Jump to ratings and reviews
Rate this book

Imperia #1

Imperia

Rate this book
Novel asli dalam negeri berjudul Imperia dikarang oleh Akmal Nasery Basral, lulusan Fisip UI yang bekerja sebagai wartawan di majalah Tempo. Dengan latar belakang sebagai jurnalis Akmal menulis novel ini dengan proses riset yang dalam dan didukung dengan pengalaman satu dekade sebagai wartawan menjadikan novel ini enak dibaca, rasa penasaran dan membuat pintar.

Novel setebal 422 halaman dimulai dengan adegan pembunuhan seorang pengacara muda keponakan seorang tokoh militer berpengaruh. Pada mayatnya ditemukan Quick Shok, peluru yang bisa pecah menjadi tiga bagian di dalam tubuh. Tersangka utama adalah seorang diva yang pernah menjadi klien sang pengacara dalam kasus plagiarisme terbesar dalam sejarah musik Indonesia .....

DDC: 813

434 pages, Paperback

First published January 1, 2005

4 people are currently reading
71 people want to read

About the author

Akmal Nasery Basral

29 books28 followers
Akmal Nasery Basral adalah wartawan dan sastrawan Indonesia. Kumpulan cerpen pertamanya Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) yang terdiri dari 13 cerpen termasuk long-list Khatulistiwa Literary Award 2007. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Saat ini tinggal di Cibubur, Bekasi, bersama istri, Sylvia, dan ketiga putri mereka, Jihan, Aurora, Ayla.

Sebagai wartawan ia pernah bekerja untuk majalah berita mingguan Gatra (1994-1998), Gamma (1999), sebelum bekerja di majalah Tempo (2004-sekarang). Ia juga pendiri dan pemimpin redaksi majalah tren digital @-ha (2000-2001), serta MTV Trax (2002) yang kini menjadi Trax setelah kerjasama MRA Media Group, penerbit majalah itu, dengan MTV selesai

Sebagai sastrawan ia termasuk terlambat menerbitkan karya. Baru pada usia 37 tahun, novel pertamanya Imperia (2005) terbit, dilanjutkan dengan Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006), serta Naga Bonar (Jadi) 2 (2007), novel dari film box-office berjudul sama yang disutradarai aktor kawakan Deddy Mizwar.

Di luar minatnya pada bidang jurnalistik dan sastra, Akmal Nasery Basral juga dikenal sebagai pengamat musik dan film Indonesia. Ia termasuk anggota awal tim sosialisasi Anugerah Musik Indonesia. Ketika sosialisasi terhadap penghargaan utama bagi insan musik Indonesia ini dilakukan pada 1997, kalangan jurnalis diwakili oleh Akmal dan Bens Leo. Pada pergelaran AMI ke-10 (2006), Akmal ditunjuk sebagai ketua Tim Kategorisasi yang memformat ulang seluruh kategorisasi penghargaan.

Di bidang perfilman Akmal menjadi satu dari lima juri inti Festival Film Jakarta ke-2 (2007), bersama Alberthiene Endah, Ami Wahyu, Mayong Suryo Laksono, dan Yan Widjaya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
22 (14%)
4 stars
42 (27%)
3 stars
63 (40%)
2 stars
24 (15%)
1 star
3 (1%)
Displaying 1 - 30 of 30 reviews
Profile Image for Ferina.
193 reviews33 followers
September 10, 2007
Judul buku ini cukup bikin gue pengen tahu, apa atau siapa sih Imperia itu? Dan setelah tertunda lama, akhirnya gue berhasil menamatkan buku ini. Ternyata Imperia itu adalah nama sebuah patung di Konstanz, Jerman. Patung ‘pelacur’ dan uniknya patung ini, di kedua tangannya, ada masing-masing satu orang laki-laki yang sangat berpengaruh di jamannya. Jadi, ternyata profesi yang ‘dilecehkan’ banyak orang, bisa membuat dua orang pemimpin bertekuk lutut.

Terus apa hubungannya dengan cerita di novel ini? Dari novel ini, ‘dibuka’ seluk-beluk permainan dalam industri musik, dalam dunia jurnalistik, dan dunia seorang diva.

Cerita dibuka dengan pembunuhan seorang laki-laki, yang ternyata bekas pengacara diva yang lagi ngetop banget. Inti novel ini sebenarnya tentang balas dendam dan iri hati. Di tengah-tengah cerita, mungkin bakal sempet nebak siapa pembunuh atau siapa yang ada di belakang pembunuhan itu. tapi, pinternya si penulis, dugaan kita bakal ‘dibuyarkan’ dengan munculnya tokoh lain yang juga bisa jadi tersangka.

Yang kadang bikin males baca novel ini, beberapa tokoh digambarkan ‘sempurna’ banget. Misalnya si Diva, Melanie Capriaci atau disingkat MC (‘maksa’ mirip KD?), perempuan yang cantik banget, diplomatis, punya suami yang pengertian, punya tiga anak, pernikahan yang digambarkan sempurna, dan diam-diam pinter banget. Tapi, ternyata , dibalik yang sempurna itu, MC juga bisa main ‘gila’ sama seorang Jendral. Hmmm, sekilas, mirip Diva di Supernova. MC ini yang ‘nge-fans’ banget sama Imperia. Seolah MC ini ‘jelmaan’ Imperia.

Terus, ada Shalimar, managing director K-Sound, perusahaan yang ngeluarin album MC. Meskipun gak penting-penting amat, tapi lumayan panjang cerita tentang background Shalimar ini. Anak muda, baru umur 23 tahun, tapi udah jadi managing director di perusaahan rekaman top.

Ada juga Stefan, anak muda yang nemenin Wikan jalan-jalan di Konsztan, wartawan yang baru lulus yang awalnya ditugasin hanya untuk wawancara MC sehubungan dengan album terbarunya, malah terlibat lumayan jauh dalam kasus ini. Nah, Stefan ini sebenarnya juga gak penting-penting amat, tapi tetap diceritain dalam porsi yang lumayan (masih wajar sih, dibanding cerita si Shalimar), diceritain kenapa dia bisa jadi gay.

