Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ny. Talis: Kisah Mengenai Madras

Rate this book
ADA apa dengan orang yang sering melihat debu-debu beterbangan, bermimpi menjadi debu, tercampak ke bumi, dan kemudian menjadi manusia? Dalam novel Ny. Talis (Kisah mengenai Madras), orang ini diberi nama Madras. Madras merupakan satu dari banyak orang di Surabaya yang dihinggapi berbagai kesaktian dan kejadian aneh. Bayangkan, ia dapat berjalan di atas rentangan tali, lompat dari gedung satu ke gedung lain, bahkan mengetahui sesuatu tanpa harus mengalaminya. Yang lantas menjadi pertanyaan adalah bagaimana kemudian kekuatan tersebut mempengaruhi hidup empunya?

267 pages, Paperback

First published January 1, 1996

13 people are currently reading
97 people want to read

About the author

Budi Darma

44 books180 followers
Budi Darma lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Semasa kecil dan remaja ia berpindah-pindah ke berbagai kota di Jawa, mengikuti ayahnya yang bekerja di jawatan pos. Lulus dari SMA di Semarang pada 1957, ia memasuki Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada.

Lulus dari UGM, ia bekerja sebagai dosen pada Jurusan Bahasa Inggris—kini Universitas Negeri Surabaya—sampai kini. Di universitas ini ia pernah memangku jabatan Ketua Jurusan Inggris, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, dan Rektor. Sekarang ia adalah guru besar dalam sastra Inggris di sana. Ia juga mengajar di sejumlah universitas luar negeri.

Budi Darma mulai dikenal luas di kalangan sastra sejak ia menerbitkan sejumlah cerita pendek absurd di majalah sastra Horison pada 1970-an. Jauh kemudian hari sekian banyak cerita pendek ini terbit sebagai Kritikus Adinan (2002).

Budi Darma memperoleh gelar Master of Arts dari English Department, Indiana University, Amerika Serikat pada 1975. Dari universitas yang sama ia meraih Doctor of Philosophy dengan disertasi berjudul “Character and Moral Judgment in Jane Austen’s Novel” pada 1980. Di kota inilah ia menggarap dan merampungkan delapan cerita pendek dalam Orang-orang Bloomington (terbit 1980) dan novel Olenka (terbit 1983, sebelumnya memenangkan hadiah pertama sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 1980).

Ia juga tampil sebagai pengulas sastra. Kumpulan esainya adalah Solilokui (1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), dan Harmonium (1995). Setelah Olenka, ia menerbitkan novel-novel Rafilus (1988) dan Ny. Talis (1996). Belakangan, Budi Darma juga menyiarkan cerita di surat kabar, misalnya Kompas; pada 1999 dan 2001 karyanya menjadi cerita pendek terbaik di harian itu. Cerpennya, "Laki-laki Pemanggul Goni," merupakan cerpen terbaik Kompas 2012.

Dalam sebuah wawancara di jurnal Prosa (2003), lelaki yang selalu tampak santun, rapi, dan lembut-tutur-kata ini sekali lagi mengakui, “...saya menulis tanpa saya rencanakan, dan juga tanpa draft. Andaikata menulis dapat disamakan dengan bertempur, saya hanya mengikuti mood, tanpa menggariskan strategi, tanpa pula merinci taktik. Di belakang mood, sementara itu, ada obsesi.”

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
22 (23%)
4 stars
31 (32%)
3 stars
26 (27%)
2 stars
12 (12%)
1 star
4 (4%)
Displaying 1 - 20 of 20 reviews
Profile Image for Maya Murti.
205 reviews8 followers
November 21, 2017
Beruntung sekali saya menemukan buku ini di Perpustakaan Kota Malang. Buku ini termasuk rilisan lama dan butuh usaha buat mencarinya. Bahkan di perpus pun buku ini bisa nyelempit di rak buku paling bawah dan gelap, bersama buku-buku lama lainnya.

Berikut ulasan saya sebagai pembaca awam, tanpa petunjuk bagaimana baiknya mengulas sebuah karya sastra. Sebelumnya saya sudah membaca buku biografi mengenai Budi Darma yang berjudul Budi Darma: Karya dan Dunianya. Saya memang menggemari karya-karya beliau sampai sebegininya, tapi tetap saja saya bukan kritikus sastra. Jadi sedikit-banyak saya sudah memahami ciri-ciri dan pengaruh-pengaruh dalam tulisan beliau. Saya akan membaginya dalam 4 seksi, yaitu tema, karakter, plot, dan narasi.

