengan konte sanguine.
Mahoni mendapati inisial sM di sudut kanan bawah, yang hampir tertutup pigura. Simon Marganda. Masa lalu Mahoni yang lain.

Sukaaaaaa banget sama novel ini, kurang puas ah tulis ulang SUKA BANGET, PUAS BANGET. Salah satu buku yang nggak akan pernah bosan saya baca! Bayangkan, setelah menamatkan dalam semalam saya langsung ingin membaca ulang, lagi! Perasaan saya campur aduk, antara sebel dengan sifat Mahoni, gemes dengan Simon, dan sangat suka dengan karakter Sigi. Buku ini bener-bener lengkap, kangen akan masa lalu bersama Papa dan Simon, cemburunya dengan Sigi dan Sofia, kesedihannya akan kehilangan Papanya yang tidak ingin Mahoni tunjukkan, rasa sayang yang tidak akan pernah hilang untuk Simon, semua rasa ada di sini.

Mahoni dengan Papanya. Rasa kecewa yang amat besar terhadap Papanya membuat Mahoni membenci Sigi, dia cemburu karena Sigi lebih banyak mendapatkan kasih sayang Papanya, Sigi lebih banyak meluangkan waktu bersama Papanya, cemburu karena Papanya memberi nama Sigi yang berarti kayu damar, kayu yang sangat kuat, tidak rusak, tidak lapuk karena perubahan cuaca.
Aku langsung tahu. Damar adalah kayu kesukaan Papa; bukan jati, nyatoh, atau sungkai; bukan pula Mahoni.
Sewaktu membacanya, kita bisa merasakan besarnya rasa benci Mahoni terhadap Papanya sekaligus besarnya rasa kangen yang enggan dia ungkapkan.

Mahoni dengan Simon. Masa lalu mereka seperti selulit, menganggu dan tidak mau hilang. Kenangan-kenangan sewaktu kuliah yang manis dulu selalu membayangi kehidupan mereka. Selalu berdebat siapa yang lebih baik antara Frank O. Gehry atau Rem Koolhaas. Satu menyukai cokelat Godiva seharga 5 dollar, satunya lagi menyukai kopi Gayo. Sekarang Simon mempunyai Sofia, gadis cantik yang amat sangat memuja Simon. Mahoni takut untuk memulai lagi hubungan dengan Simon, dia tidak ingin seperti Grace, tidak ingin Sofia seperti Mae.
"Menurutmu, apa yang kita lakukan ini benar?" Aku menatap mata Simon.
Lelaki itu membalas seraya membelai rambutku. "Entahlah. yang kutahu, aku menginginkanmu," katanya.
Simon, cowok jenius, tidak pernah masuk kuliah tapi selalu mendapatkan nilai A, selalu memakai kaos buluk dan celana jeans pudar, sinis dan tidak jarang berkomentar pedas jika melakukan kesalahan, tidak mudah puas dan luar biasa kritis terhadap karya baik orang lain ataupun miliknya. Oh, saya jatuh cinta pada Simon.

Mahoni dengan Sigi. Bagian mereka benar-benar membuat mata saya berkaca-kaca. Bagian yang sangat emosional sekali. Awalnya Mahoni sangat cuek terhadap Sigi, tidak mau memanggil adik dan tidak peduli. Perlahan, hubungan mereka berubah, bermula dari keterpaksaan menjadi walinya Mahoni sedikit demi sedikit dapat menerima Sigi. Manis sekali hubungan mereka, setelah melihat Sigi pingsan karena beberapa hari tidak makan, Mahoni terpaksa memasak setiap hari, Sigi membalasnya dengan membuat teh pahit, nasi goreng yang keasinan, menunjukkan rute ke Indomaret. Dan bagian yang paling nyesek adalah ketika Sigi menjemput Mahoni di stasiun ketika sedang hujan deras, tapi Mahoni tidak tahu dan membiarkan Sigi menunggu kehujanan membawa dua payung. Mereka jarang berbicara, tapi saling memahami.
Jika kuingat-ingat kembali, seperti itu pula di sepanjang jalan ke Indomaret tadi. Aku berjalan tiga meter di belakangnya dan mengatur kecepatan langkahku sedemikian rupa agar jarak diantara kami tetap terjaga. Jika dia mempercepat gerak, aku tidak bergegas mengejarnya. Jika dia melambat, aku melangkah lebih pelan.
Ya. Demi Mae, jarak itu harus tetap ada.
Sigi, dia memahami perasaan Mahoni, memahami kenapa dia tidak menyukainya. Dia jauh lebih dewasa daripada Mahoni. Mereka saling membutuhkan. Oh, saya juga jatuh cinta padanya.

Drama keluarga yang benar-benar menguras emosi dan sangat berbau rumah. Jangan mengharapkan kata-kata romantis atau indah, saya tidak banyak menemukannya (kecuali waktu Simon merasakan sisa Godiva di mulut Mahoni :p). Yang saya temukan adalah diskripsi yang mengalir lancar, tidak basa basi, dan diaolg-dialognya keren, apalagi bagian Simon, sinis dan to jleb point. Terlebih bagaimana penulis menggambarkan 'ruang' di buku ini, kelihatan kalau dia sangat menguasai profesinya. Typo masih ada sedikit. Jujur saya kurang suka sama covernya, berasa jadul sekali, hehehe. Mungkin kalau dilihat dari maknanya sesuai dengan buku ini, tapi kok saya jadi teringat pada foto pernikahan jaman dulu yang berlatar piring XDD. Membaca buku ini menambah pengetahuan saya akan dunia arsitek, tahu tentang kayu, pelitur, rumah bertipe romantic home, mediteran, posmo dan folkloric.

Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja yang merindukan rumah.

5 sayap untuk konte sanguine.

http://kubikelromance.blogspot.com/20...
@peri_hutan
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
December 24, 2015
Ternyata sampai akhir saya tidak bisa peduli pada tokoh-tokohnya.

"Memori" bercerita tentang Mahoni, seorang wanita yang bekerja sebagai arsitek di Virginia. Kematian ayahnya membuat Mahoni harus kembali pulang ke Indonesia. Awalnya dia hanya akan pergi selama beberapa hari, tapi suatu hal membuatnya harus tinggal lebih lama dari itu.

Saat sedang berusaha untuk menyesuaikan diri dengan ritme hidupnya yang baru, Mahoni bertemu kembali dengan Simon, teman masa kuliah yang memiliki tempat khusus di hatinya. Pria itu mengajak Mahoni untuk bergabung dengan studio arsiteknya, MOSS.

Pertemuan mereka kali ini membawa Mahoni untuk menghadapi masa lalunya sekali lagi, bukan hanya dengan Simon, tapi juga dengan adik tiri yang dia benci dan ibunya yang membuatnya jengah.

Ini buku ketiga karya Windry Rmadhina yang saya baca. Sebelumnya saya sudah baca Interlude (review) serta "Metropolis" (review), dan buat saya, kedua novel itu lebih bagus dari "Memori" ini.

Masalah terbesar saya dengan novel ini adalah: saya tidak peduli dengan karakter-karakternya. Apakah saya peduli pada Mahoni, sang architect snob yang susah kompromi, hanya mau mendesain demi idealismneya, sulit menyesuaikan diri dengan klien (tidak heran kalau bukan dia yang dipromosikan di kantor Virginia-nya), dan sepertinya punya bagasi emosi yang berat banget, tapi semacam tidak dieksplorasi dengan dalam? Tidak.

Apa saya peduli dengan Sigi, sang adik tiri yang dibenci Mahoni, baru saja kehilangan kedua orang tuanya, tidak bisa melakukan pekerjaan rumah seperti membuat teh dengan benar, sepertinya depresi pasca meninggalnya kedua orang tuanya, tapi tiba-tiba saja sudah melalui seluruh tahapan kesedihannya, serta tidak dieksplorasi dengan dalam? Tidak.

Apa saya peduli pada Mae, sang ibu ratu drama yang hobi mengasihani diri sendiri, digambarkan secara satu dimensi, dan tidak dieksplorasi dengan dalam? Tidak.

Ini masih ada Sofia dan Simon sebenarnya, tapi jawaban saya sama: tidak. Saya tidak peduli pada mereka.

Hal yang menarik dari "Memori" ini adalah seluruh pembahasannya tentang dunia arsitektur. Mulai dari berbagai jenis desain, pembahasan singkat tentang pekerjaan lapangan dunia arsitektur, sejarah arsitek, serta berbagai tokoh dan bangunan terkenal dalam dunia arsitek. Walau jujur, saya merasa terpecah mengenai hal ini.

Seluruh pembahasan yang ada sangat deskriptif dan memberi pengetahuan baru. Tapi di sisi lain, juga memakan ruang yang sebenarnya bisa dipakai untuk pengembangan karakter dan plot, atau menambahkan emosi ke dalam cerita. Juga kadang ada penjelasan yang sifatnya tidak penting-penting amat, seperti:

"Itu ganti permen mint. Merokok tidak baik untukmu."

"Ya, oke. Tapi, Ricola?" Simon mencibir.

"Makan Ricola tidak akan membuatmu jadi gay, Simon," balasku.

Biar kujelaskan secara singkat. Ricola punya pabrik di Brunstatt, Prancis. Bangunan itu didesain oleh Jacques Herzog dan, menurut rumor yang sesungguhnya tidak bisa dipertanggungjawabkan, arsitek terkenal dari Swiss itu adalah gay. (hal. 281)


Di antara tumpukan trivia di novel ini, masalah orientasi seksual seorang arsitek terkenal adalah hal paling tidak penting yang saya baca.

Untuk ceritanya, sesuai arti dua bintang di Goodreads. It was ok. Drama domestiknya tidak terlalu terasa emosinya. Perkembangan hubungan antara Mahoni dengan Sigi juga terasa datar. Setelah peristiwa di stasiun, tidak ada lagi yang menarik di antara mereka. Perkembangan antara Simon dan Mahoni juga terasa biasa saja buat saya, tapi saya cukup suka dengan adu mulut di antara mereka.

