Tiga prajurit Ifarett : Nash, Rhavi, dan Deedek si Centaur punya tugas khusus, yaitu mengantar Vasthi, putri pemimpin bangsa Kaloon, kembali ke tempat tinggalnya. Sepeninggal mereka, ternyata Ifarett luluh lantak oleh serbuan bangsa asing yang datang dari langit barat mengendarai perahu terbang. Satu demi satu, wilayah Ledgard hancur lebur oleh serbuan perahu terbang itu, menyusul Ifarett.
Nash, Rhavi dan Deedek berusaha keras untuk meyakinkan semua bangsa di Ledgard bahwa mereka tidak mampu bertahan jika masih tenggelam dalam pertikaian dan dendam di antara mereka sendiri. Risiko yang harus mereka hadapi adalah terlibat dalam intrik di antara para Bijak, pandangan melecehkan para penghuni Puri Pualam, ketidakpercayaan bangsa Ae Siri, dan pengkhianatan bangsa Centaur.
Mengapa Vasthi datang jauh-jauh ke Ifarett hanya untuk menyelamatkan Nash, Rhavi, dan Deedek dari serbuan perahu terbang? Bagaimana pula cara ketiganya meyakinkan penghuni Ledgard untuk bersatu? Mengapa bangsa Centaur memilih arah sendiri? Segudang pertanyaan akan dijawab dengan beribu pertanyaan dalam buku ini. Jangan penasaran!
Sebagaimana layaknya cerita-cerita dalam genre epic fantasy, novel ini bertemakan pertempuran antara baik dan jahat, dikisahkan terutama dari sudut pandang tiga sahabat, yakni Nash, Rhavi dan Deedek (dan beberapa tokoh lain), yang kehilangan negeri kelahirannya karena dihancurkan oleh pihak jahat ini.
Bagaimana pertempuran ini berlangsung, tentunya lebih asyik kalau dibaca sendiri :-). Yang pasti, pembaca akan mendapatkan beberapa pertempuran seru yang melibatkan berbagai jurus ajaib, kisah cinta yang manis, dan beberapa konflik di antara para tokoh baik, yang terutama muncul akibat perbedaan bangsa.
Bangsa-bangsa di Ledgard Yup, di novel ini banyak terdapat bangsa selain Manusia. Cukup variatif, tapi kadang-kadang, saya merasa setiap bangsa ini hanya dideskripsikan oleh satu sifat yang menstereotipekan seluruh orang dalam bangsa tersebut.
Tapi lama-kelamaan, ternyata berbagai bangsa di Ledgard ini terasa mengasyikkan juga, terutama dengan berbagai metafora yang unik digunakan oleh setiap bangsa (which are all a delight to read). Yah, mungkin pengulangan sifat tiap bangsa memang perlu pada awal cerita untuk menegaskan kekhasan masing-masing bangsa. Toh, seiring waktu tokoh-tokohnya juga menjadi lebih terbangun, tidak lagi sekadar stereotipe bangsanya, membentuk variasi dalam kekhasannya. Selain itu, tema rasialisme yang muncul akibat beragamnya bangsa ini juga menjadi nilai plus buku ini.
What it means to be human Namun, kalau perbedaan antara bangsa-bangsa ini begitu sedikit, kenapa tidak dibuat saja semuanya bangsa Manusia, yang memiliki berbagai kemampuan supernatural? Apa perbedaan antara bangsa Kalonn dan Manusia, selain kemampuan Bermimpi? Antara bangsa Latlian dan Manusia, selain kulit hijau?
Lalu pembedaan bangsa-bangsa ini menjadi penting dalam klimaks cerita. Dalam adegan klimaks tersebut, muncul pertanyaan, apa yang membedakan Manusia dengan bangsa lain. Dengan kata lain, what does it mean to be human? Saya tidak puas dengan jawaban yang diberikan ("Manusia mencintai!") karena toh pada sepanjang novel ini, tak pernah ditunjukkan bahwa bangsa-bangsa lain mencintai lebih sedikit daripada Manusia. Jadi, kalau perbedaannya tidak terletak pada kemampuan mencintai, lalu pada apa?
