Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Para los habitantes de una pequeña aldea aislada en mitad del campo de Corea, el único nexo con el mundo exterior es el cartero que con su bicicleta se dedica a llevar las misivas de un lado a otro. La bicicleta roja es una conmovedora historia sobre las relaciones humanas en una Corea que permanece anclada en el pasado.

164 pages, Hardcover

First published January 1, 2003

10 people are currently reading
240 people want to read

About the author

Kim Dong Hwa

25 books110 followers
Name (in native language): 김동화

Kim Dong-Hwa is a widely revered Korean comic artist. Since his debut (with My Sky, serialized in the Daily Hanguk, one of the most prestigious Korean newspapers) in 1975, he has become a mainstay of the Korean manhwa (comics) landscape. He is best known for his tender stories and uncanny ability to write from a profoundly feminine perspective.

The three books that make up The Color Trilogy – The Color of Earth, The Color of Water, and The Color of Heaven – are his first manhwa to be translated into English and published in the United States.

“Since I was very young, I’ve been interested in writing and drawing stories about girls growing up, both mentally and physically. I think that the process of a girl becoming a woman is one of the biggest mysteries and wonders of life. And when my mother was sleeping in her sickbed, I looked down her wrinkled face and suddenly realized that she must had been young and beautiful once. Then I started imagining her childhood. What would she have looked like in her 60s, 50s, 40s, and so on? Ehwa, the protagonist of The Color Trilogy, is the result of my tracing back to my mother’s youth.”

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
137 (30%)
4 stars
204 (45%)
3 stars
83 (18%)
2 stars
19 (4%)
1 star
10 (2%)
Displaying 1 - 30 of 106 reviews
Profile Image for Ken.
Author 22 books234 followers
February 13, 2016
Bila ada flashfic, mungkin ini bs disebut flashgraph alias komik pendek (sekali). Tiga atau empat halaman per cerita, kisah2 di buku ini lebih panjang dari komik strip tapi jauh lebih pendek dari komik konvensional.

Ini juga poetic komik. Baik gambar, kisah, maupun kata2nya terasa puitis. Kim Dong Hwa si penulis banyak bermain simbol di sini.

Tokoh utama kisah ini adalah tukang pos bersepeda merah. Ia mengirimkan surat-surat ke seluruh pelosok desa Yahwari yg indah, puitis, dan komikal.

Surat! Apa sih yg lebih romantis dari surat?

Awalnya agak kagok baca buku ini. Ada beberapa kisah yg terkesan tawar dan hambar. Tapi beberapa lainnya oh so sweet. Tak sabar baca seri berikutnya.
Profile Image for Aad.
16 reviews
December 21, 2012
Di kursi di depan sebuah rumah dengan gerbang dan sebuah lorong, aku menantimu sambil membaca buku ini. Kau berjanji dengan bilang hanya pergi untuk 20 menit dan ternyata menjadi hampir dua jam, kau bilang sebentar lagi dan ternyata itu masih lama lagi, kau tambah 10 menit lagi dan setelah 10 menit itu berlalu kau juga masih belum kembali.

Aku menunggu.

Aku selesai menunggu melebihi waktu yang kau janjikan.

Dan aku pergi.

Dan aku melihatmu bersama seseorang di depan sebuah toko swalayan yang memiliki simbol angka 7 berwarna merah, kau bilang akan menyerahkan sesuatu dan ternyata urusan itu sepertinya berlangsung lama dalam bentuk obrolan yang tak tahu apa.

Sekarang aku menyadari bahwa yang kau serahkan, selain benda milik seseorang, adalah waktu kebersamaan kita dan kau serahkan dengan sukarela.

Aku menunggu janjimu yang sepertinya mudah terucapkan dan mudah juga untuk diingkari, mudah untuk dipinggirkan oleh hal lain yang menurutmu lebih penting.

Di buku ini ada dua tipe orang yang menunggu. Pertama mereka yang menunggu dan mendapatkan apa yang mereka harapkan. Kedua adalah mereka yang menunggu dan akhirnya mendapatkan rasa kecewa. Ya. aku masuk tipe yang kedua malam itu.

Ingin kukayuh sepeda merah itu, kemudian pergi.
Profile Image for me.lita.
139 reviews
January 30, 2013
Dari awal terpajang rapi di salah satu rak toko buku langganan, aku sudah langsung tertarik untuk membeli buku ini. Apalagi penulisnya adalah Kim Dong Hwa yang juga membuat trilogi novel grafis favoritku: warna tanah, warna air, dan warna langit.