Secara keseluruhan, membaca "Memori" ini membuat saya berpikir bahwa Windry Ramadhina adalah arsitek yang kompeten, tapi sebagai novelis, hal ini baru dibuktikan lewat novelnya yang lain.
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
October 1, 2020
Ulasan terdahulu ada di bawah

Baca untuk kali kedua. Kata Lang Leav, barangkali puisi adalah karya paling hidup karena ia bermakna sesuai dengan hati pembacanya. Di satu masa, ia berarti satu hal, tapi di lain waktu, ketika kita menjalani momen berbeda dengan penangkapan kesan yang berbeda pula, maknanya pun berganti. Hanya ada satu yang masih serupa: keindahannya.

Jika demikian, mungkin buku ini salah satu bentuk 'puisi' itu.

Saya masih sangat menyukainya, pendapat saya masih sama dengan ulasan sebelumnya, tetapi ada rasa tersendiri saat membacanya lagi kemarin. Kesuksesan buku ini salah satunya terdapat pada kepiawaian penulis membawakan deep POV. Kita sadar Mahoni mengesalkan setengah mati, tetapi kita juga paham perasaannya. Porsi masalah keluarga mengambil tempat dominan di sini, dan tampaknya nyaris semua pembaca setuju adegan di stasiun dengan Sigi membawa payung itu amat menghangatkan hati. Komplain saya hanya pada sepertiga akhir yang terlampau cepat dibanding bagian-bagian sebelumnya yang tenang dan detail. Sofia tampak mudah sekali memaafkan dan adegan paling pamungkasnya sedikit... cheesy (Meski tetap elegan karena pembaca dibiarkan mengambil kesimpulan sendiri dan tidak semua tokoh harus berubah)? Oh, saya juga suka Simon yang bad boy tanpa harus ditegaskan dengan kata 'bad boy' itu sendiri.

Untuk yang belum baca, bacalah.

N.B. 100+ untuk kovernya yang membingkai nuansa buku ini dengan baik.

*

Saya tidak salah. Selama ini saya membaca karya penulis yang, meskipun memang amat rapi juga mengandung diksi yang cantik, ada saja sesuatu yang masih saya cari.

Dan, di buku ini, saya menemukannya.

Ada sesuatu yang mengalir, mentah, dan mengundang di Memori ini. Itu yang membuat saya betah membacanya. Selain kemasannya--desain sampul, judul, tagline dan blurb--jadi yang paling saya suka dari buku beliau yang lain, ia juga mematahkan asumsi saya, bahwa penulis senang melibatkan hal yang populer dalam novelnya. Jamie Oliver. Woody Allen. Charles Dickens.

Di sini, saya langsung dikenalkan dengan O. Gehry dan Rem Koolhaas, setelah selama ini saya cuma tahu Frank Lloyd Wright dan Ridwan Kamil (meskipun nama yang terakhir memang disebut). Ini segar untuk saya.

Untuk masalah detail emosi, saya yakin ini jagonya.

Lalu, tema yang diambil betul-betul berpusat pada keluarga, bukan menjadi sampingan yang mendukung kisah cinta tokohnya. Tidak ada klimaks a la sudden clarity Clarence, bahasa yang penuh kebakuan bahkan pada dialog, tulang plot yang kuat, atau teknik mumpuni seperti di London, Montase, atau Walking After You. Tapi justru di situlah yang membuat nyaman. Serasa diajak mengunjungi rumah kayu di tengah kebun lavendel dan minum segelas teh bunga di sana.

Hati, ya, itu. Saya menemukan hati di sini. Dan ia membuat pembacanya merasa hangat setelah menutup buku.

Untuk yang berkata bahwa ini adalah buku terbaik penulis, saya setuju sekali. Tanpa mengurangi rasa kagum dan kualitas dari karyanya yang lain, saya menanti beliau menulis seperti ini lagi.

This book is effortlessly beautiful.
Profile Image for Prisca.
Author 37 books678 followers
June 7, 2012
CAN'T PUT IT DOWN! *_* This novel is written by a very talented author to the core :'D. First line-nya saja sudah berhasil menghipnotis saya, dan setiap kali ada jeda, saya selalu menyempatkan untuk membacanya (saat perjalanan pulang, di ruang tunggu dokter, sebelum film dimulai di bioskop, sebelum tidur, dsb). Saya menyelesaikan novel ini dalam waktu kira-kira seminggu, berusaha fokus pada setiap kata dan kalimatnya, karena sayang sekali bila ada satu saja yang terlewat.

Ok...mulai dari manakah? Feel, feel, feel, penguasaan materi, karakter, pilihan kata, kemampuan untuk membuat pembaca berempati...bagi saya elemen-elemen inilah yang paling penting dalam sebuah novel, dan dalam Memori, semuanya ditulis Windry dengan indah. Berkali-kali saya dibuat tercengang dan membatin, "Keren...keren..." Kecanggungan, ketertarikan, cinta, persaudaraan, digambarkan dengan porsi yang tepat, tanpa berlebih. Ibarat makanan atau minuman yang diracik dengan pas (ok, saya selalu membandingkan apapun dengan makanan... xD)

What else? Karakternya sangat kuat; Mahoni yang tough tapi rapuh pada saat bersamaan, Simon yang bikin saya fall in love, Sofia yang cantik, Sigi yang manis...well, overall, sangat realistis. Lalu metafora-metafora yang tak banyak ditemukan di karya lain, yang mampu membuat panca indera saya bereaksi... Every description of architecture, homes, woods, chocolate (ok...food again xD), imaginary rabbit... Every single detail in this book makes me too... *speechless*

Planting dan harvestingnya pun sangat rapi, setiap bab membahas hal-hal sederhana yang terkait dengan para tokoh, untuk kemudian disimpulkan di klimaksnya. Well, to put it simple, Windry berhasil menjabarkan setiap potongan puzzle cerita, dan menyatukannya dengan cara yang, sekali lagi, sangat alami. Saya sempat takut menemukan 'kelengahan' atau plot holes, tapi ternyata tidak saya temukan, which is very relieving :D

Yah, pokoknya suka banget sama novel yang satu ini...! Thanks Mba Windry, a lovely treasure I've found (finally!) in the bookstore :D

--------------------
"Aku ingin percaya bahwa kami memang pernah memiliki sesuatu, bahwa perasaannya padaku sungguh-sungguh. Dengan begitu, yang akan tersisa nanti untukku adalah kenangan manis."

-Sofia-
Profile Image for Dion Sagirang.
Author 5 books56 followers
January 11, 2014
Saya menilai sempurna novel ini secara pribadi. Saya suka cara penulis dalam mengaduk-aduk perasaan Mahoni sebagai tokoh utama yang menggunakan pov 1, dan itu berhasil. Itu yang saya suka dari buku ini.

Tetapi, yang membuatnya kurang adalah saya melihat karakter Jodik (My Partner-Retni S.B) dalam diri Simon. Dari segi fisik, penampilan dan juga karakternya yang sama persis. Ada sedikit pula karakter tokoh utama perempuan dalam novel Retni yang serupa dengan Mahoni.

Ah, kenapa saya membandingkan? Sederhana, karena saya terlebih dulu membaca My Partner. Entah ini kebetulan atau apa, Jodik dan Simon, keduanya juga sama-sama arsitek (ceklis), keduanya memiliki ciri fisik yang berantakan dan bad boy (ceklis), sifat dan karakter yang sinis (ceklis), namun ternyata peduli (ceklis).

Tapi disamping itu, saya tetap suka dan jatuh cinta pada novel ini.
Profile Image for thuthur22r.
245 reviews
May 26, 2012
"Damar adalah kayu kesukaan Papa; bukan jati, nyatoh, atau sungkai; bukan pula Mahoni."
Suka banget sama konfliknya.
Pertama, ngerasain banget gimana perasaannya Mahoni waktu disuruh ngejaga Sigi ("Damar") karena Papanya meninggal. Ngerasain juga gimana bencinya Mahoni sama Papanya, sama Grace. Dan, gimana nggak sukanya Mahoni sama Sigi.
Waktu Sigi pingsan, aku mulai suka sama karakter Sigi. Suka banget. Gimana berdukanya dia waktu orangtuanya meninggal, dan tinggal sama Mahoni. Selalu terharu sama scene Mahoni-Sigi. Waktu Sigi ngebuatin Mahoni kopi, tapi pahit; waktu Sigi masak nasi goreng yang keasinan buat Mahoni yang lupa makan; Waktu Sigi jemput Mahoni di stasiun pas hujan. Tapi Mahoni nggak mau (atau belum) menganggap Sigi sebagai 'adik'nya. Suka banget scene-scene itu. :') Dan waktu Sigi yang kelamaan nggak masuk sekolah, malah bilang: "tukang kayu nggak perlu sekolah." Ini sweeeet.
Suka banget sama temanya. Desain. Jadi tau ini-itu.
Flashback-nya hubungan Simon dan Mahoni juga suka. Scene godiva-nya lucu. Bisa dituru tuh :p #ahem
Konflik mereka berdua dan Sofia juga bikin geregetan. Suka sama Sofia--sifatnya, kukira sama dengan Mae.
Adegan favorit adalah waktu Mahoni duduk di dekat pintu bengkel kerja Papanya, ngeliatin Sigi. Ah, memorable. :') Gimana bencinya Mahoni sama Papanya, dia juga sayang sama Papanya itu.
Suka sama Ron, playboy abis xD
Berharap banyak scene Mahoni-Sigi, dan hubungan mereka di 'perdalam'. Tapi ini juga bagus, semoga Kak Windry buat cerita sendiri tentang Sigi. :)
Pertama kali baca Kak Windry, suka banget sama gaya bahasanya. Mirip banget kayak baca novel terjemahan, nggak ada kata ganti 'kamu', semuanya pakai 'kau'. Suka tiap akhiran babnya.
Endingnya.., suka!
Kasih 4 bintang buat kayu Damar. #Recommended :))
Profile Image for Bernard Batubara.
Author 26 books817 followers
August 11, 2012
I. Rumah, Detail, dan Dunia Arsitektur

Berbeda dengan dua novel Windry sebelumnya, Orange dan Metropolis, di Memori, Windry menulis deskripsi dengan begitu detail. Di Orange dan Metropolis juga, tapi di Memori, jauh lebih detail lagi. Mengapa saya membahas Memori dengan membawa-bawa Orange dan Metropolis? Tidak ada alasan khusus sih, mungkin saya ingin menunjukkan kepada yang membaca tulisan ini bahwa, kalian juga harus membaca dua novel Windry yang lain.

