Jump to ratings and reviews
Rate this book

Chiru'un, Disciples of Luan

Rate this book
Menjadi murid luan adalah sebuah kehormatan terbesar yang bisa diimpikan seorang anak gadis. Ribuan gadis menyulam berjam-jam, berhari-hari, demi berharap dapat melihat sedikit saja percikan luan. Akan tetapi, Chiru’un yang liar dan semaunya malah melemparkan kesempatan itu begitu saja.
***
Chiru’un Sata Omina yang liar awalnya tidak peduli akan kekuatan misterius yang ada dalam dirinya. Ketika akhirnya terpilih menjadi murid luan, ia tak menyangka hari-harinya yang penuh kebebasan harus berakhir. Tiba-tiba saja, ia harus duduk selama berjam-jam untuk menyulam setiap hari sebagai bagian dari pelajaran luan, suatu kegiatan yang amat dibencinya.
Hari-hari Chiru’un pun serasa di neraka. Tiga kali ia berusaha kabur dari Yalai Bayourunaa, tempatnya menuntut ilmu, karena tak tahan akan ejekan teman-temannya. Ketika akhirnya bertemu dengan Valerie yang kemudian menjadi sahabat sekaligus kakak angkatnya, Chiru’un perlahan mulai memahami makna setiap pelajaran yang diberikan. Namun, perjuangannya untuk menjadi penguasa luan masih panjang. Serangkaian ujian menanti.

Bagaimanakah Chiru’un akan bertahan menghadapi didikan keras gurunya? Mampukah ia bersama kedelapan murid lainnya menjadi penguasa luan?
Sebuah novel fantasi yang dikisahkan dengan apik, memikat, penuh detail, sekaligus mendebarkan, membuat Anda terlarut dalam setiap imajinasi yang digambarkan hingga melewatkan setiap halamannya pun tak rela.
Selamat membaca!

“Luan adalah sinar pembimbing hidup kami. Jalan jiwa dan jantung hati kami. Anyaman kasih dan harapan kami. Ia adalah kebenaran kami. Cahaya kami. Sekarang, dan selamanya.”

542 pages, Paperback

First published May 1, 2012

4 people are currently reading
34 people want to read

About the author

Tasfan

1 book2 followers
Tasfan is a pseudonym of Nafta S. Meika, the author of Tanril.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
21 (60%)
4 stars
8 (22%)
3 stars
4 (11%)
2 stars
1 (2%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Ardani Subagio.
Author 2 books41 followers
December 8, 2013
Easily one of the best local fantasy I've read. Mulai dari karakter, penokohan, gaya bahasa, pacing plot, hingga pemilihan kata dan prosa dalam setiap kalimatnya pun begitu mengagumkan. Penulis memberi cara yang unik dalam mengenalkan karakter utama dengan memulai dengan karakter yang tidak terlalu berpengaruh pada plot lebih dulu, baru benar2 masuk dalam karakter Chiru'un. Tapi, sebenarnya tidak cuma itu, karena karakter yang muncul dalam prolog ini pun pada akhirnya akan berperan besar membantu para tokoh utama di penghujung cerita.

Aku benar2 harus memberi acungan jempol kepada penulis dalam hal penokohan. Belum terlalu jauh dalam cerita, kisah sudah dipadati dengan sepuluh tokoh utama (sembilan murid dan satu guru) yang semuanya memiliki sifat yang khas dan begitu berbeda satu sama lain. Sama sekali tidak terlihat ada karakter tempelan atau ada hanya sekadar untuk memenuhi cerita.Lebih mengagumkannya lagi bagiku adalah karena kesepuluh tokoh ini semuanya adalah perempuan (aku selalu kesulitan membuat karakterisasi perempuan terasa berbeda2).

Penokohan yang luar biasa ini bukan hanya dari tokoh utama saja. Bahkan tokoh2 sampingan yang hanya muncul sekilas pun terasa seperti seorang tokoh yang hidup, bukan sebuah boneka yang hanya menuruti kehendak penulisnya. Hal ini terutama terasa ketika ada tokoh dari negara tetangga yang bertemu dengan para tokoh utama, dan mereka perlahan2 bertukar pengetahuan dan kebudayaan masing2. Penokohan dalam novel ini terasa begitu sempurna.