Adegan percintaan boleh dibilang digambarkan dengan bahasa yang indah. Terus, cara penggambaran waktu Wikan jalan-jalan antara Swiss dan Jerman.. kaya’nya indah banget, sambil sekali-sekali ngebandingin dengan keadaan di tanah air… jadi iri dan pengen liat juga. Yang bagusnya juga, ‘sejarah hidup’ Wikan, gak diceritain berpanjang-panjang dalam satu bagian, tapi ‘tersebar’ di beberapa kejadian yang dia alamin. Misalnya waktu naik kereta, dia inget naik KRL jurusan Jakarta-Depok, atau pas dia cerita kapan dia bisa dapat ‘penglihatan’. Jadi pas gue baca, gue gak merasa ada ‘kesombongan’ dalam cerita itu, seperti bagain Shalimar atau MC.

Dan ending novel ini juga bagus, meskipun ketahuan siapa sih sebenarnya otak pembunuhan itu, dan apa motifnya, gak ada tuh ending dengan cerita penangkapan si pembunuh. Yang ada malah another conspiracy.

Untungnya sih, ada background pembunuhan, kalo gak bakalan cape’ baca riwayat hidup tokoh-tokoh, yang kadang (menurut gue) gak penting. Selain itu, bisa dapet info tentang musik, kaya’ R.E.M, The Doors, atau pemain gitar yang mungkin blom pernah gue denger namanya. Atau juga info tentang buku-buku Gabriel García Márquez, penulis favorit Wikan, si wartawan, atau bahkan sejarah tempat-tempat wisata di Jerman.
Profile Image for Amaya.
753 reviews58 followers
December 31, 2025
Jika ada yang bikin mood bacaku bulan Juli meroket, buku ini alasan besarnya. Iseng nyari daftar bacaan, malah ketemu dengan trilogi superbagus ini. Agak ragu bakal menyelesaikan bukunya dengan waktu singkat karena rata-rata halaman per bukunya 300 lebih. Tapi, hey, ini bagus banget! Bahkan nggak sampai dua hari, bukunya udah habis kulalap wakakak.

Novel ini bahas satu karakter utama yang nantinya bakal muncul terus di dua buku selanjutnya. Wikan, si reporter junior yang kena "hukuman" di hari pertamanya meliput launching album seorang penyanyi kenamaan, MC--Melanie Capricia, akhirnya harus menjalani dinas ke luar negeri karena kematian salah satu pengacara sensasional di negeri ditemukan tewas dan diduga MC punya hubungan dengan ini.

Mulai dari ketidakantusiasannya waktu meliput sehingga melontarkan pertanyaan asal yang ternyata malah ditanggapi serius bahkan MC rela diwawancara secara pribadi kemudian, kehidupan Wikan penuh teror setelahnya. Oh, lebih pasnya banyak rahasia yang kebuka.

Kasusnya memang melebar, tapi di buku pertama kayaknya fokus ke pengenalan karakter dan latar, jadi nggak banyak yang bisa dibahas selain penjelasan mengenai kehidupan si MC sebelum tenar beserta manajer dan suaminya, dll. Pokoknya yang nggak sabaran bakal berpikir buku ini isinya kebanyakan info. Tapi justru ini pondasinya sebelum masuk ke kasus yang lebih besar.

Ending-nya mancing banget, btw. Mancing buat segera dibaca lanjutannya. Kalau nggak punya waktu lowong agak panjang, kayaknya jangan baca dulu, deh, karena candu banget. Entar malah kepikiran lanjutannya gimana wkwk.

Pencinta thriller dan misteri lokal mesti banget baca ini.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,358 reviews43 followers
April 21, 2019
Ya ampun... Ini buku pertama dari sebuah trilogi? Kok bisa, apakah kedua buku berikutnya bakal tanggung kayak begini?

Oke, kita paparkan hal asyik2nya dulu.
Satu, tokoh yang katanya adalah tokoh utama adalah seorang lulusan S1 FISIP UI yg katanya punya prestasi cemerlang. Sang tokoh, Wikan Larasati, diterima menjadi reporter sebuah majalah berita mingguan yg cukup mentereng. Sampai sini kayaknya bakal asyik ya. Apalagi latar cerita kira2 tahun 2000-an awal. Jadi nostalgia pada kegiatan saya di masa yg sama.

Dua, ada bonus cerita jalan2 ke Jerman, yaitu ke kota Konstanz yg belum pernah saya tahu punya beberapa daya tarik. Lumayan buat masuk daftar jalan2 kalau nanti ada rezeki.

Tiga, pekerjaan Wikan ternyata bersinggungan dgn pembunuhan tokoh ternama. Sebagai manusia haus darah, kayaknya cerita ini bakal seru.

Sekarang hal kurang asyiknya.
Satu, plis deh, apa sih kerennya Wikan ini sampai disebut cerdas dan cemerlang sebagai reporter baru segala rupa? Pengarang tidak memberi latar, misalnya dia pernah jadi ketua BEM, atau Mapres UI, atau Redpel SuMa (eh, itu mah saya, wkwkwk...) atau magang di UNHCR, atau magang di Al Jazeera, atau memimpin demo depan istana atau kasih kartu kuning pada presiden atau apaaaa... Sungguh tak jelas. Latar belakang pengetahuan jurnalistiknya juga tak ada dikisahkan.
Nggak heran saat hari pertama kerja meliput konpers album baru seorang penyanyi, dia malah kayak kerbau dicocol hidung oleh si penyanyi. Hah, reporter apaan tuh.

Dua, plis juga deh. Latar kantor redaksi mingguan Dimensi ini nggak kelihatan meyakinkan. Hari pertama Wikan diterima bekerja, dia adalah satu-satunya reporter baru, langsung ikut rapat redaksi pula. Katanya Dimensi ini mingguan berita berbobot, tapi apa iya tiap rekrutmen awak redaksi baru hanya memungut satu orang, tanpa kemampuan yang jelas pula!
Itu majalah atau geng main skateboard?