Bagi saya tema ini menarik, dan sering saya jumpai diangkat dalam fantasi dan sf. Menurut saya, memang di sinilah salah satu keunggulan genre ini. Ia bisa mengeksplorasi sifat manusia dengan cara mengkontraskan manusia dengan bangsa rekaan, sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh genre lain. Melalui perbandingan dengan tokoh nonmanusia inilah, kita bisa belajar tentang manusia itu sendiri.
Nah, saat Ledgard menampilkan klimaks dengan mengangkat tema ini, tanpa memanfaatkan pengkontrasan bangsa-bangsa nonmanusia sebagai pendukung, rasanya sayang sekali.
Antisipasi Plot novel ini cukup terjaga. Cerita bergulir dengan lancar, tidak tersendat-sendat. Sayangnya, bagian awalnya guliran itu terasa seperti berjalan lambat. Padahal, sebenarnya banyak peristiwa yang terjadi, sehingga cerita tak pernah berjalan di tempat.
Saya kira ini karena saya tidak merasa dilibatkan dalam plot cerita. Informasi ke pembaca tentang apa yang akan terjadi di depan terasa kurang, sehingga pembaca tidak bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi. Hal yang sama berulang ketika mereka datang ke Lebda, tujuan mereka ke situ apa? Saat Karra dan Nash datang ke negeri Ae Sirri, apa tugas mereka? Dengan kata lain, konflik spesifik apa yang sedang mereka hadapi saat itu? Sayangnya, jawaban untuk pertanyaan ini baru muncul belakangan, yang agak terlambat.
Untungnya, makin ke belakang, konflik yang muncul semakin menarik. Ada Ladam Hitam yang misterius, ada usaha saling membunuh dan saling benci di antara tokoh utamanya, ada selipan kisah cinta yang manis dan imut.
Sampai saat ini Ledgard masih menjadi standarku untuk "cukup baik" dalam menilai fiksi fantasi Indonesia. Buku ini dikerjakan dengan bagus. Latar, dunia dan karakternya dibangun secara serius.
Ada beberapa konsep yang unik di dalam Ledgard, seperti sifat berintrik kaum Felis dan sistem pemerintahan lokal dan pusat dalam dunianya. Yang kedua ini terutama menonjol karena sistem pemerintahan lokal itu tidak melulu berupa kerajaan/kekaisaran. Kota R'ndaar-ruim misalnya, diperintah oleh para bijak, sementara Ti Aivas diperintah oleh Bunda Ratu kaum Ae Siri. Keduanya adalah pemerintah lokal yang tunduk pada kewenangan Puri Pualam sebagai pemerintah Pusat Ledgard.
(Sedikit catatan, bangsa Ae Siri yang diganbarkan merendahkan pria kok bisa-bisanya memakai "Kerajaan", sedang "Raja" umumnya diasosiasi ke laki-laki, dan de factonya mereka diperintah oleh "ratu?" Heheheheh... "Keratuan" lebih tepat kali yaaa... ;P)
Untuk karakter, nggak semuanya kerasa bagus buatku. Aku terutama jengkel sama lead hero dan heroine-nya yang kayaknya dibikin STD abis. Hero harus dari desa kecil yang dihancurkan di awal cerita dan heroine-nya magician, bisa bicara dengan alam, dan diselamatkan sama si hero di awal cerita. aduh, RPG klise banget sih. Belum lagi kalau kuingat mereka selalu kebagian dialog-dialog percintaan yang paling... T_T
"Aku mencintaimu, tetapi sekarang bukan waktunya mementingkan perasaan pribadi..."
Waktu si heroine-nya ngomong gini, latarnya memang pas di pepohonan yang bisa dipeluk-peluk gitu sih. Imajinasiku aja yang kelewat liar kali ya.
