Seperti putri duyung di dongeng itu, kelak aku akan menjadi buih dan membawa mati semua rahasia hatiku. Sebut aku pesimis, tapi sudah terlalu lama aku menunggu saat yang tepat untuk kebenaran itu. Dan selama itu, aku melihat bagaimana benih-benih perasaanmu padanya pelan-pelan tumbuh hingga menjadi bunga yang indah.
Aku kalah bahkan jauh sebelum mulai angkat senjata. Kau ada di hidupku, tapi bukan untuk kumiliki. Kerjap mata indahmu hanya untuk dia dan selamanya itu tak akan berubah. Meski begitu, kenapa aku tidak berusaha berbalik dan mencari jalan keluar dari bayang-bayang dirimu?
Jika suatu hari kau menyadari perasaanku ini, kumohon jangan menyalahkan dirimu. Mungkin memang sudah begini takdir rasaku. Cintaku padamu tak akan pernah melambung ke langit ketujuh. Aku hanya akan membiarkan buih-buih kesedihanku menyaru bersama deburan ombak laut itu. Karena inilah pengorbanan terakhirku: membiarkanmu bahagia tanpa diriku....
Buat cewek yang lahir tanggal 14 Februari ini, menulis merupakan caranya berbagi pikiran, perasaan, mimpi, imajinasi, dan cita-citanya dengan orang lain. Ia ingin tulisannya bisa menggugah dan menginspirasi pembacanya, sama seperti tulisan kedua tokoh yang pertama-tama menginspirasinya untuk menulis: almarhum Umar Kayam dan Jostein Gaarder.
Banyak yang mengira Windhy mengoleksi kutipan orang-orang terkenal (mulai dari Ralph Waldo Emerson sampai Detektif Conan) yang sering ia selipkan dalam novel-novelnya. Padahal sebenarnya ia hafal! Kata-kata yang bagus itu langsung menempel hingga sewaktu-waktu dibutuhkan, ia tinggal mencomotnya dari ingatan dan sesekali mengecek ke Oom Google supaya lebih akurat.
Kesan, komentar, masukan, atau kritik teman-teman ditunggu di: my_cool_killer@yahoo.com. Boleh juga add FB dengan alamat e-mail yang sama atau Windhy Puspita, atau kalau mau lebih real time, follow twitter-nya di @windhy_khaze.
Awalnya membeli buku ini karena kovernya yang sangat cantik, bahkan antik (bravo, Nisa!). Sekilas memberikan kesan bahwa novel ini mungkin novel dewasa. Tapi bukan, ini adalah novel remaja.
Now, story-wise. Alur berpindah cepat, dari tahun 2002, melompat lagi ke beberapa tahun kemudian, zoom by to 2010. Sayangnya, cerita pun berpindah-pindah cepat dari satu karakter ke karakter lain, dari satu periode waktu ke periode selanjutnya, hingga konflik yang ada terasa sangat pendek dan sepotong-sepotong. Belum sempat merasakan chemistry yang dalam antara Juno-Rizki, atau Christine-Derry, tiba-tiba kita disuguhkan (spoilery) sebuah acara pernikahan, kemudian (spoilery) kisah patah hati. Seandainya kita dapat mengerti sedikit lebih banyak rasa lewat sedikit lebih banyak adegan, sub-plot, dialog dan narasi, saya rasa pembaca akan lebih mendalami inti perumpamaan 'putri duyung menjadi buih'. Sayang, karena selama cerita hampir tidak tersentuh pengorbanan 'sang putri duyung', namun di akhir terasa terlalu tiba-tiba.
Dari segi karakter, saya tidak memiliki attachment mendalam, juga tidak sepenuhnya dapat memahami karakter-karakter tersebut. Sesungguhnya, saya bahkan tidak merasakan rasa suka yang mendalam terhadap mereka, mungkin karena terlalu banyak perpindahan sudut pandang dan tidak merasakan eksplorasi yang dalam untuk Juno, Rizki, Christine dan Arma.
Salah satu yang saya sukai dari buku-buku Windhy adalah betapa dewasanya karakter-karakternya, begitu juga dalam Seandainya. Walau demikian, kali ini saya merasa cukup banyak filosofi yang bertebaran di buku ini, dan tidak semuanya mengalir natural. Misalnya Randy, karakter yang digambarkan cool, pada percakapan pertama dengan Rizki, pada akhirnya mengungkapkan perasaan terdalamnya sejak kecil sepanjang 1-2 halaman buku. Entah mengapa hal ini terasa janggal dan tidak sesuai karakter.
Tapi yang terasa cukup mengganggu adalah dari segi dialog, walau saya tahu menggunakan dialog formal berbahasa Indonesia yang baik dan benar adalah khas Windhy (seperti dalam buku-buku sebelumnya). Setiap karakter berbicara dengan gaya dan tata bahasa yang serupa, bahkan karakter-karakter yang digambarkan kurang berpendidikan, berbahasa dengan baik dan benar dan sangat tertata. Seandainya saja ada variasi aksen dan dialog disesuaikan dengan setiap karakter, saya rasa akan lebih terasa inti setiap karakter yang ada.