Ketiga, alurnya nggak rapi. Maju mundur pengisahan dijalankan begitu saja.

Empat, penokohan nanggung, kebanyakan tokoh juga. Wikan tahu2 bisa jadi wartawan keren dgn berita eksklusif tapi di dunia nyata kan nggak pernah ada yg segampang itu, Rosalindaaa...!

Lima, maunya ini novel thriller, kriminal juga, tapi ujungnya nggak jelas. Polisi cuma cameo di tengah penemuan mayat

Sudah ah. Nggak janji saya akan cari dan baca lanjutannya.
Profile Image for Pirhot.
26 reviews4 followers
September 24, 2008
pertama kali ngeliat buku ini di jajaran buku2 novel/sastra di Gramedia Bandung kemaren (27 Juni 2006), gw cuma tertarik ama ilustrasi cover-nya yang sekilas mengingatkan gw terhadap Goddess of Justice, seorang dewi yang memegang timbangan di tangan kiri dan pedang di tangan kanan dengan mata tertutup. setelah membaca novel ini, ternyata interpretasi terhadap ilustrasi cover buku ini (selanjutnya disebut dengan Imperia) jauh berbeda dengan pengertian gw akan Goddess of Justice.

gw ga cukup akrab dengan nama penulisnya, entah karena gw udah lama ga nyari referensi di MATABACA, atau ga terlalu detail ngeliat di mailing list, tapi gw cukup yakin kalau ini penulis baru. dan emang bener, Akmal Nasery Basral ini adalah penulis novel yang baru. meski kalau gw bilang dia adalah penulis baru, rasanya kurang pas, mengingat dia adalah wartawan salah satu majalah paling top di Indonesia, TEMPO. ketika gw ngambil buku ini, sebisa mungkin gw mendapatkan informasi sebanyak apapun dengan kondisi buku masih tertutup plastik. tapi mau gimana, dengan kondisi kaya gitu gw cuma bisa mendapatkan informasi dan gambaran tentang buku ini dengan sangat terbatas. akhirnya, terpaksa gw ngebuka plastik itu. dan ternyata, gw ga bisa mendapatkan informasi lain lagi. di dalam buku itu justru ga ada penjelasan lebih jauh tentang penulisnya. jadi informasi tentang penulisnya memang cuman sebanyak 4 baris di cover belakang buku ini, dan sisanya adalah komentar-komentar dari orang-orang yang udah ngebaca buku ini lebih awal. mengenai masalah komentar ini, gw ngerasa khas banget komentar di novel2 Indonesia pada saat ini, overscored, overjudgment, or whatever you call it. semua komentar di sini ngebuat seorang penulis novel baru udah bisa disejajarkan dengan penulis yang udah lebih dulu malang melintang di dunia penulisan novel. well, ternyta komentar itu semua baru bener2 gw pahami ketika gw udah selesai ngebaca novel ini.

prolog novel ini mengingatkan gw pada salah satu novel bestseller yang telah ngebuat kontroversi dengan isu lapuk yang dibawanya, The Da Vinci Code (TDVC). namun alur selanjutnya sama sekali berbeda dengan TDVC, yang menurut gw terlalu Hollywood dengan segala konspirasi-nya yang mudah sekali ditebak. Imperia mempunyai alur cerita yang cukup variatif, dengan tidak hanya menyajikan alur maju, namun juga beberapa kali menyajikan alur mundur yang cukup panjang. berbeda dengan TDVC yang menyajikan alur mundur hanya kepada Robert Langdon atau Sophie Neveu, dalam Imperia beberapa tokoh juga diceritakan tentang masa lalunya dengan cukup rinci. jika konspirasi dalam TDVC dibandingkan dengan Imperia, gw cukup bisa meyakinkan diri gw bahwa konspirasi dalam novel ini jauh lebih tidak terduga dibandingkan dengan TDVC atau novel Dan Brown lainnya (Deception Point, Digital Fortress, Angels and Demons) dan thriller yang dibangun dalam Imperia juga ngebuat gw cukup enggan melepaskan buku dari genggaman kecuali mau melakukan metabolisme. well, gw masih belum berani mensejajarkan percampuran alur maju-mundur, konspirasi, dan thriller yang dibangun oleh Akmal dalam Imperia dengan penulis setipe yang telah lebih dulu gw tau lewat novel2nya. misalnya John Grisham, Tom Clancy, Michael Crichton, atau Robert Ludlum. tentu kalau gw memperbandingkan Akmal dengan penulis2 tersebut, gw sama aja ga ngebuat komparasi apple to apple karena dari segi pengalaman dalam dunia penulisan novel, penulis2 tersebut sudah memulai karir penulisan novel jauh lebih dulu sebelum Akmal. namun kalau dibandingkan dengan penulis cerita sejenis di Indonesia yang udah gw baca, misalnya, Es Ito yang menulis Negara Kelima atau Eliza V. Handayani yang menulis Area X, Imperia jauh lebih menarik bagi gw. Imperia tidak membuat cerita thriller yang jauh dari jangkauan gw, karena kondisi faktual di dalam Imperia masih dapat gw visualisasikan sendiri dengan rasionalitas yang tidak dibuat-buat. berbeda dengan Negara Kelima yang cukup melayang-layang dengan segala bentuk mitologi dan suatu gerakan bawah tanah yang berusaha mewujudkan sesuatu, dan juga berbeda dengan Area X yang cukup progresif dengan deskripsi Indonesia yang sudah hi-tech dan masih saja berkutat dengan topik mengenai extra-terrestrial. well, ga bisa gw pungkiri bahwa gw suka dengan topik yang diceritakan dalam Negara Kelima dan Area X, namun ketika membaca Imperia gw ngerasa novel ini jauh lebih masuk akal dengan deskripsi tokoh2nya yang bisa gw pahami karena sempat berada dalam kondisi seperti itu.