Di novel grafis ini, Kim Dong Hwa menceritakan beragam kisah di desa Yahwari melalui keseharian tukang pos bersepeda merah. Uniknya, setiap surat yang ditujukan ke rumah-rumah di desa yahwari tidak dituliskan alamat rumah berdasarkan nomor rumah atau nama wilayah sebagaimana mestinya. Melainkan nama julukan untuk rumah yang dituju. Jadi setiap hari si tukang pos berkeliling mengantarkan surat ke rumah yang memiliki julukan, seperti:'rumah dengan semak-semak warna khaki', 'rumah bertepi bunga-bunga liar', 'rumah kuning dalam kehijauan', dan masih banyak lagi julukan yang lain.. Pertama kali si tukang pos mengantar surat, dia heran melihat beragam julukan itu..

"Bukankah lebih sederhana jika menggunakan nomor?" (hal12).

Hebatnya si tukang pos, walau alamat rumah-rumah itu membuat kepala pusing, dia tetap mengirimkan surat ke alamat tujuan. Di desa yahwari, si tukang pos punya rumah favorit dan setiap pagi dia selalu mencari apakah ada surat untuk si pemilik rumah.. *hehehe, buat alibi supaya bisa datang setiap hari ya pak?* *kira-kira, kenapa ya dia seneng banget ke rumah itu??*

Di desa Yahwari ada dua jalan yang terpisah oleh sungai dan dihubungkan oleh sebuah jembatan. Jalan Yetdong dan Jalan Sedong namanya. Dan selama lima hari di waktu tertentu, diadakan pasar di jembatan tersebut. Hanya di tempat itulah penduduk di kedua jalan bertemu. Pagi hari, penduduk Yetdong datang untuk menjual berbagai hasil bumi dan ternak. Sedangkan penduduk Sedong membawa banyak uang. Sore hari, sebaliknya.

Hemmm.. Hanya dengan melihat gambar pemandangan di desa Yahwari melalui goresan tangan Kim Dong Hwa ini rasanya seperti diajak pulang ke kampung halaman kedua orang tuaku di Sleman, Jogja. Suatu tempat dimana sawah-sawah menghijau,sungai bening mengalir dari mata air gunung, udara yang bersih, dan penduduk yang mayoritas simbah-simbah ramah dan murah senyum *mayoritas anak mudanya merantau ke kota besar*. Setiap ada anak-cucu datang dari Jakarta atau kota besar lain, para tetangga langsung berkumpul sambil membawa beragam buah tangan yang enak-enak, seperti: gethuk singkong gula merah yang ditaburi parutan kelapa muda, geplak, peyek bayam, selondhok, dan sebagainya *lap iler*. Sementara aku dan adikku rebutan gethuk singkong gula merah, para simbah rebutan menanyakan kabar kami selama jauh dari kampung halaman.

Setelah membaca cerita 'pagoda baru' atau cerita 'teman si pria tua', aku jadi mengerti sekarang mengapa para simbah itu antusias njagong mengobrol hingga larut malam dengan kami. Tentu mereka kesepian karena mayoritas anak-cucu merantau. Dan kala ada salah satu anak-cucu tetangga yang mudik, kesepian mereka akan sedikit terobati. Jadi disela-sela ngobrol santai itu, pasti terselip pertanyaan tentang kabar anak-cucu mereka yang juga merantau di Jakarta. Tak jarang pula, ketika kami kembali ke Jakarta, bawaan kami bertambah dua kali lipat karena kami berperan sebagai 'kurir' bagi anak-cucu para simbah yang juga tinggal di Jakarta.

Nenekku pun mungkin seperti para simbah itu juga, karena semua anaknya merantau di kota-kota besar. Apalagi putri tertuanya sekarang tinggal di Nabire, Papua. Di dinding rumah nenekku, terpajang berbagai foto anak-cucu dalam bingkai sederhana. Ada foto pernikahan, foto wisuda, foto sepupuku ketika bayi, bahkan ada fotoku ketika berulang tahun yang pertama *yeayy..aku sudah punya fans di usia 1 tahun*.

Buatku, membaca buku ini mampu membuatku kembali ke masa kecil kala liburan ke rumah nenek. Mengingat kenangan manis yang akan lekat hingga akhir hayat.

Jadi kepikiran deh bagaimana alamat rumahku versi desa Yahwari ini.. apakah "rumah biru yang bersebelahan dengan hutan kecil" dapat mewakili? sebab tepat di samping kiri tembok rumahku adalah tanah kosong tak terawat yang ditumbuhi beraneka ragam rumput dan pepohonan.. hihihihi
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
February 3, 2013
Buku ini mengingatkanku pada masa kecilku yang sering berkirim-kiriman surat dengan sahabat penaku di luar kota. Ketika itu aku selalu senang apabila tukang pos datang dengan sepedanya dan membawakan surat untukku. Di masa itu, aku juga masih mengoleksi perangko dan sampul hari pertama.

