Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kepada Cium

Rate this book
Buku Kepada Cium karya Joko Pinurbo ini berisi 30 puisi Joko Pinurbo yang ditulis sepanjang tahun 2005-2006. Melalui peristiwa-peristiwa yang tampak kecil dan sederhana, imajinasinya yang liar dan lembut mengajak kita mengembara, menyelami relung-relung sunyi dalam hubungan manusia dengan dunia di dalam dirinya dan dunia di luar dirinya.

Cara berpuisi Joko Pinurbo yang unik dan khas sering membawa kita ke batas yang kabur antara yang getir dan yang jenaka. Tapi, itulah kenikmatan membaca puisi-puisi Joko Pinurbo. Kenikmatan yang mungkin tidak kita dapatkan di karya-karya penyair lainnya.

42 pages, Paperback

First published January 1, 2007

11 people are currently reading
365 people want to read

About the author

Joko Pinurbo

42 books361 followers
Joko Pinurbo (jokpin) lahir 11 Mei 1962. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1987). Kemudian mengajar di alma maternya. Sejak 1992 bekerja di Kelompok Gramedia. Gemar mengarang puisi sejak di Sekolah Menengah Atas. Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001; buku puisi ini kemudian terbit dalam bahasa Inggris dengan judul Trouser Doll (2002). Ia juga menerima Sih Award 2001 untuk puisi Celana 1-Celana 2-Celana 3. Buku puisinya Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapat Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2002. Sebelumnya ia dinyatakan sebagai Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001. Tahun 2005 ia menerima Khatulistiwa Literary Award untuk antologi puisi Kekasihku (2004). Buku puisinya yang lain: Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), dan Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007). Selain ke bahasa Inggris, sejumlah sajaknya diterjemahkan ke bahasa Jerman. Sering diundang baca puisi di berbagai forum sastra, antara lain Festival Sastra Winternachten di Belanda (2002). Oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan sejumlah sajaknya digubah menjadi komposisi musik.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
56 (21%)
4 stars
91 (35%)
3 stars
93 (36%)
2 stars
10 (3%)
1 star
6 (2%)
Displaying 1 - 30 of 45 reviews
Profile Image for Taufiq Yves.
509 reviews337 followers
January 15, 2025
Lama tak baca puisi.

Pabila kotak fikiran terlalu sarat dan sempit, aku suka menujamkan kepala ke dalam dunia prosa, biar sesat berkelana dalam lorong - lorong eksistensi, mencari pelabuhan teduh di balik lembaran - lembaran kata.

Setiap kata dalam koleksi puisi Joko Pinurbo - Kepada Cium adalah tetesan air mata yang jatuh ke dalam jurang kesepian.

"Seperti anak rusa menemukan sarang air
di celah batu karang tersembunyi,

Seperti gelandangan kecil menenggak
sebotol mimpi di bawah rindang matahari,

malam ini aku mau minum di bibirmu.

Seperti mulut kata mendapatkan susu sepi
yang masih hangat dan murni,

seperti lidah doa membersihkan sisa nyeri
pada luka lambung yang tak terobati."


Dalam setiap bait, Pak Joko menenggelamkan kita dalam lautan kerinduan yang tak berujung. Dengan lirih, dia membandingkan dahaga cintanya pada seteguk air bagi rusa kecil yang kehausan. Setiap kata menjadi saksi bisu akan kerinduan yang membakar jiwanya, seakan dunia ini hanya berisi satu nama yang terus terngiang.

Puas.

4.5 / 5 stars
Profile Image for raafi.
928 reviews449 followers
April 3, 2022
Kalau tidak dicetak ulang, aku mungkin tidak akan kenal dengan kumpulan puisi yang satu ini. Bukunya tipis, cetakannya pun hanya pakai staples seperti zine atau booklet. Namun, yang memang jadi peminat hati adalah sampul 'selimut' berbentuk daun pisang.

Bodohnya, aku baru sadar kenapa buku ini memiliki sampul 'selimut' dan sampul utama bercorak daun pisang. Tahukah kamu bahwa buah pisang konon adalah makanan orang miskin? Meski hanya versi daunnya, itu seharusnya jadi pertanda bahwa puisi-puisi di dalamnya mengangkat kisah orang-orang melarat. Dan benar saja.