latar belakang penulis sebagai seorang wartawan/jurnalis, membuat deskripsi tentang dunia tersebut yang mendominasi seluruh cerita dalam novel ini menjadi lebih hidup. suasana yang ditulis dalam novel ini bisa membuat gw membayangkan kondisi di kantor pers dengan rapat2 menuju deadline, persaingan antara wartawan senior-junior, jurnalis baru yang sangat polos dan idealis dalam menjalankan profesinya sebagai pers, dan lainnya. gw yang amat berminat untuk terjun dalam dunia jurnalistik, mendapatkan deskripsi yang baik dalam buku ini, meski memang tidak mungkin mendapatkannya secara rinci namun cukup untuk mengerti bagaimana kultur bekerja dalam dunia jurnalistik. gw ga bisa berkomentar mengenai jurnalisme yang tertuang dalam novel tersebut, karena gw sendiri tidak mempunyai cukup pengalaman untuk mengetahui seluk-beluk jurnalisme sehingga rasanya tidak layak untuk berkomentar apakah penceritaan mengenai jurnalis dalam novel ini berlebihan atau tidak.

penulis novel ini, Akmal, dapat gw liat melakukan riset yang cukup mendalam untuk semua hal yang dia tumpahkan dalam buku ini. mulai dari topik-topik sepele seperti pindahnya kantor redaksi majalah dari tempat yang lebih mahal ke tempat yang lebih murah, atau topik yang belum bisa diketahui kebenarannya seperti ESP (Extra Sensory Perception) atau mengenai extra-terrestrial being seperti alien nordic, grey, dll dll. bahkan riset dia mengenai kota kecil di Jerman (Konztanz, yang baru gw tau sejak ngebaca buku ini) bisa dibilang sangat rinci mulai dari deskripsi kereta yang ada di sana, suasana kota, nama2 kota yang dekat disitu. gw ga tau apakah dia memang pernah mengunjungi Konztanz sehingga mampu membuat deksripsi seperti itu, atau hanya melakukan riset literatur, tapi yang pasti segala sesuatunya dideskripsikan dengan jelas. meskipun gw cukup terganggu dengan cerita ketika salah satu tokoh di buku tersebut mengunjungi Jerman, dan Akmal menggambarkan kondisi di Jerman (mulai dari turun pesawat hingga sampai ke Konztanz) terlalu rinci sehingga membuat penjelasannya menjadi tidak penting dan akhirnya gw skip untuk melanjutkan ke cerita yang sebenarnya. ritme cerita thriller yang dibangun oleh Akmal menjadi "kebanting" dengan adanya pendeskripsian dia mengenai Jerman yang gw rasa terlalu berlebihan dan sebenarnya tidak terlalu penting untuk diceritakan (karena tidak ada hubungannya sama sekali dengan cerita, bahkan tidak ada hubunga dengan patung Imperia). ketika gw ngebaca Tom Clancy, ataupun John Grisham, bahkan Dan Brown, mereka mampu membuat deskripsi yang ada dalam novel mereka tetap mampun menjaga ritme cerita, sehingga tidak turun pada pertengahan penceritaan. bahkan mereka mampu untuk membuat deksripsi mengenai suatu hal dalam novel mereka menjadi berhubungan dengan cerita utama dalam novel mereka. namun gw rasa Akmal sendiri mampu membuat cerita thriller yang lebih baik dibanding penulis2 luar negeri dalam novel2 selanjutnya. Imperia itu sendiri adalah sebuah patung yang berada di Jerman

ada hal teknis yang mengganggu ketika gw ngebaca Imperia. penulisan footnote yang tidak sesuai dengan konvensi selama ini cukup ngebuat gw bingung untuk memastikan footnote mana yang sedang gw baca. memang ada pembedaan untuk setiap hal yang ada footnote-nya, misalnya pemakaian 1 tanda dintang "*" dan pemakaian 2 tanda bintang "**" atau pemakaian simbol lain. namun gw rasa, sebagai seorang penulis senior Akmal seharusnya mampu membuat penulisan footnote lebih enak untuk dibaca dan tidak menimbulkan kebingungan. mungkin Akmal menghindari kesan serius dalam novel sehingga membuat penulisan footnote dalam novelnya tidak disesuaikan dengan penulisan akademis yang berlaku. bahkan Adhitya Mulya (yang belum bisa digolongkan dalam penulis senior seperti Akmal) menulis footnote/endnote dalam novel perdananya Jomblo lebih baik dibanding Akmal. karena buku yang gw baca ini masih cetakan pertama, gw rasa akan lebih baik jika dalam cetakan kedua penulisan footnote diperbaiki sesuai dengan kebiasaan yang ada.

ketika membaca novel ini sampai khatam gw langsung bingung untuk menjawab pertanyaan gw yang bergulir selama gw baca, "siapa tokoh utamanya??". Akmal memberikan porsi penceritaan terhadap masing2 tokoh dengan berimbang, sehingga sulit menentukan siapa yang menjadi tokoh utama. pada awalnya, gw merasa bahwa Wikan adalah pembawa alur cerita, namun setelah bertemu dengan tokoh lain seperti Melanie Capricia (MC), Rendra, Adel, sang Jendral, dll dll gw semakin bingung karena Akmal menceritakan latar belakang masing2 tokoh dengan terperinci dan tidak membiarkan Wikan mendominasi alur cerita. well, anyway meskipun ngebuat bingung tapi penceritaan seperti ini ga ngebuat gw terganggu dengan keseluruhan cerita, karena gw cukup jenuh dengan novel2 standar yang menempatkan adanya satu karakter utama yang mendominasi keseluruhan cerita.

keep up the good work. I'll wait for the next novel.
Profile Image for R-Qie R-Qie.
Author 4 books9 followers
July 11, 2019
Wikan Larasati, reporter baru di majalah berita Dimensi, mengalami tekanan di hari-hari pertama kerjanya. Kesalahan demi kesalahan membuat kepercayaan dirinya menurun. Beruntung ia bertemu dengan Hastomo, seniornya di kantor yang memberi semangat dan membukakan jalan untuk membuktikan kemampuannya. Melalui kasus pembunuhan pengacara muda yang dikaitkan dengan seorang diva bernama MC, Wikan berusaha membuktikan kemampuan jurnalistiknya. Hingga ia mengejar sang diva ke Kontanz, Jerman, demi mendapatkan berita akurat dan terdepan.

