"Cerpen-cerpen Damhuri Muhammad membuat saya serasa sedang berkelana di negeri legenda. Itulah, saya kira, kekuatan para pengarang muasal Sumatera Barat." — Veven Sp. Wardhana, penikmat budaya massa
Cerpenis muda berbakat Damhuri Muhammad menyajikan kumpulan karya terpilihnya yang telah tersebar di pelbagai media massa se-Indonesia.
Dengan menjelajahi ragam tematik dan ekplorasi prosaik, antologi ini berusaha menyoroti khazanah keMinangkabauan (dan lebih luasnya keIndonesiaan) yang pelan-pelan tergerus arus kapitalisme global dengan segala kepelikannya.
"Lidah Sembilu adalah upaya Damhuri Muhammad untuk tak terjebak antara romantisme tradisi dan kilau modernitas. Ia mengarungi kekayaan khazanah lokal Minang tanpa membiarkan diri terperangkap oleh klise (“Perempuan Berkerudung Api”), menerobos ke jantung gaya hidup modern (“Karnaval Pusar”), atau kenangan pada lawan jenis yang berhasil menghindari jebakan melodramatik (“Rindusorang”). Kosa katanya berlimpah. — Akmal Nasery Basral, jurnalis & novelis
Dikirim langsung oleh penulisnya lengkap dengan tanda tangan...oh senangnya.
Baru dibaca setelah beberapa lama. Damhuri Muhammad memang gudang kata-kata. Dari kumpulan cerpen ini yang paling aku suka cerpen berjudul "Menantu Baru", membuat haru dan khas sekali kisah orang Indonesia.
Ya...menurutku penulis merupakan salah satu penulis sastra otentik Indonesia. Semua cerita berakar dari kisah dan budaya Indonesia, terutama masyarakat dan budaya Minang.
Pernahkan kau mendengar cerita tentang negeri yang tak membutuhkan Matahari? Sebuah perkampungan yang sepanjang waktu mandi cahaya karena disirami sinar yang berasal dari seribu Bulan. Bila sinar yang memancar dari satu bulan saja sudah mampu menyulap malam menjadi siang, sulit menggambarkan betapa terang benderangnya cahaya yang terpancar dari 1000 Bulan. Maka disebutlah negeri itu; Negeri Malam 1000 Bulan. Konon, tak ada permintaan yang tak terpenuhi disana. Tak ada ambisi yang tak dapat diraih. Karena, tak ada doa yang tak dikabulkan. (Berhala Kertas – Damhuri Muhammad)
saya mau meminta maaf kepada sang penulis buku ini, kerena tidak membacanya saat saya membelinya beberapa bulan yang lalu. mo o da, dak joleh dek awak kalo buku ko kiro e babayo de, baru tadi malam wak sempat mambaco e, nieknyo sih iseng-iseng ajo, tp pas wak baco "wow" dan ternyata ini kumpulan cerpen yang cengangkan, jujur saya kaget dengan cara penulis menulis cerpennya. simple namun tidak biasa. loved it.
Baru saja membaca buku ini, jauh sesudah terbitnya pada 2006 lalu oleh Marjin Kiri. Ya, membeli kumcer ini lebih karena penasaran bagaimana karya sastra yang diterbitkan Marjin Kiri pada awal penerbitan tersebut berdiri. Dan hasilnya saya kira tidak begitu mengecewakan. Damhuri Muhammad melalui kumcer Lidah Sembilu ini menyajikan cerpen-cerpennya yang sebelumnya sudah terbit di berbagai harian di Indonesia. Dalam beberapa hal, saya masih kurang mantap dengan cara penyajian alur cerita yang seringkali sering mudah ditebak hasil akhirnya. Namun pada dasarnya cerita-cerita yang dihadirkan memang cukup "ngena" dan menohok. Misalnya saja, "Anak-anak Peluru" yang berkisah soal seorang ibu yang ditinggal anak-anaknya (semuanya) untuk merantau. Damhuri cukup banyak menyajikan hal-hal yang dekat dengan keseharian.
Sudah pernah baca karyanya Damhuri Muhammad sebelumnya, terbitan Marjin Kiri juga dan suka, akhirnya beli lagi ebooknya di Playbooks. Cerpennya tetap menarik dan asyik banget dibaca.