Tema

Tema yang saya tangkap dalam buku Ny. Talis ialah mengenai keberadaan manusia dalam permainan takdir. Beberapa pertanyaan yang dilontarkan dalam novel ini adalah:
- Bagaimana bisa ada orang baik dan orang jahat?
- Mungkinkah seseorang bisa mengubah takdirnya dari orang jahat menjadi orang baik?

Madras, Santi Wedanti, dan Wiwin adalah beberapa tokoh yang mewakili "orang baik", sedangkan suami Ny. Talis adalah perwakilan dari "orang jahat". Di luar kedua pihak ini ada pula pihak yang terjebak antara menjadi orang baik dan orang jahat, yaitu Ny. Talis. Kemudian cerita dikembangkan dalam konteks keluarga sehingga masing-masing tokoh diceritakan pula bagaimana mereka berkeluarga sampai nasib akhir mereka. Tampak Budi Darma ingin menyampaikan bahwa keluarga sedikit-banyak memiliki pengaruh dalam penentuan nasib anak mereka, sampai anak itu belajar bahwa mereka sebenarnya bisa mengusahakan perubahan takdir.

Karakter

Dalam usaha mengubah takdir, masing-masing tokoh digambarkan memiliki kharisma, bakat, dan kecakapan hidup. Contohnya Madras, ia adalah seorang putra yang tidak pernah mengetahui siapa ayah kandung dia sebenarnya. Meski demikian, ibunya berusaha untuk membesarkan Madras dalam lingkungan keluarga yang harmonis. Ibunya bahkan mengarang bahwa ayah Madras adalah seorang saudagar terpandang, agar Madras kecil tidak merasa sedih. Menginjak Madras dewasa, ibunya meninggal dan terungkaplah kebohongan ini. Beruntung Madras seorang anak yang cerdas, tangkas, dan berbudi baik. Hanya saja karena ia tak punya tujuan ataupun cita-cita, kelebihan yang ia miliki menjadi kurang bermanfaat bagi dirinya sendiri.

Suatu waktu Madras bertemu dengan Santi Wedanti, Ny. Talis, dan Wiwin dalam waktu yang berdekatan. Masing-masing perempuan itu memiliki arti tersendiri bagi Madras. Santi Wedanti, perempuan gigih dan pintar yang mencintai Madras. Madras balik mencintai Santi Wedanti, namun rupanya cinta itu lahir dari rasa iba. Wiwin, pelukis terkenal yang intuitif dan menyenangi kebebasan. Madras bahkan nekat melamar Wiwin, tetapi Wiwin menolaknya walau ia juga menyayangi Madras. Sedangkan Ny. Talis, ia adalah seorang perias pengantin yang terampil, anggun, dan berwibawa. Sosok Ny. Talis membayangi Madras hingga dalam mimpi. Dari mimpi-mimpinya, Madras mempelajari bahwa Ny. Talis adalah korban dalam suatu kehidupan rumah tangga yang aneh. Dugaan kesimpulan itulah yang membuat Madras mempelajari berbagai macam keterampilan ninja--melompat ke tembok, merangkai senapan, mempelajari titik-titik aliran darah tubuh--untuk menyelidiki kehidupan Ny. Talis.

Kemudian cerita beralih fokus pada kehidupan Ny. Talis di Bab 3. Semasa kecil, Ny. Talis dituduh sebagai pembawa sial bagi keluarga karena memiliki tembong menjijikkan di tubuhnya. Ny. Talis sempat akan mengangkat tembong itu dengan operasi bedah. Ternyata tembong itu juga merupakan bagian dari jantungnya. Penemuan ini membuat Ny. Talis mengutuki diri sendiri. Tetapi Ny. Talis tetap berusaha berbakti pada keluarga angkatnya--meski mereka culas terhadap Ny. Talis. Kepada suaminya pun demikian. Bahkan dengan keadaan suami yang berkepribadian ganda--entah karena sebab klinis atau mistis--Ny. Talis tetap mendampingi hingga ajal menjemput sang suami.