***

Saya pernah membaca novel ini dalam versi terbitan Akoer, 2005. Sama sekali lupa jalan ceritanya. Yang teringat, saya pusing membaca tulisan njlimet di dalamnya. Membaca versi baru jauh lebih mudah dinikmati. Saya sempat membaca kembali versi lama secara acak di sela menikmati versi baru. Tidak ada perubahan plot. Hanya lebih ringkas dan banyak bagian tak penting yang dihilangkan. Penulis menguasai betul dunia jurnalistik yang menjadi bagian latar dalam buku ini. Pengetahuan tentang musik, politik, dan kritik sosial juga digarap dengan baik. Hanya saja terlalu banyak hal yang hendak disampaikan penulis sehingga titik fokus utama kurang matang. Beberapa hal terasa diselesaikan dengan terlalu mudah. Indera keenam yang dimiliki Wikan sama sekali tidak memiliki pengaruh dalam cerita. Terkesan tempelan. Tanpa itu pun kisah tetap bisa berjalan. Beberapa kali penyebutan nama tokoh tertukar. Dan ada bagian di buku pertama dihilangkan, tapi lanjutan yang membahas tentang hal itu tidak diubah. Jika saya hanya membaca versi terbaru, mungkin saya akan bertanya-tanya dan mencari kapan dan di mana peristiwa ini terjadi? Kok ujug-ujug ada pembahasannya. Jika versi lama saya hanya akan memberikan satu bintang, versi terbaru saya beri tiga bintang.

***
Profile Image for Maiske Yunawati.
7 reviews
February 15, 2019
Baca buku ini karena tertarik dengan judulnya 'Ilusi Imperia' dan ternyata genrenya thriller, genre yg gw suka. Cukup menikmati kisah Wikan mencari fakta dibalik kasus pembunuhan Rangga dan MC yang mengagungkan patung Imperia. Dari awal gw udah berusaha biar gak nebak siapa pembunuh Rangga sebenarnya, let it flow aja gitu, walau sebenarnya udah mulai kebaca sih sejak tokoh Bapak diceritakan.

Gaya bahasa cocok sama selera gw sampai gak sadar udah kelar, walaupun ada beberapa bagian yang sengaja diskip karena bosan dengan deskripsi tentang sesuatu yang terlalu panjang dijabarkan. Beberapa tokoh pendukung juga diceritakan latar belakangnya padahal peran tokoh tersebut gak terlalu banyak.
Selain itu, yang gw rasakan agak sedikit samar pemeran utamanya di sini apakah Wikan atau MC, karena porsi MC cukup besar di novel ini.
Satu lagi yang disayangkan 4 kemampuan spesial wikan gak dimanfaatkan dalam menggali kasus Rangga dan tokoh Wikan disini lemah lembut banget, 2 kali diperdayai sama MC, padahal kalau kemampuan spesialnya dimanfaatkan lumayan lah buat Wikan jadi garang. Hehe

Ohiya bete juga sama tokoh Rendra, suami MC, yg terlalu manggut sama MC. Duh Mas kamu tuh keren tapi kok..... lembek :'(

Selebihnya, oke banget. Knowledge penulisnya keren karena ada beberapa hal yang tadinya gw gak tau jadi tau sejak baca novel ini , contohnya jenis alien, kemampuan yang dimiliki Wikan, dan tentang paganisme teknologi.


Endingnya bikin gw pengen baca buku keduanya. Oh Bapak ternyata kamu seseram itu........
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Naza N.
359 reviews10 followers
August 4, 2022
Warning: book with long-ass descriptions

Wikan, reporter baru di majalah berita 'Dimensi' ditugaskan untuk meliput acara peluncuran album pop terbaru Melanie Capricia, diva seksi yang dipuja-puja. Mulanya tidak ada hal yang menarik perhatiannya, sampai ketika MC membocorkan sedikit tentang kehidupan pribadinya dalam sebuah wawancara off record dan keesokan harinya, Rangga Tohjaya, mantan pengacara sang diva ditemukan tewas.

Buku ini isine wong gendheng kabeh.

Gaya penulisannya asyik, mirip cerita-cerita detektif yang dulu sering aku baca di majalah 'Intisari'. Tidak mengherankan, berhubung penulisnya seorang wartawan (atau mantan?). Misteri dan konspirasinya sendiri juga menarik untuk diikuti...

... jika saja ceritanya tidak melebar ke mana-mana.

Here's the thing. Aku bahkan bingung siapa tokoh utama yang sebenarnya. Wikan, kah? Akan tetapi, dia sendiri porsinya tidak banyak dan tidak membantu banyak dalam perkembangan cerita. Dia justru mirip anak ayam yang kebingungan sendiri setelah ditinggal induknya. MC? Adel? Dua-duanya lebih banyak kabur-kaburan, dan tidak ada deskripsi jelas tentang apa yang mereka lakukan yang punya kontribusi dalam misteri. Rendra? Bapak? Rangga? Eurgh.

Tapi, karena kepo, aku bakalan lanjut ke buku kedua. Semoga lebih baik dari yang ini, dan semoga Wikan bisa menunjukkan kecerdasanya sebagai lulusan S1 FISIP UI.