Oke, lanjut.

Di Memori, Windry menggambarkan rumah beserta perangkat-perangkatnya mulai dari bagian paling luas hingga benda-benda kecil yang ada di dalamnya. Begitu rinci, seperti yang ia tulis pada paragraf awal novel ini (Bab ‘Sepatu Satir di Anak Tangga’)

Beberapa arsitek menamainya Romantic Home.

Ada perapian kecil di ruang duduk, juga jendela besar berlatar taman melati yang wangi. Di sebelah ruang makan yang simpel, dapur tampil apa adanya: memperlihatkan stoples pasta, sekeranjang tomat, dan cangkir-cangkir yang tidak seragam. Kamar tidur berisi benda-benda kesukaan yang diletakkan sesuka hati. Kamar mandi bernuansa masa lalu dengan bath-tub berpinggiran bulat dan vas model kuno. Ruangan-ruangan diberi warna es krim yang sejuk: vanila, rum. mint, madu; dilengkapi mebel sederhana, tirai tipis tembus cahaya, dua atau tiga tangkai krisan segar dalam gelas, sepatu satin di anak tangga, serta tentu saja corak bunga karena tidak ada yang lebih romantis dari kain bunga-bunga di kamar tidur.


Atau paragraf ini (Bab ‘Ketukan Palu dan Aroma Pelitur’).

Gaya interior Omah Sendok merupakan campuran Indis-Jawa dengan warna putih susu dan cokelat kopi mendominasi setiap ruangan. Dinding-dinding dilapis panel kayu yang dicat duco dan dihiasi sejumlah lukisan kanvas berpigura klasik. Lantai berselimut parquet dan karpet. Jendela-jendela diberi tirai brokat. Ruang makan diisi dengan mebel Jawa. Lalu, berbagai macam vas dan piring hias berbahan porselen mempercantik sudut-sudut ruangan.

Ini bukan pekerjaan Simon, aku tahu persis. Brokat dan corak bunga-bunga terlalu manis untuk lelaki itu.


Saya tahu, karena Windry hendak bercerita tentang rumah, secara kiasan maupun harfiah, mau tidak mau memang dia harus membuat gambaran rumah (dan bangunan-bangunan lain) dengan detail, eksterior dan interior (jika membahas rumah secara harfiah). Tapi tetap saja deskripsi Windry menjadi salah satu bagian yang asyik diikuti. Deskripsinya yang sangat detail membuat saya membayangkan bentuk bangunan tersebut, isinya, suasananya, auranya.

Windry membawa dunia arsitektur ke dalam Memori, walau tidak dalam porsi yang sangat besar karena memang bukan inti cerita. Tapi cukup untuk membuat saya penasaran dan tertarik dengan dunia rancang-merancang bangunan tersebut. Sambil membaca Memori, saya sampai googling apa itu ‘Guggenheim’, siapa itu ‘Frank O. Gehry’, bagaimana itu bentuk rumah folkloric, posmo; dan lain-lain. Windry memasukkan unsur arsitektur itu dengan baik, tentu saja, karena ia sendiri adalah seorang arsitek.

Bagi seorang penulis, saya rasa itu adalah salah satu keberhasilan, ketika pembaca bukunya tertarik dengan hal-hal yang ia tulis, dan mencari sendiri lebih jauh tentang hal tersebut.


II. Hubungan Keluarga

Isu keluarga yang diangkat Windry di dalam Memori tergambarkan dengan baik. Orang tua yang berpisah karena orang ke-tiga, ikatan anak-ayah dan anak-ibu yang menjadi renggang karena peristiwa tersebut, hingga hubungan tokoh utama, Mahoni, dengan Sigi, adik tirinya yang berasal dari hubungan ayahnya dengan Grace, ‘orang ke-tiga’ yang menghancurkan keluarga Mahoni.

Windry menggambarkan dengan sangat baik hubungan ‘dingin’ Mahoni dengan Sigi. Bagaimana Mahoni begitu membenci Sigi hingga tidak menganggapnya sebagai adik sendiri. Dan bagaimana Sigi merespons sikap Mahoni dengan kelakuan dingin yang serupa.

Tapi bagaimana pun, Sigi tetaplah adik Mahoni, dan perlahan Mahoni mulai menyadarinya. Hubungan yang dingin dan kaku antara Mahoni dan Sigi pelan-pelan mencair dan menghangat. Namun proses itu tidak berlangsung singkat, kedinginan dan kekakuan Mahoni dengan Sigi berlangsung hingga berbab-bab dalam Memori, dan inilah satu bagian yang membuat isu keluarga di Memori menjadi semakin terasa.

Dan, Windry menuliskan perubahan emosi itu dengan sangat lancar dan halus, melalui adegan demi adegan, permasalahan demi permasalahan. Tidak terburu-buru, tidak juga berlama-lama.

Saya sempat terlepas saat Mahoni mulai bertemu dengan Simon, kisah cinta mulai mendominasi cerita dan Windry seakan mengesampingkan isu ‘rumah’ dan keluarga yang ia bangun dari awal. Tapi tidak begitu menjadi masalah karena setelah adegan-adegan cinta Mahoni dengan Simon, Windry kembali membawa Mahoni ke rumah, dan ke Sigi.

Karena sejujurnya, saya lebih tertarik melihat kisah antara Mahoni dan Sigi ketimbang konflik cinta Mahoni dan Simon (mengingat kembali isu utama yang diangkat di dalam novel Memori ini, yaitu rumah dan keluarga).


III. Tokoh-tokoh yang Menarik

Ini tidak semata-mata tentang Memori, tapi juga dua novel Windry yang sebelumnya, Orange dan Metropolis. Setelah membaca tiga novel Windry, saya mengambil kesimpulan, bahwa kekuatan terbesar Windry dalam menulis terletak pada tokoh-tokoh yang ia buat.

Tokoh-tokoh Windry memiliki karakter yang sangat khas dan kuat. Simon Marganda, arsitek yang merebut hati Mahoni dalam Memori, memiliki perawakan yang khas: laki-laki jenius dan perfeksionis, namun dengan penampilan yang urakan (digambarkan Windry dengan jeans bolong, dan jenggot yang tidak terurus) dan sikap yang tidak menyenangkan; jutek dan sinis. Mahoni, tokoh utama dalam Memori, seorang arsitek perempuan yang tidak kalah juteknya dengan Simon. Karakter-karakter jutek ini membuat saya tertarik dan penasaran dengan interaksi di antara mereka.

Juga tokoh-tokoh lain di dalam Memori, Orange, dan Metropolis.

Akhirnya, saya membalik halaman terakhir Memori dengan senyum terkembang, seperti yang biasa saya lakukan setiap setelah membaca buku bagus dan menyenangkan.

Dan untuk sejenak, saya teringat bahwa saya sedang merantau, jauh dari keluarga, jauh dari orang tua dan adik saya.

Jauh dari rumah, tempat cinta yang hangat bermukim dan bermula. ***
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
July 3, 2012
Harus kuakui, ekspektasiku cukup tinggi ketika tahu bahwa tokoh utamanya adalah seorang arsitek, profesi yang kugeluti selama 10 tahun ini. Dan pengen tahu aja, apakah Windry menggambarkan arsitek sebagai seseorang yang hidupnya menyenangkan, hanya menggambar-gambar, berkhayal, dapat duit, seperti yang sering dideskripsikan selintas lalu dalam novel-novel lain (atau sempat main piano sambil Arisan!), atau arsitek yang menderita bahagia sepertiku (haha.. pengakuan suffer in happiness) yang sering kepontang panting, sebel sama bos, kadang-kadang ditolak, kadang-kadang dibilang hebat, berkelung asa mewujudkan mimpi orang lain, tergila-gila pada Frank Gehry.. (kalau aku masih mimpi bekerja pada Ken Yeang di Malaysia).

Yeaa.. sebagai seorang arsitek betulan, Windry memilih yang kedua. Dikelotoknya bagaimana bekerja di sebuah biro arsitek itu, dari sejak mulai menarik garis, mengutak-atik AutoCAD (sekarang sih Sketch Up ya?) tertidur sambil menggambar, hidup antara kopi dan kebul semen, presentasi satu ke presentasi lainnya. Nggak ada tuh acara sering nongkrong-nongkrong di cafe (mana sempat??) apalagi nongkrong di club sambil gila-gilaan. Kalaupun ada sempat, tentu sambil ngobrol hal-hal menarik, bukan gosip mondar mandir kiri kanan selebriti haha hihi nggak jelas (sama ibu-ibu Arisan!).

Yang jelas jadi arsitek itu membahagiakan kok. Truly definitely. Namanya juga cita-cita. Dijalani dengan passion dan tanggung jawab.

(Hah? Siapa itu yang ngomong? Siapa itu yang suka galau sendiri kalau tengah malam masih di kantor berkutat dengan CADnya dan memaki-maki komputernya? Siapa itu yang teriak-teriak dengan jargon dewa 'Kerja adalah cinta yang mengejawantah'? Dan dijawabnya sendiri 'Makan itu cinta!!!')

:))))
Semangat, In!!

Di luar ke-arsitek-annya, konflik Mahoni dan keluarganya sangat menarik. Ia sangat tabah menghadapi apa yang menimpa dirinya. (ya, iyalaah.. kan arsitek! *plak* apa coba hubungannya?) Kehidupannya di Virginia yang mendadak harus ditukar dengan kehidupan di Indonesia dengan keluarga ayahnya yang nggak pernah dikenalnya. Dan menjalani hari-hari barunya di tengah kesibukannya sebagai arsitek. Wajar buat aku, karena aku pun pernah mengalami kerja gila-gilaan di tengah konflik luar biasa, dan terima kasih semesta, satu dengan yang lain ternyata saling mendistraksi dengan caranya sendiri. Dan sesudah itu lewat, cuma bisa bersyukur bahwa kita tidak menjadi gila karenanya. Setiap tempaan akan membuat kita lebih kuat. Life must go on..