Aku juga teriingat pada almarhum kakekku dan uwakku yang bekerja di Kantor Pos dulu, dan sering menceritakan tentang pengalaman-pengalaman mereka bekerja dengan surat menyurat. Teringat kantor pos almarhum uwakku di Kadugede Kuningan, Cirebon, Jawa Barat, tempat aku sering menghabiskan masa liburan dengan bermain-main petak umpet di dalam kantor pos, kadang membantu menimbang paket, melihat-lihat buku perangko yang belum dirobek, bermain-main dengan cap tanggal. Warna jingga yang selalu menghiasi kantor dan rumah dinas mereka adalah warna kenangan masa kecilku.

Seperti kakek dan uwakku, si tukang pos bersepeda merah ini juga sangat mencintai pekerjaannya, mengantarkan kabar pada orang-orang tanpa alamat surat, hanya dengan menamai rumah dengan cantik.

Buku ini membuat... tersenyum manis.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
March 2, 2018
Seperti buku keduanya, kisah-kisah pendek di komik ini mengangkat hal-hal sederhana tetapi sejatinya sarat warna di wilayah pedesaan. Sebuah buku yang bisa dibaca cepat sekali duduk, tetapi bisa jadi malah lama jika kita terlalu baper merenungkan pesan-pesan moralnya. Atau, mungkin seperti saya, yang terus menerus berhenti lama di suatu halaman hanya untuk mengagumi detail gambar serta semarak warna-warni yang ditorehkan Kim Dong Hwa dalam komiknya ini.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
January 4, 2015
Setelah membaca serial Warna karya Kim Dong Hwa, saya jadi tertarik untuk membaca Sepeda Merah. GPU sendiri sudah menerjemahkan dua seri-nya. Untuk buku #1 ini, cukup lama saya cari-cari sampai akhirnya seorang teman menemukannya di sebuah online shop di Medan. Karena memang berniat mengoleksi, maka saya langsung membelinya. Ini sudah jadi buku langka lho...

Novel graphis Sepeda Merah ini bercerita tentang seorang tukang pos di Yahwari yang mengantarkan surat dengan sepedanya yang berwarna merah. Setiap hari dia melewati jalan yang sama, sampai-sampai dia menghapalkan rumah-rumah penduduk dengan ciri-ciri yang ada . Misalnya rumah putih dengan pohon poplar, rumah kuning dalam kehijauan dan masih banyak lagi. Saking hapalnya, setiap dia mengalami imsonia di malam hari, cukup dengan mengulangi perjalanannya dia bisa tertidur dengan cepat.

Tapi kisahnya bukan hanya tentang si tukang pos saja. Ada juga kisah para ayah dan ibu. Ada kisah anak kecil yang menunggu si tukang pos yang akan memberinya permen jika dia jenuh. Ada kisah seorang nenek tua yang menghitung keriput di wajahnya. Atau seorang janda dan duda yang akhirnya "dijodohkan" oleh si tukang pos.

Membaca Sepeda Merah membuat saya teringat pada masa-masa dimana saya sering menantikan kedatangan pak pos. Benar-benar tukang pos, bukan kurir ekspedisi :) Ada rasa yang berbeda ketika saya menerima sepucuk surat dari pak pos. Membaca tulisan tangan di atas lembaran kertas berhias juga punya kesan tersendiri.

Saya juga teringat masa dimana saya dan beberapa teman juga pernah menjadi "pak pos". Sewaktu SMA, saya tinggal di asrama sekolah yang jaraknya dari kota terdekat kurang lebih 10 km. Waktu itu belum ada hape, telpon saja masih jarang (hanya ada satu di ruang kepala sekolah). Pak pos hanya datang seminggu sekali mengantarkan surat-surat buat guru-guru dan para siswa yang tinggal di asrama. Biasanya setiap hari Minggu, ketika saya dan beberapa teman pergi ke kota untuk gereja, kami akan membawa surat-surat dari teman-teman di asrama untuk diantarkan ke rumah pak pos. Di sana, pak pos akan memberikan surat-surat buat penghuni asrama kepada kami. Membawa kabar dalam sepucuk surat untuk teman-teman itu rasanya seperti orang penting lho. Soalnya sepulang gereja, pasti teman-teman sudah menunggu surat yang kami bawa. Jadi... kami pun selalu ditunggu :D

Sekarang pak pos sudah jarang mengantarkan surat. Lebih sering ngantar paket pos. Ohya, saya masih lebih suka menggunakan jasa pos untuk pengiriman ke luar kota dibandingkan ekspedisi lainnya. Soalnya hanya pak pos yang mau mengantarkan paket sampai ke pelosok. Bahkan pak pos di kampungku sana sudah kenal dengan keluarga kami. Misalnya saya ngirim paket ke rumah, tapi pas di rumah ga ada orang, pak posnya berinisiatif mengantarkan ke rumah nenek atau ke sekolah tempat kakakku bekerja. Ekspedisi lain mana mau kayak gitu.

