Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pacar Senja

Rate this book
Antologi khusus berisi 100 puisi pilihan karya Joko Pinurbo

162 pages, Paperback

First published January 1, 2005

12 people are currently reading
436 people want to read

About the author

Joko Pinurbo

43 books363 followers
Joko Pinurbo (jokpin) lahir 11 Mei 1962. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1987). Kemudian mengajar di alma maternya. Sejak 1992 bekerja di Kelompok Gramedia. Gemar mengarang puisi sejak di Sekolah Menengah Atas. Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001; buku puisi ini kemudian terbit dalam bahasa Inggris dengan judul Trouser Doll (2002). Ia juga menerima Sih Award 2001 untuk puisi Celana 1-Celana 2-Celana 3. Buku puisinya Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapat Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2002. Sebelumnya ia dinyatakan sebagai Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001. Tahun 2005 ia menerima Khatulistiwa Literary Award untuk antologi puisi Kekasihku (2004). Buku puisinya yang lain: Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), dan Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007). Selain ke bahasa Inggris, sejumlah sajaknya diterjemahkan ke bahasa Jerman. Sering diundang baca puisi di berbagai forum sastra, antara lain Festival Sastra Winternachten di Belanda (2002). Oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan sejumlah sajaknya digubah menjadi komposisi musik.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
39 (30%)
4 stars
35 (27%)
3 stars
45 (35%)
2 stars
6 (4%)
1 star
3 (2%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Roos.
391 reviews
January 18, 2009
JokPin memang paling jago kalo bikin puisi yang satir mengenai kehidupan sehari-hari, terkadang terkesan lucu dan ingin tertawa, tapi tertawa yang berlebihan hingga menangis karena miris sedih. Coba tengok puisi ini:

Naik Bus di Jakarta

--untuk Clink

Sopirnya sepuluh
Kernetnya sepuluh
Kondekturnya sepuluh
Pengawalnya sepuluh
Perampoknya sepuluh
Penumpangnya satu, kurus,
dari tadi tidur melulu;
Kusut matanya, kerut keningnya
seperti gambar peta yang ruwet sekali.
Sampai diterminal, kondektur minta ongkos:
"Sialan, belum bayar sudah mati!"


(1999)

atau puisinya mengenai kejadian Mei 1998

MEI

:Jakarta,1998

Tubuhmu yang cantik, Mei
telah kupersembahkan kepada api.
Kau pamit mandi sore itu.
Kau mandi api.

Api sangat mencintaimu, Mei.
Api mengucup tubuhmu
sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.
Api sangat mencintai tubuhmu
sampai dilumatnya yang cuma warna
yang cuma kulit yang cuma ilusi.

Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei
adala juga tubuh kami.
Api ingin membersihkan tubuh maya
dan tubuh dusta kami dengan membakar habis
tubuhmu yang cantik, Mei.

Kau sudah selesai mandi, Mei.
Kau sudah mandi api.
Api telah mengungkapkan rahasia cintanya
ketika tubuhmu hancur
dan lebur dengan tubuh bumi;
ketika tak ada lagi yang mempertanyakan
nama dan warna kulitmu, Mei.


(2000)

Ehhhmmmm....So JokPin. Baca puisinya seperti mengulum permen Nano-nano.