Resensi ini bukan bertujuan untuk menjelek-jelekkan sang penulis maupun bukunya. I loved Let Go, which is such a disappointment that I can't feel the same way about Seandainya :)
1 bintang buat cover dan taglinenya "tentang rasa yang tak kunjung terucap" dan.. 1 bintang lagi buat sinopsisnya yang galaunya gak nahan.....(yang bikin saya jatuh cinta :p hee)
sebelumnya saya minta maaf bangetttt.. saya tahu nulis novel itu susaaaaaahhhhh, tapi disini saya sekedar jujur saja setelah membaca ini novel. harapan awalnya saya pengen "bergalau-galauan" karena melihat sinopsisnya itu looo.. gak taunyaaa.... malah gak ada apa-apa setelah baca ini novel :( hikss.. padahal udah lumayan loooo.. novelnya sendiri terdiri dari 3 bagian, tahun 2002 (prolog), tahun 2004 (isi), dan tahun 2010 (epilog) (menurut saya gitu..) nahhh... seharusnya yang tahun 2010 itu yang lebih dikembangin biar galaunya dapet!! sumpahh... sampai akhir-akhir bab saya mikir, ini dimana yaaa cerita "putri duyungnya" kok gak adaaaa.. pas tahun 2010 udah muncul tapi sayangggg banget gak "jleb" aja.. tapi tetap keren kok ceritanya, hehe.. semangat!!! (saya mau cari novel galau lain dulu, hihi..) nb: covernya keren abezzzzzzzz
Saya nggak tau kenapa dulu pengen sepengen-pengennya sama buku ini. Dan karena itu, otomatis ekspektasi saya gede lah ya. (Waktu itu belom akrab sama GoodReads sih. Jadi maklum aja saya nggak tau komen orang orang tentang novel ini)
Oke jadi, satu bab pertama sangat-sangat meyakinkan saya kalo novel ini bakal keren. Serius. Pembawaannya enak banget, dan karakter si cowok-namanya-lupa yang jadi tokoh utama juga unik--dia ketuaan buat sekolah.
Tapi, tapi ... begitu bergeser ke bab dua, saya nggak bisa nggak komen dalam hati. Ini gimana sih, kok begini, kok begitu? //apacoba// dan makin ke belakang, alurnya makin cepet, dan feel-nya sama sekali nggak dapet (maaf buat penulisnya. Tapi ini serius). Quotes-nya juga nggak sampe menggetarkan hari gitu hahaha //emang apaan//
Endingnya juga ... ish apaan sih? Gitu doang? Miris sih, tapi nggak bikin nyakit gitu.
Yah pokoknya, saya kecewa berat. Memang ya, cover bagus nggak selalu mencerminkan isinya *sumpah ini jahat banget*
Perbuatan terkadang tidak selalu cukup untuk mewakili perasaan, dalam beberapa hal kamu harus mengatakannya.
Seandainya... Aku nggak mau buat cuplikan ceritanya, karena aku nggak tau mesti mulai dari mana. Dan sejujurnya aku juga bingung mau nulis apaan. Sepertinya aku di sini hanya akan membahas novel ini saja dan nggak akan membuat reviewnya. Saat pertama kali lihat novel ini di page Gagas Media, yang pertama kali aku pikirkan adalah ‘Wajib Beli!!!’ kenapa? Karena aku suka sama novel mbak Windhy yang terbitan Gagas, tapi saat membaca sinopsisnya aku sempet mikir “Ahh, sad ending.” Tapi saat aku membaca novel ini, yaaah harus aku akui endingnya nggak sad kok tapi... Oke, aku bahas endingnya belakangan dulu deh. Sekarang aku mau bahas ceritanya aja. Masih tetep sama seperti novel-novel sebelumnya yaitu Let Go dan Morning Light, novel ini masih menceritakan tentang 4 sahabat dengan masalah masing-masing. Itu ciri khasnya mbak Windhy, walaupun temanya masih sama tapi aku nggak bosen bacanya karena masing-masing ceritanya memiliki ciri khas sendiri :D Ceritanya bagus, aku suka sama ceritanya yang remaja dengan latar SMA, masalahnya juga masalah anak remaja tapi disini aku banyak mendapatkan pengetahuan baru, dan membuka mata aku akan sudut pandang berbeda tentang profesi Dokter. Dan ceritanya yang menginspirasi. Aku tahu mbak Windhy nggak pernah membuat aku kecewa selama ini, tapi so sorry... Ceritanya aku suka tapi NGGAK BANGET buat endingnya. Sumpah nyesek pakai banget mbak saat baca endingnya. Aku nggak suka sama endingnya walaupun aku tahu itu hak mbak Windhy mau buat endingnya seperti apa, tapi benaran aku nggak suka sama endingnya. Aku lebih suka dan ikhlas kalau endingnya sad daripada nyesek kayak gini. Dan membuat perasaan nggak jelas, mau nangis bingung apa yang mau di tangisin, mau ketawa bingung apa yang lucu, mau marah... yah sepertinya aku kepengen marah aja saat baca endingnya marah atas sikap bodohnya Rizki yang nggak mau jujur! Tapi secara keseluruhan novel ini bagus, walaupun kecewa sama endingnya aku tetep menunggu novel mbak Windhy selanjutnya :D
“... yang mati akan tetap mati, dia tidak akan hidup lagi dan oleh sebab itu kita hanya perlu mengenangnya, tetapi yang hidup harus tetap hidup karena itu tugasnya.”
Eum... eum... *ketok2meja* gimana ya,,, Ceritanya bagus - sih - tapi... Mungkin novel ini cuma 'not for me' aja kali ya. Awalnya, waktu baca sinopsis plus lihat covernya yang okeh punya, saya pikir akan disuguhkan cerita yang heartwarming. Yang akan membekas gitu, paling enggak untuk beberapa minggu kedepan. Tapi setelah membaca novel ini kok kesannya kayak nonton sinetron Indonesia ya? ada terlalu banyak tokoh. Terlalu banyak yang ingin disampaikan. Terlalu banyak pesan moral yang ingin ditanamkan. Sayangnya perpaduan semuanya malah bikin novel ini jadi "Oh, oke. Cerita yang lumayan" udah, tutup buku, selesai. Kurang nyawanya. Tadinya saya bahkan ingin bilang "Well, buku ini bagus buat kalian, guys, yang masih muda. Banyak yang bisa kalian pelajari disini." Sungguh, kata-kata itu jujur. Tapi rasa-rasanya kalau saya bilang persis seperti itu didepan anak-anak SMU mereka hanya akan menatap dengan sorot mata 'apa-apaan sih tante ini??' hahhaa Well,, the point is, novel ini punya nilai, sungguh guys, ada banyak yang bisa kita pelajari dari sini. Tentang kehidupan, hubungan, bla bla bla, yah, yang semacam itulah. Tapi! saya pribadi khususnya, tidak menemukan nyawa di novel ini, ngak ketemu jiwanya.