Aku menandai setidaknya 5 dari 33 puisi (sekitar 15%) di dalam buku ini mengangkat tragedi kemiskinan. Tiga di antaranya: (1) "Malam Suradal" mengisahkan seorang tukang becak kelaparan yang tak beroleh penumpang; (2) "Kepada Uang" menguak seorang hamba yang merindukan uang, dan (3) "Surat dari Yogya" kehidupan di kota Jogja yang kelak akan bertransisi dan bikin asing para warganya.

Selain tentang kemiskinan cum kesengsaraan, Jokpin juga mengangkat topik kesepian dan sedikit tentang modernisasi dengan mengangkat ide pokok telepon genggam. Bahkan keduanya berpadu dalam puisi "Pesan dari Ayah" kala si ayah mengirimkan pesan kepada anaknya bahwa ia merasa kesepian. Puisi ini, secara personal, lumayan mengena dan menjadi kesukaan.

Ayah memenuhi janjinya. Pada suatu tengah-malam
telepon genggamku terkejut mendapat kiriman
pesan dari Ayah, bunyinya: "Sepi makin modern."


Kreasi tahun 2005-2006 ini memperlihatkan perbedaan Jokpin belasan tahun lalu dan masa kini. Jokpin belasan tahun lalu masih menggunakan bait-bait gendut dengan ide pokok yang ke mana-mana. Itu tentu berbeda dengan Jokpin masa kini yang puisinya ringkas-ringkas dan kerap ada satu bahan untuk dijadikan ide beberapa puisi, seperti kaleng Khong Guan.

Tapi argumen tersebut sepertinya tidak mewakili juga karena Jokpin sudah sejak lama membuat puisi-puisi dari satu bahan ide, seperti celana (pada 1999) dan telepon genggam (pada 2003). Jadi, mungkin Jokpin masa 2005-2006 sedang berbeda saja.

Secara keseluruhan, membaca buku ini seperti melihat sisi lain Jokpin. Beruntung akhirnya penerbit sudi menerbitkannya ulang.

Kotamu nanti bakal mekar menjadi plaza raksasa.
Banyak yang terasa baru, segala yang lama
mungkin akan tinggal cerita,
dan kita tak punya waktu untuk berduka.
Banyak yang terasa musnah, atau barangkali
kita saja yang gagap untuk berubah,
seakan hidup miskin adalah berkah.
Entahlah. Aku hanya lihat samar-samar
sarung Syamsul berkibar-kibar di depan rumah.

(Surat dari Yogya)
Profile Image for Endah.
285 reviews157 followers
December 14, 2008
Kau adalah mata, aku air matamu.

(Kepada Puisi, Joko Pinurbo, 2003)

Kira-kira demikianlah pengakuan tulus Joko Pinurbo kepada puisi, dunia kata-kata yang digelutinya sejak ia masih remaja. Puisi bagi penyair bertubuh ceking yang biasa disapa Jokpin ini, adalah hidupnya. Menyatu. Tak terpisahkan. Bagaikan mata dengan air mata.

“Puisi adalah kekasihku. Adalah kebahagiaanku”, ujarnya saat saya mewawancarainya pada satu kesempatan tahun lalu. “Aku merasa eksis sebagai Jokpin berkat puisi. Aku paling bisa bicara dengan diriku dan dengan dunia di luar diriku melalui puisi”, tambahnya lagi seperti ingin menegaskan betapa puisi adalah segalanya bagi lelaki Jawa kelahiran Sukabumi, 11 Mei 1962 ini.

Dari tubuh yang tampak ringkih itu telah lahir ratusan puisi; di antaranya tertuang dalam 6 buah buku yang sudah kita kenal : Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecil (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), dan Pacar Senja (2005) serta buku ke tujuhnya yang baru saja terbit : Kepada Cium (2007).

