Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ken Dedes: Sang Penggoda

Rate this book
Meski menjadi korban penculikan sang Penguasa Tumapel, Tunggul Ametung, namun Ken Dedes tak larut dalam kedukaan, dalam penjara jiwa yang membelenggunya di lingkungan Pakuwuan Tumapel yang gemerlapan. Dengan kegenitan yang dipadukan sifat kelemah-lembutannya, putri Mpu Parwa itu dapat meluluhkan hati Ken Arok, seorang sudra dan bekas gembong perampok yang menjadi pengawal pribadi sang Akuwu. Seiring dengan cemerlangnya karier Ken Arok yang meroket bak meteor hingga ia dinobatkan sebagai Panglima Tumapel, aksi godaan yang dilancarkan Ratu Dedes terhadap sang Panglima semakin menjadi-jadi. Puncaknya adalah terjadinya persekongkolan atau persekutuan antara Ken Dedes dengan Ken Arok untuk menggulingkan kekuasaan yang diktator dan otoriter.
Padahal, pada saat yang bersamaan muncul beberapa faksi yang hendak merongrong kekuasaan Tumapel, yaitu kubu Empu Gandring, Kebo Ijo dan Hyang Suci Belakangka.
Berhasilkah usaha Ratu Dedes bersama Panglima Ken Arok meredam kemelut gonjang-ganjing di lingkungan Pakuwuan Tumapel?
Sebuah roman epik tentang Ken Dedes, sang penggoda, sang pemberontak. Ibunda para raja besar Jawa.

447 pages, Paperback

First published February 1, 2012

4 people are currently reading
86 people want to read

About the author

Wawan Susetya

29 books8 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (12%)
4 stars
6 (18%)
3 stars
13 (40%)
2 stars
7 (21%)
1 star
2 (6%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Edy.
273 reviews37 followers
March 9, 2013
Buku ini merupakan novel sejarah sengan seting tahun 1100-1200 Masehi tatkala mendekati runtuhnya Kerajaan Kediri dan berdirinya Kerajaan Singasari.

Ken Dedes merupakan putri Empu Parwa yang merupakan brahmana yang mumpuni di sebuah pelosok kampung. Di bawah bimbingan ayahnya, Ken Dedes tumbuh menjadi brahmani yang mampu melakukan olah batin melalui meditasi. Sehingga Ken Dedes juga dikenal sebagai symbol Prajnyaparamita atau orang yang sudah memiliki kemampuan ilmu olah batin yang cukup tinggi. Ken Dedes mempunyai daerah kewanitaan yang bercahaya yang dipercaya bahwa dia mempunyai wahyu “nareswari” atau akan melahirkan keturunan raja-raja besar di Jawa. Secara singkat bisa dikatakan Ken Dedes mempunyai penampilan fisik jelita dengan inner beauty yang mempesona.

Kejelitaan Ken Dedes telah mengundang ketertarikan dari Akuwu (Raja Kecil) Kerajaan Tumapel yang bernama Tunggul Ametung. Tunggul Ametung yang terpesona dan tidak sabar menikahi Ken Dedes kemudian menculik dan membawanya ke istana Tumapel. Ken Dedes pun hanya bisa pasrah menerima perlakuan tersebut, walaupun batinnya menderita.

Kerajaan Tumapel yang merupakan bawahan kerajaan Kediri, menghadapi rongrongan dari para perampok yang merampok kekayaan Tumapel, merampok para pedagang dan merampok pengiriman upeti ke kerajaan Kediri. Perampok tersebut sering membagikan hasil jarahannya kepada masyarakat miskin. Kesewenang-wenangan Tunggul Ametung yang memeras pajak rakyatnya serta kesewenang-wenangan Kerajaan Kediri yang menyingkirkan kaum brahmana membuat munculnya gerakan perampokan tersebut. Salah satu tokoh perampok tersebut adalah seorang anak muda yang digdaya yang bernama Temu.

