Menelusuri kisah hidup ulama legendaris ini, seperti becermin pada kondisi umat dan ulama saat ini. Banyak kejadian dan peristiwa yang terjadi puluhan tahun lalu seperti terulang pada masa sekarang (buku ini sendiri merupakan republish buku yang terbit 35 tahun lalu). Sangat banyak inspirasi dan teladan yang bisa kita dapatkan dari Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang masih sangat relevan untuk menyikapi isu dan permasalahan yang belakangan marak menimpa umat.
- mau menulis panjang, tapi belum sempat... ini aja dulu =__= -
Membaca kembali kisah perjalanan hidup Hamka bak menemukan oase di tengah gersangnya padang tandus. Ia tidak hanya menyegarkan, tapi juga bisa menghilangkan ‘dahaga’ bagi jiwa-jiwa yang kehausan akan sosok figur tauladan hidup.
Sosok Hamka—demikian sapaan akrab dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah—ibarat mercusuar yang dapat menerangi siapapun yang kehilangan arah, tersesat dalam hidup, di tengah derasnya arus peradaban modern yang tanpa disadari terus menggerus nilai, prinsip, dan moral hidup masyarakat.
Ia laksana mutiara, yang jika diletakkan di mana-mana, bahkan di dalam tumpukan kotoran sekalipun, ia tetap menjadi sesuatu yang bernilai dan berharga. Begitu kurang lebih testimoni singkat dari saya setelah membaca buku karya Rusydi Hamka ini.
Hamka yang dikenal oleh masyarakat selain sebagai seorang ulama, juga dikenal luas sebagai sosok cendekiawan, budayawan, hingga negarawan terkemuka. Hamka dalam hal ini tidak hanya memainkan perannya sebagai tokoh agama, namun juga tokoh masyarakat dan bangsa yang patut diperhitungkan.
Berkat paket lengkap inilah yang menjadikan ia sebagai salah satu sosok yang disegani kawan maupun lawan. Kiprah dan baktinya tentu tidak hanya diperuntukkan bagi agama, lebih dari itu hidup dan matinya ia tujukkan kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Maka tak salah dan berlebihan, kalau ia layak dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.
Rusydi Hamka dalam buku ini berhasil memotret kisah-kisahnya secara apik dan inspiratif terutama dalam hal menceritakan kisah pengalaman dirinya bersama Hamka hampir dalam setiap kesempatan. Kendati tidak diceritakan secara utuh, namun penggambaran pribadi dan martabat Hamka yang diceritakan oleh Rusydi, dapat menghidupkan kembali sosok Hamka yang selama ini dikenang oleh banyak masyarakat.
Rusydi berhasil menyihir pembaca dengan pembawaan cerita yang enak dan ringan sehingga pembaca diajak untuk menyusuri kisah pengalaman hidup Hamka dari jarak paling dekat. Dan menurut pengalaman pribadi, ketika membaca kisah-kisah dalam buku ini, saya merasa Hamka seolah hadir dan turut membersamai.
Sungguh pengalaman magis yang patut untuk diceritakan. Semoga pengalaman magis ini bisa dirasakan oleh kamu yang tertarik untuk membacanya.
Kisah pengalaman hidup Hamka tergambar jelas ketika Rusydi dalam kesehariannya kerap menemani Hamka, baik ketika beliau sedang melakukan perjalanan dakwah, dinas ataupun tugasnya sebagai pemimpin keluarga sekaligus pemimpin umat.
Dalam keseharian misalnya, Hamka yang diceritakan oleh Rusydi dalam buku ini, sering membagikan kenangan suka dukanya semasa ia kecil kepada anak-anaknya, terutama kepada Rusydi sendiri. Hamka yang pernah mendapatkan didikan keras dari ayahnya, H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), tak pernah sekalipun menyenyam pendidikan formal. Ayahnya yang juga sebagai ulama sekaligus pendiri Sumatra Thawalib, menginginkan agar Hamka kelak ketika ia dewasa dapat mengikuti jejak hidupnya.
Kendati demikian, berkat usaha didikannya itu, Hamka tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang haus akan ilmu, hingga suatu ketika ia nekat memberanikan diri untuk pergi ke Tanah Fir’aun guna menimba ilmu di sana. Karena kegigihan dan semangatnya itu, ia berhasil menyerap ilmu yang ia dapatkan dari guru-gurunya.
Setelah beberapa waktu menetap di sana, ia kembali ke bumi pertiwi dengan membawa spirit daya juang untuk berdakwah, menegakkan kalimat tauhid di negeri tercinta. Ia menjadi seorang ulama yang diidam-idamkan oleh masyarakat, dan tentu saja: keinginan ayahnya berhasil dan terkabul.