Hwaa...jadi ngelantur karena bernostalgia. Lanjut lagi ah ke buku #2.
Profile Image for nCarinae.
115 reviews2 followers
March 5, 2023
La verdad es que vi este libro en la biblioteca y lo cogí simplemente porque me pareció que tenía un estilo lindo, y porque este año quiero empezar a leer autores internacionales. Y me alegro un montón de haberlo hecho.
Es un libro que no tiene una historia en si. La historia la cuenta un cartero de una zona rural de Corea en 2002. Leer este libro es como dar un paseo en un día donde no hace malo como para llevar chaqueta, pero la puedes llevar si quieres, sientes el sol en la piel, una brisa en el pelo y vas escuchando música tranquila.
El estilo, como ya vi en la portada y al ojearlo, es simple pero muy lindo. No necesita grandes detalles ni grandes expresiones para calentarte el corazoncito, aunque algo que me ha encantado han sido los colores.
Las historias, en cambio, son todo lo contrario. Los pequeños fragmentos nos muestran detalles del día a día de un pueblecito y sus habitantes. A veces fragmentos más tristes, a veces fragmentos más alegres. A veces simplemente hablan del paso del tiempo y otras sobre la amabilidad.
Creo que esa ha sido mi parte favorita. Todo el libro rezuma amabilidad, paz y bondad. Un acto de bondad siempre inspira otro, como dirían en Klaus, y siento que esa es la esencia de este pequeño libro.
En fin, recomiendo muchísimo leerlo con música relajante de fondo y tomando algo calentito (¡y si es de día mejor! Pero si no te sentirás como en un bonito día de primavera). Este libro os dejará con ganas de escribir cartas y flores a vuestras personas especiales.
Profile Image for Winna.
Author 18 books1,967 followers
October 30, 2012
Sukaa sekali dengan karya Kim Dong Hwa. Membacanya membuat pikiran lebih terbuka, tenang dan merasa kaya. Buku-buku beliau dipenuhi ilustrasi yang indah dan sederhana, tanpa sketsa kompleks tapi kaya detail. Kali ini warna-warna cerah juga mengisi gambarnya, tidak pastel lembut seperti Warna Air, Warna Tanah dan Warna Angin.

Kisah sang pak pos bersepeda sederhana sebenarnya, dengan secuil cerita-cerita perihal penduduk desa, ada yang masih hidup sederhana dengan bercocok tanam, ada juga yang hidup cukup mewah dari desa yang lebih modern. Tapi justru kesederhanaan penduduk desa terpencillah yang membuat lebih 'kaya', dengan kesimpelan hidup dan pemikiran mereka yang tidak neko-neko tapi sangat rendah hati.

It makes us appreciate the little details in life. Saya berharap bisa seperti pak pos yang sabaaaar dan selalu mengapresiasi hal kecil dalam hidup, seperti bebungaan di sepanjang jalan, melihat pemandangan indah walau perjalanannya jauh dan susah sampai melewati hutan dan tempat curam. Juga menikmati apa yang ada walau rutinitasnya mungkin selintas membosankan, mengirim surat ke entah siapa setiap hari, juga harus melewati salju tebal saat musim dingin.
Profile Image for Gacela.
277 reviews39 followers
July 5, 2018
Como voy volviendo a leer día a día mejor, ahora ando entre libros de peques y cómics como este. Creo que es el primer cómic coreano que leo (😳), y me ha fascinado su ternura, lo limpio del dibujo, lo mucho que transmite aunque por momentos parezca hasta un dibujo infantil. Las historias cortitas-cortitas de este cartero que trabaja calle arriba y calle abajo en su bicicleta roja desprenden ternura y sensibilidad por los cuatro costados. Da cierta nostalgia también, especialmente cuando lo terminas y cierras. PERO... como suele pasar, esta historia es el principio de otras. Otras tres en concreto, al ser el primero de 4 volúmenes chiquitos en los que caben emociones grandotas.
Profile Image for Lisa Isabella.
Author 7 books14 followers
February 28, 2019
Buku yang sangat indah dan menawan! Tentang seorang kakek yang merindukan cucunya, tentang pasangan suami-istri yang kesepian, tentang harapan-harapan, juga tentang kebaikan dan keselarasan. Karakter grafisnya yang indah, warna-warni yang cantik, serta kata-kata yang mendamaikan, membuat saya jatuh cinta berkali-kali pada cara Kim Dong Hwa menciptakan karya.