Dan... satu pesan yang -saya rasa- ingin ditegaskan lewat novel ini adalah; Guys! terkadang perbuatan saja tidak cukup menunjukkan apa yang ingin kamu sampaikan. Ada kalanya 'berbicara' merupakan solusi paling baik. Komunikasi dari hati ke hati. Jadi, sebelum terlambat dan kalian menyesali nasi yang sudah jadi bubur, sebelum kalian hidup dengan kata "seandainya" yang menghantui, ada baiknya bicarakan saja rasa yang kamu ingin seseorang tahu. Seandainya... adalah tentang rasa yang tak kunjung terucap. Dan bila tak ingin bertemu hantu bernama Seandainya itu, ucapkan saja rasa-mu.
pertama tertarik untuk beli ini krn TL nya gagas banyak ngetuit bahwa buku ini bagus.. pas liat di bookstore juga kepincut sama cover.. *dalam hati berdoa semoga covernya se keren cerita BTW abis di baca, bnyak sekali halaman yg di skip malah sampe bbrapa halaman skaligus.. g tau ya,ceritanya itu terlalu cepat,terlalu bnyak detail.. cara ceritanya juga g nyaman (gtw knpa) hehehehhe dan endingnya waduhhhhhh *spoiler*
hmm, dont know how to talk to. kalu baca sinopsis di back covernya sepertinya ceritanya menjanjikan banget buat dibaca. tapi begitu dibuka dan dibaca, boom! nggak se dramatis apa yang ada diback covernya , itu yang paling saya saynagkan dari novel yang satu ini. Ceritanya banyak yang meleceng dari yang saya harapkan dari apa yg dideskripsikan di back cover :(
Jujur saja, cover begitu bagus dan aku suka sekali. Tapi kalimat demi kalimat , memasuki tiap tiap bab, aku jadi merasa cerita dan konflik yang ada terlalu flat, atau mungkin memang sengaja dibuat seperti itu ? maksudnya dengan cerita yang ringan. Untuk karya kak Windhy , aku lebih choose Morning Light better di banding ini. But still, kak, fighting :)
bahasanya......kok rada aneh ya? ga seperti windhy yang biasanya. terus ceritanya memang cepat sekali berjalan dan konflik-nya sudah biasa. semoga windhy bisa kembali seperti Let Go dan Morning Light
"terkadang ada beberapa hal yang harus dikatakan baru bisa dimengerti." (quote ini diulang kalau ga salah 3 kali)
(ceritanya sih baca ulang buku kesukaanku pas SMA, tapi kok... 😐)
//TW: bunuh diri
Jujur, aku bingung. Bingung banget. Soalnya "blurb" menunjukkan bahwa ini buku romance, tapi kenyataannya malah hilang fokus, ceritanya lari kemana-mana. Malah hampir semua yang diceritakan ga nyambung sama judul.
Mungkin penulis memang mau menyisipkan banyak konflik, banyak masalah dalam buku yang tipis dan beralur cepat ini. Ya aku biasanya ga masalah dengan konflik yang beragam, tapi, menurutku konflik yang banyak rasanya kurang klop dengan alur cepat sampai aku bingung karena banyak yang terjadi hampir sekaligus. Apalagi dengan pergantian sudut pandang (yang kadang sedikit-sedikit ganti), ah sudah, lengkaplah kepusinganku.
Buku ini tetap bisa memainkan emosiku (terutama saat, ah itu lah) di tengah-tengah kebingunganku. Ya walaupun ga sampai nangis. Selain itu, aku bisa memetik beberapa pelajaran. Dua poin yang oke.