Judul favorit : - Perempuan Berkerudung Api - Anak-anak Peluru - Tuba - Menantu Baru - Keranda Kerinduan
“Bukankah kau telah menabung luka selama bermusim-musim? Mengacalah pada bekas luka-luka itu! Kelak lidahmu bakal fasih merangkai kisah”, Kisah yang Terkubur.
Lidah Sembilu adalah kumpulan 16 cerpen dari Damhuri Muhammad. Secara garis besar dari kumpulan cerpen ini saya kategorikan dalam dua tema.
Pertama tentang hal-hal gaib yang bersifat percaya tidak percaya termasuk dalam kategori ini ; Tuba, Perempuan berkerudung api, Buya, dan Lidah Sembilu. Cerpen Tuba,kisah bupati yang mati konon diguna – gunai karena ia terlalu lurus. Ia tidak membangun kampung kelahirannya setelah terpilih jadi bupati karena kampung kelahirannya berstatus sama dengan kampung – kampung yang lain. Cerpen Perempuan berkerudung api tentang Nilam Sari,gadis cantik dan siap menikah namun setiap lelaki yang meminangnya lari tunggang langgang sebelum akad nikah. Cerpen Buya,cerita seorang dipanggil ‘Buya’ yang memiliki tujuh bayangan. Dia menghilang terakhir kali bersamaan dengan kebakaran di Ka’bah, Mekkah. Cerpen Lidah sembilu yang menjadi judul dari kumpulan cerpen ini bercerita tentang seorang perempuan yang memasang susuk di lidahnya. Lidah yang lunak ini bisa mengiris-iris tajam hati pria yang mencintainya.
Kedua tentang merantau. Cerpen Taman Benalu, Menantu Baru, Anak Peluru, dan Merantau Cina membahas tema ini. Walaupun tidak hanya orang Minang saja yang merantau tapi merantau sudah menjadi ciri khas dari orang Minang. Kecemasan orang tua pada anak yang hidup di perantauan, takut anak cucunya putus dari kampung halamannya dan lupa dengan ‘akar’nya. Seperti anak peluru, yang sekali dilepaskan tidak kembali ke moncong senapan. Ketika anak-anak muda merantau, orang-orang pendatang di kampung lambat laun justru menjadi orang yang lebih baik dari segi ekonomi. Seakan-akan tidak menjadi tuan di rumah sendiri. Pulang kampung untuk menengok orang tua saja jarang dilakukan bagaimana selepas orang tua meninggal dunia. Harta warisan seperti rumah, sawah mungkin menjadi simpanan terakhir yang menghubungkan perantau dengan kampung halamannya. Beberapa tokoh utama dari kumpulan cerpen ini antagonis membuat tema tersebut diulas dari perspektif yang berbeda.
Di luar dari dua kategori diatas ada dua cerpen yang menarik buat saya yaitu Rindusorang dan Kisah yang Terkubur. Di cerpen Rindusorang yang berlatar belakang di kota yang dijuluki ‘Serambi Mekkah’ terdapat perubahan pergaulan anak mudanya. Yang agak beda yaitu cerpen Kisah yang Terkubur yang mengambil setting di Aceh. Kisah yang bikin bergidik mengenai tindak kekerasan yang dilakukan oleh tentara.
This entire review has been hidden because of spoilers.
kumpulan cerita pendek Damhuri ini dituturkan dengan menarik dan lincah. Dalam buku ini, tidak jarang, kejutan-kejutan kecil menggelitik kesadaran pembaca untuk merenungkan realitas kehidupan ini dengan segar.
Karakter-karakter tokoh yang kuat ditampilkan dalam cerita-cerita ini pun rasanya tampak hadir dipermukaan. Inilah yang kadang membuat pembaca bisa senyam-senyum sendiri, bahkan kalau tidak tahan bisa ketawa keras, sehingga orang yang melihat orang membaca buku ini tampak gila. seru banget.
This entire review has been hidden because of spoilers.
kurang puas. ada beberapa cerpen yang ga dapet closure-nya buat gw. *bawel* ada yang ga ngerti endingnya *bebal* dan yang pang gw ga duga endingnya itu "Berhala Kertas" dengan kemunculan tiba-tiba Kyai Haidar.
Ini salah satu kumpulan cerpen paling tajam, mengenaskan, tapi juga membangkitkan yang pernah saya baca. Damhuri Muhammad menjanjikan kita berbagai episode kehidupan dengan aneka rangkai kata pamungkas.