Plot

Dalam novel ini sempat dikisahkan Madras bersinggungan dengan Ny. Talis hingga menimbulkan rasa penasaran dan iba dari Madras. Saya sempat menduga bahwa suatu saat Madras akan menyelamatkan Ny. Talis. Ternyata dugaan saya keliru. Setelah Madras menyelidiki kehidupan Ny. Talis, fokus plot menjadi bercabang: Madras-Santi Wedanti-Wiwin dan Ny. Talis-Suami Ny. Talis. Plot Madras tampak ingin menjelaskan bagaimana pengaruh Wiwin terhadap Madras hingga ia akhirnya memiliki tujuan. Sedangkan plot Ny. Talis lebih menunjukkan bagaimana ketabahan Ny. Talis menjalani kehidupannya hingga ia menyadari bahwa tembong--atau setidaknya pengaruh tembong--harus dienyahkan. Setelah masalah dari kedua plot rampung, cerita bergulir pada kelanjutan hidup mereka masing-masing. Madras dan Santi Wedanti menikah. Ny. Talis menikah lagi dengan seorang dokter. Lalu kedua pasangan ini menjalin pertemanan dengan sepasang suami-istri dokter teman dokter suami Ny. Talis. Ketiga pasangan ini melahirkan anak-anak dengan kecerdasan dan nasib masing-masing.

Bagi sebagian pembaca mungkin merasa bahwa novel ini terasa tidak konklusif. Saya pun sempat berpikir demikian saat membaca cerpen Budi Darma (lupa judulnya) di salah satu buku kumcer beliau. Setelah saya pikir, memang karya-karya Budi Darma lebih mengajak kita untuk memahami tema kerangka dalam suatu cerita daripada cerita itu sendiri. Budi Darma sering mengangkat tema mengenai kaitan hubungan antarmanusia dengan takdir, di mana tidak semuanya berakhir bahagia. Itulah realita. Namun di sisi lain, sikap manusia pulalah yang turut menentukan bagaimana nasib mereka di hadapan takdir. Dalam novel ini, sikap manusia ditentukan dari sifat bawaan, pengaruh lingkungan keluarga, serta kemauan dari manusia itu sendiri.

Narasi

Budi Darma menggunakan deskripsi yang absurd dalam menggambarkan suatu kesan. Deskripsi yang absurd disampaikan dalam narasi yang lugas dan tangkas. Dengan narasi yang demikian, novel ini mampu membuat saya menikmati cerita dengan antusias. Contohnya saat suami Ny. Talis mengamuk setelah bola matanya lepas dicolok burung aneh:
Maka sambil berteriak ganas dia lari. Dia teriakkan kata-kata "iblis lawan iblis." Lalu dengan sekali loncat dia benturkan kepalanya kepada pohon rindang. Bukan hanya pohon rindang, tapi juga besar, kuat, kokoh, dan perkasa. Suara gemuruh terdengar. Pohon menjadi miring seolah habis kena buldoser. Dahan-dahan bergetar hebat, kemudian rontok.

Atau bagaimana cara beliau mendeskripsikan perbedaan Santi Wedanti dan Wiwin yang diibaratkan sebagai kuda:
...Andaikata Santi Wedanti bukan manusia tapi kuda, maka dia kuda beban. Sebagai kuda beban, tentu saja dia tidak menunjukkan nafsu binal. Diberi banyak makan menurut, tidak diberi makan menurut, disiksa menurut, ditunggangi menurut, dan dibanting juga menurut. Wiwin berbeda. Sebagai kuda balap yang kuat, cekatan, dan cerdas, dia tidak mau ditunggangi sembarang orang. Penunggangnya harus harus anggun, cerdas, dan berwibawa. Kalau orang sembarangan memaksa untuk menungganginya, pasti dia injak-injak orang itu sampai patah tulangnya, dia sobek perutnya, dan dia tendang kepalanya sampai otaknya bertebaran.
Profile Image for Tri Wahyudi.
48 reviews
September 21, 2025
Selesai membaca buku Ny. Talis Kisah Mengenai Madras karya Budi Darma. Seperti judulnya novel ini menceritakan kehidupan Madras dari muda hingga tua, dia terobsesi dengan Ny. Talis, seorang perias pengantin yang bisa lompat dari gedung ke gedung.

Jujur terpukau dan kagum dengan gaya menulis Budi Darma yang absrud nan ajaib, pemilihan diksinya juga suka, khas beliau banget. Banyak kutipan yang curi perhatian, salah satunya ini “Sebenarnya kamu gunung merapi, tapi entah mengapa kamu selalu tidur.”

Di awal membaca pun bertanya, mana nih sosok Ny. Talis-nya? Budi Darma memang tidak bisa ditebak. Pembaca disuruh bersabar dan saat di pertengahan misteri Ny. Talis pun dibeberkan.

Karakter-karakter di novel ini tuh kuat, pasti nempel di kepala. Kaya Ny. Talis yang berkharisma, berwibawa, bersahaja, pokoknya terhormat gitu sampe suaminya tuh gak disebut namanya di buku ini, disebut sebagai suami Ny Talis. Terus ada Madras yang cerdas, jantan, dan bisa apa aja. Hidupnya dikira lurus aja, cuma diselipin kejutan sama Budi Darma. Oh iya ada momen mencekam sama burung aneh yang ada di cover buku, gamau spoiler pokoknya pas baca itu KAYA WOWWWWWWW.

