What do you think?
Rate this book


267 pages, Paperback
First published January 1, 1996
Maka sambil berteriak ganas dia lari. Dia teriakkan kata-kata "iblis lawan iblis." Lalu dengan sekali loncat dia benturkan kepalanya kepada pohon rindang. Bukan hanya pohon rindang, tapi juga besar, kuat, kokoh, dan perkasa. Suara gemuruh terdengar. Pohon menjadi miring seolah habis kena buldoser. Dahan-dahan bergetar hebat, kemudian rontok.
...Andaikata Santi Wedanti bukan manusia tapi kuda, maka dia kuda beban. Sebagai kuda beban, tentu saja dia tidak menunjukkan nafsu binal. Diberi banyak makan menurut, tidak diberi makan menurut, disiksa menurut, ditunggangi menurut, dan dibanting juga menurut. Wiwin berbeda. Sebagai kuda balap yang kuat, cekatan, dan cerdas, dia tidak mau ditunggangi sembarang orang. Penunggangnya harus harus anggun, cerdas, dan berwibawa. Kalau orang sembarangan memaksa untuk menungganginya, pasti dia injak-injak orang itu sampai patah tulangnya, dia sobek perutnya, dan dia tendang kepalanya sampai otaknya bertebaran.
"Tapi saya tahu, bahwa manusia adalah makhluk bergerak. Kamu harus bekerja agar kepribadian kamu mandiri, lepas dari kepribadian saya."
"Sebenarnya kamu gunung berapi, tapi entah mengapa, kamu selalu tidur."
Tuhan telah menciptakan manusia, lengkap dengan kesibukan dan pekerjaannya masing-masing.