Yang kurasa hidup malah karakter sampingannya. Dua sidekick si hero lumayanlah, tapi yang benar-benar bintang justru para karakter Felis yang sepanjang cerita berusaha mencari cara untuk saling meliciki. Favoritku adalah seorang kapten Felis yang dicap (kucing) buangan karena dia lebih suka menjadi tentara daripada main politik. (Hihihi... Om Ryamizard? Is that you?)
Plotnya sendiri, standar. Perang kebaikan lawan kejahatan diselipi pertanyaan "apa artinya menjadi manusia," yang diwujudkan pada keengganan si tokoh membunuh sesama manusia. Trus, kalau kaum lain macam Felis atau Latlian atau Centaur atau Ae Siri gimana dunk mas? Bunuh aja gitu? Wokeh deh. Pantes si Nash kayaknya fine-fine aja waktu dua Ae Siri mati gara-gara melindungi dia.
All races other than humans are expendable.
Ew.
Penulis bilang dia komandan yang kharismatik, tapi aku sih nggak akan mau masuk unit manapun yang dikepalai orang kayak gini.
pendapat akhirku, 3 untuk plot, 4 untuk konsep dunia dan latar, 2 untuk bahasa yang kadang-kadang picisan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Baik karena saya ditagih penulisnya dan sudah berjanji untuk membuat review akan novel ini. Saya akhirnya membaca novel ini dengan serius. Dahi berkerut. Kata-kata dibaca detail. Samakin menemukan kesalahan semakin ada kelegaan (Jahat!). Yah, kalau saya tidak menemukan kesalahan. Nantis saya tak akan punya bahan untuk review ini.
Saya sebenarnya cukup menyesal telah membaca review buku ini di salah satu blog terlebih dahulu. Secara tidak langsung review itu menangguku saat membaca. Saya jadi disibukkan dengan aktivitas menelisik kebenaran dari review tersebut. Benarkah begini? Benarkah begitu?
Saya akan memulai dari tokoh,
Vasthi: berhubung saya menganal Mas Yoga(mungkin lengkapnya D.I. Yoga?). Saya tau maksud pengkarakteran tokoh ini. Karakter ini digambarkan sebagai sosok akhwat (Red.Perempuan) banget. Lembut, perhatian, melo,keibuan...Dan berjilbab.apa?
Bisa dilihat dari petikan narasi ini
“…gadis itu menganakan sehelai gaun panjang berwarna putih menutupi seluruh badannya. Lengan dan ujung kakinya juga tertutup oleh baju itu. Di kepalanya gadis itu menganakan sebuah kerudung yang menutupi seluruh bagian kepala dan lehernya, dan hanya menyisakan wajahnya…”(p.23)
Dan yang ini,
“Vasthi kali ini memakai gaun berwarna hijau lembut. Gaun panjang itu dan menutupi seluruh bagian tubuhnya…”
Dan lebih islami lagi, Vasthi juga Gadzul Bashar (Red.Meenjaga pandangan). Lihat narasi ini
“…Rhavi bertanya – tanya tulang leher gadis itu terbuat dari apa karena sejak tadi ia menunduk – nunduk terus!”
Tapi???
Kita beranjak ke tokoh selanjutnya dulu.
Nash:Kalau Vasthi adalah sosok yang akhwat banget maka tokoh ini ikhwan (Red.Laki-laki) banget. Bijaksana, pemegang keputusan yang penuh pertimbangan, melindungi, mengayomi. Dan tentu saja pengislaman karakter juga terjadi pada karakter ini. lihat narasi ini:
“Tidak peduli sepedih apapun hati ini melihatnya bersedih tetap saja belum menjadi haknya! Nash menurunkan tangannya dan menatap pilu.”
Benarkah tuduhan saya mas?
Nah masalahnya adalah kedua tokoh ini seperti satu tokoh. Saya suka bingung. Benar! Karakter mereka hidup. Tapi sudut penulis pada kedua tokoh ini tidak terasa berbeda. Sepertinya penulis paling susah untuk mendalami kedua karakter ini dibanding karakter lain. Jadi saya kadang susah membadakan antara keduanya.
