I. Rumah, Detail, dan Dunia Arsitektur
Berbeda dengan dua novel Windry sebelumnya, Orange dan Metropolis, di Memori, Windry menulis deskripsi dengan begitu detail. Di Orange dan Metropolis juga, tapi di Memori, jauh lebih detail lagi. Mengapa saya membahas Memori dengan membawa-bawa Orange dan Metropolis? Tidak ada alasan khusus sih, mungkin saya ingin menunjukkan kepada yang membaca tulisan ini bahwa, kalian juga harus membaca dua novel Windry yang lain.
Oke, lanjut.
Di Memori, Windry menggambarkan rumah beserta perangkat-perangkatnya mulai dari bagian paling luas hingga benda-benda kecil yang ada di dalamnya. Begitu rinci, seperti yang ia tulis pada paragraf awal novel ini (Bab ‘Sepatu Satir di Anak Tangga’)
Beberapa arsitek menamainya Romantic Home.
Ada perapian kecil di ruang duduk, juga jendela besar berlatar taman melati yang wangi. Di sebelah ruang makan yang simpel, dapur tampil apa adanya: memperlihatkan stoples pasta, sekeranjang tomat, dan cangkir-cangkir yang tidak seragam. Kamar tidur berisi benda-benda kesukaan yang diletakkan sesuka hati. Kamar mandi bernuansa masa lalu dengan bath-tub berpinggiran bulat dan vas model kuno. Ruangan-ruangan diberi warna es krim yang sejuk: vanila, rum. mint, madu; dilengkapi mebel sederhana, tirai tipis tembus cahaya, dua atau tiga tangkai krisan segar dalam gelas, sepatu satin di anak tangga, serta tentu saja corak bunga karena tidak ada yang lebih romantis dari kain bunga-bunga di kamar tidur.
Atau paragraf ini (Bab ‘Ketukan Palu dan Aroma Pelitur’).
Gaya interior Omah Sendok merupakan campuran Indis-Jawa dengan warna putih susu dan cokelat kopi mendominasi setiap ruangan. Dinding-dinding dilapis panel kayu yang dicat duco dan dihiasi sejumlah lukisan kanvas berpigura klasik. Lantai berselimut parquet dan karpet. Jendela-jendela diberi tirai brokat. Ruang makan diisi dengan mebel Jawa. Lalu, berbagai macam vas dan piring hias berbahan porselen mempercantik sudut-sudut ruangan.
Ini bukan pekerjaan Simon, aku tahu persis. Brokat dan corak bunga-bunga terlalu manis untuk lelaki itu.
Saya tahu, karena Windry hendak bercerita tentang rumah, secara kiasan maupun harfiah, mau tidak mau memang dia harus membuat gambaran rumah (dan bangunan-bangunan lain) dengan detail, eksterior dan interior (jika membahas rumah secara harfiah). Tapi tetap saja deskripsi Windry menjadi salah satu bagian yang asyik diikuti. Deskripsinya yang sangat detail membuat saya membayangkan bentuk bangunan tersebut, isinya, suasananya, auranya.
Windry membawa dunia arsitektur ke dalam Memori, walau tidak dalam porsi yang sangat besar karena memang bukan inti cerita. Tapi cukup untuk membuat saya penasaran dan tertarik dengan dunia rancang-merancang bangunan tersebut. Sambil membaca Memori, saya sampai googling apa itu ‘Guggenheim’, siapa itu ‘Frank O. Gehry’, bagaimana itu bentuk rumah folkloric, posmo; dan lain-lain. Windry memasukkan unsur arsitektur itu dengan baik, tentu saja, karena ia sendiri adalah seorang arsitek.
Bagi seorang penulis, saya rasa itu adalah salah satu keberhasilan, ketika pembaca bukunya tertarik dengan hal-hal yang ia tulis, dan mencari sendiri lebih jauh tentang hal tersebut.
II. Hubungan Keluarga
Isu keluarga yang diangkat Windry di dalam Memori tergambarkan dengan baik. Orang tua yang berpisah karena orang ke-tiga, ikatan anak-ayah dan anak-ibu yang menjadi renggang karena peristiwa tersebut, hingga hubungan tokoh utama, Mahoni, dengan Sigi, adik tirinya yang berasal dari hubungan ayahnya dengan Grace, ‘orang ke-tiga’ yang menghancurkan keluarga Mahoni.
Windry menggambarkan dengan sangat baik hubungan ‘dingin’ Mahoni dengan Sigi. Bagaimana Mahoni begitu membenci Sigi hingga tidak menganggapnya sebagai adik sendiri. Dan bagaimana Sigi merespons sikap Mahoni dengan kelakuan dingin yang serupa.
Tapi bagaimana pun, Sigi tetaplah adik Mahoni, dan perlahan Mahoni mulai menyadarinya. Hubungan yang dingin dan kaku antara Mahoni dan Sigi pelan-pelan mencair dan menghangat. Namun proses itu tidak berlangsung singkat, kedinginan dan kekakuan Mahoni dengan Sigi berlangsung hingga berbab-bab dalam Memori, dan inilah satu bagian yang membuat isu keluarga di Memori menjadi semakin terasa.
Dan, Windry menuliskan perubahan emosi itu dengan sangat lancar dan halus, melalui adegan demi adegan, permasalahan demi permasalahan. Tidak terburu-buru, tidak juga berlama-lama.
Saya sempat terlepas saat Mahoni mulai bertemu dengan Simon, kisah cinta mulai mendominasi cerita dan Windry seakan mengesampingkan isu ‘rumah’ dan keluarga yang ia bangun dari awal. Tapi tidak begitu menjadi masalah karena setelah adegan-adegan cinta Mahoni dengan Simon, Windry kembali membawa Mahoni ke rumah, dan ke Sigi.
Karena sejujurnya, saya lebih tertarik melihat kisah antara Mahoni dan Sigi ketimbang konflik cinta Mahoni dan Simon (mengingat kembali isu utama yang diangkat di dalam novel Memori ini, yaitu rumah dan keluarga).
III. Tokoh-tokoh yang Menarik
Ini tidak semata-mata tentang Memori, tapi juga dua novel Windry yang sebelumnya, Orange dan Metropolis. Setelah membaca tiga novel Windry, saya mengambil kesimpulan, bahwa kekuatan terbesar Windry dalam menulis terletak pada tokoh-tokoh yang ia buat.
Tokoh-tokoh Windry memiliki karakter yang sangat khas dan kuat. Simon Marganda, arsitek yang merebut hati Mahoni dalam Memori, memiliki perawakan yang khas: laki-laki jenius dan perfeksionis, namun dengan penampilan yang urakan (digambarkan Windry dengan jeans bolong, dan jenggot yang tidak terurus) dan sikap yang tidak menyenangkan; jutek dan sinis. Mahoni, tokoh utama dalam Memori, seorang arsitek perempuan yang tidak kalah juteknya dengan Simon. Karakter-karakter jutek ini membuat saya tertarik dan penasaran dengan interaksi di antara mereka.
Juga tokoh-tokoh lain di dalam Memori, Orange, dan Metropolis.
Akhirnya, saya membalik halaman terakhir Memori dengan senyum terkembang, seperti yang biasa saya lakukan setiap setelah membaca buku bagus dan menyenangkan.
Dan untuk sejenak, saya teringat bahwa saya sedang merantau, jauh dari keluarga, jauh dari orang tua dan adik saya.
Jauh dari rumah, tempat cinta yang hangat bermukim dan bermula. ***