Setting dunianya pun terasa begitu indah. Jika pernah membaca cerita Tanril, pasti pembaca menyadari pentingnya Luan bagi kehidupan dan budaya bangsa Selatan. Dan di sini, kita menyelami kebudayaan Luan itu dalam2, hingga terasa hanyut dan terlarut di dalamnya. Bukan hanya Luan, tapi juga kebudayaan bangsa Selatan yang benar2 unik bahkan hingga hal2 kecil seperti adat bertamu, atau warna yang dianggap tabu. Juga pentingnya belajar menyulam bagi anak2 kecil.

Segi world building novel ini benar2 luar biasa.

Bukan cuma hal2 besar seperti di atas, hal2 kecil yang terjadi dalam novel pun terasa indah dan mengagumkan. Plot utama dalam novel ini adalah tentang pemilihan calon pewaris Luan baru dari kesembilan murid yang ada. Dan tentunya, calon pewaris itu adalah murid terbaik dari mereka semua. Sebagian besar isi buku mengisahkan tentang masa belajar kesembilan murid dalam rangka menjadi calon pewaris terbaik, berikut suka duka mereka dalam tempat sekolah mereka, balai Yalouruuna.

Yang kupuji dari buku ini adalah sistem sekolahnya memiliki tujuan dan alasan yang jelas. Berbeda dengan beberapa novel lokal lain yang membuat sekolah sihir/ perang hanya supaya sekolah seperti itu ada. Tanpa memiliki alasan, tujuan, atau bahkan kurikulum yang jelas dalam sistem sekolahnya. Di sini para murid belajar perlahan mengenai Luan dan bagaimana mengimbuinya dalam tenunan atau lukisan. Mereka pun juga belajar tentang apa pengaruh yang Luan berikan kepada suku Selatan dan bagaimana mereka harus bersikap sebagai seorang calon Pewaris nantinya. Semuanya benar2 dipikirkan secara lengkap untuk membuat sebuah dunia yang sempurna.

Satu lagi yang aku suka dari novel ini adalah kisah romance-nya. Kisah romance-nya benar2 indah menyentuh, tapi dengan kadar kekejuan yang rendah. Dan hampir semua murid memiliki kisah romance seperti ini, walau memang porsi diceritakan dalam novel berbeda2. Aku suka terutama dengan cara penulis menggambarkan reaksi para gadis dalam menghadapi masalah dan dilema mereka. Aku jadi sempat mikir "Ooh, gitu toh reaksi cewek di situasi kayak gitu." atau, "Dia... kok bisa tahu sih pikirannya orang ini?"

And an author, male author especially, who can show women's thoughts and feelings perfectly like this gets a mark on my book.

Walau mungkin karena penulisnya cowok juga, jadi dia bisa menuliskan kisah romance yang cowok juga suka.

Dan mungkin sudah aku tulis di atas, tapi aku benar2 suka dengan betapa kayanya prosa dan kosakata yang penulis gunakan untuk menjabarkan berbagai kejadian dan emosi yang tertumpah ruah dalam novel ini. Terutama apa yang dilakukannya untuk menggambarkan berbagai macam sulaman dan lukisan. Entah sudah berapa banyak buku yang ia baca, tapi caranya menggambarkan berbagai hal dalam novel ini terasa indah dan tidak membosankan. Walau mungkin untuk beberapa orang bisa terasa terlalu berbunga-bunga.

Di bagian akhirnya pun, setelah ending yang menegangkan luar biasa, penulis menyisipkan sedikit pesan/ filosofi yang sepertinya ingin ia sampaikan kepada pembaca novel ini. Setelah dipikir-pikir, mungkin sebenarnya ia sudah menyebarkan pesan ini di sepanjang isi novel, tetapi ditulis dengan pelan dan halus sampai aku tidak terlalu menyadarinya. Baru di bagian akhirnya inilah penulis memberi "gong" yang sempurna dengan menjabarkan isi pesan moral yang ingin ia bagi kepada para pembaca. Sebuah cara yang luar biasa dalam menyampaikan pesan moral, tapi tanpa menggurui.

Dan, walau aku merasa puas dengan novel ini, dan endingnya juga terasa berakhir sempurna dan memuaskan, tetap terasa ada kisah yang belum selesai dalam novel ini. Perseteruan antara suku Selatan dengan bangsa Zirconia belum selesai, bahkan baru saja dimulai. Mungkin penulis sudah punya rencana akan kelanjutan novel ini sebelum memasuki linimasa novel Tanril. Jika memang begitu, aku akan menunggunya. Walau, kalau gosip yang aku dengar benar, mungkin aku akan menunggu untuk waktu yang sangat lama.
Profile Image for Mahfudz D..
Author 1 book21 followers
September 1, 2012
Warning: Repiu ini adalah ungkapan subjektif dari pembaca awam yang sedang berlatih membuat repiu, sehingga mungkin akan ditemukan hal-hal yang tak menyenangkan.