Kembali ke masalah romance. Sebenarnya aspek romance disisipkan sedikit-sedikit sehingga ending (yang paling nyambung sama judul dan "blurb") bisa terjadi tanpa terlalu terasa ga nyambung dengan apa yang dikisahkan sebelumnya. Tapi... Gimana yak? Endingnya bikin aku pengen ngomong "apaan sih?", dan ujung-ujungnya tetap kurang nyambung. Apakah endingnya jelek? Ya bisa jadi sih 😔
Intinya... Entahlah... Aku bingung apakah aku bisa merekomendasikan buku ini?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Aku bacanya smp (mungkin 2012-2014?) lupa. aku bacanya juga karena tiba tiba buku ini ada dalam lemari (bukan aku yg beli jadi apa salahnya aku baca hihi?) kalau dulu sih bagus ceritanya, mengalir aja gitu Tapi setelah dibaca ulang, ternyata novelnya ini b aja (bukan jelek ya, tapi lumayan lah, tapi ga yang masuk wishlist atau buku rekomendasi)
Mereka berempat bersahabat, Rizky yang ketuaan masuk SMA karena gapunya biaya, Juno dan Arma (kakak beradik) anak seorang dokter dan Christine anak sang gubernur. Konflik nya kaya nya aku fokus di kejadian Christine mau bunuh diri ya? Terus juga tentang unsaid feelings
Aduh ini greget banget, Kenapa sih ga diomongin? Oke aku tau gak semua orang bisa dan berani bilang dan menceritakan apa yg dia rasain, tapi atleast, jangan ekspek apapun kalau mau confess gituloh biar ga sakit hati?? Q: tapikan ga semuanya bisa gitu, ada beberapa hal yg kita tau kalau kita gamungkin bisa bersama? Yaaaaa gimana kalau ternyata dia juga punya rasa yang sama? Gimana kalau ternyata, setelah kamu confess, dia juga ngerasain apa yg kamu rasain dan pengen bareng sama kamu? Asli sih, lebih nyesek begitu daripada ditolak diawal hihi (kalau menurutku ya)
Kaget. Itu yang kurasakan setelah membaca buku keempat Kak Windhy yang pernah kubaca ini. Sempat merasa aneh, sinopsis nya agak-agak dark, tapi hingga halaman 200 everything feels all right. Lalu tiba-tiba di beberapa halaman terakhir rasanya seperti dijungkir-balikkan. Angst. Dark. Pertama kalinya juga membaca buku Kak Windhy yang menceritakan kehidupan tokoh hingga dewasa. Yang feel romance nya lebih kuat dari pada friendship. Mungkin karena itulah, toh dalam hal cinta kamu tak menemukan yang manis-manis saja, kan? Novel Kak Windhy paling dewasa yang pernah kubaca. Novel Kak Windhy dengan ending paling nggak bersahabat yang pernah kubaca. Apakah dengan begitu novel ini jelek? Tidak juga. Terlepas dari hal-hal emosional yang kurasakan (yah, mungkin karena aku yang belum dewasa), banyak kok pelajaran yang bisa diambil. Quote nya juga keren-keren. Gaya berceritanya juga. Khas Kak Windhy banget :)
Semoga sukses selalu :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Cerita ini bermula pada tahun 2002 di Surabaya saat Rizky, Juno, Arma, dan Christine menjadi korban kejailan kakak kelas mereka untuk menghadiri pesta penyambutan siswa baru yang tidak pernah ada. Bermula dari hal konyol tersebut mereka berempat akhirnya bersahabat.
Latar belakang para tokoh yang berbeda-beda membuat beberapa konflik terjadi dalam novel ini. Rizky adalah anak dengan single parent yang harus menunda sekolahnya selama 2 tahun karena keterbatasan biaya sehingga ia disebut “Pakdhe”. Juno dengan sifat yang sedikit kekanak-kanakan. Arma yang merupakan kakak Juno yang terpaksa duduk dijenjang yang sama dengan adiknya—karena sakit yang pernah dideritanya—sehingga membuatnya minder dengan adiknya sendiri. Serta Christine—yang merupakan anak tunggal dari Gubernur Jawa Timur—yang merasa tidak ada orang yang benar-benar tulus menyayanginya hingga membuatnya ingin mengakhiri hidup.
Konflik-konflik yang terjadi bermula pada kata-kata yang tak kunjung terucap hingga menimbulkan asumsi yang seringkali tidak benar dan berakhir dengan penyesalan.
Bermula dengan kenyataan bahwa Rizky diam-diam menyukai Juno.
“Mungkin benar bahwa cinta itu tidak bisa diperkirakan dan diatur, kita tidak pernah bisa tahu kapan, bagaimana, dan dengan siapa kita akan jatuh cinta.”
Kemudian kasus yang dialami Agus—teman yang sudah dianggap Adik oleh Rizky karena latar belakang yang sama—yang cukup berpengaruh pada kehidupan beberapa tokoh.
“Memang bagus jika manusia punya impian, tapi jika impian itu sudah membuat kita lupa untuk menginjak tanah, maka mimpi itu akan membunuh kita perlahan-lahan.”
“Kamu tidak membutuhkan pendapatku. Kamu tidak butuh pendapat siapapun. Kamulah yang menjalani takdir yang kamu pilih, dan siapapun yang menjalani takdirnya, dia tidak mungkin tidak bahagia.”
Sementara itu juga terjadi konflik antara Juno dengan Arma. Arma merasa harga dirinya terluka atas apa yang terjadi padanya. Ia merasa bukanlah kakak yang baik bagi Juno yang seharusnya dapat menjadi panutan dan membuat Juno merasa bangga memilikinya. Hal tersebut membuatnya ingin menjadi dokter, profesi yang dikagumi Juno dan dibenci oleh Arma karena phobianya terhadap darah. Namun Arma akan melakukan apapun demi membuat Juno kagum dan memandangnya sebagai kakak.
“Bahwa hidup ini penuh misteri dan tidak sesederhana yang kamu bayangkan. Perbuatan terkadang tidak cukup untuk mewakili perasaan, dalam beberapa hal kamu harus mengatakannya.”
Konflik yang dialami Christine dengan kedua orang tuanya juga ikut mewarnai novel ini. Kehidupan mewah yang dimiliki Christine tidak membuatnya bahagia, ia justru merasa kesepian dan rindu akan kasih sayang hingga ia merasa sangat senang saat menerima surat-surat romantis yang dikirimkan seseorang untuknya. Namun kesibukan orang tuanya yang membuatnya kurang mendapat perhatian dan anggapan bahwa teman-temannnya mau berteman dengannya hanya karna apa yang dimilikinya membuatnya ingin mengakhiri hidup.
Untuk cerita selengkapnya silakan baca “Seandainya...”
☼☀☼☀☼☀☼☀☼☀☼☀☼☀☼☀☼☀☼☀
Juno
Dari keempat tokoh utama—yaitu Jono, Rizky, Arma, dan Christine—menurutku Junolah yang merupakan fokus dari cerita novel ini. Juno yang memiliki nama panjang Juno Kusuma Ayu adalah anak kedua dari pasangan dokter—profesi yang sangat dikaguminya. Karakter Juno yang periang, tegas, pandai, bijaksana, dan cenderung kekanak-kanakan membuatnya mudah bergaul dengan tokoh lain. Phobianya terhadap darah membuatnya enggan bercita-cita menjadi seorang dokter.