Buat saya yang awam, puisi-puisi penyair ini bagaikan oase menyejukkan tapi sekaligus juga memerihkan hati. Menyejukkan, sebab di sana saya menemukan kejujuran yang relijius, bukan saja kepada Tuhan tetapi juga kepada diri sendiri. Puisi-puisi itu seakan cermin diri kita (manusia) yang serakah dan munafik sembari tetap terus merayu-rayu Tuhan dalam setiap doa-doa kita. Misalnya saja pada puisi Sehabis Sembahyang (hlm 11) dan Di Perjamuan (hlm.30) ini :

Aku datang menghadapmu dalam doa sujudku.
Terima kasih atas segala pemberianmu,
Mohon lagi kemurahanmu : sekadar mobil baru
Yang lebih lembut dan lebih kencang lajunya
Agar aku bisa lebih cepat mencapaimu

(Sehabis Sembahyang, 2005)

Aku tak akan minta anggur darahMu lagi.
Yang tahun lalu saja belum habis,
Masih tersimpan di kulkas.
Maaf, aku sering lupa meminumnya,
Kadang bahkan lupa rasanya.
Aku belum bisa menjadi pemabuk
Yang baik dan benar, Sayang

(Di Perjamuan, 2006)

Dan memerihkan, itu sudahlah pasti. Yang perih-perih menyayat hati itu dengan mudah bisa kita dapatkan, karena sebagian besar puisi-puisi Jokpin merupakan potret/rekaman nasib orang miskin yang berlumur penderitaan, seperti tukang becak umpamanya (dalam buku ini ada 3 puisi tentang tukang becak, profesi yang masih banyak di temukan di Yogyakarta di mana penyair kita ini bertinggal). Kendati demikian, puisi-puisi tersebut tak lantas tampil mewujud berupa puisi cengeng yang mengiba-iba memohon belas kasihan. Malah yang sering terjadi adalah puisi arif yang dengan bijak menertawakan kemalangan :

Tengah malam pemulung kecil itu datang
memungut barang-barang yang berserakan
di lantai rumah : onggokan sepi, pecahan bulan,
bangkai celana, bekas nasib, kepingan mimpi.

Sesekali ia bercanda juga :
“Jaman susah begini, siapa suruh jadi penyair?
Sudah hampir pagi masih juga sibu melamun.
Lebih enak jadi teman penyair.”

Dikumpulkannya pula rongsokan kata
yang telah tercampur dengan limbah waktu.
Aku terhenyak : “Hai, jangan kauambil itu.
Itu jatahku. Aku kan pemulung juga.”

Kemudian dia pergi dan masuk ke relung tidurku.

(Pemulung Kecil, 2006)

Tetapi kali ini yang paling membuat saya begitu tersentuh (percaya nggak? Saya sampai meneteskan air mata membacanya) adalah sajak Harga Duit Turun Lagi (hlm.14). Dalam sajak itu, Jokpin berkisah tentang seorang anak yang mati menggantung dirinya sendiri karena malu telah menunggak uang sekolah selama berbulan-bulan. Kemiskinan yang melilit orang tuanya menyebabkan bocah kecil itu putus asa dan memilih mengakhiri hidupnya yang baru saja mulai. Barangkali, puisi ini dicipta Jokpin karena terinspirasi peristiwa riil serupa yang terjadi di beberapa tempat di tanah air (salah satu kasus ditemukan di Provinsi Jawa Tengah) beberapa waktu silam.

Sajak ini serasa menggedor-gedor perasaan saya. Kebetulan saya membacanya di tengah-tengah ramainya berita perihal pengadaan sejumlah besar laptop seharga 20 juta rupiah untuk para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Emosi saya yang telah tersulut marah oleh berita tersebut semakin terbakar oleh sajak ini. Alangkah tumpulnya mata hati para pejabat ini, tak terusik oleh realita memilukan yang dialami rakyat seperti bocah malang itu. Untunglah, belakangan usulan sinting yang tanpa nurani itu, dibatalkan.

Untung juga Jokpin tak lupa untuk beromantis-romantis ihwal cinta. Pada puisi Kepada Cium, Magrib ,Wintermachten, 2002, dan Cinta Telah Tiba, kita bisa temukan romantisme yang manis itu. Ia pun sempat pula mengabadikan dua peristiwa bencana alam besar yang pernah menimpa negeri ini, yaitu tsunami di Aceh (Aceh, 26 Desember 2004) dan gempa bumi di Yogya (Surat dari Yogya)

Buku tipis ini seluruhnya memuat 33 buah sajak Jokpin yang dibuat dalam kurun waktu 2005-2006. Sebagian besar telah pernah dipublikasi di harian Kompas.