Rating Book: ★★★★★ (5/5)
Profile Image for Rd. Sya'rani.
61 reviews3 followers
February 15, 2021
salahsatu koleksi buku yg masuk kategori “tidak dipinjamkan untuk umum” hehe

novel grafis katanya, ceritanya memang singkat-singkat, tapi gambar-gambarnya bagus2 dan sering bikin mikir sehabis menyelesaikan satu bagian cerita

menyenangkan sekali melihat sudut pandang pak pos gondrong bersepeda merah ini, dibaca berulang pun tak pernah bosan
Profile Image for Yudhi Herwibowo.
Author 44 books61 followers
September 24, 2013
baru tanggal 14 februari 2013 lalu, buletin sastra pawon membuat acara ultah bertema surat. Dan malamnya atas anjuran seorang teman, saya akhirnya membeli novel grafis kim dong hwa, sepeda merah. Saya langsung membelinya 2 seri, karena tak mau mengulang kesalahan seperti dulu saat membeli seri warna tanah 1 seri demi 1 seri. Karena sialnya seri ketiga buku itu ternyata terlanjur diretur oleh pihak toko… L

seperti biasa saya suka gambar-gamabar eyang kim. Rapi dan detail. Apalagi khusus sepatu merah ini, setiap halamannya penuh dengan warna. Bisa dibayangkan keindahan apa yang terjadi karena paduan eyang kim dan warna-warna? Saya suka eyang kim karena ia bukan tipe komikus yang hanya menggambar 2 kepala orang saat dialog. Angle2nya luar biasa. Ini mungkin yang menyebabkan buku ini disebut novel grafis… :)

kisahnya tentang seorang tukang pos muda berdedikasi yang menghantarkan surat-surat ke penduduk desa dengan sepeda merahnya. ia tak butuh alamat. rumah-rumah hanya ditandai dengan dengan ciri khasnya, seperti: rumah besar bercat putih, rumah tua di antara pepohonan hijau, rumah dengan seorang perempuan yang selalu melambaikan tangan.

di seri pertama buku ini, yahwari, kita seperti diberi kisah-kisah pendek yang menyentuh hati. saya suka saat penduduk yang kebanyakan sudah tua-tua, ternyata menunggu tukang pos itu sebagai rutinitas. dan tukang pos muda itu selalu menghibur para penduduk yang menunggunya dengan mengatakan; ‘hari ini tak ada surat.’ Padahal jelas, sang penunggu itu tahu kalau memang sudah sekian lama ia tak menerima surat. Tukang pos yang baik hati itu seperti memberi penghiburan baginya dengan menyebutkan: hari ini.

Saya suka di bagian ketika tukang pos itu diceritakan mengantarkan seorang perempuan muda dan membocengkan di belakangnya. Ia akan mengatakan bagaimana menikmati perjalanan ini. Ia bahkan sampai perlu menuntun sepedanya karena melewati sebuah sungai yang jernih.

saya juga suka pada saat saat eyang kim menggambarkan tukang pos muda itu tengah meniup dandelion, yang kemudian berterbangan di atas kepalanya.

ah, surat memang membawa nostalgia sendiri bagi saya. Mungkin saya dari angkatan jadul yang masih merasakan saat tukang pos mengantarkan surat dengan membawa sepeda. Ia akan membuat saya berlarian keluar dengan terburu saat mengkring-kring bel sepedanya. Saya bahkan mengalami masa pacaran saat menggunakan surat. Sehingga betapa seringnya saya, dan dia, saling berkirim surat waktu itu. Hingga petugas kantor pos begitu hapal, walau saya suatu kali lupa menulis nomor alamat rumahnya.

sepeda merah seperti mengisahkan nostalgia itu semua. walau tema2nya hanya cerita2 kecil yang teramat sederhana, tapi sungguh, tetap menyenangkan bisa membacanya… :)
Profile Image for Perpustakaan Dhila.
200 reviews12 followers
July 21, 2016
"Telusurilah jalan-jalan pedesaan yang beraneka ragam itu untuk menemui para penduduk Yahwari. Anda pasti akan berpapasan dengan sepeda merah si tukang pos yang berkeliling pelan penuh keselarasan dengan alam sekitarnya."