Bukunya tentang takdir, orang baik, orang jahat, takhayul, bibit bebet bobot, pokoknya ini buku artinya bisa luas dan beragam, tergantung pembaca. Kalau kamu suka kumpulan cerita pendek Orang Orang Bloomington, coba baca novel Ny. Talis Kisah Mengenai Madras ini.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
293 reviews6 followers
March 2, 2024
Ny. Talis: Kisah Mengenai Madras karya Budi Darma merupakan cerita tentang Madras, Ny. Talis dan beberapa tokoh lain yang menggambarkan realitas dan proses perjalanan kehidupan yang tidak selalu baik-baik saja. Kisah dalam buku ini baiknya bisa menjadi sebuah perenungan, bagaimana hidup yang saat ini sedang diperjuangkan kelebihbaikannya adalah untuk sesuatu yang nantinya kecil belaka.

Kisah dalam buku ini memiliki banyak rupa, tergantung dari sudut mana kita akan memaknai dan melihatnya.
Profile Image for Jay.
20 reviews3 followers
April 14, 2019
Kalau ada yang membaca review ini, lalu tertarik melihat koleksi buku yang pernah saya baca di profil , menemukan beberapa judul buku yang ditulis Budi Darma disitu, dan kemudian menyimpulkan kalau saya penggemar karya-karyanya, maka Anda benar. Saya menyukai karya yang dibuat Budi Darma sejak buku pertama yang saya baca dua puluhan tahun lalu, yang berjudul Olenka. Sejak itu saya mengumpulkan dan membaca buku-buku lain yang dia tulis.

Kekuatan gaya penulisan Budi Darma, menurut saya, adalah karakter tokoh-tokohnya, yang begitu kuat, begitu dalam dan tanpa ampun ditelanjangi habis-habisan. Mungkin "ditelanjangi" saja tidak cukup, karakternya dibongkar sampai ke sumsumnya. Tidak salah kalau ada yang pernah bilang karya Budi Darma "mengebor sukma". Setiap tokoh dihadirkan secara polos dan multi dimensional, tanpa ampun disingkap sampai ke ujung terdalam dan tergelap dari karakternya, seperti seorang dokter bedah yang mengoperasi batu ginjal. Ini, menurut saya, jarang ditemui pada karya penulis lain dan menjadi khas gaya penulisan beliau.

Kekuatan karakter itu kemudian dibalut dengan gaya penulisan yang juga sangat khas Budi Darma. Tidak hanya mengalir seperti keran, gaya penulisan beliau lebih cocok dibilang bendungan jebol. Tak bisa diprediksi, seenaknya meliuk melompat menabrak dan menghantam apapun sekena-kenanya. Jika diibaratkan musik, ia bukan simfoni mendayu dayu yang manis mengalun, tapi lebih mirip musik metal yang mengguncang dan mengagetkan, membikin kita berjingkrak dan tersentak.

Kedua hal tersebut juga ditemukan dalam novel ini, yang mengisahkan perjalanan hidup Madras dan tokoh tokoh lain yang bersangkut paut dan berpagut dalam kehidupan mereka. Setiap karakter dalam tokoh ini adalah manusia biasa sekaligus luar biasa bahkan sampai mistikal yang menjalani hidup secara biasa sekaligus luar biasa bahkan mistikal. Ada keunikan tersendiri dari masing-masing karakter yang membuat mereka ajaib tapi manusiawi. Budi Darma dengan mudah mencampurkan hal absurd dan normal tanpa membuatnya karikatural.

Cerita berjalan secara linear, bermula dari kelahiran Madras dan misteri orang tuanya sampai kematiannya. Pada awal-awal cerita lebih banyak dikisahkan mengenai karakter Madras yang memiliki kemampuan untuk melakukan apapun yang ia inginkan secara mudah, asal ia mau bersungguh-sungguh, bahkan meskipun ia tidak bersungguh-sungguh. Ibarat Midas, segala yang ia sentuh menjadi emas. Namun ia memiliki sifat tidak bersungguh-sungguh, hidupnya dijalani dengan sembrono dan hampir tanpa aturan. Karakter ini mengingatkan saya pada tokoh Fanton Drummond di novel Olenka.