Dari keempat tokoh, Juno-lah tokoh yang paling aku idolakan, dari sekian banyak alasan, alasan utamanya adalah karakternya yang memiliki kemiripan dengan karakterku.
Rizky
Rizky adalah tokoh tertua dari keempat tokoh utama. Hal tersebut dikarenakan keterbatasan biaya yang memaksanya menunda sekolah selama 2 tahun. Karakter Rizky yang baik baik dan bijaksana membuat beberapa tokoh wanita menyukainya, tapi Juno-lah yang berhasil merebut hatinya.
Arma
Armaiti Kusumaatmadja adalah kakak Juno, setahun lebih tua dari Juno namun terpaksa harus satu kelas dengan Juno dikarenakan sakit yang pernah dideritanya sehingga membuatnya berhenti sekolah selama setahun. Walau hal tersebut dianggap wajar bagi orang-orang, namun tidak untuk Arma, posisi yang demikian membuatnya merasa harga dirinya terluka hingga ia bertekat untuk menjadi dokter—profesi yang dibencinya namun dikagumi Juno. Karakter Arma sendiri adalah penyayang, pantang menyerah, rajin, namun mudah emosi.
Christine
Christne Suryolaksono adalah anak tunggal dari Gubernur Jawa Timur. Kesibukan orang tuanya membuatnya kekurangan kasih sayang. Karakternya sendiri baik, ramah, namun berpikiran pendek.
☼☀☼☀☼☀☼☀☼☀☼☀☼☀☼☀☼☀☼☀
Seandainya adalah novel ketiga karya Windhy Puspitadewi setelah Let Go dan Morning Light. Namun novel ini adalah novel karya Windhy yang pertama kubaca. Hal pertama yang mau aku nilai yaitu sampulnya, aku cuma mau bilang kueren banget!! Simple, cantik, unik, dan bikin penasaran. Pas baca isinya ga kalah keren, bikin ketagihan dan susah buat stop baca. Ceritanya yang sesuai dengan kehidupan remaja zaman sekarang—terutama kesesuaian dengan kisah hidupku—membuat novel ini mudah untuk aku pahami. Kata-kata bijak yang bisa diambil dari novel ini juga cukup banyak. Tapi, konflik antara Juno dan Rizky yang tidak terlalu banyak diceritakan membuat kemistri antara mereka kurang aku pahami dengan baik dan membuatku terkejut di bagian akhir. Dan novel ini berhasil bikin aku nangis di ending ceritanya. Well, so I give 4/5 flowers for this novel.
maaf banget tapi ini sangat amat jauh dari ekspektasiku. kukira latar belakang karakternya antara kuliah sampai kerja, ternyata masih sekolah. entahlah, tidak 'klik' buatku yang sedang ingin cari novel dengan cerita romance yang agak rumit.
tapi aku suka garis merah tiap karakternya. mereka memiliki masalah dengan pengakuan atau eksistensi. untuk endingnya juga agak sebal dan aku agak tersindir karena punya pengalaman yang sama seperti Juno. :")))) tapi, ya, tidak separah Juno juga sih.
Sebetulnya bagus sih, cuma sayang menurutku kayak terlalu cepat alurnya. Tiap tokoh kena masalah, terus beberapa halaman kemudian masalahnya sudah terselesaikan. Jadi kayak kurang ngena gitu. Terus kayaknya ada plot hole ketika Rizki dan Juno ketemu, awalnya Juno bilang kenapa Rizki tidak ngontak dia bertahun-tahun dan katanya kehilangan nomer, tapi kemudian waktu Arma ngobrol sama Rizki, katanya beberapa tahun ke belakang Rizki sempat menghubungi Juno.
Nemu novel ini di salah satu toko buku-buku bekas. Murni kepincut sama cover-nya yang uh-so-unyu ini. Apalagi penulisnya Windhy, langsung deh teringat sama Touche yang super-b itu. Jadilah saya pun membelinya sambil nggak berhenti terkagum sama cover dan kondisi novelnya yang (Thank God!) masih bagus banget.
Sampai di rumah, sebelum mulai baca, saya pun melirik reviews Seandainya yang ada di goodreads. Deg. Nggak taunya banyak yang katanya kecewa sama novel ini, ada yang bilang jauh dari ekspektasi, ada lagi ini bukan seperti Windhy, ada lagi yang bilang seperti sinetron. Well, jadi agak ragu, mau baca atau nggak. Ya, ujung-ujungnya dibaca juga, sih. Sayang, kan, udah beli nggak dibaca? Hoho.
So, beberapa halaman pertama cukup menarik sebetulnya untuk saya. Saya pun berpikir, 'kayaknya nggak buruk-buruk amat, nih'. Jadilah saya terus membaca. Nggak berapa lama, saya cemberut. Ternyata makin ke tengah memang makin membosankan. Kenapa? Karena teenlit banget! Ceritanya juga seakan nanggung. Sedikit-sedikit langsung ganti tokoh, trus setiap adegan juga nggak dipaparkan secara detail. Alhasil yang membaca pun jadi berasa 'nanggung'. Entah sampai di halaman berapa, saya pun jatuh terlelap.
Pagi ini, saya menuntaskan sampai habis. Dan saya nggak segitu kecewanya juga, kok, dengan novel ini. Nah, daripada nanti malah jadi curhat-curhat nggak jelas dan ngerembet kemana-mana, saya rangkum aja, ya.
