Hanya satu jalan pesantren. Pun tak ada pilihan lain bagi Larang. Demi sang Ayah yang tak sanggup membayar biaya masuk SMA. Demi sang Ibu yang menginginkannya untuk selalu menjaga shalat lima waktu. Dan, demi dirinya sendiri agar bisa melupakan cinta pertamanya.
Hari-hari di pesantren memberikan warna baru di kehidupan Larang. Bukannya belajar ilmu agama, Larang malah sibuk dengan ritual-ritual aneh yang di jalaninya bersama ke dua sahabatnya di pesantren. Hingga tiba-tiba sebentuk penyesalan datang kepadanya. Jika, mampu Larang pasti sudah memutar balik waktu. Namun,jika tidak?
kata pertama dari penulis berhasil membawaku ke akhir bab enam. karena pas aku tulis review ini aku baru baca sampai situ. secara keseluruhan aku suka. tapi settingnya ga kerasa ya. penulis seperti hanya bermain dengan konflik dan perasaan. ritmenya juga datar. maksunya datar itu dalam konflik. seakan isinya hanya kekesalan larang. aku belum menemukan adegan yg sedikit down. ibarat nada, tinggi.... terus nggak ada turunnya.
pertama baca sih datar, tapi ternyata dari halaman ke halaman membawa kita masuk lebih jauh untuk kenal tentang manfaat shalat. seperti yang tertera di cover depan buku ini. ;)