Dalam sebuah pertempuran Temu hampir binasa, namun dia diselamatkan oleh Dewa Wisnu yang kelak akan menitis ke dalam dirinya. Temu kemudian disuruh berguru kepada Begawan Tantriyana dan melanjutkan ke Begawan Loh Gawe. Setelah mengalami penggemblengan mental, Temu yang kemudian berubah nama menjadi Ken Arok, mengikuti sayembara tanding untuk menjadi pengawal Akuwu Tumapel. Siasat ini dilakukan agar Ken Arok bisa masuk dan menyelidiki kerajaan Tumapel dari dalam.

Ken Arok yang berhasil menjadi pengawal Akuwu Tumapel, kemudian menjalankan siasat dengan membangun jaringan dengan kawan-kawannya yang eks perampok serta membangun hubungan dengan para brahmana. Ken Dedes sendiri sangat berharap kehadiran Ken Arok akan mampu membebaskan tekanan batin yang dideritanya. Ken Dedespun terus berusaha mendekati Ken Arok untuk menumpahkan deritanya.
Di Kerajaan Tumapel sendiri, kondisi Tunggul Ametung yang sudah tua dan sakit-sakitan juga mengundang munculnya rencana kudeta dari salah satu pengawal Tunggul Ametung yang bernama Kebo Ijo. Dia bersekongkol dengan Belakangka (brahmana penasehat raja) dan Empu Gandring (pembuat senjata). Tunggul Ametung meninggal dalam ontran-ontran kudeta. Dengan kecerdikannya, Ken Arok bisa melucuti rencana kudeta tersebut. Ken Arok kemudian diangkat menjadi raja Tumapel menggantikan Tunggul Ametung.

Setelah menduduki tahta Tumapel, Ken Arok kemudian memperluas wilayahnya dan akhirnya berhasil merebut tahta Kerajaan Kediri dari Raja Kertajaya. Ken Arok kemudian mendirikan Kerajaan Singosari, dengan didampingi Ken Umang seorang wanita yang dikenal sejak kecil dan menjadi teman seperjuanganya. Selain itu, Ken Arok akhirnya juga menyunting Ken Dedes sebagai istri mudanya yang kelak akan melahirkan keturunan raja-raja besar di Jawa.

Buku ini ceritanya mengalir sederhana dan tidak banyak “kagetan” di dalamnya. Dalam novel ini ditemukan istilah dalam bahasa Jawa/Jawa Kawi/sanskerta. Penggunaan istilah-istilah tersebut nampaknya dimaksudkan untuk menambah bobot artistic selain beberapa kata tersebut sulit dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Namun penggunaan istilah tersebut saya rasakan terkadang agak berlebihan sehingga malah terasa mengganggu. Gangguan tersebut pasti akan lebih dirasakan bagi para pembaca yang tidak bisa berbahasa Jawa (meski di tiap bab, disediakan terjemahannya).
Profile Image for Klaudiani.
Author 4 books23 followers
March 3, 2013
Pertama-tama, salut untuk penulis yang mengangkat tema kerajaan kuno Indonesia. Saya belajar banyak, terutama dari sisi teknik penulisan. Terima kasih untuk itu. Novelnya sendiri meski berjudul Ken Dedes tapi menurut saya porsi penceritaan Ken Arok telah 'merebut panggung' karena muncul sesering (mungkin lebih?) dari Ken Dedes sendiri.

Satu hal yang menurut saya luar biasa adalah deretan catatan kaki untuk istilah-istilah dalam bahasa Jawa yang bisa mencapai hampir lima puluh kata tiap babnya. Awalnya saya mengira ini memang cara penulis untuk membuat pembaca merasakan suasana Tumapel, tapi semakin lama catatan kaki ini jadi semakin mengganggu dan saya sudah tidak peduli lagi apa arti kata yang diberi catatan kaki. Tidak hanya karena terlalu banyak, tapi juga karena pemakaian istilah Jawa itu tidak membuat saya jadi masuk ke dalam cerita. Ditambah munculnya istilah dalam bahasa inggris masa kini yang digunakan oleh orang-orang Tumapel, rasanya tidak masuk akal.

Hal tidak pas lain adalah Ken Dedes yang menggantikan ayahnya menyambut Tunggul Ametung di padepokan. Sebagai gadis perawan, putri seorang empu, kenapa dia harus menemui tamu lelaki yang belum pernah ditemuinya meskipun orang tersebut penguasa setempat? Ke mana ibunya?