Hal-hal yang bisa saya simpulkan dari novel ini: 1. Cukup banyak pesan moral yang ada di dalamnya, sebenarnya. Hanya saja kita harus mengeksplornya sendiri. Karena penggambaran ceritanya yang kurang detail itu tadi, makanya jadi kurang 'pol'. 2. Penulisannya cukup lembut, meski banyak yang agak-agak kurang pas. 3. Adegannya kok, membaca buku semua, ya? Hehe. 4. Saya agak-agak gimana, gitu, dengan Juno-Rizki. Entah kenapa Windhy sering kurang pas kalau menulis sesuatu yang berkaitan dengan romance. Utamanya, sih, kurang chemistry. 5. Begitu juga dengan Derry-Christine. Kepala saya malah dipenuhi tanda tanya kalo mengenai mereka. 6. Konfliknya terlalu banyak, tapi hanya sambil lalu. Seharusnya dibuat saja konflik yang besar tapi lebih detail, lebih jelas sebab-akibatnya, dan bagaimana prosesnya itu sendiri. 7. Halamannya kurang banyak. 8. Hampir lupa. Buat saya, deskripsi tokohnya masih kurang. Di awal memang dijelasin, tapi tetap saja buat saya itu hanya sekilas.
Oke, maafkan saya kalau review ini lebih seperti kritik. Tapi sejujurnya, saya berharap kalau Windhy bisa lebih matang lagi dalam menulis. I believe she had that 'something' in her writing. Dan saya akan terus menunggu hasil karyanya di hari-hari mendatang:)
So, untuk saya, Seandainya was just okay. Bukan jelek. Dan lagi, when it comes to novels, pendapat setiap orang itu nggak selalu sama. Yup, ini tentang selera. Nah, kalau gitu, daripada kalian mengira-ngira atau malah belum apa-apa tapi sudah mencap novel ini jelek, lebih baik dibaca dulu, gih.
Entah kenapa aku kurang suka sama sinopsisnya. Bikin aku jadi mikir “kayaknya ini tentang cerita cinta abg yang galau-galau gak banget gitu deh”. Apalagi ditambah sama judulnya yang menurutku gak kak Windhy banget. Karena aku termasuk tipe orang yang selalu menganggap penting judul dan sinopsis sebuah novel, jadi waktu tau judul dan sinopsisnya kayak gitu aku jadi sedikit deg-degan waktu mutusin buat baca. Secara kak Windhy adalah salah satu penulis yang karyanya selalu aku tunggu, jadi aku takut aja kalau Seandainya gak sesuai harapanku.
Seandainya... Tentang rasa yang tak kunjung terucap.
Tentang Rizki si cowok miskin yang ternyata otaknya cemerlang. Yang harus menunda sekolah selama dua tahun karena miskin?. Tentang Juno yang ternyata memendam perasaan pada seseorang yang selama ini diakuinya sebagai sahabat. Tentang Arma yang selalu merasa tidak berguna untuk adiknya. Tentang Christine seorang putri tunggal seorang pejabat yang merasa diabaikan. Tentang mereka dengan masalahnya masing-masing. Tentang mereka yang dipertemukan dan akhirnya bersahabat.
Entah kenapa untuk Seandainya aku ngerasa banyak banget yang gak aku suka dari novel ini. Dimulai dari judul dan sinopsisnya. Karena aku gak pernah mempermasalahin cover, jadi aku oke-oke ajah sih, walaupun sampe sekarang aku masih gak ngerti sama arti covernya. Untuk masing-masing konfliknya aku ngerasa terlalu kecepetan.
Menurutku Seandainya itu ibarat seseorang yang lagi cerita tentang petualangannya yang seru tapi cuma punya waktu 10 menit buat cerita, gak punya waktu buat menghayati, bikin yang dengerin ceritanya komentar “oh gitu?” . Seandainya novel ini dikasih tambahan halaman “mungkin” ceritanya bakal berkesan. Menurutku sih gitu.
2 dari 5 bintang? Awalnya aku kasih 1 buat novel ini, karena menurutku mengecewakan banget. Tapi setelah baca untuk ke dua kalinya, aku mutusin untuk nambah 1 bintang. Kenapa? Karena menurutku walaupun konflik di novel ini udah banyak ditemuin di novel lain, tapi menurutku senggaknya kita jadi merasa diingatkan lagi supaya gak lupa. Dan aku sangat suka sama endingnya. Karena pelajaran hidup yang paling berkesan dari novel ini buat aku ada di endingnya.
“Gak ada buku yang begitu jelek yang gak bisa diambil pelajarannya” (Windhy).
Walapun buku ini gak sebagus karya penulis lain atau karya kak Windhy yang lainnya, tapi gak ada salahnya untuk baca, karena kak Windhy selalu nyelipin pengetahuan yang mungkin selama ini kita bahkan gak kepikiran utuk tau.
First of all, let me praise this book for its beautiful cover!
Covernya cantik—sangat cantik dan lembut banget dengan aksen sofa dan tumpukan buku. Gagasmedia memang ahli dalam desain cover yang unyu-unyu seperti ini. Love it!
Dari kali pertama lihat, aku menduga dari covernya ini novel young adult. Sinopsis di belakang cover yang romantis dan puitis khas seperti novel young adult biasanya. Tapi aku agak kecewa setelah buka lembaran pertama ternyata ceritanya tentang remaja SMA.
Seandainya ini menceritakan kehidupan SMA Rizki, Juno, Arma dan Christine. Rizki ini anak panti asuhan. Ibunya hanya berjualan gorengan sehingga penghasilannya hanya cukup untuk membiayai sekolah adik-adik Rizki. Alhasil setelah lulus SMP, Rizki putus sekolah dua tahun hingga suatu hari ada yayasan panti asuhan yang mau membiayai sekolah Rizki. Nah, di sekolah yang baru ini, Rizki ketemu sama Juno, Arma, dan Christine yang akhirnya jadi sohibnya.