Selalu suka dengan karya Kim Dong Hwa. Indah dan menyentuh. Tokoh Tukang Pos dalam kisah ini membawa keceriaan bagi setiap yang membaca. Tak hanya membawa surat, Tukang Pos juga membawa kebahagiaan-kebahagiaan kecil bagi penduduk desa. Ia tak perlu nama jalan untuk mengantarkan surat-surat. 'Rumah dengan semak-semak warna khaki', 'Rumah bertepi bunga-bunga liar', 'Rumah kuning dalam kehijauan', dsb. Begitulah Tukang Pos mengenali alamat-alamat tujuan suratnya.

Salah satu yang membuatnya gembira adalah mengantarkan surat untuk Sang Penyair di Desa Sedong, tepatnya di rumah dengan portal dan gerbang yang terbuat dari kayu alam. Setiap ia mengantarkan surat, ada surat kecil dalam kotak surat sang penyair yang ditujukan untuk Tukang Pos, sebuah puisi. Tukang Pos selalu menyimpan puisi-puisi dari Sang Penyair. Bahkan totalnya sudah melebihi 70 puisi.

Tukang Pos tak hanya sabar, ia juga senang dititipi pesan dan barang-barang lainnya. Ia senang mendengarkan 'curhatan' warga desa juga senang menanam bunga-bunga di jalan yang ia lalui.

Duh, tak sabar menyelesaikan lanjutannya. ❤❤❤❤❤
Profile Image for Nike Andaru.
1,647 reviews112 followers
December 4, 2012
buku atau novel grafis ke 4 dari kim dong hwa yang saya baca, setelah trilogi warna. selalu menarik ceritanya ringan dan ilustrasinya bagus.

kali ini tentang tukang pos. entah siapa nama dari tukang pos ini, tapi lelaki ini baik sekali. gak cuma nganter surat, tapi dia mau banget dengan ikhlas dimintain tolong nganter hasil panen perkebunan penduduk desa ke sanak keluarga mereka.

nganterin surat-suratnya dengan mengingat alamat rumah bukan nomer lho, kayak rumah kuning diantara pepohonan hijau. yasalam susah juga gitu ya. gak ada komplen ketuker dan dia adalah tukang pos nan baik hati.

ada pesan yang diberikan kim dong hwa walaupun sangat sederhana tertulis dalam buku ini. tentang arti keriput dan tentang persamaan tukang pos dengan kondektur kereta.

kereta adalah perjalanan fisik yang kita rasakan. surat adalah perjalanan mental yang kita renungkan. kondektur membawa tubuh dan tukang pos membawa hati.
Profile Image for Angelic Zaizai.
976 reviews35 followers
December 27, 2012

Ternyata cerita pendek-pendek ga seperti komik graphis trilogi yang sebelumnya
dan lebih suka ini, simpel tapi menyentuh -- dan soal tukang pos, sejak berkenalan dengan book depository, baru bersentuhan dengan dunia pos-posan lagi, jadi berasa agak menghayatilah, meski tukang pos di sini pakenya motor warna oren butek *dijitak*

Ada 30 kisah di dalamnya, bagus-bagus, tapi yang paling gw suka: Sepeda Merah, Rumah Sang Penyair, Rumah PUtih di Jalan yang Dijajari Pohon Poplar, Pagoda Batu, Kaus Kaki, Rumah Terpencil, Kotak Pos yang Kosong, Kodok-Kodok, Permen, Musim Gugur di Yahwari.

Terjemahannya bagus, Kak Meiii...

Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
April 21, 2016
Romantis. Karya-karya Kim Dong Hwa memang simpel, ceritanya keseharian, namun diungkapkan dengan sudut termanis dan ilustrasinya cakep banget.

Kali ini berkisah tentang tukang pos, yang berkeliling mengantarkan surat. Selama perjalanan itu dia berjumpa dengan banyak orang, banyak kisah, juga banyak 'pelajaran hidu'. Kisahnya memang semanis gambar-gambarnya. Kalau dibandingkan dengan trologi warna, buku ini lebih mirip penggalan-penggalan kisah si Tukang Pos. Tokoh utamanya memang satu, tapi jalinan ceritanya tidak kompak menjadi satu. Lebih ke sepihan-seprihan manis yang tidak bisa dielakkan.
84 reviews
December 29, 2012
Bener-bener bikin otakku tenang. Gambar ilustrasinya benar benar sederhana, dengan si pak tukang pos bertopi menjadi tokoh utamanya.

Jujur, aku tertarik karena kovernya. Aku udah membacanya udah agak lama, tapi masih ingat betul dengan detail-detailnya.

