Kalo ada yang bilang, novel ini vibesnya mirip dengan novel hujan, saya setuju.
Kalo ada yang bilang novel Tere Liye agak banyak yang mirip jalan ceritanya, saya setuju, tapi saya tetap menyukainya.
Menapaktilasi rumah mewah peninggalan Raden Wijaya yang akan direnovasi. Ana, sebagai 'tukang bangunan' yang akan merenovasi rumah tersebut, bersama dengan Hesty, Laras, dan Rita menceritakan kenangan setiap sudut rumah itu dan bangunan tambahannya, juga kejadian-kejadian tentang keluarga mereka, sekaligus tentang pembantu dan anak pembantu yang tinggal bertahun-tahun di rumah mewah itu.
Kalo orang jawa mengatakan, witing trisno jalaran soko kulino. Wajar jika ada perasaan yang akhirnya tumbuh antara Hesty dan Tigor yang telah bertahun-tahun menghabiskan waktu bersama. Namun dengan latar belakang kedua orangtuanya, Raden Wijaya terutama, yang pernah mengalami pahit di masa kecilnya, sangat wajar ketika tidak merestui hubungan putrinya dengan Tigor, anak salah satu pembantunya. Mereka berdua yang tidak menyerah dengan hal tersebut, berusaha memperjuangkan itu semua. Seperti sia-sia, karena hingga menjelang bab terakhir belum ada tanda yang akan mempertemukan mereka kembali.
Namuuun, ternyata ohh ternyata. Ana, paman nomor satu, tanggal penting untuk Hesty, juga Ana, adalah petunjuk-petunjuk yang akhirnya mempersatukan mereka. Hesty dan Tigor 😍
Hello, Hesty.
Hello, Tigor.
Saya suka dengan jalan ceritanya, tema yang diangkat sebenarnya sederhana, yaitu tentang kesenjangan ekonomi dengan segala lika-likunya, tapi dikemas dengan sangat apik. Khas bang Tere, alur maju mundur tapi tidak membuat bingung. Disisipkan juga sedikit kerusuhan yang terjadi di tahun 1998. Saya jadi membayangkan sosok yang berkuasa pada masa itu. Hahaha skip.
Overall, saya menikmati ceritanya. Dan ya, kalo baca novel bang Tere emang harus konsen, karena tidak jarang di bab-bab terakhir ternyata ada hubungannya dengan bab yang di tengah-tengah yang kadang sedikit lupa detailnya.
Karena ketahuilah, sumber ketidakbahagiaan besar di dunia adalah: berharap-lebih lebih saat kita berharap terlalu banyak. Ketika hasilnya tidak sesuai, muncullah kecewa. Akan beda jadinya jika kita tidak berharap, apapun hasilnya, kita tetap baik-baik saja. Apalagi saat akhirnya sangat spesial, kita akan lega sekali. -Prolog