Dari situ, persentuhan Madras dengan tokoh-tokoh lain berlanjut, setiap tokoh mendapat bagian tersendiri untuk menceritakan kehidupan dan karakter mereka. Bermula dari ibundanya, pertemuannya dengan Ny. Talis, Santi Wedanti, Wiwin, burung aneh, Anggle, suami Ny. Talis serta tokoh lain. Cerita berpusar pada hubungan asmara antara Madras yang tidak terlalu perduli dengan perkawinan namun di sisi lain mudah tertarik dan terobsesi pada wanita-wanita yang ia jumpai, dengan Ny. Talis, Santi Wedanti dan Wiwin. Dari ketiga wanita, kemudian mengerucut jadi "persaingan" antara Santi Wedanti dan Wiwin. Sementara kisah Ny. Talis dan suaminya serta kehidupan mereka hampir seperti kisah tersendiri yang tidak terlalu berkaitan dengan kisah Madras. Hubungan mereka hanya terpaut pada obsesi Madras terhadap Ny. Talis, namun di sisi lain Ny. Talis sama sekali tidak memikirkan Madras, dan satu-satunya penghubung antara Madras dan Ny. Talis adalah burung aneh. Itupun hampir tidak mempengaruhi kehidupan satu sama lain. Cerita kemudian berakhir dengan cerita kehidupan anak-anak, lalu cucu-cucu mereka.

Menurut saya, cerita dalam novel ini cukup baik. Meski saya berharap ada keterkaitan yang lebih dalam antara Madras dan Ny. Talis, secara keseluruhan tema yang disampaikan konsisten sejak awal sampai akhir cerita. Saya tidak bisa berhenti membaca buku ini, dan selesai kurang dari 24 jam.
Profile Image for Nina Majasari.
136 reviews1 follower
December 11, 2023
Sejujurnya cover buku Ny. Talis cetakan tahun 1996 yang terpampang di Goodreads sungguh tidak menarik. Jadul. Lawas. Membosankan.

Beda banget dengan cetakan tahun 2023 yang terlihat keren banget. Seekor burung yang sedang merangkul wajah tirus lelaki berjenggot tipis yang pandangan matanya tertutupi mata burung.

Pembatas bukunya pun keren. Terdapat kalimat yang dicomot dari buku, “Inilah takdir saya. Dari debu, naik ke kekuasaan. Dan dari kekuasaan, kembali ke debu.”

Walaupun buku ini berjudul Ny. Talis, namun isinya didominasi oleh kehidupan Madras, seorang pria lajang yang tinggal di rumah almarhum ibunya dan ditemani oleh Bik Bilik, pembantu yang mengasuhnya sejak kecil.

Ketika Madras menghadiri pesta pernikahan, ia bertemu dengan Ny Talis untuk pertama kalinya. Setiap kali bertemu mereka berpandangan namun masing-masing berkesiap.

Semenjak itulah, bayangan Ny Talis selalu menghantui. Bahkan ketika Madras sedang dekat dengan penyanyi yang sarjana hukum, Santi Wedanti dan pelukis terkenal Wiwin.

Madras mudah sekali jatuh cinta kepada wanita yang ditemuinya apabila terlihat menarik. Semacam Vicky Prasetyo gitulah.

Saya (seperti biasa) kalau baca bukunya Budi Darma selalu dibikin heran, geregetan, sebel, namun tangan saya nggak bisa lepas dari buku ini.

Tokoh-tokohnya dibikin sempurna sehingga jadi terlihat menyebalkan dan egois, sampai ceritanya pun jadi nggak masuk akal dan bikin saya gemes. Jalan hidup tokoh-tokohnya mudah, sampai nggak ada konfliknya.

Belum lagi bertebaran quote-quote maksa. Favorit saya, “Yang ada, itu ada. Yang tidak ada, itu ada.”

Wes pokonya banyak kalimat-kalimat pemaksaan dibuku ini dan saya menyukainya. Bahasanya Budi Darma banget deh.

Setelah selesai baca buku ini dan mau lanjut baca buku lain, pikiran saya masih ke buku ini melulu. Bahkan saya baca-baca lagi sekilas dari halaman pertama. Kok bisa ya nulis buku kayak gini? Heran. Bintang lima deh.
Profile Image for tiq's.
10 reviews1 follower
November 11, 2024
Ada dua nama pada judul kisah ini, yakni Ny. Talis dan Madras (yang dikemudian hari juga dipanggil Madrasi). Wajarlah saya merasa akan ada interaksi diantara mereka, tapi ternyata mereka hanya terhubung bukan sebagai langit dan bumi. Namun, sebagai langit dan langit. Penghubung mereka adalah seekor burung aneh. Burung aneh yang juga menghubungkan Madras dengan Santi Wedanti dan Wiwin. Kisah ini terasa realistis dengan tokoh-tokoh yang tidak realistis. Bukan soal karakter lemah atau apalah, tapi mereka terlalu hebat. Jika mereka adalah debu yang beterbangan, saya apa dong hahah.

