Catatan di bawah ini merupakan pindahan dari komentar di FFDN III (Pulau Penulis, Lautan Indonesia) yang telah ku-edit dengan penambahan/pengurangan keterangan:
"Jujur dari keempat novel fikfan lokal keluaran tahun 2005 yg udah pernah kubaca itu (Ledgard, Pinissi, Phoenix, The Corruption), Pinissi adalah yang idenya paling bagus.
Tapi, cuma sampe ide itu aja, karena ternyata perwujudannya gak sesuai harapan.
1. Boros kertas banget.
Ada banyak pembahasan/adegan yang diulang-ulang melulu penjelasannya. Kalau diulang sebagai penyebutan satu dua kalimat sih ok aja, tapi ini satu adegan penuh. Serasa di-copy-paste...
Banyak juga kalimat-kalimat yang kurang efektif dan terlalu berputar-putar. Jadi curiga, jangan-jangan sengaja biar halamannya banyak ya, trus harga jualnya jadi naik, lalu otomatis hasil royalti juga... >_<
2. Endingnya gak jelas.
Apa tujuannya juga pembaca diajak muter-muter sepanjang buku kalau akhirnya cuma begitu aja?
3. Artwork-nya lumayan.
Tapi knapa yang dipilih jadi cover malah yang itu? Padahal banyak gambar di dalam buku yang lebih bagus...
4. Penyelesaian permasalahannya terlalu dimudahkan. ^^'"