P.S. Begitu membaca bagian ending-nya, aku jadi paham maksud judulnya apa.
Profile Image for Desita Itsmystyle.
64 reviews5 followers
April 4, 2019
Yang jelas kalo kalian lagi nyari buku bertema pers, ini cocok banget. Calon reporter, wartawan, jurnalis, ayo merapat!
.
Nggak cuma menyajikan sistem kerja dunia jurnalistik yang begitu detail, buku ini juga menyinggung banyak isu. Mulai dari dunia hiburan khususnya musik, politik, pro-kontra gay, nasionalis vs realistis, psikologi, ESP, alien, cerita rakyat, astronomi, dan masih banyak lagi. Materi yang sangat kompleks.
.
Aku cukup beruntung membaca buku ini setelah menonton Bohemian Rhapsody. Setidaknya jadi tidak buta info-info sekitar musik yang disebutkan di sini. Informasi terkait seni dan sastranya juga menarik.
.
Konflik utamanya sendiri terangkai runtut. Nggak dibikin kesal seperti buku-buku yang membiarkan pembaca tanpa info sama sekali, tapi juga tidak TMI dan membiarkan pembaca menebak dengan mudah siapa dalangnya. Semacam misteri berlapis dengan perencanaan matang. Akan selalu ada keping baru yang melengkapi dan menciptakan hipotesis baru.
.
Kekurangannya karena banyak banget materi yang dijejalkan, kadang bikin nggak fokus. Tapi saja saja materi itu buat pengantar ke buku-buku selanjutnya, jadi aku nggak bisa banyak protes.
.
Kesan lainnya bisa baca di IG-ku: https://www.instagram.com/p/BtfXIe-BE1B/, https://www.instagram.com/p/BthV5lmA-r4/, https://www.instagram.com/p/BtjqfPhhOW3/, https://www.instagram.com/p/BtmYygXgqHH/
Profile Image for The Eod.
137 reviews6 followers
August 26, 2020
Untung ini trilogi, ya? Jadi saya nggak akan mencak-mencak dengan ending gantung hehe.

Bagian yang kusuka dari buku ini jelas tentang rincinya dunia wartawan, musik, sampai konflik sederhana tapi dikemas sangat kompleks. Aku tak menyangka dalangnya selama ini ya dia haha. Kadang teman terdekat itu bisa jadi orang paling bahaya. Penggambaran kota Konstanz itu sungguh rinci dan tidak terkesan seperti buku perjalanan karena pakai rasa sudut pandang Wikan.

Bagian yang kurang suka itu malah menjelang akhir konflik, pengennya agak dramatis gitu. Eh ternyata hahahaha. Tapi tidak apa-apa, realitanya tidak perlu dramatis. Bagi sebagian orang mungkin banyak telling sih.
Profile Image for Nadhira Yahdiyani.
17 reviews20 followers
November 8, 2018
i agree with other people who said that after reading this book, now they know what Imperia is.
a statue of a prostitute and linger in Konstanz, a small city in Germany, i don't understand about art but reading this book makes me wanna go to see Konstanz someday haha.
the author was a journalist so he describe the story well and i like it a little bit naughty haha but yeah maybe to understand the big pattern of this i should read another books because the story its too bland for me unlike the other thriller novels i've read before.
Profile Image for Irwan.
Author 10 books122 followers
December 31, 2019
Gaya penulisannya prigel bak kolom-kolom majalah terkemuka. Beberapa adegan tergambarkan dengan baik. Beberapa faktoid cukup menarik berdiri sendiri. Agak terganggu dengan munculnya faktoid-faktoid itu dengan gaya wikipedia dari mulut siapa saja dan kapan saja. Dan sayang sekali ceritanya sungguh artifisial.
Profile Image for Revano Eldar.
12 reviews
July 29, 2025
Interesting journey on unraveling a mysterious death of a lawyer. Though the end is still hanging, I must say that the book was quite enjoyable and I love how informative the book was and how close the characters felt to the reality
Profile Image for Adit.
2 reviews
June 9, 2019
First thought about this book was very interesting, then I realized there’s still another chapter from this book. One of the trilogy books.
Profile Image for Alfin Rafioen.
181 reviews8 followers
January 10, 2022
Keren dan menarik. Awal perjalanan Wikan Larasati yang keren dan sangat misterius dalam menelusuri kasus dunia entertaiment.
8 reviews
May 5, 2017
Ternyata imperia adalah seorang ...
Musik kental sekali dibuku ini, juga sejarah eropa dan jurnalistik. Saya rasa pengacara tersebut memang pantas mendapat karmanya.Namun sosok dalang pembunuhan cukup misterius dan tak tertebak.

"True friend stab you in front"
Profile Image for Endah.
285 reviews157 followers
January 30, 2009
Judul novel debutan wartawan Tempo ini diambil dari nama seorang pelacur Italia yang hidup di abad pertengahan : Imperia. Patung wanita cantik ini berdiri megah sebagai penghias pusat kota Konstanz, sebuah kota kecil yang terletak di perbatasan antara Jerman dan Swiss. Dalam patung dirinya itu, Imperia digambarkan tengah memegang dua patung lain yang ukurannya jauh lebih kecil di kedua belah tangannya. Di tangan kanan adalah Raja Sigismund sedangkan di sebelah kiri Paus Martinus V. Raja Sigismund melambangkan kekuasaan negara dan Paus Martinus V sebagai lambang kekuasaan agama.Imperia menggenggam keduanya. Menguasainya.

Lalu, apakah novel ini berkisah tentang Si Pelacur cantik itu?

Imperia bercerita tentang kehidupan seorang popstar bernama Melanie Capricia. Ia penyanyi pop ibukota yang tengah berada di puncak kariernya. Suara merdu serta wajah cantik dalam balutan tubuh seksi ala Barbie (gambaran tokoh Melanie ini membawa imajinasi saya pada sosok Kris Dayanti) merupakan modal sukses yang digenggamnya kini. Lima album dengan penjualan ratusan ribu keping telah memberikannya harta kekayaan yang berlimpah. Ditambah lagi seorang suami setia plus tiga orang putra-putri yang sehat membuat hidup MC, demikan diva ini kerap disapa, tampak sempurna. Sampai suatu hari, saat Rangga Tohjaya, mantan pengacara MC, ditemukan tewas mengenaskan, segala yang tampak sempurna itu, terancam berantakan.