Begitulah kisah ini membahas nasib dari pertemuan dan perpisahan, tentang manusia dan cinta, keluarga tanpa keluarga, masa lalu dan masa depan, kehidupan dan kematian, iblis dan bukan iblis, sedikit keperempuanan, sedikit lucu, sedikit religius, dan sedikit tidak nyambung. Beberapa bagian terasa mulus hubungannya, beberapa bagian lain membuat saya perlu mengaspal jalan sendiri supaya jalannya mulus (atau saya cuma bodoh saja dalam berkendara). Beberapa bagian membuat saya tertawa, atau sedih, atau terharu, atau sebal, ada juga waktu dimana saya merenung bersama tembok.

Saya senang dengan betapa biasanya kisah tak biasa ini berakhir. Bagaimana Ny. Talis berdamai dengan dirinya sendiri dan bagaimana Madras membawa hidupnya dengan Santi Wedanti. Hingga pada akhirnya, manusia, bagaimana pun kisah hidupnya, akan berpulang pada Sang Maha Esa yang memberinya hidup dan mati. Itu sudah jelas. Mengenai cobaan dan kebahagiaan hidup yang diberikan, semuanya tergantung pada manusia itu sendiri. Apa yang akan dia, atau kamu lakukan?

"Apakah hidup saya masih di pagi hari, ataukah di sore hari, saya tidak tahu. Dan memang manusia tidak boleh tahu, begitulah."
Profile Image for Rizkana.
242 reviews29 followers
July 17, 2024
"Tapi saya tahu, bahwa manusia adalah makhluk bergerak. Kamu harus bekerja agar kepribadian kamu mandiri, lepas dari kepribadian saya."


Sejujurnya, saya tidak terlalu memahami alur Madras, tidak terlalu memahami pesannya. Apakah ini semacam cerita simbolis? Biar begitu, tidak bisa dinafikan bahwa kisah Madras diceritakan dengan menarik dan penokohan karakter-karakternya mudah disukai, mereka semua pintar dan dialog di antaranya menarik.

"Sebenarnya kamu gunung berapi, tapi entah mengapa, kamu selalu tidur."


Kenapa juga saya menduga cerita ini simbolis, mungkin karena ketika membahas tentang iblis dalam kehidupan Nyonya Talis, apakah ini merujuk ke kekerasan dalam rumah tangga? Apa pula maksud dari tembongnya yang selalu diungkit-ungkit tiap kali kesialan datang?

Sebagai pembaca, saya agak merasa judul buku rancu. Ini bukan tentang Nyonya Talis, ini lebih banyak mengenai Madras, atau saya yang salah tangkap?

Jelang sepertiga bagian akhir, sejujurnya, saya juga mulai bosan.

Biar begitu, buku ini bisa menjadi arsip sejarah karena latar cerita memuat berbagai hal, praktik, dan benda-benda pada masa lalu, yang untuk saya mungkin belum terlalu berselang jauh, seperti koran, lebai, dan yellow pages.

Gaya bercerita tokoh pun membuat saya bertanya-tanya, apakah orang-orang zaman dahulu terbiasa berbicara dan bersikap seperti itu?

Terakhir, latar tempat yang terjadi di Surabaya, buat saya ini juga menyegarkan karena mengangkat sisi kota metropolitan yang lain, selain Jakarta.

Tuhan telah menciptakan manusia, lengkap dengan kesibukan dan pekerjaannya masing-masing.
Profile Image for Mizuoto.
146 reviews1 follower
January 24, 2025
Saya cukup terkejut usai membaca novel ini. Rasa-rasanya agak lain dari cerpen-cerpen maupun novel Budi Darma lainnya. Terasa berbeda. Meskipun pembaca masih tetap menemukan hal-hal absurd dan ajaib di dalamnya, yang memang khas Budi Darma dalam menyajikan cerita, tetapi tidak meledak-ledak atau liar atau aneh atau mendebarkan. Novel yang ditulis sewaktu masih di Bloomington, Indiana, ini cenderung biasa-biasa saja.

Namun, biasanya novel ini justru padat berisi lagi penuh filosofi. Dan saya berulang kali menarik napas sewaktu membaca novel ini. Sungguh.