Aku suka sekali dengan karya beliau, Kim Dong Hwa, yang sederhana tapi menyejukan ini. Si tukang pos ini mengantarkan surat, atau apapun itu dengan sukarela dan senyum. Dimintai tolong juga ga masalah (ini yang bikin aku merasa dipukul)

Aku memang baru kali ini ngebaca karya Kim Dong Hwa. Tapi langsung mendapat tanggapan positif.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
January 24, 2013
Boleh pinjam jempolnya? Aku pengin ngasih 5 jempol untuk ilustrasi-ilustrasi buku ini yang luar biasa indah. Menyejukkan. Ditambah lagi karena dicetak full-color *pantesan mahal* semua warna-warnanya, yang pastel lembut maupun yang ngepop cerah, menjadikan sebuah pesta meriah bagi mata. Sedangkan kisah-kisahnya yang sederhana, mengalir perlahan, meneduhkan hati dan pikiran.

Review lengkapnya di
http://skyandroads.blogspot.com/2013/...

#26/2013
Profile Image for Melita.
41 reviews2 followers
November 7, 2012
Mungkin novel grafis termahal yang pernah saya beli. *namanya juga dikasih, masa nolak hehe*

Ilustrasi grafisnya cantik ditambah dengan potongan cerita yang menarik. Seperti betul-betul diajak menelusuri jalan-jalan pedesaan Yetdong dan Sedong di Yahwari dengan menumpangi sepeda merah tukang pos. A great read : )
Profile Image for Nilam Suri.
Author 2 books140 followers
December 11, 2012
Sederhana tapi manis. Seperti pisang goreng yang dimakan dengan secangkir teh manis. Bukan hidangan rumit yang akan terlihat cantik, tidak membutuhkan banyak adonan atau merepotkan saat dibuat, namun hanya dengan satu gigitan kecil bisa menciptakan senyuman. Berisi tentang hal-hal sederhana, yang terlupakan. Hal-hal kecil, yang kalau diingat sebenarnya membahagiakan.

Menyenangkan.
Profile Image for Elisala.
1,003 reviews9 followers
August 2, 2022
Je m'arrêterai au tome 1 pour cette BD : le dessin ne me plaît pas des masses, un peu maladroit, un peu inégal.
Les histoires sont toutes rigolotes gentillettes, faites des petits bonheurs du quotidien, de petites rencontres et discussions qui suffisent pour apprécier la vie, mais ça ne suffit pas, par contre, pour me motiver à lire la suite...
Profile Image for Dee.
12 reviews
November 4, 2012
Kesederhanaannya dalam bercerita dan gambar dengan warna yang segar, anggun, dan lembut yang menenangkan menjadikan buku "sepeda merah" ini istimewa dan meneduhkan hati dan pikiran. Menggugah melalui sebuah kesederhanaan. Like this book very much...
Profile Image for Nadia Fadhillah.
Author 2 books43 followers
May 27, 2013
Makasih Mas Pra, yang udah ngasih buku ini buatku. Rasanya seperti dihadiahi sepucuk surat beraroma bunga pedesaan. Indah sekali.

Seorang Tukang Pos yang memiliki hati yang sangat lembut. Ia pun sangat puitis. Aku jatuh cinta pada hatinya.
Profile Image for eti.
230 reviews107 followers
November 25, 2013
#55 - 2013

saya jadi pengen main-main ke korea haha... masih ada nggak ya, lokasi yang penggambarannya sama kayak di buku ini. bunga-bunga, ladang, perbukitan, jembatan kayu, kuil, kedai di pinggiran desa dll.
Profile Image for Elga Ayudi.
4 reviews1 follower
October 30, 2012
Kim Dong Hwa is truly a manhwa master. The story in this graphic novel/comic is very simple yet warm and touching...I read it all then decided to buy as a collection. Worth to have :)
Profile Image for Yura Lasari.
107 reviews2 followers
March 7, 2025
“Yang baru untuk si sulung, dan yang paling bagus dikhususkan untuk si bungsu. Pada akhirnya, selalu Sang Ayah yang memakai kaus kaki yang berlubang.”
(Halaman 57, Kisah 11: Kaus Kaki)

Kalimat di atas adalah sepenggal dari beberapa kalimat dalam buku ini yang masih saya ingat sampai sekarang. Sampul yang manis dengan jumlah halaman yang tipis cukup menarik saya -- yang waktu itu sedang terburu-buru -- untuk tetap membacanya Namun, meskipun tipis, suasana puitis, romantis, dan juga melankolis, tetap berhasil disampaikan oleh Kim Dong Hwa.

