Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pinissi: Petualangan Orang-Orang Setinggi Lutut

Rate this book
Pinissi tak pernah tahu sebelumnya bahwa rajah di punggungnya dan bola kristal yang dibawanya sejak kecil akan mengantarkannya pada petualangan-petualangan yang mencengangkan. Petualangan yang membuka tabir asal-usul kedua orangtuanya.

Bola kristal jelmaan Roh Lepe, roh keabadian, yang ada di tangan Pinissi menjadi buruan para Gergasi Penjaga Api, tentara raksasa bertubuh besar dan gempal yang mengerikan. Tak hanya itu, Pinissi juga harus berhadapan dengan burung Albatros, burung kutukan raja Salom yang kejam, terjebak di kampung orang Bunian, orang-orang yang dikenal sebagai pemakan daging manusia, dan menyelamatkan diri dari kepungan sebelas penunggang kuda berjubah hitam dan seratus anjing hutan. Dengan bantuan orang-orang setinggi lutut, Pinissi menghadapi semua marabahaya yang mengancamnya.

Lalu siapakah Perempuan-Perempuan Jelita, Kora si Ular Laut, Manusia Bongkok, si Mata Merah, dan juga Dampu Awan? Apakah hubungannya dengan Misteri Seribu Satu Ramalan?

Bacalah dan kau akan tahu!

450 pages, Paperback

First published July 1, 2005

2 people are currently reading
23 people want to read

About the author

Mama Piyo

1 book2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (24%)
4 stars
1 (3%)
3 stars
13 (44%)
2 stars
4 (13%)
1 star
4 (13%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
April 12, 2021
Ditulis dengan bagus dan sangat mengalir, hanya saja kentara banget aroma The Lord of the Rings-nya.

Manusia bungkuk : gollum
Argon dan Lily: Aragorn dan Arwen
Pinissi yang dipatuk Albatros: Frodo yg terluka karena ditikam
11 penunggang kuda hitam : yah, tahu sendiri deh
Mata merah: Sauron

Padahal ada upaya penulis memperkenalkan setting Sulawesi. Ini yg seharusnya digali lagi. Tapi bukunya cukup menghibur. Dan ternyata ini baru seri pertama dari 3 buku yang entah kapan ditulis kelanjutannya.
Profile Image for Fredrik Nael.
Author 2 books45 followers
October 23, 2010
Catatan di bawah ini merupakan pindahan dari komentar di FFDN III (Pulau Penulis, Lautan Indonesia) yang telah ku-edit dengan penambahan/pengurangan keterangan:

"Jujur dari keempat novel fikfan lokal keluaran tahun 2005 yg udah pernah kubaca itu (Ledgard, Pinissi, Phoenix, The Corruption), Pinissi adalah yang idenya paling bagus.
Tapi, cuma sampe ide itu aja, karena ternyata perwujudannya gak sesuai harapan.

1. Boros kertas banget.
Ada banyak pembahasan/adegan yang diulang-ulang melulu penjelasannya. Kalau diulang sebagai penyebutan satu dua kalimat sih ok aja, tapi ini satu adegan penuh. Serasa di-copy-paste...
Banyak juga kalimat-kalimat yang kurang efektif dan terlalu berputar-putar. Jadi curiga, jangan-jangan sengaja biar halamannya banyak ya, trus harga jualnya jadi naik, lalu otomatis hasil royalti juga... >_<

2. Endingnya gak jelas.
Apa tujuannya juga pembaca diajak muter-muter sepanjang buku kalau akhirnya cuma begitu aja?

3. Artwork-nya lumayan.
Tapi knapa yang dipilih jadi cover malah yang itu? Padahal banyak gambar di dalam buku yang lebih bagus...

4. Penyelesaian permasalahannya terlalu dimudahkan. ^^'"
Profile Image for Nura.
1,057 reviews30 followers
April 20, 2015
gw suka penamaannya dan kemiripan dengan nama di dunia nyata, macam Tanah Bonerate --> pulau Takabonerate (surga yg belom sempet gw kunjungi meski udah dua kali ke Makassar). trus ada Bira dan Pulau Bulukumba (di dunia nyata itu nama salah satu kabupaten sulawesi selatan). yg bikin bingung, di peta ditulis Pulau Bukumba tapi di dalam cerita ditulis Pulau Bulukumba, mana yang bener ya?). just info, semak Nona Makan Sirih tuh tumbuhan nyata, lho.

ada beberapa hal yang mengganggu saat membaca buku ini. di hlm. 36 kenapa ada pengulangan (walopun cuma beberapa kalimat sih)? mungkin yang ngedit lagi ngantuk dan lupa menghapus perbaikannya? trus di hlm. 142 dalam ilustrasi, rajah di punggung Pinissi tertulis Lily putraku, seharusnya tertulis Putera Lily (hlm.258). ga sempat diperbaikikah (walaupun tulisan putra di ilustrasi udah benar sesuai eyd)? satu lagi yang bikin gw bingung dengan penceritaannya, di bab Pedang Panglima Gioh dan Riwayat yang Hilang di hlm. 363, Pinissi sudah membawa pedang dan gelang Gioh kepada Bibi Hela. saat itu juga ada Por. Lalu kenapa di bab Kitab Orang Setinggi Lutut, di hlm 381-383, baru diceritakan Pinissi yang memperlihatkan kedua benda itu kepada Por? imho, sepertinya susunan babnya terbalik, deh.

lastly, gw ngerasa beberapa bab terakhir, mulai dari Raja Tanah Banglo sampai Mata Merah dan Penguasa di Tanah Banglo itu lebih mirip apendiks daripada kelanjutan ceritanya. buat nambah-nambahin halaman? baru di bab selanjutnya, Ingin Pulang ke Tanah Loka cerita berlanjut kembali.

oia, satu lagi, cuma penasaran aja, kenapa Mama Piyo ga menyebut Gulliver's Travel sebagai sumber inspirasi juga ya? iya, sih klo di dongeng itu, makhluk liliputnya emang cuma setinggi 6 inci. sementara yang rada baru tentang makhluk liliput lain yang mirip dengan makhluk setinggi lutut itu menurut gw ada di buku The Wee Free Men.

#Properti Perpustakaan Pustaka Kelana
Profile Image for Dian Achdiani.
207 reviews26 followers
July 2, 2007
Terlalu berusaha mendekati dunia JRRT. Padahal latar belakangnya rada-rada Sulawesi, kenapa mesti dipaksakan mendekati dunia JRRT? Walau penamaannya beda, Orang Setinggi Lutut, dsb, tapi tetap saja kelihatan. Beda dengan Ledgard, dunianya kelihatan berbeda, meski mungkin dilukiskan sama dengan memasukkan makhluk-bukan-manusia-tapi-bisa-berpikir-dan-berperilaku-seperti-manusia tapi dunianya terasa berbeda, seperti dunia bikinan WD Yoga sendiri saja. Mama Piyo belum bisa seperti itu.
Profile Image for Adham Fusama.
Author 9 books72 followers
February 9, 2012
Mengecewakan buat saya. Ini adalah jenis novel dengan premis cerita yang luar biasa - plus ilustrasi yang mengagumkan (membuat saya terbuai untuk membeli) - namun sayangnya gagal dieksekusi dengan baik. Ceritanya bertele2, tokoh utamanya tidak menarik, setengah buku akhirnya saya tinggalkan tak terbaca, hingga bukunya hilang, meski terus terang saya tidak begitu peduli. -_____-
142 reviews
July 8, 2009
Waktu baru baca beberapa halaman, berharap bakal nemuin petualangan yang rame, ternyata..... rasanya mengganjal...
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.