Tokoh Nash juga serba nanggung. Perasaan cintanya nanggung ke Vasthi. Perasaanya ke orang tuanya juga nanggung. Soalnya, waktu diceritakan ketika iffaret hancur, orang tuanya meninggal. Namun Nash jauh lebih terpukul karena kenyataan (Vasthi) bahwa kecengannya membohonginya ketimbang kematian orang tuanya. Bahkan kedataran wajahnya saat kesedihan itu juga diakibatkan oleh Vasthi ketimbang kehilangan ortunya atau segala hal mengenai kotanya. Oh..cinta membutakan semuanya. Kempuan Nash juga nanggung. Apa kekuatannya? Diplomasi? Memimpin? Sepertinya butuh lebih dari sekedar ahli pedang. Bahkan sebanrnya Nash disini tidak disebut sebagai ahli pedang. Dia hanya prajurit biasa yang menggunakan pedang.
Rhavi: ini tokoh paling hidup. Paling kuat karakternya. Penulis sukses menggambarkan karakternya. Dengan tongkat dan kemampuan terbangnya. Tidak terpikir dia adalah Avatar Ang?
Gambaran akan sosok Rhavi pada gambar ilustrasinya kok membuat saya kurang puas. Tokoh sanguis ini tergambar terlalu sangar. Harusnya terlihat lebih remaja yang aktif, tempramen dan menggebu-gebu. Sedangkan pada ilustrasi gambar Rhavi terlihat sebagai pria tampan berambut panjang.
Tokoh yang lain juga begitu hidup. Kali ini penulis sukses memainkan sudut pandang. Mendalami tokohnya. Tapi saya agak kurang mengerti dengan Karra. Bagaimana dia termakan jebakan yang dibuatnya sendiri saat menjebak Nash dan rombongan waktu di Lebda dengan Esvath Kuning dan Esvat Agung. Memang dijelaskan bahwa dia termakan jebakannya sendiri. tapi bingung. Kenapa itu bisa terjadi? Bagaiman kronologisnya? Padahal itu point penting yang menentukan keberpihakan Karra selanjutnya. Saya jadi merasa penulis sejak awal memang bermaksud menjadikan Karra akan jadi tokoh pembantu utama. Apapun yang terjadi ya tetap saja dia akan menjadi tokoh pembantu utama. Tidak perlu banyak cincong, pokoknya dia akan jadi tokoh pembantu utama. Apapun yang terjadi!huft…butuh penjelasan yang lebih dari sekedar kenyataan bahwa memang dia akan dijadikan tokoh pembantu utama oleh penulis.
Oh ya ini novel yang sudah terbit dan tersebar keseluruh nusantara. Sudah bukan alasan bahwa ada ejaan yang salah. Saya menemukan kesalahan ketik di p.441 dan p.454. Kata “kekuatan” ditulis dengan huruf K kapital. Padalah itu kata di tengah kalimat. Apa memang begitu ya cara nulisnya?
Oh ya kematian Ladam hitam itu agak mengusik kenikmatan. Ladam hitam digambarkan dengan begitu hebatnya. Bisa melakukan kemampuan yang digunakan Esvath, baju zirah yang dari kaum Pox. Bahkan di awal Kempuan es Hardin tidak sanggup menggoresnya. Tapi dia mati dengan mudah saat melawan Hardin. Harusnya ada petempuran yang lebih sengit dari itu. Sekalipun akhirnya Hardin diceritakan mati karena pertempuran itu.
Tunggu sebentar. Seingatku bukannya Hardin hanya terluka ya? Waktu di Bab selanjutnya Hardin sudah dibopong karena mati. Saya kurang jeli kali ya?ada bagian yang tak kubaca dengan konsentrasikah?
