Anda ingin jadi penulis? Mau menulis apa? Fiksi (cerpen, novel, drama, puisi) atau nonfiksi (berita, kritik, esai, kolom)? Tidak ada saran untuk hanya memilih salah satu dari semua itu. Malahan, Anda disarankan untuk melakukan semuanya.
Alif Danya Munsyi—alias Remy Sylado, seorang penggiat seni yang melahirkan banyak karya masterpiece di bidang sastra, musik, teater, dan tetap aktif hingga saat ini—membahas semua itu dalam buku ini. Dengan gaya yang unik dan mengasyikkan, Remy menjabarkan banyak hal bagi Anda yang ingin menjadi penulis atau ingin memperdalam wawasan yang berhubungan dengan kepenulisan.
Tak hanya tips dan trik menulis, Remy juga menulis tentang pentingnya membaca, bakat, kemauan belajar, proses kreatif, sejarah tulis-menulis, sejarah sastra, pengaruh gaya dan visi kepenulisan, dan banyak lagi. Ini buku yang sangat lengkap untuk menyelam dalam dunia kepenulisan!
Pertanyaan itu seringkali muncul seiring dengan karya yang ditelurkan seorang penulis. Banyak orang merasa menulis itu bukan pekerjaan yang mudah. Yang lain menganggap bahwa menulis merupakan bakat yang tidak semua orang bisa memilikinya. Maka, bermunculanlah buku berisi tips-tips seputar menulis dan menjadi penulis, yang ditulis oleh berbagai macam kalangan, mulai dari editor sampai penulis best-seller.
Alif Danya Munsyi, atau yang lebih dikenal dengan nama pena Remy Sylado, salah satunya. Buku bertajuk "Jadi Penulis? Siapa Takut!" ini sesungguhnya bukan karya perdananya yang fokus pada tips seputar dunia menulis. -atau buku ini melengkapi karya yang sebelumnya? Entahlah.
Ada banyak buku dengan tema serupa yang beredar di pasaran. Beda penulis, beda pula ulasannya. Ada yang membahas garis besarnya saja: intinya yaa nulis, nulis, nulis! Ada pula yang menjelaskan secara runut sampai ke persoalan tata bahasanya. Dan bolehlah jika saya menganggap buku karya Alif Danya Munsyi ini sebagai panduan menulis tingkat advance. Apalagi mengingat bab awalnya yang membuat kening saya berkerut.
Tak ada lagi pembahasan tentang penggunaan titik atau koma. Tak disuguhkan pula motivasi-motivasi pembangkit semangat menulis. Buku ini ditujukan untuk siapa saja yang sejak awal sudah BERANI menerima tantangan untuk menjadi penulis. Maka, jangan dulu menyerah hanya karena bahasanya yang tampak berat -di awal- atau caranya memenggal setiap paragraf menjadi poin-poin angka. Justru, di sanalah kau temukan sisi menariknya.
Jika sebagian penulis menganggap "menulis" menjadi tips pertama untuk menciptakan sebuah karya, maka buku ini lebih memprioritaskan membaca sebagai langkah awal yang harus diambil seorang penulis. Dari aktivitas membaca, kita menjadi tahu. Dengan membaca kita bisa belajar. Dan setelah membaca, kita dapat menentukan gaya bahasa yang tepat untuk karya tulis kita nantinya. Empat bab awal buku tersebutlah yang akan mengantarkan kita untuk memaknai banyak hal: tentang kaidah bahasa baku, licentia poetica, hingga sejarah di balik kata-kata yang kita kenal selama ini.
Maka, bab-bab setelahnya adalah penjabaran yang lebh rinci mengenai karya tulis yang hendak dibuat. Mau menulis puisi, cerpen, novel, bahkan menulis berita sekalipun, semua diulas dalam bab tersendiri. Dan yang menarik adalah potongan-potongan karya penulis dan peraih nobel kesusastraan yang digunakan sebagai contoh agar pembaca dapat memahami apa yang disampaikan penulis.
Buku setebal 270 halaman ini memang tak bisa dibaca sekali duduk. Nikmati saja poin demi poin yang disampaikan. Perlahan-lahan, lalu praktekkan.
Di awal bukunya, yang ditekankan adalah MEMBACA ADALAH BELAJAR. Sehingga bab ini penuh dengan rekomendasi nama penulis maupun judul karya-karya avant garde mereka. Suatu kegiatan dalam mengumpulkan amunisi sebelum menulis (dan melakukan banyak hal). Ratusan dan ribuan tahun sebelum Masehi, saat belum ada percetakan dan penerbitan, sudah ada orang-orang berbakat yang membuat karya sastra legendaris yang dikenal hingga sekarang. Misalnya:
900 SM di Yunani - Homeros: Illiad dan Odyssey
1500 SM di India - Upanisad
2000-1500 SM di Mesir, karya berbentuk novel dengan aksara 24 tanda: Sinuhe
3000-2000 SM di Sumeria, Babilonia, puisi epik yang mengisahkan tentang kematian dewa gembala Tammuz.