Profile Image for Elyza.
61 reviews
July 10, 2015
"Betapa curangnya rindu"- Pacar Senja- Jokpin
4 reviews
May 4, 2020
Hmmm..dalem
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Lila Cyclist.
856 reviews71 followers
March 26, 2014
Tak tahu bagaimana memulai review sebuah buku kumpulan puisi milik Joko Pinurbo ini, yang ternyata adalah antologi 100 puisinya yang diambil dari 5 buku sajak sebelumnya: Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003) dan Kekasihku (2004). Dari kelima buku sajaknya itu, joko Pinurbo harus menyeleksi sekian sajaknya untuk dibukukan kembali dalam bentuk antologi puisi. Tidak semua puisi di buku ini adalah puisi lamanya, ada dua puisi baru Layang Layang (1980) dan Pohon Bungur (1990). Di dalamnya, Joko memilah lagi sajak sajaknya berdasarkan ide, kisah atau kedekatan tema tertentu ke dalam sub judul.
Ada 7 sub judul di dalam antologi puisi ini. Judul pertama dibuka dengan Celana. Disini Joko bermain kata kata seputar kisah celana sebagai kata yang bermakna harafiah namun lebih sering menggunakannya sebagai kiasan. Pada awalnya, ada beberapa puisi yang membuat saya tergelak karena sedikit vulgar meski tetap indah dalam penyampainnya. Simak saja
Ketika sekolah kami sering disuruhmenggambar celana
yang bagus dan sopan, tapi tak pernah diajar melukis
seluk beluk yang di dalam celana …. (Celana 2, hal. 4)
Entah pikiran saya yang lagi tidak senonoh atau memang demikian yang dimaksudkan oleh si penulis, saya tidak yakin. Dalam puisi ini, saya merasa Joko menyindir para orangtua yang tidak terlalu terus terang tentang beberapa hal yang mereka anggap tabu –seks, sehingga di kemudian hari para anak mencoba mencari tahu sendiri, entah dengan cara yang tepat atau salah
Karena itu, kami suka usil dan sembunyi sembunyi
membuat coretan dan gambar gambar porno
di tembok kamar mandi, sehingga kamipun terbiasa menjadi
orang orang yang suka cabul terhadap diri sendiri.
Celana sendiri terkadang bermakna lain di pusinya yang lain. Saya menangkap makna ketakwaan seseorang dalam beribadah. Bahkan bungkus ibadah tak mampu membendung derasnya kecintaan seseorang akan Dzat penciptanya
Celana tak kuat lagi menampung pantat
Yang goyang terus memburu engkau
Pantat tak tahan lagi menampung goyang
Yang kencang terus menjangkau engkau
Goyang tak sanggup lagi menampung sakit
Yang kejang terus mencengkeram engkau
Telanjang tak mampu lagi melepas,
Menghalau Engkau (Meditasi, hal. 8)
Bercukup Sebelum Tidur adalah judul dari sub judul berikutnya. Terus terang, puisi yang terangkum disini mulai mengajak kening saya berkerut. Kisah kisah di dalamnya cenderung abusrd yang bagi saya susah mencari makna di balik symbol kata ini dan itu. Beberapa saya tangkap adalah kecintaan seseorang terhadap kehidupan duniawi dengan kecantikan badaniah, ketakutan akan ketuaan dan terutama kematian

Review lengkap nunggu posbar di blog yaaa...
Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
October 16, 2008
Sedang apa Jokpin dengan puisi-puisi lama dan baru yang dikumpulkannya lagi dalam sebuah buku. Adakah makna melantun dalam lagu berbeda ketika puisi berganti sisi dalam lembar halaman yang berbeda?

Kali ini banyak puisi yang dituliskan untuk seseorang. Yang paling bunyi di kepala saya adalah dua bait terakhir dari puisi yang ini:

Perahu
--YB Mangunwijaya

...
...
Memang ia kandas, dan tenggelam, ke lembah Maria.
Seperti hidup yang karam ke dalam doa.

Barangkali ia sendiri sebuah perahu. Yang dimainkan
anak-anak piatu. Yang berani mengarungi mimpi
dan menyusup ke belantara waktu.

(1999)
Profile Image for kinu triatmojo.
288 reviews3 followers
July 2, 2007
Berkali-kali saya harus menahan nafas begitu selesai membaca beberapa sajaknya. Sejak dulu ada dua signs yg saya percaya untuk "mengukur" suatu karya, entah itu film, buku, lagu dsb yaitu seberapa merinding kulit dan berdegup jantung saya ketika berhadapan dengan karya. Dan tubuh saya bereaksi kedua-duanya sewaktu membaca Pacar Senja. Plus menahan nafas dan menampung perasaan ambigu yang sulit digambarkan.
Profile Image for Pera.
231 reviews46 followers
April 22, 2011
Akhirnya, punya buku ini...koleksi buku puisi yg pertama.
Sulit jg menikmati puisinya ya...tp puisi ini yg paling kusuka...
lucu...tp maknanya menohok..dalam.
***


Naik bus di Jakara

Sopirnya sepuluh
Kernetnya sepuluh
Kondekturnya sepuluh
Pengawalnya sepuluh
Perampoknya sepuluh
Penumpangnya atu, kurus
dari tadi tidur melulu;
kusut matanya, kerut keingnya
seperti gambar peta yang ruwet sekali.
sampai di terminal, kondektur minta ongkos
"Sialan, belum bayar sudah mati!"

Profile Image for gieb.
222 reviews78 followers
July 23, 2008
teks adalah segalanya. dan diluar teks tidak ada apa-apa.
sebenarnya apa yang tersisa dari sebuah puisi? selain menziarahi waktu yang demikian nonsens. buih diksi menyungsang langsat di gemuruh penat.

puisi, aku ceraikan kau!
35 reviews
September 17, 2007
ga bisa dibilang deh nikmatnya baca buku ini....kayak nikmatin es cappucino sambil makan serabi....panas dingin....brrrrr
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.