Sementara itu, di ruang redaksi Dimensi, majalah berita mingguan yang dikenal paling terpercaya berita-beritanya, Wikan Larasati, cewek tomboy keluaran FISIP UI dengan IP di atas 3, menjalani hari pertamanya sebagai reporter baru. Tugas pertamanya adalah meliput konferensi pers MC dalam rangka peluncuran album terbarunya. Tak disangka tak dinyana, MC secara khusus memberi waktunya untuk wawancara dengan reporter baru itu. Inilah awal yang selanjutnya membawa Wikan dalam tugas investigasi menguak misteri pembunuhan Rangga sampai ke Konstanz, tempat patung cantik itu berada. Sebab, peristiwa itu kemudian menyeret nama MC di dalamnya sebagai mantan klien yang diduga terlibat.

Dengan plot yang lancar Imperia mengalir dalam irama yang cepat. Gaya penceritaannya, mengingatkan saya pada novel Supernova karya Dee Lestari, terutama episode terakhirnya : Petir. Tokoh Wikan punya sedikit kemiripan dengan Elektra. Keduanya sama-sama memiliki kelebihan berupa indra keenam yang mampu membaca pikiran seseorang serta mengetahui sesuatu yang akan terjadi. Tokoh Wikan sang reporter mungkin berangkat dari pengalaman pribadi penulisnya.

Dengan bahasa yang nge-pop (ringan), penulisnya berhasil membangun suspens yang menimbulkan rasa penasaran, meski dalam beberapa bagian terasa overdosis dengan keterangan-keterangan yang tidak terlalu perlu sebab akhirnya tidak ada hubungannya dengan cerita inti. Misalnya, penjelasan panjang lebar soal astronomi dan gugusan rasi bintang. Tak ada relevansinya dengan cerita inti kecuali sebagai pelengkap keterangan tentang Rendra yang menggilai perbintangan. Atau informasi perihal color bar (diagram warna) pembagian suara dalam Stabat Mater Rossini (seperti alto, tenor, sopran dsb) yang terlalu detail, padahal hanya untuk mengetahui sejarah gay-nya Stefan. Stefan sendiri cuma figuran dalam novel ini. Berbeda dengan gambar-gambar / simbol dengan keterangan lengkap yang ditampilkan dalam Da Vinci Code (Dan Brown) yang memang relevan dan mendukung cerita sepenuhnya. Sebaliknya, keunikan yang dimiliki Wikan dengan indra keenamnya, justru selanjutnya tak pernah lagi ditampilkan. Padahal, ia bisa menjadi sebuah daya tarik tersendiri jika Akmal mengembangkannya.

Namun, terlepas dari "cacat" kecil itu, Imperia merupakan kisah realis yang asyik dinikmati sebagai hiburan. Dengan keluasan pengalamannya sebagai jurnalis, Akmal membumbui novel perdananya ini dengan tamasya budaya dan seni manca negara. Dia juga membawa kita mengenal seluk-beluk dunia keartisan, baik di atas maupun di balik panggung, diungkap secara menarik dengan rangkaian intrik, pengkhianatan, love affair, keserakahan serta kemunafikan yang menjadi warna sehari-hari kehidupan para pesohor itu. Nah, jadi siapakah gerangan pembunuh Rangga?
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
May 27, 2009
IMPERIA adalah nama sebuah patung wanita setinggi 7-8 meter yang terletak Kontstanz, sebuah kota kecil di Jerman. Patung ini bukanlah patung pemimpin negeri atau pahlawan nasional Jerman, melainkan patung seorang pelacur Italia yang hidup pada abad ke 14 yang sedang menengadahkan keduabelah tangannya dimana pada masing-masing tangannya terdapat sebuah patung kecil yaitu patung Raja Sigmund di telapak kanan, dan Paus Martinus V di telapak kirinya.

Apa yang membuat novel ini diberi judul nama sebuah patung pelacur Italia? Tentu saja jawabannya akan bisa ditemui selelah membaca keseluruhan novel karya wartawan Tempo Akmal Nasery Basral ini.

Begitu membaca halaman pertama dari novel ini pembaca akan segera dibawa kedalam sebuah ceritia bernuansa drama thriller yang penuh dengan ketegangan-ketegangan dan teka-teki yang baru akan terjawab di halaman-halaman terakhir novel ini. Namun tidak hanya itu yang akan ditemui dalam novel ini, novel setebal 494 hal. ini menyajikan materi-materi yang memberi pengetahuan baru yang beragam bagi pembacanya baik dalam bidang jurnalisme, kehidupan selebriti, sejarah, astronomi, musik, kritik sosial hingga tragedi kemanusiaan.

Seperti pada novel-novel jenis thriller, lembar-lembar pertama Imperia dibuka dengan kejadian dibunuhnya seorang pengacara muda terkenal Rangga Tohjaya secara mengenaskan oleh seorang pembunuh bayaran. Tak lama kemudian mayatnya ditemukan oleh penduduk setempat dengan luka tertembus peluru Quick Shock, peluru mematikan yang bisa pecah menjadi tiga bagian di dalam tubuh.

Secara cepat kisah beralih pada seorang wartawati muda (Wikan) yang baru saja diterima di sebuah majalah berita mingguan. Tugas pertama Wikan adalah meliput peluncuran album baru seorang Diva dunia musik yang bernama Melanie Capricia (MC). Bermula dari wawancara biasa menyangkut peluncuran album terbaru MC, tugas Wikan bertambah berat karena harus memburu MC yang menjadi tersangka utama terbunuhnya Rangga Tohjaya yang pernah menangani MC dalam kasus plagiarisme terbesar dalam sejarah industri musik Indonesia. Kasus kematian Rangga semakin rumit karena secara cerdas Akmal membuat kasus ini semakin menarik dengan teori konspirasi yang pada akhirnya membuat pembaca terhenyak ketika membaca lembar-lembar terakhir dari novel ini.