Bintang tiga dariku untuk novel ini. Mungkin ada yang nanya, kok cuma tiga. Padahal novel ini kan ditulis oleh penulis Tanril (sebuah novel yang menurut berbagai review adalah novel yang bagus. Bahkan menurut blog review yang paling saya percaya :D, novel ini adalah salah satu novel fikfan terbaik)?

Jawabannya karena ini agak tak sesuai harapan *subjektif banget ya?*. Oke, mari kita lihat sisi negatif dan positif novel ini di mata pembaca awam ini.

Kita mulai dari negatifnya dulu, hehehe…

1.Terlalu banyak petuah dan kata-katanya terlalu berbunga-bunga, jenis yang kurang aku sukai. Memang sih, kadang narasi menjadi indah, tapi kalau berlebihan rasanya eneg juga. Inilah salah satu alasan kenapa aku nyelesaiin ini novel dalam waktu yang begitu lama (hampir satu bulan). Padahal, biasanya untuk novel setebal ini tak pernah memakan waktu lebih dari 5 hari.

2.Konflik utama dalam novel ini kurang begitu jelas, sebaliknya aku menemukan terlalu banyak hal yang satu sama lain cukup kuat untuk menjadi konflik utama dalam novel ini. sampai sepertiga novel, aku belum nangkep apa yang mau disampaiin sebenernya.

3.Ending (maaf) kurang memuaskan. Kupikir akan terjadi klimaks yang ‘wah’, tapi ternyata tidak.

4.Terakhir adalah munculnya sajak berbahasa Inggris yang kerasa tiba-tiba setelah pembaca disuguhi sajak-sajak dalam bahasa conlang yang indah. Ini cukup mengganggu.

Gak bagus kan kalau yang dilihat jeleknya mulu, sekarang kita beralih ke positifnya…

1.Sebelumnya aku ingin memuji sampul novel ini. Selama ini, aku menilai penerbit yang menerbitkan novel ini sebagai penerbit yang tidak ‘sayang’ dengan sampul novelnya, terutama yang bergenre fantasi. Karena dari beberapa novel fantasi yang telah diterbitkan, hampir semuanya selalu berupa (maaf) tambal sulam foto karakter yang entah nyomot dari mana, yang bikin males mau baca. Tapi begitu melihat novel ini, pandangan itu sedikit berubah. Semoga menjadi awal baik yang akan berlanjut dikemudian hari.

2.Penamaan karakternya, menurutku keren. Awalnya emang terasa random, tapi lama kelamaan terasa keren. Apalagi dengan pakem nama lengkap yang terdiri dari tiga kata.

3.Karakterisasinya jempolan. Dalam novel ini, bisa dibilang tokoh utamanya banyak banget. Para murid (9 orang), para tetua (8 orang), belum lagi tokoh-tokoh yang lain. Tapi ajaibnya, dengan tokoh yang begitu banyak penulis masih mampu menampilkan setiap tokoh melalui keunikan mereka masing-masing. Inilah yang bisa menunjukkan kepada pembaca siapa mereka.

4.Pada beberapa bagian, aku sangat menyukai kisah ini. Favoritku adalah kisah 'cinta' Elinga dengan murid Dao Di. Berharap suatu hari kisah ini akan dibuat sebagai novel tersendiri.

Sekian maaf jika ada spoiler yang tak disengaja ^^
Profile Image for Dewi Kirana.
Author 2 books20 followers
November 30, 2016
Satu bulan lebih baca buku ini? Well, ini gara-gara banyaknya kesibukan plus banyaknya pengalih perhatian (baca: komik, serial tv, yayang tercinta *uhukuhuk* dsb dst) plus buku ini nggak bikin aku segitu tertariknya sampai nggak bisa berhenti baca.