Fokus utama ceritanya sebenarnya tentang kehidupan mereka masing-masing. Rizki yang miskin tapi cerdas, Juno yang childish tapi menyenangkan, Arma yang serius tapi perhatian, juga Christine yang kaya tapi merasa kesepian.
Setiap tokoh punya konflik masing-masing. Rizki-Juno, Juno-Arma, ataupun Christine-Rizki. Menurutku narasinya di novel ini agak cepat. Jarang dituliskan basa-basi lebih panjang tapi narasi langsung di intinya. Selain itu, konflik konflik yang muncul ketika sudah reda konfliknya, tiba-tiba muncul lagi. Konfliknya memuncak lalu tiba-tiba turun, setelah itu tiba-tiba muncul konflik lagi dan lagi. Membacanya serasa roller coaster, naik- turun, naik-turun dan begitu seterusnya.
Bisa dibilang alurnya fast-paced. Aku belum ‘ngeh’ sama arti sinopsis di balik cover. Dalam cerita diceritakan Rizki sama Juno saling suka tapi masih belum mau mengakui perasaan mereka sendiri. Namun, aku jarang melihat interaksi yang romantis di antara mereka. Ya, seperti persahabatan biasa aja. Jadi, chemistry mereka berdua kurang kerasa. Chemistry antara tokoh lainnya seperti Christine-Derry juga kurang kental. Tiba-tiba saja mereka pacaran tanpa penjelasan yang jelas.
Untuk endingnya bener bener kerasa nanggung. Mau sedih, tapi kok setengah setengah rasanya. Dan untuk typo, masih dijumpai di beberapa halaman dan beberapa cukup mengganggu.
Satu hal yang aku suka yaitu buku ini banyak berisi tentang nasihat yang bagus untuk diterapkan di kehidupan sehari hari. Cara berpikir tokoh tokohnya terkesan dewasa dan antar tokoh terkesan sama cara pikirnya.
Jika cinta, ungkapkanlah. Biarkan dia tahu. Biarkan mereka tahu. Cinta yang terpendam itu ibarat segelas tanpa air. Hampa. Kau tak mungkin berharap orang yang kau cintai memiliki kekuatan untuk bisa membaca pikiran orang kan? Even if (s)he has it, you still need to say it out, supaya mereka tahu bahwa mereka dicintai, vice versa.
"Perbuatan terkadang tidak selalu cukup untuk mewakili perasaan, dalam beberapa hal kamu harus mengatakannya."pg87
Sebuah peristiwa konyol mempertemukan ke4 orang ini, Rizki, Christine, dan kakak beradik Juno dan Arma. Keempat sahabat ini memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Boleh dibilang bagai langit dan bumi. Tapi mungkin itulah yang mereka perlukan, perbedaan.
Mereka pikir mereka lebih tahu. Mereka pikir apa yang menurut mereka baik sudah pasti baik untuk yang lain. Pastikah? Bagiku mereka egois.
Merendahkan diri, menganggap diri kurang/tidak pantas untuk orang lain, mengapa begitu pesimis? Belum tentu mereka juga beranggapan hal yang sama.
"Kenapa kamu tidak melakukannya demi dirimu saja dan bukan Juno? Bukankah dengan begitu tekadmu untuk mencapainya akan semakin besar?" pg75
"Semua hal yang berwujud itu akan mati, membusuk dan menghilang bersama tanah..., tapi kenangannya tidak. Hanya kenangan yang tidak akan membusuk dan berlalu bersama waktu... tidak akan pernah. pg.49
Terkadang aku takut. Takut kepada mereka yang dengan mudahnya mengakhiri hidup mereka sendiri. Wake up, people! Hidup itu bukanlah game yang sering kita mainkan di psp/komputer. Kita manusia juga bukanlah seekor kucing yang memiliki sembilan nyawa. Kita hanya satu nyawa yang harus kita jaga sebaik mungkin. Dan bunuh diri bukanlah sebuah penyelesaian.
Berhentilah memikirkan pendapat orang lain dan mulailah mendengarkan kata hatimu sendiri. Mengutip kata Alitt di bukunya Skripshit, "Reality bites, so chew harder."
Satu bintang untuk deskripsi di belakang novel yang bikin saya tersentuh hingga memutuskan untuk membeli novel ini.
Well... inilah sedikit review dari saya. Pertama melihat novel ini di toko buku, saya langsung tersentuh karen deskripsi di belakang novel yang galaunya akut. Saya memang suka istilah seperti putri duyung yang akan menjadi buih (yaa... lebih kurang seperti itu lah), jdi saya memutuskan untuk membeli novel ini. Awalnya saya berpikir novel ini pasti galau akut seperti deskripsinya, jadi malam.itu juga saya memutuskan untuk melahap habis novel ini.
Caaammm... tapi begitu membaca prolognya saya mulai sedikit kecewa karena ini adalah cerita remaja SMA. Oke, saya masih berusaha bertahan mungkin cerita ini akan semakin menarik hingga akhir. Tapi, saya semakin dibuat kecewa karena saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan. Berkali-kali saya coba menghubungkan antara alur cerita dengan blurb-nya, tapi saya tidak menemukan chemistry. Jadi saya kecewa di tengah jalan. Alurnya mengalir begitu cepat dan juga lompatan antara adegan satu ke adegan selanjutnya yang menurut saya sepotong-sepotong, jadi belum tuntas dengan adegan ini sudah dipaksa untuk lompat ke adegan selanjutnya. Rasanya kan jadi gantung. Apa ya... ketika membaca novel ini saya tidak mendapatkan chemistry antara diri saya dengan para tokohnya.