(halaman 3)
Dasarnya, kuasai bahasa, miliki kata-kata. (halaman 4) Dengan banyak membaca, kita akan mendapatkan dorongan-dorongan kreatif untuk menulis.
Pengaruh adalah proses alami bagi kebudayaan. Para sastrawan besar saling memengaruhi satu sama lain. Sastrawan modern, dipengaruhi oleh para sastrawan dari zaman yang lebih klasik. Misalnya:
Motinggo Busye dipengaruhi Emile Zola, Alberto Moravia, James T. Farel.
Chairil Anwar dipengaruhi Archibald MacLeish, Charles du Perron.
W.S. Rendra dipengaruhi Federico Garcia Lorca.
Sutardji Calzoum Bachri dipengaruhi Arthur Rimbaud
Rustandi Kartakusumah dipengaruhi William Shakespeare.
Namun, hubungan antara pengaruh ini rentan diwarnai plagiarisme. Remy Silado menyarankan pada para penulis pemula untuk menjadi dirinya sendirinya dengan plus-minusnya. Dalam kegiatan membaca untuk belajar, seorang penulis musti terbuka menerima lintasan pengaruh. Bacaan yang memengaruhi kita adalah guru tidak langsung. Eka Budianta pernah berkata, "Hanya sastrawan yang tidak punya guru resmi seperti pelukis atau pemusik." Selama seorang murid terus belajar, ia bahkan bisa mencapai tingkat karya yang lebih dalam, lebih kuat dan lebih dibya (cerah) daripada gurunya.
***
Menurut Remy Silado, pada saatnya nanti, seorang penulis harus berani menerjang rambu-rambu bahasa baku berkaitan dengan gaya personal dan visi individual. Dalam sastra, dikenal apresiasi kebebasan yang dinamakan licentia poetica. Awalnya istilah ini digunakan untuk kebebasan para penyair dalam mengekspresikan bahasa untuk puisi-puisinya.
Gagasan terdiri dari premis dan tema. Untuk semua tulisan kreatif, apalagi fiksi, terutama drama, harus didasarkan pada premis dan tema. Di sini, drama disebut "genus", dan aku langsung bingung, ini maksudnya drama sebagai genre atau naskah drama panggung teater, sih?
Yang jelas pengarang drama peraih Nobel yang direkomendasikan Remy Silado di sini adalah:
- Maurice Maeterlinck (1911) - Rabindranath Tagore (1913) - Luigi Pirandello (1934) - Eugene O'Neill (1935) - T.S. Eliot (1924).
Remy Silado menuliskan bahwa penulis ibarat cempiang (pendekar) yang menguasai segala gaman (senjata), pendekar yang menguasai semua jurus silat. Senjata dan jurus silat bagi oebykus adalah khazanah kata-katanya. Orang yang menguasai kata-kata, seharusnya juga menguasai perdamaian atas peperangan. Istilah bahasa Belanda yang pernah diajukan oleh Amir Pasaribu adalah meester op alle wapens: pendekar atas segala senjata. Seorang penulis bertanggung jawab menyampaikan pengetahuan lewat semua bentuk karya tulis fiksi dan nonfiksi, dituntut untuk menjadi master of all weapons.
***
Ada dua belas pengetahuan tentang gaya bahasa sebagai kekayaan bahasa Indonesia:
1) Aliterasi (alliteration): huruf awal yang sama pada setiap kata dalam suatu kalimat. Contoh: "Salah satu sahabat saya paling sayang."
2) Antanaklasis (antanaclasis): pengulangan kata yang sama dengan makna yang terbalik dan berbeda. Contoh: "Air mata tumpah di mata air."
3) Antitesis (antithesis): mukabalah (perbandingan atau pertentangan) dua kata kosokbali (berlawanan, seperti memberi dan menerima, serah-terima) dalam pengertian tunggal. Contoh:"Yang cantik dan yang jelek sama-sama pandai."
***
4) Khiasma (chiasma): pembalikan susunan kalimat yang menghasilkan makna yang bertentangan. Contoh: "Si jelek mengira dirinya cantik, dan si cantik mengira dirinya jelek."
5) Eufimisme (euphimism): gaya bahasa yang ungkapannya berenda-berbunga. Contoh: "Miskin dibilang prasejahtera, lapar dibilang kurang gizi."