Sayang lagi-lagi saya dikecewakan dengan kematian Sicah dan Jorian. Mereka tergambarkan sebagai keturunan Jind. Apalagi Sicah digambarkan sebagai sosok kekar, kuat dan beringas. Waktu pertumpuran akhir saya tidak mendapatkan pertempuran yang terlalu sengit. Tokoh musuh yang hebt itu mudah dikalahkan. Tidak ada pertempuran sengit yang terjadi. Jadi, saya selalu merasa akan meragukan gambaran”Hebat” dalam setiap tokoh dicerita ini kalau toh mereka tidak hebat-hebat banget di pertempuran. Mudah banget dikalahkan. Apalagi Sicah mati bahagia ya? Semoga diampuni dosanya oleh yang Maha Tinggi. Amin.
Tidakkah merasakan kalau tokoh Sicah mirip dengan Gara di komik Naruto? Dan pertempuran Nash dengan Sicah mirip dengan pertempuran Naruto dan Gara.
Kehebatan karya ini adalah narasi dan dialog begitu cerdas dan hidup. Tokohnya jadi benar-benar bisa terasa nyata. Settingnya memang tidak sekuat LTR-nya Tolkien tapi lumayan hidup. Good job!
Banyak orang yang berkomentar akan novel ini membosankan di tengahnya. Ini karena kebanyakan konflik yang terlalu datar. Masalah diplomasi. Benar saya juga merasakannya. Datar, datar dan datar. Untung ini ketolong dengan kehebatan penulis dalam merangkai dialog dan narasi yang cerdas.
Eh ya yang saya suka adalah bangsa felis yang suka mengaung” Mrrr” dalam setiap dialognya. Dan Jahe dingin? Oh mas D.I. Yoga pasti orang yang gemar meminum Jahe dingin di angkringan sambil merenungkan ide-ide Ledgard ini.
Ada satu kesalahan fatal menurut imajinasi saya. Vasthi adalah bangsa Kolonn. Bangsanya dikenal sebagai cenayang mimpi. Harusnya di awal kenapa tidak dia katakana saja apa yang sesungguhnya yang dilihatnya dalam mimpi. Dia bisa mengatakannya kepada pejabat Iffaret. Dia bisa menggunkan statusnya sebagai putri bangsa Kolonn untuk mempertegas agar dipercaya. Seperti yang sering dilakukannya. Tidakkah dengan begitu bukan hanya Nash yang akan tertolong. Tapi semua Bangsa Iffaret. Setidaknya bangsa Iffaret sanggup mengungsi. Atau ebih menyiapkan pertempuran. Atau seperti di Sish – Jakin Vasthi sudah memanggi bantuan dari Kapten Narm untuk membantu Iffatret. Bukannkah membantunya kembali ke Kolonn membutuhkan waktu beberapa hari. Tidak mustahil untuk juga mengungsikan penduduk Inffaret. Hah, ini hanya pendapat pribadi. Kalau salah ya maaf. Kalau ceritana begitu mungkin Ledgard akan tamat di Bab 2 kali ya?hehehe…
Satu lagi, Kenapa bukan vasthi saja yang disuruh untuk berdiplomasi bersama Nash. Dengan statusnya sebagai orang yang lebih dipercaya ketimbang Karra. Tidakkah itu akan memudahkan membujuk? Sekalipun Karra mampu berdiplomasi nan cerdas. Tapi untuk masalah segmenting itu, bukankah dibutuhkan orang yang bisa dipercaya ketimbang orang hebat berdiplomasi.
Harusnya Vasthi lebih memiliki peran lebih. Vasthi tidak kunjung muncul hingga bab terakhir. Apakah perannya akan dimaksimalkan di Ledgard dua? Sudah lima tahun lo mas penulis. Ayolah sudah saat memenuhi kahuasan kami akan seri selanjutnya.
Satu lagi kenapa naga dipanggil oleh Esvath tanah. Kok ganjil banget. Apakah begitu dekatnya antara tanah dan api. Lebih rasional kalau yang memanggil adalah Esvath api. Nah,jadi kepikiran harusnya Nash itu Esvath api saja. terasa perannya akan lebih cihui ketimbang diplomat semata.