Yang membuat aku tersenyum tertawa dalam buku ini adalah nama tokoh-tokohnya. Sebagai seseorang yang berguru pada padepokan gambar bangunan yang sama dengan Windry (gosh, apa kata pak GT kalau baca kalimatku di atas :)) Simon Marganda adalah teman satu studioku di tahun terakhir, dari survey site hingga nginep bareng, tentunya aku nggak akan lupa tawa dan candaan Simon yang baik hati in, hmm.. 10 tahun yang lalu?? Sudah lama juga ya. Masih inget tampang si Simon.
MOSS Studio, iya pernah dengar lah, isinya teman-teman sepadepokan yang kreatif berani bikin sendiri. Neri, is it the same girl i knew work in hadiprana, eh?

Ceritanya bisa ditandai sebagai penceritaan yang berhasil tentang profesi arsitek (Kelihatan menderita dan galaunya gitu, hahaa!!) Aku bahkan tak mengenal Windry di masa perkuliahan, cuma kebetulan kenal di goodreads, dan ternyata kami satu suhu. ;))

Dan kalau kata kak Ardianto Rusly : Menggambar adalah membangun dalam pikiran.. Pikirkan apa yang kamu gambar ini bisa dibangun. Selesaikan logisnya. (demi apa aku mengutip kata-kata beliau), maka cerita ini ibarat desain, Windry menyelesaikan buku ini dengan finishing yang rapi dan logis. Cinta pada yang dicinta, atau cinta pada mimpi-mimpinya? Hidup ini pilihan. Termasuk apakan kamu memutuskan untuk jadi arsitek atau tidak. Apapun yang kau lakukan, kerjakan dengan hati. Sehingga kamu bisa senantiasa bahagia.

\\(^_^)//
*back to my desktop and pray 'langit tak akan runtuh di atas kepala kita'*



Profile Image for ijul (yuliyono).
815 reviews971 followers
August 19, 2015
Sebenarnya saya sudah punya buku fisik dari novel Memori karya Windry ini, tapi yaaa... you know me lah, ya, saya pan penimbun buku sejati. Beli iya, baca entah kapan, hehehe. Berhubung saya biasanya suka cepet dan sempet baca di perjalanan maka pas banget waktu Gagas Media ngerayain ultahnya Juli kemarin, Gagas berbagi kebahagiaan dengan membagi-gratis e-book novel ini di Playstore, dan saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Saya unduh e-book-nya dan berhasil saya rampungkan-baca selama musim libur Lebaran Idul Fitri tahun ini.

Dan, saya suka. SUKA BANGET sama buku ini. Dari beberapa novel karya Windry yang sudah saya baca, Memori adalah favorit saya. Semua-muanya saya suka. Dari mulai karakter para tokohnya (termasuk background masing-masing), konfliknya, setting-nya, sampai dengan pace-nya. Pokoknya, SE-MU-A-NYA. Saya sampai bingung harus menulis apa untuk meresensi novel berlatar dunia arsitektur ini, dunia yang secara nyata juga digeluti oleh pengarangnya. Menyoal dunia arsitektur enggak perlu diragukan lagi, deh, Windry piawai sekali mengemasnya sedemikian rupa untuk menguatkan jalinan konflik yang dirangkainya.

Oke, oke, saya akan bilang beberapa fakor yang bikin saya suka banget sama novel ini, deh, ya. Pertama, saya suka premisnya-konfliknya dan bagaimana konflik tersebut dieksekusi, kuat sekali dengan pesan filosofis yang begitu dalam. (duh, ngomong apa saya ini?). Kedua, karakternya 'benci'able-yet-lovable banget, bikin gemes-geregetan sepanjang baca, sumpah! Mahoni yang cuek-cuek tapi memendam rasa, Simon yang seenak udelnya tapi bertanggung jawab, Sigi yang terombang-ambing di masa remaja tapi sanggup menjadi dewasa, Sofia yang wanita idaman banget, Ron yang blakblakan khas bule tapi bikin kocak suasana, Mae yang kok-ada-ya-ibu-yang-begitu-banget-sama-anaknya, dan ayah dalam kenangan Mahoni yang begitu pemikir. Ketiga, gaya menulis Windry benar-benar menghanyutkan, setiap kata yang terangkai menjadi kalimat seolah dipikirkan masak-masak dan tak ada yang dibuat tanpa maksud. Keempat, entah disadari atau tidak, romance dan latar belakang profesi arsitek tersaji dengan seimbang, dan saya penyuka yang seperti itu, seperti filosofi lini novel metropop yang selama ini saya gandrungi. Dan... banyak hal-hal bagus yang sulit saya ungkapkan dari buku ini.

Oke, saya cuman bisa bilang begitu. Intinya, saya suka aja. 5 out of 5 star untuk kenangan yang mengharu biru ini. Yang belum baca, ayo baca, yang belum punya, ayo beli/pinjam dulu, hehehe (kalau kemarin ngelewatin rezeki mengunduh gratis e-book ini).

Selamat membaca, tweemans.
Profile Image for Almira Nuringtyas.
99 reviews3 followers
December 21, 2012
4.5 dari 5 bintang :) sangat sangat menikmati buku ini, suka bangeeett sama hubungan sepinya simon sama mahoni. ga banyak mungkin adegan romantis disini, tapi beberapa justru malah kerasa sweet&heartwarming bgt.
kerasa disini kalo kak windry ga mau sembarangan nyiptain adegan2, terutama yg romantisnya, dan adegan romantisnya itu akhirnya jadi kerasa "orisinil". oke, ciuman mungkin biasa, tapi sesuatu lain yg dilakuin simon pas nyium mahoni itu ga biasa(gakmau spoiler ah hihi).

Makasih buat ceritanya yang keren banget kak windry :) ditunggu karya2 selanjutnya
Profile Image for Christian.
Author 32 books841 followers
May 9, 2012
Dark tapi ah-dorable. Nice comeback, Dear!
Profile Image for Tirta.
252 reviews38 followers
June 29, 2012
"Kompromi tidak akan membunuhmu, Mahoni.
Kau tidak akan kehilangan jati dirimu hanya gara-gara mendesain kolam dengan pancuran air bertingkat."
"Ya, aku tahu."
"Sebaliknya, kau bisa mewujudkan impian seseorang dengan kompromi. Itu sesuatu yang kita lakukan setiap saat tanpa sadar. Di rumah. Dengan keluarga kita."
....... "Aku tidak punya keluarga, ingat?"



Sosok Mahoni dalam buku ini bukanlah sosok yang mudah disukai. Sikap dingin dan berjaraknya terhadap Sigi, anak remaja berusia 16 tahun, adiknya dari ayah yang sama namun ibu berbeda. Sikapnya terhadap Mae, ibu kandungnya sendiri. Sikapnya terhadap Ron, bahkan terhadap Simon. Semua menggambarkan betapa ia ingin menutup dirinya dari luka ataupun kesedihan yang ia dapatkan setelah ayah dan ibu kandungnya berpisah lalu menikah lagi dengan Grace, ibu dari Sigi. Semua itu sangat manusiawi.

Pada suatu hari Mahoni mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Ayah yang sudah beberapa tahun ini ia hindari. Mahoni harus meninggalkan Virginia, meninggalkan pekerjaan dan proyeknya, untuk kembali ke Indonesia. Ketika pulang, ia dibebankan dengan kehadiran seorang Sigi, adik tirinya yang kini yatim piatu. Wajar bila Mahoni tidak menyukai Sigi, dengan situasi yang ada. Mahoni tidak bisa kembali ke Virginia, ia terpaksa harus merelakan pekerjaan sebagai arsitek disana. Lalu pada suatu kesempatan, Mahoni bertemu dengan Simon, yang menawarinya kesempatan untuk bekerja sama. Turns out Simon sama sekali bukanlah sosok yang asing bagi Mahoni.

Buku ini agaknya lebih tepat dikatatakan bertema general, dengan porsi family dan romance yang seimbang. Plot-nya mengalir dengan baik, dialog-dialog yang ada tampak natural dan tidak dipaksakan, tetap menarik dan terasa pas meskipun tidak mengandung bahasa asing sama sekali (terutama bagian percakapan Mahoni dengan Ron di Virginia). Saya menikmati semua bagian interaksi Mahoni dan Sigi, dan juga flashback-flashback Mahoni akan kenangannya dengan sang ayah yang dulu amat ia sayangi. Bagaimana dewasanya sikap Sigi dan berkembangnya hubungan mereka berdua dari yang tadinya asing, hingga akhirnya Mahoni menjadi luluh dan menunjukkan sikap sayang kekeluargaan. Sosok Mahoni pelan-pelan berubah menjadi lebih baik dan lebih dewasa, mampu memperbaiki hal-hal yang tadinya tidak ia sukai dalam hidupnya. Saya juga sangat menyukai karakter Sigi dan Sofia yang sama-sama menunjukkan kedewasaan meski dalam hal yang berbeda. Bagian favorit saya adalah ketika Sigi menjemput Mahoni di stasiun :)

4 of 5 stars for Memori by Windry Ramadhina.
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
May 22, 2012
"Tidak ada perasaan yang bertahan selamanya. Aku belajar itu dari Papa. Cepat atau lambat, sesuatu yang kita miliki akan hilang dan yang tertinggal kemudian cuma rasa benci."


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Seringkali aku tidak bisa memahami segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku. Kepingan-kepingan peristiwa yang membentuk aku dan memengaruhi keputusan-keutusan yang telah aku buat.

Perpisahan Papa dengan Mae. Kehadiran Grace dan Sigi. Kecelakaan mobil yang memaksaku kembali ke Jakarta. Gehry yang berada dalam jangkauan, tetapi tidak bisa kuraih.
Lalu, pertemuan kembali antara aku dan Simon."