Nya. Talis, Kisah Mengenai Madras bercerita tentang perjalanan hidup Madras, sang tokoh utama, dari lahir, tumbuh dewasa, merasakan cinta, menikah, memiliki anak, mendapatkan cucu, menjadi tua, kemudian meninggal. Sudah. Sederhana sekali, bukan? Namun, kisah yang saling bersangkut paut antartokoh tersebut, dari awal hingga akhir sudah diuraikan dengan jelas pada lembar pertama novel ini dalam dua kalimat: Inilah takdir saya. Dari debu, naik ke kekuasaan. Dan dari kekuasaan kembali ke debu (hal. 3).

Resensi lengkap bisa dibaca di sini
Profile Image for Pratiwi Utaminingsih.
66 reviews7 followers
April 27, 2025
Absurd, nyeleneh, anomali.
Ny. Talis, Kisah Mengenai Madras adalah buku ke-4 karya Budi Darma yg saya baca setelah Orang-Orang Bloomington, Olenka, dan Atavisme. Dari sini bisa saya simpulkan gaya penulisan Budi Darma yg sangat khas. Yaitu absurd, nyeleneh, anomali, dan agak disturbing.
Padahal premisnya sederhana. Cerita tentang keseharian orang pada umumnya. Ada senang ada sedih tapi penggambarannya unik, dan ya itu, absurd!
Walaupun judul “besar”nya Ny. Talis, tapi mostly buku ini bercerita tentang Madras. Seorang pemuda yg cukup beruntung dengan nasib. Apapun yg dia usahakan pasti berhasil walaupun tidak bersungguh-sungguh. Madras memiliki obsesi terhadap Ny. Talis, seorang perias pengantin. Tapi uniknya di buku ini mereka tidak terkoneksi satu sama lain. Aneh? Iya. Hehe. Adegan paling memorable yaitu ketika mata suami Ny. Talis dicucuk burung sampe lepas 😭 mau heran tapi kok ini Budi Darma 🙏🏻
IMO buku ini lebih tepat jika dibedah sesuai ilmu sastra. Premis ceritanya simple tapi saya yakin banyak sekali filosofi yg perlu dikulik. Tidak direkomendasikan untuk pembaca pemula atau yg baru sembuh dari reading slump.

📚 Ny. Talis, Kisah Mengenai Madras
✍️ Budi Darma
⭐️ 7.7/10
Profile Image for Kensan.
3 reviews
June 7, 2025
Di awal saya merasa novel ini memang sekadar menelanjangi karakter utama “Madras” dengan segala kepiawaan, kejantanan, dan kepintaran dirinya. Dipertemukanlah Madras dengan wanita-wanita yang lambat laun menggoda hatinya dan berkecamuk dengan nafsunya, orang-orang lama yang berjasa merangkai dirinya hingga menjadi Madras yang bisa segala hal, ntah saya bingung apa yang tidak bisa Madras lakukan selain menikahi wanita yang ia cintai pertama kali.

Dari pergolakan hatinya dengan Ny. Talis, memang cerita ini menggambarkan penuh bagaimana manusia bisa dengan mudah dan susah untuk mencari jati dirinya. Penuh pertimbangan dari dalam diri, orang sekitar, suasana yang mengikuti, serta masa depan yang tidak dapat diprediksi. Saya rasa Madras adakalanya ceroboh dan tidak paham bagaimana menghargai Santi Wedati, tapi itulah proses untuk bisa meminang Santi Wedati yang kemudian berubah menjadi galak kendati hatinya mulia.

Buku ini menjadi awalan saya untuk terjun menyelami gaya menulis mendiang Budi Darma.
Profile Image for sekar banjaran aji.
165 reviews15 followers
January 7, 2024
Novel ini temanya surrealis, cukup nyentrik pada zamannya tapi #BudiDarma sangat baik mengolahnya. Tidak ada kalimat panjang dan tiap babak dibuat sesederhana mungkin.
Padu padan silogisme, sangat tepat digunakan untuk membahas filsafat agama dengan contoh praktis dari kehidupan tokoh.

Membaca novel ini sampai selesai tidak serta merta menjawab pertanyaan yang hadir saat si penulis membangun karakter. Misalnya bagaimana nasib kisah Ny Talis setelah menikah lagi? Lantas mengapa Ny Talis dan Madras harus ada di judul? Jadi sebenernya banyak plot yang menurutku aneh diceritakan dalam novel ini.

Aku membaca buku ini karena memang ngefans sama Budi Darma. Novel ini udah lama masuk wishlist dan baru tahu kalau Oktober 2023 cetak lagi. Kebetulan ke buku akik kemarin jadi sekalian adopsi. Semoga bisa melengkapi semua buku karyanya Pak Budi tahun ini.