Bagi saya. kebiasaan -- atau keterbiasaan-- membentuk ingatan, ingatan membentuk pandangan, dan pandangan membentuk perbuatan. Hal barusan terlihat jelas sebagai kisah yang ingin disampaikan dalam novel grafis ini: mengenai kehidupan dari kacamata seorang tukang pos yang menggunakan sepeda merahnya untuk mengantarkan surat di Desa Yahwari.
Setiap hari, tukang pos ini melewati jalan yang sama hingga ia hapal dengan rumah dan detilnya, penghuninya, bahkan kebiasaan penghuninya, meski ia tidak tau nama-nama mereka (dan sejujurnya saya juga tidak tau nama tukang pos itu). Keterbiasaan ini juga menjadikan ia memiliki pandangan yang sangat terbuka terhadap penduduk desa itu. Ia tidak segan untuk berbuat baik dan memberikan bantuan, mulai dari mengantarkan orang asing hingga mendengarkan cerita seorang kakek yang sudah tinggal sendirian, meskipun ia sedang bekerja.
Kisah dalam buku ini dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu Kisah para Ibu, Kisah Para Ayah, dan Kisah Penduduk Desa Lain, yang semuanya digrafiskan oleh Kim Dong Hwa sendiri dengan keindahan yang bersahaja.

Pada akhirnya, membaca buku ini juga mengingatkan saya pada perasaan zaman kecil dulu -- saya adalah angkatan muda generasi 90an sehingga masih sempat merasakan komunikasi lewat surat meski bukan sebagai komunikasi primer – yang kerapkali deg-deg-an saat menunggu surat dari tukang pos, tapi kali ini saya mengalami perasaan dari kacamata tukang pos itu sendiri. Lucu juga, ya, jadi tukang pos?
Profile Image for So Lae.
50 reviews
November 6, 2020
Petit bijou de quiétude, d'observation du monde à travers les yeux bienveillants d'un postier en bicyclette rouge dans un petit village coréen.
Ces petits chroniques d'une vie quotidienne dont la majorité des habitants sont des séniors sont poétiques, teintées de nostalgie, de mélancolie mais de sourires aussi.
J'ai aimé ces petites virées en bicylette parce qu'elle nous narre des moments de vie universelles où les seniors regardent le temps passer, admirent les petites choses de la vie et où un postier dont le travail lui tient à coeur fait en sorte de mettre du baume au coeur à tous ces habitants en quête d'une lettre d'un ami, d'un parent..... c'est doux, fragile et si joli à la fois !
Comme cette chronique sur un papy qui n'en revient pas de recevoir une lettre mais qui s'aperçoit qu'il s'agit de celle qu'il avait envoyé à un de ses amis de longue date, le dernier de ses amis et qu'il comprend qu'il ne recevra plus jamais de lettres ! C'est triste mais emprunt d'une beauté singulière.
Les dessins sont beaux, tout en rondeur et en couleur mais des teintes douces, apaisantes et le temps de cette lecture j'ai eu la sensation de me balader aussi dans ce petit village coréen....
Profile Image for Kirana Putri.
2 reviews
July 2, 2023
Pertama kali baca buku ini itu di perpustakaan sekolah. Aku tertarik melihat sampulnya yang cantik, mengetahui buku ini adalah komik, langsung saja aku mencari tempat duduk dan mulai membacanya.

Buku ini sangaaaaat bangus! Aku suka sekali dengan buku yang menghangatkan hati seperti ini. Suka sekalii!! Sampai sampai aku sempat berencana untuk meminjamnya dan tidak mengembalikannya lagi. Berbohong menghilangkan buku, dan memilih untuk membayar denda saja. Tapi rencana ini tak jadi. Karena jika aku egois, aku menghilangkan kesempatan adik adik kelas ku untuk membaca buku yg bagus inii..

Tapi aku ingiin baca baca buku ini berulang ulang. Aku ingin tahu dimana aku bisa membeli buku ini? Langka sekalii, sedihh!!! ☹️
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
August 4, 2023
Sejak kecil aku emang akrabnya sama komik Jepang (dan komik Amerika beberapa). Eh tahunya komikus dari Korea Selatan ternyata nggak kalah. Kim Dong Hwa ini salah satu yang kece banget karya-karyanya. Dan, ini karya Kim Dong Hwa kesekian yang saya baca.

Ceritanya tentang seorang petugas kantor pos yang bertugas di desa kecil Yahwari. Gak hanya mengantarkan surat, tapi ada banyak hal lain yang diperbuat oleh tukang pos bersepeda merah ini dalam membantu para warga desa.

Jika ada warga yang rutin menerima surat namun tiba-tiba terhenti, beliau akan datang untuk sekadar mengecek apakah orang tersebut sakit/tidak.

Kisahnya sederhana. Masing-masing kisah hanya 2 sd 3 halaman saja. Ada yang biasa/monoton tapi ada juga yang sweet sekali.

Skor 8/10
Displaying 1 - 30 of 106 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.