Kisah ini bermula dari seorang arsitek bernama Mahoni, yang sedang membangun kariernya di Virginia; kota yang jauh dari negara asalnya. Akan tetapi kenangan-kenangan yang tidak ingin ia ingat muncul kembali, ketika ia mendengar sebuah pesan telepon yang menanyakan kabarnya. Pesan tersebut datang dari orang yang pernah amat dicintai Mahoni, teman bicaranya, sosok yang amat dikaguminya. Sayangnya, Mahoni telah dibuat patah hati dengan rasa kecewa yang amat berat; meninggalkan luka yang mendalam dalam hatinya. Orang tersebut adalah sosok yang ia sebut Papa.

Mae - Mama Mahoni, yang tak pernah ia panggil Mama lagi - ditinggalkan oleh suaminya semenjak mereka sering bertengkar dan muncul wanita bernama Grace. Semenjak kehadiran Grace, keluarga Mahoni menjadi kacau, terlebih lagi Mae yang selalu terpuruk dalam kesedihan dan meratapi kepahitan hatinya. Apalagi ketika Mahoni mengetahui Ayahnya dan Grace mempunyai seorang anak, yang akan menjadi adik tiri bagi Mahoni; hati Mahoni dipenuhi dengan kekecewaan yang luar biasa. Semua itu sebenarnya sudah menjadi kenangan bagi Mahoni; akan tetapi takdir sepertinya berkata lain saat Mahoni mendapat telepon dari Om-nya, yang mengabarkan bahwa Ayahnya dan Grace meninggal dalam kecelakaan mobil....

Baca review selengkapnya di:
http://thebookielooker.blogspot.com/2...
Profile Image for Hendra Laba.
61 reviews6 followers
November 3, 2012
Entahlah apa yang harus saya katakan tentang novel karya mbak Windry ini. Ini benar-benar luar biasa. Menemani hari-hari dalam puasa tahun ini, membuat saya lupa waktu berbuka puasa hampir tiba. Konflik yang simple tapi dikemas dengan sangat menarik. Karakter tokoh yang real dan dalam berpengaruh dengan jalan cerita yang menyentuh. Apalagi hubungan persaudaraan antara Mahoni-Sigi seperti merefleksikan hubungan saya dengan kakak saya yang tidak begitu dekat, bedanya Mahoni-Sigi adalah saudara tiri. Dalam novel bersetting di dunia arsitektur, yang tentu saja sangat dikuasai mbak Windry membuat pendeskripsian setting sangat detil. Penjabaran tentang rumah Mahoni dan Sigi jika dibayangkan tentu saja sangat indah dan manis. Lalu kantor dimana Sofia dan Simon-dan tinggal-pasti sangat artistik. Saya suka hampir dengan semua tokoh di novel ini. Sigi, dengan sifat dewasa in his own way. Sofia, yang terlalu sempurna dijadikan kekasih saya HAHA. Dan, Mae, dramaqueen yang unik-I like her. Intinya saya sangat suka novel ini. Tidak dengan cover-nya. Bagi saya terlihat tidak eye-catching. Dan oh ya, novel Memori saya telah dipinjam oleh seorang teman, dan saya lupa memintanya. Saya sudah ada di pesawat menuju Jakarta, dan besoknya ia juga harus kembali ke Makassar. Novel favorit saya nyasar di Makassar :(
Profile Image for Aveline Agrippina.
Author 3 books69 followers
June 3, 2012
Catatan Pembaca

1. Kebetulan saya tidak menunggu kedatangan Windry kembali karena baik Orange ataupun Metropolis belum ada yang pernah saya sentuh. Maka, penilaian saya kali ini berdasarkan apa yang saya baca pada karya Windry untuk kali ini.

2. Saya sempat membaca tulisan-tulisan Windry saat saya masih (agak) aktif di Kemudian.com -berikutnya saya lenyap hingga kini karena saya lupa kata sandinya, hahaha...- Tapi memang seperti itulah gaya penulisan Windry yang ada di dalam Memori tidak jauh berbeda dengan yang dulu. Karakteristiknya ada: bagaimana caranya ia mendeskripsikan suasana secara detail dan dibawa dengan gaya bahasa yang pelan.

3. Sesungguhnya novel ini sudah dapat ditebak dari awal bagaimana epilognya. Tinggal bagaimana cara Windry mengelolanya saja untuk menyajikan Memori bukan sebagai novel yang biasa. Ia dengan perlahan memberikan permainan konflik batin oleh Mahoni. Di sisi itu pula, Windry dapat terjebak dengan permainan konfliknya karena bagaimana dengan mudahnya Mahoni bisa menerima Sigi, padahal di babak awal ia menolak bahkan membencinya.



Demikianlah, dan terima kasih.
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
September 17, 2012
Setelah membaca novel ini. saya bisa bilang Windry Ramadhina akan menjadi salah satu novelis favoritku. Karena sejak pertama kali membaca Orange, Metropolis dan terakhir Memori, saya suka dengan gayanya bercerita.

Konflik para tokoh, alur, detail kecil yang diperhatikan semua membuat saya cukup terkesan. Novel ini seperti berpetualang ke masa lalu, kita diajak untuk bersama Mahoni mengenang masa lalunya bersama keluarganya, terutama ayahnya dan proses memaafkan semua yang terjadi di masa lalu. Pelan tapi pasti Mahoni akhirnya bisa melewati kebencian terhadap ayahnya, dan akhirnya bisa berdamai dengan masa lalu. Sangat suka dengan perkembangan kisah Mahoni dan Sigi, adik tirinya. Kedekatan emosional akhirnya pelan-pelan terpancar juga, memang ikatan darah susah untuk dilupakan begitu saja.

Part Mahoni dan Simon juga menjadi warna sendiri, tidak terkesan memaksa namun jadi membuat novel ini menarik. Dan saya suka dengan ilmu baru yang saya dapat dari novel ini, saya jadi tahu sedikit tentang arsitektur, dan itu bonus dari novel ini ^^

Nice novel, ditunggu selalu karya terbarunya ^^ Love :*
Profile Image for Kireina Enno.
Author 8 books75 followers
November 4, 2012
Ini salah satu novel yang bisa bikin saya membacanya berulang-ulang. Entah kenapa, saya suka kisahnya. Sebenarnya temanya sederhana, tetapi Windry mengemasnya dengan emosi yang pas untuk setiap tokohnya.
Saya suka emosi Mahoni dan ibunya, Mae. Windry menaruh emosi pahit itu dengan sangat 'hidup.' Saya merinding kagum.

Kok bisa ya, Windry membuat plot yang begitu rapi dengan emosi yang tertata apik dan konsisten dari awal hingga akhir cerita? Saya sudah tanya tips-nya ke Windry. Minta dia berbagi proses kreatifnya, di blognya. Windry bilang, oke. Semoga nggak lupa ya, Win ;)

Cuma satu catatan kecil yang membuat saya sedikit terganggu, yaitu gaya bicara Sigi dalam setiap dialognya. Sigi memakai kata ganti gue-elo, tetapi dialog yang diucapkannya masih kurang pas, tidak seperti anak abege seumurnya.

Tapi sudahlah. Itu tertutupi dengan plot yang rapi, emosi yang terjaga dan ending, yang meskipun sudah bisa diduga, terasa manis dan pas.
Bravo, Windry! :)
Profile Image for Anissa Fajari.
12 reviews3 followers
July 9, 2012
Pada awalnya, saya tidak bisa menikmati tulisan Windry Ramadhina karena banyaknya detail tentang arsitektur dan deskripsi yang harus saya cerna. Dalam beberapa bagian awal saya pun merasa selalu tertinggal, sehingga misalnya ketika saya baca paragraf dua saya belum bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi dan kembali ke paragraf pertama. Tetapi lama-kelamaan saya tidak harus struggle lagi ketika membaca Memori, saya mulai larut dalam kisahnya. Saya sangat menyukai ide Windry Ramadhina yang mengangkat konflik keluarga dalam Memori. Ceritanya pun dibuat dengan sangat apik, karakter-karakter dalam novelnya berkembang dengan wajar. Pantaslah kalau novel ini banyak direkomendasikan orang-orang di twitter.

http://chacilsbooks.blogspot.com/2012...
Profile Image for Gita Romadhona.
Author 9 books35 followers
December 12, 2012
membaca naskah windry, selalu membuat saya iri. cara bertuturnya tak pernah berlebihan, pas dan tepat. deskripsinya selalu detail, saya seakan-akan melihat apa pun yang sedang dideskripsikannya.

dalam Memori, saya suka Sigi. menunggu-nunggu saat alur kembali menyinggung dia. :)

Windry,dengan segala riset di balik proses menulisnya, mampu menghadirkan cerita yang "takcumacuma".

teruslah menulis Windry, aku menjadi salah satu orang yang akan selalu menunggu hasil karyamu :)
Profile Image for Diego Christian.
Author 5 books127 followers
August 21, 2012
Ada banyak kata baku yang bisa saya simpan di bank ide saya setelah membaca buku ini. Mungkin bisa dijadikan bahan dalam mata kuliah leksikografi dalam tema bangunan rumah dan arsitek. Sungguh membuka mata saya dan wawasan setelah membaca buku ini. Temanya juga sangat baik, plotnya rapi, dan gaya tulisan Windry yang sedikit gelap dan sendu menambah daya tarik saya selama membaca buku ini.
Profile Image for Yovano N..
239 reviews14 followers
April 23, 2015
Review on my blog: http://www.kandangbaca.com/2015/03/me...

Mahoni adalah seorang arsitek muda yang tengah giat meniti karir di Virginia, Amerika Serikat. Ada alasan khusus yang membuatnya meniti karir di luar negeri alih-alih di tanah kelahirannya sendiri. Sebuah luka masa lalu yang disebabkan oleh sang ayah yang lebih memilih meninggalkan dirinya dan sang ibu demi seorang perempuan bernama Grace, membuat Mahoni menjadi pribadi yang keras. Sebagai seorang arsitek, Mahoni memiliki pendirian yang teguh serta sangat idealis. Ia berpendapat bahwa seorang arsitek adalah pekerja seni, sehingga ia tidak gampang mengiyakan keinginan para klien apabila permintaan klien tersebut bertentangan dengan idealismenya. Mungkin itu jugalah yang membuatnya jarang deal dengan klien. Ron, pria bule yang juga rekan kerja Mahoni kerap mengingatkan wanita itu agar tidak bersikap terlalu idealis, karena bagaimanapun, keinginan klien-lah yang perlu diutamakan. Tapi Mahoni bertahan pada pendiriannya.