Keragaman materi ensiklopedis yang terdapat dalam Imperia tentu saja membuat Imperia menjadi novel yang memiliki nilai plus bagi pembacanya, selain pembaca disuguhi cerita yang mengungkap sebuah pembunuhan, pembaca diajak sedikit mendalami berbagai pengetahuan ensiklopedis yang disajikan dalam buku ini. Novel ini selain dilengkapi dengan catatan kaki yang komprehensif juga menyertakan sebuah gambar konstelasi rasi bintang cancer dan sebuah diagram warna Stabar Master Rosini (diagram pembagian suara dalam oleh vokal). Namun keragaman materi ini juga dapat menjadi bagian yang mengganggu bagi alur cerita novel ini, alur cerita yang seharusnya bergerak dengan cepat seperti pada novel-novel jenis thriller akhirnya banyak mengalami perhentian untuk sekedar menjelaskan berbagai materi yang coba dieksplorasi oleh penulis.

Namun terlepas dari sedikit ‘gangguan’ tadi novel ini layak diapresiasi oleh siapapun, novel ini tidak hanya memberi pembacanya sebuah cerita menarik namun novel ini juga memberikan kepingan-kepingan kecil pengetahuan yang akan memperkaya pembacanya dalam berbagai hal.

@h_tanzil


Profile Image for Kunthi Hastorini.
Author 4 books5 followers
January 31, 2016
Novel yang sangat bagus. Membaca buku ini seperti membaca kejadian nyata di luar sana, seperti kepingan-kepingan kisah yang terangkum dalam satu kisah yang utuh dan berasal dari tokoh-tokoh yang sudah dikenal publik. Tak mengherankan karena buku ini ditulis oleh seorang wartawan yang pastinya sudah banyak mengetahui, meliput, dan menulis banyak berita. Beberapa sari pati yang dapat saya tangkap dari dalam buku ini adalah: sangat susah menemukan teman sejati atau yang tulus karena selalu ada kepentingan di dalamnya, politik seringkali tak bisa dihindari dalam kehidupan manusia karena setiap manusia menginginkan kenyamanan dan keamanan, kekuasaan kepandaian dan popularitas itu bertingkat-tingkat tapi yang paling survive adalah yang berotak paling licin dan cenderung tidak 'berhati', terakhir ya begitulah kehidupan di dunia, seringkali yang jujur dan baik hati justru tersingkir dan yang pembohong dan licik justru menang.
Profile Image for Tiara Orlanda.
201 reviews18 followers
September 22, 2015
suka dengan kover buku ini, keliatan matang (dikira masakan), gak terlalu banyak pritilan-printilannya, jadi simpel.

Walaupun di tengah buku, aku agak bisa menebak pelaku pembunuhan Rangga (yang ternyata benar) tapi tidak mengurangi serunya baca buku ini

Dibuku ini banyak sekali penjelasan untuk satu situasi. Penjelasannya bisa 2 halaman, jadi agak sedikit bosan dan di skip baca aja untuk penjelasannya.

Review lengkap bisa dilihat disini https://wildbibliophile.wordpress.com...
Profile Image for Puput Sekar.
6 reviews1 follower
December 4, 2012
sekitar tiga tahun lalu ya saya baca ini, awalnya karena tertarik sama dunia jurnalistik yg begitu hebat, tapi saat baca, tokohnya campur aduk, semuanya pinter, terus agak vulgar ya (buat saya sih, novel detektif ada pemecahan misteri sama si wartawati pinter yg anehnya kenapa harus punya indera keenam segala sih? tapi yg saya suka karena setting konstanz keren bangeet ^^, so saya hanya kasih bintang dua ya, tapi saya suka sama alurnya kok.
Profile Image for Kevin Timothy.
1 review1 follower
November 17, 2013
Alur cerita sangat menarik terutama dengan plot twists yang tidak terduga. Terkadang ada momen-momen sampingan yang terasa kurang penting karena pada akhirnya tidak memberi kontribusi apa-apa ke alur cerita. Ada sedikit typo dalam beberapa kata asing yang digunakan (terutama bahasa Jerman) dan sedikit kesalahan gramatikal.
Profile Image for Rusyda  Fauzana.
20 reviews6 followers
February 3, 2008
ini buku perfect bgt tokoh2nya. serasa di dunia yg orang2nya pinter semua dan unik semua. Trus juga ceritanya kayak cerita kebanyakan. Awalnya saya pikir ini novel ttg perebutan kekuasaan atau pembangunan sebuah imperium dg intrik2 politik yg menegangkan, ternyata tdk spt yg dibayangkan.
Profile Image for Pipa.
235 reviews3 followers
September 10, 2007
bagus...sayang agak kurang di akhirnya
banyak disisipi pengetahuan2 ringan tentang banyak hal
misalnya:
bintang dalam rasi taurus --> aldebaran
Profile Image for tia.
59 reviews4 followers
September 14, 2007
kok aku terganggu sama penjelasannya penulis tentang fakta2 yang digunakannya sebagai setting. kesannya kok kurang nyambung, terlalu dipaksain.
Profile Image for Goklas.
42 reviews4 followers
Read
August 7, 2014
Slah beli buku. Ternyata hanya cetak ulang dari Imperia. Bedanya hanya revisi minor :-'(
Profile Image for ahmad.
188 reviews4 followers
February 16, 2015
saya sudah baca dan saya kira saya bisa mengikuti benang merah ceritanya 80% saja, selebihnya saya kehilangan khas Mas Akmal Nasery Basral. I don't know why?
Profile Image for Ariska Anggraini.
50 reviews3 followers
November 29, 2015
terasa sekali jika penulisnya adalah wartawan. tapi tetap renyah di baca sebagai karya sastra
Displaying 1 - 30 of 30 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.