Bukan karena ceritanya nggak bagus. Kisahnya bagus, beneran. Sayangnya bahasanya kelewat berbunga-bunga buatku. Awal-awal baca sih sukses membangun atmosfer ceritanya. Tapi lama kelamaan malah bikin capek, dan bahasa bunga-bunga itu bikin buku ini jadi kelewat tebal menurutku.
Profile Image for R-Qie R-Qie.
Author 4 books9 followers
November 11, 2018
Chiru'un, gadis kecil pemberontak dari suku Selatan, menjadi murid kedelapan Rashu'un Anbelle, sang pewaris luan. Jumlah murid yang cukup untuk memulai pelajaran. Gadis-gadis terpilih nantinya akan menjadi penguasa dan salah satunya ditakdirkan sebagai pewaris menggantikan generasi sebelumnya. Generasi kali ini tergolong istimewa karena terdiri dari sembilan gadis dengan rentang usia enam sampai belasan tahun. Selain Chiru'un ada Valerie, Akaril, Pikimi, Ghamuna, Elinga, Malika, serta si kembar Kaana dan Shila. Sembilan karakter dari latar belakang berbeda disatukan dalam gemblengan Anbelle di Yalai Bayourunaa. Mereka diajarkan menenun, melukis, dan memahami luan melalui kemampuan-kemampuan ajaib. Beragam konflik dan peristiwa terjadi selama bertahun-tahun mereka tinggal seatap dan belajar bersama. Jauh dari orangtua dan sanak keluarga
***
Meski tokohnya banyak, saya tidak kesulitan mengenali dan membedakan mereka. Karakter masing-masing cukup kuat. Pilihan diksinya puitis. Di satu sisi menarik. Akan tetapi, ada kalanya cenderung membosankan dan agak berlebihan. Tema yang diangkat unik. Istilah-istilahnya juga menarik. Setting dan plot digarap dengan baik. Ada banyak hikmah dan pelajaran penting yang bisa diambil dari perjalanan hidup para tokoh yang saling berkaitan. Saya tidak terlalu suka cara bicara Chiru'un terutama di bagian awal. Dikesankan cadel karena masih kecil, tapi omongannya tidak jelas. Bukan cadel yang masih bisa dipahami. Beberapa malah sulit dimengerti dan tidak ada penjelasan maksud dari kata-kata Chiru'un. Tiga bintang.
***
Profile Image for Mega Yohana.
Author 1 book2 followers
May 23, 2018
Hm.... beberapa hari lalu beli itu, n beberapa waktu lalu juga udah selesei baca itu...
Ku pikir, gimana yah, seharusnya itu bisa lebih keren dari itu,
ternyata... -_-a
Profile Image for Dwi Setianto.
69 reviews9 followers
February 8, 2015
Aaaah! Akhirnya selesai juga baca nih buku... :D
Aku suka Chiru'un, dari ucapan-ucapannya kayaknya dia itu unyu-unyu gitu.. XD
Profile Image for Demeter Aulia.
23 reviews
June 16, 2019
Banyak pemahaman yang gak biasa yang bisa ditemukan di dalamnya. Ceritanya ga ringan tapi ga bisa dibilang berat juga. Deskripsi dalam ceritanya bagus dan endingnya tak dapat ditebak.
Profile Image for tïmmyrèvuo.
204 reviews2 followers
December 27, 2022
"Easa sur' mapari. Ri'l maapari sur lorisa" - Satu bagi segala. Segala bagi yang Esa

A book that I have already read more than 15 times.

I bought this book in 2018, and since then, it has become my "comfort book." A book that I will always read when I need inner motivation and acceptance of myself and my surroundings.

This book tells of a little girl named Chiru'un Sata Omina, who is cheerful, wild, and full of warmth personality. Unlike the girls of other southern tribes, Chiru'un did not like to sew and embroider, which is what girls should do. She prefers to play in the forest and become a fairy in it. She can even separate herself and move his body. This story begins when she meets Manapaten, a man filled with sorrow and anger, where Chiru'un can see the flames from the aura that Manapaten shows. Chiru'un's ability is called "Luan," which is her power that needs to be aware.

This book is very good at playing with the imagination of its readers and bringing them into indescribable illusions. Because of the detail, I even tried to determine if what was being told was true. However, this is just a fantasy inscribed in a story. In this book, the reader's emotions are played out until they finally reach a climax in the 100 pages before closing. Although unfortunately, the closing of this book makes the feelings no longer at the highest level but remain stable to be resolved.

The reason this book is a "comfort book" is that the character Chiru'un, who initially rejects all the strengths that exist in her due to the lack of freedom, falls in love and knows her life will only survive with "Luan." it is this acceptance process that makes the reader intrigued, especially with all her efforts and sincerity to be the best to be able to maximize her strengths.

The second point is in the "Test" section, where intelligence, strength, trust, family, and even their minds are tested, where the only way is to depend on and love one another. This is what makes me, as a reader, aware of what everything means if there are no other people by our side as supporters, listeners, and even appreciators.

This book is worth reading by all who need validation of themselves and those around them.
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.