Terlepas dari gugatan-gugatan saya yang sejujurnya sangat subjektif menilai. Saya rasanya harusnya novel ini booming. Novel ini cerdas dan menarik. Sebanrnya dulu novel ini sanggup menyaingi kemelejitan Laskar Pelangi dengan sudut genre yang berbeda. Yah begitulah kalau ada dua yang hebat di era yang sama, pasti kehabatan yang satu akan tertutup oleh kehebatan yang satunya. Ok, novel ini sangat rekomandasi buat anda yang merasa pecinta novel fantasi. Bagi yang tidak, juga tetap saya sarankan. Tapi bagi anda yang tidak ingin gelisah karena menunggu novel sekuelnya yang masih akan berapa tahun lagi muncul. Sebaiknya urunkan niat Anda karena saya sendiri juga mati penasaran untuk menanti LEDGARD 2!
“Mas Yoga. Mrrr. Mana novel keduanya?”
*Ada penulis dengan nama GD.Yoga, novelnya judulnya Lencana kalau nggak salah. Apakah GD. Yoga kepanjangan dari Ganjar Dzakka Yoga? Oh …hehehehe!
Catatan di bawah ini merupakan pindahan dari komentar di FFDN III (Pulau Penulis, Lautan Indonesia) dengan pengeditan minor:
"Kayaknya novel ini udah di-review banyak orang. Kecuali soal novel itu bagus banget, umumnya sih pendapatku sama aja sama para reviewer lain, misalnya soal cover yang gak relevan sama isinya (meskipun bagus), tokoh antagonis yang muncul terlalu di akhir, dll.
Kalaupun ada tambahan:
1. Sihir-sihirnya terlalu semaunya! Maksudnya, gak ada aturan jelasnya. Aku lupa, kelompok apaan tuh yang dikunjungin para tokoh utama pas pertengahan cerita.... Nah kelompok itu (yang seolah-olah kumpulan para ahli sihir) terlalu jago banget! Sama kaum ceweknya Nash (siapa namanya? lupa juga, xD) kemampuannya juga (terlalu) hebat banget. Seharusnya dengan kemampuan yang mereka kuasai, mereka udah bisa menguasai seluruh dunia di Ledgard. Gak perlu takut sama serangan orang-orang asing. Ini gak masuk akal aja, apalagi sampai mereka kewalahan pas perang terakhir.... *sigh*
2. Centaur yang cuma punya satu jenis kelamin? Hmmm... Awalnya sih menarik, tapi setelah ada penjelasan bagaimana cara reproduksinya... Err... rasanya ada yang salah.... ^^' Satu-satunya kaum yang sukses merebut hati ya memang cuma kaum felis itu.
3. Petanya! Aduh, bukannya membantu malah bikin puyeng, xS
4. Gambar karakternya oke dan keputusan untuk memasukkan list karakter di bagian awal itu juga oke. Karena jujur aja, waktu pertama kali ngeliat Ledgard, aku tertarik beli karena liat list karakter itu. Jadi penasaran, kumpulan orang ini mengalami petualangan apa sih di dalam buku? :)
5. Gaya penulisan adegan/percakapan romance-nya juga terlalu... gak cocok. Keju. Kalimat-kalimatnya berasa sinetron/telenovela gitu."
Oya, ini buku kelanjutannya juga misterius banget... ~_~ Dan sebenernya kalau jadi terbit lanjutannya, kemungkinan akan laku banget karena banyak yang udah baca dan (kayaknya) cukup puas dengan buku pertama ini. So... gimana nih penulisnya??
Berikut adalah kutipan2 penyataan langsung dari Mas G*nj*r (W.D. Yoga) yang pernah kubaca di suatu tempat di suatu masa... :p
"... sesuka apapun pembaca dengan karakternya, Ledgard seri pertama nggak akan lebih dari 8 buku. Plot dan storyline-nya sekarang dah fix, jadi nggak akan dipanjang-panjangkan kayak sinetron kita kok. Satisfaction guaranteed :) ..."