6) Metafora (metaphor): penggunaan kata yang tidak lazim untuk memberikan gambaran tertentu untuk suatu wujud. Contoh: "Aku menangis senang, kau ketawa sedih."
Sepertinya ada banyak contoh yang lebih mudah dimengerti, deh. Misal, "Trampolin di hatiku melonjak-lonjak kala ia menjejakkan kakinya di hidupku."
***
7) Oksimoron (oxymoron): penyatuan sepasang kata yang maknanya berlawanan dalam bahasa. Contoh: "Wong cilik gedean."
8) Paraleipsis: penyebutan yang kelihatannya sambil lalu dalam sebuah kalimat untuk kesan basa-basi. Contoh:"Tanpa mengurangi rasa peduli."
9) paronomasia: permainan kata yang bunyinya cenderung sama dan terbalik beda arti. Contoh: "Menyatakan kesungguhan cinta dengan cinta yang palsu."
***
10) silepsis (syllepsis): penerapan kata tertentu dengan kata lain yang menjadikannya berarti khas. Contoh: "Hujan uang, banjir ketawa."
11) similis: gaya bahasa yang membandingkan dengan sesuatu. Ciri-cirinya, menggunakan kata 'bagai', 'laksana', 'seperti', 'ibarat'. Contoh: "Gayanya seperti setan kebakaran jenggot"
12) zeugma: rangkaian kata dengan makna yang berlawanan dalam satu kalimat tunggal (mufrad). Contoh: "Kita harus bersikap keras dan lembut terhadap musuh di negeri Jiran."
***
Dalam bab KEBUDAYAAN MENULIS, tiap orang dihadapkan pada kemauan untuk bertanya dan keharusan untuk menjawab persoalan-persoalan yang menarik, sesederhana atau seumum apa pun persoalannya. Dengan begitu kita belajar melatih diri untuk menjadi cerdas dan berbudaya.
Contoh yang diberikan buku ini adalah bertanya tentang apa makna "Bhinneka Tunggal Ika"? Itu adalah kalimat ringkas dari Sutasoma karya Empu Tantular. Kalimat lengkapnya Siwatattwalawn buddhatattwa tunggal bhinneka tunggal ika, tanhana dharma mangrwa. yang berarti Siwa dan Buddha itu satu adanya, dibedakan namun satu jua, tiada ajaran agama yang bersifat mendua. Maknanya adalah dharma dan sinkretisme Hindu-Buddha yang jadi aliran kepercayaan khas Jawa zaman itu.
Jika kita ingin menulis lebih lengkap tentang itu, maka kita akan terpicu untuk mencari makna "sinkretisme", "dharma", "Hindu", "Buddha", dan kata kunci lainnya.
Jika mau menulis karya tulis baik nonfiksi maupun fiksi, pertanyaan-pertanyaan itu dibuat dalam dua kerangka dasar:
1) premis: kita bertanya 2) tema: kita menjawab
Misalnya, premisnya adalah: "Mengapa bhinneka tunggal ika itu penting?". Contoh jawaban dari kita: "Supaya orang bisa jadi dirinya sendiri tanpa menyinggung perasaan orang lain". Jadi temanya adalah harmoni dalam diversitas.
***
Kita terangsang ingin jadi penulis karena kita membaca tulisan orang lain. Beberapa nama para penulis yang bisa merangsang orang untuk belajar dari kepandaian mereka, dan media yang memuat karya mereka, yang disebutkan pada bab ini adalah: M.A.W. Brouwer di Kompas, Mahbub Djunaidi di Duta Masjarakat, Rosihan Anwar di Pedoman, Mochtar Lubis di Indonesia Raya, dan Goenawan Mohamad di Tempo.
***
Berikut adalah asal mula terjadinya kosakata-kosakata tertentu dalam bahasa Indonesia
1) Aferesis (apheresis): penghilangan huruf awal pada suatu kata sehingga melahirkan fonem tertentu. Contoh: 'akan' jadi 'kan'; 'empunya' jadi 'punya'; 'ceria' jadi 'ria'.
2) Apokop (apokop): pencabutan fonem tertentu di akhir kata. Contoh: 'riang' jadi 'ria'; 'sarung' jadi 'saru' (yang tak pakai sarung tampak saru).
HAH? BWAHAHAHAH #PLAK! #UPS
3) Epentesis (epenthesis): fonem yang berubah karena masuknya huruf tertentu di tengah kata. Contoh: 'glas' jadi 'gelas'; 'upat' jadi 'umpat'; 'sajak' jadi 'sanjak'; 'telentang' jadi 'terlentang', 'upama' jadi 'umpama'.