Suatu ketika, Mahoni menerima telepon dari Om Ranu yang mengabarkan bahwa sang ayah mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya dan Grace. Hal tersebut membuat Mahoni terpaksa harus mengambil cuti untuk pulang ke Indonesia, untuk menghadapi kenangan-kenganan pahit di masa lalu yang selama ini ia coba lupakan. Bukanlah hal yang mudah bagi Mahoni untuk kembali ke rumah sang ayah.

Mahoni sebenarnya tidak berencana untuk tinggal lebih lama lagi di Jakarta, tapi keadaan memaksa dirinya untuk menambah waktu cuti, demi seseorang yang ia benci namun kini menjadi tanggung jawabnya, yaitu Sigi, anak laki-laki dari ayahnya dan Grace, yang tidak lain adalah adik tirinya. Sakit hati pada ayah dan Grace membuat Mahoni tak pernah mau mengakui Sigi sebagai adik. Alhasil, hubungan Mahoni dan Sigi terasa sangat kaku. Meski tinggal seatap, Mahoni berusaha untuk tidak saling bertemu muka dengan Sigi.

Persoalan Mahoni ternyata tidak berhenti di situ saja. Selama berada di tanah air, gadis itu kembali dipertemukan dengan Simon, salah satu sosok penting dari masa lalunya. Tampaknya, terpisah jarak dan waktu tak lantas mengikiskan perasaan Mahoni terhadap laki-laki itu. Namun Mahoni tak bisa berbuat apa-apa selain menerima fakta bahwa Simon sudah punya pendamping yang cukup sepadan. Hubungan keduanya kini tak lebih dari sebuah hubungan profesional, sebab Simon menawarkan pekerjaan di kantornya selama Mahoni berada di Indonesia.

Bagaimana cara Mahoni mengatasi segala kenangan pahit di masa lalu yang seolah sepakat menyerbunya tanpa ampun? Baca kisah lengkapnya dalam Memori, sebuah karya gemilang dari Windry Ramadhina.

Memori adalah karya pertama Mindry Ramadhina yang saya baca. Melihat judul dan sampul depan novel ini yang kalem, saya menduga bahwa novel ini akan berisi kisah cinta yang mendayu-dayu. Dugaan saya sedikit meleset. Sesuai judulnya, novel ini berkisah tentang tokoh utama yang dipaksa oleh keadaan untuk menghadapi berbagai kenangan masa lalu yang didominasi oleh hal-hal pahit. Sebagian besar kenangan tersebut berhubungan dengan keluarga. Dalam cerita ini, kita akan melihat sosok Mahoni yang memiliki kepribadian keras tapi juga cenderung pesimis. Padahal, dulunya Mahoni adalah gadis kecil yang periang, yang betah berlama-lama mengamati ayahnya bekerja dengan kayu (ini menjelaskan mengapa ia diberi nama Mahoni). :)

Mungkin memang benar bahwa ditinggal sang ayah untuk menikah lagi memberi andil pada perubahan sikap Mahoni. Namun itu bukan sepenuhnya kesalahan sang ayah. Setelah membaca keseluruhan novel ini, saya mengambil kesimpulan bahwa orang terdekatlah yang mampu mempengaruhi sikap seseorang, termasuk cara seseorang terhadap hidup. Dalam kasus Mahoni, orang tersebut adalah Mae, ibu kandungnya. Mae yang teramat benci terhadap mantan suaminya tanpa sadar telah menanamkan benih kebencian yang sama terhadap Mahoni kecil. Padahal selama ini sang ayah selalu berusaha menjalin hubungan yang baik dengan Mahoni. Bahkan Grace, istri baru ayahnya, sebenarnya juga bersikap baik terhadap Mahoni. Saya menyukai cara penulis menyampaikan kisah yang sebenarnya cukup rumit ini menjadi mudah diterima oleh pembaca. Saya jadi sulit untuk membenci sosok ayah Mahoni, Grace, apalagi Sigi.

Interaksi antara Mahoni dan Sigi sangat menarik untuk disimak. Hubungan keduanya yang awalnya sangat kaku, oleh penulis diolah sedemikian rupa, sehingga mampu membuat pembaca penasaran terhadap perkembangan hubungan mereka selanjutnya. Banyak adegan-adegan manis yang melibatkan Mahoni dan adik tirinya tersebut. Saya harus mengakui bahwa penulis memang piawai dalam mengolah kisah bertema hubungan keluarga.

Nah, meski tema keluarga mengambil porsi besar dalam novel ini, namun penulis tidak lupa menyisipkan romansa di dalamnya, yaitu hubungan antara Mahoni dan Simon. Unsur roman dalam novel ini pun tidak terkesan tempelan semata, sebab kisah Simon, Mahoni, dan Sofia (pacar Simon saat ini), merupakan representasi dari kisah ayah Mahoni, Mae, dan Grace. Menarik, bukan? Untuk tahu kisah lengkapnya, sebaiknya baca sendiri novelnya ya. Hehe.

Saya memilih novel ini untuk tema Baca Bareng BBI bulan Februari, yaitu profesi, setelah diyakinkan oleh Sulis bahwa novel ini layak dijadikan pilihan. Latar belakang penulis yang seorang arsitek memberi pengaruh yang besar terhadap novel ini. Pertama, profesi para tokohnya. Baik Mahoni, Simon, maupun Sofia adalah arsitek, sehingga lingkungan kerja para tokohnya tentu berkaitan erat dengan profesi mereka. Kedua, adalah deskripsi dalam novel ini. Penulis benar-benar detail dalam mendeskripsikan situasi dan setting dari sudut pandang seorang arsitek (Mahoni), yang membuat saya yakin bahwa penulis memang cukup ahli di bidangnya. Saya rasa pembaca yang punya latar belakang yang berhubungan dengan arsitektur akan merasa relate dengan novel ini. Bahkan, saya, yang awam tentang hal-hal yang berhubungan dengan desain tata ruang, sedikit banyak mendapat pencerahan melalui novel ini. Yang saya keluhkan adalah seharusnya penulis menambahkan catatan kaki untuk istilah-istilah yang berhubungan dengan arsitektur. Saya malas jika harus membuka google lagi. Alhasil, apabila terdapat istilah yang kurang saya pahami, maka saya akan melihat konteks kalimat secara keseluruhan, kemudian berlagak paham dan kembali melanjutkan membaca. #sayamemangsotoy

Membaca Memori merupakan pengalaman yang mengasyikkan. Mengangkat tema tentang keluarga, cinta, dan dunia arsitektur, membuat novel ini sangat kaya. Dan di novel ini, tak ada tokoh antagonis yang benar-benar saya benci (malah, saya ragu kalau ada tokoh antagonis di novel ini). Yang membuat saya tidak memberi rating penuh terhadap Memori adalah karena pace ceritanya yang cenderung lambat. Selebihnya, novel ini bagus sekali. Yang belum membacanya, buruan dibaca deh. Sayang jika dilewatkan begitu saja. :)
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book267 followers
June 12, 2012
Pertama kali mengenal karya Windry lewat Orange dan Metropolis (thanks to Sulis @peri_hutan), saya langsung suka dengan gaya menulis Windry. Dua novel tersebut punya nuansa yang berbeda. Yang satu dengan fotografi, dan yang kedua dengan nuansa mafia. Kali ini Windry menyajikan nuansa arsitektur dalam novel terbarunya. Buat yang tidak mengerti tentang dunia arsitek tidak perlu kuatir, karena Windry menceritakan dengan sangat ahli. Wajar saja, mengingat Windry sendiri adalah seorang arsitek.

Mahoni, seorang arsitek lulusan UI yang meninggalkan Indonesia menuju Virginia untuk melupakan masa lalunya. Selama empat tahun dia membangun karirnya di Amerika, tempat yang menjadi kiblatnya dalam dunia arsitektur, karena Mahoni sangat mengidolakan Frank O. Gehry. Dia sering diminta merancang butik atau gallery, dan banyak yang menyukai karyanya. Tapi keinginan terpendam Mahoni adalah merancang sebuah romance home.

Suatu kecelakaan mobil yang menewaskan papa-nya dan Grace (ibu tirinya) membuat Mahoni harus pulang ke Indonesia. Rencana awalnya Mahoni hanya akan tinggal sehari saja untuk mengunjungi makam papanya, tapi Mahoni dengan terpaksa harus tinggal dua bulan demi menjaga adik tirinya, Sigi. Tinggal di rumah papa, menghadapi masa lalu dan kenangan buruk yang ingin dia kubur, membuat Mahoni tidak berkutik. Apalagi ketika dia bertemu dengan pria di masa lalunya, Simon. Sayangnya Simon sudah memiliki Sofia, lengkap dengan studio MOSS milik mereka berdua. Sekali lagi, sakit hati Mahoni terangkat ke permukaan.

Simon adalah teman semasa kuliahnya. Berbeda dengan Mahoni yang mengidolakan Frank O. Gehry, Simon memuja Rem Koolhaas. Walaupun demikian, Simon adalah partner berdebat dan berdiskusi yang setara dengan Mahoni. Dibalik, sikap sinis dan tidak peduli yang menjadi ciri khas Simon, dia ternyata mencintai Mahoni. Demikian pula dengan Mahoni. Tetapi ketika Simon meminta Mahoni ikut ke Belanda bersamanya, Mahoni malah kabur dan pergi dari Simon.

Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi.
Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.
Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia—cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman.
Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.


Kalimat di atas adalah tulisan yang terdapat di sampul belakang novel ini. Saya kira tulisan ini adalah apa yang ditanamkan Mae (mama Mahoni) kepada Mahoni. Ketidakpercayaan Mae terhadap suatu hubungan membuat Mahoni meyakini hal yang sama. Ketika Simon kembali menawarkan cintanya dengan memilih Mahoni, Mahoni kembali lari. Dia tidak ingin menjadi Grace. Dia tidak ingin Sofia mengalami hal yang sama seperti Mae. Mae tenggelam dalam sakit hati ketika Guruh (papa Mahoni) memilih Grace dibandingkan dirinya. Guruh yang merasa tidak lagi ada kecocokan antara dirinya dan Mae, menemukan apa yang dia cari di dalam diri Grace. Ketertarikan mereka berdua terhadap kayu, membuat mereka menyatu. Sementara Mae tenggelam dalam dunia fiksinya yang getir dan pahit. Mae mengajak Mahoni meninggalkan rumah papanya, membuat Mahoni membenci papanya dan Grace dan apapun yang berhubungan dengan mereka, termasuk Sigi.