Selain haus akan ilmu, Hamka juga dikenal sebagai sosok yang gemar menulis dan berpantun. Keterampilannya ini sudah terlihat sejak remaja dan berkembang hingga dewasa. Seperti yang dikisahkan oleh Rusydi, Hamka semasa remajanya pernah menulis buku yang berjudul “Khatibul Umat” sebanyak 3 jilid. Setelahnya, ia juga tercatat pernah mengarang sebuah roman dalam bahasa Minang yang berjudul “Si Sabariah” dalam Arab Melayu sampai cetak ulang sebanyak 3 kali, yang dari honor buku inilah Hamka dapat membiayai pernikahannya dengan istrinya, Siti Raham.
Keterampilannya ini semakin menjadi-jadi ketika ia beranjak dewasa, bahkan sepanjang hayatnya ia berhasil menelurkan berbagai karya yang cukup fenomenal sampai kurang lebih sebanyak 118 karya, mulai dari buku-buku roman sampai keagamaan dan falsafah.
Dalam kesempatan lain, Hamka juga sering berpantun ketika melihat fenomena sesuatu yang sempat mengusik batinnya. Uniknya, pantun yang dilontarkan selalu berkaitan dengan apa yang ia lihat dan refleksikan. Hebatnya lagi, pantun itu kerap dilontarkan secara spontan. Satu kelebihan yang mengagumkan, yang dimiliki olehnya.
Di samping itu, Hamka juga dikenal sebagai sosok yang humoris nan jenaka. Seperti yang diungkapkan oleh Rusydi, “Buya Hamka selalu bisa menceritakan suasana. Meskipun kondisi tengah pedih, tak lupa dia menyelipkan humor-humornya untuk melupakan suasana duka”.
Bahkan dalam berpidato atau berfatwa sekalipun, ia kerap menyisipkan humor yang bisa membuat orang yang mendengarnya terpingkal-pingkal. Seperti pengalaman pribadi Rusydi bersama saudara-saudaranya ketika sedang berada di rumah, ketika Rusydi menunjukkan dan memberi tahu ayahnya bahwa ia wajib membaca sajak-sajak angkatan 45 di sekolahnya, khususnya di jurusannya. Namun, tak disangka tanggapan Hamka saat itu justru,
“…biar pun kamu sudah SMA, dan sudah membaca sastra modern, Tuhan masih mewajibkan kamu melakukan sembahyang lima waktu. Tanyalah pada guru-gurumu itu, masih bolehkah anak anak SMA. Pasti dia membolehkan,”
Sungguh, humor yang sangat sarat akan nilai religius!
Hamka juga digambarkan sebagai sosok yang ikhlas, pemaaf, dan mudah berlapang dada. Dalam buku ini, diceritakan betapa romantisnya Hamka dalam menyanggupi wasiat Bung Karno untuk menjadi imam dalam menshalati jenazahnya, satu-satunya sosok yang pernah memfitnah hingga memenjarakan Hamka pada masa Demokrasi Terpimpin akibat undang-undang subversif yang berlaku saat itu.
Kendati demikian, berkat tindakan semena-mena ini, atas pengakuan Hamka sendiri, di dalam masa tahanan ia justru dapat menuntaskan magnum opus-nya, Tafsir Al-Azhar hingga 9 jilid, yang hingga saat ini masih menjadi salah satu rujukan populer bagi masyarakat Indonesia.
Diceritakan pula bahwa ia pernah meng-Islamkan sosok pemuda atas permintaan salah seorang pemudi, teman dari pemuda tersebut yang kelak menjadi pasangan suami dari temannya itu. Setelah diketahui bahwa pemudi tersebut ternyata adalah anak dari seorang sastrawan besar asal Blora, Pramoedya Ananta Toer.
Pram yang saat itu dikenal juga sebagai antek-antek komunis, sebelumnya sempat menuduh, memfitnah, hingga mencaci maki Hamka. Hal ini lantaran karya-karya Hamka, yang menurut Pram dan Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat) terindikasi plagiaris, terutama pada karya “Tenggelamnya Kapal Van Der Wick”.
Hamka yang sempat mendengar kabar itu, tidak menanggapinya secara serius. Justru berkat kelapangan hati seorang Hamka, baik Bung Karno dan Pram, keduanya tak pernah diserang balik, melainkan keduanya malah dimaafkan dengan tulus, dengan sebaik-baiknya pemaafan. Ini adalah satu dari sekian banyak potret dari kebesaran akhlak Hamka terhadap sesama manusia. Dan masih banyak kisah lain yang diceritakan dari Hamka pada buku ini yang tentunya jauh lebih inspiratif.