Menurut saya yang sekadar seorang penikmat puisi, sepanjang kariernya Jokpin telah sukses menelurkan puisi-puisi yang baik dan indah, yakni puisi-puisi yang – seperti pernah dikatakannya – mampu menyentuh dan menghidupkan perasaan dan pikiran; membuat imajinasi makin cerdas; dan bisa menyihir (pembacanya). Dan saya - dengan segala kesadaran serta tanpa paksaan mengakui - adalah salah satu ‘korban’ sihir cium, eh..maksud saya, puisi-puisi itu :)
Profile Image for hans.
1,158 reviews152 followers
May 24, 2013
Sebelum ini aku baca dalam bentuk pdf. Dapat dari kawan aku. Entah mana dah pergi fail pdf tu pun aku tak tahu. Kali ini aku dapat bukunya terus. Ini karya pertama dari Jokpin yang aku baca sebelum yang lain-lain (mengambil kira versi pdf sebelum ini).

Pertama kali baca dulu adalah first encounter aku tentang Jokpin. Puisi pertama dari buku ini yang aku baca (Malam Insomnia) telah buat aku jatuh cinta berguni-guni dengan karya Jokpin. *fangirling*

Banyak puisi-puisi dibuku ini yang menjadi kegemaran aku. Perasaannya seperti membaca sebuah cerpen tapi dalam bentuk ritma senada yang beralun-alun. Antara yang aku suka (selain Malam Insomnia)- Pesan Dari Ayah, Harga Duit Turun Lagi, Kepada Uang, Terompet Tahun Baru dan Malam Suradal (paling suka sebab maknanya sungguh mendalam).

Selain celana, telepon genggam, kuburan dan mayat- aku rasa Jokpin juga menggemari ungu :)
Profile Image for Nike Andaru.
1,640 reviews111 followers
March 30, 2022
29 - 2022

Walau buku kumpulan puisi ini tipis, tapi saya suka banget covernya yang kayak dilapisi daun pisang.
Isi puisinya pun khas Jokpin, menyenangkan banget untuk dibaca.

Judul favorit: Kepada Cium, Kepada Saya, Kepada Mata, Pohon Cemara, Sehabis Sakit.
Profile Image for Spillminttea.
346 reviews2 followers
April 15, 2023
Bagus… terutama dari tengah menjelang akhir seperti Kepada Mata, Kepada Saya, Cinta Telah Tiba (secarik puisi JokPin untuk Eka dan Ratih di pernikahannya).
Profile Image for gieb.
222 reviews77 followers
January 29, 2009
orisinalitas memerlukan penjelajahan dalam tubuh sendiri. menjadi buku yang terbuka. menghampar pada bunyi sunyi semesta. yang termaktub juga dalam ruang tubuh sebagai buku bacaan yang egaliter. kadang menyimpan luka, senang, dan harapan.

joko pinurbo (jokpin) adalah salah satu yang mempunyai orisinalitas itu. dia memasuki wilayah yang tak lazim bagi penyair kebanyakan. celana menjadi sebuah ruang dialektika jokpin dengan tuhannya. aneh kan. gila kan.

dan demi untuk mendapatkan orisinalitas ini, beberapa orang -termasuk saya- terkadang harus menjadi 'gila'. contoh, saya pernah membaca puisi di sebuah jembatan di kota malang dengan suara yang keras pada pukul 12 malam. apa coba yang saya cari waktu itu. atau dengan tiba-tiba, saya memelorotkan celana saya di tengah kampus yang banyak orang lalu lalang dan kemudian teriak-teriak, "salju tengah turun di kota moskow, salju tengah turun di kota moskow".

saya juga pernah dengan tiba-tiba, dalam sebuah kelas kuliah, berdiri dan menunjuk dosen yang sedang mengajar, "dosen seperti anda ini layak diragukan kemampuan intelektualnya". kemudian saya ngeloyor pergi dan meninggalkan dosen muda itu menangis. apa coba yang saya cari waktu itu. -tentu, saya tidak pernah lulus mata kuliah itu-.

tetapi begitulah, seorang pencari sering dianggap gila, tolol, tidak tahu aturan, pecundang dan sejenisnya. hanya pangeran diponegoro saja yang pemberontak tetapi dianggap sebagai pahlawan. ken arok pun tidak pernah dianggap. padahal dia cikal bakal terwujudnya kerajaan majapahit.