“Damar adalah kayu kesukaan Papa; bukan jati, nyatoh, atau sungkai; bukan pula Mahoni.”

Sigi (atau damar dalam bahasa Sumatera) adalah adik tirinya yang masih duduk di bangku SMA. Dengan caranya sendiri, Sigi menemukan kedewasaannya, bertindak sebagai saudara laki-laki yang ingin menjaga Mahoni, dan tanpa mereka (Sigi dan Mahoni) sadari mereka terhubung oleh suatu emosi yang dalam. Emosi yang membuat Mahoni tidak bisa meninggalkan Sigi begitu saja, walaupun itu demi impiannya bekerja sama dengan Frank O. Gehry.

“Sebaliknya, kau bisa mewujudkan impian seseorang dengan kompromi. Itu sesuatu yang kita lakukan setiap saat tanpa sadar, Di rumah. Dengan keluarga kita”

Membaca novel ini membuat saya merasa “penuh”. Novel ini bukan hanya tentang keluarga, pulang ke rumah, menghadapi masa lalu. Tapi yang terdalam adalah tentang kompromi. Merelakan sebagian impian demi orang lain, demi keluarga. Mahoni yang keras kepala, spesifik, dan ambisius berkali-kali harus berkompromi demi impian orang lain. Kompromi dengan keluarganya, kompromi dengan impiannya, bahkan kompromi dengan cintanya. Saya sendiri melihat ada Mahoni dalam diri saya, melakukan kompromi tanpa sadar terhadap beberapa hal dalam kehidupan saya untuk mewujudkan impian orang lain yang saya cintai.

Tidak terlepas dari isi ceritanya, novel ini dilengkapi dengan cover yang romantis, berwarna jingga dengan sebuah lukisan rumah bergaya klasik. Belum lagi pilihan kertas sampulnya yang bertekstur, menambah nilai plus untuk novel ini. Pokoknya highly recommended untuk dikoleksi (dan dibaca tentunya).

Lima bintang untuk Windry Ramadhina. Terima kasih, Win untuk memori-mu…
Profile Image for Fhily.
Author 1 book44 followers
June 19, 2012
Ah, Mae, dunia tidak sekelam yang kau perlihatkan kepadaku


Bercerita tentang seorang gadis bernama Mahoni, sekilas mendengar namanya kita pasti diingatkan pada Kayu. Dia seorang arsitek yang bekerja di Virginia dengan partner kerjanya bernama Ron, yang ada bule nan perayu suka memanggilnya dengan nama Honey bukan Honi ataupun Mahoni. Romantic Home yang ditawarkan pada sepasang suami isteri ditolak mentah-mentah dan menginginkan desain yang biasa-biasa saja. Padahal Romantic Home adalah ide yang sangat brilliant menurutnya. Namun, Mahoni tetap keukeh dan mempertahankan pendiriannya sebagai arsitek, jika mereka tidak menginginkan rumah yang dia rancang, silahkan cari arsitek lain, dia tidak ingin harga dirinya sebagai arsitek diinjak-injak. Ya, begitulah Mahoni.
Mahoni ini diceritakan sebagai 'korban' dari perceraian antara Papanya dengan Mae(ibunya). Mahoni berhenti memanggil ibunya dengan sebutan ibu semenjak dia merasa Mae kehilangan sosok keibuannya. Papanya juga yang dulu dia kagumi membuatnya patah hati dengan wanita lain dalam hidupnya. Grace. Wanita yang menjadi orang ketiga antara keluarga mereka. Mulai saat itu semuanya berubah sampai takdir membawanya ke Virginia.
Namun kembali lagi takdir membawanya kembali ke Indonesia karena sebuah tragedi yang merenggut nyawa Papanya dan Grace. Rencananya hanya dua hari, namun siapa sangka bocah berumur 16 tahun, yang adalah adik tirinya, Sigi. Yang sejujurnya dia iri terhadap anak itu, karena artinya Kayu Damar yang merupakan kayu Favorit ayahnya. Berhasil mengubah rencana tersebut.
Mahoni diminta omnya untuk tetap tinggal hanya untuk dua bulan. Tentu saja pada awalnya Mahoni menolaknya mentah-mentah. Itu artinya dia harus meninggalkan karirnya di Virginia yang sudah dia gapai dengan sulitnya. Tapi, akhirnya takdir menentukan untuk Mahoni tetap tinggal untuk dua bulan.
Pertemuannya dengan Simon kembali setelah beberapa tahun. Ketika dengan tidak sengaja dia masuk ke sebuah restoran dan tertarik dengan arsitekturnya. Siapa lagi yang merancang kalau bukan Simon Marganda.
Tawaran bekerja sama pun hinggap pada Mahoni di MOSS. Bersama Sofia yang adalah kekasih Simon, Mahoni menerima tawaran tersebut.
Proyek awal Mahoni adalah membuat rumah dengan desain mediteran, tetapi Mahoni malah membuat Posmo sehingga proyek mereka gagal. Dan keras kepala Mahoni, seperti kejadian dahulu pada Romantic Home-nya Mahoni tetap keukeh mempertahankan Posmo-nya.
Simon emosi kepada Mahoni karena tidak mau mendengarkannya, padahal dia sudah menyuruh Mahoni membuat dua desain.
Mahoni memutuskan untuk mundur dari MOSS, dan merasa Jakarta tidak menarik kembali. Namun, Sofia menghubunginya kembali dan menawarkan kerja sama membuat desain untuk Cavila.
Mulai dari situ keadaannya dengan Simon membaik lagi.
Sampai terungkap hubungan Simon dan dirinya di masa lalu... Membuat dia harus merasakan kembali momen Godiva... Dan membuat Sofia-Simon-Mahoni berada sama seperti keadaan Mae-Papanya-Grace... Bukan, dia bukan sebagai Mae tapi sebagai Grace... Hingga dia tahu betapa tidak enaknya berada di posisi Grace... Apa hubungan Simon dan Mahoni di masa lalu? Apa yang selanjutnya terjadi? Silahkan baca Memori.

***

Well, beli novel ini karena melihat ratting di sini bagus. Jadi saya tertarik membelinya. Setelah membaca semuanya saya lebih setuju kalau novel ini tetap memakai judul pertamanya yaitu Home. Membaca novel ini kita disuguhkan sejumlah pengetahuan tentang dunia arsitektur. Saya memang buta terhadap arsitektur ._. jadi big thanks jadi nambah pengetahuan hehehehe.
Saya terkadang agak gimana gitu dengan sikap Mahoni yang keras kepala. Tapi, yah begitulah karakter Mahoni. Herannya, sikap keras kepalanya tidak bisa diterapkan saat dia di minta tetap tinggal. Hohoho. Dia dikalahkan oleh bocah bernama Sigi.
Kadang agak mubazir dengan adanya Ron di awal ._. saya kira konfliknya bakal dengan Ron ternyata eh ternyata dengan Sofia ._.
Tapi suka sama sikapnya Sofia two thumbs up.
Maenya Mahoni juga seperti nggak dewasa-dewasa yah. Udah tua tapi galau terus. Kasihan. :O /plak.
Kalau Simon, ya... lumayan-lah, masuk kategori warm :p *kabooor. Tapi tetap sweet kok. Apalagi di momen Godiva. Hehehehe.
Lucu pas Simon bilang "Sial, aku dikalahkan bocah ingusan," hahahaha (?).

4 of 5 stars :)
Profile Image for Priska Pavita.
70 reviews4 followers
February 26, 2017
Bingung mau bikin review apa karena sejauh ini nggak ada karya Windry Ramadhina yang mengecewakan. Bahasanya formal namun benar-benar mengalir. Plotnya sederhana namun nggak membosankan. Karakter Mahoni walau sering nyebelin karena idealismenya yang terlalu tinggi tapi jatuhnya tetap likeable. Karakter Simon cool tapi nggak sok cool. Kisah cintanya nggak cheesy. Galaunya juga nggak terlalu berlebih. Entah mengapa semuanya serba pas. Salut!
Profile Image for Hani Mahdiyanti.
217 reviews37 followers
February 25, 2017
Suka banget! Pertama kali baca karya Kak Windry rasanya so-so aja karena bahasanya terkesan agak dipaksakan biar quoteable. Tapi yang ini beda. Suka dengan konfliknya yang kompleks tapi nggak biasa. Suka dengan karakter sampingannya yang humanis tapi tetap manis. Suka dengan bahasanya yang mengalir indah tanpa terkesan 'quotable paksa'. Suka dengan risetnya yang mendalam tentang arsitektur. Suka dengan emosi tersirat di balik dialognya. Suka dengan kesan akhirnya yang bikin haru tanpa harus kebanyakan drama.

Walaupun begitu, dibandingkan dengan karya yang sebelumnya kubaca, yang ini ngga sampai bikin nangis gegulingan, sih. Paling hanya sesekali mengusap air mata. Tokoh utamanya nggak terlalu likeable dan agak ngeselin dengan idealismenya yang tinggi banget. Jujur aja sih, aku nggak suka dengan orang macam itu. Memangnya idealisme bisa dimakan? (^^ peace). Tapi orang seperti itu ada, disadari maupun nggak. Jadi rasanya kagum sama penulisnya, bisa mengangkat karakter utama yang ngeselin jadi cerita yang bagus. Hahaa...

Pace-nya sedang, nggak terlalu cepat atau lambat. Jadi cerita bisa dinikmati dengan santai tanpa merasa kebosanan. Dan bisa diselesaikan dengan cepat juga. Awalnya ragu mau baca cerita ini kalau bakal lama selesainya atau kalau setelah selesai jadi bikin baper. Tapi ternyata nggak begitu. Setelah selesai membacanya rasanya malah lega. Terutama karena si tokoh utama jadi 'terbuka' mata hati dan pikirannya.