Tapi untuk pesan moral, bagus. Banyak pesan moral didapat dari novel ini. Well... selera orang pasti berbeda-beda kan :)
Ada hal yang harus dikatakan terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan jawabannya.
4 orang dengan latar kehidupan berbeda...bertemu di area sekolah saat hari minggu karena tertipu oleh seorang panitia yang mengaku kakak kelas mereka menyuruh datang dengan alasan ada kegiatan penyambutan untuk mahasiswa baru. Entah polos atau apa, Rizki seorang laki-laki yang baru menginjakan masa sma nya tahun ini bertemu dengan kakak adik Juno dan Arma bertanya-tanya mengapa masih sepi, ditambah anak seorang pejabat penting bernama Christine menunggu acara tersebut...Hingga akhirnya mereka sadar apa yang sebenarnya terjadi, mereka berempat dikerjai. Mulai dari sanalah mereka mulai dekat dan bersahabat. Hanpir 3 tahun bersama di dalam kelas yang sama,seseorang diantara mereka berempat mempunyai rasa terhadap yang lainnya.
Seharusnya Rizki bilang yang sebenarnya tentang rasa yg ia miliki terhadap Juno, bukan malah takut dan pergi setelah lulus melanjutkan kehidupannya. Juno yang juga memili rasa yang sama hanya bisa menunggu sampai mereka bertemu lagi dia acara pernikahan Christine. Rizki datang dan bertemu dengan Juno diacara tersebut. Secara langsung Rizki menyatakan perasaan yang sebenarnya setelah acara pernikahan itu, Juno dengan perasaan senang bercampur sedih dan marah tak bisa berkata apa-apa. Takdir tidak bersama mereka, Rizki mengatakan perasaan nya setelah ia bertunangan dengan seorang gadis jakarta.
This entire review has been hidden because of spoilers.
"The bitterest tears shed over graves are for words left unsaid and deeds left undone." - Harriet Beecher Stowe
Kisah ini dimulai dari pertemuan 4 orang yang sepertinya telah direncanakan oleh takdir. 4 orang itu adalah seorang lelaki bernama Rizki, perempuan bernama Juno dan kakaknya Arma, dan juga seorang cewek cantik bernama Christine - anak pengusaha, calon gubernur Jawa Timur. Pada tahun 2002, mereka berempat datang ke sebuah sekolah untuk menghadiri pesta penyambutan murid baru; yang ternyata sama sekali tidak ada. 2 tahun kemudian, dengan cepat mereka berempat menjadi teman baik meskipun dengan latar belakang dan sejarah kehidupan masing-masing yang berbeda. Rizki yang harus menunggu 2 tahun untuk bisa bersekolah karena tidak mempunyai biaya; sehingga akhirnya mendapat sebutan Pakdhe di kelasnya. Arma yang adalah kakak Juno tetapi satu angkatan dengan adiknya bukanlah tanpa alasan. Ia pernah sakit cukup parah sehingga harus menunda sekolahnya untuk waktu yang cukup lama. Sedangkan Christine, seseorang yang selalu dipandang dengan kagum oleh murid-murid yang lain, tetapi ada sebuah lubang kesepian yang meradang di dalam hatinya; sesuatu yang tidak kelihatan, dan tidak diketahui siapapun....
Seandainya ini menceritakan tentang persahabatan antara Rizki seorang dari kalangan kurang mampu yang berteman dengan Juno, Arma dan Cris. Mereka adalah anak orang kaya. Alur cerita ini lebih cocok dibaca anak SMA menurut gue karena gue ngerasa nggak greget banget waktu baca ini. Fasilitas mewah tanpa perhatian orang tua, kemudian ada romansa cinta yang tumbuh dalam persahabatan. Gue nggak mempersalahkan itu sebenarnya hanya cara penuturannya bukan selera gue. Ada satu quote yang cukup menarik dan cuma itu yang gue bisa kutip :p "Ada hal yang perlu dikatakan supaya dimengerti." kayak perasaan juga. Endingnya cukup lumayan tapi tetep ini jaman SMA dan gue udah kuliah man... rasanya loe tau kan ya? dan bagusnya nggak banyak typo dalam penulisannya. covernya kece badai, gue beli novel sengaja nggak baca review pembaca biar nggak kecewa. tapi gue salah. Pelajaran penting buat loe yang ngerasa nggak dicintai, buat yang masih suka memendam perasaan jangan sampai yang loe taksir malah udah tunangan sama orang lain. Buat loe yang ragu buat jadi dokter. --gue sih malah ngebet jadi dokter nggak kesampean--lanjutkan mimpi-mimpi loe. sekian
Aku baca novel ini karena dipinjamkan oleh teman. Melihat sinopsisnya yang sesuai dengan cerita hidupku #curcol membuatku tertarik untuk membacanya. Dan ini sedikit review dariku ->
Rizki, seorang siswa yang miskin diam-diam mencintai Juno, sahabat dekatnya. Tapi ia tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada Juno, sama seperti Juno sendiri -yang sebenanarnya menyukai Rizki-.
Juno sendiri memiliki kakak laki-laki bernama Arma. Arma di sini ternyata adalah seorang anak laki-laki yang lemah dan penyakitan. Tak sampai di situ, mereka mempunyai seorang sabahat bernama Christine -anak pengusaha kaya yang merupakan calon gubernur Jawa Timur-.
Bagaimana kisah persahabatan mereka selanjutnya? Lalu apakah Rizki akhirnya menyatakan rasa cintanya kepada Juno?
Baca selengkapnya di Seandainya...
---
Keseluruhan aku menyukai ceritanya, walaupun di sini terlalu banyak hal yang dibahas sehingga alurnya kurang teratur. Dan yang kedua, aku kecewa dengan endingnya :( -tidak akan kuceritakan karena mengandung spoiler :p-