Tita was born and bred in Jakarta. She moved to Bandung in 1991 to study industrial design at the Technological Institute of Bandung (ITB). At the beginning of 1998, she went to the Netherlands to pursue her postgraduate studies. After having earned her doctoral degree at the Technical University of Delft, at the beginning of 2007, she returned to Indonesia.
During her stay in the Netherlands, her passion for comic books led to her involvement in various comics-related activities, among which the 'Madjoe!' exhibition and workshop at Stripdagen Haarlem (2002) and the Royal Ethnology Museum (Leiden, 2002), the 'Homesick' exhibition at De Schone Kunsten Gallery (Haarlem, 2004) and her participation in the '24 Hour Comics Day' at Lambiek (Amsterdam, 2006). In Indonesia, she participated with her drawings in the 'Fellow Indonesian Comic Artists' exhibition at Erasmus Huis (Jakarta, 2005) and Karta Pustaka (Yogyakarta, 2005), the 'DI:Y' exhibition at Taman Ismail Marzuki (Jakarta, 2007), and the 'Curhat Tita' solo exhibition at SpaCe59 (Bandung, 2007). In 2008 her graphic diaries were published: 'Curhat Tita', 'Transition' and 'Curhat Tita: Back in Bandung'.
Tita currently resides in Bandung with her husband and two children, and works as a lecturer and researcher at the Industrial Design Department of ITB.
Masalahnya dengan kompilasi dengan banyak penulis adalah, kualitasnya tidak standar. Ada yang gambarnya memukau tapi ceritanya meh. Ada yang terlalu menggurui dan membosankan. Ada yang gambarnya biasa saja, tapi cenderung dalam. Ada juga yang membuatku mengernyit, ini maksudnya apa sih!?
Ada beberapa cerita yang kusukai, tapi secara keseluruhan, buku ini aku nilai, oke. Nggak bagus, nggak jelek juga.
"Karena aku juga telah menyakitinya dengan hanya diam saat aku sebenarnya mengerti."
Kumpulan komik yang masing-masing memiliki 24 halaman. Ada yang bagus secara cerita, ada yang bagus secara gambar, ada yang biasa aja bahkan kurang. Homecoming karya Azisa Noor adalah favorite saya.
Salah satu antologi yg gw punya, dimana nama Tita Larasati dan Azisa Noor menjadi catching point di mata gw. Antologi ini dibuat dalam rangka memeriahkan 24 Hour Comic Day dimana komikus harus menyelesaikan 24 halaman komik dalam waktu 24 jam saja. Dari ketujuh (eh..berapa ya? ada yg kolaborasi soalnya) komikus ini hanya mba Tita yg bisa menyelesaikan on time (hebat banget lah, secara gw aja sehari paling banter cuma 3 halaman doang).
Karya Mba Tita dan Azisa masih membawakan ciri khas masing-masing. Mba Tita dengan celetukan khas-nya tentang kegiatan yg beliau jalani dan Azisa dengan kisah-kisah yg semi fantasi. Namun, masih ada gambar komikus yg mengingatkan gw dengan karya beberapa mangaka Jepang, tapi sebut saja mereka terinspirasi.
Yg bisa gw kenali adalah karya Anne yg gambarnya agak mirip dengan artwork Saki Hiwatari. Even kostumnya juga mengingatkan gw dengan seragam para peneliti bulan di Please! Save My Earth. Kemudian keabsurd-an Rama Indra (dan salah satu fave gw) bikin gw sedikit bernostalgia dengan karya Yuichi Kumakura. Meski gak ada dialog satupun, tapi gambar yg ada sudah banyak bercerita.
Jackpot buat gw,gw menemukan nama Bapak Ranger (hubby Ibu Ranger yg merupakan kawan MP dulu) dan Stephani Soejono, yang merupakan salah satu artis dalam pembuatan anime Tatsumi (Indonesian are so AWESOME!!). Dan buat yg nganggep komik "sepele", shame on you. Dari sini gw juga baru tahu bahwa ada jurnal khusus komik, International Journal of Comic Art (IJOCA).
Beli di buku diskonan Gramedia. Lumayan buat dikoleksi.
Hebat juga nih para komikus Indonesia, pada buat komik dalam 24 jam. Hasilnya bagus sih, walau jadinya gak satu tema besar. ilustrasinya bagus-bagus juga.