dan penyair adalah sosok pencari. termasuk jokpin dalam kumpulan puisi ini. aduh. aduh. -tapi aku sudah menemukanmu, sayang-.

saran saya: belilah buku ini di ninus (anggota goodreads). anda akan mendapat diskon 30%. lumayan kan. urusan membaca, terserah anda..

selamat memburu ninus.

gieb.
Profile Image for Sintia Astarina.
Author 5 books359 followers
October 23, 2022
uku ini pertama kali dicetak pada 2007, tapi baru kubaca 15 tahun kemudian. Rasanya nggak terlalu sulit mengidentifikasi kekhasan puisi-puisi @jokpin.jogja, baik yang terbaru, maupun yang dulu-dulu.

Narasi yang dibangun masih lekat dengan banyak lapisan masyarakat. Seperti halnya dalam Kepada Cium, tema tentang kemiskinan akan sering ditemui. “Harga Duit Turun Lagi” menandai.

Unsur lokalitas agama sebagai selipan metafora yang dibangun juga nggak pernah dilupa. Berdasarkan pembacaanku pada puisi “Kepada Cium” kepalaku langsung teringat lagu rohani “Laksana Rusa” tatkala membaca bait pertama:

𝐒𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐚𝐧𝐚𝐤 𝐫𝐮𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐢𝐫
𝐝𝐢 𝐜𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐛𝐚𝐭𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐦𝐛𝐮𝐧𝐲𝐢.

Lalu aku dibawa untuk mengingat kisah sengsara Tuhan Yesus tatkala lambungnya ditusuk Prajurit Romawi, dan keluarlah darah serta air, saat membaca bait terakhir puisi yang sama:

𝐒𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐥𝐢𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐨𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐢𝐬𝐚 𝐧𝐲𝐞𝐫𝐢
𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐥𝐮𝐤𝐚 𝐥𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐚𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐚𝐭𝐢.

Puisi lain yang nggak kalah mencuri perhatian ialah “Di Perjamuan”. Penyair menyentil kita yang lebih suka minum-minum di akhir pekan, ketimbang minum “darah Kristus” dalam perjamuan kudus.

Kebanyakan puisi di buku ini dikemas dalam bait-bait panjang yang sepertinya bukan Jokpin banget di masa kini. Belasan tahun ini nyatanya ia belajar untuk nggak kedodoran dalam menulis. Percuma berpuisi panjang-panjang tapi strukturnya nggak rapi dan pokok bahasannya ke sana kemari.

Dan sekali lagi, lewat karyanya, Jokpin mengajak seluruh pembaca untuk menertawakan kegetiran hidup dengan hal-hal yang bisa dibuat canda tawa.
Profile Image for Evan Dewangga.
303 reviews37 followers
February 12, 2023
Di buku ini, puisi-puisi Jokpin tetap menerbitkan meringis di mulut saya, bukan karena kejenakaan syairnya, namun oleh kepahitan yang merasuk di segenap bumbu ini. Bukan kemiskinan yang mengiba meronta, tetapi kemiskinan yang dilumat, ditelan habis oleh si empunya. Puisi-puisi tentang sakit jasmani juga menambah warna sulitnya jadi kaum marjinal. Dan tentu ditambah sudut pandang polos anak, membuat buku puisi ini kadang berasa manis dan pahit secara bersamaan. Antologi ini dapat dirangkum indah dalam 2 baris terakhir puisi "Harga Duit Turun Lagi":

"Berilah kami rejeki pada hari ini
dan ampunilah kemisikinan kami...."
Profile Image for kinu triatmojo.
288 reviews3 followers
July 30, 2007
Hanya dengan 33 puisi yang relatif pendek-pendek dan ditulis dalam bahasa yang sederhana, Jokpin mengaduk-aduk emosi saya. Benda remeh atau peristiwa bisa menyimpan kejutan tak terduga dalam sajak-sajaknya. Ia memang biasa bicara celana, kasih sayang, kenangan masa kecil, tubuh dan benda-benda rumah dalam sajak-sajak sebelumnya. Tapi kali ini peristiwa tsunami Aceh, gempa Jogja, anak kecil yang hendak bunuh diri karena tak sanggup membayar SPP dst, mendapat ruang yang relatif seimbang dengan tema-tema yang membuatnya legendaris itu. Jokpin tampaknya menguasai betul tema-tema dan peralatan puitik yang dimilikinya.
Profile Image for Fahd.
Author 27 books530 followers
November 1, 2008
seperti anak rusa menemukan sarang air
di lubang batu karang yang tersembunyi

