Bido, putri kepala suku Lingon, terpaksa keluar kampung masuk belantara hutan menuju gunung Isalai mencari obat untuk ayahnya yang sekarat. Petualangan Bido dimulai. Tiap saat bahaya mengancam. Para wanita suku Lingon yang berkulit putih, mata biru dan rambut pirang ala wanita Eropa, cantik dan liar menjadi buruan para petarung Togutil untuk dijual atau dikawin. Tutumole, petarung paling handal di kawasan Kao muncul tepat pada saat Bido hampir menjadi tawanan. Dimulailah petualangan dua anak manusia yang mencari obat untuk penyembuh sang kepala suku. Bido diculik dan dijual ke kapal Belanda. Tutumole menantang maut demi menolong kekasihnya. Ikuti petualangan Bido yang penuh ketegangan.
Suatu hari Kamis, saya sangat ingin beli sebuah novel, sebab saya sudah menyelesaikan PANGGIL AKU KARTINI SAJA karya PRAMOEDYA ANANTA TOER--sebuah biografi. Sepulang kerja, saya menuju Gramedia, bergegas ke sebuah rak buku yang menjadi tempat favorit saya "menyentuh" sampul-sampul bukunya. Novel yang saya taksir sejak dulu: ELDEST, LOST SYMBOL masih saja mahal. Jadi saya beralih ke tumpukan buku di meja, depan kasir. Ada beberapa buku yang menarik mata, sebab covernya bagus, tapi ada satu buku yang "memanggil-manggil" dialah LINGON karya JOHN HALMAHERA. Covernya seperti mengatakan segalanya tentang buku itu dan saya langsung menimang-nimangnya. Harganya juga tidak semahal CLEOPATRA. Jadi saya membawanya ke kasir dan membayarnya. Mungkin sekali setelah menamatkan PANGGIL AKU KARTINI SAJA, saya terpanggil untuk "mengumpulkan" buku-buku tentang biografi/sosioantropobudaya/mite/sejarahindonesia/dan tetek bengek lainnya seputar itu. Saya merasa "pembelian" kali ini "menakjubkan".
2
LINGON. Adalah nama sebuah sukubangsa (primitif?) yang tinggal di tengah hutan belantara di Halmahera Timur. Populasi sedikit, tidak sering dijumpai, menutup diri, ciri-ciri fisik seperti wanita Eropa (mungkin sekali merupakan persilangan gen antara Timur-Barat), dan sebagaimana sukubangsa yang tidak beragama (modern), mereka sangat ketat pada adat, ilmu beladiri dan tenaga dalam. Selain LINGON, ada bebrapa sukubangsa yang (primitif?) yang menetap di belantara itu, misalnya TOGUTIL dan BEREBERE. Kedua sukubangsa ini "memburu" LINGON untuk dibunuh, dimakan, diperkosa, dikawini dan dijual ke sukubangsa PESISIR (orang modern) dan WALANDA (Belanda). Membaca buku ini serasa seperti menonton WIRO SABLENG atau BRAMAKUMBARA.
3
LINGON terjadi jauh sebelum Indonesia merdeka. 1905-1914 (setelahnya tidak diberi penanggalan yang jelas). Kisah perjalanan seorang lelaki Muslim yang memiliki ilmu ayat-ayat suci Al-Quran yang sangat tinggi, dia terkenal, ditakuti, pembela kebenaran, pembasmi kejahatan yang merasa lela, seorang Sousoulol Terakhir, bernama Masinga; kisah petualangan lelaki "sakit" yang kemudian ditemukan Masinga, diturunkan ilmu-nya, lolos menjadi Sousoulol dan menyelamatkan seorang perempuan LINGON dari "kawin paksa", dia bernama Tutumole; kisah perjalanan seorang pewaris Kapitan (kepala kampung LINGON) mencari akar Yaiwo (obat ajaib) untuk menyembuhkan sakit ayahnya (Kapitan LINGON), diserang TOGUTIL, BEREBERE, ditangkap orang PESISIR, dijual ke WALANDA, dan akhirnya diselamatkan Tutumole, dia bernama Bido. Semuanya serba: Silat, ilmu tenaga dalam tingkat tinggi, ajaran agama Islam, kejahatan vs kebaikan, Indonesia vs Belanda, dan cinta vs adat. Happy Ending. Tapi ada banyak hal yang mesti di"korbankan." Kisah yang di beberapa tempat sangat menegangkan, mengharukan, dan "membirahikan" namun di banyak tempat pula, seperti tanpa "roh", hambar.
4
LINGON. Tidak banyak novel dengan judul yang asing seperti ini, apalagi mengangkat sebuah sukubangsa primitif (nyaris mitos) dari Halmahera Timur, sebuah daerah "udik" di Indonesaia Bagian Timur, ini benar-benar membutuhkan "kerja keras". LINGON. Nama-nama tokohnya begitu asing, tidak menarik (tidak semenarik nama: Stefan, Michael, Edward, Bella, Morgan dll), namun justru dalam ketidakmenarikan dan keasingannya itulah, membaca LINGON seperti menemukan sebuah manuskrip tua di gudang tua, dan membaca rahasia-rahasia menakjubkan di dalamnya, senang sekali. LINGON. Nama kampung dan lokasi-lokasi tertentu kadang sulit disebutkan, sulit diingat (saya sering melewatkannya saja)namun setelah selesai membacanya, saya merasa seperti menemukan "Atlantis" yang hilang.
5
LINGON. Yang saya harap-harapkan ternyata tidak muncul, dan memang bukan merupakan fokus dari novel ini. Saya mengharapkan LINGON, TOGUTIL, BEREBERE, dan orang PESISIR bahu membahu mengalahkan WALANDA. Saya menunggu-nunggu kapan ada pertempuran "kolosal" seperti dalam LOTR atau HP7. Saya ingin, dengan kekuatan "super"nya, Masinga dan Tutumole mengusir penjajah WALANDA dari muka bumi Indonesia Timur. Tapi ternyata tidak, Belanda hanya sebagai "Figuran", tak seberapa yang dibunuh Tutumole. Yang paling banyak dibahas malah Masinga dan keluarganya, serta Tutumole yang kemudian belajar agama Islam pada Masinga. Jadinya LINGON tidak bercerita banyak tentang LINGON, tapi malah bercerita tentang sejarah Islam masuk ke Halmahera Timur/Indonesia Timur, mengenai ajaran-ajarannya yang baik (contohnya sousoulol yang membunuh orang jahat dan mengobati orang sakit) dan tentang hubungan seks sebelum menikah (zinah). LINGON jadi seperti "dakwah" atau "syiar". Tapi saya tidak kecewa, saya menyukai buku ini, karena mengangkat tema yang tidak banyak disinggung penulis dan diterbitkan penerbit dewasa ini.
6
LINGON. Membuta saya terus bertanya kenapa bisa "syiar" agama Islam? Setelah membolak-balik lembar demi lembar, saya baru "sadar" bahwa "patut" sekali LINGON bercerita tentang "dakwah" agama Islam. Lihat saja penulisnya: John Halmahera. Awalnya saya mengira JOHN mengacu pada Johanes/Yohanes (Kristen) tapi ternyata bukan?
7
LINGON: apakah propaganda bahwa daerah Timur Indonesia lebih Muslim dari pada non-Muslim?