"... Buku II mengisahkan tentang masa 25 th setelah Perang Akbar berakhir...."
Mudah2an ada panggilan untuk nulis lagi kepada ybs, :D
Sebagai salah satu generasi awal buku fikfan Indonesia, buku ini sangat bagus. Penggambaran dunianya detil, ras-rasnya cukup unik, penulisannya pun rapi. Keunggulan yang paling menonjol dari buku ini adalah situasi politiknya yang digambarkan dengan cukup kompleks sehingga terasa nyata. Rasanya baru kali ini baca fikfan Indonesia yang mengedepankan sisi politis dalam sebuah cerita fantasi epik-perang.
Tapi sisi politis tadi juga yang membuat kenikmatan bacaku berkurang. Ras-ras dan tokoh-tokoh di sini menghabiskan waktu untuk berdebat, berantem, saling merencanakan intrik. Lama-lama capek bacanya. Rasanya pengen jedutin kepala mereka semua ke tembok.
Belum lagi kalau ngomongin dialognya yang terkadang garing dan bikin ngernyit bacanya. Juga tingkat kegalauan tokoh-tokohnya yang kadang kelewatan. Atau hobi penulis menuliskan efek-efek suara, juga teriakan atau seruan dalam huruf besar semua.
Tapi secara keseluruhan buku ini tetap cukup nikmat untuk diikuti.
ledgard sebuah buku yang menarik, memenuhi kerinduan& impian saya pada cerita fantasi kolosal buatan 'saudara setanah air'.memang buth 'video memory' yang besar untuk menyimak detilnya.saya berharap bisa segera membaca lanjutannya. semoga cepet laris& cetak ulang dan dilengkapai dengan ilustrasi yang lebih memadai
Ledgard: Musuh Dari Balik Kabut adalah sebuah kisah yang penuh misteri dan ketegangan, berlatar di dunia di mana ancaman tak terlihat bersembunyi di balik kabut tebal. https://animeseru.com/
Novel fantasi yang menarik, imajinatif dan kaya akan konsep-konsep (agak) orisinil, seperti multiras, bahasa, dan sihir-sihiran.
Struktur novel ini untungnya tidak jatuh ke jurang klise walau ada pola "Boy Meets Girl", dan intrik-intrik politik di dalamnya cukup menarik untuk disimak.
Apa kekurangannya? Beberapa adegan mungkin terlalu norak untuk dibayangkan, terlebih dengan cucuran air mata yang mengingatkan kita pada anime tahun 1980-an.
Tapi terlepas dari itu, novel ini sangat mengasyikkan dan saya sangat menunggu kelanjutannya.
Buku lama nih, akhirnya ketemu juga nih judul buku. Maaf pelupa saya orangnya, hhe saking lamanya. Kisahnya seru, meskipun udah lama bacanya tapi ada beberapa yang terpatri di ingatan saya beberapa ceritanya. Mengenai perahu yang bisa terbang pun unik, saya lupa itu energinya dari batu gitu yaa? Petualangannya pun seru, saya serasa dibawa ke dalamnya. Dan yang paling saya ingat itu, Centaur yang menculik para wanita untuk dibuahi karena tidak ada jenis kelamin wanita dalam Centaur. Wanita yang dibuahi Centaur, lalu akan mati setelah melahirkan anaknya. Nice story!
novel fantasi di Indonesia itu jarang banget, ini salah satunya. rencananya akan ada serial lanjutannya (dengar2 sih masih ada 6 lagi, jadi total ada 7 novel) tapi kok lama banget gak terbit seri lanjutannya ya???
dan kenapa musti 7 sihh??? *bisa lumutan nih nunggunya*
sbg novel Indonesia, terlalu sayang mengapa malah minjem-minjem aspek mitologi luar negeri semua (Eropa). ada centaur, dll. apakah bangsa sendiri kurang unsur mitologi? atau mungkin dirasa kurang keren kalau nampilin bangsa raksasa (dari pewayangan), jin, genderuwo, nyai roro kidul, dll