seperti gelandangan yang menenggak sebotol mimpi
di bawah rindang matahari

seperti mulut kata yang mendapatkan susu sepi
yang masih hangat dan murni

malam ini
aku mau minum di bibirmu

Profile Image for Indah Threez Lestari.
13.5k reviews270 followers
November 25, 2011
1248th - 2011

Dilanda deja vu membaca yang ini:

Bajunya hijau, celananya hitam,
tubuhnya terlihat ringkih dan ringan,
dan ia bersenandung riang,
kring kring..., sepeda merahnya meluncur pelan
hal.28

Kuis Komunikata Kopdar GRI 2011 kemarin ;)

~IBF 2011~
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
February 4, 2011
Seperti biasa sajak2 Jokpin itu sederhana, mudah dimengerti tapi berhasil menyeret pembacanya berkelana ke imaji tanpa batas.
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
April 25, 2022
Benar saja. Ini salah satu buku yang lama diincar dulu ketika baru kenal Jokpin. Untungnya sekarang sudah dicetak ulang dengan kemasan lebih collectible lagi. Meski tipis, buku puisi ini kata orang memang menarik dari cover, isi dan tema-tema yang Jokpin angkat ketika itu. Makanya enggak heran penikmat puisi di luar sana cukup antusias dengan terbit ulang buku ini. Puisi-puisi dalam buku ini memang terasa tidak melulu tematik secara keseluruhan tetapi tentu saja tetap menjadi ciri khas Jokpin sendiri yang bermain-main dalam pemaknaan baru tentang hal-hal sehari-hari di sekitar kita. Pantaslah membaca puisi disebut sebagai 'ibadah' karena kalau baca buku puisi tanpa penghayatan yang sempurna, rasanya puisi akan menjadi sekadar kumpulan baris-baris kata yang numpang lewat saja. Salah satu favorit saya dal buku ini adalah puisi Kepada Uang.

Uang, berilah aku rumah yang murah saja,
Yang cukup nyaman buat berteduh senja-senjaku,
Yang jendelanya hijau menganga seperti jendela mataku.

Setiap kali membaca puisi-puisi Jokpin rasanya seperti diguyur air tumpah ruah, dan selalu saja ketagihan dan minta disiram lebih banyak lagi.
Profile Image for Zalila Isa.
Author 13 books52 followers
July 9, 2024
Kerana namanya, kerana warna bukunya, kerana dia telah pergi meninggalkan dunia. Sebetulnya Joko bukanlah penyajak kegemaran saya. Jangan tersinggung, saya hampir tiada penyajak kesukaan kerana siapapun, saya hanya suka meneliti sajaknya. Namun, ada beberapa sajaknya lumayan sedap dibaca.

Membuka plastik buku ini, ah, ternyata ada yang unik. Sampulnya bernuansa daun pisang segar, dan buku di dalamnya pula daun pisang layu kering. Apa maksudnya? Apa pun, sampul unik ini menjadi salah satus ebab juga mengapa buku ini dicetak semula.

Membaca kata pengantarnya, ah sejarah penerbitan cetak kedua ini (2022) juga begitu ada ceritanya (tahun terbitan pertama 2007). Demikian penyajak hidup kembali dengan sajak-sajaknya yang dikira sudah mati. Belum mati Pak Jokpin! benarlah katanya, "Dunia sastera tidak bisa lagi bersikap jaim, angkuh dan iseng sendiri". Maka buku ini dicetak ulang apabila pembaca generasi baharu menginginkannya. Tahniah!

Sedang apa, penyair, malam-malam
masih sibuk menempa dan memahat kata?
Sedang membuat patung dirimu?

Sedang membuat batu nisan untukmu.