Kenangan demi kenangan yang dikisahkan oleh buku ini, tidak serta merta untuk ‘melebih-lebihkan’ atau membesarkan sosok Hamka. Melainkan, ini sebagai bentuk kenang-kenangan sekaligus apresiasi seorang Rusydi Hamka kepada ayahnya yang begitu banyak dan besar kebaikan dan jasanya terutama kepada anaknya sendiri, terlebih kepada masyarakat dan juga negaranya.
Ini tentu menjadi catatan penting bagi kita semua agar bagaimana kita sebagai generasi penerus bisa meneladani tokoh-tokoh inspiratif sembari mengambil peran dan berkiprah lebih jauh untuk kebaikan sesama, agama, nusa, dan bangsa. Oleh karenanya, buku ini wajib dibaca bagi anak bangsa, atau siapapun Anda yang mengagumi dan ingin mengenal lebih jauh sosok Hamka.
Buku ini ditulis oleh anak Buya Hamka sendiri, Rusyidi Hamka. Beberapa sisi lain mengenai Buya Hamka yang tidak pernah dipublikasikan media sebelumnya dapat ditemukan dibuku ini; seperti alasan Buya bersedia menjadi ketua MUI dan alasannya mengundurkan diri diperiode ke2nya menjadi ketua, dan Fitnah kejam yang diterima Buya saat Konfrensi Islam sedunia pertama di Mekkah. Buku ini juga banyak bercerita kebiasaan-kebiasaan Buya Hamka berdasarkan kesaksian penulis sendiri.
Membaca detik-detik terakhir meninggalnya beliau yang Insya Allah Khusnul Khotimah, rasanya kita ini tidak ada apa-apanya.
Mau nangis baca bukunya, karena ketemu di lemari bukunya Alm. Kakek. Masih dengan menggunakan ejaan lama dan sangaaaaaat lambat membacanya, sekitar 3 bulan. Selain karena kertasnya yang memang sudah berbau apak, disebabkan juga karena sempat terdistraksi dengan bacaan lain.
Sejak meniatkan diri bekenalan dengan Buya HAMKA, semakin mikir, ini 'orang' kok ya unik banget. Kalau menulis tentang tasawuf dan kebahagiaan hidup itu kok rasanya nyessssss adem dan sederhana, tapi kalau nulis novel kok ya sedihnya juga terasaaaa nelongsonya. Tegasnya HAMKA jangan diragukan, tapi kelembutan hatinya juga sungguh-sungguuuuuhhh bikin mikir, "Ini orang kok ya unik banget." :)
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang sering kita kenal dengan sebutan Hamka dikenal aktif dalam perjuangan Islam di tanah air baik sebelum diangkat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia yang pertama maupun sesudahnya. Dengan membaca buku "Pribadi dan Martabat Buya Hamka" yang ditulis oleh Rusydi Hamka (anak ketiga dari Hamka), kita dapat mengetahui kehidupan Hamka dari kilas memori keluarga terdekatnya.
Kehangatan dalam diri Hamka dapat dirasakan dari seringnya orang yang berkunjung. Hamka tidak pernah menolak tamu-tamu yang minta solusi dari suatu permasalahan. Bahkan beliau berkata, "Berapalah beratnya kita membantu memecahkan persoalan mereka itu dibanding orang-orang yang mengalaminya sendiri. Seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul bukan?"
Pintu rumahnya pun terbuka untuk anak-anak kesebelas. Hamka memiliki sepuluh orang anak. Namun keluarganya selalu memiliki anak kesebelas. Anak-anak kesebelas adalah mereka yang diizinkan tinggal di rumah beliau sampai menapaki jalannya sendiri.
Pengalaman lain yang dialami penulis yang dapat diambil hikmah adalah sikap diam yang diambil Hamka saat dirinya terkena fitnah dalam Konferensi Islam Sedunia di Makkah pada 1975. Langkah yang diambilnya sangat menginspirasi. Langkah tersebut memadamkan api fitnah yang menimpanya, dan bahkan menimbulkan persahabatan antara Hamka dengan orang yang sempat mencercanya (karena termakan fitnah) di kala itu.
Buku ini juga memuat catatan ketika Hamka ditahan, surat pribadi beliau ke presiden Soeharto ketika ada polemik golongan, dan pidato saat pembentukan MUI pertama kali.
kisah hidup buya hamka memang mengandung banyak teladan dan pengajaran yang luar biasa. Apalagi buku ini ditulis langsung oleh anak beliau yang tidak pernah disampaikan kepada siapapun.
Memoar tentang Hamka dari sudut pandang anak pertamanya Rusydi Hamka mengenai banyak kisah-kisah beliau yang saya rasa terkesan sangat sederhana. Dari mulai bergerilya saat di kampung beliau, hingga pindah tempat ke Jakarta sampai menjabat sebagai ketua MUI pertama, dst. Selamat membaca.