Pesan tersirat dari cerita ini cukup banyak. Tapi yang paling kuat adalah tema kekeluargaannya. Lalu, poin selanjutnya adalah tentang move on yang cukup populer dan biasa ada dalam kisah roman. Kemudian yang berkesan selanjutnya adalah maaf-memaafkan. Paling berkesan menurutku, karena memaafkan itu nggak segampang permainan kata, ada perasaan tersakiti yang terlibat untuk mengikhlaskannya. #curhat

Jadi penasaran dengan karya Kak Windry yang lain! Ada yang seperti ini juga nggak, ya?
Profile Image for Rose 📚🌹.
536 reviews133 followers
August 8, 2012
Mahoni, namamu begitu tak asing bagiku. Sepertinya aku pernah mempelajarimu sewaktu masih di bangku sekolah dasar. Oleh karena keingintahuanku, dengan isengnya aku mengoogle namamu, mencari tahu apa arti dari namamu. Kau adalah tanaman pelindung. Pohon besar yang tumbuh tinggi dan tumbuh liar di hutan jati dan tempat lainnya yang berdekatan dengan pantai.

Kau tahu apa kehebatanmu? Kau mampu bertahan dengan sangat baik terhadap kuatnya sinar matahari, menandakan bahwa kau tidak mudah terintimidasi. Kau juga termasuk tanaman yang mampu bertahan hidup di tanah gersang, sekalipun tak mendapat siraman air selama berbulan-bulan. Sekarang aku tahu kenapa papamu memberimu nama,"Mahoni." Kau tangguh, mandiri, dan percaya diri.

Mahoni adalah seorang arsitektur. Ia mendapatkan jabatan yang baik di Virginia. Bersama dengan bule yang bernama Ron, ia menggeluti bidangnya dengan baik dengan mendesain semua proyeknya dengan segenap hatinya. Awalnya kehidupannya baik-baik saja di Virginia. Kemudian telepon itu datang dan meresahkannya.

Mahoni pulang ke Jakarta. Semua memori yang berusaha ia simpan rapat-rapat akhirnya terkuak ke permukaan. Ia tak mau mengingat, tapi terpaksa mengingat. Papanya dulu hidup bersama ia dan Mae (ibunya), tapi kemudian bercerai dan menemukan wanita lain. Ia hidup dengan Grace dan memiliki anak laki-laki bernama Sigi. Bagi Mahoni, Mae adalah ratu drama. Ia tak ingin bersedih dan terpuruk sendiri. Mae ingin semua orang disekitarnya juga merasakan hal yang sama, termasuk Mahoni.

Kecelakaan terjadi. Sigi sekarang sebatang kara dan Mahoni adalah tumpuannya. Rencana Mahoni untuk menetap dua hari di Jakarta menguap sudah. Ia harus menanggung beban ini sendiri, dan harus kembali berhadapan dengan masa lalunya, termasuk pria yang pernah singgah di hatinya, Simon.

Simon dan Mahoni masing-masing punya mimpi. Dan hingga saat ini, keduanya tidak pernah berhenti untuk mewujudkan mimpi itu. Jika sifat Mahoni terkadang menyebalkan, maka sifat Simon adalah selalu menyebalkan. Dan lucunya aku tak mengapa. Setiap kata-kata sinis yang terlontar dari mulutnya dan setiap pertengkarannya dengan Mahoni menjadi hiburan tersendiri bagiku. :D

Simon kritis, segala sesuatu yang ia tak suka harus segera diperbaiki. Ia tak keberatan mengubah desainnya ketika ia merasa ada yang kurang bagus meskipun ketika desainnya sudah hampir selesai. Dan Mahoni, ia pikir hanya ia yang mampu bertahan dengan lelaki seperti Simon. Dan ia salah besar. Sekarang, Simon memiliki wanita lain disampingnya, Sofia. Sofia seorang arsitektur juga, memiliki minat yang sama, dan juga lembut.

Mencintai Simon sekarang, hanya akan membuatnya terlihat seperti Grace. Dan ia tidak mau hidup Sofia berakhir seperti Mae yang penuh dengan emosi dan drama.

Awalnya aku mengira penulis akan memasangkan Mahoni dan Ron berdua sebagai pasangan. Tapi setelah kucermati, itu hanya akan menjadikan buku ini sebagai buku biasa yang sudah banyak ditulis oleh penulis-penulis lain. Buku ini menjadi luar biasa ketika aku mulai menyelami karakter Mahoni. Keras kepala, berpendirian kuat, dan tidak mudah mengalah. Aku cukup terkejut juga dengan sifat Mahoni yang terkadang menyebalkan ini. Terutama ketika ia menolak membuat pesanan sesuai dengan permintaan pembeli.

"Maaf, kalau tante dan om menginginkan rumah seperti di Barcelona, kalian bisa cari arsitek lain. Saya pekerja seni. Saya tidak mendesain sesuai pesanan."pg.119

Pengen rasanya menggetok Mahoni karena perkataannya. Tapi di sisi lain, Mahoni benar-benar menunjukkan sebuah kualitas seorang pekerja seni. Sudah kuduga papanya menamainya Mahoni bukan tanpa alasan. Mahoni bak batu yang berdiri kokoh diantara arus sungai yang mengalir dengan deras. Ia tidak peduli dengan permintaan pembeli, ia bekerja sesuai dengan keinginannya. Sombongkah? Mungkin. Tapi orang sombong tentulah punya sesuatu untuk disombongkan. Dan Mahoni punya talenta itu.
Profile Image for Uthie.
326 reviews76 followers
August 10, 2012
"Untuk mereka yang merindukan rumah-tempat berbagi cinta, kenangan, dan tawa yang tidak pernah pudar."


Hhhmmm.... Kalimat pembuka yang langsung (meminjam istilah seorang teman) menusuk jantung tembus ke hati saya. Adalah salah besar ketika saya membaca buku ini dalam bulan puasa dan berharap bisa berkumpul bersama keluarga untuk setidaknya sekali saja berbuka puasa dan sahur bersama. Buku ini kembali membuat saya terpaksa gigit jari karena keinginan itu hanya akan menjadi harapan yang tak terwujud. Baiklah... lupakan tentang saya, karena buku ini berbicara bukan tentang saya melainkan tentang Mahoni.

Nun jauh di Amerika Serikat sono, tepatnya di kota Virginia, Mahoni hidup sendiri dan berusaha mengejar mimpinya menjadi seorang arsitek terkenal sekaligus melarikan diri dari segala hal yang berhubungan dengan cinta dan keluarga di Indonesia.

Mahoni, yang namanya diambil dari nama salah satu jenis kayu, besar dalam drama yang dibangun sang ibu, Mae. Sebagai seorang pengarang sekaligus drama queen, Mae sukses menanamkan rasa benci pada diri Mahoni terhadap Papa dan Grace, istri baru Papa yang dianggap Mae merebut semua kebahagiaannya. Begitu bencinya Mahoni pada Papa, hingga ia tak sudi untuk mengenal adik barunya dan pergi dari kehidupan Papa tanpa kabar apa pun. Hingga hari itu, Mahoni mendapat kabar kalau Papa dan Grace meninggal. Mahoni harus secepatnya balik ke Indonesia.

Kepulangan itu ternyata tak semudah yang Mahoni bayangkan. Kebencian yang dirasakannya kepada Papa membuat Mahoni sulit untuk kembali datang ke rumah masa kecilnya. Kepulangan yang awalnya hanya direncanakan dua hari berubah total. Ada Sigi, adik yang tak pernah dianggapnya sebagai adik, kini menjadi yatim piatu. Tak ada yang dapat menjadi walinya kecuali Mahoni. Kebencian Mahoni berlipat ganda selain karena ia anak hasil hubungan Papa dengan Grace, juga karena Sigi menghancurkan mimpi Mahoni. Sigi, yang berarti Damar dalam bahasa Sumatera, adalah jenis kayu favorit Papa.

Kepulangan itu tak hanya membawa Mahoni mengenal Sigi, tapi juga pada Simon. Laki-laki yang dulu sempat menawarkan Mahoni untuk sama-sama melanjutkan mimpi ke negeri Belanda selepas kuliah, namun ditolak mentah-mentah Mahoni. Toh sesuai ajaran Mae, laki-laki hanya memanfaatkanmu lantas mencampakkanmu ketika ia tak butuh lagi.

"Sebaliknya, kau bisa mewujudkan impian seseorang dengan kompromi. Itu sesuatu yang kita lakukan setiap saat tanpa sadar. Di rumah. Dengan keluarga kita."

Bibirku membentuk senyum masam. Aku tahu, tetapi "Aku tidak punya keluarga, ingat?"



Doh.... rasanya pengen jitak kepala Mae, dan menenggelamkan dia ke dasar laut. Sosoknya terlalu egois untuk menjadi seorang ibu. Dengan teganya Mae meracuni pikiran Mahoni sehingga Mahoni begitu benci pada papanya.

Tokoh yang menarik perhatian saya adalah Sigi. Dengan gaya khas remajanya membuat saya suka melihat ketegaran dia setelah kedua orangtuanya meninggal secara mendadak dan terpaksa harus hidup dibawah asuhan kakak yang tak dikenal tapi juga amat sangat membencinya. Kalau untuk Simon sendiri sih, saya senang pada penulis yang tak membentuk sosok hero ala Rangga di AADC. Cukup sinis tapi tidak dingin pada lawan jenis.

Dengan latar belakang dunia arsitek yang ditekuni sang penulis, buku ini cukup banyak mengupas tentang dunia arsitek meski hanya sekedar mengambil nama-nama arsitek, aliran-aliran yang ada, tapi dengan penjelasan yang minim sekali. Sehingga bagi para pembaca yang awam terhadap dunia arsitek (termasuk saya) hanya menjadi penghias cerita. Tapi perkenalan pertama saya dengan karya Windry Ramadhina, tidak mengecewakan sehingga saya berniat untuk lanjut membaca karyanya.
Displaying 1 - 30 of 211 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.