2006. Sedang Apa. Jokpin.
Profile Image for Debbie Sally.
130 reviews33 followers
March 31, 2022
Salah satu hal yang paling aku suka dari puisi-puisi JokPin itu adalah sederhana. Bahkan untuk kata-kata yang aku ga tahu apa artinya pun bisa kupahami dan seringkali memang ngena banget dihati.

Ini buku kedua JokPin yang aku suka banget sampulnya setelah Perjamuan Khong Guan. Tapi jujur sampul buku bukan alasan utama kenapa aku beli buku ini. Emang karena JokPin adalah salah satu penyair favoritku.

Aku baru tahu kalau buku ini terbit pertama kali di tahun 2007, jaman aku masih SMP, dan jujur aku terharu banget sih baca pengantar buku ini.

Tak lupa untuk isi buku yang lagi-lagi membuatku bernostalgia. Kurang dari sejam habis kubaca.


« Selamat Tidur, Malam »

Selamat tidur, malam.
Selamat menggigil tubuh yang tak bisa tidur ini:
ranjang kecil yang tak
akan habis kautiduri.

- Joko Pinurbo, 2006

——————————————

Pas banget buat tukang insom kayak aku 💛
Profile Image for Cantika.
56 reviews
October 12, 2025
Sebagaimana pusisi-puisi yang ditulis dengan kelihaian pemilihan katanya, Joko Pinurbo memang jagonya bermain kata penuh getir namun tetap jenaka. Super keren.

Ditambah, buku ini dibalut dengan baju yang begitu unik! Siapa sangka daun pisang yang biasanya dipakai untuk bungkus tempe sekarang jadi pembungkus buku? Walau daun pisang di sini hanya berupa gambar, bukan betulan daun segar. Namun dengan jujur, pembungkusnyalah yang menjadi faktor utama buku antologi puisi ini ada di rumah saya sekarang.
Profile Image for Dedul Faithful.
Author 7 books23 followers
February 27, 2022
Kok bisa ya Jokpin memainkan kata-kata dan makna selihai itu, membungkusnya dengan banyak kiasan-kiasan dan balutan simbolisme-simbolisme yang menggugah saya sebagai pembaca puisi yang jarang dan mungkin menghindari yang njlimet-njlimet, karena kadang saya capek baca yang panjang-panjang ditambah memahaminya pula kudu superserius, haha.. Puisi-puisi Jokpin seperti oase yang bisa memuaskan dahaga kelaparan saya akan ke-simple-an puisi yang hadir namun tetap josss...
Profile Image for mereadthisbook.
89 reviews4 followers
March 1, 2022
puisi-puisi ini ditulis pak jokpin sejak 2005 silam. meski sudah lama, kehadirannya tetap terasa dekat dan relatable. kata-kata yang dirangkai secara lembut dan jenaka khas pak jokpin ini nyatanya menceritakan peristiwa-peristiwa yang sederhana dan barangkali sering kita temui. misalnya eureup-eureup atau sang ayah yang mulai sibuk dengan gawainya, atau keinginan-keinginan kecil yang sering kita harapkan, dan lainnya.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
February 19, 2022
Beli buku karena sampulnya?
Kenapa tidak? Apalagi kumpulan puisi karya Joko Pinurbo, salah satu penyair favorit saya.

Buku ini cetak ulang, kali ini dilengkapi semacam dust jacket cover yang cakep.. dengan gambar daun pisang. Bentukannya pun juga kayak daun pisang.

Isi puisinya tidak banyak. Hanya 39 halaman saja. Tapi layaklah untuk dikoleksi
Profile Image for ❦.
85 reviews7 followers
March 28, 2022
om joko, i will always be a fan of your words.
2 reviews
September 29, 2022
Very simple poems, cannot really resonate with it but well maybe it just me
Profile Image for Dyan Eka.
287 reviews12 followers
February 5, 2023
Kok bisa ya, kesedihan, kemiskinan, dan keputusasaan bisa ditulis dengan seindah ini.

Puisi favorit saya: Surat dari Yogya, Maghrib, dan Sehabis Sakit.
35 reviews1 follower
January 14, 2024
Masih belum paham cara menikmati baca puisi yg baik dan benar. Masih membaca hanya sebatas alunan kata yg merdu dan Jokpin masih menyajikan itu.
Displaying 1 - 30 of 45 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.