Lalu pemakaian istilah 'kanuragan alami', yg menurut keterangan catatan kaki merujuk pada ilmu tenaga dalam, ilmu bela diri. Ken Arok diceritakan diangkat anak oleh seorang penjudi, besar sebagai penjudi dan perampok serta memiliki kanuragan alami tanpa pernah belajar. Tahu-tahu jagoan? Setahu saya keahlian fisik itu dilatih, tidak seperti cenayang.

Terakhir, mungkin ini lebih tepat saya tanyakan pada ilustratornya, mengapa gambar perempuan di sampul depan sangat mirip dengan poster Rue dari film Hunger Games?
Profile Image for Mourning_elf.
587 reviews28 followers
October 3, 2014
drama nya kerajaan Indonesia gak kalah ama Tudors ternyata wkwk. Meski Ken Arok bukan top 3 raja favoritku, tapi okelah dia punya karisma hehe. Betewe ada buku tentang Jayabaya, Kertanegara, atau Hayam Wuruk gak yak?. tentang bukunya seh menurut saya loh, biarkan ngasi kritik pedas, soale pengen ngasi kripik pedas gak punya, looh, wkwk. agak repot karena drama nya kerajaan Indonesia gak kalah ama Tudors ternyata wkwk. Mesli Ken Arok bukan top 3 raja favoritku, tapi okelah dia punya karisma hehe. Betewe ada buku tentang Jayabaya, Kertanegara, atau Haym Wuruk gak yak?. tentang bukunya seh menuru saya loh, biarkan ngasi kritik pedas, soale pengen ngasi kripik pedas gak punya, looh, wkwk. agak repot karena kamusnya dibikin per bab, lage seru baca, bolak balik ajee, mending jadiin satu dah di paling belakang, wkwk. Terus banyak amat pengulangan kalimatnyaa, udaa tauu di bab sebelume wkwk.. udah ah itu ajee
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Elyza.
61 reviews
May 7, 2015
Tidak sesuai dengan harapan. Judul buku tidak sesuai dengan isi. Judulnya "Ken Dedes, Sang Penggoda" tetapi hanya sedikit up dan personal Ken Dedes yang disampaikan. Tidak ada pengetahuan baru yang saya dpt mengenai Ken Dedes dari buku ini. Rasanya sama saja seperti buku sejarah yang dipelajari ketika sekolah dulu. Dan kata "Sang Penggoda" rasanya kurang pas dengan alur cerita yang disampaikan. Seolah-olah Ken Dedes seorang wanita pecicilan dan murahan yang suka merayu banyak lelaki. Padahal Ken Dedes seorang brahmani yang selalu menjaga perilakunya di hadapan lelaki. Ken Dedes hanya menyukai satu lelaki saja yaitu Ken Arok.
Mengenai banyaknya istilah kedaerahan yang terdapat dalam buku sebenarnya tidak jadi masalah seandainya saja arti dari kata-kata tersebut diposisikan sebagai footnote di setiap halaman. Bukan di setiap akhir bab yang akhirnya hanya membuat pembaca kerepotan bolak-balik ke bagian akhir bab setiap kali menemukan istilah kedaerahan.
Profile Image for Adriani Zulivan.
61 reviews5 followers
May 15, 2015
Sudah baca "Arok Dedes"tulisan Pram https://www.goodreads.com/book/show/6...
tapi tetap ingin membeli ini, mau tahu bagaimana 'terjemahan' orang lain mengenai kisah sejoli ini.

Seperti kebanyakan buku-buku dengan penulis dan penerbit serupa, tulisan ini mengecewakan di sisi editing. Meski demikian, apa yang saya cari tentang 'penerjemahan berbeda' bisa saya dapatkan di sini.

Jika ada penulis yang lebih baik, mengapa baca yang lain?
Profile Image for Rotua Damanik.
140 reviews6 followers
November 12, 2014
Novel berlatar belakang sejarah dengan bumbu adegan silat di sana-sini sebenarnya bisa jadi buku yang sangat menyenangkan dibaca. Tapi sejujurnya saja, novel ini sangat membosankan.
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.