Asal menyadari juga bahwa perjuangan untuk perbaikan nasib dari semua golongan di dalam masyarakat terpaksa harus bertahap, karena pemerintah kita dan negara kita memang miskin saat ini. Ya. Itulah kenyataan keadaan sekarang ini! Miskin!
Memang! Miskin! Tetapi bukannya tanpa daya. Adapun daya itu adalah daya dari kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam diri kita masing-masing per individu!
Dalam perjuangan memberdayakan warga negara, kita tidak perlu membuat partai, bahkan tidak perlu membuat organisasi. Juga tidak usah menunggu dana, bahkan sebaiknya kita menolak subsidi dari pemerintah, partai-partai politik dan organisasi bawahannya, perusahaan-perusahaan asing, dan yayasan-yayasan asing. Hal ini perlu kita lakukan untuk tanda kemandirian kita.
Selain itu, juga untuk memaksimalkan daya kita masing-masing sebagai individu, dan memancing daya dari masyarakat bangsa kita sendiri. Sebab, kita tidak akan menolak sumbangan dana (kalau ada) dari perusahaan milik bangsa sendiri, atau dari pribadi-pribadi yang memang punya sumber daya yang bersifat swasta, dan dari sumber-sumber lain didalam negeri yang bersifat independen. Sumber-sumber dana yang ideal semacam ini justru akan menjadi inventarisasi dari daya hidup bangsa.
Willibrordus Surendra Broto Rendra (b. November 7 1935) is a famous Indonesian poet who often called by his friends and fans as "The Peacock".
He established the Teater Workshop in Yogyakarta during 1967 but also the Teater Rendra Workshop in Depok.
His photo here shown Rendra in his room at 1969.
Theatres: * Orang-orang di Tikungan Jalan (1954) * SEKDA (1977) * Mastodon dan Burung Kondor (1972) * Hamlet (Translated from Hamlet by William Shakespeare) * Macbeth (Translated from Macbeth from William Shakespeare) * Oedipus Sang Raja (Translated from Oedipus Rex by Sophokles) * Kasidah Barzanji * Perang Troya Tidak Akan Meletus (Translated from La Guerre de Troie n'aura pas lieu by Jean Giraudoux)
Poems: * Jangan Takut Ibu * Balada Orang-Orang Tercinta * Empat Kumpulan Sajak * Rick dari Corona * Potret Pembangunan Dalam Puisi * Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta! * Nyanyian Angsa * Pesan Pencopet kepada Pacarnya * Rendra: Ballads and Blues Poem * Perjuangan Suku Naga * Blues untuk Bonnie * Pamphleten van een Dichter * State of Emergency * Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api * Mencari Bapak * Rumpun Alang-alang * Surat Cinta * Sajak Rajawali * Sajak Seonggok Jagung
seharusnya inilah bacaan-bacaan yang wajib ditelusuri dari saban hari karena saya seorang lulusan FISIP. Tapi beberapa tahun terakhir saya seakan cuek bebek karena tak mau lagi berkecimpung di dalam dunia-dunia "politik" Maksudku buku-buku yang berkenaan tentang dunia politik.
Dan kesimpulan dari buku ini yang bisa saya petik adalah mengenai PENDIDIKAN. Adapun kata-kata yang saya kutip dari buku Rendra yaitu : "Sejak awal gerakan reformasi sampai saat ini, kekuatan kedaulatan dan kemerdekaan rakyat tidak pernah diperjuangkan secara konkrit dan eksplisit oleh elit politik di DPR, MPR maupun di jalan yang getol diperjuangkan malah posisi dan kekuatan partai-partai politik juga golongan! Che Guevara pernah berkata "Akan sia-sia apabila tidak diiringi secara bersama-sama dengan perjuangan kebudayaan yang ujung tombaknya adalah PENDIDIKAN.
Mengenai kesusteraan, orang bisa banyak belajar tentang manusia, kesadarannya, jiwanya, nalurinya, nuraninya, kelemahan-kelemahannya, lingkungan dan kebudayaannya. Nah, sebagai seorang yang merintis karier sebagai penulis atau yang pengen menjadi penulis seperti saya buku ini sangat direkomendasikan. :-)