#WhatSekarReads2024 #WhatSekarReads #NyTalis
Profile Image for Jenka Restia.
25 reviews3 followers
February 9, 2024
Tidak bisa memberi rating di halaman buku edisi 2024 jadi saya ke sini. Sebagai penggemar kisah surealisme dan realisme magis, sungguh rasanya saya mengenal dan membaca novel ini cukup telat, apalagi ditambah gaya penulisan Almarhum Bapak Budi Darma yang bras-bres, tabrak sana-sini, peduli setan, seperti kapal raksasa yang menghantam ombak-ombak dalam badai.

Cerita dalam novel ini sendiri menggugah kembali daya imajinasi saya, menggugat daya pikir saya, tanpa rasa dijejali, tanpa penulis menganggap bodoh diri saya, tanpa berharap pokok dari cerita bisa ditangkap oleh banyak pembaca.

Novel ini memberi saya lebih jelas kontras mana karya yang memiliki esensi, mana yang berpura-pura memilikinya, dan mana yang tidak.
Profile Image for Natalia.
55 reviews2 followers
December 27, 2024
Selesai akhirnya baca novel ini, meskipun kadang agak bingung karena tokohnya lumayan banyak, tapi novel ini buat menyadari bahwa hidup itu adalah serangkaian takdir yang tidak bisa dihindari.

Dan baru kali ini ditutup dengan adegan dalam bukunya sangat baik, dimana pertama mereka dari debu dan akhirnya kembali menjadi debu

"Takutkah kamu, bila waktunya sudah tiba?"

"Kita tidak perlu takut. Memang kita pernah khilaf dan berbuat dosa. Tapi, kita hanyalah manusia biasa. Tidak pernah kita memfitnah, merampok, membunuh, dan entah apalagi. Kita juga sudah berusaha keras untuk beramal dan berbakti."
Profile Image for Inc Pandjaitan.
6 reviews5 followers
February 23, 2025
Buku ini lebih ke slice of life (?)
Tokoh2 yg sempurna dan emang mungkin sengaja dibentuk sangat sempurna? Idk. Tapi tdk ada konflik dan tidak ada klimaks nya.
Karakter Ny. Talis digambarkan sebagai perempuan hebat tapi tidak terlalu berkontribusi terhadap alur cerita untuk ukuran karakter yg dijadikan judul buku.
Madras? Tampan, jago main gitar, bisa nyanyi, penulis, parkour, pilot bawa helikopter dan pesawat kecil. Ternyata karakter yg terlalu sempurna membuat cerita jadi agak membosankan.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
September 23, 2023
A J A I B ! N G G A K B I A S A ! !

Entah ya, aku merasakan kisah-kisah yang ditulis dalam novel ini, tampak tidak linear, tapi justru itu yang menarik. Sebab kesemuanya menyongsong nasib bernama kematian, kefanaan dalam hidup. Dan seperti biasa akan muncul keajaiban-keajaiban, baik adegan maupun diksi yang dipergunakan.

Profile Image for Anton.
157 reviews10 followers
December 29, 2023
Buku lama yang diterbitkan ulang. Membeli buku ini setelah baca Orang-Orang Bloomington sehingga berharap akan menemukan cerita yang sama menariknya. Ternyata tidak. Jauh dari harapan.
Profile Image for psdm.
67 reviews
July 14, 2025
ok agak abstrak tapi bagusan orang2 bloomington. tp setuju sama narasi usaha penghentian generational trauma
Profile Image for Niratisaya.
Author 3 books45 followers
January 3, 2013
Impresi:
Beberapa novel diciptakan untuk dapat segera dinikmati sarinya. Beberapa yg lain harus dibaca beberapa kali, agar tidak sekedar mengerti, tapi juga paham. Dan dalam proses pembacaan berulang kali itulah saya akhirnya mengerti apa, kenapa, serta bagaimana.

Walau, toh, masih belum sempurna.


Serius mereview:
Ny. Talis berkisah tentang kehidupan beberapa tokoh di dalam novel, yg tampak berjalan sendiri-sendiri, namun selalu berkaitan.
Mengapa keberadaan seseorang mempengaruhi keberadaan orang lain. Serta mengapa ketidakberadaan seseorang juga mempengaruhi keberadaan orang lain.

Membaca novel Ny. Talis rasanya seperti berkenalan dengan seseorang. Kita tak bisa mengatakan orang ini baik, atau orang itu buruk. Tidak sampai kita mengenal orang tersebut dengan baik. Dan seberapa baik kita bisa mengenal seseorang?
Displaying 1 - 20 of 20 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.